Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, February 6, 2018

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Diterangkan/dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Februari 2018


“MENGASIHI DENGAN KATA DAN PERBUATAN”

Yang sangat saya kasihi Anak-anak, Remaja, Kaum Muda, Ibu, Bapak, Frater, Suster, Bruder, dan para Rama. Berkah Dalem.
Kita akan memasuki masa empat puluh hari sebelum Paskah (quadragesima) yang kita namakan Masa Puasa dan Pantang dalam Masa Prapaskah. Masa Prapaskah ini akan kita mulai pada Hari Rabu Abu, 14 Februari 2018 mendatang. Selama empat puluh hari, seluruh umat Katolik mendapat kesempatan istimewa untuk secara terus menerus melakukan gladi rohani atau retret agung, guna mengenangkan kembali atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan serta melakukan amal kasih (bdk. Konstitusi Liturgi 109).
Dalam Masa Prapaskah, kita akan membarui dan menyucikan diri dengan olah kesalehan hidup dan mati raga yang dilandasi oleh pengharapan dan syukur atas melimpahnya rahmat belas kasih Allah kepada kita, manusia yang penuh dengan kerapuhan dan dosa. Secara pribadi dan bersama-sama, kita diajak untuk kembali mengarahkan hidup kepada Allah dan ikut serta dalam usaha membangun KerajaanNya, dimanapun kita berada. Pertobatan sejati mengundang kita untuk berani mengubah perilaku dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial agar tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan, terutama bagi saudari-saudara yang menderita dan berkekurangan. Sebab, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 58:6-7).

Saudari-saudaraku yang terkasih.
Tuhan Yesus telah memberi teladan untuk senantiasa memiliki hati yang penuh belas kasih dan peduli terhadap saudari-saudara kita yang menderita, berkekurangan, dan tersingkir. Dalam bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, Santo Markus (Mrk 1:40-45) menceritakan bagaimana Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan dan menyambut seorang kusta yang datang memohon kesembuhan dariNya. Seperti kita ketahui, pada zaman Yesus, seorang kusta harus mengalami nasib dikucilkan, dihina, dan disingkirkan dari masyarakat. Meskipun demikian, Tuhan Yesus justru dengan sepenuh hati menyambut orang kusta tersebut: mengulurkan tangan, menjamah orang itu, dan menyembuhkannya.
Sebagai murid-murid Kristus, kita pun diundang untuk memiliki hati yang tergerak oleh belas kasih, menyambut dan merengkuh saudari-saudara yang menderita, berkekurangan, dan terpinggirkan dari masyarakat. Untuk itulah, dalam gerakan Aksi Puasa Pembangunan tahun 2018 ini, kita  merenungkan tema “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan”. Melalui permenungan ini, kita mau belajar terlibat memberi dukungan pada orang lain, terutama dengan berbelarasa terhadap saudari-saudara yang sangat membutuhkan. Semoga abu yang akan kita terima dalam perayaan Hari Rabu Abu nanti, senantiasa mengingatkan kita akan kerapuhan dan kedosaan kita. Bahkan lebih dari itu, mendorong untuk senantiasa bersyukur atas kelimpahan rahmat belas kasih Allah yang memungkinkan kita untuk mencari, menemukan, menyambut, dan merengkuh mereka yang sakit, menderita, dan berkekurangan.
Seperti kita ketahui bersama bahwa hari Jumat, 16 Februari 2018, merupakan tahun baru Imlek, yang juga merupakan hari pantang. Karena itu bagi umat Katolik yang akan merayakan tahun baru Imlek ini, saya ajak untuk menempatkan perayaan syukur atas tahun baru ini dalam konteks dan semangat Prapaskah, yakni pertobatan yang ditandai antara lain dengan puasa dan pantang. Kesempatan berkumpul bersama keluarga dan sahabat pada hari Kamis atau Jumat, tanggal 15 atau 16 Februari, serta perayaan Cap Go Meh, hendaknya dihayati sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat kehidupan yang Tuhan berikan. Selain itu juga menjadi kesempatan untuk mewujudkan kasih kekeluargaan dan persaudaraan yang semakin nyata diantara anggota keluarga dan para sahabat, dengan saling berbagi. Karena itu, hendaknya perayaan tahun baru Imlek dirayakan dalam semangat berbagi berkah yang semakin besar, khususnya bagi yang berkekurangan. Dengan cara ini kita ungkapkan kasih bukan hanya dengan kata-kata saja, namun dengan perbuatan nyata.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pada saat yang istimewa ini, saya berdoa untuk siapapun yang sedang sakit, berkekurangan, menanggung beban kehidupan yang berat, difabel, berkebutuhan khusus, dan lanjut usia. Selamat memasuki gladi rohani empat puluh hari dengan tekun, setia, dan tenanan. Semoga Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, dan memberikan penghiburan. Rahmat belas kasih Allah senantiasa melimpah bagi saudari-saudara semua.

 PERATURAN PUASA DAN PANTANG TAHUN 2018

Mengacu pada Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa tahun 2016, pasal 138 no. 2.b tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang bagi umat katolik KAS ditetapkan sebagai berikut:
1.       Hari puasa tahun 2018 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 14 Februari 2018, dan Jumat Agung tanggal 30 Maret 2018. Hari pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.
2.       Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur antara 18 tahun sampai dengan awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang telah berumur genap 14 tahun.
3.       Puasa dalam arti hukum, berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari. Pantang dalam arti hukum, berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai.
4.       Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama (misalnya dalam keluarga, lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/biara/semi-nari), menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan mati raga yang ingin dinyatakan. Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal yang sangat kami anjurkan untuk dibuat, antara lain:
a.       Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau paguyuban, dicari bentuk-bentuk puasa dan pantang yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan usia lanjut.
b.       Selama empatpuluh hari dalam masa Prapaskah, secara pribadi atau secara bersama-sama dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari, memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih.
c.       Menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan amal/karitatif ataupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi perwujudan belarasa dan upaya keutuhan alam semesta, serta bagi masyarakat sekitar.
d.       Hendaknya diusahakan agar setiap orang Katolik, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaruan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, gladi rohani, ibadat jalan salib, ziarah, pengakuan dosa, meditasi, dan adorasi.
5.       Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan, dan nasional. Tema APP tahun 2018 ini adalah: “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.
6.       Terkait dengan parayaan tahun baru Imlek 2018, saya anjurkan beberapa hal berikut:
a.       Jumat, 16 Februari 2018, sebagai tahun baru Imlek tetap kita perlakukan sebagai hari pantang. Maka bagi umat Katolik KAS yang merayakan Tahun Baru Imlek, hendaknya tetap melakukan pantang pada hari itu atau, jika tidak memungkinkan, hendaknya melakukan pantang pada hari lain sebagai pengganti.  
b.       Umat Katolik KAS diperkenankan merayakan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 16 Februari 2018, atau hari-hari setelahnya dengan tetap mengindahkan ketentuan liturgi masa Prapaskah, dan tetap mengembangkan semangat berbelarasa dan berbagi rezeki, khususnya kepada saudari-saudara kita yang miskin, menderita, tersingkir dan berkebutuhan khusus.

Salam, doa, dan berkah Dalem
2 Februari 2018, pada Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah.
Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

0 comments:

Post a Comment