Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, February 28, 2019

Kriteria Sahabat Sejati


Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi dan motivasi tentang arti persahabatan dalam perspektif rohani. Sumber inspirasi dan motivasinya dari Kitab Suci, dan oleh karenanya diimani sebagai Firman Tuhan. Bagaimanakah?

Inspirasi dan motivasi itu dapat kita baca dalam Bacaan Liturgi 01 Maret 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa VII Bacaan Pertama dari Kitab Putera Sirakh 6:5-17. Beginilah teks itu selengkapnya. Mari kita baca dalam terang iman kita, apa pun agama dan kepercayaan kita.

"Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu, tetapi dari antara seribu hanya satu saja menjadi penasehatmu. Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya. Sebab ada orang yang bersahabat hanya selama menguntungkan, tetapi di kala engkau mendapat kesukaran, ia tidak bertahan.

Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menistakan dikau dengan menceriterakan percekcokanmu dengan dia. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tetapi tidak bertahan pada hari kemalanganmu. Pada waktu engkau sejahtera ia sehati sejiwa dengan dikau dan bergaul akrab dengan seisi rumahmu. Tetapi bila engkau mundur ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu.

Jauhilah para musuhmu, dan berhati-hatilah terhadap para sahabatmu. Sahabat yang setia merupakan pelindung yang kuat; yang menemukannya, menemukan suatu harta. Sahabat yang setia, tiada ternilai, dan harganya tiada terbayar. Sahabat yang setia laksana obat kehidupan; hanya orang yang takwa akan memperolehnya. Orang yang takwa memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab sebagaimana ia sendiri, demikianpun sahabatnya." (Kitab Putera Sirakh 6:5-17)

Syukur kepada Allah, Yesus bahkan bersabda kepada kita,  "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.  (Yoh 15:13-14). Tiada sahabat sejati bagi semua orang selain Yesus yang menyerahkan nyawaNya bagi kita, sahabat-sahabatNya.

Nah, itulah inspirasi dan motivasi persahabatan sejati. Ciri-cirinya amat jelas. Tinggallah kini kita menimbang dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Terinspirasi dan termotivati oleh firman ini, semoga kita bisa menjalin persahabatan dengan siapa saja secara bijaksana. 

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 28/2/2019
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«
Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari Kitab Putera Sirakh 6:5-17 dan Yohanes 15:13-14.

Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Percikan Nas Jumat, 01 Maret 2019

Hari biasa
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Sir. 6:5-17; Mzm. 119:12,16,18,27,34,35; Mrk. 10:1-12. BcO 1Kor. 12:31-13:13.

Nas Injil: 
1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. 2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" 3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" 4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." 5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. 6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, 7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, 8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. 9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. 11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. 12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

Percikan Nas:
Hidup berkeluarga merupakan salah satu panggilan umat manusia. Mereka yang bercita-cita membangun keluarga akan resah kala tidak segera menemukan pasangannya, apalagi orang yang diincar seakan cuek padanya. Orang-orang pun berbahagia dengan aneka pesta kala pernikahan dilangsungkan.
Bagi banyak orang berkeluarga bisa dikatakan merupakan seni istimewa yang melukis sejarah hidupnya. Ada kalanya lancar, ada kalanya terasa sangat berat. Lancar dan berat ini merupakan dinamika yang dinamis bagi pasangan untuk menghasilkan lukisan yang indah.
Banyak tayangan yang mengisahkan ketidakmampuan orang menyelesaikan tugas panggilan kebersamaannya sebagai keluarga. Kadang hal itu membentuk sebagai tren yang tidak masalah untuk dipilih. Kiranya kita tetap perlu waspada. Ada lukisan indah di depan kita. Baik kalau kita bertahan menyelesaikannya agar nenjadi hidangan indah bagi anak cucu. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Doa:
Tuhan berkatilah keluarga-keluarga Katolik. Ingatkan kala mereka berjaya, kuatkan kala mereka lemah. Sudilah Engkau membantu keseimbangan hidup mereka agar mereka mampu menyelesaikan lukisan sejarah hidup mereka. Amin.

Lukisan hidup
(goeng).

Lamunan Pekan Biasa VII

Jumat, 1 Maret 2019

Markus 10:1-12

10:1. Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.
10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"
10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kalau menjumpai kata pengajaran orang dapat mengaitkan dengan pendidikan sekolah atau tempat perkuliahan. Pengajaran bisa pula dikaitkan dengan program semacam kursus dan ceramah-ceramah.
  • Tampaknya, yang namanya pengajaran juga biasa digambarkan sebagai penyampaian pengetahuan atau ilmu secara sistematis. Pelaksanaan pengajaran juga dapat membutuhkan penjadualan dan pengaturan waktu.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki ilmu pedagogis dan buku-buku pegangan untuk menyampaikan ilmu secara sistematis, orang belum sungguh jadi pengajar sejati kalau tidak mampu menyampaikan dalam hidup harian lewat segala omongan yang muncul dari orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memanfaatkan segala omongan dalam segala pergaulan sebagai proses belajar dan mengajar kehidupan.
Ah, pengajar itu ya harus lulusan perguruan tinggi.

Percikan Nas Kamis, 28 Februari 2019

Hari biasa
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Sir. 5:1-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mrk. 9:41-50. BcO 1Kor. 12:12-31.

Nas Injil: 
41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya." 42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. 43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; 44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. 49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. 50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Percikan Nas:
Luar biasa janji Tuhan, “barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mrk 9:41). Mereka yang berbaik hati kepada pengikut Kristus tidak akan kehilangan upahnya. Tuhan memberikan ganjaran kepada mereka.
Selain janji Tuhan juga menuntut kita untuk hidup lurus dan tidak menyesatkan atau pun tersesat. Kalau tangan, kaki dan mata kita membuat tersesat maka lebih baik kita melepasnya dan hanya punya satu masuk surga. Tuntutan ini sangat optimal. Tuhan tidak ingin satupun anak-Nya tersesat.
Anak Tuhan yang tak tersesat ini mesti selalu menjadi garam yang memberi rasa. Ia mesti selalu membawa garam dan selalu hidup dalam damai dengan sesama.
Kalimat-kalimat Tuhan sangat jelas. Memang kita mempunyai kelemahan yang bisa membawa kita jatuh. Tapi kita juga mempunyai kekuatan untuk bangkit dan memulai lagi secara baru. Tuhan memang maharahim, namun bukan berarti kita bisa santai-santai dalam dosa. Kita mesti selalu segera mengarah pada Tuhan.

Doa:
Ya Yesus yang maha kudus, luruskanlah jalan hidup kami. Jagailah kami agar tidak menyimpang dari jalan-Mu apalagi tersesat. Engkau adalah penuntun jalan kami. Amin.

Dalam Jalan Tuhan
(goeng).

Wednesday, February 27, 2019

Santo Paus Hilarius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits1841 Diterbitkan25 Maret 2017 Diperbaharui16 April 2017

  • Perayaan
    28 Februari
  • Lahir
    Tidak ada catatan
  • Kota asal
    Sardinia
  • Wafat
    29 Februari 468 - Sebab alamiah
  • Venerasi
    -
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Hilarius adalah paus kita yang ke-46. Ia terpilih menggantikan Paus Leo I atau Leo Agung yang tutup usia pada 11 April 461. Paus ini diketahui berasal dari Sardinia, sebuah pulau di laut tengah yang terletak di antara Italia, Spanyol dan Tunisia. Sebelum menjadi Paus, Hilarius telah melayani umat kota Roma sebagai seorang Diakon Agung selama masa kepemimpinan Paus Leo I.  Ia juga menjadi utusan Paus Leo Agung dalam Konsili Efesus II (konsili para penyamun) pada tahun 449.
Selama tujuh tahun masa kepemimpinannya (461-468), Paus Hilarius berusaha keras menyelesaikan berbagai masalah pelik dalam tubuh gereja. Ia menggelar sebuah sinode di Roma pada tanggal 19 November 462 demi mengatasi perpecahan yang terjadi dalam gereja Perancis.  Selanjutnya pada tanggal 19 November 465, ia kembali menggelar sinode untuk membicarakan hal pengangkatan dan kuasa yuridiksi para uskup Spanyol.
Paus Hilarius juga dikenal akan upaya-upaya pembangunannya. Ia membangun beberapa gedung Gereja di kota Roma, biara-biara, dua tempat pemandian umum dan dua Oratorium yang masing-masing dipersembahkan kepada Santo Yohanes Pembabtis dan Santo Yohanes Rasul. Ia juga membangun sebuah perpustakaan di dekat Basilika Santo Laurentius, tempat dimana ia dimakamkan.
Paus Hilarius tutup usia pada tanggal 29 Februari 468 dan dimakamkan di Basilika Santo Laurentius (Basilica Papale di San Lorenzo fuori le Mura) di kota Roma. Dalam Basilika ini juga disemayamkan beberapa orang kudus dan tokoh gereja antara lain : Relikwi Santo Stefanus martir, Santo Laurensius, Beato Pius IX, Paus Pius XII dan Alcide De Gasperi (mantan Perdana Menteri Italia, bapa Pendiri Uni Eropa, dan seorang awam katolik yang saleh).(qq)

 Sumber : Katakombe.Org

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2019 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Dibacakan/diterangkan, Sabtu-Minggu, 2 - 3 Maret 2019

“MAKIN TERGERAK UNTUK BERBAGI BERKAT”

Para Ibu, Bapak, Orang Muda, Remaja, dan Anak-anak; para Romo, Bruder, Frater,
dan Suster yang terkasih dalam Kritus,

Pada hari Rabu Abu, 6 Maret 2019, kita akan memulai masa Prapaskah yang akan
berlangsung selama 40 hari (Latin: quadragesima) sampai dengan tanggal 19 April
2019. Masa Prapaska ini dimaksudkan untuk mempersiapkan penerimaan baptisan
bagi para calon baptis dan untuk mengenangkan kembali pembaptisan bagi yang
sudah dibaptis. Selain itu, masa ini juga menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk
membina semangat tobat, antara lain dengan lebih rajin mendengarkan Sabda Allah,
berdoa, dan berbuat amal kasih, hingga siap untuk merayakan Misteri Paskah Tuhan.

Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk merenungkan tema Aksi Puasa
Pembangunan (APP): “Semakin Tergerak untuk Berbagi Berkat”. Melalui tema
permenungan ini, kita semua diajak untuk mewujudkan syukur atas rahmat baptisan
dalam aksi atau tindakan nyata. Terkait dengan hal ini, Konstitusi tentang Liturgi Suci
menyatakan bahwa semangat pertobatan “hendaknya jangan hanya bersifat batin dan
perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan” (SC 110).
Itulah sebabnya APP tahun 2019 ini mengajak kita semua untuk mewujudkan
pertobatan tersebut, antara lain, dengan berbagi berkat. Dengan cara ini diharapkan
pertobatan tidak berhenti di hati, tetapi menjadi konkret dalam tindakan nyata berbagi
berkat.

Menurut Santo Paulus, sebagaimana kita simak dalam Bacaan II, berbagi berkat sama artinya dengan bergiat selalu dalam pekerjaan Tuhan (1Kor 15,58). Dan menurut Injil Lukas yang baru saja kita dengarkan hari ini, “bergiat selalu dalam perkejaan Tuhan” berarti mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaan hati yang baik (Luk 6,45). Kesadaran bahwa Tuhan telah mengerjakan hal-hal baik dalam diri kita, semestinya juga mendorong kita untuk bertekun melakukan hal-hal baik bagi sesama, siapa pun dia.

Saudari-saudaraku, umat Katolik di seluruh wilayah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih,

Berbagi berkat sebagai wujud pertobatan dapat kita lakukan, antara lain melalui dan dalam beberapa hal berikut ini:

1. Secara positif melihat, menilai, dan bersikap terhadap sesama kita. Misalnya saja, di tengah maraknya orang senang menghujat dan memfitnah sesamanya dangan bahasa-bahasa yang kasar dan menyakitkan, marilah kita pergunakan bahasa yang baik dan santun. Kiranya tepatlah apa yang ditegaskan dalam bacaan pertama yang dikutip dari Kitab Putra Sirakh: “bicara orang menyatakan isi hatinya” (Sir 27,6). Orang yang hatinya baik, pastilah akan mengeluarkan kata-kata yang baik juga.

Terkait dengan hal inipun Yesus mengajak kita untuk bersikap bijak dengan tidak menilai buruk dan menghakimi sesama. Pertanyaan Yesus dalam Injil (Luk 6:41-42) “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” menjadi bahan perenungan yang sangat baik di masa Prapaskah ini. Kita diingatkan untuk tidak mudah menilai buruk dan menghakimi sesama kita, karena hal ini akan sangat menghambat upaya kita mewujudkan komunitas kasih yang menyatukan dan menyempurnakan (Tema Pertemuan III APP).

2. Gerakan berbagi berkat ini juga sangat tepat kita tempatkan dalam usaha bersama mewujudkan kesejahteraan umum atau kesejahteraan bersama (bonum commune) yang menjadi fokus pastoral 2019 di Keuskupan kita. Dalam masyarakat multikultural kita ditantang untuk sebanyak mungkin mengerjakan hal-hal baik bersama dengan siapa saja yang berkehendak baik, agar kesejahteraan bersama yang kita cita-citakan semakin dapat terwujud. Caranya, dengan menciptakan kondisi-kondisi hidup bersama yang memungkinkan, baik pribadi/perorangan maupun kelompok/komunitas masyarakat, dapat mencapai kepenuhan hidup dalam kasih dan persaudaraan. Kita kembangkan terus semangat srawung dan merengkuh dalam belarasa yang tulus.

3. Gerakan berbagi berkat senantiasa dapat kita lakukan tidak hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada alam lingkungan. Hal ini dapat kita wujudkan, misalnya dengan ngopèni (merawat) dan melindungi tanah dari pencemaran sampah plastik. Sudah saatnya kita membersihkan tanah dari sampah plastik ini dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah plastik secara sembarangan.

Saudari-saudaraku, umat Katolik di seluruh wilayah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih,

Dalam kesempatan yang istimewa ini, saya hantarkan doa dan berkat episkopat saya untuk Saudari-saudara semua umat di Keuskupan Agung Semarang ini, terlebih bagi yang sedang sakit, yang sedang mengalami kesulitan hidup, yang berkebutuhan khusus, dan para adiyuswa. Semoga belaskasih Allah melimpahi hati, budi dan hidup Saudari-saudara semua, sehingga kita dapat menjalani masa Prapaskah ini dengan semangat tobat yang nyata guna menyambut misteri agung Paskah. Berkah Dalem.

PERATURAN PUASA DAN PANTANG TAHUN 2019

Mengacu Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017 pasal 138 no 2.b tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

1. Hari Puasa tahun 2019 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 6 Maret 2019, dan Jumat Agung tanggal 19 April 2019. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali (1x) sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai. Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya dalam keluarga, atau seluruh lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/biara atau komunitas seminari menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal dapat dibuat dan sangat kami anjurkan, antara lain:
a. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau komunitas, dicari bentuk-bentuk pantang dan puasa yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman menurut usia: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan lansia.
b. Pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).
c. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih.
d. Menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan karitatif maupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar.
4. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.
5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2019 ini adalah: “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.


Semarang, 2 Februari 2019

Pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah


† Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

Lamunan Pekan Biasa VII

Kamis, 28 Februari 2019

Markus 9:41-50

9:41. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
9:44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)
9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
9:46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)
9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.
9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.
9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam bekerja orang mengharapkan upah sebesar mungkin. Dengan penghasilan besar orang dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan.
  • Tampaknya, kalau dalam kerja mendapatkan imbalan besar orang dapat menabung. Dengan upah besar orang dapat memiliki tabungan besar yang tak akan habis seumur hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hanya mendapatkan imbalan kecil dari pekerjaannya, kalau itu diberikan karena orang telah menjalani dengan rasa tulus sebagai buah ketaatan pada nurani, yang sedikit itu justru memberikan daya tahan menghayati kehidupan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghargai tinggi segala perolehan sekecil apapun.
Ah, kalau kita sudah bekerja sungguhan dan hanya dapat imbalan kecil, itu adalah penghinaan.

Santa Anna Line

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits2148 Diterbitkan23 Maret 2017 Diperbaharui02 Februari 2019

  • Perayaan
    27 Februari
  • Lahir
    Sekitar tahun 1563
  • Kota asal
    Dunmow Essex Inggris
  • Wafat
    Martir | Digantung di Tyburn London Inggris pada tanggal 27 Februari 1601
  • Venerasi
    8 Desember 1929 oleh Paus Pius XI (decree of martyrdom)
  • Beatifikasi
    15 December 1929 oleh Paus Pius XI
  • Kanonisasi
    25 Oktober 1970 oleh Paus Paulus VI

Santa Anna Line hidup di Inggris pada masa Reformasi Anglikan, saat dimana agama Katolik dinyatakan terlarang dan para penganutnya akan dihukum mati. Ia lahir pada sekitar tahun 1563 di Dunmow Essex Inggris sebagai putri sulung dari William Higham of Jenkyn Maldon, seorang Calvinist Puritan (para pengikut fanatik tokoh reformasi Protestan; John Clavin) yang makmur dan berpengaruh. Nama kecilnya adalah  Alice Higham.
Disekitar tahun 1580 Alice dan adiknya William Higham, dalam terang Roh Kudus, mengambil keputusan berani untuk menjadi anggota gereja Katolik.  Akibat keputusan ini, mereka diusir dari rumah dan dicabut hak waris-nya. Namun semua itu sama sekali tidak menggoyahkan iman kedua bersaudara ini.  Alice dan William Higham telah menemukan Mutiara Surgawi dan mereka tidak akan melepaskannya lagi.
Dikalangan umat katolik Inggris yang sedang teraniaya, nama Alice Higham disamarkan menjadi “Anna”, untuk melindunginya dari kejaran polisi dan mata-mata keluarganya. Pada tahun 1583, Alice menikah dengan Roger Line, seorang pemuda Katolik Inggris yang saleh. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Anna Line, sesuai nama suaminya.
Roger Line bersama William Higham ditangkap saat sedang mengikuti misa hari minggu. Mereka berdua lalu disiksa dan dipenjarakan karena iman mereka. William Higham dapat dibebaskan dengan membayar uang jaminan, sementara Roger Line dibuang ke Flanders Belgia. Ia meninggal sebagai seorang martir Kristus di pengasingan tersebut pada tahun 1594.
Sejak suaminya dibuang ke Flanders, Anna membaktikan hidupnya untuk membantu para imam Katolik yang dikejar-kejar oleh polisi kerajaan. Ketika pater John Gerard, SJ membuka sebuah rumah perlindungan untuk menyembunyikan para imam Jesuit di Inggris, Anna menawarkan diri untuk mengelola rumah perlindungan tersebut. Walau ia sering sakit-sakitan, namun Anna Line mampu mengelola rumah perlindungan ini selama tiga tahun, dan telah menyelamatkan banyak imam Jesuit dari kejaran mata-mata kerajaan.
Ketika pater John Gerard, SJ tertangkap, Anna berkeras untuk tidak menutup rumah perlindungan tersebut.  Ia bahkan mengatur upaya pembebasan Jesuit tersebut dari penjara Tower of London yang terkenal itu.  Upayanya sukses dan pater John Gerard selamat dari hukuman mati. Dikemudian hari, John Gerard SJ menulis dalam biografinya :
Peristiwa penangkapan ini terjadi pada tanggal 2 Februari 1601. Saat polisi datang, pater Fransiskus Page, imam yang memimpin misa berhasil meloloskan diri dengan bersembunyi diruangan rahasia yang sudah disiapkan. Anna bersama rekannya Margareth Gage, di tahan. Margareth kemudian dibebaskan dengan uang jaminan sedangkan Anna dipenjarakan di Newgate.
Anna Line lalu disidang dengan dakwaan menampung seorang imam Katolik dan dijatuhi hukuman mati.  Saat berada di tempat pelaksanaan hukuman mati, Anna diminta untuk mengucapkan kata-kata terakhir didepan rakyat Inggris.  Dengan lantang wanita pemberani ini mengulangi apa yang telah ia katakan di depan pengadilan :
Hari itu tanggal 27 Februari 1601, darah para martir Kristus kembali tumpah di tanah Inggris. Santa Anna Line, bersama seorang imam Jesuit, Beato Roger Filcock SJ, dan seorang imam Ordo Benediktin, Beato Mark Barkworth OSB, tewas di atas tiang gantungan sebagai saksi iman yang tidak tergoyahkan.
Anna Line dibeatifikasi bersama Mark Barkworth OSB pada tanggal 15 Desember 1929 oleh Paus Pius XI, sedangkan Roger Filcock SJ dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 22 November 1987. Anna kemudian dikanonisasi pada tanggal 25 Oktober 1970 oleh Paus Paulus VI.(qq)

Tuesday, February 26, 2019

Mengasihi Kebijaksanaan, Diberkati Tuhan


Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dikasihi dan diberkati Tuhanlah, Barangsiapa Mencintai Kebijaksanaan. Bagaimana Selanjutnya?

Ini pesan penuh inspirasi dan motivasi rohani yang bisa kita timba dari Bacaan Liturgi 27 Februari 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa VII Bacaan Pertama yakni dari Kitab Putra Sirakh 4:11-19. Beginilah teks selengkapnya. 

"Kebijaksanaan menjunjung tinggi para anaknya, dan menaruh perhatian pada orang yang mencarinya. Barangsiapa mencintai kebijaksanaan mencintai kehidupan, dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita.

Barangsiapa berpaut pada kebijaksanaan mewarisi kemuliaan, dan ia diberkati Tuhan setiap langkahnya. Barangsiapa melayani kebijaksanaan, berbakti kepada Yang Kudus, dan barangsiapa mencintai kebijaksanaan dicintai oleh Tuhan. Barangsiapa mendengarkan kebijaksanaan akan memutuskan yang adil, dan aman sentosalah kediaman orang yang mengindahkannya.

Jika orang percaya pada kebijaksanaan niscaya ia mewarisinya, dan keturunannya akan tetap memilikinya. Boleh jadi ia dituntun kebijaksanaan lewat jalan yang berbelok-belok dahulu, sehingga ia takut dan gemetar; boleh jadi kebijaksanaan menyiksa dia sebagai siasat sampai dapat percaya padanya, dan mengujinya dengan segala aturannya.

Tetapi kemudian kebijaksanaan kembali kepadanya dengan kebaikan yang menggembirakan, dan menyingkapkan kepadanya pelbagai rahasia.Tetapi jika orang sampai menyimpang, maka ia akan dibuang oleh kebijaksanaan dan diserahkan kepada kebinasaan." (Kitab Putra Sirakh 4:11-19).

Inspirasi dan motivasi rohani kunci dari teks ini adalah bahwa orang yang mencintai kebijaksanaan, dicintai oleh Tuhan. Maka, dikasihi dan diberkati Tuhanlah setiap orang yang mau mencari dan mencintai kebijaksanaan. 

Kebijaksanaan itu bukan pembodohan, bukan pemutarbalikan fakta dan kebenaran, bukan pula pembohomgan hanya demi meraih kemenangan dan kekuasaan. Kebijaksanaan itu demi kemajuan dan kesejahteraan hidup bersama yang adil dan beradab!

Ya Tuhan, anugerahilah kami kebijaksanaan demi kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan seluruh warga bangsa serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga kami boleh selalu mencintai kebijaksanaan secara benar sehingga layak menerima berkatMu, selama-lamanya. Amin.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 26/2/2019
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Kitab Putra Sirakh 4:11-19. 

Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang;
Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Percikan Nas Rabu, 27 Februari 2019

Gabriel dari Bunda Berdukacita
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Sir. 4:11-19; Mzm. 119:165,168,171,172,174,175; Mrk. 9:38-40. BcO 1Kor. 12:1-11.

Nas Injil: 
38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Percikan Nas:
Akhir-akhir ini banyak berita bohong yang viral di media sosial. Berita-berita tersebut ada yang sengaja dibuat atau juga dilakukan untuk mendiskreditkan yang lain. Makin dekat dengan pilpres kampanye pun makin hitam. Yang parah adalah kalau yang hitam itu dibungkus warna religius dan dikumandangkan di tempat ibadah. Yang bukan kelompokku mesti dihancurkan dengan cara apapun. Yang tidak menguntungkanku mesti dilenyapkan. Ngeri!
Tuhan mendapat laporan dari para murid yang mencegah orang lain melakukan mukjijat dalam nama-Nya karena bukan dari kelompoknya. Ia pun melarang para murid melakukan itu. Bagi Tuhan, “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:40). Tindakan baik tidak perlu dilarang.
Kita akan selalu berhadapan dengan orang yang tidak terima dengan kebaikan orang yang dianggap sebagai lawannya. Kebaikan apa pun yang dilakukan lawan adalah buruk. Kiranya kita dipanggil untuk membuka mata hati orang agar sikap seperti itu jangan sampai menggerakkan pengikut. Mendiamkan berarti membiarkan dosa berkembang. Saatnya bagi kita untuk bergerak dan memberikan masukan yang benar dan objektif. Kiranya diam bisa menjadi dosa.

Doa:
Tuhan anugerahkanlah keberanian padaku untuk melihat dan menyuarakan kebenaran. Semoga kami tidak mendiamkan sesuatu yang salah dan bohong. Semoga berani bersuara dan kami menjadi duta-duta kebenaran-Mu. Amin.

Diam dan dosa
(goeng).

Lamunan Pekan Biasa VII

Rabu, 27 Februari 2019

Markus 9:38-40

9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
9:39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, di era global untuk memperoleh kesejahteraan orang harus siap bersaing. Orang harus siap beradu kualitas hidup.
  • Katanya, persaingan menjadi salah satu ciri zaman global karena orang harus mandiri dan tidak dapat menggantungkan diri pada orang lain. Apalagi untuk kegiatan dan usaha yang sama dengan orang lain, upaya saling mengalahkan akan lebih tajam.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ada banyak kelompok dan gerakan serta perorangan dengan kegiatan dan usaha sama, kalau semua berusaha demi kebaikan umum dan tidak saling menjelekkan, mereka semua ada dalam kesejatian persaudaraan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang menyadari ada banyak teman bahkan saudara di banyak kelompok yang berbeda-beda yang memiliki program kegiatan sama tetapi tidak saling menegatifir.
Ah, bagaimanapun juga kalau ada orang atau kelompok lain yang memiliki usaha sama, di situ mereka harus saling bersaing.

Santo Porphyrius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits2252 Diterbitkan28 Juli 2013 Diperbaharui31 Mei 2014

  • Perayaan
    26 Februari
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-5
  • Kota asal
    Tesalonika - Yunani
  • Wafat
    Tahun 420 | Oleh sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Porphyrius dilahirkan pada abad kelima dalam keluarga bangsawan yang kaya. Ia meninggalkan keluarganya ketika ia berusia duapuluh lima tahun. Porphyrius pergi ke Mesir untuk menggabungkan diri dalam sebuah pertapaan. Setelah lima tahun, ia mengadakan perjalanan ke Yerusalem. Ia ingin mengunjungi tempat-tempat di mana Yesus pernah berada semasa hidup-Nya di dunia.
Porphyrius amat terkesan dengan Tanah Suci. Kasihnya kepada Yesus membuatnya semakin sadar akan penderitaan kaum miskin. Di rumahnya di Tesalonika, ia tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi miskin. Ia masih memiliki segala yang diwariskan orangtuanya kepadanya, tapi tidak untuk jangka waktu yang lama. Ia meminta temannya - Markus - untuk pergi ke Tesalonika dan menjual segala harta miliknya. Setelah tiga bulan, Markus kembali dengan uang. Porphyrius lalu membagi-bagikannya kepada mereka yang sungguh membutuhkannya.
Pada usia empatpuluh tahun Porphyrius ditahbiskan sebagai imam dan kepadanya diberikan tanggung jawab untuk memelihara relikwi Salib asli Yesus. Porphyrius selanjutnya ditahbiskan sebagai Uskup Gaza. Ia bekerja giat untuk menghantar banyak orang percaya kepada Yesus dan menerima iman. Tetapi, kerja kerasnya menghasilkan buah amat lambat dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mayoritas penduduk pada waktu itu bertaut pada praktek-praktek kafir dan takhayul.
Meski Porphyrius dapat mengakhiri banyak dari praktek-praktek ini, ia juga mendapat banyak musuh yang membuatnya banyak menderita. Yang lain, yang adalah umat Kristiani, amat mengasihi dan mengagumi Porphyrius. Mereka berdoa dan bermatiraga untuknya. Mereka memohon Tuhan untuk menjaga dan melindunginya. Uskup Porphyrius menghabiskan bertahun-tahun lamanya guna memperkuat komunitas Kristiani di Palestina. Ia memaklumkan dengan tegas segala yang diyakini teguh umat Kristiani. St. Porphyrius wafat pada tahun 420.

Monday, February 25, 2019

Diuji Laksana Emas dalam Api


Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi yang memberi motivasi rohani bagi siapa saja untuk tetap teguh dalam kebijaksaan dan kebaikan kendati ditempa berbagai ujian bahkan penghinaan. Mari kita renungkan.

Inspirasi dan motivasi rohani itu termuat dalam Bacaan Liturgi 26 Februari 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa VII Bacaan Pertama dari Kitab Putra Sirakh 2:1-11. Beginilah teks selengkapnya. Mari kita baca dan renungkan.

"Anakku, jika engkau mau mengabdi kepada Tuhan, bersiap-sedialah menghadapi pencobaan. Tabahkanlah dan teguhkanlah hatimu. Jangan gelisah pada waktu malang. Berpautlah kepada Tuhan, jangan berpaling dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu.

Terimalah saja apa pun yang menimpa dirimu dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang dikasihi Tuhan diuji dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka Iapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.

Kalian yang takut akan Tuhan nantikanlah belas kasihan-Nya dan jangan menyimpang, supaya kalian jangan terjatuh. Kalian yang takut akan Tuhan, percayalah pada-Nya, niscaya kalian tidak akan kehilangan ganjaran. Kalian yang takut akan Tuhan, harapkanlah yang baik, sukacita kekal dan belas kasihan.

Ingatlah akan angkatan yang sudah-sudah, dan perhatikanlah: pernahkah Tuhan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya? Pernahkah Tuhan meninggalkan orang yang tekun bertakwa? Pernahkah Tuhan tidak menghiraukan orang yang berseru kepada-Nya? Sungguh, Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan di waktu kemalangan." (Kitab Putra Sirakh 2:1-11)

Jadi, jangan menyerah kalah oleh penghinaan sebab itu hanyalah ujian bagi orang-orang pilihan yang dikasihi Tuhan. Ujian itu laksana emas dalam api yang kian memurnikan jati dirinya.
Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi serta memotivasi hidup kita dalam menghadapi setiap penghinaan. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 25/2/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶ Aloys budi purnomo Pr Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang; Andalan Kerohanian Katolik Pramuka Kwarda Jateng.

Percikan Nas Selasa, 26 Februari 2019

Hari biasa
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Sir. 2:1-11; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mrk. 9:30-37.
BcO 1Kor. 11:17-34.

Nas Injil: 
30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." 32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" 34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." 36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Percikan Nas:
Banyak orang bercerita tentang seorang bapak yang rajin menyediakan waktu dan tenaga untuk menata taman dan gereja. Dalam cerita-cerita mereka ada rasa kagum dan memuji bapak tersebut. Ia telah memberikan diri untuk sesuatu yang sederhana dan kecil. Pilihan dia ini menjadi kenangan yang indah di hati umat. Mereka pun kehilangan kala sang bapak harus meninggalkan gerejanya dan ikut anaknya di luar kota.
Ketika para murid bertengkar siapa yang akan menjadi yang terbesar Yesus mengambil seorang anak kecil. Ia menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbesar mesti seperti anak kecil tersebut. “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (Mrk 9:37).
Bagi Tuhan kesetiaan dalam perkara kecil menunjukkan seseorang akan setia dalam perkara besar. Orang menjadi besar tidak harus berobsesi mengejar kuasa besar. Menyambut seorang anak, melakukan hal-hal kecil secara tekun dan konsisten, berbuat baik harian akan menjadikannya sebagai pribadi yang besar. Sebaliknya mereka yang rakus kekuasaan dan penghargaan diri malah akan tenggelam dalam rasan-rasan yang buruk.

Doa:
Tuhan berkatilah kami agar mempunyai kesetiaan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Semoga kami tekun menjalankannya dan ikhlas tanpa mengharapkan penghormatan dan penghargaan. Amin.

Kebaikan kecil
(goeng).

Lamunan Pekan Biasa VII

Selasa, 26 Februari 2019

Markus 9:30-37

9:30. Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang yang punya tugas menjadi tenaga sosialisasi akan merasa mantap kalau memiliki banyak pengetahuan. Dengan keluasan pengetahuan dia akan dapat menghadapi berbagai soal atau pertanyaan.
  • Tampaknya, untuk menambah dan memperdalam pengetahuan petugas seperti itu akan selalu belajar dan belajar. Dia dapat mengikuti seminar dan ceramah-ceramah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki pengetahuan banyak dan luas serta selalu mau belajar, orang tak akan mampu menjadi pembicara sejati kalau tidak menyimpan lebih dahulu itu semua menjadi gejolak omongan hati sebelum menjadi lontaran omongan.  Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa setiap pengetahuan baru selalu menimbulkan soal baru pertama-tama dalam dirinya.
Ah, kalau banyak yang pengetahuan seorang pembicara akan besar honorariumnya.

Santa Walburga

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits2722 Diterbitkan27 Maret 2017 Diperbaharui16 April 2017

  • Perayaan
    25 Februari - 1 Mei
  • Lahir
    Tahun 710
  • Kota asal
    Devonshire, Inggris
  • Wilayah karya
    Bavaria Jerman
  • Wafat
    25 Februari 779 di Heidenheim Jerman
    Sebab alamiah
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santa Walburga lahir pada tahun 710 di Devonshire, Inggris dalam keluarga aristokrat. Ia adalah putri Santo Richard (Santo Richard Peziarah), raja Kerajaan Saxons di Wessex Inggris. Dua orang saudaranya juga menjadi orang kudus; yaitu Santo Winebald dan Santo Willibaldus. Seorang pamannya, yaitu adik dari ibunya, adalah Santo Bonifasius, Uskup dan rasul bangsa Jerman yang terkenal itu.
Ketika ia berumur 11 tahun, Ayahnya Richard bersama kedua saudaranya berangkat siarah ke tanah suci Yerusalem. Walburga dititipkan di biara susteran Benediktin di Wimborne Dorsetshire Inggris. Ia dididik oleh para biarawati dan ditahbiskan menjadi seorang suster. Ia tinggal di biara ini selama 26 tahun sampai keberangkatannya ke Jerman pada tahun 748.
Walburga tiba di Jerman sesudah dua saudaranya, Willibald dan Winebald, untuk membantu Santo Bonifasius, dalam karya penginjilan diantara bangsa Jerman yang masih kafir. Bersama Santo Bonifasius, mereka mendirikan biara-biara di beberapa wilayah Jerman yang baru menerima iman Kristiani. Selanjutnya Walburga diutus ke biara Benediktin di Heidenheim untuk membantu Winebald yang telah ditunjuk sebagai pimpinan biara tersebut.
Sesudah Santo Winebald meninggal dunia pada tahun 761, Walburga ditunjuk untuk menggantikannya. Dibawah kepemimpinan suster Walburga, biara Heidenheim menjadi terkenal ke seluruh Jerman.  Bukan hanya terkenal karena mempraktekkan disiplin hidup membiara yang ketat, namun juga karena suster Walburga, sang pemimpin biara, diberkati Tuhan dengan karunia penyembuhan. Ia memiliki kuasa atas berbagai macam penyakit dan mampu menyembuhkan orang sakit dengan doa dan minyak pengurapan.
Santa Walburga tutup usia dengan tenang pada tanggal 25 Februari 779 dan di makamkan di biara tersebut. Pada tahun 870 relikwi-nya dipindahkan ke Gereja Salib Suci Eichstatt, Jerman.(qq)