Pages

Tuesday, November 26, 2013

HALANG-RINTANG EMOSIONAL (Sajian 10)


Kolom "Pastoral Ketuaan" akan menyajikan tulisan tentang bagaimana menata hidup batin. Tulisan ini ditulis oleh Henri J.M. Nouwen dalam buku Tarian Kehidupan yang diterjemahkan secara anonim dan tidak dinyatakan dari penerbit dan percetakan apa. 

Rasa Hati Berubah-ubah

Rasa hati perlu diperhatikan. Aku menemukannya selama minggu-minggu pertama di Genesee bahwa aku dipengaruhi rasa hati yang sangat berbeda-beda, seringkali berubah sangat cepat. Perasaan kelelahan depresif, rendahnya harga diri, kebosanan, juga perasaan marah, tersinggung dan kekerasan langsung, serta perasaan bersyukur, sukacita dan bergairah - semuanya dapat terjadi, kadangkala bahkan dalam waktu satu hari. Aku merasa bahwa rasa hati yang cepat berubah ini menunjukkan betapa aku terlekat dengan banyak hal yang diberikan kepadaku: sikap yang bersahabat, pekerjaan yang menyenangkan, kata-kata pujian, buku yang bagus, dll. Hal-hal kecil dapat cepat mengubah kesedihan menjadi sukacita, kemuakan menjadi kepuasan, dan kemarahan menjadi pemahaman dan bela rasa.

Suatu saat dalam beberapa minggu itu aku membaca bahwa kesedihan adalah akibat dari keterlekatan. Orang-orang yang tak terlekat tidak mudah menjadi korban dari peristiwa-peristiwa baik atau buruk di dalam lingkungan sekitar mereka dan dapat mengalami  suatu perasaan keseimbangan tertentu. Aku merasa bahwa hal ini adalah realisasi yang penting bagiku. Ketika pekerjaan tanganku tidak lagi membuat aku berminat, aku menjadi bosan, lalu gampang tersinggung dan seringkali bahkan marah, mengingatkan diriku bahwa aku membuang-buang waktuku. Ketika aku membaca buku yang menarik perhatianku, aku menjadi begitu terlibat sehingga waktu berjalan cepat, orang-orang seperti bersahabat, keberadaanku di sini bermanfaat, dan keseluruhannya menjadi suatu peristiwa yang besar. Sudah tentu, kedua "rasa hati" adalah perwujudan dari keterlekatan semu dan menunjukkan seberapa jauh aku berada dari bentuk "sikap acuh tak acuh" apapun yang sehat.
dari The Genesee Diary

No comments:

Post a Comment