Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, July 31, 2013

PESERTA 4 AGUSTUS 2013

Acara Novena Ekaristi Seminar yang diselenggarakan oleh Komunitas Rama Domus Pacis tanggal 4 Agustus 2013 akan mengetengahkan judul Ati Karep Daya Cupet (Hati berkehendak tetapi daya tak mencukupi). Karena berkaitan dengan masalah seksualitas, maka ada yang mengatakan temanya heboh.

Tema itu dibicarakan dalam rangka pembelajaran Pastoral Ketuaan. Tema tersebut akan meletakkan seksualitas, yang merupakan bagian integral hidup orang, dalam konteks dasar penghayatan kemanusiaan. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya akan tampil menjadi pembicara dengan pendekatan ilmu psikologi. Jumlah orang yang mendaftar hingga hari akhir, Senin 29 Juli 2013, ada sebanyak 237 orang.

Kehadiran peserta adalah hasil kerjasama dengan: Mbak Asih (Gamping), Bu Riwi (Minomartani), Bu Agnes (Pugeran), Bu Nanik (Imogiri), Bu Indah (Kotabaru), Bu Taryo (Babarsari), Bu Rini (Medari), Bu Wito (Bintaran), Bu Sundari (Pringgolayan), Mbak Lisa (Ganjuran), Rama Bambang Triantoro (Wedi), Pak Emil (Wedi), Rama Prawirosusanto (Gondang), Pak Thomas Sutiksno (Gondang), Bu Mumun (Pringwulung), Bu Laksana (Pringwulung), Pak Loly (Pringwulung), Bu Dewa (Pringwulung), Pak Gito (Pringwulung), Pak Darsono (Pringwulung), Bu Titik (Pringwulung). Matrik berikut menunjukkan kelompok asal peserta pendaftar dan jumlahnya.


Peserta Pendaftar Novena Ekaristi Seminar di Domus Pacis 4 Agustus 2013

ASAL PESERTA
JUMLAH
01.  Paroki Pringwulung
 54 orang
02.  Paroki Gamping
 2 orang
03.  Paroki Minomartani
11 orang
04.  Wilayah Bangunharjo, Paroki Pugeran
6 orang
05.  Paroki Babadan
 2 orang
06.  Wanita Katolik RI Depok
3 orang
07.  Wilayah Imogiri, Paroki Bantul
 5 orang
08.  Paroki Baciro
 2 orang
09.  Lingkungan Sendowo, Kotabaru
12 orang
10.  Paroki Babarsari
9 orang
11.  Paroki Medari
36 orang
12.  Lingk Nikolas, Paroki Bintaran
4 orang
13.  Paroki Administratif Pringgolayan
  7 orang
14.  Lingkungan Kepuh, Paroki Ganjuran
4 orang
15.  Berbah, Paroki Kalasan
8 orang
16.  Paroki Gondang
15 orang
17.  Paroki Wedi
34 orang
18.  Paroki Administratif
15 orang
19.  Paroki Klaten
4 orang
20.  Paroki Jombor
2 orang
JUMLAH
 237 orang

Sabda Hidup

Peringatan Wajib St. Alfonsus Maria de Liguori
Warna Liturgi Putih
Kamis, 1 Agustus 2013
Bacaan Kel. 40:16-21,34-38 atau Rm. 8:1-4; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:47-53


Matius 13:47-53
13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
13:48 Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."
13:53 Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ.


Renungan
Kerajaan Allah merupakan warta yang biasa didengar bangsa Israel dari jaman ke jaman. Namun warta itu seringkali tidak mudah dimengerti oleh para pendengar. Banyak yang masih menyimpan tanya.
Untuk membuka pengertian mereka Yesus menghadirkan aneka macam perumpamaan yang bisa menggambarkan. Ragi, biji sesawi, ilalang dan gandum, anak kecil, pukat dll. Perumpamaan-perumpamaan tersebut disampaikan agar para pendengar lebih mudah mengerti arti dari Kerajaan Allah. Rupanya apa yang dibuat Yesus ini membawa hasil. Para pendengarNya mengatakan, "Ya, kami mengerti" (Mat 13:51).
Di sekitar kita pun banyak hal yang tidak mudah kita pahami. Bahkan hal-hal yang sederhana pun nampak makin sulit dimengerti karena kecenderungan manusia memperumit yang sederhana.
Marilah kita belajar dari Yesus, menyederhanakan yang rumit dan tidak membuat yang sederhana menjadi rumit. Menuntun bukan membuat bingung. Memberi arah yang benar bukan menyesatkan.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu lagi mengalami kesulitan. Lalu datang seorang penolong. Dia menguraikan masalahmu. Engkau melihatnya dengan lebih gampang.

Refleksi
Tulislah pengalamanmu membantu orang mengurai ajaran iman.

Doa

Tuhan, semoga aku bisa menyederhanakan yang rumit dan tidak mebuat rumit hal-hal sederhana. Amin.

Perutusan
Aku akan berpikir dan bertindak sederhana.

Tuesday, July 30, 2013

MAKIN TERASA SEBAGAI PASTOR

Tinggal di rumah tua bisa membuat orang merasa menjadi orang yang hanya diurus. Apalagi kalau yang mengurus tidak tinggal bersama, para penghuni rumah tua dapat mengalami hidup "seperti kurang terurus". Suasana seperti inilah yang dirasakan cukup lama oleh para rama yang ada di Domus Pacis. Lebih-lebih bagi rama yang sudah lama seperti Rama Yadi. Tidak mengherankan kalau seorang sosiolog pun membayangkan rumah tua menjadi salah satu tempat suram. Sebagaimana kemarin, Selasa 30 Juli 2013, diceriterakan oleh Rama Agoeng "pada suatu ketika dalam suatu pertemuan berjumpa dengan seseorang yang ahli sosiologi. Sang Sosiolog terkejut ketika tahu bahwa Rama Agoeng yang masih muda itu tinggal di rumah 'jompo' bersama rama-rama tua di Domus Pacis. Si Sosiolog membayangkan betapa besar penderitaan batin Rama Agoeng berada di tempat sepi terminal menuju kapling 2X1m." Untuk komunitas imamat pun rumah tua dapat membuat para rama Domus Pacis merasa tersingkir dari kehidupan Gerejawi. Selain dapat merasa sudah "tidak terpakai" para rama juga bisa merasa makin "jauh dari umat". Padahal penghayatan diri sebagai pastor terjadi kalau seorang imam masih memiliki gaulan dengan dan dalam kegiatan umat. Maka tidak sedikit rama tua tidak bersedia tinggal di rumah tua.

Suasana suram rumah tua itu di Domus Pacis tahap demi tahap dapat terkuak dan makin lama para rama dan bahkan karyawan dapat mengalami suasana ceria. Pengembangan hidup berkomunitas yang secara sistematis dimulai sejak sesudah Paskah 2011, kini makin membawa buah dalam hidup menggereja. Para rama dapat ikut berpartisipasi mengurus Domus Pacis terutama untuk pemeliharaan gedung dan pemenuhan kebutuhannya. Para rama tidak hanya hidup dari urusan institusional Keuskupan. Kalau tadinya, dalam hal pelayanan pastoral, hanya beberapa rama yang dapat melayani permintaan misa, kini suasana berkembang amat signifikan. Pastoral untuk Kaum Tua yang dimulai dari Februari 2012, kini makin berkembang dan makin dikenal oleh umat secara luas. Banyak umat berkunjung atau datang meluangkan waktu untuk kebutuhan rama-rama Domus Pacis. Kegiatan Novena Seminar Ekaristi untuk studi ketuaan tahun 2013 telah menumbuhkan tim relawati dan relawan terlibat dalam bentuk karya pastoral yang diadakan oleh Komunitas Rama Domus Pacis.

Kehidupan Domus Pacis tampaknya makin menjadi salah satu bagian dari kehidupan umat. Beberapa warga Katolik merasakan salah satu keprihatinan para rama Domus berkaitan dengan urusan makan sehari-hari. Para rama berpikir dan membicarakan kemungkinan minta bantuan umat untuk memasakkan makan pagi, siang, dan sore dengan anggaran yang diberikan oleh Keuskupan. Ketika hal ini dilontarkan ke beberapa warga Gereja, ternyata pada tanggal 22 Juli 2013 ada 8 orang ibu yang bersedia datang memenuhi undangan rama Domus lewat SMS. Enam ibu berasal dari Paroki Pringwulung (Bu Tatik, Bu Ninik, Bu Ratmi, Bu Mumun, Bu Vera, Bu Wulan), Bu Riwi dari Paroki Minomartani, dan Bu Rini dari Paroki Medari. Dalam pertemuan ini Rama Agoeng menjadi pemandu. Rama Yadi memulai dengan kisah pengalaman bertahun-tahun di Domus Pacis berkaitan dengan soal makan harian. Dialog persaudaraan penuh keakraban terjadi dan para ibu tampak antusias akan membantu kebutuhan penyediaan makan penghuni Domus Pacis. Mereka meminta pertemuan dilanjutkan pada 29 Juli 2013. Selama seminggu para ibu akan mencoba memberi info ke umat barangkali ada yang bersedia ikut ambil bagian.
Ketika pertemuan 8 ibu dilanjutkan pada 29 Juli 2013, ternyata para ibu dapat membawa lebih dari 130 nama warga Katolik dari beberapa paroki yang bersedia ikut ambil bagian. Pada umumnya banyak umat berpikir bahwa mereka akan membantu terutama penyediaan uang. Muncul pula soal dimana sementara umat bersedia menyediakan masakan tetapi tidak dapat mengantarnya ke Domus. Dalam hal ini Rama Yadi, Rama Agoeng dan Rama Bambang menegaskan: 1) Para Rama Domus tidak minta bantuan uang, karena sudah ada anggaran yang disediakan oleh Keuskupan; 2) Para Rama Domus hanya minta bantuan untuk ngecakke (menggunakan) uang Rp. 50.000,00 per makan untuk 10 orang; 3) Para Rama Domus tidak mau menambah beban keuangan dari umat; 4) Para Rama Domus mengharapkan sumbangan tenaga.

Kedelapan ibu dalam pertemuan itu jadi sibuk menelepon dan atau mengirim SMS ke beberapa orang yang masuk dalam daftar nama yang dibawa. Dari sini muncullah kesanggupan menyediakan masakan untuk tanggal dan waktu makan tertentu. Masing-masing ibu ternyata memiliki kelompok hubungan masing-masing. Dengan bersama-sama menjadi kelompok peduli penyediaan masakan di Domus Pacis, terjadilah Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban para murid Kristus. Gambaran Gereja seperti ini sesuai dengan cita-cita Keuskupan Agung Semarang (KAS) dalam Arah Dasarnya. Dengan ini Komunitas Rama Domus Pacis walau secara terbatas dan berada di rumah tua dapat ikut ambil bagian mengembangkan Gereja KAS. Dalam hal terbentuknya tim yang mengurus makan, bersama 8 orang key person di atas (Bu Tatik, Bu Ninik, Bu Ratmi, Bu Mumun, Bu Vera, Bu Wulan, Bu Riwi, dan Bu Rini), Komunitas Rama Domus Pacis mendapatkan kasih dari 66 orang warga Katolik (8 koordinator kelompok dan 58 anggota) :
  1. Bu Harno dari Paroki Pringwulung
  2. Bu Heru dari Paroki Pringwulung
  3. Bu Dwijo dari Paroki Pringwulung
  4. Bu Prayit dari Paroki Pringwulung
  5. Bapak Kus dari Paroki Pringwulung
  6. Bu Widi dari Paroki Pringwulung
  7. Bu Kirno dari Paroki Pringwulung
  8. Bu Naryo dari Paroki Pringwulung
  9. Mas Sapto dari Paroki Pringwulung
  10. Bu Ade dari Paroki Pringwulung
  11. Bu Kartini dari Paroki Pringwulung
  12. Bu Leli dari Paroki Pringwulung
  13. Bu Saimin dari Paroki Pringwulung
  14. Bu Wardi dari Paroki Pringwulung
  15. Bu Titik Untung dari Paroki Pringwulung
  16. Bu Nia dari Paroki Pringwulung
  17. Bu Laksono dari Paroki Pringwulung
  18. Bu Dicky dari Paroki Pringwulung
  19. Bu Jono dari Paroki Pringwulung
  20. Bu Paryono dari Paroki Pringwulung
  21. Bu Gatot dari Paroki Pringwulung
  22. Bu Bambang Riyanto dari Paroki Pringwulung
  23. Bu Wahyono dari Paroki Pringwulung
  24. Bu Cicil dari Paroki Pringwulung
  25. Bu Darno dari Paroki Pringwulung
  26. Bu Yuli dari Paroki Pringwulung
  27. Bu Isri dari Paroki Pringwulung
  28. Bu Winantono dari Paroki Pringwulung
  29. Bu Maryati dari Paroki Pringwulung
  30. Bu Mardanu dari Paroki Pringwulung
  31. Bu Mega dari Paroki Pringwulung
  32. Bu Yucha dari Paroki Pringwulung
  33. Bu Bambang Adi dari Paroki Pringwulung
  34. Bu Bambang Tri dari Paroki Pringwulung
  35. Bu Budi S dari Paroki Pringwulung
  36. Bu Endarto dari Paroki Pringwulung
  37. Bu Satmoko dari Paroki Pringwulung
  38. Bu Endang dari Paroki Pringwulung
  39. Bu Beni dari Paroki Pringwulung
  40. Bu Setyabudi dari Pringwulung
  41. Bu Wijaya dari Paroki Nandan
  42. Bu Watik dari Paroki Babadan
  43. Bu Sis dari Paroki Babadan
  44. Bu Toni dari Paroki Babadan
  45. Bu Jeni dari Paroki Kotabaru
  46. Bu I'in dari Paroki Kotabaru
  47. Bu Yulita Sri Muryati dari Paroki Kotabaru
  48. Bu Hardiyanto dari Paroki Medari
  49. Bu Sumarjiyati dari Paroki Medari
  50. Bu Painem dari Paroki Medari
  51. Bu Sisworo dari Paroki Minomartani
  52. Bu Kundarto dari Paroki Minomartani
  53. Bu Endang dari Paroki Minomartani
  54. Bu Donoroto dari Paroki Minomartani
  55. Bu Slaamet dari Paroki Minomartani
  56. Bu Haryono dari Paroki Minomartani
  57. Bu Wili dari Paroki Administratif Pringgolayan
  58. Bu Shiela dari Paroki Mlati.


Sabda Hidup

Rabu, 31 Juli 2013
Peringatan Wajib St. Ignasius dr Loyola
Warna Liturgi Putih
Bacaan
Kel. 34:29-35; Mzm. 99:5,6,7,9; Mat. 13:44-46

Matius 13:44-46
13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."


Renungan
Membaca bacaan ini saya kok langsung terpaku pada kalimatku: tidak ada kecurangan untuk meraih Kerajaan Allah. Orang yang menemukan harta terpendam di tanah orang lain tidak langsung mengambilnya. Ia malah menutup galiannya dan berusaha mengumpulkan dana untuk membeli tanahnya. Begitu juga sang pedagang.
Kerajaan Allah sungguh menjadi milik mereka yang jujur, yang mau berjuang dan mampu bertahan dari godaan dalam hidupnya. Ia tidak tergoda memiliki yang bukan miliknya tanpa melalui cara yang sah. Ia akan berjuang sepenuh hati, bahkan melepaskan miliknya ketika hal tersebut mesti dilakukan. Ia akan mengembalikan hak orang walau ia menemukan dan mendapatkannya secara kebetulan.
Hanya pada mereka yang mau menghormati hak orang lain, yang mau sungguh-sunguh berjuang, jujur dan rela Kerajaan Allah dianugerahkan. Pada mereka ini pula Kerajaan Allah terasa hidup dan bisa dirasakan banyak orang.

Kontemplasi
Bayangkan kisah dalam Injil Mat. 13:44-46. Hadirkan dirimu sebagai salah satu tokoh perumpamaan di sana.

Refleksi
Sejauh mana anda memperjuangkan kejujuran, daya usaha dan daya tahan demi Kerajaan Allah?

Doa
Tuhan, semoga hidupku penuh gaairah ketekunan dan kejujuran menghadirkan kasihMu. Perkenankan aku ambil bagian dalam KerajaanMu. Amin.

Perutusan
Aku akan bertahan dari godaan memiliki milik orang lain dengan cara tidak adil.

Monday, July 29, 2013

Lamunan Pekan Biasa XVII

Selasa, 30 Juli 2013

Matius 13:36-43

13:36 Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."
13:37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;
13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.
13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.
13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.
13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, hingga kini pun ada gambaran bahwa dalam hidup ini ada lingkungan sakral (suci) dan lingkungan profan (duniawi). Kehidupan keagamaan dengan tempat ibadat dan kegiatan-kegiatannya menjamin kesucikan dan kebaikan karena acara-acaranya mengingat orang akan yang ilahi, sementara itu di luar agama yang ada adalah kepentingan-kepentingan dunia yang memudahkan orang berbuat jahat.
  • Tampaknya, banyak orang yakin bahwa dengan berada dalam lingkungan hidup keagamaan orang akan selalu penuh dengan taburan kebaikan. Kesalehan dan ketekunan hidup beragama menjauhkan orang dari bujuk, rayu dan gangguan kejahatan sebagaimana ada dalam lingkungan duniawi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa benih-benih kejahatan pun tak sedikit tertabur di tengah hidup keagamaan. Kejahatan sejati justru muncul dalam lingkungan keagamaan sehingga dengan rasa sabar tak menyingkirkannya justru membuat kebaikan dan kebenaran makin tampak mempesona.
Wah, ini gimana, agama kok mentoleransi kejahatan?

Sunday, July 28, 2013

KEHERANAN SOSIOLOGIS

Pagi ini, Senin 29 Juli 2013, sesudah makan pagi Rama Agoeng masih berbicara sana-sini sekitar Domus Pacis dengan Rama Bambang. Rama Agoeng berceritera pada suatu ketika dalam suatu pertemuan berjumpa dengan seseorang yang ahli sosiologi. Sang Sosiolog terkejut ketika tahu bahwa Rama Agoeng yang masih muda itu tinggal di rumah "jompo" bersama rama-rama tua di Domus Pacis. Si Sosiolog membayangkan betapa besar penderitaan batin Rama Agoeng berada di tempat sepi terminal menuju kapling 2X1m. Tetapi betapa tambah terkejutnya ketika mendengar betapa bahagianya Rama Agoeng hidup bersama rama-rama tua dan berkebutuhan khusus. Rumah para rama tua dan berkebutuhan khusus yang bernama Domus Pacis ini ternyata mengandung dinamika dan kegairahan hidup. Suasananya amat menyenangkan dengan berbagai acara rumah, jaringan hubungan dengan berbagai kelompok umat, hadirnya beberapa relawati dan relawan serta peran dan rintisan pastoral betapapun kecilnya. Sang Sosiolog, kata Rama Agoeng, berkata "Ini fenomena sosiologis lain". Sebagai seorang sosiolog yang ahli hidup kemasyarakatan, dia amat heran dengan kehidupan Domus Pacis. Rama Agoeng bilang bahwa dia ingin melihat secara langsung.

Pembicaraan dengan Rama Agoeng di atas muncul karena kemarin Minggu, 28 Juli 2013, ada kunjungan dari umat Katolik Wilayah Pingit, Paroki Kumetiran, Yogyakarta. Ada 65 orang yang berasal dari 3 Lingkungan yang diterima oleh Rama Yadi, Rama Harto, Rama Tri Wahyono dan Rama Agoeng. Rama Harjaya seperti biasa ada di kamarnya. Rama Jaka masih di RS Panti Rapih. Sementara itu Rama Bambang di Bandungan mendampingi umat 3 lingkungan Wilayah Kerinci, Paroki Karang Panas, Semarang. Acara kunjungan Umat Pingit, yang datang pada jam 09.00 dimulai dengan sambutan dari Rama Agoeng pada sekitar jam 09.30. Jam 10.00 diselenggarakan Misa yang dipimpin oleh Rama Yadi dan diiringi dengan keyboard milik Domus Pacis yang dimainkan oleh salah satu pengunjung. Sesudah misa, ada wakil pengunjung memberikan sambutan yang diteruskan dengan beberapa tanya jawab dengan para rama Domus untuk makin mengenal situasi para rama di sini. Dalam kunjungan itu ada snak berat yang dibawa pengunjung.
Untuk Komunitas Rama Domus Pacis pengunjung pun memberikan oleh-oleh yang amat banyak sekali karena mereka memberikan secara perorangan. Oleh-oleh berupa barang ada beras, mie instan, perlengkapan mandi (sabun, pasta gigi, sampo), minyak goreng, buah-buahan, sabun deterjen, tambahan lauk yang tahan lama seperti abon sapi, dan masih ada berbagai macam lainnya. Dari jenis yang sama jumlahnya ada yang berangkap-rangkap. Rama Harto berkata "Ngge hadiah karyawan" (Bisa untuk hadiah karyawan). "Isa nggo bingkisan Idul Fitri karyawan" (Bisa untuk bingkisan Hari Raya Idul Fitri untuk karyawan) komentar Rama Bambang. Kelompok umat Pingit juga menyumbang uang.

Domus Pacis memang makin dikenal banyak umat. Kunjungan dengan berbagai bentuk acara dan kegiatan ada banyak. Pemerhati makin banyak pula. Novena Seminar yang tahun 2013 ini diadakan setiap Minggu Pertama Maret-November makin diketahui secara luas. Pendaftar untuk ikut Seminar makin banyak. Biasanya pesertanya sekitar 150 orang. Untuk tanggal 4 Agustus 2013 yang pendaftarannya paling lambat 29 Juli 2013, pada saat kisah ini ditulis, sudah ada pendaftar berjumlah 212 orang. Mbak Tatik dari Ambarrukmo menjadi relawati bersama beberapa temannya untuk menyediakan santap siang sederhana dengan beaya murah. Keluarga Mas Kus dari Puren selalu menyiapkan teh panas ketika peserta datang. Orang-orang seperti Bu Laksono, Bu Mumun, Bu Rini, Bu Riwi juga selalu datang membantu pelaksanaan Novena di samping juga keperluan lain untuk para rama Domus. Sembilan belas orang (13 ibu, 5 bapak, 1 pastor) menjadi penggerak hadirnya para peserta. Kolekte dan keuangan kumpulan para Rama Domus sudah cukup untuk membeayai Novena, karena banyak yang terlibat aktif (termasuk pembicara) datang memberikan diri secara cuma-cuma. Barangkali hal-hal seperti ini membawa Domus Pacis menghadirkan "Keheran Sosiologis" bagi seorang sosiolog. 

Sabda Hidup

Senin, 29 Juli 2013
Santa Marta
Warna Liturgi Putih
Bacaan
Kel. 32:15-24,30-34; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Mat. 13:31-35

Bacaan Injil Mat. 13:31-35
31Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." 33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." 34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

Renungan
Ada seorang ibu prihatin pada kesehatan anak-anak di desanya. Mereka mudah sekali terserang penyakit perut. Awalnya dia menduga penyebab semua itu adalah makanan. Namun ternyata mereka yang dapat makanan bagus pun tetap mudah terkena sakit perut. Anaknya lebih tahan dari yang lainnya. Ia melanjutkan pengamatannya. Ternyata anak-anak itu jarang mencuci tangan kala mau makan. Selesai bermain mereka langsung memegang makanan dan makan dengan posisi tangan tidak bersih. Berbeda dengan anaknya yang sudah terbiasa mencuci tangan sebelum makan. Ia pun mensosialisasikan gerakan mencuci tangan pada anak-anak. Sekalipun awalnya tidak mudah, lama kelamaan mereka terbiasa melakukan itu. Serangan sakit perut pada anak pun makin menghilang.
Gerakan yang dibuat ibu tadi sangat sederhana, mungkin bagi kebanyakan orang dianggap remeh atau kecil. Namun gerakan itu mampu mengubah masyarakat dan mereka pun merasakan hasilnya. Rasaku inilah gerakan Kerajaan Allah. Gerakan itu sekalipun kecil namun mempunyai daya ubah yang luar biasa seperti ragi dan memberikan perlindungan dan damai sejahtera seperti biji sesawi.

Kontemplasi
Carilah tempat nyaman. Pejamkan mata. Hadirlah pada dirimu sendiri. Temukan hal-hal yang tampaknya kecil dan remeh dalam dirimu yang mempunyai daya ubah menuju pada kebaikan dan kesejahteraan.

Refleksi
Hal kecil apa yang kautekuni dan mengubah hidupmu dan masyarakat di sekitarmu?

Doa
Tuhan, semoga aku tidak mudah meremehkan hal-hal yang tampaknya kecil. Semoga aku peka menemukannya untuk menyumbang perubahan masyarakat sampai selaras dengan Kerajaan-Mu. Amin.

Perutusan
Aku akan menekuni apa yang bisa membawa masyarakat pada kebaikan walau tampaknya kecil dan remeh.