Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, May 26, 2014

LINGKUNGAN PURWOSARI MAMPIR


Pada sekitar jam 03.00 sore Minggu 25 Mei 2014 bel tamu Domus Pacis berdering. Beberapa saat kemudian terdengar suara-suara orang. "Rama, tamunipun sampun rawuh" (Rama, para tamu sudah datang) Mbak Tari yang masuk kamar Rama Bambang berkata. Rama Bambang menyambung "Rama Yadi diaturi pirsa" (Rama Yadi diberi tahu) yang langsung disahut oleh Mbak Tari "Sampun wonten njawi" (Beliau sudah ada di luar). "Yen ngaten njenengan nyiapke kaos, buku, lan DVD teng njawi" (Kalau begitu Anda menyiapkan kaos, buku, dan DVD di luar) Rama Bambang berkata yang segera ditangkap maksudnya oleh Mbak Tari. Bila ada rombongan kunjungan di Domus, biasanya ada hal-hal yang digelar untuk dijual.

Para tamu sekitar 30 orang masuk di ruang pertemuan dalam. Rama Yadi, Rama Harto, Rama Tri Wahyono, dan Rama Bambang menyatu. Bahkan Rama Haarjaya pun ikut masuk duduk di kursi roda. Pimpinan rombongan menyampaikan kata-kata maksud dan tujuan ke Domus. "Kami dari Lingkungan Purwosari, Paroki Katedral Semarang. Tadi kami berziarah di Gua Maria Sriningsih. Kemudian kami ke panti Domus Pacis agar warga tahu bahwa di sini tinggal rama-rama yang sudah purna tugas" katanya sebagian. Rama Yadi menyambung mengenalkan rama-rama yang ada di Domus sambil memberikan informasi kamar-kamar tinggalnya. Kemudian Rama Yadi mengarahkan mikropon ke mulut Rama Harto. Dengan mikropon yang dipegang oleh Rama Yadi Rama Harto menjelaskan beberapa kegiatan yang ada di Domus Pacis. Acara yang singkat ini diakhiri dengan doa umat yang amat khusuk. Beberapa orang mengucapkan doanya dengan terbata-bata karena rasa haru bahkan menahan tangis. Beberapa orang memang mengalami "masa jaya" beberapa rama Domus yang kini sudah dianggap "selesai dan tersingkir".

"Enten unjukan mboten, Rama Bambang?" (Rama Bambang, ada minum atau tidak?) tiba-tiba sesudah doa umat Rama Yadi bertanya kepada Rama Bambang yang menyahut "Mboten. Dhek kula taken liwat telpon ngandika mboten perlu unjukan. Mula mboten nyepaki teh. Ning nek ngersakke nika wonten toya mineral" (Tidak. Ketika saya bertanya lewat telepon pimpinan rombongan berkata tidak perlu menyediakan minuman. Maka tidak disediakan teh. Tetapi kalau mau minum itu ada air mineral). Pimpinan rombongan menanggapi "Mboten sah, rama" (Tidak usah Rama). "Oh, nggih. Mangke wonten kaos lan buku kangge mbantu Komsos KAS pados dana damel film Swargi Rama Kardinal" (Oh,ya. Di luar ada kaos dan buku yang dijual. Itu untuk membantu Komsos Keuskupan Agung Semarang yang mencari dana pembuatan film Almarhum Rama Kardinal Darmojuwono) sela Rama Bambang. Kunjungan ini memang berlangsung tidak sampai 40 menit.

Sabda Hidup

Selasa, 27 Mei 2014
Agustinus dr Canterbury
warna liturgi Putih
Bacaan
Kis. 16:22-34;  Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8;  Yoh. 16:5-11

Yohanes 16:5-11:
5 tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? 6 Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. 7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. 8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; 9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; 11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

Renungan:
Kepergian seseorang yang ada dalam hati kita bisa jadi membuat kita terpuruk. Namun bisa juga sebaliknya, kejadian itu bisa membuat seseorang bangkit.
Saat kelas 1 SD ada satu temanku menangis keras-keras karena ditinggal pulang pengantarnya. Ia pun marah-marah pada pak guru. Hari berikutnya dia tidak masuk lagi dan ternyata sudah pindah sekolah. Di sisi lain ada seorang ibu harus menjagai, merawat dan membesarkan 5 orang anaknya karena ditinggal mati suaminya. Ia bertahan hidup sendirian sampai sekarang ini. Anak-anaknya pun menyelesaikan studi dengan baik. Ia memang sangat kehilangan suaminya namun ia tidak larut dalam kepedihan karena anaknya banyak. Ia pun menggunakan keahliannya untuk mempertahankan hidupnya juga anak-anaknya.
Pengalaman ditinggal yang diharapkan memang tidak mudah. Namun hidup ini terus berjalan. Kepedihan boleh saja dirasakan namun tak perlu bertahan dalam suasana sedih karena kehilangan. Bila kita ingin mendapatkannya lagi (walau kadang harus dalam bentuk yang berbeda) kita perlu bangkit dan memohon RohNya. Ditinggalkan adalah kesempatan untuk berpijak pada diri sendiri. "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu" (Yoh 16:7). Selalu ada penghiburan saat kepedihan menghampiri kita.
 
Kontemplasi:
Pejamkan sejenak matamu. Ingatlah satu peristiwa yang membuatmu merasa ditinggalkan. Temukan penghiburan yang kaualami kala kepedihan menghampirimu.

Refleksi:
Tulislah daftar penghiburan yang bisa menghapus kepedihanmu.

Doa:
Yesus kuatkanlah hati setiap orang yang sedang merasa ditinggalkan. Semoga mereka pun menemukan Roh Penghiburan yang Kauutus. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjadi orang yang mampu bertahan dan mengatasi kepedihanku hari ini.

Sunday, May 25, 2014

SURAT ENSIKLIK TERANG IMAN (8)


Berikut ini adalah terjemahan yang tidak resmi (unofficial translation) dari ensiklik Paus Fransiskus yang berjudul Lumen Fidei (Terang Iman). Jika anda ingin mengutip terjemahan ensiklik ini, mohon mencantumkan www.katolisitas.org sebagai sumbernya, sehingga kalau ada masukan dapat diberitahukan kepada kami.
AN  UNOFFICIAL INDONESIAN TRANSLATION OF THE ENCYCLICAL LUMEN FIDEI (The Light of Faith)
@COPYRIGHT 2014 – KATOLISITAS


Surat Ensiklik
TERANG IMAN

dari Sri Paus
FRANSISKUS
Kepada Para Uskup Imam dan Diakon
Kaum Religius dan Umat Awam
Tentang IMAN


BAB DUA: JIKA KAMU TIDAK PERCAYA, KAMU TIDAK AKAN MENGERTI (bdk. Yes 7:9)

Iman dan kebenaran

23. Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan mengerti (bdk. Yes 7:9). Versi Yunani dari Alkitab Ibrani, terjemahan Septuaginta yang dibuat di Aleksandria, memberikan gambaran kata-kata di atas yang diucapkan oleh nabi Yesaya kepada Raja Ahas. Dengan cara ini, persoalan pengetahuan tentang kebenaran menjadi pusat bagi iman. Namun demikian, teks Ibrani, membacanya berbeda, nabi itu berkata kepada raja: “Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan teguh jaya”. Di sini ada permainan kata-kata, didasarkan pada dua bentuk kata kerja’amān :”Kamu akan percaya” (ta’amînû) dan “Kamu akan teguh jaya” (tē’āmēnû). Karena ketakutan dengan kekuatan musuh-musuhnya, raja itu mencari keamanan yang dapat ditawarkan oleh sebuah aliansi dengan kerajaan Asyur yang besar. Sebaliknya, nabi itu memberitahukan raja untuk percaya sepenuhnya kepada batu yang kokoh dan tetap teguh yang adalah Allah Israel. Karena Allah dapat dipercaya, adalah wajar untuk memiliki iman kepada-Nya, untuk berdiri teguh pada sabda-Nya. Dia adalah Allah yang sama yang nantinya disebut oleh Yesaya, dua kali dalam satu ayat, Allah yang adalah Amin, “Allah kebenaran” (bdk. Yes 65:16), pondasi yang tetap bertahan bagi kesetiaan perjanjian itu. Mungkin kelihatannya, dengan menerjemahkan “teguh jaya” sebagai “mengerti”, Alkitab versi Yunani tersebut, secara mendalam telah mengubah makna teks dengan bergerak menjauh dari gagasan alkitabiah akan kepercayaan kepada Allah, menuju kepada sebuah gagasan Yunani akan pemahaman intelektual. Namun terjemahan ini, yang sementara tentu mencerminkan sebuah dialog dengan budaya Helenistik, adalah tidak asing dengan semangat yang mendasari teks Ibrani itu. Pondasi yang kokoh, yang Yesaya janjikan kepada raja itu memang didasarkan pada sebuah pemahaman tentang perbuatan Allah dan kesatuan yang Dia berikan kepada kehidupan manusia dan kepada sejarah umat-Nya itu. Nabi ini menantang raja, dan kita, untuk memahami cara-cara Tuhan, dengan melihat di dalam kesetiaan Allah, rencana yang bijaksana yang mengatur zaman ke zaman. Santo Agustinus mengambil perpaduan dari ide-ide “pengertian” dan “menjadi teguh jaya” ini dalam Pengakuan-Pengakuan-nya (Confessions) ketika ia berbicara tentang kebenaran yang atasnya seseorang dapat bersandar agar dapat berdiri teguh: “Selanjutnya aku akan dibentuk dan ditempatkan dengan kokoh dalam cetakan kebenaran-Mu”.[17] Dari konteks tersebut kita tahu bahwa perhatian Agustinus adalah untuk menunjukkan bahwa kebenaran Allah yang dapat dipercaya ini adalah, sebagaimana Alkitab jelaskan, kehadiran-Nya sendiri yang setia sepanjang sejarah, kemampuan-Nya untuk terus memelihara waktu dan zaman, dan untuk mengumpulkan menjadi satu, untaian yang tersebar dari hidup kita.[18]

24. Membaca dalam terang ini, teks nubuat itu mengarah kepada satu kesimpulan: kita membutuhkan pengetahuan, kita membutuhkan kebenaran, karena tanpa ini kita tidak bisa berdiri teguh, kita tidak bisa bergerak maju. Iman tanpa kebenaran tidak menyelamatkan, hal itu tidak menyediakan sebuah pijakan yang pasti. Ia [iman tanpa kebenaran]tetap menjadi sebuah cerita yang indah, proyeksi dari kerinduan kita yang mendalam untuk kebahagiaan, sesuatu yang mampu memuaskan kita sampai-sampai kita bersedia untuk menipu diri kita sendiri. Entah itu, atau iman direduksi menjadi sebuah perasaan yang tinggi sekali, yang membawa penghiburan dan kegembiraan, namun tetap menjadi kurban karena fantasi dari roh kita dan perubahan musim, yang tidak mampu mempertahankan sebuah perjalanan yang mantap di sepanjang kehidupan. Seandainya yang semacam itu adalah iman, Raja Ahas akan menjadi benar untuk tidak mempertaruhkan hidup dan keamanan kerajaannya pada sebuah perasaan. Tapi justru karena hubungannya yang mendasar dengan kebenaran, sebaliknya iman mampu menawarkan sebuah terang yang baru, yang lebih unggul dari perhitungan- perhitungan raja itu, karena iman melihat lebih lanjut dalam kejauhan dan memperhitungkan tangan Allah, yang tetap setia kepada perjanjian dan janji-janji-Nya.

25. Saat ini lebih dari sebelumnya, kita perlu diingatkan tentang ikatan antara iman dan kebenaran ini, mengingat krisis kebenaran dalam zaman kita. Dalam budaya kontemporer, kita sering cenderung untuk mempertimbangkan satu-satunya kebenaran nyata adalah [kebenaran]dari teknologi itu: kebenaran adalah apa yang berhasil kita bangun dan ukur dengan pengetahuan ilmiah kita, kebenaran adalah apa yang berhasil dan apa yang membuat hidup lebih mudah dan lebih nyaman. Dewasa ini, hal ini muncul sebagai satu-satunya kebenaran yang pasti, satu-satunya kebenaran yang bisa dibagikan, satu-satunya kebenaran yang dapat berfungsi sebagai sebuah dasar untuk diskusi atau untuk karya bersama. Namun di ujung lain dari timbangan tersebut, kita bersedia untuk memperbolehkan kebenaran-kebenaran subjektif dari perorangan, yang terdapat dalam kesetiaan kepada keyakinan-keyakinannya yang terdalam, namun demikian ini adalah kebenaran- kebenaran yang berlaku hanya untuk pribadi orang itu dan tidak dapat untuk diusulkan kepada orang lain dalam upaya untuk melayani kepentingan bersama. Tapi Kebenaran itu sendiri, kebenaran yang secara komprehensif akan menjelaskan kehidupan kita sebagai individu dan dalam masyarakat, dipandang dengan kecurigaan. Tentunya kebenaran semacam ini – kita dengar itu dikatakan – adalah apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan totaliter yang besar di abad terakhir, sebuah kebenaran yang mengenakan pandangan dunianya sendiri agar menghancurkan kehidupan-kehidupan nyata dari orang per orang. Pada akhirnya, apa yang tersisa pada kita adalah relativisme, di mana pertanyaan tentang kebenaran universal itu – dan akhirnya hal ini berarti pertanyaan tentang Allah – tidak lagi relevan. Akan menjadi logis, dari sudut pandang ini, untuk mencoba memutuskan ikatan antara agama dan kebenaran, karena ikatan itu tampaknya terletak pada akar fanatisme, yang membuktikan penindasan bagi siapa pun yang tidak mempunyai keyakinan-keyakinan yang sama. Meskipun demikian, dalam hal ini, kita dapat berbicara tentang sebuah amnesia yang sangat besar dalam dunia kontemporer kita. Persoalan tentang kebenaran adalah benar-benar sebuah persoalan memori/ kenangan, kenangan yang mendalam, karena hal itu berhubungan dengan sesuatu yang lebih awal dari diri kita sendiri dan dapat berhasil dalam mempersatukan kita dengan cara yang melampaui kesadaran individu kita yang kecil dan terbatas. Ini adalah sebuah persoalan tentang asal-usul dari semua yang ada, yang dalam cahayanya kita dapat sekilas melihat tujuan itu dan dengan demikian, makna dari jalan yang kita tempuh bersama.

Lamunan Pesta Wajib



Santo Filipus Neri, Imam
Senin, 26 Mei 2014

Yohanes 15:26-16:4a

15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
15:27 Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."
16:1 "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.
16:2 Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.
16:3 Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.
16:4a Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat dianggap baik dan luhur karena amat tekun menjalani kehidupan beragama. Agama dapat dipandang menjadi tanda apakah orang sungguh memiliki kehidupan yang baik, benar, dan luhur.
  • Tampaknya, orang dianggap beragama sungguh-sungguh kalau taat pada rumusan-rumusan ajaran dan praktek-praktek tatacara keagamaan. Bahkan dengan mengikuti pengelompokan tertentu dalam hidup keagamaan dapat membuat orang mengkelirukan gerakan yang berbeda kelompok bahkan karena kefanatikannya orang dapat melakukan kekerasan terhadap yang berbeda.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa justru orang yang sungguh-sungguh baik dan mengembangkan kebaikan di kiri kanannya akan langsung mengalami tantangan dan penolakan serta pengucilan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan teguh bertindak sesuai dengan dengung kedalaman batin sekalipun mengalami berbagai kekerasan psikologis dan atau fisik.
Ah, kalau jelas terancam orang sebaiknya membatalkan niat baiknya.

Saturday, May 24, 2014

Sabda Hidup


Minggu, 25 Mei 2014
HARI MINGGU PASKAH VI
warna liturgi Putih
Bacaan
Kis. 8:5-8,14-17; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; 1Ptr. 3:15-18;  Yoh. 14:15-21

Yohanes 14:15-21:
15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. 16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. 19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. 20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. 21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."


Renungan:
Dalam hidup ini kita mungkin pernah bertemu dengan orang2 yang (merasa) segalanya cukup dari dirinya sendiri. Yah memang segala yang dia butuhkan bisa dia sediakan sendiri. Makanan, minuman, hobi, rekreasi dll mampu dipenuhi sendiri. Dunia sudah cukup dengan segala hal yang bisa dia lakukan sendiri. Seakan tak butuh pertolongan orang lain.
Manusia bisa merasa seperti itu. Namun Tuhan tahu kondisi manusia. Bagi Tuhan, manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan akan pertolongan yang lain. Dalam situasi tertentu ia pasti membutuhkan sesamanya. Maka Tuhan pun memberikan Roh Penolong yang akan menyertai manusia. Walau si manusia tetap bertahan pada keyakinan akan kemampuannya sendiri namun Roh Penolong akan menolongnya dengan menuntun sesamanya untuk menolongnya. Kesombongan adalah milik orang itu namun pertolongan adalah milik Tuhan. Kehendak Tuhan untuk menolong tidak pernah berubah.

Kontemplasi:
Berbaringlah dengan mata terpejam. Bayangkan dirimu sedang tak berdaya. Tanganmu memegang telepon. Apakah engkau akan meminta tolong temanmu atau diam dalam gengsimu?

Refleksi:
Sejauh mana anda membangun sikap tolong menolong?

Doa:
Yesus, pertolonganMu sungguh selalu aku butuhkan. Semoga aku pun mempunyai jiwa persaudaraan yang rela menolong sesama dan mulai mengurangi kesombongan diri. Amin.

Perutusan:
Aku mengakui kebutuhanku terhadap pertolongan sesama.

KATEKISMUS HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA 2014



oleh Mgr.Petrus Turang

Bahan “katekese” komunikasi sosial ini adalah bahan pendalaman akan makna perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, yang berkembang dalam Gereja Katolik. Dengan hadirnya Hari Komunikasi Sosial, Gereja kita memberikan makna kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sebagai sarana pewartaan nilai-nilai Injil dalam dunia.Gereja memang tidak terlepas dari seluruh perkembangan dan kemajuan dunia, karena Gereja berada demi kebaikan dunia. Pengabdian pastoral dalam dunia komunikasi memusatkan perhatian pada martabat manusia yang diciptakan Allah untuk menggambarkan kepada dunia Diri-Nya sendiri.

Umat beriman Katolik selalu diharapkan melibatkan diri, mengembangkan diri dan mencerdaskan hati nurani, agar manusia beriman tidak terperangkap oleh kegemerlapan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi informasi, tetapi menanggapi kemajuan dunia dalam daya ilahi yang membimbing segalanya menuju kebaikan bersama: manusia seutuhnya dan seluruhnya. Dengan bantuan kemajuan media komunikasi, yang adalah pemberian Allah, Gereja mendorong dunia untuk menggunakannya secara bertanggungjawab menurut tuntutan nilai-nilai kemanusiaan, yaitu komunikasi yang bermartabat manusiawi. Media komunikasi, apapun bentuk dan jalurnya, hendaknya memajukan keadilan dan perdamaian dalam peradaban kasih.

1. Kapan Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2014?
Hari Minggu, 1 Juni 2014

2. Apa tema HKSS 2014?
Komunikasi : “budaya perjumpaan yang sejati”

3. Manakah dasar dari tema tersebut menurut Sri Paus Fransiskus?
Teknologi media komunikasi seperti digital adalah anugerah Tuhan bagi manusia, tetapi merupakan tantangan yang menebarkan rasa tanggungjawab manusia juga. Dalam dunia yang berkembang mengecil, kenyataan kesenjangan dan perpecahan masih menghantui dunia kita, sehingga tetap berkecamuk keterasingan, keterpinggiran dan kemiskinan. Dunia perlu mengupayakan budaya komunikasi yang menyokong terlaksananya perjumpaan sejati antar manusia.

4. Manakah butir-butir utama dalam Pesan Sri Paus Fransiskus?
Komunikasi digital sudah menjadi ruang perjumpaan dalam dunia teknologi baru; suatu budaya baru yang meminta sikap baru, khususnya dalam menumbuhkan perjumpaan bersama; Gereja harus menerima kehadirannya dengan rasa syukur dan memanfaatkannya demi kebaikan bersama; komunikasi digital membuka kepekaan lebih bagi sesama, utamanya yang berkekurangan; komunikasi digital mudah-mudahan semakin membantu manusia menjadi saudara-saudari yang baik; manusia beriman harus keluar dari diri sendiri kearah sesama dalam kebenaran.

5. Mengapa “perjumpaan” penting bagi manusia?
Manusia adalah makhluk sosial. Manusia hidup dalam ranah hubungan satu sama lain. Manusia menjadi manusia sejati dalam perjumpaan. Perjumpaan adalah ruang kodrati untuk menjadi saudara-saudari satu sama lain. Perjumpaan dapat menyelesaikan banyak hal antar manusia. Perjumpaan digital membuka wawasan meluas dan membangun cara pandang baru. Perjumpaan menghadirkan sikap berbagi kegembiraan dan kesedihan. Perjumpaan membuat kita berani menjadi seperti orang lain. Perjumpaan membangun dialog dalam memberi dan menerima. Perjumpaan menumbuhkan peradaban kasih bersama. Perjumpaan menjadi ruang berbagi kebaikan dengan sesama. Perjumpaan dapat membuka kemungkinan untuk menyelesaikan perselisihan. Perjumpaan membangun perdamaian, jika perjumpaan menghadirkan sikap saling mendengarkan, saling belajar dan saling menghargai dan menghormati. Perjumpaan, pun dalam ruang digital, menghadirkan martabat setiap orang.

6. Apakah kemajuan media komunikasi berfaedah bagi persekutuan gerejawi?
Kemajuan media komunikasi amat berfaedah bagi persekutuan orang beriman. Persekutuan gerejawi menyambut dan memanfaatkannya dengan rasa syukur dan bertanggungjawab. Media komunikasi digital membuka peluang bagi pewartaan Injil. Olehnya, persekutuan gerejawi harus menggunakannya dengan arif bijaksana untuk membawa ketenteraman dan kegembiraan hidup.

7. Bagaimana perjumpaan itu digambarkan dalam pesan Sri Paus Fransiskus?
Sri Paus Fransiskus menggambarkan perjumpaan sebagai kenyataan manusiawi: kepekaan akan sesama. Perjumpaan itu adalah penerimaan manusiawi seutuhnya. Perjumpaan adalah ruang di mana kita saling menerima seadanya. Perjumpaan itu membangkitkan pengharapan baru dan kegairahan dalam hidup bersama. Di tengah banyaknya perpecahan, perjumpaan mendekatkan satu sama lain dengan bantuan media komunikasi sosial yang berkembang. Perjumpaan melalui internet misalnya memperluas ruang solidaritas antar manusia. Budaya perjumpaan menghadirkan sikap menerima dan memberi sekaligus. Perjumpaan mengungkapkan ketersediaan untuk sadar bagi orang lain. Perjumpaan sejati adalah kesaksian kristiani, khususnya dalam dunia digital. Dalam perjumpaan digital, kita harus awas dan bijaksana, agar kita tidak terperangkap dalam lingkungan yang bertentangan dengan perjumpaan sendiri. Perjumpaan adalah persoalan manusiawi dan bukan persoalan teknologis semata.

8. Manakah keunggulan teknologi informasi modern?
Keunggulannya adalah menjadikan kita lebih dekat, masuk ke dalam dunia yang mengecil. Persoalannya, dalam ruang yang mengecil tidak dengan sendirinya kita bersatu. Kemungkinan ada, bahwa komunikasi meluas dan mendekat , membuat kita memperalat sesama. Kita dapat melakukan kekerasan dengan media komunikasi yang nampaknya membuat kita dekat satu sama lain. Dekat secara fisik atau virtual belum dengan sendirinya dekat di hati. Renungkanlah Orang Samaria yang baik!

9. Manakah tantangan teknologi komunikasi modern?
Tantangan yang paling berat dalam komunikasi modern adalah konsumerisme dan individualisme. Manusia puas diri dan tidak peduli akan lingkungan manusiawinya. Bahkan sesama dapat diperdagangkan lewat media komunikasi modern. Manusia harus beretika dalam media komunikasi digital. Berjalan di jalan tanpa hambatan digital harus mencapai perjumpaan yang benar.

10. Bagaimana kehadiran kaum miskin dalam media komunikasi?
Media komunikasi modern diperuntukkan bagi semua orang. Orang yang berkekurangan pun harus mendapat kemungkinan untuk mengaksesnya. Media komunikasi harus berusaha agar orang miskin tidak terpinggirkan atau tertinggal. Kita perlu membangun kepekaan yang memadai bagi semua orang.

11. Kisah manakah dalam Injil yang diangkat Paus dalam memperjelas perjumpaan?
Sri Paus Fransiskus mengangkat kisah Orang Samaria yang baik: kepekaan serta peduli sesama yang benar. Dalam perjumpaan, komunikasi harus sampai pada tanggungjawab bagi orang lain. Kita tidak membiarkan orang pinggiran, tetap terpinggirkan. Kita perlu mengembangkan cara pandang baru seperti Kristus dan tidak terikat dengan tradisi dan kebiasaan yang tidak peka sesama. Berani membangkitkan sikap baru dan mata baru dalam perjumpaan dengan sesama. Dalam perjumpaan, sesama bukanlah orang asing, khususnya dalam media komunikasi digital. Perjumpaan yang benar, pun dalam media komunikasi digital, bukanlah bentuk gossip.

12. Apakah sasaran dari Pesan Sri Paus Fransiskus?
Sasarannya adalah bahwa media komunikasi sejatinya membangun budaya bagi perjumpaan yang sejati. Sesama komunikasi kita adalah sesama saudara-saudari yang memiliki kekayaan untuk berbagi. Komunikasi sosial adalah sarana untuk membangun kesesamaan dalam perjumpaan. Media komunikasi digital mudah-mudahan mendorong budaya perjumpaan yang bersesama.

13. Bagaimana wawasaan Yesus tentang “sesama”?
Dalam perumpaan tentang Orang Samaria yang baik, Yesus menghadirkan cara pandangan baru, yaitu bahwa kita tidak saja melihat orang lain seperti diri kita sendiri, tetapi kemampuan untuk membuat diri kita seperti orang lain. Kita adalah sesama kita. Kita tidak terikat pada keakuan kita, tetapi keakuan kita menjadi orang lain dalam diri kita. Seperti penjelmaan Yesus sendiri: kemanusiaan menjadi jati diri Yesus, sehingga Dia mengalami seluruh kemanusiaan. Keilahian melebur dalam kemanusiaan. Inilah budaya peduli sejati dalam perjumpaan ilahi-manusiawi. Yesus menjati-dirikan dalam diri sesama, terutama sesama yang lemah, kecil dan miskin.

14. Bagaimana kita dapat menjadi pemeran dalam budaya perjumpaan sejati di tengah persekutuan gerejawi kita dan dalam masyarakat luas?
Pertama-tama, kita belajar dari cara Yesus berkomunikasi, belajar terus menerus sebagai murid-murid-Nya: “Lakukanlah seperti apa yang Aku telah lakukan”. Dengan hadirnya media komunikasi yang berkembang, kita pada dasarnya mendapat bantuan untuk masuk ke dalam budaya luas dari perjumpaan. Kita menggunakan alat-alat komunikasi modern dengan benar dan bertanggungjawab secara meluas demi kebaikan bersama. Kita dapat dengan mudah berbagi kegembiraan, kesedihan serta pengharapan dengan sesama kita. Kita melibatkan diri, mengembangkan diri serta mecerdaskan diri dengan pengantaraan media komunikasi digital, yaitu berlaku bermartabat manusiawi dan berwibawa sebagai anak-anak Allah.

15. Manakah ajakan istimewa oleh Sri Paus Fransiskus?
Ajakan istimewa adalah “Marilah kita berani menjadi warga dunia digital”! Bukan sebagai tameng, hiasan atau penampilan dengan kepentingan tersembunyi, tetapi tanda tekad kita akan cintakasih dan belas kasih bagi sesama kita. Inilah kekuatan berbantuan kita untuk mewujudkan budaya perjumpaan yang sejati.

16. Siapakah yang mendapat mandat untuk mengembangkan pastoral komunikasi sosial?
Pada tingkat Gereja universal, Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial; pada tingkat Konferensi para Uskup, Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia dan pada tingkat Keuskupan, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan. Sedangkan pada Federasi Konferensi-konferensi Uskup Asia, FABC-OSC: Kantor Komunikasi Sosial yang berkedudukan di Manila, Filipina. Di tingkat paroki, hendaknya juga terjalin perhatian akan media komunikasi, khususnya komunikasi digital.

17. Manakah media komunikasi sosial itu?
Media cetak seperti buku, Surat Kabar, dan Majalah, Media visual seperti Infocus, lukisan, foto, Media audio Radio dan telepon kabel, Media audio-visual seperti Bioskop, Televisi, komputer dengan internet, telepon genggam dan iPhone, iPad serta media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, dengan mesinnya seperti Yahoo, Google etc.

18. Bagaimana dampak media sosial, khususnya digital, dalam kaum muda?
Orang muda memang paling terkesima dengan kemajuan media sosial. Semangat muda mendorong mereka untuk memperluas dan membangun pertemanan melalui media sosial. Dampak ini amat berfaedah dalam membangun wawasan hidup, karena mereka boleh menjalin hubungan sosial dengan siapa saja. Perjumpaan hidupnya meluas dalam berbagi pengalaman serta harapan dalam hidup ini. Syaratnya, tanggungjawab martabat manusiawi. Bahayanya, dengan mengadakan relasi sosial meluas, mereka tidak dengan sendirinya mencerdaskan kepribadiannya, bahkan dengan jejaring sosial mereka dapat terasing dan kesepian. Mereka tidak lagi belajar berpikir dan berpendapat sendiri, karena pengaruh media sosial. Dalam dunia yang semakin konsumeristik dan individualistik, media sosial seperti internet dengan aneka kemudahannya, kaum muda dapat terperangkap pada pelbagai kebutuhan yang pada dasarnya bukan kebutuhan nyata. Bahkan, media sosial dapat menjadikan pribadinya kerdil, karena lingkungan dekat sekitarnya tidak lagi dilihat sebagai makna pertumbuhan dirinya.

19. Bagaimana kita menggunakan media sosial dengan benar?
Media sosial adalah anugerah dalam hidup kita. Kita patut menggunakannya dengan penuh tanggungjawab manusiawi, agar kita semakin bermartabat dengan kehadiran media sosial. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi diperuntukkan bagi pengembangan dan pencerdasan hubungan manusiawi dalam keadilan dan perdamaian. Oleh karena itu, kita perlu menaruh perhatian pada “apa, siapa, kapan, bagaimana” dalam menggunakan media sosial, agar budaya kerukunan semakin tumbuh dalam perjumpaan digital.

Perayaan Nasional “Hari Komunikasi Sosial Sedunia” , 2014

Perayaan nasional Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2014 akan diselenggarakan di Keuskupan Weetebula dalam hubungan dengan “Yubileum 125 Tahun Masuknya Gereja Katolik” di pulau Sumba. Kehadiran perayaan ini adalah suatu pernyataan syukur atas karunia iman Kristiani dalam persekutuan gerejawi Keuskupan Weetebula. Inilah penegasan komunikasi iman dalam upaya evangelisasi “sampai ke ujung bumi”, sebagaimana diperintahkan oleh Yesus Kristus. Program Komunikasi Sosial 2014 akan menyambangi persekutuan gerejawi setempat, di mana kehadiran media sosial telah menjadi bagian utuh dari perjalanan hidupnya. Dengan memberikan kepedulian pada perayaan Yubileum 125 Tahun, Komisi Komunikasi Sosial KWI bermaksud untuk memperluas makna pendidikan serta pelatihan media sosial, khususnya bagi generasi muda, agar budaya baru ini mampu membangkitkan serta menggerakkan kerukunan hidup berdasarkan prinsip-prinsip Injil Yesus Kristus. Penggunaan media sosial dalam evangelisasi mudah-mudahan menyapa hati persekutuan gerejawi menuju perjumpaan yang menghormati dan menghargai martabat sesama. Tujuannya adalah menghadirkan “suatu budaya bersesama”, di mana berkembang perjumpaan saudara-saudari Yesus Kristus, yang menjadi unggul karena lingkungan hidup sosial, ekonomi, politik dan budaya berbajusirakan belaskasih yang berkelanjutan secara manusiawi. Budaya perjumpaan sejati adalah bentuk komunikasi yang lahir dari peradaban kasih sebagai penegasan dari komunikasi iman dalam persekutuan gerejawi dan masyarakat luas. Budaya perjumpaan sejati bukan berarti bahwa tiada perselisihan atau pun kesenjangan dalam perjalanan hidup bersama, tetapi komunikasi iman selalu mampu menemukan jalan keluar bersama demi kebaikan bersama, yaitu sikap rela mengampuni. Perjumpaan sejati dengan media sosial harus menjadi tanda kasih karunia Tuhan, di mana kita semua sadar akan martabat kita sebagai anak-anak Allah dengan segala kerapuhan manusiawi. Oleh karena itu, kehadiran penyelenggaran Hari Komunikasi Sosial harus dipandang sebagai sarana budaya perjumpaan dalam konteks pendidikan iman, di mana persekutuan gerejawi belajar kembali sebagai murid-murid Kristus yang dikenal karena perbuatan kasih (cf. Yoh 13:35). Mudah-mudahan peringatan Hari Komunikasi Sedunia di masing-masing Keuskupan, khususnya perayaan Yubileum 125 Tahun Evangelisasi Pulau Sumba di keuskupan Weetebula, menjadi kesempatan berahmat dalam membangkitkan, menumbuhkan, menggerakkan, memberdayakan serta mencerdaskan pola berpikir bersesama dan pola laku bersesama dalam ikut menghadirkan kesejahteraan bersama dalam masyarakat setempat. Panggilan serta perutusan ini adalah penegasan Roh dalam setiap persekutuan gerejawi yang semakin dewasa dalam membangun hubungan-hubungan manusiawi yang bermartabat. Kecenderungan untuk menghambat perjumpaan yang merukunkan merupakan suatu perilaku yang tidak sesuai dengan kegembiraan Injil yang dianugerahkan Allah dalam Permandian. Kehadiran perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia adalah ungkapan kegembiraan guna menghargai serta bersyukur atas anugerah media sosial yang mendekatkan ruang kebersamaan hidup, di mana perjumpaan manusiawi mampu mengalami perubahan, yaitu dorongan baru membangun persaudaraan sebagai budaya perjumpaan sejati. Inilah mudah-mudahan wujud evangelisasi baru yang terlaksana secara interkultural dan interaksional dan dihayati berkelanjutan secara manusiawi sebagai salah satu dampak kemajuan teknologi informasi digital. Jejaring sosial melalui interaksi digital adalah anugerah Tuhan bagi manusia. Sarana komunikasi baru ini juga merupakan kabar gembira dalam persekutuan gerejawi dan oleh karena itu, hendaknya dimanfaatkan dengan penuh tanggungjawab dan rasa terima kasih dalam membangun peradaban kasih. Persekutuan gerejawi, yang terutus untuk memberitakan Kabar Gembira dalam dunia, mempunyai kewajiban untuk berbagi nilai-nilai Injil demi mendorong mekarnya sikap bersesama, khususnya melalui antar-hubungan digital. Dengan memperdalam pengetahuan dan ketrampilan dalam penggunaan media komunikasi digital, persekutuan gerejawi kiranya mengalami kedekatan yang penuh dengan sikap saling menghormati dan menghargai. Memang terdapat tantangan besar, karena komunikasi digital tidak dengan sendirinya mempererat hubungan-hubungan manusiawi. Dengan hati nurani yang cerdas Kristiani, persekutuan gerejawi mampu menghadirkan kesegaran serta kesejukan dalam menggunakan media sosial digital, sehingga antar-hubungan yang semakin mendekatkan satu sama lain dapat berlangsung berkelanjutan secara manusiawi, agar keutuhan lingkungan hidup semakin memperlihatkan keindahan mutu hidup dalam budaya perjumpaan yang sejati manusiawi.

Kupang, 15 Pebruari 2014
Uskup P. Turang
Ketua Komisi Komunikasi Sosial KWI