Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, October 25, 2014

Lamunan Pekan Biasa XXX

Minggu, 26 Oktober 2014

Matius 22:34-40

22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
22:36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, gambaran tentang hukum pada umumnya adalah sebagai tata aturan yang jelas dan pasti. Hukum yang baik tidak akan menghadirkan rumusan yang menimbulkan multitafsir.
  • Tampaknya, gambaran tentang hukum pada umumnya adalah sebagai tata aturan yang rumusannya sesuai dengan tata hidup dan budaya masyarakatnya. Perkembangan situasi hidup dan budaya akan membuat rumusan hukum berubah pula bahkan dapat digantikan oleh rumusan yang isinya berganti.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa hukum sejati bukanlah rumusan perintah dan larangan adat dan atau tertulis karena berasal dari dengung universal dan abadi dari kedalaman hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memandang dan menjalani segala tatanan hidup dengan irama dengung universal dan abadi dari kedalaman batinnya.
Ah, yang namanya hukum memang harus jelas dan pasti.

INJIL MINGGU BIASA XXX/A, 26 OKTOBER 2014 (MAT 22:34-40)

               BY A GIANTO ON OCTOBER 20, 2014 JENDELA ALKITAB, MINGGUAN dalam renungan-kitabsuci.blogspot.com
                                                                                                                                                         ilustrasi dari koleksi Blog Domus

Rekan-rekan yang baik!

Minggu Biasa XXX tahun A ini dirayakan dengan bacaan Injil dari Mat 22:34-40. Di situ Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak menjajaki pengetahuan keagamaannya. Ditanyakan kepadanya, manakah perintah yang paling utama dalam Taurat. Jawabnya, perintah yang terutama dan yang pertama ialah  (Ul 6:5) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." Dan perintah yang kedua ialah (Im 19:18) "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Ditambahkannya, pada kedua perintah itu bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Kitab para nabi menurut orang Yahudi meliputi kitab-kitab sejarah dari Hakim sampai Raja-raja dan nabi-nabi Yesaya, Yereremia, Yeheskiel dan ke-12 nabi lain; Kita Daniel tidak termasuk di sini).

BERTEOLOGI TENTANG TAURAT

Pertanyaan kepada Yesus berbunyi "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" membuat orang berpikir, dari sekian banyak perintah, manakah yang paling pokok. Namun, dalam rumusan aslinya, pertanyaan tadi sebenarnya berbunyi: "Guru, perintah macam apa bisa disebut besar di dalam Taurat?" Jadi yang dipertanyakan bukanlah yang mana, melainkan macamnya, jenisnya, kategorinya… Pertanyaan ini mengarah pada ciri-ciri yang membuat perintah tertentu dapat dikatakan perintah besar. Memang diandaikan perintah-perintah dalam Taurat tidak sama bobotnya. Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang Taurat dan bukan hanya asal kutip sana sini.

Memang dalam kesadaran orang Yahudi yang terpelajar, ada macam-macam bobot. Dan tidak bisa dipukul rata. Yesus sendiri di lain kesempatan juga menunjukkan kepekaan ini. Misalnya hukum Sabat (Mat 12:1-14). Di situ kewajiban menguduskan Sabat dibawahkan kepada kewajiban berkurban dan melaksanakan belas kasihan. Mana prinsip memahami perintah yang satu lebih pokok dari yang lain? Soal ini dijawab Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutkannya sebagai tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para nabi.

Perintah mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh-penuhnya  yang dikutipnya dari Ul 6:5 itu termasuk ayat-ayat suci yang wajib didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh.  Perintah Im 19:8 mengenai mengasihi sesama itu disertakannya sebagai perintah utama yang kedua.

ISI PERINTAH UTAMA DAN MAKNANYA

Semalam saya mengajak tiga sekawan Matt, Luc, dan Mark ngobrol ke sana ke mari tentang perbincangan Yesus dengan pemuka-pemuka Yahudi seperti disampaikan Matt. Berikut ini beberapa potong pembicaraan kami di sela-sela hangatnya wedang ronde malam itu.

GUS: Kalian ini menyampaikan peristiwa yang sama tapi menaruh dalam konteks yang berbeda-beda. Bikin bingung pembaca. Matt, lu bilang kayak di atas tadi. Tapi, ekseget tahu kau memakai bahan dari Mark kan?

MATT [mulai tak tenang, rada segan dengan kaum penafsir]: Versi Ul 6:5 yang dikutip Mark itu memuat empat unsur "segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatanmu". Sebenarnya "segenap akalbudi" yang dipakai Mark itu kan untuk menjelaskan arti "segenap hati". Bagi orang Yahudi seperti kami, hati itu tempat bernalar, bukan tempat perasaan. "Segenap kekuatan" yang ada dalam teks Perjanjian Lama tidak dikutip kembali oleh Mark dan juga tak kutampilkan kembali karena sudah jelas bagi kami. [MARK manggut-manggut] Tapi Luc, ah dia tulis sesuai teks Perjanjian Lama "dengan segenap hati, jiwa, kekuatan", tetapi ia juga masukkan tambahan Mark yang menyebut "dan segenap dan akal budi."

LUC: Kalau pakai sumber Perjanjian Lama mestinya cermat, gitu kan?

MATT: Kau tentang Perjanjian Lama tahumu apa sih! Dalam versimu [Luk 10:25-28] kedua perintah itu kautaruh dalam mulut ahli Taurat yang menanyai Yesus, bukan dalam kata-kata Yesus seperti kami laporkan. Lu aje yang cermatan dikit dulu dong!

MARK [buru-buru menyela sebelum Luc sempat menukas Matt]: Sudah, sudah, yang itu asalnya juga dari tulisanku. Memang Yesus mengutip kedua perintah tadi [Mrk 12:29-31]. Tapi seperti kuceritakan, ahli Taurat tadi kemudian mengulang yang dikatakan Yesus [Mrk 12:32-33]. Ini yang diolah Luc, ya kan? Jadi kalian berdua benar. Jangan berantem kayak anak kecil, malu ah.

LUC: Peristiwa tanya jawab itu kupakai untuk mengantar kisah orang Samaria yang baik hati yang menjelaskan bagaimana orang Samaria yang biasanya dianggap tak masuk hitungan sekalipun toh bisa betul-betul menjadi sesama bagi orang Yahudi yang kena musibah di perjalanan.

MATT: Bagiku, tanya jawab itu menunjukkan bahwa Yesus tak kalah piawai dengan ahli Taurat dalam menafsirkan Perjanjian Lama.

GUS [mulai tertarik]: Gimana?

MATT: Begini, seperti ditulis Mark, ada tambahan dari Yesus bahwa tak ada perintah yang lebih utama dari keduanya tadi. Nah tambahan ini kupertajam dengan mengungkapkannya kembali demikian: "Pada kedua perintah inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

GUS: Jadi, Matt, kau bermaksud menonjolkan pandangan Yesus bahwa kedua perintah memang menjadi dasar dan menjiwai semua hukum Taurat dan kitab para nabi.

MATT [tersenyum puas, dapat angin]: Benar. Bukan maksud Yesus mengabaikan hukum-hukum lain. Justru ia mau menunjukkan makna kumpulan hukum itu. Ini kurang ditekankan Mark, apalagi Luc.

LUC: Tapi Matt , you kan tidak memberi contoh bagaimana mengasihi Tuhan sepenuh-penuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Orang sekarang lebih mudah menangkap bila diberi cerita. Pendekatan naratif. Itulah sebabnya kutampilkan perumpamaan orang Samaria itu.

MATT: Oke, deh. Cerita orang Samaria yang engkau tampilkan itu menjelaskan perintah kedua. Tapi perintah pertama?

LUC: Belum ngerti? Seluruh kisah Yesus menuju tujuan perjalanannya di Yerusalem (Luk 9:51-19:28) itu penjelasan naratif tentang mengasihi Tuhan dengan sepenuh-penuhnya. Kan nanti pada akhirnya di kayu salib Yesus menyerahkan nyawanya kepada Bapanya yang dikasihinya sepenuh-penuhnya – itu caraku menjelaskan.

MARK: Sudahlah, kita tak perlu menjelaskan sendiri tulisan kita, serahkan saja kepada ekseget.

GUS: Terima kasih, kukira kalian sendiri mau jadi penafsir. Gini, mengenai "kasihilah sesama seperti dirimu sendiri" ada sesuatu yang masih perlu diulas. Kan kalian maksudkan, kasihilah sesama yang punya pengalaman sama seperti dirimu sendiri, begitu kan. Jadi diingatkan bahwa kita ini pada dasarnya mengalami pahit getirnya kehidupan seperti orang lain. Maka ingat nanti kalau sudah lebih beruntung, gitu kan, jangan lupa orang yang sedang ada dalam kesusahan, ya kan? Jadi tafsirnya bukan mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri kita sendiri.

MATT [melirik ke Mark yang tampak setuju]: Benar! Itu juga yang kumaksud dalam Mat 19:19 dan 22:39. Paul juga gitu, lihat Rom 13:9, Gal 5:14, juga Opa Jim dalam Yak 2:8.

LUC: Persis. Kalau mau bilang mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, mestinya diulang kata "mengasihi" itu. Aku ingat kalimat seperti itu dalam tulisan Oom Hans (Yoh 15:12), "Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti aku (=Yesus) mengasihi kamu."

GUS [lega mereka bertiga setuju]: Kalau bisa kurumuskan kembali, mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap "hati" /"akalbudi") yang keluar dari keyakinan  (= segenap "jiwa") dan tekad utuh (= segenap "kekuatan"). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tapi dengan pengertian. Lalu mengasihi sesama itu kan karena sesama itu seperti kita-kita ini juga dalam suka duka kehidupan ini. Kalian tak keberatan dengan parafrase ini kan?

SIKAP HIDUP BERAGAMA

Pembicaraan malam itu kemudian semakin berpusat pada kemampuan Yesus memperlihatkan apa itu inti ajaran Taurat dan para nabi, dari hukum-hukum dan kisah-kisah yang mengajarkan hidup sebagai orang percaya. Saya lontarkan pertanyaan kepada ketiga rekan ini bagaimana penjelasannya kok Yesus bisa melihat sedalam itu dan menyampaikan pemahamannya kepada orang banyak. Jawab mereka satu dan sama: Yesus memenuhi kedua perintah utama tadi. Boleh dikatakan, seluruh hidupnya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan dan tekad yang matang. Dan semuanya ini terungkap dalam kesediaannya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia percaya orang lain itu juga seperti dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh karenanya dapat mengasihiNya. Inilah dasar dan inti hidup beragama.

Pembicaraan dengan ketiga rekan tadi semakin memperjelas betapa inti hidup beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan agama belaka yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.

Friday, October 24, 2014

Sabda Hidup

Sabtu, 25 Oktober 2014
Yohanes Ston
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9. BcO Sir. 51:1-12

Lukas 13:1-9:
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." 6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Renungan:
Di domus pacis aku menanam 3 pohon kelengkeng jenis tertentu. Di tempat lain aku menanam jenis lain. Di tempat lain itu sudah berbuah, namun yang ditanam di Domus belum berbuah. Aku coba tanya-tanya kepada yang berpengalaman, termasuk toko pertanian. Ada aneka macam jawaban, namun umumnya mengatakan bahwa untuk jenis tersebut memang harus ada perlakuan khusus. Salah satunya adalah dengan pupuk khusus yang harganya lumayan. Sampai akhirnya ada seorang pelaku pertanian buah-buahan memberikan tips sederhana dan murah. Tips tersebut kutularkan ke pak Heru, karyawan, yang mengurusi. Tidak lama sesudahnya kelengkeng tsb berbunga dan berbuah.
Pengurus kebun meminta pada pemilik kebun agar diberi waktu satu tahun untuk mengolah kembali pohon ara sampai berbuah (bdk. Luk 13:8-9). Melihat cinta dan kesungguhan pengurus kebun maka sang pemilik kebun pun memberi waktu.
Ada aneka kemungkinan agar hidup ini berbuah. Ketika kita mempunyai waktu dan kemauan mencari yang perlu maka kita akan mendapatkan. Dan ketika yang perlu itu dijalankan maka buah-buah itu akan bermunculan.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu sebagai pohon ara atau klengkeng yang tak kunjung berbuah. Rasakan kegelisahan tukang kebun dan tindakan yang akan dilakukan kepadamu.

Refleksi:
Tulislah hal-hal yang perlu kaulakukan agar hidupmu berbunga dan berbuah.

Doa:

Tuhan kalau Engkau berkenan berilah aku waktu menggarap kebunku agar tanaman kehidupanku berbunga dan berbuah. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengolah hidupku agar berbunga dan berbuah.

Thursday, October 23, 2014

SOAL PENGANTARA


Jagongan Iman tahap kedua untuk kelompok Bantul terjadi pada Senin 20 Oktober 2014 jam 15.00-17.00 di rumah Ibu Sunarjo. Ada 24 orang peserta yang terdiri dari 17 ibu dan 7 bapak. Ketika datang para peserta mengambil minum dan snak dan sebelum pulang bersantap sore bersama. Pertemuan tahap kedua membahas pokok Syahadad Iman yang berbunyi "dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal" (saha ing Kanjeng Gusti Yesus Kristus, Putra Dalem ontang-anting). Terhadap pokok ini para peserta diminta mengajukan pertanyaan yang menjadi soal sulit. Sesudah berbicara dengan teman-teman dekat duduknya muncul beberapa soal yang secara umum berkisar pada dua macam permasalahan:
  • Kalau kita juga disebut putra-putri Allah, mengapa Tuhan Yesus disebut Putra Tunggal?
  • Bagaimana bisa Allah memiliki anak?
Terhadap masalah itu muncul beberapa pendapat:
  • Allah tidak sama dengan manusia. Kalau Yesus disebut Anak Allah, hal ini tentu bukan putra biologis.
  • Ini soal kesatuan ilahi. Bapa dan Putra adalah satu sebagaimana  Yesus berkata "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh 10:30) dan "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku" (Yoh 14:10). 
  • Itu adalah misteri ilahi yang tidak terjangkau oleh akal budi manusia.
  • Itu adalah karya Roh yang paling tinggi yang tidak ada bandingnya.
  • Kalau kita diangkat jadi anak-anak Allah, itu terjadi sesudah Yesus menjadi manusia.
  • Yang membuat orang-orang menjadi anak-anak Allah adalah kepercayaan kepada Yesus (lih Yoh 1:12).
Dari pembicaraan itu Rama Bambang kemudian memberikan masukan bahwa dalam pewartaan iman Katolik yang jadi pusat adalah Tuhan Yesus (lihat Katekismus Gereja Katolik no. 426). Yesus adalah Sabda Allah yang jadi manusia (Yoh 1:1.14). Dia lahir atau datang dari Allah. Kalau orang Kristiani ikut Allah Tritunggal Mahakudus, yang menjadi pengantara adalah Kristus: Pengantara hadirnya Allah di tengah-tengah kehidupan manusia dan Pengantara sambungnya manusia dengan Allah. Yesus Kristuslah satu-satunya pengantara sebagaimana dikatakan oleh Santo Paulus "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 Tim 2:5). Yesus sebagai Putra Tunggal adalah santu-satunya pengantara hubungan Allah dengan manusia. Sebagai pengikut dan saudara Yesus kita ikut menjadi putra Allah "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara" (Rom 8:29).

Ternyata istilah "satu-satunya pengantara" menjadi pembicaraan seru. Beberapa peserta menanyakan kaitannya dengan para suci termasuk terutama Santa Maria. Tidak sedikit dari para peserta yang terbiasa dengan doa dengan pengantaraan santo atau santa bahkan terutama Santa Maria. Namun demikian ketika secara pelahan-lahan para peserta diajak untuk memperhatikan kata-kata yang muncul dalam doa terhadap santo santa, mereka menyadari bahwa mereka terutama mohon didoakan. Hal ini amat jelas dalam doa-doa litani dengan refren "doakanlah kami". Rama Bambang kemudian menambahkan peran khusus Bunda Maria sebagai patron iman Gereja sehingga ada ungkapan Per Mariam ad Jesum (lewat Maria sampai pada Yesus). Kita dapat memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita dan lewat Bunda Maria kita dapat dekat dengan Yesus Sang Pengantara antara kita dengan Allah. Di sini ada catatan bahwa pemahaman ini tidak boleh membuat kita menyalahkan secara semena-mena pada umat yang menggunakan teks-teks devosional yang mengandung rumusan-rumusan tidak tepat sesuai ajaran Gereja. Namun kita, apabila memimpin doa dan berhadapan dengan teks tidak tepat, harus berusaha mengucapkan secara tepat dengan mengubahnya tanpa mengganggu suasana.

Lamunan Pekan Biasa XXIX

Jumat, 24 Oktober 2014

Lukas 12:54-59

12:54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi.
12:55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.
12:56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
12:57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?
12:58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.
12:59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di era globalisasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) maju dan berkembang pesat. Dengan perkembangan IPTEK orang dituntut untuk memiliki pandangan ke depan.
  • Tampaknya, di era global IPTEK selalu melandaskan diri pada data dan pengalaman kongkret. Dengan ini orang dapat membidik bahkan merencanakan hal-hal yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa segala pengetahuan dan tekhnologi hanya akan membuat orang tak memiliki integritas diri dan menciptakan berbagai perpecahan kalau tidak mencari perkembangan nilai-nilai kemanusiaan di balik segalanya yang selalu baru dan diperbarui. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tidak akan kehilangan kontak dengan kedalaman hatinya di tengah perkembangan situasi hidup dan budaya.
Ah, jaman sekarang yang pokok peka menemukan keuntungan finansial di tengah perkembangan dan perubahan hidup.

Wednesday, October 22, 2014

KUNJUNGAN


Sejak September 2013 ada keluarga-keluarga yang membantu Komunitas Rama Domus Pacis menyediakan masakan lauk dan sayur. Dengan dikoordinasi oleh 8 orang ibu (Bu Ninik, Bu Rini, Bu Tatik, Bu Wulan, Bu Ratmi, Bu Riwi, Bu Vera, dan Bu Mumun) mereka menyelenggarakan masakan dengan menerima uang sesuai budget yang diberikan oleh Minister. Para rama sadar bahwa setiap penyelenggara masakan pasti nombok untuk beaya menu yang disajikan. Hingga Agustus 2014 para koordinator dan rama Domus Pacis meninjau penyelanggaraan penyediaan masakan. Dalam peninjauan ini terutama terjadi penggantian beberapa keluarga karena ada beberapa yang mengundurkan diri. Tetapi sesudah tiga kali jadual tiga bulanan, koordinator sudah menemukan kiat untuk menangani beberapa kemungkinan ada keluarga yang berhalangan entah karena kesibukan entah karena sebab lain.

Sejak September 2014 penjadualan terjadi untuk 6 bulan. Perjalanan penyediaan masakan tetap berjalan dengan lancar. Tetapi ada 2 orang ibu yang mengalami sakit, yaitu Ibu Prapti yang harus lama tidak dapat pergi karena kecelakaan hingga patah tulang dan Ibu Sisworo yang harus operasi mata. Rama Bambang, yang bertindak sebagai koordinator umum, pada Minggu 19 Oktober 2014 mulai dengan jam 15.00 mengadakan kunjungan. Bu Rini dari Paroki Medari dan Bu Riwi dari Paroki Minomartani menyertai kunjungan itu. Sebenarnya kunjungan itu dilakukan tanpa memberi informasi pada yang dikunjungi. Tetapi ternyata Bu Riwi memberi tahu kepada Bu Sisworo. Maka tidak mengherankan ketika sampai di kamar tamu Bu Sisworo sudah tersedia snak di meja. Bahkan masakan lain pun menyusul. Bu Sugino, salah satu keluarga rela masak yang tinggal dekat Bu Sisworo ikut datang. Menantu dan cucu Bu Riwi juga menyusul.

Karena masih ada waktu luang sebelum saat makan di Domus, rombongan kecil Rama Bambang masih mampir di rumah keluarga Kundarto. Keluarga ini akan absen untuk bulan November dan Desember dalam penyediaan masakan karena ada keperluan khusus. Tetapi Bu Riwi selalu siap menjadi pengganti bila ada keluarga yang dikoordinasi berhalangan dalam penyediaan masakan. Pada saat makan malam di Domus, Rama Bambang sudah dapat ikut santap bersama dengan oleh-oleh puding coklat pemberian Bu Sisworo.

Sabda Hidup

Kamis, 23 Oktober 2014
Yohanes dr Kapestrano, Gulielmus
warna liturgi Hijau
Bacaan:
Ef. 3:14-21; Mzm. 33:1-2,4-5,11-12,18-19; Luk. 12:49-53. BcO Sir. 38:24 - 39:11

Lukas 12:49-53:
49 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! 50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. 52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. 53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Renungan: 
Kehadiran pribadi istimewa bukan hanya membuat orang terpesona, tapi bisa juga membuat orang saling berselisih. Mereka yang kagum akan menjadi pengikut yang militan. Sebaliknya mereka yang merasa terganggu dengan kehadirannya akan berusaha sedemikian rupa menghindari atau bahkan menyingkirkannya.
Saya teringat kala pemilu presiden digulirkan, juga kala sudah ada yang terpilih. Kekalutan politik merambah pada pribadi-pribadi politikus, bahkan sedikit banyak bergema dalam suasana kebersamaan masyarakat umum. Kritak-kritik bahkan umpat-caci sering terlontar. Makin hari makin panas. Sang pesona membangkitkan hasrat kawan menjadi lawan  penyama posisi. Dalam ketenangan dan kerendahan hati sang pesona pun mengambil langkah pendingin suasana. Ia tidak menghiraukan umpat-caci yang pernah diterima karena cinta pada keutuhan rakyat menjadi perekat daya yang melekat dalam keutuhan pribadinya.
Perjalanan masih panjang. Perbedaan kepentingan maupun cara masih berkembang. Aneka langkah mengarak deretan rasa sangsi, membangkitkan curiga mereka yang masih menyimpan dendam, walau para panglima sudah mulai saling memberikan hormat. Benarlah kala Sang Guru utama mengatakan, "Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya" (Luk 12:53). Kita pun tidak tahu babak2 berikutnya. Kita boleh percaya walau seru tapi akan tetap menyatu. Semoga kelam disibak oleh nyala pelita penuntun menuju cahaya kejayaan.

Kontemplasi:
Ingatlah kembali perjalanan kebersamaan dan konflik-konflik bangsa kita. Gambarkan harapanmu atas persaudaraan anak-anak bangsa.

Refleksi:
Tulislah pengalaman dan atau pengamatanmu tentang perseteruan-persahabatan anak-anak bangsa ini.

Doa:
Tuhan semoga aneka macam konflik yang ada merupakan masa merekonstruksi bangsa ini bukan destruksi bangunan kokoh yang telah ada. Amin.

Perutusan:
Aku akan berperan mencairkan suasana hidup yang beku.