Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, October 29, 2016

Lamunan Pekan Biasa XXXI

Minggu, 30 Oktober 2016

Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di tengah masyarakat ada gambaran bahwa orang baik akan selalu bergaul dengan orang-orang baik. Yang baik akan biasa ambil jarak dengan yang tidak baik.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa golongan tidak baik akan menjadi ancaman bagi kaum baik. Golongan baik akan berhati-hati terhadap yang tidak baik karena bisa membahayakan hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, kebaikan sejati justru akan membawa orang yang menghayati untuk bergaul terbuka dengan mereka yang tidak baik bahkan berperilaku jahat karena kebaikan sejati adalah panggilan kalbu menghadirkan sapaan penghargaan bagi orang-orang yang karena perilakunya dicap sebagai penyakit masyarakat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mengembangkan sikap menyahabat terhadap kaum berperilaku buruk.
Ah, untuk jadi baik orang harus menjauhi yang tidak baik.

Sabda Hidup


Minggu, 30 Oktober 2016
Hari Minggu Biasa XXXI
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Keb. 11:22-12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11-2:2; Luk. 19:1-10. BcO Keb. 8:1-21

Lukas 19:1-10:
1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." 8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." 9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Renungan:
Sering terlihat lucu ketika seorang anak kecil mencoba mengambil barang di ketinggian. Berkali-kali tangannya meraih barang yang hendak diambil. Bila gagal ia akan mencari sesuatu untuk mendukung usahanya. Ketika ia berhasil meraih sesuatu yang dimau wajahnya akan tampak lega sekali. Ada kepuasan di dalam dirinya. Usahanya tidak sia-sia.
Zakheus berkehendak melihat Yesus. Namun ia kesulitan. Orang banyak mengerumuni Yesus. Badan Zakheus pun pendek. Maka ia mencari cara agar keinginannya terpenuhi. Ia pun memanjat pohon. Dengan begitu ia bisa melihat Yesus dan berwawanhati dengan-Nya.
Keterbatasan tidak semestinya menjadi selubung kita untuk tidak berusaha meraih yang terbaik. Ketika kita mau berusaha, maka selalu mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang melebihi keterbatasan kita. Ada banyak cara yang bisa kita coba. Ada banyak bantuan yang memungkinkan kita meraih melebihi harapan kita.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu mesti meraih sesuatu yang tampaknya di luar jangkauanmu. Temukan cara-cara untuk bisa meraih itu.

Refleksi:
Bagaimana supaya kita tidak gampang menyerah?

Doa:
Tuhan, semoga aku tidak gampang menyerah. Semoga aku mampu menemukan kekuatan untuk mengatasi keterbatasanku. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga staminaku untuk terus berjuang dan tidak gampang menyerah.. -nasp-

Friday, October 28, 2016

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Biasa XXXI/C

diambil dari http://www.mirifica.net by on Jendela Alkitab, Mingguan

 
KOK DIA NUMPANG DI SITU!

Rekan-rekan pemerhati kisah Zakheus!

PERISTIWA yang dikisahkan dalam Luk 19:1-10 dan dibacakan pada hari Minggu Biasa XXXI tahun C ini tidak asing lagi bagi kita. Dalam perjalanannya menuju ke Yerusalem, Yesus singgah di Yerikho dan menumpang di rumah kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus. Kejadian ini membuat orang banyak kurang senang. Mereka menggerutu (ayat 7), “Ia menumpang di rumah orang berdosa!” Tapi Yesus menegaskan (ayat 9-10), “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia (= dirinya, yakni Yesus) datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Apa maksudnya? Dan apa tujuan Lukas menceritakan peristiwa ini?

YANG KEHILANGAN ARAH

Ungkapan “yang hilang” (ayat 10) itu maknanya “yang kehilangan arah dan mengalami bahaya maut”. Yesus menerapkan gagasan itu kepada Zakheus. Memang di mata orang banyak orang ini “kehilangan arah” dan sudah tak tertolong lagi. Bayangkan, seorang Yahudi yang bekerja memungut cukai dari bangsa sendiri bagi penguasa asing. Pekerjaan ini dianggap kotor. Memang tak sedikit dari mereka yang menjadi kaya dengan memeras. Zakheus bukan hanya seorang pemungut cukai, ia kepala pemungut cukai. Lukas juga menyebutnya sebagai orang kaya. Pembaca Injil ini dapat membayangkan bagaimana anggapan orang banyak mengenai si Zakheus ini. Ia pendosa besar. Ia sudah terhukum di mata banyak orang.

Namun Lukas juga menyiapkan pembacanya agar mengerti apa yang sedang terjadi pada Zakheus. Dalam Luk 15:1-7 dicatatnya perumpamaan domba yang sesat. Dari tiga ayat pertama jelas bahwa perumpamaan itu disampaikan Yesus untuk menanggapi gerutuan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang melihatnya bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya. Kelompok yang dijauhi oleh orang-orang yang merasa diri saleh ini diumpamakan sebagai seekor domba yang tersesat – tidak menemukan jalan yang ditempuh ke-99 ekor lainnya. Tetapi pemilik kawanan domba tadi merasa kepunyaannya tidak lagi utuh – tidak lagi bulat seratus – bila satu saja hilang. Maka ia pergi mencarinya sampai ketemu. Dan ia baru lega ketika menemukannya kembali. Ia bahkan mengajak handai taulannya ikut bersukacita. Kata yang dipakai untuk menyebut domba yang hilang dalam Luk 15:4 itu – “to apoloolos” – sama dengan yang digunakan untuk mengibaratkan Zakheus dalam Luk 19:10.

AJAKAN BERNALAR

Perumpamaan mengenai domba yang sesat itu menggambarkan kesungguhan Tuhan untuk membuat kawanannya utuh kembali. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang merasa diri saleh dan tahu kehendak Tuhan diminta agar berusaha melihat apa yang sungguh dilakukan Tuhan kepada manusia dan tidak hanya puas dengan praktek kesalehan dan rumusan doktrin mereka sendiri. Kini dalam kisah Zakheus, bukan hanya mereka yang dihimbau, melainkan juga orang banyak, termasuk orang-orang yang mengagumi Yesus dan mengiringinya dari tempat ke tempat. Mereka ini mudah berubah sikap bila melihat tokoh yang mereka kagumi itu tidak menepati bayangan mereka! Tetapi Yesus tetap mengajak mereka berpikir. Zakheus ini ialah domba yang kehilangan arah – tidakkah kalian iba? Tidakkah kalian ingin agar kawanan menjadi utuh kembali, tanpa meninggalkan seorangpun mencari-cari arah dan menghadapi bahaya? Apakah kalian tidak ingin ikut bergembira dengan pemilik kawanan tadi, dengan perempuan yang menemukan dirham yang terselip (Luk 15:8-10), dengan sang ayah yang mendapati anaknya yang hilang yang kini telah kembali (Luk 15:11-32)?

PUTAR HALUAN? SIAPA YANG MESTI BEGITU?

Zakheus bergembira karena rumahnya didatangi Yesus. Tentu ia juga sadar bahwa dengan tindakannya ini Yesus mempertaruhkan gambaran tentang dirinya sendiri di hadapan banyak orang. Tapi Zakheus juga percaya bahwa public figure yang satu ini tidak membiarkan diri ditentukan oleh pandangan umum. Dari manakah integritas yang seperti itu? Pasti Zakheus bertanya-tanya dalam hati demikian. Ia tahu ada kekuatan yang mendampingi Yesus. Dengan mendatanginya, Yesus berbagi kekuatan dengannya. Ia sendiri kini juga mendapatkan kekuatan tadi. Zakheus kini berani “putar haluan”. Ia mau berbagi milik dengan orang miskin dan siap mengembalikan hasil pungutan liar empat kali lipat. Ini bukan hanya antusiasme sesaat belaka. Kesediaannya berbagi harta dan mengembalikan pungutan tak sah itu menjadi usahanya yang nyata untuk menelusuri kembali arah yang bakal membawanya pulang ke jalan yang benar.

Apakah peristiwa di Yerikho itu dimaksud sebagai imbauan bagi pembaca agar berputar haluan seperti Zakheus? Boleh jadi kita cenderung cepat-cepat menafsirkannya demikian. Tapi bila kita tempuh arah itu, warta petikan ini akan mudah terasa hambar karena tampil sebagai cerita contoh kelakuan baik belaka. Kita malah akan ikut-ikutan menggarisbawahi sikap orang banyak yang mengadili Zakheus dan akhirnya juga mengadili Yesus sendiri. Maklum, bagi orang-orang itu, satu-satunya jalan bagi Zakheus agar bisa menjadi lurus kembali ialah “bertobat”. Dan satu-satunya cara bagi Yesus untuk naik kembali dalam skala moral mereka ialah hanya bergaul dengan orang yang sudah bertobat, bukan pendosa lagi. Akan tetatpi Injil mengajak kita melihat ke arah lain. Yang diharapkan putar haluan dan bertobat justru orang banyak tadi. Dapatkah mereka melihat apa yang sedang terjadi kini? Utusan Tuhan yang sedang berjalan ke Yerusalem singgah menumpang di rumah orang yang tak masuk hitungan mereka. Maukah mereka berusaha menangkap isyarat ilahi ini? Bagaimana bila kita juga termasuk orang banyak itu?

Kata-kata Yesus pada akhir petikan ini (ayat 10) mendorong agar orang berani memikirkan pandangan mereka mengenai siapa dia itu dan apa yang dilakukannya. Ia itu Anak Manusia, salah satu dari kemanusiaan yang diutus untuk mencari sampai ketemu dia yang kehilangan arah dan meluputkannya dari bahaya maut. Ia diutus untuk melepaskan orang dari ikatan-ikatan yang menyesatkan, kedatangannya bukan untuk dielu-elukan belaka.

MENYELAMATKAN “SEISI RUMAH”

Dikatakan penyelamatan terjadi “pada seisi rumah ini” (ayat 9). Ungkapan ini luas cakupannya. Yang dimaksud ialah siapa saja dan apa saja yang ada di situ: Zakheus, harta miliknya, dan….orang banyak juga! Yang terjadi pada Zakheus sudah jelas. Kini giliran harta miliknya diselamatkan karena mendapat arti yang baru. Kekayaan yang tadi menyendirikannya kini dapat membuatnya mendapat banyak rekan. Harta mati itu kini menghidupkan!

Juga orang-orang yang tadi tidak puas melihat Yesus kini mau tak mau akan mulai memikirkan kembali perangkat ukuran kesalehan mereka. Penyelamatan pun terjadi pada mereka. Entah diterima atau tidak adalah tanggung jawab orang-perorangan. Itulah yang terjadi pada hari itu. Orang kini mau tak mau harus keluar dari persembunyian di balik pendapat umum, tidak lagi bisa jadi “orang banyak”.

Dalam teks aslinya, dipakai kata “sooteeria”, yang lebih baik diungkapkan kembali sebagai “penyelamatan”, dan bukan “keselamatan” karena yang ditekankan ialah kegiatan menyelamatkan bukan melulu hasilnya, yakni “keselamatan”. Ini lebih dari sekadar latihan tatabahasa atau perkara terjemahan belaka. Bila dipakai kata “keselamatan”, akan sulit dimengerti keselamatan terjadi pada orang banyak yang kurang suka menerima kelakuan Yesus tadi. Belum tentu mereka menerima keselamatan. Tetapi bila yang tampil itu gagasan “penyelamatan”, maka akan lebih terang maksudnya. Yesus berusaha menyelamatkan orang banyak tadi dari anggapan-anggapan mereka sendiri mengenai kaum pendosa dan mengenai Tuhan. Mereka menerima atau tidak adalah soal lain.

ABRAHAM, BAPAK SEMUA ORANG BERIMAN

Zakheus diselamatkan karena ia pun anak Abraham. Tak sukar memahami maksud Yesus. Ia mengajak orang-orang yang merasa diri pewaris iman Abraham agar juga mau berlaku seperti Abraham sendiri, yakni mau membiarkan Tuhan leluasa menuntun orang di jalanNya dan tidak menghalang-halangiNya dengan gagasan-gagasan mereka sendiri mengenai apa yang harus dikerjakanNya atau apa yang tak sepantasnya diperbuatNya.

Dapatkah Warta Gembira hari ini dibawa ke zaman kita? Abraham, yang juga diucapkan sebagai Ibrahim itu, adalah bapak iman dalam tiga agama yang mengakui keesaan Tuhan. Dia yang Mahaesa itu memperkenalkan diri dengan macam-macam cara kepada keturunan orang yang dikasihiNya itu. Boleh jadi lebih tepat dikatakan, Ia membiarkan diri dikenal dengan pelbagai cara untuk memperkaya manusia-manusia yang menghayati iman Abraham/Ibrahim. KebesaranNya tak bakal selesai diwartakan dan tak bakal tuntas diajarkan.

Tiap anak Abraham atau Ibrahim berhak mendapatkan yang diinginkan Yang Mahakuasa sendiri. Bagaimana dengan kenyataan yang kita lihat? Ada keretakan, bahkan ada saling kebencian. Ironi. Namun tak perlu sisi suram kemanusiaan ini membuat orang mencari-cari wajah Tuhan yang mangkir. Dia masih ada dan masih sama, kerahimanNya masih ditawarkan bagi semua orang. Dan syukurlah masih ada orang yang percaya akan hal ini. Dan kekuatan iman mereka ini membuat wajah Tuhan makin terlihat. Pemeluk iman yang dipercontohkan Abraham-Ibrahim dapat membuat wajahNya makin tampak.

Salam hangat.
===========
Kredit Foto: WordPress.comfr

Sabda Hidup


Sabtu, 29 Oktober 2016
Hari Biasa
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Flp. 1:18b-26; Mzm. 42:2,3,5bcd; Luk. 14:1,7-11. BcO Keb. 7:15-30

Lukas 14:1.7-11:
1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. 7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Renungan:
Suatu kali saya datang dalam suatu acara perusahaan besar. Kala itu aku dan rombongan dibawa oleh penerima tamu ke barisan depan. Ternyata kursi di depan penuh. Aku pun melepaskan diri dari rombongan dan mencari kursi di belakang. Namun penerima tamu serta merta mendatangiku dan mengajak ke depan karena telah disediakan kursi yang baru. Mereka menjemputku sambil berkali-kali meminta maaf.
Yesus meminta orang-orang supaya kalau menghadiri undangan tidak menduduki tempat-tempat di depan. "supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah" (Luk 14:9).
Kiranya kita pun mesti menjaga diri dari rasa malu. Daripada kita malu mending kita menghindari sesuatu yang bisa membuat kita malu. Di tengah para penjahat yang tidak tahu malu, marilah kita mewartakan budaya malu melakukan tindakan jahat. Diminta pindah dari tempat duduk aja sudah cukup memalukan apalagi melakukan tindakan kejahatan yang merugikan sesama kita. Mari berbudaya malu.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu merasa malu di hadapan banyak orang.

Refleksi:
Bagaimana menghindari kejadian yang memalukan?

Doa:
Bapa terima kasih Putera-Mu telah mengingatkanku untuk menjaga diri dari tindakan yang mempermalukan diri sendiri. Semoga aku selalu menjaga diri dan mempunyai rasa malu kala tergoda melakukan yang tidak baik. Amin.

Perutusan:
Aku akan membangun rasa malu sebelum jatuh ke tindakan yang merugikan. "Doamu untukku 2910-nasp-"

Lamunan Pekan Biasa XXX

Sabtu, 29 Oktober 2016

Lukas 14:1.7-11

14:1. Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
14:7. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa penghormatan akan diberikan kepada orang yang memiliki kemenonjolan. Kemenonjolan berkaitan dengan keunggulan yang dicapai dalam hidupnya.
  • Tampaknya, orang dapat menonjol karena kekayaan atau karier kerja atau pengetahuan dan ketrampilannya. Kemenonjolan ini dapat dilihat dari fasilitas yang dipakai dan atau sebutan/titel dalam penyebutan namanya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, segala kekayaan dan sebutan serta prestasi tidak akan menghadirkan penghormatan sejati yang justru datang dari kebiasaan bersikap dan bertindak tak menampakkan keunggulan yang ada dalam diri. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mendapatkan kehormatan justru karena tak mencari hormat.
Ah, jaman kini orang harus berjuang untuk menonjol agar mudah mendapatkan uang.

Thursday, October 27, 2016

Cara Tetap Bahagia di Hari Tua

diambil dari https://www.jw.org/id/publikasi/majalah/wp20150601


BAGAIMANA perasaan Anda saat membayangkan diri Anda menjadi tua? Banyak orang khawatir, gelisah, dan bahkan takut. Semua perasaan itu timbul karena usia tua biasanya dihubungkan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti penuaan fisik, tubuh yang lemah, pikun, dan penyakit kronis.

Tapi faktanya, proses penuaan setiap orang berbeda. Beberapa masih relatif sehat secara fisik dan mental saat lansia. Kemajuan dalam bidang kesehatan juga memungkinkan pengobatan atau perawatan atas penyakit kronis. Hasilnya, di beberapa negara semakin banyak orang yang berumur panjang dan lebih sehat.

Tapi, entah mengalami problem pada usia tua atau tidak, kebanyakan orang ingin hidup bahagia saat mereka tua nanti. Bagaimana caranya? Ini ada hubungannya dengan sikap, kemauan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri saat memasuki usia tua. Maka, mari kita bahas beberapa prinsip Alkitab yang sederhana dan praktis.

HENDAKLAH BERSAHAJA: ”Hikmat ada pada orang-orang yang bersahaja.” (Amsal 11:2)  

Dalam hal ini, ”orang-orang yang bersahaja” bisa memaksudkan orang tua yang menyadari dan menerima fakta bahwa mereka sudah lanjut usia. Mereka tidak berusaha menyangkal fakta itu. Charles, umur 93, dari Brasil berkata, ”Kalau kita sudah lama hidup, ya pasti tambah tua. Kita tidak bisa jadi muda lagi.”

Tapi, sikap bersahaja itu bukan berarti pasrah, seperti berpikir ”yah, saya sudah tua, sudah tidak berguna lagi”. Sikap itu bisa mengurangi semangat hidup kita. Amsal 24:10 berkata, ”Apakah engkau kecil hati pada hari kesesakan? Kekuatanmu akan kurang.” Sebaliknya, orang yang bersahaja bertindak bijaksana dan berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap situasi.

Corrado, umur 77, dari Italia berkata, ”Sewaktu kita tambah tua, kita harus sesuaikan kebiasaan kita dengan kesanggupan kita.” Memang, kita harus membuat perubahan saat mulai memasuki usia tua. Corrado dan istrinya bisa berbagi tugas rumah tangga dengan seimbang, sehingga jadwal mereka cukup masuk akal dan mereka tidak kelelahan. Marian, umur 81, dari Brasil juga memiliki pandangan yang  bersahaja. Dia berkata, ”Saya belajar untuk membuat jadwal sesuai kesanggupan. Saya biasanya beristirahat sejenak setelah melakukan suatu kegiatan. Kadang saya duduk atau berbaring untuk membaca atau mendengarkan musik. Saya sadar kalau saya sudah tidak bisa aktif lagi seperti dulu.”
HENDAKLAH SEIMBANG: ”Wanita-wanita berdandan dengan pakaian yang ditata dengan baik, dengan kesahajaan.” (1 Timotius 2:9)  

Kata-kata ”pakaian yang ditata dengan baik” memaksudkan keseimbangan dan selera yang bagus. Barbara, umur 74, dari Kanada berkata, ”Saya berusaha tampil rapi dan bersih. Saya tidak mau kelihatan lusuh karena berpikir ’saya sudah tua, jadi saya boleh pakai apa saja.’” Fern, umur 91, dari Brasil berkata, ”Kadang-kadang, saya beli baju baru supaya senang.” Bagaimana dengan pria yang sudah lansia? Antônio, umur 73, dari Brasil berkata, ”Saya berusaha tampil rapi, dan memakai baju yang bersih dan enak dilihat.” Dan mengenai kebersihan, dia berkata, ”Saya mandi dan bercukur setiap hari.”

Di sisi lain, jangan sampai kita jadi terlalu khawatir soal penampilan sampai-sampai tidak ’berpikiran sehat’. Bok-im, umur 69, dari Korea Selatan memiliki pandangan yang benar soal pakaian. Dia berkata, ”Saya sadar kalau sekarang saya tidak cocok lagi pakai baju yang saya pakai saat saya muda dulu.”

HENDAKLAH POSITIF: ”Seluruh hari-hari orang yang menderita adalah buruk; tetapi orang yang gembira hati berpesta senantiasa.” (Amsal 15:15) 

 Saat kita semakin tua, kita mungkin merasa sedih jika mengingat masa muda dan hal-hal yang bisa kita lakukan dulu. Ini memang wajar. Tapi, jangan sampai keadaan itu membuat Anda patah semangat. Kalau terus-terusan memikirkan masa lalu, kehidupan kita bisa tampak suram dan jadi tidak bersemangat melakukan apa pun. Joseph, umur 79, dari Kanada berkata, ”Saya berusaha menikmati hal-hal yang bisa saya lakukan dan tidak menangisi hal-hal yang sudah tidak sanggup lagi saya lakukan.”

Membaca dan belajar juga bisa membuat Anda merasa lebih bahagia dan lebih bersikap terbuka. Maka, sebisa mungkin, carilah kesempatan untuk belajar hal baru. Ernesto, umur 74, dari Filipina sering pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang menarik. Ia berkata, ”Saya masih suka dengan serunya petualangan, karena saya bisa membayangkan perjalanan menarik melalui apa yang saya baca.” Bahkan, Lennart, umur 75, dari Swedia tidak takut untuk belajar bahasa baru.
HENDAKLAH MURAH HATI: ”Praktekkanlah hal memberi, dan kamu akan diberi.” (Lukas 6:38)  

Hendaklah menyediakan waktu dan suka memberi. Ini akan membuat Anda merasa puas dan bahagia. Hosa, umur 85, dari Brasil berusaha membantu orang lain walaupun memiliki keterbatasan fisik. Dia berkata, ”Saya menelepon teman yang sakit atau sedih dan menulis surat untuk mereka. Kadang saya memberi mereka hadiah. Saya juga senang memasak atau membuat makanan kecil untuk mereka yang sakit.”

Kalau kita murah hati, orang lain juga akan bersikap murah hati terhadap kita. Jan, umur 66, dari Swedia berkata, ”Ketika kita menunjukkan kebaikan, orang lain juga akan menunjukkan kebaikan dan kasih kepada kita.” Memang, orang yang murah hati membuat suasana jadi akrab dan orang lain pun jadi senang.

HENDAKLAH RAMAH: ”Orang yang mengasingkan diri akan mencari keinginannya yang mementingkan diri; terhadap semua hikmat yang praktis ia akan meledak.” (Amsal 18:1)  

Kadang, ada saatnya kita ingin sendirian. Tapi jangan sampai kita mengasingkan diri. Innocent, umur 72, dari Nigeria, senang berkumpul dengan teman-temannya. ”Saya senang bergaul dengan siapa saja, tua ataupun muda.” Börje, umur 85, dari Swedia berkata, ”Saya berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang masih muda. Semangat mereka buat saya merasa muda lagi.” Sesekali Anda bisa mengundang teman-teman. Hansik, umur 72, dari Korea Selatan berkata, ”Saya dan istri senang mengundang teman-teman yang tua ataupun muda untuk bergaul dan makan malam bersama.”
Orang yang ramah senang berkomunikasi. Komunikasi berarti kita tidak hanya berbicara, tapi juga mau mendengarkan. Tunjukkan perhatian kepada orang lain. Helena, umur 71, dari Mozambik berkata, ”Saya ramah dan memperlakukan orang lain dengan respek. Saya mendengarkan orang lain supaya mengerti perasaan dan sifat mereka.” José, umur 73, dari Brasil berkata, ”Orang-orang senang kalau didengar. Mereka senang dengan orang yang memperlihatkan empati, minat, suka memuji dengan tulus, dan punya rasa humor.”

Saat berbicara, ingatlah agar kata-kata kita ”dibumbui dengan garam”. (Kolose 4:6) Berpikirlah dulu sebelum berbicara dan kata-kata kita hendaknya memberi pengaruh baik bagi orang lain.

HENDAKLAH BERSYUKUR: ”Nyatakanlah rasa syukurmu.” (Kolose 3:15)  

Ketika kita dibantu, tunjukkan penghargaan. Pernyataan terima kasih menciptakan hubungan baik. Marie-Paule, umur 74, dari Kanada berkata, ”Saya dan suami baru saja pindah dari rumah ke apartemen. Ada banyak teman-teman yang bantu kami. Kami sangat bersyukur. Kami mengirim kartu ucapan terima kasih untuk mereka semua dan mengundang beberapa untuk makan malam bersama.” Jae-won, umur 76, dari Korea Selatan, bersyukur karena selalu diantar ke Balai Kerajaan. Dia berkata, ”Saya sangat bersyukur atas bantuan ini dan saya selalu menawarkan uang bensin. Kadang-kadang, saya juga menyiapkan hadiah dengan ucapan terima kasih.”

Di atas segalanya, bersyukurlah atas kehidupan. Raja Salomo yang bijak mengingatkan kita, ”Anjing yang hidup lebih baik keadaannya daripada singa yang mati.” (Pengkhotbah 9:4) Ya, sikap yang benar dan kemauan untuk menyesuaikan diri bisa membuat kita tetap bahagia di hari tua.

Lamunan Pesta

Santo Simon dan Yudas, Rasul
Jumat, 28 Oktober 2016

Lukas 6:12-19

6:12. Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
6:13 Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:
6:14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,
6:15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,
6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
6:17 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
6:19 Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tokoh-tokoh agama bisa mendapatkan penghormatan dari umat bahkan dari orang-orang di luar agamanya. Mereka dapat dipandang memiliki pemahaman dan kebijakan khusus untuk hidup baik, benar dan luhur.
  • Tampaknya, tokoh-tokoh agama bisa dianggap memiliki kekuasaan ilahi. Dia dapat menjadi tempat orang-orang datang untuk mendapatkan berkat khusus bahkan dapat menghadirkan yang diharapkannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekudus dan sehebat apapun tokoh agama, sejatinya dia adalah sosok utusan dari yang bertahta dan bersuara di dalam nurani sehingga menjadi pembantu khusus karya Tuhan di tengah-tengah masyarakat luas. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa makin tinggi status seseorang makin berat tanggung kerjanya.
Ah, kalau terpilih mendapatkan peran khusus ya makin mudah menikmati fasiltas-fasilitas enak dong.