Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, December 29, 2016

Sabda Hidup


Jumat, 30 Desember 2016
Pesta Keluarga Kudus,
Yesus, Maria, Yusuf
warna liturgi Putih 
Bacaan
Sir. 3:2-6,12-14; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Kol. 3:12-21; Mat. 2:13-15,19-23. BcO Ef. 5:21-6:4

Matius 2:13-15.19-23:
13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." 14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." 19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: 20 "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati." 21 Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. 22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. 23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Renungan:
Seseorang mendengar sebuah semboyan untuk beranjak dari zona nyaman menuju zona yang lebih menantang. Ia pun meninggalkan pekerjaannya yang baik dan penuh harapan. Ia memulai pekerjaan baru. Ternyata di pekerjaan baru ia tidak sukses dan malah cenderung kesulitan. Segala usahanya tampak tidak berjalan lancar. Ia pun meratapi sikap tergesa-gesanya.
Tidak semua resiko harus dihadapi dengan frontal. Yusuf mendengar pesan Tuhan untuk membawa Yesus ke Mesir. Bila bertahan di sana ia dan keluarganya akan menghadapi ancaman dari Herodes. Yusuf pun sadar tidak mungkin menghadapi Herodes dengan frontal. Maka ia pun membawa keluarga menyingkir dari ancaman Herodes.
Memang kita bisa saja meninggalkan zona nyaman menuju zona yang lebih menantang. Namun semua itu mesti dengan perhitungan yang matang. Keputusan yang tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menimbulkan penyesalan. Tidak semua resiko harus kita hadapi secara frontal. Kadang kita pun harus memilih menyingkir daripada menghadapi bahaya yang lebih besar.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu. Bayangkan kisah dalam Injil Mat. 2:13-15,19-23. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi:
Resiko mana yang mesti kauhadapi dan kauhindari?

Doa:
Bapa semoga aku bijak dalam menentukan pilihan dan kuat kala harus menghadapi resiko. Bantulah aku dalam menentukan pilihan. Amin.

Perutusan:
Aku tidak malu ketika harus menghindari resiko yang tak mungkin kutanggung. -nasp-

Wednesday, December 28, 2016

Lingkungan Termuda di Karangpanas



Untuk kunjungan kelompok dari Paroki Karangpanas, Semarang, di Domus Pacis pada Minggu 18 Desember 2016, salah seorang wakil kelompok sudah menelpon dan mengirim SMS ke Rm. Bambang. Di situ diinformasikan bahwa mereka akan berangkap pada jam 07.00 pagi dan sampai Domus jam 11.00. Di situ juga dikabarkan bahwa mereka akan datang ber-9 orang. Perjalanan selama 4 jam memang wajar karena pada masa kini lalu lintas memang biasa padat. Kebetulan pada hari itu ada juga kunjungan ibu-ibu dari Paroki Pangkalan, Yogyakarta, dan mereka sudah meninggalkan Domus ketika jam hampir belum menunjuk angka 11.00. Maka, rama-rama yang biasa menyambut tamu dapat istirahat sejenak di kamar masing-masing. Bahkan Rm. Bambang sempat terlelap sejenak sementara Rm. Harto dapat menerima orang datang untuk konsultasi atau minta doa. Tiba-tiba Rm. Bambang agak dikejutkan oleh suara karyawan "Rama, ingkang saking Semarang sampun dhateng" (Rama, yang dari Semarang sudah datang). Rm. Bambang keluar kamar sambil melihat jam tangannya yang menunjuk angka 11.45. Ketika para tamu diajak masuk ruang pertemuan dalam, tampak Rm. Yadi sudah duduk di meja makan.

"Ini sudah hampir jam sebelas ta, rama? Silahkan rama-rama makan siang dulu. Ini kami bawa bakmi dan beberapa menu untuk para rama" salah seorang ibu berkata. Tetapi Rm. Yadi sudah memutar kursi rodanya dan ambil posisi menyatu dengan para tamu. Rm. Harto dan Rm.Tri Hartono juga masuk ruang pertemuan. Dan Rm. Bambang pun berkata "Tenang aja. Di sini para rama dapat fleksibel dengan acara-acara rumah. Berapa orang yang ikut?" Terhadap pertanyaan ini salah satu dari tamu berkata "Ya sesuai dengan SMS saya. Ada sembilan orang." "Ini kelompok apa, ta?" Tanya Rm. Bambang lagi yang mendapatkan jawaban "Kami ini dari Lingkungan termuda di Paroki Karangpanas, yaitu Lingkungan Faustina" yang disambung dengan kata-kata "Ketuanya itu" dari yang lain sambil menunjuk seorang bapak. Rombongan kecil ini tampak santai tanpa basa-basi seremonial omong-omong akrab dengan para rama. Mereka juga amat gembira karena dapat berjumpa dengan Rm. Tri Hartono yang pernah tinggal di Pastoran Karangpanas.

Sabda Hidup


Kamis, 29 Desember 2016
Tomas Becket
warna liturgi Putih 
Bacaan
1Yoh. 2:3-11; Mzm. 96:1-2a,2b-3,5b-6; Luk. 2:22-35.  BcO Kid. 1:1-8  BcO Kol. 1:1-14

Lukas 2:22-35:
22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Renungan:
Kala misa natal kemarin seorang anak mengatakan bahwa setiap hari dia pergi ke Gereja. Lalu pendampingnya pun mengiyakan kata-kata sang anak tersebut. Selesai misa anak itu menemuiku lalu salaman megang tangan erat sekali dan tidak dilepaskan. Kepalanya ditempelkan ke tangan. Lucu banget. Aku pun tertawa melihat sikapnya.
Setiap kali melihat anak-anak di Gereja aku selalu terbawa pada kenangan waktu kecil. Aku sering diajak beraktivitas di gereja. Bahkan aku sudah ikut misdinar walau belum sambut komuni. Hatiku selalu senang kala lihat anak-anak sudah diajak berkegiatan di gereja dan mengikuti ekaristi. Anak-anak menghidupkan harapan.
Sejak kanak-kanak Yesus pun telah dikenalkan dengan tradisi hidup beriman. "Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan" (Luk 2:22). Pengenalan iman sejak masa kanak-kanak membentuk kedewasaan iman seseorang.

Kontemplasi:
Bayangkan dirimu dibawa orang tua ke gereja atau dirimu membawa anak-anakmu ke gereja.

Refleksi:
Bagaimana membentuk iman anak-anak?

Doa:
Tuhan kupersembahkan putera-puteri-Mu ke hadapan-Mu. Tuntun dan dampingilah mereka. Amin.

Perutusan:
Aku akan mendidik dan mendampingi iman anak-anak. -nasp-

Lamunan Oktaf Natal

Hari Kelima
Kamis, 29 Desember 2016

Lukas 2:22-35

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kesalehan seseorang kerap dikaitkan dengan kehidupan beragama. Kesalehan terwujud pada tindak tanduk dan perkataan lebut dan tidak kasar.
  • Tampaknya, ada anggapan orang menjadi saleh karena ketaatan pada tata aturan keagamaan. Tindak tanduk dan perkataan saleh terutama tampak dalam ketekunan orang dalam berdoa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, setekun dan setaat apapun dalam menjalani doa hal ini belum dapat menjadikan seseorang sungguh menjadi saleh kalau tidak memiliki sikap hati yang terbuka akan kebaikan umum sehingga walau senior dalam banyak hal selalu siap untuk mengundurkan diri apabila muncul peran sosok lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati walau memiliki kehebatan kerja dan kuasa orang tidak akan mempertahankan status quo.
Ah, pada jaman kini yang pokok adalah kemampuan bersaing.

Tuesday, December 27, 2016

Jumpa Sesudah 45 Tahun


Pak Sungkono, Pak Giyata dan Pak Budi memang mengadakan pertemuan paling tidak 2 kali. Tetapi untuk mengkoordinasi semua yang hadir dalam pertemuan itu hanya mengandalkan WAG (WhatsApp Group) BCA-MERTO-70. Ini adalah kelompok para mantan seminaris yang masuk Seminari Menengah Mertoyudan tahun 1970. Mereka adalah para lulusan SMTA: SPG, STM dan SMA. Dari dialog lewat WA beberapa lama, disepakatilah pertemuan REUNI pada tanggal 26 Desember 2016 bertempat di Wisma Domus Pacis Puren. Rm. Bambang mendapatkan posisi mengurus akomodasi dan komsumsi. Dalam kerjanya dia di"backup" oleh pasangan Mas Handoko-Bu Sri, Bu Rini, Bu Tatik Santo, Bu Mardanu dan karyawan Domus (kebetulan yang piket pada waktu itu adalah keluarga Mbak Tari-Mas Heru). Dari dialog WA diketemukan proses acara reuni: 1) Omong-omong kangen-kangenan sambil menikmati minum dan snak; 2) Misa; 3) Makan malam; 4) Omong-omong gelar gagasan. Adapun yang hadir dalam reuni ini:
  1. Bapak dan ibu Budi Santosa bersama anak dan cucu (6 orang): Yogyakarta
  2. Bapak dan ibu Taruna Sayoga bersama anak (3 orang):Ungaran
  3. Bapak Giyata (1 orang): Yogyakarta
  4. Bapak dan ibu Sungkono bersama anak (4 orang): Yogyakarta
  5. Bapak Djokopranowo (1 orang): Depok, Jawa barat
  6. Bapak dan ibu Siswata bersama anak (3 orang): Lampung
  7. Rm. Suhendra Riberu (1 orang): Menado
  8. Rm. Giarta bersama saudara (3 orang): Salatiga
  9. Rm. Padma Wardaya (1 orang): Sukorejo
  10. Rm. Supriyanta (1 orang): Magelang
  11. Rm. Tri Hartono (1 orang): Domus Pacis, Yogyakarta
  12. Rm. Bambang Sutrisno (1 orang): Domus Pacis, Yogyakarta.
1. Kangen-kangenan

Pak Djoko adalah sosok yang datang pertama kali. Sesudah omong-omong dengan Rm. Bambang pada sekitar jam 13.30 dia masuk kamar Rm. Tri Hartono. Ketika jam menunjuk angka 15.00 lebih, Rm. Padmo Wardaya, SY datang. Sementara sedang berbicara sana sini dengan Rm. Bambang, datanglah Pak Djoko. "Sapa kuwi?" (Siapa itu?) tanya Rm. Padmo kepada Rm. Bambang sambil mengarahkan mata ke Pak Joko. Rm. Bambang malah bertanya kepada Pak Djoko "Iki sapa?" (Siapa ini) sambil menunjuk ke Rm. Padmo. Rm. Padmo dan Pak Djoko berkerut-kerut dahinya dan si rama berkata "Wah wis lali ya? Lha wis patang puluh lima taun pisah" (Wah, kita sudah saling lupa, ya? Soalnya sudah berpisah selama 45 tahun). Suasana saling lupa ternyata cukup banyak terjadi di antara kebanyakan dari 11 orang yang dulu pernah menjadi teman sekelas sebagai calon imam di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1970. Tetapi sesudah saling ingat, sambil minum dan menikmati snak mereka saling diingatkan peristiwa-peristiwa lucu dan menggelikan kala 45 tahun lalu. "Ana pesan neng WA. Siswata mangkat seka Bandung jam lima. Pesawate ditunda" (Ana pesan di WA. Siswata bari akan berangkat jam 5 sore dari Bandung karena pesawat kena tunda) kata Pak Giyata.

2. Misa Penuh Syukur

Pada jam 17.00 Pak Giyata mengajak teman-teman dan keluarganya masuk ruang pertemuan. Rm. Hendra sudah siap untuk memimpin misa. Pak Giyata menjadi lektor, Bu Sungkono memimpin nyanyi dengan buku Madah Bakti yang dipinjamkan oleh Mas Handoko dari Paroki Pringwulung. Rm. Bambang mengiringi nyanyian dengan keyboard. Rm. Harto juga ikut menjadi peserta misa. Misa berlangsung hingga jam 19.15. Meskipun memakan 2 jam 15 menit, suasana terasa at home karena sharing kisah kondisi kini dan atau sekilas perjalanan selama 45 tahun dari masing-masing masing-masing mantan seminaris. Ketika sampai giliran Rm. Tri Hartono, beliau memberi kode dengan tangan bahwa dia dilewati saja. Tetapi ada yang berkata "Bambang wae sing nyritakake" (Yang memberi ceritera Rm. Bambang saja), sehingga Rm. Bambang berceritera sedikit latar belakang kondisi Rm. Tri Hartono namun juga sekilas perjalanan imamatnya. Dengan sharing-sharing 11 orang ini, keluarga yang ikut mendengar juga tampak ikut tersentuh lubuk hatinya. Sharing ini terjadi pada bagian homili. Di sini Pak Siswata dan keluarganya baru datang menjelang komuni. Dia mendapatkan kesempatan sharing dalam pertemuan terakhir sebelum omong-omong refleksif dimulai oleh Pak Taruno.

3. Makan Malam

Sesudah misa usai, semua menuju meja makan Domus Pacis yang di situ sudah tersedia berbagai menu untuk santap malam. Para relawan berjaga-jaga melayani dan berkesempatan ikut omong-omong baik dengan keluarga maupun mantan seminaris. Rm. Harto disuapi oleh Mbak Tari. Beberapa peserta reuni sambil makan juga berkesempatan mengunjungi Rm. Tri Wahyono di kamarnya. Suasana makan malam pun juga terisi dengan omong-omong akrab sambil sebentar-sebentar berkomentar enak atas santapan yang disediakan. Ternyata tambahan minuman jahe juga menghadirkan kenikmatan. Dalam kesempatan makan malam ini para relawan membagikan tas Domus Pacis yang berisi Kalender Domus 2017 dan buku yang berjudul Tarian Kehidupan. Kalau para rama mendapatkan 1 tas untuk satu rama, yang lain satu tas untuk satu keluarga. Karena harus sendiri mengendarai mobil, Rm. Supriyanto minta diri lebih dahulu ketika acara selanjutnya akan dimulai.

4. Omong-omong Akrab Refleksif

Dalam tahap ini, sesudah Pak Siswata menyampaikan sharing perjalanan hidupnya, Pak Taruna tampil di depan untuk memandu pembicaraan. Di sini Rm. Tri Hartono sudah diantar dengan kursi rodanya kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Rm. Harto malah ikut hadir mendengarkan pembicaraan. "Dari buku Tarian Kehidupan yang dibagikan, saya kira baik kalau kita melihat diri kita saat ini berada dalam babak berapa" kata-kata Pak Taruna membuka pembicaraan. Ternyata beliau memanfaatkan buku itu untuk omong-omong refleksif. Pak Taruna mengajak membuka hal 3 yang memuat daftar isi. Dari daftar isi ada gambaran bahwa hidup ini terdiri dari 9 babak: 1) Mengatur Kompas; 2) Mengusir Kegelapan; 3) Bertumbuh Melalui Kecemasan; 4) Memeluk Kesepian; 5) Halang-rintang Emosional; 6) Disorientasi Spiritual; 7) Mengintegrasikan Diri; 8) Bersahabat dengan Kematian; 9) Tiba di Rumah. Para mantan seminaris, yang sudah berusia 60an tahun, pada umumnya sudah mencicipi bersahabat dengan kematian. Tetapi realita yang dihadapi baik dalam karya maupun aktivitas pelayanan ada dinamika dengan babak-babak lain sebelumnya. Pembicaraan ini sungguh menghadirkan perluasan cakrawala pengalaman. "Selain pengalaman dari mantan seminaris dan imam, bagaimana pengalaman ibu-ibu dan anak-anak berkaitan dengan pasangan atau ayahnya?" kata-kata Pak Taruna juga membuka pengalaman para ibu dan anak-anak yang ikut hadir. Ternyata satu hal yang biasa dirasakan adalah "Para mantan seminaris lebih-lebih yang pernah menghayati imamat adalah orang yang SUDAH TERBENTUK" sehingga kerap terasa agak kaku. Ternyata cap "kaku" ini ditanggapi oleh dengan tertawa penuh pengakuan "Ha ha ha ...." Memang dua ibu mengatakan "Saya memahami" dan "Itu memang manusiawi". Omong-omong ini ditutup ketika jam menunjukkan angka 21.15 karena Rm. Hendra harus segera diantar ke Stasiun Tugu untuk berangkat ke Jakarta dengan kereta api malam.

Lamunan Pesta

Kanak-kanak Suci, Martir
Hari Keempat dalam Oktaf Natal
Rabu, 28 Desember 2016

Matius 2:13-18

2:13. Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."
2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."
2:16. Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.
2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:
2:18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, sikap kejam dan gila kuasa membuat orang hanya mementingkan diri sendiri. Orang demikian tidak akan ambil pusing kalau tindakannya amat mencelakakan pihak-pihak lain.
  • Tampaknya, masyarakat umum mudah mengalami penderitaan karena penguasa kejam dan gila kuasa. Mereka dapat menjadi sasaran pelampiasan apabila sang penguasa mengalami kekhawatiran persaingan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sedalam dan seberat apapun susah derita orang termasuk anak-anak yang tidak tahu apa-apa, kesemuanya memiliki nilai kemuliaan demi kebaikan umum apabila itu terjadi sebagai korban perjuangan kebaikan dan kebenaran. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa kesejatian hidup adalah perjuangan yang selalu harus disertai dengan berbagai pengorbanan.
Ah, segala yang membuat derita ya pasti harus ditolak.

Sabda Hidup


Rabu, 28 Desember 2016
Pesta Kanak-kanak Suci
warna liturgi Merah 
Bacaan
1Yoh. 1:5 – 2:2; Mzm. 124:2-3,4-5,7b-8; Mat. 2:13-18. BcO Kel. 1:8-16,22

Matius 2:13-18:
13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." 14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." 16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Renungan:
Kadang kita menemui orang yang tiba-tiba marah tidak karuan. Orang-orang pun dibuat bingung dengan sikapnya. Selidik punya selidik ternyata kemarahan itu dipicu oleh keinginannya yang tak terpenuhi. Tidak terpenuhinya keinginan tersebut membuat orang tersebut marah tak terkendali.
Herodes menginginkan para majus mampir lagi setelah menemukan di mana Yesus dilahirkan. Namun para majus tidak mampir. Herodes marah karena merasa ditipu dan keinginannya tidak terpenuhi. Dia pun membunuh semua bayi. Namun Yesus selamat. Ia telah dibawa Yusuf pergi ke Mesir. Tuhan melindungi sang Putera karena waktunya belum tiba. Kepergian ke dan kepulangan dari Mesir pun menjadi tanda penggenapan dari Kitab Suci.
Kanak-kanak pilihan Tuhan selalu ada dalam perlindungan-Nya. Kemarahan yang tak terkendali jelas merugikan dan mengancam sesama. Namun mereka yang terpilih akan terbebas dari kemarahan tersebut. Rasanya dari perikop ini kita bisa belajar untuk menahan diri dari amarah yang merugikan sesama kita sekaligus percaya bahwa Allah akan menjaga mereka yang menjadi pilihan-Nya. Tidak ada kemarahan, apalagi yang membabi buta, yang akan memberikan keuntungan dan rahmat.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu. Bayangkan dirimu menginginkan sesuatu namun tidak terpenuhi. Rasakan gejolak hatimu dan kelolalah.

Refleksi:
Bagaimana mengatasi gejolak amarah kala keinginan tak terpenuhi?

Doa:
Tuhan bebaskanlah aku dari amarah yang membabi buta. Jagailah juga orang-orang yang berada dalam gejolak dorongan marah. Semoga mereka mampu mengelolanya dengan baik. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga dan mengelola keinginan dan amarahku. -nasp-