diambil dari http://www.kasih-group.com/id/berita/5076, diposkan pada 18 October 2017
Kartika
Sahabat Betha..! Selamat Pagi, Apa kabar hari ini ? mudah - mudahan
semuanya dalam kondisi sehat ya, Seperti biasa, saatnya RS Betha Medika
memberikan informasi seputar kesehatan,.....Untuk Kali ini Dokter
Spesialis Kulit & Kelamin RS Betha Medika, dr. Kartika Noviani
Widyaningsih,Sp.KK akan berbagi informasi seputar " Pruritus / Gatal
pada Lansia" mudah-mudahan informasi ini dapat menambah luas wawasan
kita tentang dunia kesehatan ya.........
Apakah anda atau keluarga anda yang lanjut usia (lansia) sering
mengalami gatal pada kulit? Apabila iya, maka artikel ini akan dapat
membantu anda mengenali penyakit ini lebih jauh lagi.
Pruritus (gatal) adalah sensasi yang menyebabkan keinginan untuk
menggaruk. Gatal merupakan keluhan kulit paling sering pada lansia.
Kisaran 50% lansia lebih dari 60 tahun mengalami gatal yang berlangsung
kronik dan sulit sembuh serta dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup.
Penyebab gatal pada lansia bervariasi, dapat disebabkan penyakit
peradangan kulit yang mendasari atau dengan keluhan kulit primer seperti
skabies (budukan), eksim dan tanpa penyakit kulit yang mendasari atau
tanpa kelainan kulit primer. Pruritus pada lansia tanpa penyakit radang
kulit yang mendasari dapat disebabkan: (1) xerosis yang merupakan
penyebab tersering, (2) kelainan sistemik termasuk kelainan ginjal, hati
atau keganasan, (3) alergi obat, (4) psikogenik akibat depresi, dan (5)
idiopatik yang disebut dengan pruritus senilis.
Xerosis
Xerosis merupakan keadaan kulit kering dan kasar yang ditemukan hampir
pada semua lansia diduga berhubungan dengan gangguan struktur kulit,
perubahan profil lemak, kekurangan kandungan air dan penurunan produksi
keringat pada lansia. Keluhan awal xerosis berupa kulit kusam, warna
putih keabuan, dan peningkatan topografi kulit. Xerosis lebih berat
terjadi pada daerah dengan jumlah kelenjar minyak sedikit seperti
lengan, tungkai dan badan.
Pruritus karena kelainan ginjal
Gatal merupakan salah satu keluhan yang sering didapatkan pada pasien
dengan kelainan ginjal. Gatal akibat kelainan ginjal timbul pada pasien
dengan peningkatan urea serum dalam darah akibat kelainan ginjal, gagal
ginjal kronik (GGK) tanpa penyakit kulit sebelumnya, kelainan sistemik
lain atau gangguan psikologis yang dapat menyebabkan pruritus.
Pruritus karena kelainan hati
Gatal dikeluhkan 20-25% pasien batu empedu dan 100% pada pasien gagal
hati. Hepatitis C merupakan penyebab penting gatal pada penderita batu
empedu. Gatal akibat kelainan hati dan empedu biasanya generalisata,
berat, dan tidak respon terhadap pemberian obat anti gatal.
Pruritus karena kelainan endokrin
Gatal tanpa kelainan kulit pada penderita diabetes melitus dapat terjadi akibat neuropati diabetik.
Pada wanita lansia, pruritus tanpa penyakit radang kulit dapat terjadi
karena defisiensi hormon estrogen akibat menopause yang dihubungkan
dengan diabetes melitus. Pruritus ini disebut dengan pruritus
postmenopause.
Pruritus terkait Keganasan
Kisaran 5-27% pasien tumor mengeluh gatal. Gatal dapat timbul beberapa
tahun sebelum tumor terdeteksi tanpa lesi kulit ataupun dengan lesi
kulit. Pasien lansia dengan keluhan gatal tanpa lesi kulit harus selalu
dicurigai memiliki kelainan sistemik yang mendasari, termasuk keganasan.
Tumor yang dilaporkan berhubungan dengan gatal termasuk tumor paru,
usus, payudara, lambung, dan prostat. Gatal yang berhubungan dengan
keganasan umumnya generalisata walaupun pada beberapa kasus gatal dapat
terlokalisasi di daerah sekitar tumor.
Reaksi alergi obat
Lesi kulit yang sering ditemui pada alergi obat berupa bentol (urtika)
atau bercak dan bintil merah, gatal bersifat mendadak dan terdapat
riwayat konsumsi obat sebelumnya. Reaksi alergi obat relatif lebih
sering terjadi pada lansia karena interaksi dengan obat lain yang juga
dikonsumsi serta terdapat gangguan metabolisme akibat penuaan sistem
organ.
Psikogenik
Kisaran 42% pasien psikiatrik termasuk depresi dan psikosomatis mengeluh
gatal dan berhubungan dengan stress psikososial. Pruritus psikogenik
dapat terlokalisasi atau generalisata. Pruritus vulva sering merupakan
manifestasi puritus psikogenik terlokalisasi pada wanita. Serangan
pruritus nocturnal atau gatal pada malam hari sering terjadi pada pasien
ansietas (gangguan cemas).
Pruritus Senilis
Pruritus senilis merupakan gatal tanpa lesi kulit primer yang timbul
pada lansia dan tidak diketahui penyebabnya, termasuk tidak ditemukan
xerosis, kelainan sistemik, reaksi obat maupun kelainan psikogenik.
Pemeriksaan kulit pada pruritus tanpa kelainan radang kulit yang
mendasari dapat tidak ditemukan kelainan apapun atau hanya ditemukan
lesi sekunder akibat garukan seperti lecet atau penebalan.
Tatalaksana pasien lansia dengan pruritus tanpa penyakit radang kulit
yang mendasari adalah menghilangkan faktor penyebab dan mengobati
penyakit sistemik yang mendasari sehingga kadang dibutuhkan interaksi
multidisiplin. Pemilihan obat anti gatal oles dan minum disesuaikan
dengan kelainan yang mendasari pruritus. Penggunaan obat oles seperti
steroid, anti gatal dan anestetik oles yang tidak tepat harus
dihindari.
Selain pengobatan berupa pelembap untuk xerosis pada lansia, beberapa
hal terkait perawatan kulit termasuk mengurangi frekuensi mandi,
pengaturan kelembapan di dalam ruangan, pencegahan berkeringat
berlebihan, menghindari mandi menggunakan air panas, sabun, dan bahan
pakaian yang bersifat iritan juga harus disarankan pada pasien xerosis.
Beberapa penelitian menunjukkan terapi perubahan perilaku menggaruk dan
menurunkan stress melalui meditasi dan yoga dapat mengurangi intensitas
pruritus. Akupunktur, hipnoterapi, aromaterapi, dan latihan pernafasan
dalam dilaporkan dapat mengurangi gatal kronik
Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian, salam sehat dari kami keluarga besar Rumah Sakit Betha Medika.