Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, March 29, 2018

Lamunan Pekan Suci Hari Jumat Agung

Jumat, 30 Maret 2018

Yohanes 18:1-19:42

18:1. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
18:2 Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
18:3 Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
18:4 Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?"
18:5 Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.
18:6 Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
18:7 Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."
18:8 Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
18:9 Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa."
18:10 Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.
18:11 Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"
18:12 Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia.

18:13. Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar;
18:14 dan Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: "Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa."
18:15 Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar,
18:16 tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk.
18:17 Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: "Bukankah engkau juga murid orang itu?" Jawab Petrus: "Bukan!"
18:18 Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka.
18:19 Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.
18:20 Jawab Yesus kepadanya: "Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.
18:21 Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan."
18:22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?"
18:23 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?"
18:24 Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu.
18:25 Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: "Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?"
18:26 Ia menyangkalnya, katanya: "Bukan." Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: "Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?"
18:27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.

18:28. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.
18:29 Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?"
18:30 Jawab mereka kepadanya: "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!"
18:31 Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."
18:32 Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
18:33 Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"
18:34 Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"
18:35 Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?"
18:36 Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."
18:37 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."
18:38 Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.
18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?"
18:40 Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun.

19:1. Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
19:2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu,
19:3 dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.
19:4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!"
19:6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
19:7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah."
19:8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia,
19:9 lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya.
19:10 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"
19:11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya."
19:12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar."
19:13 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata.
19:14 Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
19:15 Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"

19:16. Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (19-16b) Mereka menerima Yesus.
19:17 Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.
19:18 Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

19:19. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."
19:20 Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.
19:21 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."
19:22 Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."
19:23 Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
19:24 Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
19:25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
19:26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!"
19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

19:31. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib--sebab Sabat itu adalah hari yang besar--maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
19:35 Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.
19:36 Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan."
19:37 Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."

19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea--ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi--meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
19:42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang baik akan bebas dari derita. Tuhan akan selalu melindungi dari yang jahat.
  • Tampaknya, dengan gambaran seperti itu orang yang mengalami derita dianggap memiliki kesalahan dalam hidupnya. Yang jauh atau menjauhkan diri dari Tuhan akan sengsara hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun mengalami derita yang amat besar dan mendalam bahkan mendapatkan hukuman berat, kalau hidupnya biasa demi kebaikan banyak orang, kesemuanya justru menjadi saat istimewa sehingga amat banyak orang kagum dan hormat padanya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang memiliki keyakinan bahwa tak ada kebahagiaan yang menyingkirkan pengorbanan.
Ah, kalau baik orang tak akan menderita.

Wednesday, March 28, 2018

Kamis Putih 29 Maret 2018 (Yoh 13:1-15; 1Kor 11:23-26)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org Ditulis oleh admin pada Sen, 26/03/2018 - 17:32


Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Kamis Putih dibacakan kisah pembasuhan kaki para murid (Yoh 13:1-15). Tindakan ini dimengerti Petrus sebagai ungkapan merendah dari gurunya di hadapan para murid. Yesus meluruskan pendapat Petrus tadi sambil mengajarkan hal yang lebih dalam lagi.
Hanya dalam Injil Yohanes sajalah dikisahkan tindakan Yesus membasuh kaki para murid. Memang orang biasa membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan sebagai ungkapan mau ikut pesta dengan bersih. Hanya tamu yang amat dihormati saja, misalnya seorang guru atau orang yang dituakan, akan dibasuh kakinya. Dan bila dilakukan, akan dijalankan sebelum perjamuan mulai. Hanya pelayan rumah sajalah yang melakukan pembasuhan kaki tetamu, bukan tuan rumah. Injil Yohanes mengubah dan bahkan membongkar peran-peran tadi.
Yesus sang Guru dan tuan rumah itu kini membasuh kaki para muridnya, para tamunya. Apakah dengan demikian hendak disampaikan ia menjalankan peran sebagai hamba, hamba yang diutus dari atas sana, dari Allah sendiri? Menarik. Ini bisa menjadi dasar spiritualitas pengabdian sang hamba yang terungkap dalam syair-syair Ebed Yahwe (Yes 42:1-4; 49:1-6; 50:4-11, terutama 52:13-53:12). Tetapi tak usah kita tergesa-gesa ke sana. Mari kita amati lebih lanjut terlebih dahulu peristiwa yang dikisahkan Yohanes. Pembasuhan ini terjadi selama perjamuan sendiri, bukan sebelum, seperti lazim dilakukan orang. Tidak biasa. Boleh jadi Yohanes memang sengaja ingin menyampaikan hal-hal yang tidak lazim sehingga pembacanya mulai memikir-mikirkan apa gerangan maksudnya. Bila begitu, pembasuhan kaki di sini boleh jadi bukan ditampilkan sebagai tanda memasuki perjamuan dengan kaki bersih, atau ungkapan pengabdian serta kerendahan hati yang membasuh, melainkan guna menandai hal lain. Apa itu? Baiklah didekati kekhususan Yohanes dalam mengisahkan kejadian-kejadian terakhir dalam hidup Yesus.
Yohanes menceritakan hari-hari terakhir Yesus dengan cara yang agak berbeda dengan ketiga Injil lainnya. Dalam Injil Markus, Matius dan Lukas, kedatangan Yesus ke Yerusalem mengawali peristiwa-peristiwa yang membawanya masuk ke dalam penderitaan, kematian dan kebangkitannya nanti, termasuk di dalamnya perjamuan Paskah. Yohanes lain. Kedatangan Yesus ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Bagi Yohanes, serangkaian kejadian yang berakhir dengan kebangkitan itu justru berawal pada perjamuan malam terakhir. Berbeda juga dengan ketiga Injil lainnya, perjamuan ini bukan perjamuan Paskah, melainkan perjamuan malam yang diadakannya sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paskah yang baru akan terjadi dalam ujud pengorbanan Yesus di salib.
Ditekankan oleh Yohanes bahwa Yesus sungguh menyadari dirinya "datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah" (ay. 3). Karena itu mereka yang mengenalnya akan mengenali Yang Ilahi dari dekat. Ini semua diajarkan Yesus kepada para murid terdekat pada perjamuan malam terakhir itu dengan membasuh kaki mereka. Dia yang sadar berasal dari Allah dan sedang kembali menuju kepada-Nya ingin menunjukkan bahwa orang-orang terdekat itu sedemikian berharga, sedemikian terhormat.
Lebih dari itu, ia ingin berbagi "asal dan tujuan" - dari siapa dan menuju ke siapa - dengan orang-orang yang paling dekat ini. Inilah yang dimaksud dengan mengasihi "sampai pada kesudahannya" (ay. 1). Tidak setengah-setengah melainkan sampai saat tujuan kedatangannya terlaksana, yakni membawa manusia ke dekat Allah, pengasal terang dan kehidupan sendiri. Berbagi asal dan tujuan itu cara Yohanes mengutarakan bagaimana Yesus berbagi kehidupan seutuh-utuhnya dengan pengikut-pengikutnya. Sekaligus terasa ada ajakan bahwa mengikuti Yesus bukan sekadar menyertainya sebentar-sebentar, dari sini sampai situ, melainkan dari awal hingga akhir. Justru dengan demikian manusia akan menjadi manusia sempurna.
Petrus terheran-heran dan tak bisa menerima gurunya membasuh kakinya. Murid yang serba spontan ini melihat gurunya melakukan tindakan merendah. Hanya itulah yang dilihatnya. Ia terlalu berakar dalam kerohaniannya sendiri. Yang hendak diberikan Yesus ialah sesuatu yang baru yang belum berkembang dalam diri para pengikutnya, bahkan yang paling dekat seperti Petrus sendiri. Yesus mengatakan bahwa kelak ia akan mengerti walaupun kini belum menangkapnya (ay. 6-7). Petrus belum puas dan bersikeras menolak dibasuh kakinya oleh gurunya itu. Mari kita dengar penjelasan Yesus sendiri kepada Petrus dan kepada siapa saja yang merasa seperti Petrus di hadapan Yesus sore ini.
Yesus menjelaskan, "Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku." (ay. 8). Dia yang sadar bahwa "asal dan tujuan"-nya ialah Allah sendiri itu (ay. 3) kini hendak berbagi kehidupan dengan para murid! Bila asal dan akhir itu Allah sendiri, tentunya yang dimaksud ialah Allah sumber terang, sumber kehidupan. Utusannya datang ke dunia yang masih berada dalam ancaman kuasa gelap untuk membawa kembali orang-orang yang dekat padanya kembali ke sumber terang, kepada Allah, ke sumber kehidupan sendiri. Bila bisa dipakai istilah dalam budaya rohani Nusantara, maka berbagi "sangkan paran" kehidupan yang dilakukan Yesus menjadi jalan keselamatan bagi manusia.
Yesus juga menegaskan bahwa pembasuhan kaki dengan makna seperti di atas itu disampaikan sebagai teladan bagi para murid, agar mereka berbuat seperti itu satu sama lain (ay. 15), dengan maksud saling berbagi pengertian "dari mana dan ke mananya hidup ini", pengertian yang sudah mulai diterima dari perjumpaan dengan sang Guru kehidupan tadi. Meneladan bukan sekadar untuk meniru, melainkan upaya untuk menghidupi kepercayaan bahwa Yesus itu datang dari Allah dan pulang kepada-Nya setelah berhasil memperkenalkan siapa Allah itu sesungguhnya. Bila demikian, rasa-rasanya memang ada sesuatu yang lebih dalam yang hendak dicapai dengan sikap saling melayani.
Boleh dikatakan, saat itulah lahir kumpulan orang yang hidup berbekal sikap Yesus yang menganggap sesama sedemikian berharga sehingga pantas dilayani dan dihormati. Inilah Gereja dalam ujudnya yang paling rohani, paling spiritual. Dalam arti inilah Gereja berbagi "asal dan tujuan" dengan Yesus sendiri. Kehidupan Gereja yang berpusat pada ekaristi baru bisa utuh bila dihidupi oleh bekal yang diberikan Yesus tadi. Hanya dengan cara itu Gereja akan tetap memiliki integritas. Memang kaum beriman masih berada di dunia, masih berada dalam kancah pergulatan dengan kekuatan-kekuatan gelap, tetapi arahnya jelas, ke asal dan tujuan tadi: ke sumber terang sendiri bersama dengan dia yang diutus oleh-Nya.
Karena itu tak perlu heran bila para murid tidak semuanya bersih. Yesus berkata dalam ay. 11 "Tidak semua kamu bersih." Kata-kata itu tak usah ditangkap sebagai celaan atau peringatan melainkan sebagai pengakuan bahwa masih ada kekuatan-kekuatan gelap yang dapat menyesatkan orang yang berkehendak baik sekalipun. Kekuatan ini menghalangi orang untuk melihat dan mendalami "dari mana dan ke mananya" hidup ini. Tetapi nanti pada saat ia kembali kepada Allah, kekuatan ilahi akan tampil dengan kebesarannya dan saat itu jelas kekuatan-kekuatan gelap tidak lagi menguasai meskipun tetap dapat menyakitkan. Penderitaan tidak akan memporakperandakan kumpulan orang-orang yang percaya kepadanya. Malah menguatkan harapan. Inilah yang diajarkan pada hari ini.
DARI BACAAN KEDUA: 1Kor 11:23-26
Paulus mengajak umat di Korintus untuk semakin menyadari kenyataan rohani dari upacara ibadat ekaristi yang biasa mereka jalankan. Dalam beberapa kesempatan, di Korintus kiranya terjadi hal-hal yang kurang pantas, seperti menjalankan ibadah ekaristi seperti pesta makan minum belaka. Memang ekaristi berkembang dari upacara dengan perjamuan di kalangan Yahudi untuk merayakan iman turun temurun mereka dibawa keluar dari penderitaan di Mesir. Di kalangan umat kristiani, kemudian ekaristi dirayakan untuk menghadirkan kembali ingatan akan tindakan Yesus dalam membangun komunitas para pengikutnya pada perjamuan malam sebelum ia mengalami salib. Oleh karena itu Paulus menggarisbawahi kekhidmatan perjamuan ekaristi dan berusaha agar umat tidak menyamakan dengan perjamuan makan biasa yang dikenal orang Korintus. Ini konteks petikan tadi, bisa dibaca pada 1Kor 11:7-22.
Pada awal petikan kali ini, yakni ay. 23, Paulus menandaskan kembali kekeramatan ekaristi yang berasal dari Yesus sendiri - sebagai orang Yahudi, Yesus tentunya merayakan perjamuan makan cara Yahudi, yakni memperingati tindakan pembebasan umat Perjanjian Lama dari Mesir tadi. Tetapi ditegaskan Paulus juga kebaruan ekaristi yang dirayakan Yesus sebelum mengalami salib tadi, yakni bahwa ia telah memberikan dirinya - tubuhnya bagi orang banyak (ay. 24) dan telah memeteraikan, meresmikan perjanjian yang baru (yakni perjanjian keselamatan orang banyak sekarang) dengan darahnya - maksudnya, hidupnya. Jadi kehidupan yang dikorbankan bagi orang banyak, itulah yang jadi pokok yang dirayakan dalam perjamuan ekaristi. Begitu Paulus. Ini juga kenyataan pengorbanan Yesus yang diingat para pengikutnya - maksudnya dipegang dalam batin dan kesadaran - sampai "ia datang". Maksudnya sampai pengorbanan yang sudah dijalankannya itu mencapai kepenuhannya, sampai orang banyak mengalami penyelamatan utuh. Ada ajakan untuk memberitakan pengorbanan yang membawakan penyelamatan seperti ini (ay. 26)
Salam hangat,
A. Gianto

Percikan Nas Kamis, 29 Maret 2018

HARI KAMIS PUTIH
warna liturgi Ungu

Kamis, 29 Maret 2018

Bacaan-bacaan:
Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15. BcO Rat. 5:1-22.
Nas Injil:
1 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5bkemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” 7 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” 8 Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” 10 Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
Percikan Nas
Hari ini kita memasuki hari-hari suci sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Kita mulai dengan hari Kamis Putih. Pada hari ini banyak hal indah kita renungkan dalam liturgi kudus: ekaristi, prosesi dan adorasi. Secara khusus dalam ekaristi kita merenungkan tindakan Yesus yang mengadakan perjamuan Paskah bersama para murid dan membasuh kaki mereka.
Membasuh kaki sangat biasa kita lakukan sendiri. Namun bila orang yang kita hormati membasuh kaki kita maka rasanya akan sangat istimewa sekali. Petrus pun merasa tidak layak dibasuh kakinya oleh Yesus. Tindakan membasuh kaki biasanya dilakukan oleh pelayan kepada tuannya. Maka bagi para murid ini menjadi tindakan yang sangat luar biasa. Pasti rasa yang mereka alami pun luar biasa.
Di akhir aktivitas pembasuhan kaki itu Yesus mengatakan, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Mengingat pesan tersebut baik kiranya kalau saya mengusulkan kepada keluarga-keluarga untuk saling membasuh kaki sepulang dari Gereja. Lakukan itu sebagai tindakan cinta bagi setiap anggota keluarga. Saat kaki dibasuh, rasakan cinta yang mengalir dari yang membasuh kakimu.
Doa:
Tuhan Engkau sungguh mencintai kami. Engkau rela mengerjakan pekerjaan pelayan untuk para murid-Mu. Semoga aku pun bisa mengalirkan cinta itu kepada keluargaku dan orang-orang yang kukasihi. Amin.
(goeng)

Lamunan Hari Raya

Kamis Putih
Kamis, 29 Maret 2018

Yohanes 13:1-15

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"
13:7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
13:8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"
13:10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."
13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa guru hebat adalah yang pandai mengajar. Segala yang dikatakan menjadi penjelasan yang memudahkan para murid untuk menangkap isi pelajaran.
  • Tampaknya, ada gambaran  bahwa pemimpin hebat adalah yang mampu mempengaruhi yang dipimpin. Dia mampu menciptakan iklim yang membuat para bawahan terlibat memperjuangkan terealisasinya apa yang dikehendaki.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehebat apapun seorang guru dalam memberikan penjelasan pada para murid dan semengagumkan apapun seorang pemimpin sehingga mampu membuat para bawahan taat, guru dan pemimpin yang sungguh hebat adalah yang sendiri mampu menjalani lebih dahulu yang diajarkan dan diperintahkan untuk para murid dan yang dipimpin. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati guru dan pemimpin sejati adalah penghadir tindakan keteladanan dari yang diajarkan dan diperintahkan.
Ah, guru dan pemimpin yang hebat adalah yang mendapatkan gaji besar.

Tuesday, March 27, 2018

MENGHAYATI MISTERI PASKAH

diambil dari https://catatanseorangofs.wordpress.com/2010/04/15
MENGHAYATI MISTERI PASKAH  *) 
Tuhan sungguh bangkit, halelluya! Selamat Paskah kepada Saudara-saudari sekalian! 
Di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia modern ini dan betapa kemelutnya situasi ekonomi, politik, hukum, sosial serta budaya bangsa dan negara kita dewasa ini, baiklah kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan arti dan realitas ‘misteri Paskah’ dalam kehidupan seorang Kristiani. Sadarkah kita masing-masing bahwa panggilan Kristiani kita adalah untuk menghayati atau menjalani hidup ‘misteri Paskah’? Apakah kita melihat bahwa panggilan untuk ‘mati’ bersama Kristus sebenarnya merupakan sebuah undangan yang memberi kehidupan? Apakah kita mempunyai visi kebangkitan yang membuat ‘mati sehari-hari terhadap diri kita sendiri’ sebagai anugerah, sebagai karunia dari Allah, sebagai pengalaman yang membebaskan? Menghayati ‘misteri Paskah’ dalam dunia seperti ini berarti menjadi ‘tanda lawan’: berpikir, bersikap dan berperilaku bertentangan dengan budaya yang berlaku (counter-culture). Dapatkah atau mampukah kita mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sebagai seorang Kristiani (yang Katolik, kalau mau ditambahkan sedikit embel-embel), apakah ‘mati terhadap diri sendiri’ telah membuat kita masing-masing menjadi seorang insan yang lebih bebas-merdeka, menjadi seorang pribadi yang kehidupan sehari-harinya lebih berpusat pada Kristus? Dalam tradisi Fransiskan yang kita profesikan, bagian mana dari realitas ‘kematian-kebangkitan’ ini memainkan perannya? Apa saja yang telah diwariskan oleh Bapak Serafik kita dalam tulisan-tulisannya? Apakah artinya semua itu bagi kita masing-masing sebagai seorang Kristiani dan sebagai seorang Fransiskan sekular? 
Dalam tulisan ini, kalau saya katakan ‘kematian’, maka hal ini bukan berarti akhir dari kehidupan fisik, melainkan berarti suatu transformasi karena dipengaruhi oleh visi akan kehidupan yang lebih agung. Sejalan dengan itu, ‘kebangkitan’ bukanlah bangkit dari keadaan yang busuk dan tak berguna, melainkan pengalaman hidup yang mendalam: hidup dan mengalami Kerajaan Allah, di sini dan pada saat ini. Tentu saja arti paling dalam dari ‘misteri Paskah’ adalah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sendiri, tetapi dalam kesempatan ini dipakai juga untuk menunjukkan ‘kematian sehari-hari terhadap diri sendiri’, suatu pertobatan yang terus-menerus, penerimaan hidup ini – meskipun dengan segala pertanyaan yang menyertainya, dan juga ketidakpastian masa depan yang dihadapi. 
Tentu saja contoh yang paling sempurna diberikan oleh kehidupan Tuhan Yesus sendiri. Sabda-Nya yang kita baca dan renungkan dalam Injil tidak hanya berbicara mengenai realitas kehidupan yang dihayati-Nya, tetapi juga mengundang kita untuk menghayatinya bersama dengan Dia. “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:23-24). “Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). 
Menjadi orang Kristiani berarti mengikut jejak Yesus Kristus. Sadarkah kita akan implikasi dari pernyataan ini? Apabila kita menghadiri Misa Kudus, bukankah ini berarti menghadiri ‘perayaan misteri Paskah’? Bukankah liturgi merupakan sebuah sumber yang kuat bagi kita untuk merangkul cara hidup sehari-hari yang ‘mati terhadap diri sendiri’, agar dapat bangkit bersama Kristus dalam pengalaman penghayatan hidup Kerajaan Allah di bumi ini? Bacalah dan renungkanlah kembali AD OFS, khususnya Fasal 2 Artikel 8. 
Ada yang mengatakan, bahwa kehidupan Fransiskus dari Assisi tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah kehidupan Kristiani. Nah, kalau begitu apa bedanya dengan sebagian besar umat Kristiani lainnya? Bedanya adalah dalam hal intensitas dan imajinasi dalam penghayatan hidup Kristianinya. Bagi Fransiskus ‘misteri Paskah’ sungguh merupakan sebuah realitas; begitu nyata dalam kehidupannya sehingga tubuhnya sendiri pun ditandai dengan stigmata suci Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dalam bagian-bagian awal riwayat hidupnya yang ditulis oleh Beato Thomas dari Celano, kita dapat membaca betapa kuat hasrat Fransiskus untuk dapat mengidentifikasikan dirinya dengan Yesus, untuk dapat menghayati ‘misteri Paskah’, untuk merangkul realitas ‘kematian-kebangkitan’ itu. Pada tahap-tahap awal hidup pertobatannya ini Fransiskus mengalami penghinaan, penolakan, penganiayaan, cemoohan, kehilangan hak waris dari orangtuanya dan lain sebagainya. Akhirnya Fransiskus pun bahkan mati terhadap berbagai sifat dan sikap yang biasanya melekat pada seorang anggota keluarga borjuis …… dia mencium seorang kusta: suatu tindakan yang sebelumnya tak mampu dilakukannya, meskipun bukan berarti bahwa dulu – sebelum peristiwa tersebut – dia membenci orang kusta. 
Seluruh hidup Fransiskus merupakan sebuah pendakian menanjak menuju transformasi total ke dalam Kristus yang tersalib. Hidupnya tahap demi tahap menjadi suatu keikutsertaan dalam ‘misteri salib yang agung dan ajaib’ (lihat LegMaj, Lampiran Pasal X:8 – dalam terjemahan bahasa Indonesia terdapat pada hal. 101; Omnibus, hal. 786-787). Cara Fransiskus menghayati ‘misteri Paskah’ adalah dari hari ke hari ‘mati’, dari menit ke menit ‘mati’, sehingga Kristus dapat hidup lebih penuh dalam dirinya. Berikut ini yang ditulis oleh Thomas dari Celano, “Fransiskus sudah mati bagi dunia, tetapi Kristus hidup dalam dia. Kenikmatan-kenikmatan dunia baginya adalah salib yang menyiksa, karena ia membawa salib Kristus, yang telah berakar dalam di hatinya” (2Cel 211). Bagi Fransiskus ‘mati’ bukan berarti ‘mati demi mati itu sendiri’, melainkan ‘mati’ sebagai sebuah sarana untuk bersatu dengan Tuhan, sebuah keikutsertaan dalam kehidupan Kristus sendiri. Fransiskus adalah seorang pencinta. Karena Fransiskus begitu mengasihi Yesus Kristus, tidak ada ‘kematian’ yang begitu sulit atau berada di luar jangkauannya; matanya selalu terpaku pada Tuhan Yesus yang tersalib. Visi ini dan cintakasih inilah yang merupakan kekuatan motivasi dalam kehidupan Fransiskus. Setelah setiap tindakan asketismenya – setiap tindakan ‘mati’ terhadap dirinya sendiri – Fransiskus mengalami sebuah hidup dalam Kristus yang lebih mendalam; dia menjadi lebih mengakar dalam Kristus sehingga dengan demikian mampu menghayati hidup Kerajaan Allah di bumi ini. 
Ada banyak contoh dalam kehidupan Fransiskus yang menunjukkan penghayatannya akan ‘misteri Paskah’, namun yang terlebih penting adalah tulisan-tulisannya bagi kita perihal realitas ini. Dia telah mewariskan kepada kita sebuah undangan yang sekaligus merupakan sebuah tantangan. Dia memberikan isyarat kepada kita, bahwa kita harus ‘mati’ untuk dapat ‘bangkit’. Seperti Tuhan dan Gurunya (Yesus), Fransiskus mengundang kita untuk menyangkal diri kita sendiri. Dia menjanjikan Kerajaan Allah dan keselamatan dari Allah, apabila kita juga mempunyai keberanian untuk menghayati ‘misteri Paskah’ dengan mengikuti jejak Tuhan Yesus Kristus. 
Undangan Fransiskus bagi orang-orang untuk hidup pertobatan dapat ditelurusi dalam Anggaran Dasar Tanpa Bulla (AngTBul), teristimewa dalam bab I, III dan IX. Penekanan kerendahan hati dan kemiskinan sebagai cara untuk memeluk ‘misteri Paskah’ dapat dilihat dalam AngTBul V, VI, VII dan XI. Kalau kita melihat apa yang ditulis dalam AngTBul, ‘mati terhadap diri sendiri’ menuntut suatu pertobatan hati, sebuah hati yang berubah, suatu pengolahan sikap-sikap dan nilai-nilai sebagai tanda lawan, dan visi di mana Tuhan disembah di atas segala-galanya. 
Fransiskus percaya bahwa ‘kematian’ dalam segala bentuknya membuka telinga hati kepada Allah, membebaskan kita dari diri kita sendiri, mempertajam visi kita dan penghargaan kita atas nilai segala kehidupan, serta memberikan kita sukacita dan damai di hati yang tidak dapat direbut oleh siapa pun karena memang berakar dalam Allah kita: “Dan hendaklah mereka menjaga diri, jangan sampai mukanya tampak sedih dan muram seperti orang munafik; tetapi hendaklah mereka nampak bersukacita dalam Tuhan dan riang gembira serta penuh rasa terima kasih sebagaimana mestinya” (AngTBul VII:16). 
Bagi Fransiskus tidak cukuplah kalau para anak rohaninya saja yang menghayati ‘misteri Paskah’ ini. Dia menugaskan saudara-saudaranya juga untuk memanggil orang-orang lain pula guna menghayati realitas ‘kematian-kebangkitan’ ini: “…… minta dan mohon dengan rendah hati, semoga kita semua bertekun dalam iman yang benar dan dalam pertobatan, sebab kalau tidak demikian, tidak seorang pun dapat diselamatkan” (AngTBul XXXIII:7). Kita lihat bahwa AngTBul mencerminkan realitas yang dihayati dalam hidup Fransiskus sendiri: memeluk/merangkul ‘mati terhadap diri sendiri’ setiap hari. Hidup pertobatan dilihat oleh Fransiskus bukan sebagai sebuah beban, tetapi suatu pembebasan dan keikutsertaan dalam hidup Yesus Kristus sendiri. Sebagai Fransiskan, apakah kita memperkenankan budaya dan masyarakat mendikte dan mengontrol nilai-nilai dan visi Fransiskan kita? Apakah kita juga suka tergelincir ke dalam enaknya kebanggaan, kesuksesan, kepemilikan harta atau pun ilmu pengetahuan dan lain sebagainya? Sudah lupakah kita bagaimana untuk ‘mati’? 
Bagi Fransiskus misteri ‘kematian’ bersama Kristus agar dapat bangkit bersama dengan-Nya kepada hidup yang baru adalah sesuatu yang sungguh riil dan dia menghadapinya dengan penuh semangat. Dia tidak melihat hidup pertobatan sebagai sekadar suatu tindakan batiniah dan niat baik, tetapi sebagai suatu cara konkret untuk mengungkapkan tindakan mengikuti Kristus. Banyak nasihat yang diberikannya kepada para saudara dina berpusat pada tema ini. Lihat misalnya Petuah-petuah (Pth) V, khususnya ayat 8: Warisan dan sukacita yang kita miliki adalah hidup penuh rasa syukur, mati setiap hari dengan memikul salib secara penuh kemauan serta cintakasih. Dalam Pth VI Fransiskus juga memberikan petuah kepada kita masing-masing untuk ‘mati’, untuk memeluk/merangkul salib – dalam mengikuti jejak Yesus Kristus, bukan hanya sekali saja, tetapi sebagai pilihan harian untuk mengikuti Dia dalam pengalaman ‘kematian-kebangkitan’ ini. Sekarang marilah kita lihat Pth X dan XIV. Dapatkah kita menghayati nilai-nilai yang diajukan oleh Fransiskus dalam kedua petuah ini? 
Bagi Fransiskus penyangkalan diri secara total penting sebagai sebuah sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan Yesus Kristus secara total. Oleh karena itu tidak ada batas bagi ‘mati’ yang disarankan olehnya kepada kita: semua harus diberikan, segala bentuk ‘kematian’ yang dimungkinkan harus dipeluk/dirangkul. Dia menulis kepada seluruh Ordo: “Karena itu janganlah menahan sesuatu pun yang ada padamu bagi dirimu sendiri, agar kamu seutuh-utuhnya diterima oleh Dia, yang memberikan diri-Nya seutuhnya bagi kamu” (SurOrd 29). Kita tidak usah melekat atau lengket pada apa pun, tidak usaha takut pada ‘kematian’ macam apa pun, kalau kita berpengharapan untuk diterima oleh Tuhan Yesus. Oleh karena panggilan kita sebagai Fransiskan adalah untuk memberi kesaksian tentang Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus lewat kata-kata dan perbuatan, maka kita pun seharusnya menyadari perlunya untuk menghayati kata-kata Bapak Fransiskus ini: “Bertekunlah dalam ketertiban dan ketaatan yang suci serta penuhilah apa yang telah kamu janjikan kepada-Nya dengan niat yang baik dan teguh” (SurOr 10). Untuk tertib dan taat, seseorang harus tahu bagaimana rasanya ‘mati’, suatu pengalaman penyerahan diri, kebebasan untuk melepaskan segala kepentingan diri sendiri. 
Fransiskus melihat Ekaristi bukan saja sebagai peringatan akan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi juga sebagai suatu keikutsertaan dalam misteri ini. Dia mengkontemplasikan kehadiran-nyata Kristus dalam Ekaristi sebagai kehadiran terus-menerus di atas bumi ini dari penebusan yang terlaksana pada kurban salib. Dia menulis kepada seluruh Ordo: “Karena itu aku mohon kepada kamu semua, Saudara-saudara, dengan mencium kakimu dan dengan kasih sebesar-sebesarnya, agar kamu, sesuai dengan kemampuanmu, menyatakan segala hormat dan khidmat kepada Tuhan dan Darah Mahakudus Tuhan kita Yesus Kristus; di dalam Dia, segala sesuatu yang ada di surga dan di bumi diperdamaikan dan dipersatukan kembali dengan Allah Yang Mahakuasa” (SurOr 12-13). 
Dalam Surat kedua kepada kaum Beriman (2SurBerim), Fransiskus mengundang kaum beriman untuk menghayati ‘misteri Paskah’. Dia mengingatkan mereka akan perayaan Paskah Tuhan, penderitaan-Nya di taman Getsemani, kematian-Nya terhadap kehendak sendiri dan penerimaan-Nya akan kehendak Bapa. Fransiskus mengingatkan kita bahwa kurban Tuhan Yesus di kayu salib adalah demi kita semua, dan pengosongan diri-Nya bersifat total dan lengkap. Fransiskus meyakinkan kembali para pembaca suratnya itu bahwa sebagai orang-orang Kristiani, panggilan mereka adalah untuk ‘mengikuti jejak langkah Tuhan kita Yesus Kristus’ melalui cara ‘mati terhadap diri sendiri’. Ketika berbicara mengenai ‘kematian terhadap hasrat kedagingan’ dan menghayati suatu hidup pertobatan, Fransiskus berkata: “Dan semua orang, pria maupun wanita, apabila melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka. Maka mereka akan menjadi anak-anak Bapa surgawi, yang karya-Nya mereka laksanakan” (2SurBerim 48-49). Bukankah dalam hal ini Fransiskus menjamin pengalaman kebangkitan, di sini dan sekarang? 
Banyak lagi yang dapat diketemukan dalam tulisan-tulisan Fransiskus perihal ‘misteri Paskah’ dalam pengertian tulisan ini. Dengan begitu banyak cara Fransiskus mencoba meyakinkan para pembaca tulisan-tulisannya, bahwa menghayati ‘misteri Paskah’ adalah rahasia untuk memperoleh keselamatan, janji akan Kerajaan Allah, pengalaman memerdekakan diri sendiri bagi Allah, pengalaman realitas ini merupakan  pengasah visi yang membawa seseorang untuk sampai pada ketergantungan penuh pada Allah dan mendorong rasa hormat terhadap segala sesuatu. Dia telah menulis dengan banyak cara untuk menerangkan bahwa para pengikutnya harus memeluk/merangkul salib, untuk mengalami bukan saja harus bersedia ‘mati’, tetapi siap untuk begitu dengan penuh rasa cinta. Setiap hari kita dipanggil untuk ‘mati’ dengan berbagai cara yang berbeda-beda: ‘mati terhadap hasrat-hasrat alamiah kita’ dengan melakukan ulah-tapa dan puasa, ‘mati terhadap kemauan kita’ dengan mendengarkan orang lain, memberi serta bersikap penuh ketaatan, ‘mati terhadap diri sendiri’ dengan berserah-diri di luar batas akal. Pesan Fransiskus adalah sebuah undangan untuk menjadi ‘tanda lawan’, untuk menjadi terpisah dari orang banyak, untuk mengembangkan sikap-sikap yang tidak selalu dapat diterima oleh masyarakat. 
Apabila ‘mati terhadap diri sendiri’ ini merupakan bagian vital dari warisan dan misi Fransiskan, barangkali kita perlu merefleksikannya, baik secara pribadi maupun sebagai persaudaraan, untuk menemukan dan menemukannya kembali. 
Pada akhir hidupnya, Fransiskus berpesan: “Saudara-saudaraku, kita harus mulai melayani Tuhan Allah kita, sebab hingga kini sedikit saja yang telah kita lakukan” (LegMaj XIV:1). Barangkali ada semacam ‘kematian’ tertentu dalam hal setiap kali kita ‘mulai lagi’, dalam arti tidak terjebak dalam rasa puas diri atas hasil yang telah dicapai dan lain sebagainya. Barangkali kita perlu melihat setiap hari sebagai permulaan dari proses ‘kematian’ kita. Barangkali kita perlu menemukan – tidak sekadar dengan intelek kita, tetapi dengan kehidupan kita sendiri – arti dari ‘kehidupan baru lewat kematian’. Kepada kita telah diwariskan undangan untuk ‘mati’, untuk menghayati pengalaman ‘kematian’ yang tetap. Apakah kita mempunyai cukup visi dan pengalaman ‘kebangkitan’ untuk menerima undangan ini? Apakah cintakasih kita cukup besar sehingga mampu memeluk segala macam ‘kematian’? Apakah kita cukup berakar dalam Tuhan untuk menjadi ‘tanda lawan’ dalam masyarakat, menjadi orang-orang yang hidup bagi Kerajaan Allah yang akan datang dan yang sudah ada di muka bumi? 
Cilandak, 16 April 2010  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

*) Disalin dengan sedikit perbaikan dari Memorandum Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX (Sdr. Frans Indrapradja OFS) nomor Min/09/2000 tanggal 7 Mei 2000. Sumber utama tulisan adalah tulisan Sr. Joanne Brazinski OSF, The Paschal Mystery in the Writings of Saint Francis, Majalah TAU edisi May 1981).