Hari biasa
warna liturgi Hijau
Bacaan-bacaan:
Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9. BcO Sir. 51:1-12
Nas Injil:
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." 6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"
Percikan Nas:
Sering kita melihat bencana alam yang memakan banyak korban. Atau melihat orang mengalami kecelakaan parah dan meninggal. Atau barusan kita membaca satu keluarga mati tertembak. Atas kejadian tersebut sering muncul pertanyaan apa dosa mereka.
Orang-orang pun berkisah pada Yesus kematian orang Galilea dan darahnya dicampur dengan darah korban. Mereka pun menyimpan tanya apa dosa mereka. Tuhan pun menegur sikap mereka itu. Tuhan menilai orang-orang itu belum tentu lebih buruk dari mereka.
Melihat dua kisah di atas kita bisa belajar pada Ibu Teresa. Kita tahu ibu Teresa itu orang suci dan hebat. Sekalipun orang suci dan hebat, ibu Teresa mengatakan, “I'm nothing.” Ibu Teresa mengatakan aku bukan siapa-siapa. Ia bukan orang yang menilai buruk orang lain. Marilah kita pun tidak merasa lebih baik dari orang lain dan berani mengakui kehampaan kita di hadapan Tuhan dan sesama.
Doa:
Ya Tuhan berkatilah saudara-saudari kami yang mengalami bencana. Limpahkanlah kemurahan kasih-Mu kepada mereka. Lindungilah pula kami dari segala yang buruk. I'm nothing di hadapan-Mu. Amin.
I'm nothing
Oktober adalah Bulan Rosario
(goeng).
Friday, October 26, 2018
Lamunan Pekan Biasa XXIX
Sabtu, 27
Oktober 2018
Lukas 13:1-9
13:1.
Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang
orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang
mereka persembahkan.
13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini
lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka
mengalami nasib itu?
13:3
Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan
binasa atas cara demikian.
13:4
Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam,
lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di
Yerusalem?
13:5
Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan
binasa atas cara demikian."
13:6.
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang
tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu,
tetapi ia tidak menemukannya.
13:7
Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang
mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon
ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
13:8
Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan
mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
13:9 mungkin tahun depan ia berbuah;
jika tidak, tebanglah dia!"
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, peristiwa buruk selalu dipandang oleh kebanyakan orang sebagai hal negatif. Peristiwa buruk dianggap membuat celaka bahkan menjadi bencana sehingga orang merasa lebih beruntung karena tak ikut mengalami.
- Tampaknya, di kalangan kaum beragama ada yang mengaitkan peristiwa buruk dengan tindakan salah atau amoral atau dosa. Yang terbebaskan dapat merasa ada dalam lindungan ilahi.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun sungguh menderita dan celaka mengerikan, hal itu tidak dipandang sebagai akibat jiwa buruk karena siapapun harus terbuka akan adanya kelemahan dan kekurangan yang ada dalam dirinya sehingga mudah mengalami tuntunan kebaikan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan tersinari oleh cahaya nurani sehingga selalu sadar akan kebutuhan perbaikan diri.
Ah, bagaimanapun orang jauh lebih beruntung karena tak
menderita.
Thursday, October 25, 2018
Beato Contardo Ferini
diambil dari http://katakombe.org/para-kudus Hits: 2066 Diterbitkan: 15 Agustus 2013 Diperbaharui: 23 Oktober 2016
- Sumber : Katakombe.Org
- Perayaan27 Oktober
- Lahir4 April 1859
- Kota asalMilan, Italy
- Wafat17 October 1902 di Suna, Verbano-Cusio-Ossola, Italy | Oleh sebab alamiah
- Venerasi8 Februari 1931 oleh Paus Pius XI
- Beatifikasi13 April 1947 oleh Paus Pius XII Sumber : Katakombe.Org
Contardo dilahirkan pada tahun 1859. Ayahnya seorang guru matematika dan fisika. Ayahnya ini sejak dini telah menanamkan pada putera kecilnya kecintaan untuk belajar. Sebagai seorang pemuda, Contardo fasih berbicara dalam banyak bahasa asing di samping bahasa ibunya, bahasa Italia. Ia amat cemerlang di setiap sekolah dan universitas tempat ia belajar. Kecintaannya untuk belajar dan kecintaannya pada iman Katoliknya membuat teman-teman menjulukinya “St Aloysius” mereka. (St Aloysius Gonzaga adalah seorang santo muda Yesuit yang dikenal karena kebajikan dan kemurahan hatinya) Contardo-lah yang pertama-tama memulai kelompok-kelompok bagi teman-teman mahasiswa guna membantu mereka menjadi seorang Kristiani yang saleh.
Ketika usianya duapuluh satu tahun, kepadanya ditawarkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Universitas Berlin di Jerman. Sungguh berat baginya meninggalkan rumahnya di Italia, tetapi ia senang juga bertemu dengan orang-orang Katolik yang saleh di universitas itu. Ia menuliskan dalam sebuah buku kecil apa yang dirasakannya ketika untuk pertama kalinya ia menyambut Sakramen Rekonsiliasi di negeri asing. Sungguh menggetarkan hatinya menyadari bahwa Gereja Katolik sungguh sama di mana pun dan kemana pun orang pergi.
Tahun berikutnya, Contardo berusaha memutuskan entahkah sebaiknya ia menjadi seorang imam atau seorang biarawan, atau hidup berkeluarga. Ia terus-menerus bertanya pada dirinya sendiri apa yang sebaiknya dilakukannya. Nyatalah kemudian bahwa ia mengucapkan ikrar untuk mempersembahkan dirinya hanya bagi Tuhan saja. Ia mengamalkan ikrarnya ini sebagai seorang awam Fransiskan (anggota ordo ketiga Fransiskan). Ia tetap mengajar dan menulis namun senantiasa berupaya untuk menjadi seorang Kristiani yang terlebih sempurna.
Sementara menikmati olahraga favoritnya, mendaki gunung, ia akan berpikir tentang Tuhan, Pencipta segala keindahan yang ia lihat. Orang banyak melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda pada diri Profesor Ferrini. Ia amat kudus, lembut dan rendah hati hingga setiap orang yang bertemu dengannya akan selalu merasakan aura kesucian diantara senyum hangatnya yang khas. Bahkan saat ia masih hidup orang-orang sudah memanggilnya dengan sebutan “santo..”
Tanggal 17 Oktober 1902 Contardo Ferrini wafat karena demam tipus pada usia empat puluh tiga tahun. Warga Suna segera menyatakan dirinya suci. Rekan-rekannya di University of Pavia menulis surat kepada Paus di mana mereka menggambarkan ia sebagai seorang suci. Pada tahun 1909 Paus Pius X menunjuk Kardinal Ferrari untuk memulai proses penyelidikan terhadap kasus Contardo Ferini. 39 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 13 April 1947 Contardo Ferini dibeatifikasi oleh Paus Pius XII. Tubuhnya sekarang dimakamkan dalam kapel Milan Universitas Katolik. Sumber : Katakombe.Org
Percikan Nas Jumat, 26 Oktober 2018
Hari biasa
warna liturgi Hijau
Bacaan-bacaan:
Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59. BcO Sir. 42:15-25; 43:27-33
Nas Injil:
54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."
Percikan Nas:
Di masyarakat kita mengenal orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menilai situasi yang terjadi dengan baik dan tepat. Pada jaman sekarang ini kita tahu ada banyak pengamat dalam aneka bidang. Mereka menjadi pengamat sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Di samping itu ada banyak pula orang yang karena kebijakan hidupnya mampu menilai suatu jaman. Mungkin mereka bukan orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi.
Kemampuan untuk menilai juga memperkirakan sesuatu telah ada sejak jaman dulu. Pada jaman Yesus hidup orang pun sudah bisa memperkirakan tanda-tanda akan terjadinya hujan atau panas. Bagi Yesus kemampuan seperti itu mesti berlandaskan pada iman kepada Tuhan sehingga mereka pun akan peka menangkap arti dari peristiwa keselamatan Tuhan dalam sejarah jaman.
Orang-orang mampu menangkap tanda-tanda jaman karena kebeningan hati dan imannya didukung oleh aneka ilmu pengetahuan yang dimiliki. Namun layak pula dimengerti bahwa ilmu pun sering tidak mencukupi. Orang perlu terus mengasah kemampuannya dan cermat mengamati sampai ‘titen'. Maka kesatuan iman, ilmu dan ketekunan mengingat memungkinkan kita untuk membaca tanda-tanda jaman.
Doa:
Tuhan ada banyak peristiwa dalam hidup kami mengalir begitu saja. Semoga aku mampu mengendapkan peristiwa-peristiwa kehidupan kami dan peka menangkap tanda-tanda-Mu. Amin.
Menangkap tanda jaman
Oktober adalah Bulan Rosario
(goeng).
warna liturgi Hijau
Bacaan-bacaan:
Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59. BcO Sir. 42:15-25; 43:27-33
Nas Injil:
54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."
Percikan Nas:
Di masyarakat kita mengenal orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menilai situasi yang terjadi dengan baik dan tepat. Pada jaman sekarang ini kita tahu ada banyak pengamat dalam aneka bidang. Mereka menjadi pengamat sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Di samping itu ada banyak pula orang yang karena kebijakan hidupnya mampu menilai suatu jaman. Mungkin mereka bukan orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi.
Kemampuan untuk menilai juga memperkirakan sesuatu telah ada sejak jaman dulu. Pada jaman Yesus hidup orang pun sudah bisa memperkirakan tanda-tanda akan terjadinya hujan atau panas. Bagi Yesus kemampuan seperti itu mesti berlandaskan pada iman kepada Tuhan sehingga mereka pun akan peka menangkap arti dari peristiwa keselamatan Tuhan dalam sejarah jaman.
Orang-orang mampu menangkap tanda-tanda jaman karena kebeningan hati dan imannya didukung oleh aneka ilmu pengetahuan yang dimiliki. Namun layak pula dimengerti bahwa ilmu pun sering tidak mencukupi. Orang perlu terus mengasah kemampuannya dan cermat mengamati sampai ‘titen'. Maka kesatuan iman, ilmu dan ketekunan mengingat memungkinkan kita untuk membaca tanda-tanda jaman.
Doa:
Tuhan ada banyak peristiwa dalam hidup kami mengalir begitu saja. Semoga aku mampu mengendapkan peristiwa-peristiwa kehidupan kami dan peka menangkap tanda-tanda-Mu. Amin.
Menangkap tanda jaman
Oktober adalah Bulan Rosario
(goeng).
Lamunan Pekan Biasa XXIX
Jumat, 26
Oktober 2018
Lukas 12:54-59
12:54.
Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di
sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang
terjadi.
12:55
Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas
terik, dan hal itu memang terjadi.
12:56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu
menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
12:57
Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?
12:58
Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah
berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya
kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu
melemparkan engkau ke dalam penjara.
12:59
Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau
membayar hutangmu sampai lunas."
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, orang dapat dikatakan hebat kalau dapat menjelaskan apa yang akan terjadi berdasarkan data gejala alam. Dia dapat menjadi rujukan untuk bertanya tentang cuaca.
- Tampaknya, orang dapat dikatakan hebat kalau mampu menjelaskan apa yang terjadi berdasarkan data fenomenal yang terjadi di tengah masyarakat. Dia dapat menjadi rujukan untuk bertanya tentang keadaan masyarakat.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, secanggih apapun pengetahuan orang tentang segala gejala alam dan kejadian sosial, kalau dia tak mampu menangkap aura yang riil terjadi dalam proses dinamika tata pikir dan tata hati masyarakat, segala yang diomongkan dapat jatuh dalam kemunafikan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam berbicara orang akan melandaskan isi omongan pada konteks luas yang terjadi di tengah kehidupan.
Ah, yang pokok bisa menyenangkan banyak orang sehingga
menghasilkan banyak uang.
Wednesday, October 24, 2018
Kujungan Cari Input
Ini adalah peristiwa hari Sabtu 13 Oktober 2018. Rombongan guru-guru agama SD Negri se Kota Surakarta akhirnya masuk Domus Pacis Puren pada sekitar jam 10.45. Katanya mereka berangkat jam 07.00 pagi. Tetapi dengan bus besar ternyata harus bolak-balik cari jalan untuk bisa masuk ke dekat bangunan Domus. Di Domus mereka langsung diminta untuk minum dan menikmati snak. Mereka juga dipersilahkan untuk mengunjungi rama-rama di kamar masing-masing, yaitu Rm. Tri Wahyono, Rm. Yadi, Rm. Ria, dan Rm. Tri Hartono. Rm. Harto sudah membaur dengan para tamu. Rm. Yadipun kemudian ikut keluar menemui para tamu dan omong-omong. Karena sesudah dari Domus para tamu yang berjumlah hampir 50 orang itu akan ke Seminari Tinggi Kentungan, pada jam 11.20 mereka dipersilahkan masuk kapel untuk omong-omong tentang KEAGAMAAN ANAK-ANAK MILENIAL. Kedatangan mereka di Domus yang utama memang ingin didampingi oleh Rm. Bambang untuk mendapatkan cakrawala bagaimana mengajar agama untuk anak-anak generasi milenial. Maklumlah banyak dari mereka adalah pendamping-pendamping PIA (Pendampingan Iman Anak) yang di masa lampau kerap berjumpa dengan Rm. Bambang dalam gerakan-gerakan PIA. Dan para peserta yang tampak masih muda memang hanya sedikit.
Untuk memulai proses pembicaraan kepada para peserta dibagikan gambar dan keterangan singkat tentang kehidupan yang diwarnai oleh revolusi industri dari yang pertama hingga keempat. Rm. Bambang kemudian menambahkan ciri utama revolusi industri yang keempat adalah digitalisasi dan otomasi. Lalu ada pertanyaan yang dilemparkan ke peserta "Sebagai guru agama SD, muncul gagasan atau persoalan apa berhadapan dengan dunia kehidupan seperti itu?" Dari sumbang ide dan soal pembicaraan masuk dalam dunia media sosial (medsos). Hal-hal ini membuahkan pembicaraan tentang karakter anak, materi-materi yang bermacam-macam sebagai bahan pelajaran, dan metodologi pendampingan pembelajaran.
Santo Gaudensius
diambil dari http://katakombe.org/para-kudus Hits: 4625 Diterbitkan: 12 Agustus 2014 Diperbaharui: 23 Oktober 2016
- Sumber : Katakombe.Org
- Perayaan25 Oktober
- LahirAkhir abad ke-4
- Kota asalBrescia - Italia
- WafatTahun 410 di kota Brescia Italia - Sebab alamiah
- KanonisasiPre-Congregation Sumber : Katakombe.Org
Santo Gaudensius lahir pada pertengahan - akhir abad ke-4 di kota Brescia, Italia dalam sebuah keluarga Katolik yang saleh. Ia adalah murid dari Santo Philastrius (bentuk lain : Philaster atau Filaster) Uskup Brescia yang sangat berpengaruh pada masa itu. Setelah dewasa, Gaudensius ditahbiskan menjadi seorang imam oleh uskup Philastrius. Ia kemudian menjadi seorang imam yang saleh dan bijaksana. Karena itu ia sangat dicintai dan dikagumi oleh umat dikotanya.
Pada sekitar tahun 387 Gaudensius berangkat berziarah ke Yerusalem dan berbagai tempat suci bersejarah di Israel. Sementara ia berada di Tanah Suci, uskup kota Brescia, Santo Philastrius, meninggal dunia. Segenap imam dan umat kota itu dengan suara bulat memilih Gaudensius sebagai uskup baru. Uskup-uskup di Italia dipelopori oleh Santo Ambrosius, Uskup kota Milan, berkumpul dan meresmikan pilihan itu. Mereka lalu mengirim kabar kepada Gaudensius yang pada waktu itu sedang berada di Capadocia, Asia Kecil dan memintanya segera pulang ke Brescia guna mengemban tugas barunya sebagai Uskup kota Brescia.
Mendengar kabar itu, Gaudensius, yang mulanya merasa berat, segera pulang karena rasa hormatnya yang besar kepada Uskup Santo Ambrosius yang saleh itu. Tiba Brescia ia segera ditahbiskan oleh Santo Ambrosius. Sebagai uskup, Gaudensius menaruh perhatian besar pada bidang pengajaran agama bagi seluruh umatnya. Dalam rangka itu, ia dengan rajin menjelajahi seluruh keuskupannya untuk berkotbah. Ia sendiri pun bersikap tegas kepada dan menghukum orang-orang yang berkelakuan buruk, yang hanya mengejar kenikmatan duniawi sambil melupakan tuntutan ajaran Injil Kristus. Prestasi kerjanya sungguh mengagumkan.
Pada tahun 405 Gaudensius bersama dengan sebuah delegasi diutus ke Konstantinopel oleh Paus Innosensius I untuk membela Uskup Konstantinopel Santo Yohanes Krisostomus yang saat itu menghadapi intrik dan fitnah serta menjalani hukuman pembuangan oleh kaisar Byzantium. Delegasi ini dihadang oleh para pendukung kaisar dan dipaksa untuk kembali ke Italia. Kapal yang mereka tumpangi diserang dan tenggelam di dekat Lampsacus, Yunani. Beruntung seluruh anggota delegasi bisa diselamatkan dan berhasil pulang ke Italia. Meskipun delegasi ini tidak berhasil dalam misinya, Santo Yohanes kemudian mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada santo Gaudensius.
Santo Gaudensius tutup usia di kota Brescia pada tahun 410. Sumber : Katakombe.Org
Subscribe to:
Posts (Atom)










