Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, July 26, 2019

Minggu Biasa XVII tahun C tgl. 28 Juli 2019 (Luk 11:1-13)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/07/22; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


BELAJAR BERDOA DARI YESUS
Rekan-rekan yang baik!
Dalam Injil Lukas 11:1-13 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVII tahun C didapati tiga pokok. Pertama Yesus mengajar murid-muridnya berdoa (ayat 1-4), disusul dengan perumpamaan mengenai orang yang tak sungkan-sungkan minta tolong kepada seorang kawannya di tengah malam (ayat 5-8), dan diakhiri dengan sebuah pengajaran mengenai kekuatan doa (ayat 9-13).
MELIHAT YESUS BERDOA
Murid-murid meminta Yesus mengajar mereka berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa. Latar belakangnya ialah kebiasaan orang pergi menyepi ke padang gurun, menemui orang suci untuk mohon berkat dan doa yang dapat dibawa pulang sebagai bekal dan kekuatan. Praktek keagamaan rakyat seperti ini masih dijumpai di banyak tempat.
Pada awal petikan yang dibacakan hari ini disebutkan bahwa Yesus sendiri sedang berdoa. Tema ini kerap muncul dalam Injil Lukas. Yesus di mata Lukas ialah pribadi yang dekat dengan kekuatan-kekuatan ilahi. Di saat-saat puncak dalam kehidupannya Yesus ditampilkannya sebagai orang yang sedang berdoa. Dapat dicatat peristiwa-peristiwa berikut. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21), Yesus berdoa dan membiarkan diri dikuatkan oleh kehadiran ilahi. Ia berdoa semalam suntuk di sebuah bukit sebelum menetapkan ke-12 muridnya sebagai rasul (Luk 6:12). Pilihan yang penting ini terjadi dengan mengikutsertakan kekuatan ilahi. Yesus berdoa sebelum menanyai murid-murid mengenai pendapat orang mengenai dirinya dan mendengarkan pendapat murid-murid sendiri (Luk 9:18). Kemudian Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung untuk berdoa dan dalam keadaan itu kemuliaannya tampak (Luk 9:28). Dan dalam bacaan hari ini, sebelum mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri berdoa di sebuah tempat (Luk 11:1). Nanti di Getsemani sewaktu bergulat dengan dirinya sendiri apakah akan menerima kenyataan salib dalam hidupnya (Luk 22:41) Yesus berdoa. Akhirnya, di Golgota, di kayu salib, ia masih berdoa dua kali (Luk 23:34 dan 46). Itulah kesempatan-kesempatan yang secara khusus disebut Lukas. Ada saat-saat lain ketika ia juga berdoa, misalnya pada perjamuan terakhir dengan para murid (Luk 22:19) atau ketika Yesus mensyukuri karya ilahi dalam dirinya (Luk 10:21). Bagi Yesus berdoa ialah menaruh diri di hadapan Yang Ilahi yang dipercayanya sebagai Bapa. Ia membiarkan kekuatan ilahi menghidupinya. Dalam mengikuti perjalanannya ke Yerusalem, murid-muridnya makin menyadari hal itu. Lambat laun mulai jelas bagi mereka dari mana kekuatan dan keteguhan pribadi yang mereka ikuti itu. Maka mereka datang kepadanya minta diajar berdoa, minta diberi rumusan doa yang dapat mereka pegang untuk bekal hidup.
DUA VERSI
Rumusan doa yang disampaikan dalam Luk 11:2-4 lebih pendek daripada doa Bapa Kami yang biasa kita doakan yang didasarkan pada Mat 6:9-13. Baik Matius maupun Lukas sama-sama menggarap tradisi mengenai kata-kata Yesus tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Bahan dari tradisi yang biasa disebut para ahli sebagai “Q” (Quelle = sumber) belum terkumpul ketika Markus menulis Injilnya. Memang Markus tidak memuat doa Bapa Kami. Lukas lebih mengikuti bentuk ringkas dalam sumber tadi, tetapi ia menyesuaikan beberapa rumusan agar terasa lebih cocok bagi orang-orang yang dilayaninya. Matius lebih mempertahankan rumusan asli tetapi menambah penjelasan di sana-sini dan hasilnya ialah doa Bapa Kami yang kita kenal sehari-hari.
Dalam Injil Lukas bagian yang memuat doa “Bapa Kami” memiliki peran yang berbeda dengan yang ada dalam Injil Matius. Ringkasnya begini, Matius menaruh doa tadi dalam konteks Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang menggariskan dasar-dasar kehidupan mereka yang ingin masuk menjadi umat Kerajaan Surga. Tetapi Lukas lebih menampilkan doa tadi sebagai cara Yesus membiarkan dirinya makin dipahami sebagai “sesama” oleh orang-orang yang dijumpainya dan yang menerimanya. Dapat dilihat kembali ulasan mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) dan kisah Marta dan Maria (Luk 10:38-42).
LIMA PERMOHONAN KEPADA BAPA
Doa yang diajarkan Yesus menurut Lukas itu memuat lima permohonan yang diawali dengan sapaan “Bapa”. Di sini terungkap keakraban Yesus dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Sebutan “Bapa” (kata Aramnya “Abba”) itu sebutan akrab tapi hormat yang biasa dipakai seorang anak kepada ayahnya, jadi agak berbeda dengan “Pak” yang bisa dipakai kepada siapa saja yang dihormati atau dituakan. Dengan mengajak murid-murid berani memanggil Tuhan dengan sebutan ini Yesus mau menaruh diri sebagai sesama dengan siapa saja yang bakal memakai doa ini. (Matius mengungkapkan hal ini dengan “Bapa kami yang ada di surga”, untuk juga mengingatkan bahwa doa ini memang diserukan kepada Tuhan yang Mahakuasa yang ada di surga.) Bekal yang diperoleh ialah sesama yang tak lain tak bukan Yesus sendiri. Adakah yang lebih memberi rasa aman?
Yesus juga memakai seruan “Bapa” di Getsemani ketika memilih mengikuti kehendakNya (Luk 22:42), dan kemudian dua kali lagi ketika di salib, yang pertama untuk memintakan ampun dari Bapanya bagi orang-orang yang menyalibkannya (Luk 23:34), dan kedua kalinya pada saat ia menyerahkan nyawanya kepada BapaNya (Luk 23:46). Inilah cara Lukas menunjukkan bagaimana Yesus mau menjadi sesama manusia sekalipun berarti ia harus menempuh perjalanannya ke salib hingga akhir.
Dengan latar tadi lima permohonan yang tercantum dalam doa itu akan terasa makin dalam artinya:
1. “Bapa, dikuduskanlah namaMu” (ayat 2a). Diminta agar kehadiran yang Mahakuasa itu tetap dapat dialami sebagai kehadiran yang keramat sekalipun Ia membiarkan diriNya disapa sebagai Bapa. Dengan cara ini barulah jagat ini akan makin memuliakanNya.
2. “Datanglah KerajaanMu”. Mulai dari Luk 4:14 Yesus mewartakan dunia baru yang dilindungi oleh kekuatan Roh Ilahi sendiri, dan oleh karenanya dunia itu disebut KerajaanNya. Amat ditekankan dalam Injil Lukas, dalam dunia yang baru ini batas-batas antara orang kaya dan kaum miskin dibuka. Bukan pertama-tama untuk mencampurbaurkan mereka begitu saja, melainkan untuk membuat masing-masing sadar bahwa bisa menjadi sesama bagi orang dari lapisan sosial yang lain, tak peduli yang mana. Matius menaruh gagasan dunia baru dalam ukuran-ukuran alam semesta dengan menambahkan ungkapan “jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga”.
3. “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Didoakan agar Bapa tetap memberi apa saja yang dibutuhkan, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari, tentu saja agar orang makin dapat hidup di dalam KerajaanNya. Semangat membiarkan diri diperhatikan Bapa dengan tidak “menimbun makanan” itu sebenarnya jalan yang paling nyata untuk merasakan kehadiran Bapa di dalam kehidupan ini. Begitu juga dalam diri orang yang membiarkan diri menjadi sesama bagi yang lain dengan memberi perhatian secukupnya, tidak berlebih-lebihan dengan akibat mengecilkan orang yang menerimanya.
4. “Dan ampunilah kami dari dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami”. Permohonan ini diajarkan Yesus untuk membuat murid-muridnya belajar mengambil sikap pengampun, sikap batin yang memberi kemerdekaan bagi diri sendiri dan bagi orang yang pernah berlaku salah. Tidak disangkal pengampunan ini tidak mudah dan acap kali juga disertai rasa pedih. Yesus yang disalib yang memintakan ampun kepada Bapanya bagi orang-orang yang menyalahinya itu mengalami kesakitan badan dan kepedihan batin. Sering sikap mengampuni yang disertai penderitaan di dalam ini tidak terlihat. Tak berlebihan juga bila kita gambarkan Tuhan sendiri tidak melihatnya. Ia bukan Tuhan yang selalu mau mengawasi apa yang terjadi dalam batin manusia. Ia menghormati kemerdekaan manusia. Dan itulah kebesaran Tuhan juga. Namun, kepedihan yang tersimpan dalam itu satu saat dapat dibukakan kepadaNya sebagai keikutsertaan dalam sikap hidup pengampun dari orang yang ditegaskanNya sendiri sebagai Anaknya yang terkasih (pada peristiwa baptisan Yesus dan penampakan kemuliaannya di gunung) dan yang dimintaNya sendiri agar didengarkan (di dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung). Dengan ini semua, mustahillah pada saat akhir nanti Tuhan bakal memperhitungkan kesalahan kita yang seberat apapun. Tak ternalarkan Ia tega membiarkan kita tanpa pengampunan.
5. “Dan janganlah membawa masuk kami ke dalam percobaan.” Dalam Injil Lukas, percobaan ialah wilayah kekuatan-kekuatan yang jahat, yang gelap, yang pasti akan menelan manusia bagaimanapun juga kekuatan pribadinya. Menakutkan. Terjemahan “janganlah membawa masuk kami” dapat memberi kesan menuntun masuk ke suatu ujian agar orang makin tabah, makin terlatih, makin kuat. Yang lebih cocok ialah “janganlah membiarkan kami masuk” ke dalam wilayah daya-daya maut tadi. Tak ada heroisme apapun hendak diajarkan dalam perkara ini. Oleh karenanya Matius, dalam versinya, menyertakan kalimat tambahan yang menjelaskan maksud permohonan ini: “tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”. Satu-satunya orang yang pernah masuk dalam kuasa yang jahat dan dapat keluar lagi ialah Yesus sendiri. Tetapi juga semua Injil Sinoptik mengatakan ia disertai Roh (Mrk 1:12; Mat 4:1; Luk 4:1). Ia memang memasuki wilayah yang gelap, tetapi ia tetap berada dalam bimbingan Roh Tuhan sendiri. Iblis tidak bisa berbuat banyak, walaupun tetap menunggu saat yang baik. Saat ini tiba ketika Yudas masuk dalam percobaan dan tidak keluar lagi.
TANPA SUNGKAN-SUNGKAN
Perumpamaan yang disampaikan dalam Luk 11:5-8 mengenai orang yang datang membangunkan kawannya untuk minta tolong itu mengajarkan agar orang tak sungkan-sungkan mengajukan permohonan kepada Tuhan. Bahkan dalam perumpamaan itu orang tadi disebutkan “sikapnya yang tidak malu itu” (ayat 8). Terasa kembali kekuatan sapaan kepada Tuhan sebagai “Bapa” yang diajarkan Yesus. Ditandaskan dalam ayat 9-13, tak terpikir ada seorang bapa yang tak menggubris permintaan anaknya, atau memberi barang yang buruk dan yang bisa mencelakakan. Penalaran dari hidup sehari-hari ini dipakai untuk menegaskan bahwa Tuhan yang Mahakuasa pasti akan memberikan yang terbaik. Dan dalam rumusan Lukas, Ia akan memberikan Roh Kudus – kekuatan ilahi yang akan terus membimbing kita di dunia ini.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa XVI

Sabtu, 27 Juli 2019

Matius 13:24-30

13:24. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang selalu ingin hidup baik dan benar. Agama memberikan perintah-perintah untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang selalu berjuang untuk menyingkirkan perilaku buruk dan jahat. Agama memberikan larangan-larangan menjalani hidup yang tak sesuai dengan kehendak Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ingin selalu hidup baik dan benar serta membenci yang buruk dan jahat, orang akan sadar bahwa kedua perilaku itu adalah realitas kehidupan yang saling berhimpitan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tak akan berjuang untuk menekan dan menyingkirkan perbuatan buruk demi kebaikan tetapi terutama mengembangkan kesadaran mana baik dan mana buruk.
Ah, untuk suci orang tak boleh jatuh dalam dosa.

Percikan Nas Jumat, 26 Juli 2019

Perayaan Wajib
St. Yoakim dan Anna
Orangtua Santa Perawan Maria
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Sir. 44:1,10-15; Mzm. 132:11,13-14,17-18; Mat. 13:16-17.
BcO Ayb. 23:1-24:12.

Bacaan Injil:
16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Memetik Inspirasi:
Melihat seseorang yang berhasil kadang kita bertanya siapa orang tuanya. Beberapa hari yang lalu diberitakan seorang mahasiswa S2 lulus cum laude. Orang pun mencari siapa orang tua anak tersebut. Ternyata orang tuanya adalah seorang tukang becak. Banyak orang pun kagum melihat fenomena ini.
Ibu Maria adalah pribadi yang luar biasa. Kita pun bertanya siapa orang tuanya dan bagaimana mendidiknya. Yoakim dan Anna adalah orang tua Maria. Dua pribadi sederhana yang mendidikkan kesalehan hidup puterinya. Pendidikan baik itu melekat dan membekas serta hidup dalam diri Maria.
Kiranya pak tukang becak pun mendidik anaknya untuk tekun dan berjuang. Begitu juga Yoakim dan Anna. Dari sini kita belajar pentingnya menanamkan keutamaan kepada anak-anak. Keutamaan itu abadi. Ketika hidup diliputi keutamaan maka kala mati pun akan hidup kenangan akan keutamaan tersebut.

Refleksi: 
Keutamaan apa yang anda perjuangkan?

Doa:
Tuhan, semoga kami tekun menjaga, mengembangkan dan mengajarkan keutamaan hidup. Walau mungkin kami bukan orang berpendidikan tinggi namun semoga kami mampu mendidikkan keutamaan hidup. Amin.

Keutamaan Abadi
MoGoeng
Wates

Percikan Nas Kamis, 25 Juli 2019

Pesta St. Yakobus Rasul
warna liturgi Merah

Bacaan-bacaan:
2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28.
BcO Kis. 5:12-32 atau 1Kor. 1:17-2:5 atau 1Kor. 4:1-16.

Bacaan Injil:
20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." 22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." 23 Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." 24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Memetik Inspirasi:
Kekuasaan itu memikat orang pada umumnya. Hampir setiap manusia ingin berkuasa. Ada yang jelas-jelas dan terbuka mengutarakan itu. Ada pula yang sangat pingin tapi tidak mau mengungkapkannya secara terbuka. Motivasi berkuasa pun beraneka macam. Ada yang secara tulus ingin sungguh melayani, tapi ada pula yang ingin berkuasa demi keuntungan pribadinya.
Hari ini adalah pesta St. Yakobus Rasul. Bacaan mengisahkan bagaimana ibunya meminta pada Yesus posisi bagi anaknya. Yesus menanggapi permintaan itu dan menegaskan bahwa yang ingin berkuasa mesti mau melayani. Jiwa melayani menjadi sikap dasar penguasa kristiani.
Sungguh menggembirakan kala kita menemukan pemimpin yang melayani. Kita sangat butuh karakter seperti itu. Tidak penting dari suku dan agama apa, tapi pemimpin ysng melayani yang dibutuhkan masyarakat. Dari mereka akan muncul kebijakan-kebijakan yang membawa pada kesejahteraan masyarakat. Maka layak kita serius menyiapkan dan memilih pemimpin yang siap melayani.

Refleksi:
Apa kriteriamu dalam memilih pemimpin?

Doa:
Tuhan semoga para pemimpin kami mempunyai jiwa melayani. Kekuasaan yang mereka miliki bukan untuk menguasai tapi untuk menghidupkan kesejahteraan masyarakat. Semoga kami pun mempunyai jiwa melayani. Amin.

Melayani
MoGoeng
Wates

Thursday, July 25, 2019

Santa Anna

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 11684 Diterbitkan: 07 September 2013 Diperbaharui: 23 Maret 2017
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    26 Juli
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  • Kota asal
    Yerusalem
  • Wafat
    Makam Tradisional yang diyakini adalah makam Santa Anna dan Santo Yoakim ditemukan di Jerusalem tahun 1889
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

St. Anna dan St. Yoakim adalah orangtua Santa Perawan Maria. Mereka hidup rukun, taat beribadah kepada Tuhan dan melakukan banyak perbuatan baik. Namun demikian, ada satu hal yang membuat mereka sedih; Tuhan belum memberi mereka seorang anak pun.
Selama bertahun-tahun, Anna memohon kepada Tuhan untuk memberinya anak. Ia berjanji untuk mempersembahkan anaknya itu kelak kepada Tuhan. Ketika sudah lanjut umurnya, Tuhan menjawab doa Anna dengan cara yang amat luar biasa, yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya.
Anak yang lahir bagi St. Yoakim dan St. Anna adalah Santa Perawan Maria Immaculata (=yang Dikandung Tanpa Dosa). Perempuan yang paling kudus di antara semua perempuan ini akan menjadi Bunda Allah. Anna merawat Maria kecil dengan penuh kasih sayang selama beberapa tahun. Kemudian dipersembahkannya puterinya itu kepada Tuhan, seperti yang telah dijanjikannya. Maria tinggal di Bait Allah di Yerusalem.
Yoakim dan Anna melanjutkan kehidupan mereka dengan berdoa hingga tiba saatnya Tuhan memanggil mereka pulang ke rumah Bapa di surga.
Umat Kristiani senantiasa menghormati St. Anna secara istimewa. Banyak gereja indah dibangun untuk menghormatinya. Salah satunya yang mungkin paling terkenal adalah Gereja St. Anne de Beaupre di Kanada. Banyak orang pergi ke sana sepanjang tahun untuk memohon bantuan doa St. Anna dalam menanggung beban hidup mereka.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Yoakim dan Santa Anna, Orang Tua Santa Perawan Maria
Jumat, 26 Juli 2019

Matius 13:16-17

13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, mata dan telinga adalah organ tubuh yang jadi andalan untuk kontak dengan lingkungan. Kalau buta dan tuli orang dapat sulit menyaksikan kejadian yang terjadi di hadapannya.
  • Tampaknya, karena begitu pentingnya organ mata dan telinga, orang sangat menjaganya. Bahkan ada dokter khusus mata dan telinga menjadi bagian spesialis THT.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mata dan telinga selalu terjaga kesehatannya dan tidak cacad, hal itu tak akan menjamin adanya buah kebahagiaan kalau mata dan telinga tak mampu menjalani kesejatian fungsinya sebagai penyalur sambungnya yang ditangkap menjadi kesaksian hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dengan mata dan telingannya akan menghantar segala yang tertangkap menjadi renungan batin.
Ah, asal tidak buta dan tuli orang akan gembira.

Santo Yakobus Tua

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 9111 Diterbitkan: 06 September 2013 Diperbaharui: 15 Desember 2016
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    25 Juli
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  • Wafat
    Matir di Yerusalem, sekitar tahun 40.
    Legenda mengatakan jenazahnya dibawa oleh malaikat, dan berlayar dengan perahu tanpa awak ke Spanyol
    Relik sekarang berada di Compostela, Spanyol
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Murid Yesus ini disebut "Yakobus Tua" untuk membedakannya seorang murid Yesus yang lain, yang juga bernama Yakobus (yang adalah saudara Yesus dan penulis Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru). Yakobus adalah seorang nelayan, sama seperti ayahnya - Zebedeus - dan saudaranya, Yohanes.
Yakobus sedang duduk dalam perahu ayahnya memperbaiki jala ketika Yesus lewat. Yesus memanggil mereka masing-masing, Yakobus dan Yohanes, untuk menjadi penjala manusia, untuk mengikuti-Nya mewartakan Kabar Gembira. Zebedeus menyaksikan kedua puteranya meninggalkan perahu mereka dan mengikuti Yesus.
Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus termasuk 3 murid utama Yesus. mereka bertiga, beroleh kesempatan menyaksikan apa-apa yang tidak dapat disaksikan para rasul yang lain. Mereka menyaksikan Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus, mereka mendaki gunung dan menyaksikan Yesus bercahaya seperti matahari dengan jubah-Nya berkilau-kilauan. Peristiwa ini disebut Transfigurasi atau Yesus Dipermuliakan.
Pada hari Kamis Putih, yaitu malam sebelum Yesus wafat, Yesus membawa para rasul ke taman Getsemani. Dalam Injil Matius dikisahkan bagaimana Yesus meminta 3 murid utamanya ini untuk menyertai-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Mereka menyaksikan bagaimana wajah Tuhan menjadi pucat karena duka yang amat dalam. Kemudian titik-titik darah mulai menetes dari kening-Nya. Sungguh, saat-saat yang amat memilukan, tetapi para rasul itu sudah terlalu lelah. Mereka tertidur!
St. Yakobus lari ketakutan ketika para musuh menangkap Yesus serta membawa-Nya pergi. Dan Yakobus masih "bersembunyi" dan tidak ada di bawah kaki salib pada hari Jumat Agung. Meskipun demikian, Tuhan menemuinya lagi pada sore hari Minggu Paskah di kamar atas. Yesus yang bangkit masuk melalui pintu yang terkunci dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Yakobus dan para rasul yang lain mendapatkan damai yang dijanjikan-Nya itu setelah kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta.
St. Yakobus memulai kerasulannya sebagai seorang yang suka menurutkan kata hatinya serta berbicara apa adanya. Tanpa sungkan ia meminta Yesus tempat duduk kehormatan dalam kerajaan-Nya. Ia juga pernah meminta Yesus menurunkan api atas desa-desa yang tidak mau menerima Tuhan. Tetapi imannya kepada Yesus sungguh besar.
Walaupun tidak tertulis dalam Kisah Para Rasul dan tidak tertulis dalam tulisan Gereja kuno, banyak yang mempercayai Yakobus berangkat menuju Spanyol dan menyebarkan ajaran Yesus di sana. Ia mengadakan perjalanan menuju Galicia, Spanyol; Guimarães, Portugal; dan Rates (kini Póvoa de Varzim), Portugal. Di Rates, ia mentahbiskan Santo Petrus dari Rates sebagai uskup pertama di Semenanjung Iberian.
Berdasarkan Legenda masyarakat kuno di sana, pada tanggal 2 Januari 40, Santa Maria menampakkan diri kepada Yakobus di tepi sungai Ebro di Caesaraugusta, ketika ia sedang menyebarkan ajaran di Spanyol. Maria secara tiba-tiba muncul di pilar, dan tempat tersebut kini menjadi Basilika Bunda Pilar Kami (Basilica of Our Lady of the Pillar) di Zaragoza.  Kemudian, Yakobus kembali ke Yudea, dan di sana ia dieksekusi mati pada tahun 44. Kitab suci menulis :
... pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang... (Kis 12:1-2)
Setelah kematiannya, dalam kisah rakyat Spanyol, sosoknya muncul memimpin pasukan Kristen pada Pertempuran Clavijo selama Reconquista. Di Spanyol St. Yakobus dijuluki  “matamoros”  (Pembasmi Bangsa Moor). Santiago Matamoros!! (“Santo Yakobus Pembasmi bangsa Moor”);  Santiago y cierra España ("Santo Yakobus akan bertarung untuk Spanyol")  menjadi yel-yel pekikan perang tentara Spanyol selama berabad-abad.

Setiap Martir adalah Persembahan Bagi Gereja

 Sumber : Katakombe.Org