Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, August 27, 2019

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Rabu, 28 Agustus 2019

Matius 23:27-32

23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
23:28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh
23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.
23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.
23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada jaman kini orang amat tertarik akan banyak hal yang memiliki kemasan bagus. Layaklah kalau kini banyak penjual jasa menjajakan kemampuan membuat kemasan.
  • Tampaknya, pengembangan kemasan tidak hanya terbatas pada bungkus tetapi juga pada citarasa. Banyak makanan dapat dijadikan manis atau rasa apapun dengan bahan-bahan hasil tekhnologi kimiawi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun menjadi amat dimaui oleh banyak orang karena tampilan kemasan dan atau rekayasa citarasa, yang sungguh membuat sejahtera adalah kemurnian isinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa yang hanya menekankan tampilan kemasan dan atau citarasa akan mengalami celaka dalam hidupnya.
Ah, asal menghasilkan banyak uang yang pasti mendatangkan kebahagiaan.

Percikan Nas Selasa, 27 Agustus 2019

Peringatan Wajib St. Monika
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
1Tes. 2:1-8; Mzm. 139:1-3,4-6; Mat. 23:23-26; Injil Khusus Luk. 7:11-17 (Sir. 26:1-4,16-21; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 7:11-17).
BcO Ef. 6:1-9.

Bacaan Injil:
23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Memetik Inspirasi: 
“Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23). Kalimat ini menarik banget bagiku. Spontan terbersit bahwa orang mesti komprehensif. Ketika kita melakukan sesuatu, yang lain tidak boleh diabaikan. Tidak bisa melakukan sesuatu lalu mengabaikan yang lain.
Ada kecenderungan ketika kita melakukan sesuatu kita fokus pada hal tersebut. Bahkan tidak sedikit kala lagi mengerjakan sesuatu sering tidak bisa mendengar panggilan ataupun ajakan bicara orang lain. Tentu hal tersebut membuat fokus kita pada pekerjaan baik. Namun ada hal lain yang hilang karena terabaikan.
St. Monica mencintai keluarganya. Namun ia pun tidak lupa untuk memperhatikan kehidupan iman suami dan anak-anaknya. Suaminya belum percaya pada Tuhan. Anaknya hidupnya kacau balau. Monica tekun mengelola keluarga sekaligus rajin mendoakan suami dan anak-anaknya. Perhatiannya yang menyeluruh dalam kehidupan keluarganya Monica pun mendapatkan rahmat yang luar biasa. Suami dan anaknya bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus. Mereka bertiga pun akhirnya diberkati menjadi St. Monica, St. Patricius dan St. Agustinus.

Refleksi:
Bagaimana memperhatikan yang satu dan tidak mengabaikan yang lain?

Doa:
Tuhan kami mempunyai banyak keterbatasan. Kadang kala kami melakukan sesuatu kami mengabaikan yang lain. Semoga kami mampu berpikir komprehensif dan integral. Amin.

Komprehensif
MoGoeng
Wates

Santa Monika

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 13223 Diterbitkan: 05 Desember 2013 Diperbaharui: 12 Agustus 2017
  • Perayaan
    27 Agustus - 04 Mei (Gereja Orthodox Timur)
  • Lahir
    Sekitar tahun 322
  • Kota asal
    Tagaste - Afrika Utara (sekarang wilayah Aljazair)
  • Wilayah karya
    Afrika Utara - Roma Italia
  • Wafat
    Tahun 387 di Ostia, Italia - Oleh sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santa Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara dalam sebuah keluarga Kristen yang saleh. Ketika berusia 20 tahun, ia dinikahkan dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya. Dalam kehidupannya bersama Patrisius, Monika mengalami tekanan batin yang hebat karena ulah Patrisius dan juga putranya Agustinus. Patrisius mencemoohkan dan menertawakan usaha keras Monika mendidik Agustinus menjadi seorang pemuda yang luhur budinya. Namun semuanya itu ditanggung Monika dengan sabar, sambil tekun berdoa memohon campur tangan Tuhan. Bertahun–tahun lamanya tidak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Baru pada saat–saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan. Monika sungguh bahagia dan mengalami rahmat Tuhan pada saat–saat kritis suaminya.
Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kota Kartago. Cara hidupnya semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme yang sesat itu. Lebih dari itu, di luar perkawinan yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak yang diberi nama Deodatus. Untuk menghindarkan diri dari keluhan ibunya, Agustinus pergi ke Italia. Namun ia sama sekali tidak bisa luput dari doa dan air mata ibunya.
Monika berlari meminta bantuan kepada seorang uskup. Kepadanya uskup itu berkata: “Pergilah kepada Tuhan! Sebagaimana engkau hidup, demikian pula anakmu, yang bagimu telah kaucurahkan banyak air mata dan doa permohonan, tidak akan binasa. Tuhan akan mengembalikannya kepadamu.” Nasehat pelipur lara itu tidak dapat menenteramkan hatinya. Ia tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga ia menyusul anaknya ke Italia. Di sana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milan.
Di Milan, Monika dan putranya bertemu dengan Uskup Santo Ambrosius yang kudus. Akhirnya oleh teladan dan bimbingan Santo Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya. Hal ini terlukis di dalam kesaksian Agustinus sendiri perihal percakapan mereka tentang perjalanan kembali ke Afrika : 
Dalam tulisan lain, Agustinus mengisahkan pembicaraan penuh kasih antara dia dan ibunya di Ostia Roma :
Beberapa hari kemudian, Monika jatuh sakit. Kepada Agustinus, ia berkata: “Anakku, satu–satunya yang kukehendaki ialah agar engkau mengenangkan daku di Altar Tuhan.”
Wanita yang luar biasa ini wafat pada tahun 387 M di Ostia, Roma. Kisah hidupnya membuktikan kepada kita bahwa doa yang tak kunjung putus, akan selalu didengarkan Tuhan. Sumber : Katakombe.Org

Monday, August 26, 2019

Terharu


Sebenarnya acaranya tidak megah dan membutuhkan panitia perancang khusus. Bahkan misa yang biasa terjadi dalam acara khusus untuk rama juga tak ada. Maka layaklah kalau Rm. Ria, salah satu imam tua yang ada di Domus Pacis Puren, bertanya kepada Rm. Bambang dengan nada ekspresi negatif  pada waktu makan pagi 25 Agustus 2019 "Kena apa ora ana misa?" (Mengapa tak ada misa). Pertanyaan ini muncul ketika beliau bertanya "Engko misane jam pira?" (Nanti misa dimulai jam berapa?) dan dijawab oleh Rm. Bambang "Ora nganggo misa" (Tidak pakai misa). Ketika ada pembicaraan ini Rm. Yadi menambahkan "Le misa wis wingi sore, ta" (Kita sudah misa kemarin Sabtu sore, kan).

Pada hari itu, Minggu 25 Agustus 2019, memang ada perhelatan di Domus. Acara ini datang dari inisiatif  (Paseduluran Umat Pemerhati Imam Praja) Paroki Ungaran, Kevikepan Semarang. Karena Rm. Antonius Tri Wahyono, salah satu imam penghuni Domus Pacis Puren yang pernah berkarya di Ungaran dan pada tanggal 19 Agustus 2019 genap 32 tahun menjadi imam, kelompok itu akan secara khusus merayakannya. Hari yang disepakati adalah Minggu 25 Agustus 2019. Ternyata rencana ini didukung oleh PUPIP DIY. Kedua PUPIP bersepakat bahwa DIY menyediakan snak dan Ungaran makan dan lauk pauknya. Domus Pacis hanya menjadi penyedia minuman teh beberapa jumbo. Memang, karena salah satu pengurus Uangaran minta Bu Rini bilang ke Rm. Bambang "Mbok rama ngundangke organ tunggal" (Minta rama menghadirkan organ tunggal), Rm. Bambang minta Bu Rini untuk mengurus hal ini.

Pemain organ bersama satu penyanyi perempuan sudah hadir sejak jam 08.00. Kursi Domus memang sudah ditata pada Sabtu sore 24 Agustus 2019. Bahkan Mas Tono menambah kain untuk latarbelakang arena acara. Beberapa relawan Domus (Mas Handoko dan istrinya, Bu Rini, Bu Ratmi, Bu Mardanu) juga bersiap sejak awal. Pada jam 09.00 tamu-tamu anggota PUPIP mulai berdatangan. Mereka langsung menikmati teh dan snak. Batik-batik dagangan Domus Pacis, yang keuntungannya disumbangkan untuk SMK Kanisius Pakem, juga digelar. Pak Sri, salah satu guru sekolah itu, ikut membantu melayani para pembeli. Penyanyi yang didatangkan melantunkan lagu-lagu kenangan diiringi playernya. Para rama pun didorong keluar dari bangunan induk Domus dengan kursi roda masing-masing. Rm. Yadi, Rm. Tri Hartono, dan Rm. Jaya duduk di tempat terdepan. Rm. Ria berada di deretan para tamu terdepan. Rm. Harto duduk bergabung dengan yang jual batik dan penerima tamu. Sedang Rm. Tri Wahyono didudukkan di depan arena menghadap semua tamu.

Acara dipandu oleh Bu Sofi dari PUPIP DIY dan mulai pada jam 10.15. Sebagai pembuka semua diajak untuk melantunkan doa untuk para imam dan calon imam. Kemudian ada kisah tentang Rm. Tri Wahyono dari imamat tahun pertama, ketika berkarya di Ungaran, dan kini di Domus Pacis Puren. Rm. Yadi tampil mengisahkan periode pertama imamat Rm. Tri, karena dulu bersama-sama di Paroki Kalasan. Rm. Yadi menekankan kesungguhan Rm. Tri Wahyono dalam menjalani tugas. Paroki Ungaran mengetengahkan model episode khotbahnya yang biasa dengan memainkan gitar dengan lagunya. Rm. Bambang berkisah kondisi kini. Setiap kisah selalu disusul dengan nyanyi-nyanyi baik dari penyanyi yang didatangkan maupun spontan para ibu dan bapak yang datang. Bahkan Ungaran mengenalkan lagu PUPIP. Sebenarnya acara ditutup dengan makan siang dengan berbagai macam lauk dan sayuran sharing anggota-anggota PUPIP Ungaran. Tetapi keyboard tetap terus berbunyi karena muncul nyanyian-nyanyian bersama meriah spontan dari yang belum antri ambil konsumsi.

Acara yang sederhana itu tampak membuat yang hadir mengalami kegembiraan hati yang tercermin dalam rona wajahnya. Dan yang banyak muncul diomongkan adalah kesan bahwa Rm. Tri Wahyono juga tampak bahagia. "Mulutnya kerap bergerak-gerak ikut mengucapkan syairnya" beberapa mengatakan demikian. Tetapi kebanyakan berkata "Tadi air matanya meleleh. Pasti terharu." Sekalipun sudah tidak berkemampuan untuk omong dalam komunikasi, memang ada sambung rasa yang masih dapat terjadi.

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Monika, Wanita Kudus Ibu Santo Agustinus
Selasa, 27 Agustus 2019

Matius 23:23-26

23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
23:24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
23:25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
23:26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk menjadi sungguh baik orang harus beragama. Di dalam agama dia akan mendapatkan pegangan dan patokan kebaikan.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk menjadi saleh dia akan menekankan perilaku keagamaan. Dia akan tekun menjalani wajib-wajib doa dan ibadat serta semua tradisi agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin menjalani aturan-aturan keagamaan dengan amat teliti tanpa celah, orang dapat jatuh dalam kemunafikan kalau tidak ada penyertaan olah batin untuk bersikap adil, kasih, dan setia. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa keagamaan sejati adalah dinamika olah batin untuk membangun perilaku sebagai ungkapan dan wujud pengembangan hidup demi kebaikan umum.
Ah, asal rajin jalani aturan agama ya pasti jadi orang baik.

Percikan Nas Senin, 26 Agustus 2019

Zefyrinus Namancura, Yakobus Retouret, Libertus, Bonafasius
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Tes. 1:2b-5,8b-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Mat. 23:13-22.
BcO Ef. 4:25-5:7.

Bacaan Injil: 
13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. 14 (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.) 15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. 16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. 17 Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? 18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. 19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? 20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. 21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. 22 Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.

Memetik Inspirasi: 
Suatu kali ada orang yang datang ke suatu lembaga dan menyerahkan bantuan yang dirasa sangat besar oleh lembaga tersebut. Pimpinan lembaga itu pun surprise menerima itu. Omong punya omong ternyata pemberian itu dihaturkan karena nadar yang dibangun kala masih remaja. Kala remaja orang itu bernadar akan mempersembahkan persentase yang dia miliki untuk lembaga yang telah ia pilih.
Tuhan mengatakan, “Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.” (Mat 23:21-22).

Refleksi: 
Apa yang kaunadarkan dalam hidupmu?

Doa:
Tuhan Engkau akan menuntun anak-anak-Mu yang berjanji di hadapan-Mu. Engkau pun akan selalu menggerakkan mereka dalam daya hidup yang luar biasa. Semoga hidup kami pun ada dalam tuntunan-Mu. Amin.

Nadar Suci
MoGoeng
Wates

Sunday, August 25, 2019

Santa Teresa dari Yesus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3466 Diterbitkan: 26 Agustus 2017 Diperbaharui: 13 Juni 2019
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    26 Agustus
  • Lahir
    9 January 1843
  • Kota asal
    Aytona, Lleida, Spanyol
  • Wafat
    26 Agustus 1897 di Liria, Valencia, Spanyol
    Sebab Alamiah
  • Venerasi
    22 Januari 1957 oleh Paus Pius XII
  • Beatifikasi
    27 April 1958 oleh Paus Pius XII
  • Kanonisasi
    27 January 1974 oleh Paus Paulus VI Sumber : Katakombe.Org

Teresa lahir pada tanggal 9 Januari 1843 di kota kecil Lleida, Catalonia, Spanyol, dalam keluarga petani  katolik yang penuh devosi, Francisco José Jornet dan Antonieta Ibars. Seorang saudarinya yang bernama María, kelak membantunya mendirikan biara dan seorang lagi yang bernama Josefa menjadi seorang biarawati Vincentian di Havana Kuba. Saudaranya Juan, menikah dan memiliki tiga anak putri yang di kemudian hari menjadi biarawati dari kongregasi yang didirikannya. Seorang paman dari pihak ibunya adalah seorang biarawan Karmel yang kudus,  Beato Francisco Palau, OCD.
Sejak usia muda, Teresa telah memiliki rasa kepedulian yang kuat terhadap kaum miskin. Banyak orang bersaksi bahwa Teresa kecil sering membawa para fakir miskin ke rumahnya dimana mereka akan dirawat dan diberi makan. Dikemudian hari Teresa pindah ke Lerida untuk melanjutkan studinya dan tinggal bersama seorang bibinya. Setelah studinya selesai ia mendapat pekerjaan sebagai guru di kota Barcelona. Dimasa inilah Teresa mulai tertarik untuk menjalani hidup religius dan ingin menjadi seorang biarawati.
Pada tahun 1868 ia melamar pada biara susteran Klaris di dekat Burgos, namun lamarannya tidak diterima. Penolakan ini tidak mematahkan semangatnya. Ia lalu bergabung dengan komunitas Secular Order of Discalced Carmelites (OCDS) dan menjadi seorang awam Karmelit demi perkembangan kehidupan rohaninya. Ia juga mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati pada profesinya sebagai seorang pendidik. Suatu hari, pembimbing rohaninya, pater Saturnino López i Novoa meminta Teresa untuk mulai berkarya merawat para fakir miskin dan orang-orang jompo yang terlantar dan hidup dalam kemiskinan di wilayah tersebut.  Teresa menyanggupi permintaannya.
Pada tahun 1872, Teresa membuka rumah Jompo pertama di Barbastro. Saudarinya Maria bersama beberapa orang sukarelawati datang membantunya. Di tahun berikutnya kelompok kecil tersebut berkembang pesat dan di bawah bimbingan pater Saturnino López i Novoa (telah digelari “Venerabilis” oleh Paus Fransiskus pada 8 Juli 2014), beralih menjadi sebuah Konggregasi religius. Teresa Ibars terpilih menjadi Moeder Superior yang pertama dari konggregasi Suster yang diberi nama : Hermanitas de los Ancianos Desamparados (Latin: Congregatio Parvarum Sororum Senium Derelictorum; Inggris : The Little Sisters of the Abandoned Elderly; disingkat : Herminitas, abbreviation: H.A.D.). Ia mengucapkan kaulnya pada tanggal 27 Januari 1873 dan mengambil nama biara : Suster Teresa dari Yesus.  Para suster Herminitas  memiliki dedikasi yang luar biasa dalam karya kemanusiaan mereka. Suster Teresa sendiri yang memberikan teladan bagi para susternya dengan mengorbankan kenyamanan pribadi dan memberikan yang terbaik dalam merawat para jompo. Ia segera dikenal sebagai seorang suster yang ramah dan memiliki ketenangan yang luar biasa, sebuah kepribadian yang menarik banyak wanita muda untuk mengikuti jejaknya dan bergabung dalam Kongregasi yang didirikannya.
Biara Induk Susteran Herminitas mulai dibangun di kota Valencia pada tanggal 8 Mei 1873. Pada tanggal 14 Juni 1876 Paus Pius IX menyetujui pendirian Konggregasi ini dan pada akhirnya pada tanggal 24 Agustus 1887 Konggregasi ini mendapat persetujuan resmi dari Paus Leo XIII. Biara Induk di Valencia selesai dibangun dan mulai dibuka pada tanggal 23 April 1896.  Di tahun itu juga suster Teresa dari Yesus kembali terpilih sebagai Moeder Superior meskipun ia telah memohon kepada para suster agar tidak memilihnya lagi.
Ketika wabah kolera melanda Spanyol pada tahun 1897, Suster Teresa dan para biarawatinya berada di barisan depan untuk merawat para korban. Sebanyak 24 orang suster Herminitas dan 70 orang pasien mereka meninggal dunia bersama dengan 120.000 korban meninggal dunia diseluruh Spanyol.
Setelah wabah kolera berlalu, Suster Teresa yang kelelahan memutuskan untuk pensiun dan beristirahat di biara Lira. Ia tutup usia dalam kedamaian biara ini pada tanggal 26 Agustus 1897. Sampai saat kematiannya, Kongregasi yang didirikannya telah memiliki lima puluh biara dan rumah jompo di seluruh Spanyol.
Santa Teresa dari Yesus dibeatifikasi pada tahun 1958 oleh Paus Pius XII, dan dikanonisasi pada tahun 1974 oleh Paus Paulus VI.