Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, January 25, 2020

Minggu Biasa III/A 26 Jan 2020 (Mat 4:12-23)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/01/23; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


TERANG TELAH TERBIT!
Rekan-rekan,
Dalam Mat 4:12-23 yang dibacakan pada Minggu Biasa III tahun A ini dikisahkan dua tindakan Yesus sebelum mulai melayani orang-orang sezamannya: mengenali lapangan dan mengajak beberapa orang menjadi rekan sekerja. Tentunya ia sudah mulai dikenal di Yudea, terutama di dekat Yerusalem. Ketika keadaan politik di situ kurang menguntungkan, ia menyingkir ke wilayah Galilea di utara dan tinggal beberapa waktu di kota tempat ia dibesarkan, Nazaret. Tetapi ia kemudian pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14). Di situlah ia mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ay. 15). Ia juga memilih murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ay. 18-22).
Akan sekadar diuraikan bagaimana dalam petikan ini Matius membaca kembali tampilnya Yesus dengan menerapkan nubuat dalam Yes 8:23a-9:3 yang dipakai sebagai bacaan pertama kali ini.
LAPANGAN
Membaca ringkasan Matius mengenai awal karya Yesus itu kita boleh bertanya, tokoh macam apakah dia itu? Tak berlebihan bila kita memandangnya sebagai seorang yang pandai memahami keadaan dan dapat bertindak dengan cara yang cocok. Bayangkan, ia mempunyai peluang besar di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang di daerah itu haus akan kerohanian baru dan mendambakan ketenteraman batin. Kita ingat banyak orang pergi ke padang gurun menemui Yohanes Pembaptis dan minta dibaptis olehnya. Arus kebangunan rohani ini membuat Herodes waswas. Bisa-bisa penguasa Roma menganggap ada gerakan religius yang mau berontak. Maka Herodes pun mengamankan Yohanes Pembaptis yang juga pernah mengkritik kelakuan moral Herodes terang-terangan. (Lihat Mat 11:2-11 yang pernah diulas bagi Minggu Adven III A.) Bila Yesus tetap tinggal di Yerusalem atau di daerah Yudea, ia tentu akan mendapat kesulitan yang sama. Karena itu ia menyingkir ke utara (Mat 4:12). Dalam Injil Matius, gagasan “menyingkir” memiliki arti menjauhi bahaya dengan bijaksana, seperti diceritakan tentang Yusuf (2:14 dan 22). Juga nanti Yesus disebut menyingkiri tempat-tempat yang menolaknya (12:15; 14:13; 15:21). Kadang-kadang memang lebih baik menghadapi kekuatan yang memusuhi dengan perhitungan bijaksana dan akal sehat daripada dengan keberanian belaka.
KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI  DI UTARA
Wilayah utara sejak zaman dulu berbeda dengan Yudea, baik alamnya maupun budayanya. Tanahnya lebih subur. Perekonomian lebih maju. Orang-orangnya lebih berani berpikir merdeka. Sering mereka dicurigai sebagai kurang taat beragama oleh kaum elit di Yerusalem, yakni para ahli Taurat, imam-imam, kaum Farisi. Memang di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah – transmigrasi – ke utara untuk menemukan nafkah yang lebih baik dan mencari peluang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke sana dari Nazaret di Galilea untuk menyensuskan diri seperti diceritakan Lukas (Luk 2:1-5).
Macam-macam prasangka, lebih-lebih di bidang hidup keagamaan, lebih terasa di Yerusalem dan Yudea pada umumnya. Orang di utara sudah biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki tradisi berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan hal baru. Ia didengarkan. Lihat misalnya kekaguman orang di Kapernaum mendengarkan uraiannya yang segar mengenai Taurat (Mrk 1:21-22 dan Luk 4:31-32). Mereka membicarakan yang dikatakannya. Jadi mereka tidak pasif melulu dan kemudian melupakannya. Tentu saja tidak selalu mereka setuju. Malah di Nazaret ia pernah ditolak (Mrk 6:1-6a Mat 13:53-58 Luk 4:16-30). Bagaimanapun juga, ia jadi berita. Dan orang mau tahu. Ia tidak dianggap sepi.
Di wilayah utara sudah beberapa puluh tahun sebelumnya berkembang satu sektor perekonomian dan bisnis baru, yakni pengelolaan ikan dari danau. Pasar-pasar ikan bertumbuhan di tepian danau sampai menjadi wilayah hunian dan kota yang ramai. Kapernaum ialah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepian danau Tiberias. Nanti Yesus mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu nelayan. Dalam ukuran zaman itu, para nelayan ialah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu ialah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Memang kebanyakan masih dilakukan sendiri, dari menjala, menyortir, kemudian meleveransir ke pasar. Orang-orang itu lincah berusaha. Mereka inilah yang dijumpai Yesus. Mereka ini kemudian juga menjadi pengikutnya. Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia tidak menunggu orang datang kepadanya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah ia makin didengarkan orang.
MATIUS DAN BACAAN PERTAMA (Yes 8:23a-9:3)
Dikatakan dalam Mat 4:13-15 bahwa Yesus meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Uraian di atas sekedar menjelaskan mengapa ia ke sana. Matius sendiri menambahkan bahwa semua ini terjadi agar terpenuhi yang disampaikan Yes 8:23-9:1, yakni bangsa-bangsa yang diam di wilayah kegelapan kini telah melihat terang yang besar. Negeri-negeri dan orang-orang yang dulu biasanya dianggap tidak masuk hitungan kini telah memperoleh terang. Dan terang itu ialah kedatangan Yesus yang di antara mereka.
Boleh jadi gagasan telah terbit terang – habis gelap terbitlah terang – terasa biasa-biasa saja. Tapi bagi orang Yahudi, yang menjadi pendengar utama Injil Matius, terang yang terbit dan dapat dialami itu mengingatkan pada perkara-perkara yang lebih dalam. Pertama-tama tentu saja penciptaan terang yang membatasi ruang gerak kegelapan. Injil Yohanes memakai gagasan ini untuk menjelaskan kedatangan Yesus. Tapi ada pula gagasan lain yang amat kaya, yaitu yang tersirat dalam rumus berkat imam Harun seperti didapati dalam Bil 6:24-26. Dimohonkan agar kehidupan ini menjadi teberkati dan dijagai Tuhan (Bil 6:24), agar orang mengalami sinar wajah Tuhan dan merasa disayang oleh-Nya (Bil 6:25), merasa dipandangi dan mendapat kedamaian dari-Nya (Bil 6:26). Wajah Tuhan yang bersinar itu membuat pengalaman kegelapan tersapu. Tuhan tak pernah berwajah gelap. Ia memang bisa memalingkan wajahnya dari manusia. Dan bila ini terjadi maka manusia akan menjadi mangsa kekuatan-kekuatan gelap. Bahkan  akan dirundung maut. Jadi dipandangi Tuhan dengan sinar wajah-Nya itulah kedamaian dan keselamatan. Gagasan mengenai terang ini amat membantu menjelaskan mengapa Matius justru memilih ayat Yesaya yang menegaskan bahwa bagi bangsa-bangsa telah terbit terang. Dan sinar wajah Tuhan sendiri yang menyayangi manusia, yang memandanginya terus dan memberi kedamaian itu ialah Yesus yang kini mulai bekerja. Ia juga seperti ciptaan pertama yang menerangi jagat mengusir kegelapan.
TANGGAPAN YANG SEPADAN
Menghadapi kenyataan datangnya terang ini, apa reaksi orang-orang? Menurut Mat 4:17 Yesus sendiri menyerukan, “Bertobatlah…!” Ada ajakan untuk meninjau kembali cara kerja dan pandangan hidup yang nyata-nyata dijalani. Kalau bener-bener memberi rasa sreg, ya terus, tapi kalau tidak….? Lha, inilah yang dimaksud seruan itu. Jadi seruan itu bukan untuk menumbuhkan rasa kapok karena dihajar, melainkan dimaksud untuk membuka pikiran dan hati orang. Yang ditawarkan di sini ialah “Kerajaan Surga” yang sudah dekat, yakni terang yang datang dari atas sana yang kini sudah ada di sini. Praktisnya, orang diajak melihat kehidupan ini dalam terang sinar wajah Tuhan yang telah dipalingkan kepada manusia dalam diri Yesus. Termasuk melihat kehidupan yang masih penuh luka. Karya Yesus menyembuhkan orang, mengusir roh jahat, menghibur orang yang kena susah, mengajarkan jalan kebenaran akan menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian.
Dalam petikan Injil ini juga diceritakan Yesus memilih murid -murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka segera meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus. Juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka – pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi. Orang-orang ini melihat sinar wajah Tuhan yang memandangi mereka dan tidak ingin kehilangan lagi.
Mereka yang dipanggil itu akan dijadikan penjala manusia (Mat 4:19). Sering diartikan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Seperti mendulang lubuk misi! Tafsiran seperti itu tidak klop, baik dulu maupun sekarang, bahkan bisa memerosotkan panggilan rasuli. Luk 5:10 menjelaskan “penjala manusia” sebagai “anthropous (ese) zogron”, artinya memegang manusia untuk membawa ke kehidupan. Tanggung jawab rasuli bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan agar orang bisa hidup terus, dan menemukan jalan mereka.
Murid-murid Yesus yang pertama itu berasal dari kalangan yang cukup berada serta cukup terpandang di masyarakat. Mereka bisa membantu orang yang berkekurangan. Kawan kita Luc mengolah perspektif ini lebih jauh, lihat misalnya Kis 2:44-45; 5:34-35. Itulah cara Luc mengatakan agar sebanyak-banyaknya orang dapat menikmati kesejahteraan yang memang dicurahkan dari atas sana. Dan Matt juga tahu ini. Murid-murid yang pintar mengelola ikan itu kini dipanggil menjadi pengelola terang bagi manusia – bukan mengelola manusia demi terang.
Teriring salam,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa III

Minggu, 26 Januari 2020

Matius 4:12-23

4:12. Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
4:17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
4:18. Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
4:19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
4:20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
4:21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka
4:22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
4:23. Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, salah satu jatidiri Gereja adalah sifat misionernya. Setiap anggotanya harus memberitakan Injil.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa dengan jiwa misioner setiap orang Kristen harus berani bicara tentang agamanya di manapun. Dia berjuang agar anggota Gerejanya bertambah dan bertambah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, walau berpengetahuan agama dan fasih berbicara tentang ajarannya kepada siapapun, orang belum sungguh menjadi pewarta iman kalau tak jadi kegembiraan dan jalan kesejahteraan orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati  dimanapun dan kepada siapapun orang akan menjadi penebar sukacita ikut ambil bagian berjuang membantu yang papa dan terlantar.
Ah, kalau mau membantu ya golongannya sendiri saja.

Catatan Pendek 260120


Berinspirasi dari:  Mat. 4:12-17

1. Terpilih menjadi murid adalah anugerah.

2. Kesadaran hal itu sebagai anugerah menguatkan langkah dan menghindarkan dari rasa kecewa dan putus asa (yang berkepanjangan).

Selamat merenung.
MoGoeng

Beato Henrikus Suso

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 1997 Diterbitkan: 11 Maret 2017 Diperbaharui: 22 Maret 2017

  • Perayaan
    25 Januari
    15 Februari (Dominicans)
  •  
  • Lahir
    21 Maret 1295
  •  
  • Kota asal
    Überlingen Konstanz, Jerman
  •  
  • Wafat
    25 Januari 1366 di Ulm Jerman
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1831 oleh Paus Gregorius XVI
  •  
  • Kanonisasi
    -

Beato Henrikus Suso lahir di Überlingen Konstanz, Jerman pada tanggal 21 Maret 1295 dan dibabtis dengan nama Heinrich von Berg. Ia berasal dari keluarga bangsawan Berg yang memerintah di Düsseldorf pada masa itu. Di kemudian hari, karena kerendahan hati dan karena kasihnya kepada sang ibu, Henrikus memilih menggunakan marga ibunya: Suso (ejaan aslinya : Seüse), yang berasal dari kalangan rakyat biasa.
Pada usia 13 tahun ia masuk Novisiat Ordo Para Pengkotbah atau Ordo Dominikan dan selama lima tahun menjalani pendidikan hidup rohani. Pada usia 18 tahun, ia mengalami suatu pertobatan batin yang luar biasa, suatu sentuhan rahmat yang menghantarnya pada suatu kehidupan heroik dalam doa dan pertobatan orang-orang berdosa.  Setelah menyelesaikan studi teologinya di Konstanz, ia ditahbiskan pada tahun 1324, lalu pergi ke Cologne untuk melanjutkan studinya dibawah bimbingan Meister Eckhart (Eckhart von Hochheim OP, seorang mistikus Dominikan, mahaguru Teologi dan Filsafat yang sangat berpengaruh dimasa itu). Eckhart sungguh mempengaruhi kehidupan rohani Henrikus secara mendalam.
Pada tahun 1236, Henrikus kembali ke Konstanz untuk mengajar teologi di Seminari Dominikan. Dalam kurun waktu itu, ia mulai banyak menulis buku tentang Mistisisme. Dalam bukunya yang berjudul Buku kecil tentang kebenaran, Suso memaparkan Mistisisme secara teoritis dan dengan tegas membela ajaran gurunya Meister Eckhart. Dalam buku ini, ia menunjukkan kesetiannya kepada Eckhart sekaligus berusaha membenarkan dirinya terhadap tuduhan-tuduhan yang diberikan kepadanya.
Dalam bukunya; Buku Kecil tentang kebijaksanaan Abadi (buku ini kelak disebut sebagai karya terindah dalam mistisisme Kristen Jerman), Henrikus menuliskan percakapan-percakapan rohaninya dengan Kristus.  Buku ini penuh dengan devosi kepada luka-luka Yesus, kepada nama Yesus, kepada Maria dan kepada Ekaristi. Ia sendiri kemudian menerjemahkan buku ini kedalam bahasa latin dengan judul Horologium Sapientia (Jam Kebijaksanaan).
Dalam bukunya yang berjudul Kehidupan, Suso menuliskan percakapan- percakapan rohani dengan muridnya, Elisabeth Stagel. Buku ini lebih merupakan kisah sebuah jiwa daripada suatu biografi. Ajaran Suso hangat, personal dan lembut. Bahasanya indah dan punya daya tarik yang mendalam.
Dari tahun 1335, Henrikus Suso membaktikan seluruh hidupnya dalam karya pewartaan Sabda dan bimbingan Rohani kepada umat dan rohaniwan-rohaniwati. Dalam karyanya ia banyak dibantu oleh oleh sahabat-sahabatnya sesama murid Meister Eckhart; Yohanes Tauler dan Henry Nordlingen.  Karena bakat dan pengalamannya ini, ia diangkat menjadi pemimpin Serikat Sahabat-sahabat Allah, sebuah serikat religius yang terdiri dari kaum rohaniwan dan awam untuk mendalami bentuk-bentuk kehidupan rohani yang lebih tinggi.
Pada tahun 1343 Henrikus dipilih menjadi pemimpin Ordo Dominikan di Konstanz. Tujuh tahun kemudian ia dikirim ke Ulm dan menjadi pembimbing rohani bagi umat dan rohaniwan-rohaniwati disana. Di sanalah ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 25 Januari 1366.

Friday, January 24, 2020

Catatan Pendek 250120


Berinspirasi dari:  Mrk. 16:15-18

1. Tuhan selalu mempunyai cara untuk membawa orang kembali kepada-Nya.
2. Ia pun akan memakai pilihan-Nya menjadi saksi yang matang. 

Selamat merenung.
MoGoeng

Lamunan Pesta

Bertobatnya Santo Paulus Rasul
Sabtu, 25 Januari 2020

Markus 16:15-18

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran dalam hidup keagamaan orang yang tekun ber-Tuhan akan tampak dalam ibadatnya. Dia rajin pergi ke rumah ibadat.
  • Tampaknya, ada gambaran dalam hidup keagamaan orang yang tekun ber-Tuhan akan tampak dalam pembacaan Kitab Suci. Dia rajin mengikuti pendalaman Kitab Suci.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin menjalani ibadat dan rajin mempelajari Kitab Suci, orang belum sungguh ber-Tuhan kalau kehidupan hariannya tidak menghadirkan suasana batin ceria dan kebaikan bagi banyak orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu ikut berjuang demi kebahagiaan bagi banyak orang.
Ah, jaman sekarang orang mengejar kebahagiaan sendiri-sendiri.

Santo Fransiskus de Sales

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6496 Diterbitkan: 24 Juli 2013 Diperbaharui: 20 Maret 2015

  • Perayaan
    24 Januari
  •  
  • Lahir
    21 Agustus 1567
  •  
  • Kota asal
    Château de Thorens, Savoy (Sekarang Perancis)
  •  
  • Wilayah karya
    Perancis, Swiss
  •  
  • Wafat
    28 December 1622 di Lyon, Perancis | oleh sebab alamiah
    Dimakamkan di The Basilica of the Visitation, Annecy, Perancis
    Saat Revolusi Perancis Relikwinya diselamatkan ke Venice, Italia
  •  
  • Beatifikasi
    8 January 1662 oleh Paus Alexander VII
  •  
  • Kanonisasi
    19 April 1665 oleh Paus Alexander VII

Fransiskus dilahirkan di kastil keluarga de Sales di Savoy, Perancis, pada tanggal 21 Agustus 1567. Keluarganya yang kaya membekalinya dengan pendidikan yang tinggi. Pada usia duapuluh empat tahun, Fransiskus telah meraih gelar Doktor Hukum. Ia kembali ke Savoy dan hidup dengan bekerja keras. Tetapi, kelihatannya Fransiskus tidak tertarik pada kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Di hatinya, Fransiskus mendengar adanya suatu panggilan yang terus-menerus datang bagaikan sebuah gema. Tampaknya seperti suatu undangan dari Tuhan baginya untuk menjadi seorang imam. Pada akhirnya, Fransiskus berusaha menceritakan perjuangan batinnya itu kepada keluarga. Ayahnya amatlah kecewa. Ia ingin agar Fransiskus menjadi seorang yang tersohor di seluruh dunia. Dengan pengaruh kuat keluarga pastilah impian itu akan tercapai. Tetapi, Fransiskus bersikeras dan ditahbiskan imam pada tanggal 18 Desember 1593.
Pater Fransiskus de Sales hidup pada saat umat Kristiani dilanda perpecahan. Ia menawarkan diri untuk pergi ke daerah yang berbahaya di Perancis untuk membawa kembali orang-orang Katolik yang telah menjadi Protestan. Ayahnya menentang dengan keras. Ayahnya mengatakan bahwa sudah merupakan suatu hal yang buruk baginya mengijinkan Fransiskus menjadi seorang imam. Ia tidak akan mengijinkan Fransiskus pergi dan wafat sebagai martir pula. Tetapi, Fransiskus percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Maka ia dan sepupunya, Pater Louis de Sales, dengan berjalan kaki menempuh perjalanan ke daerah Chablais. Segera saja kedua imam tersebut merasakan bagaimana menderitanya hidup penuh hinaan serta aniaya fisik. Hidup mereka berdua senantiasa ada dalam bahaya. Namun demikian, sedikit demi sedikit, umat kembali ke pelukan Gereja.

St. Fransiskus kemudian diangkat menjadi Uskup Geneva, Swiss. Bersama St. Yohana Fransiska de Chantal, pada tahun 1610 ia membentuk suatu ordo religius bagi para biarawati yang diberi nama Serikat Visitasi. Fransiskus menulis buku-buku yang mengagumkan mengenai kehidupan rohani dan cara untuk menjadi kudus. Buku-bukunya, Tulisan tentang Kasih Allah dan Pengantar kepada Kehidupan Saleh, masih dicetak hingga sekarang. Buku-buku tersebut digolongkan sebagai buku-buku rohani “klasik”.   

Uskup de Sales wafat pada tanggal 28 Desember 1622 dalam usia limapuluh enam tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Inosensius X pada tahun 1665. Oleh karena pengabdiannya yang gagah berani bagi Gereja, ia diberi gelar istimewa “Pujangga Gereja”. St. Fransiskus dijadikan pelindung para wartawan.