Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, August 26, 2020

Santa Mariam Baouardy

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5388 Diterbitkan: 13 September 2015 Diperbaharui: 03 Februari 2019

  • Perayaan
    26 Agustus
  •  
  • Lahir
    5 Januari 1846
  •  
  • Kota asal
    Abellin, Galilea, Palestina
  •  
  • Wafat
    26 Agustus 1878 di Betlehem Israel - Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    27 November 1981 oleh Paus Yohanes Paulus II (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    13 November 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi
    17 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus


Santa Mariam Baouardy adalah seorang biarawati Karmel yang berasal dari keluarga Katolik Melkite Yunani. Ayahnya, Giries (Georgius) Baouardy, berasal dari desa Horfesch di Palestina sedangkan ibunya, Mariam Shahine, berasal dari Tarshiha, Palestina. Kedua desa tersebut didiami oleh orang Druze (Kristen Arab) yang kebanyakan merupakan rakyat jelata yang hidup sederhana.

Kelahiran dan Masa Kecil

Selama masa perkawinannya, pasangan Giries dan Mariam Shahine dikaruniai 12 anak laki-laki, namun tak seorangpun yang tetap hidup saat infansi, sehingga menimbulkan kesedihan yang besar bagi mereka. Mariam yang rajin berdevosi kepada Bunda Maria membujuk suaminya untuk pergi ke Betlehem dan memohon kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar dikaruniai seorang anak perempuan. Maka mereka pun melakukan hal itu. Di depan gua tempat Kelahiran Yesus, mereka mengutarakan permintaan mereka dalam doa. Mereka percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa dan permohonan mereka itu. Karena iman mereka tersebut, maka pada tanggal 5 Januari 1846, pada malam Epifani, seorang bayi perempuan dilahirkan. Kelahiran bayi perempuan itu membawakan sukacita yang besar bagi pasangan Giries dan Mariam. Ketika si bayi berumur 10 hari, mereka membawanya ke sebuah Gereja lokal Melkite untuk menerima Sakramen Babtis. Bayi itu dipersembahkan di bawah perlindungan Perawan Maria dan diberi nama Mariam Baouardy.

Dua tahun kemudian keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Boulos (Paul). Kebahagiaan semakin mewarnai kehidupan keluarga kecil itu. Namun rupanya kebahagiaan yang mereka rasakan itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Kedua orang tua Mariam dan Paul meninggal saat mereka masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang. Sesaat sebelum meninggal dunia, Giries menatap gambar Santo Yosef dan menyerahkan anak-anaknya kepada perlindungan Santo Yosef dan Bunda Maria. Sepeninggal kedua orang tua mereka, Paul kecil lalu dibawa oleh bibi dari pihak ibu di daerah Tarshiha, sedangkan Mariam diadopsi oleh paman dari pihak ayah di Abellin Galilea.

Pindah ke Galilea

Abellin adalah suatu daerah yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Dari puncak desa terlihat seluruh bagian atas Galilea. Mariam kecil sangat menyukai pemandangan itu. Ia sering memandang alam sambil mengenang kembali kehidupannya. Dari daerah itu jika memandang ke arah utara, nampak barisan gunung yang tinggi, perbatasan Lebanon. Di Timur Laut terdapat Jebel Shaykh yang megah dan awan menutupinya sepanjang tahun. Di sebelah Timur, gelombang bukit-bukit melandai lembut ke bawah menuju Danau Galilea, yang disebut juga Tiberias; di sebelah Selatan, dataran yang kaya Esdralon membentang sampai ke Gunung Karmel. Di sebelah Barat Laut melalui bukit pasir terdapat Laut Mediterania yang biru berkilauan.

Mariam tinggal bersama keluarga yang menyenangkan, pamannya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Ia merasa senang tinggal bersama keluarga pamannya itu. Suatu ketika, Mariam mengalami suatu peristiwa kecil yang membawa kesan tersediri baginya. Peristiwa itu terjadi di tengah-tengah kebun buah pamannya. Di sana ia mempunyai sebuah kandang kecil yang didiami oleh burung-burung kecil, hadiah yang diberikan kepadanya. Suatu hari terdorong oleh perhatian dan kasihnya, ia berniat memandikan mereka, namun karena Mariam kecil belum mengerti cara yang tepat, maka menyebabkan burung-burung itu mati karena basah. Kematian mereka melukai hati kecil gadis kecil itu. Dengan penuh dukacita ia menguburkan mereka, dan saat itu di lubuk hatinya ia mendengar suatu suara yang jelas, “Seperti ini, betapa segala sesuatu berlalu. Jika engkau memberikan hatimu, Aku akan selalu tetap bersamamu.”

Keteguhan Iman Mariam

Saat Mariam berumur delapan tahun pamannya meninggalkan Palestina bersama seluruh keluarga dan menetap di Alexandria, Mesir. Ia tidak lagi melihat Ibillin yang dicintainya itu. Ketika Mariam berumur 13 tahun, ia dijodohkan dengan seorang pemuda, hal ini dilakukan menurut adat istiadat mereka. Pernikahan diatur tanpa persetujuan kedua pengantin. Kebiasaan ini terjadi di kalangan orang-orang Timur Tengah. Mengetahui hal tersebut, Mariam terkejut dan hatinya menjadi sangat sedih. Pada malam sebelum acara pernikahan itu diadakan, ia tidak dapat tidur. Ia tidak siap sama sekali untuk hidup sebagai seorang wanita yang menikah. Malam itu dengan sungguh-sungguh ia berdoa memohon bimbingan dan penghiburan. Kemudian dari kedalaman hatinya ia mendengar kembali suara yang begitu meneduhkan, “Segala sesuatu berlalu! Jika engkau berharap memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan tetap bersamamu.” Mariam mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah suara dari kekasih satu-satunya yang ia miliki yaitu Yesus. Malam itu ia lalui dengan doa yang mendalam di depan gambar Perawan Bunda Yesus; kemudian ia mendengar suara, “Mariam, Aku besertamu, ikuti bimbingan yang Kuberikan kepadamu. Aku akan menolongmu.”

Keesokan harinya, ketika Mariam menyatakan keberatannya untuk menikah dan ingin tetap perawan, paman yang mengadopsinya menjadi sangat marah. Ia meledak dalam kemarahan, berteriak, memukul dan menampar Mariam, tetapi tidak ada yang dapat mengubah ketetapan hati Mariam. Maka pamannya terpaksa mempekerjakan ia sebagai pekerja domestik, memberikan tugas-tugas dapur yang paling berat dan menempatkannya pada posisi yang lebih rendah daripada pembantu lainnya.

Mariam tenggelam dalam perasaan kesepian dan kehilangan harapan. Ia minta tolong kepada saudara laki-lakinya Paul. Ia menulis surat kepadanya dan memintanya supaya datang dan melihatnya di Alexandria. Dalam pengasingan oleh keluarga pamannya ini Mariam meminta bantuan kepada seorang pemuda muslim agar mengirim suratnya ke Nazaret. Pemuda itu menganjurkan Mariam mengungkapkan masalah pribadinya. Namun kemudian ia mencoba merayu Mariam untuk meninggalkan imannya. Kata-kata dan tindakannya secara langsung menyerang Kekristenan Mariam. Namun Mariam menolak rayuan pemuda itu dan dengan tegas menyatakan imannya akan Gereja Kristus; “Aku seorang putri Gereja Katolik, dan aku berharap oleh rahmat Allah untuk bertekun sampai mati di dalam kepercayaanku”.

Penolakan Mariam membuat pemuda muslim itu marah. Dengan mata penuh kebencian, ia memukul Mariam hingga roboh. Setelah itu ia mengambil pedang dan menggorok leher gadis itu. Mengira bahwa Mariam sudah mati, ia membuang tubuh berdarah itu di sebuah lorong gelap. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada tanggal 8 September 1858.

Apa yang terjadi kemudian yaitu suatu peristiwa aneh dan indah. Mariam merasa ada seorang perempuan berpakaian biru membawanya ke atas dan menjahit luka di lehernya. Pengalaman ini terjadi di suatu gua. Beberapa tahun kemudian, Mariam menceritakan pengalamannya itu kepada salah seorang suster di Marseilles, katanya,

Beberapa tahun kemudian saat dalam keadaan ekstase, pada tanggal 8 September 1874, pada hari peringatan kelahiran Bunda Maria, Mariam mengatakan, “Pada hari yang sama pada tahun 1858, saya ada bersama Bunda Maria dan mengabdikan hidup kepadanya. Seseorang telah berusaha menggorok leher saya, tetapi pada hari berikutnya Bunda Maria merawat saya.”

Menjadi Biarawati Karmel

Sejak hidup terpisah dari pamannya, Mariam tidak pernah lagi melihat pamannya. Ia menyokong hidupnya sendiri dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Kristen Arab, Najjar. Selama itu kerinduan Mariam untuk mempersembahkan hidupnya pada Yesus semakin besar. Kemudian atas anjuran Bapa pengakuannya, Mariam bergabung dengan suster-suster St. Yosef. Bersama beberapa postulan dari Lebanon dan Palestina, ia tinggal bersama dengan para suster tersebut. Namun tak lama setelah itu kesehatannya menurun dan kejadian-kejadian mistik mulai dialaminya. Hal itu mengganggu kongregasi di mana ia tinggal. Mereka terkejut melihat gerakan-gerakan dan pancaran mistik yang terjadi. Berdasarkan alasan tersebut, maka Mariam tidak diperkenankan untuk memasuki masa novisiat. Kemudian oleh pembimbing novis di sana, Sr. Veronica, Mariam dimasukkan ke biara Karmel Pau. Mariam memasuki Karmel saat berumur 21 tahun sebagai seorang suster biasa. Ia mengambil nama Suster Maria dari Yesus yang Disalib.

Pengalaman Mistik

Suster Maria dari Yesus yang Disalib, mengucapkan kaul pertamanya pada tanggal 21 November 1871 sebagai Religius Karmel. Sebelum kejadian itu ia menderita kesengsaraan yang hebat. Salah satu yang paling mengerikan yaitu gangguan roh jahat selama 40 hari. Ia bertekun dalam kesederhanaan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Allah Putera dan Bunda-Nya yang Kudus, Maria. Penghargaan atas hal-hal itu mendatangkan hak paling istimewa bagi manusia. Ia menerima anugerah tetap stigmata dari Penyelamat yang disalib, mengalami levitasi, menerima karunia nubuat dan pengetahuan atas hati, dikuasai oleh malaikat baik, dan memiliki muka yang bercahaya. Ia berkata, “Segala sesuatu berlalu di atas bumi. Siapakah kita? Tidak lain selain debu, kehampaan, dan Allah sangat besar, sangat indah, sangat patut dicintai, namun tidak dicintai.”

Devosi Kepada Roh Kudus

Suster Maria dari Yesus yang Disalib berdevosi rutin kepada Roh Kudus, pemilik kebenaran tanpa kesalahan dan penyimpangan. Melalui Patriark Melkite Gregorius II, ia mengirim sebuah pesan kepada Paus Pius IX yang mengatakan bahwa Gereja, bahkan seminari-seminari, mengabaikan devosi sebenarnya kepada Roh Kudus, Sang Penghibur. Doanya kepada Yang Tak Dikenal :

Doa sederhana dari Suster Maria ini menyebar ke seluruh dunia.

Akhir kehidupan

Suatu hari dalam bulan Agustus 1878, ketika sedang melakukan pekerjaannya di biara, Suster Maria mengalami suatu rasa kesakitan yang sangat hebat. Saat itu ia berusia 33 tahun. Ganggren timbul dengan cepat dan menyebar ke bagian pernafasannya. Ia tidak pernah sembuh dari luka tersebut. Ia begitu menderita akibat sakitnya itu, namun ia menerimanya dengan tabah dan tulus hati. Pada tanggal 26 Agustus 1878, Suster Maria kembali mengalami serangan kesulitan pernafasan yang amat hebat dan mengancam hidupnya. Setelah beberapa saat penderitaan yang dialaminya itu, Suster Maria meninggal dunia. Pada saat terakhir hidupnya itu, ia berbisik dengan lirih, “Yesusku, berbelaskasihlah.” Suster Maria menyerahkan dirinya kepada Yesus yang amat dicintainya, ia meninggalkan dunia ini untuk bertemu dan bersatu dengan kekasihnya. Saat itu pukul lima lewat sepuluh menit di pagi hari.

Ketika ia dimakamkan, pada batu nisan makamnya terukir tulisan: “Di sini dalam damai Tuhan beristirahatlah Suster Maria dari Yesus yang Disalib, profesi religius dengan kerudung putih. Suatu jiwa dengan rahmat-rahmat luar biasa. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, ketaatannya, dan cintakasihnya. Yesus satu-satunya cinta dalam hatinya memanggil dia untuk diri-Nya dalam usia 33 tahun dan 12 tahun dari hidup religiusnya di Betlehem, 26 Agustus 1878.

Kanonisasi

Saat ini Suster Maria dari Yesus yang Disalib dikenal sebagai “Al Qiddisa” (yang kudus) di Ibillin, Palestina. Ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 13 November 1983 dan dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 2015 bersama 3 orang kudus lainnya yaitu : Santa Jeanne-Emilie de Villeneuve, Santa Maria Cristina Brando dan Santa Maria Alfonsina Ghattas.

Misa kanonisasinya digelar di lapangan Santo Petrus Vatikan dan dihadiri oleh 2.000 warga Kristen Palestina, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Tuesday, August 25, 2020

Wani Ra?


Kasir: Dir, sudah siap-siap untuk misa besok Minggu?
Kadir: Misa?
Kasir: Iya, kan ada edaran kalau besok Minggu paroki kita sudah bisa misa di Gereja.
Kadir: hmmmm aku sudah baca sih, tapi…..
Kasir: Tapi…., tapi apa?
Kadir: tapi aku masih takut je. Takut kalau nanti-nanti tertular.
Kasir: la trus kowe ra wani?
Kadir: iyo aku ra wani.
Kasir: trus rencanamu piye?
Kadir: rencanaku si arep gowes karo kanca-kanca nang car free day.
Kasir: oooo dadi yen gowes wani ya?
Kadir: iya je, saiki yen minggu kan enak nggo nggowes.
Kasir: ya mrene dak sembahyangke sik.
Kadir: kok disembahyangke?
Kasir: lha kowe milih nggowes timbang ngibadah. Apa nggowesmu makai protokol kesehatan?
Kadir: ya ho o, ning sering ora lha wong ngumpul-ngumpul je.
Kasir: makane kudoakan dulu, sapa tahu besok kamu mati pas nggowes kan sudah kudoakan, wong ra tau ngibadah. Wani ra?

Lamunan Pekan Biasa XXI

Rabu, 26 Agustus 2020

Matius 23:27-32

27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. 29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh 30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, perdagangan masa kini amat mementingkan yang namanya kemasan. Barang sederhana tetapi amat menarik karena bungkusan dan pilihan kata membuatnya laris dan berharga tinggi.
  • Tampaknya, pada zaman kini orang juga amat menghargai yang namanya life style. Pemilihan pakaian dan hiasan tubuh akan menghadirkan tampilan menarik dan menjadikannya sosok populer dalam kebersamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau punya tampilan amat menarik sehingga populer, tanpa garapan hati bersih semua hanya jadi kemunafikan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan biasa menata hati yang akan mengalir dalam ungkapan penampilan tulus penuh kerelaan alami.

Ah, pada jaman kini yang namanya marketing itu penting sehingga harus menjaga penampilan.

Santo Louis IX

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 9298 Diterbitkan: 26 Agustus 2013 Diperbaharui: 22 Agustus 2016

  • Perayaan
    25 Agustus
  •  
  • Lahir
    25 April 1214
  •  
  • Kota asal
    Poissy, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Perancis, Israel
  •  
  • Wafat
    25 Agustus 1270 di Tunisia dalam perjalanan menuju tanah suci Yerusalem
    Disemayamkan di Basilica of Saint Denis, Paris, France
    Pada saat Revolusi Perancia makamnya dihancurkan
  •  
  • Kanonisasi
    Tahun 1297 oleh Paus Bonifasius VIII

Louis (Ludovikus) lahir pada tanggal 25 April 1214. Ayahnya adalah raja Perancis Louis VIII dan ibunya adalah ratu Blanka. Menurut cerita, ketika Pangeran Louis masih kecil, ibunya memeluknya erat-erat. Katanya, “Aku mengasihimu, puteraku terkasih, dengan cinta kasih sebanyak yang dapat diberikan seorang ibu. Tetapi, aku lebih suka melihatmu mati di bawah kakiku daripada melihatmu melakukan suatu dosa besar.” Louis tidak pernah melupakan kata-kata ibunya itu. Ia menghargai iman Katoliknya juga didikan yang diberikan kepadanya. Ketika usianya dua belas tahun, ayahnya meninggal dunia dan ia dinobatkan sebagai raja. Ibunya ratu Blanka yang menjalankan pemerintahan sampai Lous berusia duapuluh satu tahun.
 
Louis adalah seorang raja yang mengagumkan. Ia menikah dengan Margaret, puteri seorang pangeran. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Mereka dikaruniai sebelas putera puteri. Louis juga seorang suami dan ayah yang baik. Dan selama ibunya masih hidup, ia selalu menunjukkan sikap hormat kepadanya. Bagaimana pun sibuknya dia, Louis selalu menyempatkan diri untuk ikut ambil bagian dalam Misa harian dan selalu mendaraskan Doa Ofisi.
 
Louis juga anggota Ordo Ketiga Fransiskan dan hidup dalam semangat kemiskinan seturut teladan santo Fransiskus. Ia murah hati serta adil. Ia memerintah rakyatnya dengan bijaksana, belas kasihan dan dengan menerapkan prinsip-prinsip Kristiani sejati. Ia hidup sesuai dengan keyakinannya sebagai seorang Katolik. Ia tahu bagaimana melerai perdebatan dan perselisihan. Ia mendengarkan mereka yang miskin dan terabaikan. Ia menyediakan waktu bagi siapa saja, tidak hanya bagi mereka yang kaya serta berpengaruh. Ia memajukan pendidikan Katolik dan mendirikan biara-biara.
 
Seorang sejarawan, Joinville, menulis mengenai riwayat hidup St. Louis. Ia mengenang bahwa ia mengabdi raja selama duapuluh dua tahun lamanya. Setiap hari ia ada dekat raja. Dan sepanjang masa itu, ia dapat mengatakan bahwa tidak pernah sekali pun ia mendengar Raja Louis menyumpah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Demikian juga raja tidak mengijinkan kata-kata demikian diucapkan dalam istananya.
 
St. Louis merasa bahwa merupakan suatu kewajiban penting baginya menolong umat Kristiani yang menderita di tanah suci. Ia ingin ikut ambil bagian dalam Perang Salib. Ketika Paus Urbanus II meminta para bangsawan Eropa untuk berjuang membebaskan Yerusalem dari pendudukan tentara Turki, Louis segera menyambutnya dengan mengirimkan bala-tentara Perancis bergabung dengan Pasukan Salib (Crusaders). Louis sendiri yang memimpin para Crusaders Perancis.
 
Dua kali ia memimpin pasukan berperang melawan bala tentara Turki. Dalam peperangannya yang pertama, ia tertawan. Tetapi, bahkan dalam penjara sekali pun, ia bersikap sebagai seorang kesatria Kristiani sejati. Ia gagah berani dan berbudi luhur dalam segala sikapnya. Louis kemudian dibebaskan setelah kerajaan Perancis membayar tebusan kepada para penawannya.
 
Ia kembali ke Perancis untuk mengurus kerajaannya. Tetapi, demi membebaskan tanah suci Yerusalem, Louis kembali menghimpun pasukan dan berangkat lagi ke medan perang.
 
Namun demikian dalam perjalanan, raja yang sangat dicintai rakyatnya itu terjangkit demam tipus. Beberapa jam menjelang kematiannya, ia berdoa, “Tuhan, sebentar lagi aku memasuki rumah-Mu, bersembah sujud di Bait-Mu yang kudus, serta memuliakan Nama-Mu.” St. Louis wafat pada tanggal 25 Agustus tahun 1270 dalam usia lima puluh enam tahun.
 
St. Louis dinyatakan kudus oleh Paus Bonifasius VIII pada tahun 1297.

Monday, August 24, 2020

Lamunan Pekan Biasa XXI

Selasa, 25 Agustus 2020

Matius 23:23-26

23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang beragama dapat merasa layak menjadi pengikut Tuhan kalau setia menjalani berbagai macam tata peribadatan. Dia akan antusias ikut membuat peribadatan menarik bagi umat.
  • Tampaknya, orang beragama dapat sungguh merasa amat dekat Tuhan kalau ikut membuat semarak pelaksanaan peribadatan. Dia akan menjaga rumusan kata-kata, perlengkapan, dan juga berbagai hiasan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun aktif menjaga tata peribadatan bahkan ikut menyelenggarakan semarak pelaksanaannya, kesemuanya hanya menjadi tanda kebutaan keagamaan kalau orang tidak menjaga kejernihan relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam berbakti pada Tuhan orang akan menjalani berbagai tata peribadatan sebagai ungkapan bakti hatinya pada Tuhan.

Ah, asal taat pada tata aturan peribadatan orang sungguh sudah berelasi dengan Tuhan.

Santo Bartolomeus Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 20245 Diterbitkan: 05 November 2013 Diperbaharui: 09 Oktober 2019

  • Perayaan
    24 Agustus
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Galilea, Yerusalem, Asia Kecil, India, Armenia
  •  
  • Wafat
    Martir - Dikuliti hidup-hidup di Albanopolis, Armenia (sekarang bagian tenggara Turki)
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation


Santo Bartolomeus adalah salah seorang dari kedua belas Rasul. Dalam Alkitab ia disebut sebagai Natanael  ( Natanael bar-Tolomai =  Natanael  'anak Tolomeus').  Nama Natanael hanya disebutkan dalam Injil Yohanes.  Dalam Injil-injil Sinoptik, Ia disebut sebagai Bartolomeus dan selalu disebutkan bersama dengan Filipus,  sedangkan nama Natanael tidak pernah disebut. Sebaliknya dalam Injil Yohanes, Filipus dan Natanael disebutkan bersama, tetapi nama Bartolomeus tidak pernah disebut.

Bartolomeus berasal dari Kana di daerah Galilea seperti kebanyakan murid Yesus yang lainnya. Ketika diajak oleh temannya, Filipus, untuk menemui Yesus dari Nazaret,  Natanael awalnya bersikap skeptik.

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."
Kata Natanael kepadanya : "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"
Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"
Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."
Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" ....... (Yoh 1:45-49)


Para pakar meyakini bahwa perkataan Yesus mengenai Natanael "di bawah pohon ara" merupakan istilah yang bermakna "mempelajari Taurat".

Sejak saat itu Bartolomeus mengikuti Yesus hingga Ia wafat disalib dan menjadi saksi kebangkitan-Nya.

Nama Natanael disebut kembali di akhir Injil Yohanes yang dicatat bersama-sama sejumlah murid lain di pantai Danau Galilea setelah Kebangkitan Yesus, di mana kemudian Yesus menampakkan diri kepada mereka.

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.   Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. (Yoh 21:1-2 )

Eusebius dari Kaisarea menulis dalam Ecclesiastical History (5:10) bahwa setelah Kenaikan Yesus, Bartolomeus pergi sebagai misionaris ke India, di mana ia meninggalkan sebuah salinan Injil Matius. Tradisi lain mencatatnya sebagai misionaris ke Ethiopia, Mesopotamia, Parthia, dan Lycaonia.

Rasul Bartolomeus  bersama rasul Yudas anak Yakobus,  dikenal  sebagai pembawa Kekristenan ke Armenia pada abad ke-1 M.  Karenanya kedua rasul ini dianggap santo pelindung bagi Gereja Apostolik Armenia.

Dikabarkan Bartolomeus mati sebagai martir di Albanopolis di Armenia. Menurut satu riwayat, ia dipenggal kepalanya, tetapi tradisi yang lebih populer menyatakan bahwa ia dikuliti hidup-hidup dan disalib dengan kepala di bawah.  Dikatakan bahwa Bartolomeus telah membawa Polymius, raja Armenia, menjadi penganut Kristen. Akibatnya, Astyages, saudara laki-laki Polymius, menyuruh Bartolomeus dihukum mati.

Pada abad ke-4 jenasah Bartolomeus dipindahkan ke sebuah gereja di Roma, di sebuah pulau di tengah-tengah sungai Tiber.

Pada abad ke-13 Biara Saint Bartholomew Monastery didirikan di Armenia pada tempat kemartiran  rasul Bartolomeus di provinsi Vaspurakan di Greater Armenia (sekarang bagian tenggara Turki).

Gereja merayakan Pesta St. Bartolomeus pada setiap tanggal 24 Agustus.

Sunday, August 23, 2020

Lamunan Pesta

Santo Bartolomeus, Rasul

Senin, 24 Agustus 2020

Yohanes 1:45-51

45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." 46 Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" 47 Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" 48 Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." 49 Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" 50 Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." 51 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, kesaksian iman menjadi tugas utama sebagai anggota Gereja. Tidak sedikit yang berpandangan bahwa untuk menjadi saksi iman orang harus memiliki bekal pengetahuan tentang keagamaan.
  • Tampaknya, ada juga gambaran bahwa untuk menjadi saksi iman orang harus siaga pergi ke sana-sini mewartakan agama. Dia juga berjuang untuk menambah bahkan memperbanyak anggota baru dalam Gereja.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun paham agama dan rajin mengajarkannya, orang belum tentu sungguh menjadi saksi iman bila hidup kesehariannya tidak dilandaskan pada pengalaman hati tersentuh daya-daya ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menjadi saksi iman karena perilaku hariannya menjadi pijar hati mengalami karya-karya Tuhan.

Ah, asal pintar mengajar agama orang jelas sudah menjadi saksi iman.