Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Showing posts with label Orang Kudus. Show all posts
Showing posts with label Orang Kudus. Show all posts

Friday, February 5, 2021

Santo Alfonsus Maria Fusco

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 17 Januari 2018 Diperbaharui: 11 Februari 2019 Hits: 2968

  • Perayaan
    06 Februari
  •  
  • Lahir
    23 Maret 1839
  •  
  • Kota asal
    Salerno, Campagnia, Italia Selatan
  •  
  • Wafat
  •  
  • 6 February 1910
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    12 February 1976 oleh Paus Paulus VI (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    7 Oktober 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 16 Oktober 2016 oleh Paus Fransiskus

Santo Alfonso Maria Fusco berasal dari kota kecil Angri, di Salerno, Campagnia, Italia Selatan. Kedua orang tuanya, Aniello Fusco dan Josephine Schiavone, adalah petani sederhana yang hidup dalam tradisi Katolik yang kuat.

Pasangan ini telah menikah selama tiga tahun namun belum juga memiliki keturunan. Karena itu pada tahun 1838 mereka memutuskan untuk berziarah ke Basilika Santo Alfonsus de Lugiori di kota Pagani, tempat relikwi Santo Alfonsus Maria de Lugiori disemayamkan. Setelah selesai berdoa dengan perantaraan Santo Alfonsus Liguori (saat itu masih bergelar Beato), seorang biarawan Redemptoris bernama Francesco Saverio Pecorelli,C.Ss.R mendekati pasangan peziarah ini dan berpesan: “Kalian akan memiliki seorang putra, kalian akan menamakannya Alfonsus. Ia akan menjadi seorang imam dan akan menjalani hidup seperti Beato Alfonsus”. Dan begitulah yang terjadi. Pada tanggal 23 Maret 1839 putra sulung mereka lahir dan dibabtis dengan nama Alfonsus Maria Fusco. Setelah itu pasangan petani saleh ini juga diberkati dengan kelahiran empat orang buah hati.

Alfonsus kecil dikenal sebagai pribadi yang lembut, menyenangkan, suka berdoa dan ringan tangan membantu orang-orang miskin. Di usia tujuh tahun ia mendapat dispensasi khusus untuk menerima Komuni pertama atas rekomendasi para katekis dan pastor paroki. Ketika berusia sebelas tahun ia mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang imam. Pada tanggal 5 November 1850  Alfonsus masuk Seminari Nocera dei Pagani. Selama 13 tahun ia belajar dengan tekun dan ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Salerno, Mgr.Anthony Salomone, pada tanggal 29 Mei 1863.

Pater Alfonsus segera dikenal akan semangat kerasulannya, kedisiplinannya dalam pelayanan liturgi dan ketekunannya memberikan pelayanan sakramen bagi umat, terutama sakramen tobat. Ia mengabdikan dirinya dengan sungguh-sungguh dan umat akan selalu mengenang gaya khotbahnya yang sederhana dan tajam.  

Dalam kesehariannya, ia hanyalah seorang imam yang penuh semangat pelayanan, namun Alfonsus selalu membawa sebuah mimpi didalam hatinya. Pada suatu malam di tahun terakhirnya sebagai siswa seminari, ia bermimpi melihat Tuhan Yesus yang memintanya untuk mendirikan sebuah Institusi Susteran dan Panti Asuhan untuk anak-anak terlantar ketika ia telah menjadi seorang imam.

Pertemuannya dengan Maddalena Caputo, seorang calon postulan yang berkemauan keras, mendorong Alfonso untuk segera mewujudkan impiannya. Pada tanggal 25 September 1878, Maddalena Caputo membawa tiga wanita muda yang juga ingin menjalani hidup religius. Mereka menyatakan keinginan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan dan menjalani kehidupan yang kudus, berkaul kemiskinan, serta mengabdi pada karya cinta kasih khususnya merawat para yatim piatu dan anak-anak terlantar. Inilah awal berdirinya Susteran Santo Yohanes Pembabtis atau yang juga dikenal sebagai para Suster Baptistine.

Benih yang telah jatuh ke dalam hati keempat wanita yang murah hati ini lalu bertumbuh pesat. Tuhan memberkati benih-benih ini hingga menghasilkan buah berlimpah. Dalam waktu singkat para postulan baru dan anak-anak yatim-piatu mulai berdatangan.

Pater Alfonsus menuntun perkembangan Institusi ini dengan bijaksana. Dia menunjukkan kelembutan bagai seorang ayah bagi semua penghuni biara dan panti asuhan, khususnya bagi para yatim-piatu. Semakin hari, semakin banyak para yatim-piatu dan anak-anak terlantar yang berdatangan ke rumah penampungan suster Baptistine. Hingga suatu saat, para suster khawatir akan persediaan makanan bagi para penghuni Panti Asuhan yang sudah menipis. Alfonso menenangkan mereka dan berkata: "Jangan khawatir, saya akan menghadap Yesus sekarang dan Dialah yang akan mencemaskan kita!". Jawaban Yesus datang seketika. Di hari itu juga kereta kuda seorang donatur tiba di rumah biara dan membawa bahan makanan dalam jumlah besar.

Pater Alfonsus tidak meninggalkan banyak tulisan. Dia lebih banyak bersaksi melalui cara hidupnya yang kudus. Orang-orang yang mengenalnya menyatakan bahwa ia adalah seorang imam yang hidup sangat sederhana. Ia memiliki rasa cinta yang meluap-luap pada Sakramen Ekaristi dan Devosi yang mendalam pada Sengsara Yesus di salib dan Bunda Maria berduka-cita.  Kepada para suster Baptistine ia sering berpesan: "Marilah kita menjadi orang-orang kudus, mengikuti Yesus dengan saksama. …. Jika kita hidup dalam kemiskinan, dalam kesucian dan dalam ketaatan, kita akan bersinar seperti bintang di langit".

Pada masa dimana pendidikan adalah hak istimewa bagi segelintir orang, Alfonso telah berjuang memberikan pendidikan yang baik bagi para yatim-piatu dan anak-anak terlantar. Ia berharap dengan memperoleh pendidikan, mereka dapat menjalani hidup yang lebih baik di kemudian hari.

Konggregasi Suster Baptistine terus berkembang. Dalam waktu singkat jumlah para suster dan anak yatim terus bertambah. Hal ini mendesak pater Alfonso untuk membuka beberapa biara dan panti asuhan baru; awalnya di wilayah Campania, lalu menyebar ke seluruh wilayah Italia.

Pada malam hari tanggal 5 Februari 1910, pater Alfonsus jatuh sakit. Keesokan harinya ia minta diberikan sakramen pengurapan orang sakit, lalu dengan suara gemetar, ia berdoa :  "Tuhan, terima kasih, saya telah menjadi pelayan-Mu yang tidak berguna".  Kemudian ia berpaling kepada para suster yang tengah menangis di sekeliling pembaringannya: "Dari surga aku tidak akan melupakan kalian, aku akan selalu berdoa untuk kalian".  Dan hamba Tuhan ini menutup matanya untuk selama-lamanya.

Berita kematiannya menyebar dengan cepat. Umat mengabarkan berita kematiannya dengan berseru: "Bapa kaum miskin itu telah meninggal!!, Orang kudus itu telah meninggal!".

Hidupnya sebagai saksi Kristus telah menjadi inspirasi dan anugerah, terutama bagi kaum miskin dan suster-suster Baptistine yang kini telah menyebar dan berkarya di empat benua. Pada tanggal 7 Oktober 2001, Alfonsus di beatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Dalam Misa  beatifikasinya paus menyatakan bahwa Beato Alfonsus Maria Fusco adalah teladan bagi para imam, model bagi para pendidik, dan pelindung bagi kaum miskin. Selanjutnya pada tanggal 16 Oktober 2016 ia dikanonisasi oleh Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus Roma.

Santa Koleta

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 04 Februari 2020 Hits: 9382

  • Perayaan
    06 Maret (Roman Martyrology)
    07 Februari (Fransiskan dan Kapusin)
  •  
  • Lahir
    13 January 1381
  •  
  • Kota asal
    Picardy Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Ghent, Flander
  •  
  • Wafat
  •  
  • 6 Maret 1447 di Ghent, Belgia | Oleh sebab alamiah
    Disemayamkan di Monastère Sainte-Claire, Poligny, Perancis
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1604 oleh paus Klemens VIII
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 2 Mei 1807 oleh Paus Pius VII

Santa Koleta dilahirkan pada tahun 1381 dan diberi nama Nikoleta untuk menghormati St. Nikolaus dari Myra. Orangtuanya yang penuh kasih sayang memanggilnya Koleta sejak ia masih bayi. Ayah Koleta adalah seorang tukang kayu di sebuah biara di Picardy.  Ia seorang gadis yang pendiam dan rajin bekerja. Ia memberikan banyak bantuan kepada ibunya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Orangtuanya memperhatikan bahwa puteri mereka senang berdoa, ia juga seorang yang peka serta penuh belas kasihan.

Ketika Koleta berusia tujuhbelas tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Gadis itu kemudian diserahkan di bawah asuhan pemimpin biara di mana ayahnya dulu bekerja. Koleta meminta dan mendapatkan sebuah gubug kecil yang dibangun di samping gereja biara. Koleta tinggal di sana. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan melakukan silih bagi Gereja Kristus. Semakin lama semakin banyak orang mengetahui perihal gadis kudus ini. Mereka datang kepadanya untuk meminta nasehatnya dalam masalah-masalah penting. Mereka tahu bahwa Koleta seorang yang bijaksana oleh sebab hidupnya dekat dengan Tuhan. Koleta menerima semua orang dengan kelemahlembutan. Di akhir kunjungan, ia akan berdoa agar para tamunya menemukan kedamaian hati.

Koleta adalah anggota Ordo Ketiga St. Fransiskus. Ia tahu bahwa ordo religius bagi para wanita yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus adalah Ordo Santa Klara. Ordo tersebut diberi nama sesuai dengan pendiri ordo mereka, St. Klara, yang adalah pengikut St. Fransiskus. Pada masa Koleta hidup, Ordo Santa Klara perlu kembali ke tujuan awal ordo mereka. St. Fransiskus dari Asisi menampakkan diri kepada Koleta serta memintanya untuk mengadakan pembaharuan dalam Ordo St. Klara. Tentu saja Koleta amat terkejut dan takut oleh sebab tugas yang demikian berat itu. Tetapi, ia percaya akan belas kasih Tuhan. Koleta pergi mengunjungi biara-biara St. Klara. Ia membantu para biarawati Klaris untuk hidup lebih sederhana dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa. Ordo St. Klara memperoleh semangat dari cara hidup St. Koleta.

St. Koleta memiliki devosi yang mendalam kepada Yesus dalam Ekaristi. Ia juga seringkali mengadakan waktu untuk merenungkan sengsara serta wafat Kristus. Ia amat mencintai Yesus dan panggilan religiusnya. Ia juga tahu dengan pasti kapan dan di mana ia akan meninggal. Ia wafat di salah satu biaranya di Ghent, Flanders, pada tahun 1447 dalam usia enampuluh tujuh tahun.

Santa Agatha

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 26 Juli 2013 Diperbaharui: 26 Juni 2020 Hits: 37151

  • Perayaan
    05 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Sisilia - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 250 di Catania, Sicilia | Martir
    Dipotong kedua payudaranya lalu diguling-gulingkan diatas bara api sampai tewas.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur Romawi kafir mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istana untuk dijadikan sebagai isterinya. Tapi Agatha menolak perintah sang gubernur karena ia ingin mempersembahkan hidupnya bagi Yesus.

"Yesus Kristus, Tuhanku,” ia berdoa, “Engkau melihat hatiku dan Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan.”

Penolakan Agatha membuat sang Gubernur marah. Ia menangkap Agatha lalu dikirimkannya perawan suci ini kerumah seorang mucikari untuk dijadikan sebagai wanita penghibur. Tetapi sekali lagi sang gubernur menjadi kecewa. Agatha berserah diri sepenuhnya kedalam lindungan Tuhan dan ia berdoa sepanjang waktu. Walau disekap dalam rumah pelacuran namun ia dapat menjaga kesucian dirinya. Ia dapat menghidar dari semua tipu daya dan bujukan-bujukan jahat mucikari tersebut.

Setelah sebulan berlalu, Agatha dibawa kembali kepada gubernur. Sekali lagi gubernur berusaha membujuknya.  “Engkau seorang wanita terhormat,” katanya dengan lembut. “Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan menjadi seorang Kristen?”

“Meskipun aku seorang terhormat,” jawab Agatha, “aku ini seorang hamba di hadapan Yesus Kristus.”

“Jika demikian, apa sesungguhnya arti dari menjadi terhormat?” tanya gubernur. Agatha menjawab, “Artinya, melayani Tuhan.”

Ketika gubernur tahu bahwa Agatha tidak akan mau berbuat dosa, ia menjadi sangat murka. Ia menyuruh orang mencambuk serta menyiksa Agatha. Siksaan yang dialami Agatha sangat mengerikan. Setelah tak henti-hentinya dicambuk, sang gubernur kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk memotong kedua payudara St. Agatha dan meletakkannya di atas sebuah piring (legenda pada jemaat Kristen perdana mengatakan bahwa pada malam hari setelah payudara St. Agatha dipotong; St. Petrus dan seorang malaikat Tuhan datang mengunjunginya dalam penjara. Menghiburnya dan memulihkan kembali kedua payudaranya).

Dalam penyiksaan ini Agatha berdoa dengan lirih; “Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250.

St. Agatha dihormati sebagai pelindung para wanita penderita penyakit kanker payudara. Banyak doa mohon penyembuhan yang terkabul dengan perantaraan martir suci ini.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Thursday, February 4, 2021

Santo Yohanes de Britto

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 04 November 2014 Diperbaharui: 25 Januari 2020 Hits: 8343

  • Perayaan
    4 Februari
  •  
  • Lahir
    1 Maret 1647
  •  
  • Kota asal
    Lisbon Portugal
  •  
  • Wilayah karya
    Tamil Nadu - India
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Dipenggal pada tanggal 4 February 1693 di Oreiour, India
  •  
  • Venerasi
    29 September 1851 oleh Paus Pius IX (decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    21 Agustus 1853 oleh Paus Pius IX
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 22 Juni 1947 oleh Paus Pius XII

Santo Yohanes de Britto (João de Britto) lahir di Lisbon Portugal pada tanggal 1 Maret 1647 dalam sebuah keluarga bangsawan Portugal yang sangat berpengaruh. Ayahnya, Salvador de Britto Pereira, meninggal saat menjabat sebagai Viceroy (Gubernur) Portugis di Brasil.

De Britto bergabung dengan biara Yesuit pada 1662, dan melanjutkan studinya di Universitas Coimbra. Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, ia diutus ke daerah misi di Madurai, India Selatan, (kini Tamil Nadu), pada tahun 1673 untuk berkotbah dan menyebarkan agama Kristen di wilayah tersebut. Misi ini biasa disebut dengan The Madurai Misision (Misi Madurai).

Misi Madurai adalah upaya yang cukup berani dari para Jesuit untuk mendirikan sebuah Gereja Katolik India yang bebas dari kultur budaya Eropa. Karena itu de Brito lalu belajar bahasa setempat, sedapat mungkin hidup sebagai Brahmana dan menyesuaikan penginjilannya dengan cara berpikir orang India. Hasilnya sangat menggembirakan; Rakyat berbondong-bondong minta dibaptis.

Semula penguasa setempat bersikap acuh terhadap karya missionaris para Jesuit. Sampai saat timbulnya keluhan dari keluarga kerajaan.  Ada seorang pangeran dari Marava yang mempunyai beberapa orang istri, minta dibaptis.  Yohanes de Britto meluluskan permintaan itu, namun memberi syarat agar sang pangeran bersedia hidup dengan hanya satu orang istri saja dan melepaskan isteri-isterinya yang lain. Pangeran itu bersedia. Tetapi salah seorang istrinya tidak menerima perceraiannya. Sang mantan istri, yang adalah kemenakan dari raja Sethupathi Marava, mengadukan perceraiannya kepada raja dan menunjuk pater de Britto sebagai biang keladinya.  Perceraiaan kemenakannya membuat raja menjadi sangat marah, bukan saja kepada Pater de Britto, melainkan juga kepada semua orang yang bertobat menjadi Kristen.

Maka mulailah pengejaran dan penganiayaan. De Britto ditangkap dan dijatuhi hukuman pancung di Oriur (India Selatan) atas tuduhan berusaha mengubah agama negara. Yohanes sempat menulis surat yang amat mengharukan bagi teman-teman misionaris pada malam menjelang wafatnya.

Wednesday, February 3, 2021

Santo Blasius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 25 Januari 2020 Hits: 7948

  • Perayaan
    03 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Armenia
  •  
  • Wilayah karya
    Armenia, Asia Kecil
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 316 | Martir
    Ditusuk dengan "wool combs" lalu dipenggal kepalanya
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Blasius hidup pada abad keempat. Sebagian mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga kaya dan menerima pendidikan Kristiani. Semasa remaja, Blasius memikirkan tentang segala permasalahan serta penderitaan yang terjadi pada masa itu. Ia mulai menyadari bahwa hanya sukacita rohani saja yang dapat membuat seseorang merasakan kebahagiaan sejati.

Blasius menjadi imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Sebaste di Armenia. Dengan segenap hati, Blasius bekerja keras untuk menghantar umatnya menjadi kudus dan bahagia. Ia berdoa dan berkhotbah; ia berusaha menolong semua orang.

Ketika Gubernur Licinius mulai menganiaya umat Kristiani, St. Blasius ditangkap. Ia dibawa untuk dijebloskan ke dalam penjara dan dihukum penggal. Dalam perjalanan, umat berkumpul di sepanjang jalan untuk melihat uskup mereka yang terkasih untuk terakhir kalinya. Blasius memberkati mereka semuanya, bahkan juga orang-orang kafir. Seorang ibu yang malang bergegas datang kepadanya. Ia memohon Blasius agar menyelamatkan anaknya yang hampir tewas tercekik duri ikan yang tertelan di tenggorokannya. Orang kudus itu membisikkan doa dan memberkati sang anak. Mukjizat terjadi, sehingga nyawa anak itu dapat diselamatkan. Oleh karena itulah St. Blasius dimohon bantuan doanya oleh semua orang yang menderita penyakit tenggorokan.

Dalam penjara, uskup yang kudus ini mempertobatkan banyak orang kafir. Tidak ada siksaan yang dapat membuatnya mengingkari imannya kepada Yesus. St. Blasius dihukum penggal kepalanya pada tahun 316. Sekarang ia ada bersama Yesus untuk selama-lamanya.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Santa Brigitta dari Irlandia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 18 Januari 2020 Hits: 12666

  • Perayaan
    01 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 453
  •  
  • Kota asal
    Faughart, County Louth, Irlandia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 1 February 523 di Kildare, Irlandia | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Brigita dilahirkan beberapa tahun sesudah Irlandia dikristenkan oleh kedatangan St. Patrick. Ayahnya seorang bangsawan Irlandia bernama Dubthac dan ibunya bernama Brocca.  Semakin kanak-kanak ini bertambah besar, semakin besar pula kasihnya kepada Yesus. Ia mencari Yesus dalam diri orang-orang miskin dan seringkali membawakan makanan dan pakaian bagi mereka. Konon suatu hari ia membagi-bagikan segentong penuh susu. Lalu, ia mulai cemas akan apa yang akan dikatakan ibunya. Ia berdoa kepada Tuhan untuk mengganti apa yang telah dibagi-bagikannya. Ketika tiba di rumah, gentong telah penuh kembali dengan susu!

Ayahnya beranggapan bahwa sudah tiba waktunya bagi Brigita untuk menikah. Akan tetapi, Brigita telah berbulat hati untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia tak hendak menikah dengan siapapun. Ketika mengetahui bahwa para pemuda tertarik kepadanya sebab kecantikannya, ia memanjatkan suatu permohonan yang aneh kepada Tuhan. Ia mohon agar kecantikan wajahnya diambil darinya. Tuhan mengabulkan permohonannya.

Melihat bahwa puterinya tak lagi cantik, dengan rela hati ayahnya menyetujui ketika Brigita minta diijinkan menjadi seorang biarawati. Sang gadis mengikuti panggilan hidup religiusnya. Ia bahkan memulai suatu biara agar para gadis yang lain dapat menjadi biarawati juga. Setelah ia mengkonsekrasikan hidupnya kepada Tuhan dalam biara, suatu mukjizat kemudian terjadi. Suster Brigita menjadi cantik kembali! Ia mengingatkan orang akan Santa Perawan Maria sebab ia begitu lemah lembut dan baik hati. Sebagian orang menyebutnya “Maria dari Irlandia”.

Banyak mujizat yang dikerjakan Tuhan melalui perantaraan Suster Brigitta. Beberapa yang sering dikisahkan adalah penyembuhan seorang kusta dengan secangkir air berkat dan penyembuhan luka dua orang wanita yang terjatuh saat berkuda dengan air yang terlebih dahulu didoakannya dalam nama Tuhan.  Salah satu mukjizat Santa Brigitta yang paling terkenal adalah mukjizat yang terjadi saat ia menghadap Raja.

Dikisahkan St. Brigitta pergi menghadap Raja Leinster untuk meminta tanah untuk membangun sebuah biara. Dia mengatakan kepada raja bahwa tempat ia berdiri adalah tempat yang sempurna untuk biara. Itu adalah di samping hutan di mana nanti para biarawati bisa mengumpulkan kayu bakar dan buah. Ada juga sebuah danau di dekatnya yang akan menyediakan air dan tanah yang subur bagi biara nanti. Raja tertawa dan dengan tegas menolak untuk memberikan tanah sejengkalpun padanya. Brigitta berdoa kepada Tuhan dan memintanya untuk melunakkan hati raja. Lalu ia tersenyum pada raja dan berkata "Dapatkah paduka memberi saya tanah selebar yang dapat ditutupi mantel yang saya pakai ini ?" 

Raja tertawa dan berpikir bahwa Suster Brigitta sedang bercanda karena mantel yang dipakainya itu begitu kecil. Raja setuju dan santa Brigitta kemudian meletakkan mantelnya di tanah. Dia meminta empat suster yang menyertainya untuk memegang masing-masing pada empat sudut mantelnya lalu berjalan ke arah yang berlawanan.  Keempat suster itu lalu berjalan ke arah utara, selatan, timur dan barat. Secara ajaib mantel itu bertambah besar ketika ditarik dan mulai menutupi tanah sampai seluas berhektar-hektar. Raja heran terkesima dan ia menyadari bahwa Brigitta adalah seorang diberkati oleh Tuhan. Raja jatuh ke tanah dan berlutut di depan Santa Brigitta dan berjanji akan memberikan tanah dan menyediakan semua yang dibutuhkan oleh Brigitta dan para biarawati termasuk uang dan persediaan makanan.  Segera setelah itu, raja menjadi seorang Kristen yang saleh dan mulai memberi perhatian membantu orang-orang miskin. Raja bahkan ikut mengawasi pembangunan biara.

Santa Brigita wafat dengan tenang pada tahun 523. Pestanya kita rayakan setiap tanggal 1 Februari.

Santo Jean-Théophane Vénard, MEP

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 09 Agustus 2013 Diperbaharui: 25 Oktober 2019 Hits: 7783

  • Perayaan
    02 Februari
    24 November (sebagai salah satu dari para Martir Vietnam)
  •  
  • Lahir
    21 November 1829
  •  
  • Kota asal
    Saint-Loup, Poitiers, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Vietnam
  •  
  • Wafat
  •  
  • 02 February 1861 di Hanoi Vietnam | Martir
    Dipenggal kepala; lalu kepalanya dipasang pada tiang sebagai peringatan kepada orang Kristen yang lain.
    Potongan kepalanya kemudian dapat diselamatkan lalu bersama tubuhnya dikirim ke Paris.
    Dimakamkan di makam Biara Mission Etrangères de Paris (MEP)
  •  
  • Beatifikasi
    02 Mei 1909 oleh Paus Santo Pius X
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 19 Juni 1988 oleh Paus Beato Yohanes Paulus II

Imam Perancis yang kudus ini telah berangan-angan untuk menjadi seorang martir semenjak ia masih kecil. Ia bersekolah untuk menjadi seorang imam. Kemudian ia masuk seminari untuk para misionaris di Paris, Perancis. Keluarganya, yang sangat ia kasihi, teramat sedih memikirkan bahwa kelak, setelah menjadi imam, ia akan meninggalkan mereka. Pada masa itu perjalanan tidaklah semudah seperti sekarang ini. Theophane sadar bahwa perjalanannya menyeberangi samudera luas ke Timur hampir dapat dipastikan akan memisahkannya dari keluarganya sepanjang hidupnya.

“Saudariku tersayang,” demikian tulisnya dalam salah satu suratnya, “betapa aku menangis ketika membaca suratmu. Ya, aku sadar sepenuhnya akan penderitaan besar yang aku timbulkan bagi keluarga kita. Aku pikir, terlebih-lebih lagi betapa dahsyat penderitaan itu bagimu, adikku terkasih. Tetapi, tidakkah kamu berpikir bahwa aku mencucurkan banyak air mata juga? Dengan mengambil keputusan demikian, aku sadar bahwa aku akan menyebabkan penderitaan teramat besar bagi kalian semua. Siapakah yang mencintai keluarganya lebih daripada aku? Seluruh kebahagiaanku di dunia ini berasal dari sana. Tetapi Tuhan, yang telah mempersatukan kita semua dalam ikatan cinta kasih mesra, ingin menarikku dari sana.”

Setelah ditahbiskan menjadi imam, Theophane berangkat ke Hongkong. Ia mulai berlayar pada bulan September 1852. Ia belajar beberapa bahasa asing selama lebih dari setahun di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Tonkin (Vietnam).  Pada masa itu di Vietnam umat Kristen  sedang dianiaya atas perintah penguasa Minh-Menh yang sangat anti-Kristen.  Penganiayaan hebat ini  telah memaksa para imam dan uskup untuk bersembunyi di hutan-hutan dan gua-gua. Pastor Venard, yang kesehatannya tidak pernah baik, sangat menderita oleh keadaan ini namun ia dengan gigih tetap melayani umatnya secara sembunyi-sembunyi pada malam hari.  Suatu ketika ia bisa menemukan sebuah lokasi yang aman, dan ia lalu bertahan dilokasi tersebut  sambil tetap melayani umat di Tonkin selama hampir empat tahun. 

Sayangnya Pastor Vernard kemudian dikhianati oleh seorang umatnya. Ia ditangkap pada tanggal 30 November 1860. Dia diadili karena kejahatan menjadi seorang Kristen, dan diberi banyak kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menyangkal imannya akan Kristus.  Dengan tegas ia menolak.  Ia lalu dirantai dan dimasukkan dalam kurungan selama dua bulan.

Sikapnya yang lemah lembut meluluhkan hati semua orang, bahkan para sipir penjara. Ia berhasil menulis sepucuk surat kepada keluarganya di mana ia menulis, “Semua orang di sekitarku adalah orang yang beradab serta sopan. Banyak dari antara mereka yang mengasihiku. Dari pejabat tinggi hingga prajurit yang terendah sekali pun, semua menyesalkan bahwa hukum negara menjatuhkan hukuman mati. Aku tidaklah mereka siksa seperti saudara-saudaraku yang lain.”

Namun demikian, simpati mereka tidaklah dapat menyelamatkan nyawanya. St. Theophane wafat sebagai martir dengan cara dipenggal kepalanya pada tanggal 2 Februari 1861.  Saat hukuman mati telah dilaksanakan dan para algojo telah pergi, kerumunan umat berebut mencelupkan saputangan mereka pada darahnya (sebagai relikwi).

Pastor Venard dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Ia adalah salah seorang dari Para Martir Vietnam yang pestanya dirayakan pada tanggal 24 November.

Sunday, January 31, 2021

Santa Marcella

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 22 Maret 2015 Diperbaharui: 14 Maret 2017 Hits: 13097

  • Perayaan
    31 Januari
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 325
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - meninggal akibat dianiaya oleh pasukan Goth ketika menyerbu kota Roma pada bulan Agustus tahun 410
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Marcella berasal dari keluarga bangsawan Romawi Kristen di kota Roma. Nama ayahnya tidak diketahui; namun ibunya yang bernama Albina, diketahui sebagai seorang kristen yang saleh dan terkenal akan kekayaan dan kebajikannya. Ketika masih kecil, Marcella sudah tertarik mendengarkan kisah-kisah para orang kudus yang dikisahkan oleh ibunya. Dalam hatinya ia ingin menjalani hidup yang kudus seperti mereka.

Keinginannya untuk menjalani kehidupan rohani seperti para pertapa semakin bertambah setelah patriark Konstantinopel, Athanasius, tinggal dirumah mereka. Patriark Athanasius saat itu mengalami pengucilan dan pembuangan oleh kaisar, dan mengungsi ke Roma. Pola hidup asketis dan kisah-kisah ajaib tentang para kudus yang dituturkan Athanasius sangat memikat hati Marcella. Ketika Athanasius akan kembali ke Konstantinopel, ia memberikan hadiah perpisahan kepada Marcella berupa sebuah buku tentang kisah hidup Santo Anthonius Pertapa.

Kecantikan dan kekayaan Marcella membuat ia sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di kota Roma. Banyak pangeran datang melamarnya namun semuanya ditolak. Hingga sebuah lamaran dari seorang pangeran yang berasal dari keluarga bangsawan yang sangat berkuasa tidak mampu ditolak keluarganya. Mereka pun kemudian menikah; namun tujuh bulan kemudian suaminya itu meninggal.

Marcella segera merasa bahwa hidup berumah-tangga bukanlah jalan yang ditentukan Tuhan baginya. Ia lalu memutuskan untuk mengabdikan sisa hidupnya dalam karya amal, doa, dan menjalani hidup asketis dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan telah mengarahkan hidupnya untuk hidup kudus dalam kemiskinan. Marcella dengan sungguh – sungguh meninggalkan pola hidup ningrat yang penuh dengan kemuliaan duniawi. Ia menanggalkan gaun indah dan mahal yang selalu dikenakannya dan menggantinya dengan jubah cokelat kasar seperti yang biasa dipakai oleh pelayan. Sejak saat itu Marcella tidak pernah lagi menjalani rutinitasnya setiap hari sebagai seorang wanita bangsawan yaitu: menata rambut dan mengenakan make up.

Bersama dengan beberapa orang wanita (salah seorang diantaranya adalah Santa Lea), Marcella membentuk sebuah komunitas rohani yang kemudian dikenal masyarakat Roma dengan sebutan komunitas “Jubah Coklat” karena memang mereka selalu mengenakan jubah coklat dari kain kasar. Komunitas ini berupaya keras untuk hidup dalam kesucian. Setiap harinya mereka jalani dengan berdoa, bernyanyi, membaca Alkitab, dan melayani orang-orang miskin. Rumah megah milik Marcella dijadikan pusat kegiatan mereka dan sebagai tempat penampungan dan perlindungan bagi para peziarah dan masyarakat miskin.

Pada tahun 382 santo Hieronimus tiba di Roma atas panggilan Paus Santo Damasus IPaus telah mengatur agar Hieronimus tinggal di rumah keluarga Marcella. Hal ini sangat menggembirakan hati Marcella dan para rubiah (pertapa wanita) pengikutnya. Sebagai seorang wanita terpelajar yang mahir berbahasa Yunani dan Ibrani, Marcella merasa amat bersyukur karena bisa menjamu seorang pemikir besar pada zaman itu.

Santo Hieronimus tinggal selama tiga tahun di Roma untuk mengerjakan berbagai tugas yang diberikan Paus kepadanya (termasuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin). Selama itu juga Santo Hieronimus menjadi seorang pembimbing rohani yang sangat terkenal. Banyak orang datang memohon bimbingannya; seperti: Santa PaulaSanta FabiolaSanto PaulinusSanto Pammakius dan tentu saja Santa Marcella dan Komunitas Jubah Cokelat yang menjadi tuan rumah bagi bapa gereja tersebut. Bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah suratnya, Santo Hieronimus menulis tentang muridnya Marcella :

…. Betapa banyaknya kebajikan dan kecerdasan, betapa tingginya kekudusan dan kemurnian yang saya temukan dalam dirinya…….; apa pun yang telah saya pelajari dalam waktu panjang dan dengan terus menerus bermeditasi hingga menjadi bagian dari diri saya, dapat dia rasakan, dapat dia pelajari dan dapat ia jalani sendiri…...

Ketika Santo Hieronimus kembali ke pertapaannya di padang gurun di Tanah Suci Yerusalem, banyak pengikutnya yang ikut hijrah bersamanya. Santa Marcella tidak ikut bersama mereka dan tetap tinggal di Roma karena ia harus memimpin komunitas biarawati yang didirikannya. Komunitas religius asketis ini terus berkembang pesat. Pengikut-pengikutnya semakin bertambah banyak dan Marcella harus membangun lagi beberapa biara di seluruh kota Roma. Bersama Santa Marcella, para rubiah jubah cokelat mengabdikan diri untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar.

Pada tahun 410 kota Roma diserbu dan dijarah oleh bangsa Goth (Jerman). Santa Marcella yang saat itu sudah berusia tujuh puluh tahun tidak ikut mengungsi keluar kota. Ia pun ditangkap oleh para penyerbu dan disiksa dengan kejam karena mereka menginginkan emas permata dan harta kekayaan keluarganya. Namun setelah ia disiksa sampai sekarat, mereka harus kecewa dan melepaskannya pergi karena ia memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Semua harta bendanya sudah ia jual untuk mendanai biara-biara dan karya-karya amal yang mereka laksanakan selama ini.

Santa Marcella yang sedang sekarat dibawa pergi oleh seorang muridnya bernama Principia ke Gereja Santo Paulus di Roma. Tubuhnya yang renta tidak mampu menahan siksaan kejam yang dialaminya. Ia pun meninggal pada keesokan harinya.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Saturday, January 30, 2021

Santa Hyacintha Mariscotti

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 19 Oktober 2014 Diperbaharui: 29 Januari 2017 Hits: 6856

  • Perayaan
    30 Januari
  •  
  • Lahir
    Tahun 1585
  •  
  • Kota asal
    Viterbo, Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tanggal 30 Januari 1640 di Viterbo, Italia - Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    Tanggal 1 September 1726 oleh Paus Benediktus XIII
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tanggal 24 May 1807.oleh Paus Pius VII
Santa Hyacintha lahir pada tahun 1585 dalam keluarga bangsawan Italia yang berkuasa dan kaya-raya. Ayahnya adalah Pangeran Marc Antonio di Mariscotti, sedangkan ibunya berasal dari keluarga bangsawan Orsini dari Roma bernama Ottavia Orsini. Ia dibabtis dengan nama Clarice.

Setelah adik perempuannya menikah, Clarice yang kecewa berat ini, masuk biara suster Fransiskan di Viterbo. Tetapi rupanya hanya sebagai suster sekular. Ia tetap membiarkan diri dilengkapi dengan segala macam makanan dan pakaian yang membuat dia mampu menikmati hidup yang sangat enak dan nyaman. Kamar-kamarnya dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan mebel yang mewah. Semangat matiraga dan penyangkalan diri yang seharusnya dihayati oleh seorang biarawati, tak pernah terlintas dalam pikirannya.

Kemudian, terjadilah, bahwa dia diterpa oleh suatu penyakit yang aneh, dan bapa pengakuannya harus pergi ke kamarnya untuk memberikan pelayanan sakramen tobat kepadanya. Ketika dia melihat barang-barang duniawi dan kemewahan yang ada di kamar Hyacinta, dengan keras dan tajam ditegurnya suster yang sakit itu. Karena nasehat bapa pengakuannya itu, dia kemudian pergi ke kamar makan umum yang biasa, dan di sana dengan berkalungkan seutas tali pada lehernya, dia memohon pengampunan dari seluruh suster dalam biara karena telah menjadikan dirinya sebagai batu sandungan bagi mereka.

Namun, baru setelah dia berseru mohon pertolongan St. Katarina dari Siena, dia mampu melucuti dirinya dari semua kemewahan itu lalu dengan tegas dan tuntas dia masuk ke dalam kehidupan membiara yang penuh kebajikan.

Suster Hyacinta mulai menghayati semangat pertobatan dan menjalani laku silih yang berat sampai pada akhir hidupnya. Dia berjalan dengan kaki telanjang, mengenakan jubah tua yang telah dibuang oleh seorang suster yang lain, dan menjalankan tugas-tugas yang paling rendah dan paling memerlukan jerih payah. Dia hanya makan makanan seadanya, yang dicampur dengan rerumputan pahit. Tempat tidurnya terdiri atas beberapa potongan papan kayu, dengan hanya terhampar selembar selimut di atasnya. Sebagai bantal dipergunakannya sebongkah batu.

Dia menekuni devosi khusus kepada penderitaan-penderitaan Kristus; dan demi mengingat kembali penderitaan-penderitaan itu, pada hari Jumat dan Pekan Suci dia menjalankan matiraga yang berat. Dipersembahkannya juga kasih keanakan kepada Bunda Maria Penuh Kasih, yang sesekali menampakkan diri dan memberikan penghiburan kepadanya.

Diperkaya dengan semua kebajikan dan terhiasi dengan hormat besar dari sesama suster-susternya, dia meninggal dunia pada usia 55 tahun pada 1640.

Banyak mujizat dilaporkan terjadi di makamnya. Setelah diselidiki dengan seksama oleh otoritas gereja, mujizat-mujizat tersebut dinyatakan benar dan karena itu suster Hyacinta lalu dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XIII pada tanggal 1 September 1726.

Hampir se-abad kemudian ia dikanonisasi oleh Paus Pius VII pada tanggal 24 May 1807.

Friday, January 29, 2021

Santo Gildas

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 4406

  • Perayaan
    29 Januari
  •  
  • Lahir
    Tahun 516
  •  
  • Kota asal
    Clydeside, Scotlandia
  •  
  • Wilayah karya
    Inggris, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 570 di Houat, Brittany (Sekarang wilayah Perancis)
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Gildas dilahirkan sekitar tahun 516 di Clydeside, Scotlandia dalam keluarga bangsawan. Sebagai seorang pemuda ia bertekad untuk mempraktekkan gaya hidup mengurbankan diri. Ia melakukan ini guna membantu dirinya sendiri semakin dekat pada Tuhan. Gildas bersungguh-sungguh dengan komitmen Kristianinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk berdoa dan berkurban demi silih atas dosa-dosa yang dilakukan orang sejamannya.

Ia menulis khotbah-khotbah dan berusaha meyakinkan orang untuk meninggalkan kejahatan. Ia mendorong mereka untuk menghentikan hidup penuh skandal. Sebab Gildas begitu peduli, tulisan-tulisannya terkadang terasa terlalu kritis. Sesungguhnya, ia tidak bermaksud mengutuk siapapun. Ia memohon orang untuk berbalik kepada Tuhan.

Gildas adalah seorang rohaniwan yang mengamalkan hidup seorang pertapa. Ia tidak memilih hidup doa yang hening sebab ia hendak melarikan diri dari dunia sekelilingnya. Ia memilih gaya hidupnya demi membantu diri bertumbuh semakin dekat pada Tuhan. Ia lebih sadar dari orang kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat keliru dalam masyarakat. Sayangnya, banyak orang tidak cukup sadar akan Tuhan dan hukum-Nya. Mereka bahkan tidak menyadari kejahatan yang tengah membinakasan mereka. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang dalam Gereja - para imam, uskup, dan kaum awam baik laki-laki maupun perempuan - pergi kepada Gildas mohon nasehat mengenai hal-hal rohani yang mendalam.

Menjelang akhir hidupnya, Gildas mengamalkan hidup bertapa di sebuah pulau kecil di Brittany. Meski ia menginginkan kesendirian guna mempersiapkan jiwanya menyongsong maut, para murid mengikutinya juga ke sana. St. Gildas menyambut mereka sebagai suatu pertanda bahwa Tuhan menghendakinya untuk membagikan karunia-karunia rohaninya kepada yang lain. Gildas adalah bagaikan “nurani” masyarakat. Terkadang, kita tak suka mendengar mengenai dosa, tetapi dosa itu nyata. Terkadang kita juga dicobai untuk melakukan yang salah atau menjadi lalai. Pada saat itulah kita dapat memanjatkan sebuah doa singkat kepada St. Gildas. Kita memohon bantuannya untuk memperolehkan bagi kita kekuatan niat untuk melakukan hal yang benar.

Thursday, January 28, 2021

Beato Charlemagne

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 06 Maret 2017 Diperbaharui: 16 April 2017  Hits: 3765

  • Perayaan
    28 Januari
  •  
  • Lahir
    2 April 742
  •  
  • Kota asal
    Aix-la-Chapelle (Sekarang wilayah Jerman)
  •  
  • Wafat
  •  
  • 28 Januari 814
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    Di abad ke-18 oleh Paus Benediktus XIV (cultus confirmed)
  •  
  • Kanonisasi

Beato Karolus Agung atau Charlemagne di masa kini lebih dikenal sebagai seorang tokoh sekuler. Ia adalah raja bangsa Frank dari 768 sampai 814 dan bangsa Lombard dari 774 sampai 814.  Ia dimahkotai sebagai Imperator Augustus di kota Roma pada hari Natal tahun 800 oleh Paus Leo III. Oleh karena itu Charlemagne dianggap sebagai pendiri Kekaisaran Romawi Suci.  Karolus Agung adalah kaisar pertama di Eropa sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi. Melalui penaklukan dan pertahanan, ia mengukuhkan dan mengembangkan kekuasaannya hingga meliputi sebagian besar Eropa Barat.  Ia dianggap sebagai bapak pendiri Perancis dan Jerman, bahkan Bapak pendiri Eropa.  

Beato Charlemagne adalah seorang kaisar Kristen yang gigih membela ajaran iman dan Tahta Suci Roma. Ia menghancurkan kuil-kuil pagan dan mendirikan banyak biara Benediktin. Ia mendirikan keuskupan-keuskupan di seantero Eropa dan membangun katedral-katedral yang megah. Ia juga mendirikan banyak sekolah, menarik para ilmuwan ke istana dan memberikan semangat kepada para seniman.  

Karolus Agung wafat pada tanggal 28 Januari 814 dan dimakamkan di Kathedral Aachen di Jerman.  Kanonisasi Charlemagne terjadi pada abad kedua belas oleh Antipaus Paskalis III. Kanonisasi ini tidak sah dan tidak diakui oleh Tahta Suci yang membatalkan semua keputusan Antipaus Paskalis III  melalui konsili Lateran Ketiga tahun 1179.  Nama Charlemagne juga tidak ditemukan di antara 28 orang kudus bernama Charles/Karolus yang tercantum dalam Martirologi Romawi.  Beatifikasi Charlemagne baru terjadi pada abad ke-18 di masa Paus Benediktus XIV  (Paus Gereja Katolik sejak 17 Agustus 1740 sampai 3 Mei 1758). Pestanya dirayakan pada setiap tanggal 28 Januari.

Riwayat Raja Chalemagne sebagai tokoh sejarah sekuler dapat dilihat DISINI.(qq)