Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, September 5, 2015

Sabda Hidup



Minggu, 06 September 2015
Hari Minggu Biasa XXIII
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37. BcO Am. 7:1-17

Markus 7:31-37:
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Renungan:
"Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata" (Mat 7:37). Kalimat ini memikatku. Ia menjadikan segala-galanya baik. Kalimat ini muncul dari orang-orang setelah Yesus menyembuhkan orang bisu tuli.
Siapa pun dari kita senang kala ada orang melakukan perbuatan baik. Beberapa waktu yang lalu terekspos berita seorang bapak yang berjuang sendiri mengubah daerah kering menjadi berair. Ia menanam banyak pohon beringin. Usaha yang dilakukannya pun menuai hasil. Daerahnya tidak lagi menjadi kering. Semua orang salut dengan tindakannya.

Membuat segala-galanya baik menjadi panggilan kita. Sinergi di antara kita yang mengerjakan kebaikan akan menjadi embrio bagi kebaikan. Banyak bidang kebaikan yang mungkin kita lakukan. Maka marilah kita bersinergi membuat segala-galanya baik adanya.

Kontemplasi:
Hadirkan dalam bayanganmu orang-orang yang melakukan pekerjaan baik. Mereka bekerja dalam kebersamaan maupun sendiri untuk menghadirkan kebaikan.

Refleksi:
Bagaimana menghadirkan segala sesuatu baik adanya?

Doa:
Tuhan jagai dan berkatilah orang-orang yang memperjuangkan kebaikan. Semoga dari tangan-tangan mereka kebaikan merajai kehidupan. Amin.

Perutusan:
Aku akan menghadirkan kebaikanku dan tekun menjalaninya. -nasp-

Friday, September 4, 2015

GANTI JAM MISA



"Engko nganggo misa ora?" (Nanti pakai misa atau tidak?) Rama Hantoro bertanya kepada Rama Bambang pada makan siang Sabtu 29 Agustus 2015. Rama Bambang menjawab "Ora" (Tidak) yang langsung disahut oleh Rama Hantoro "Nek ngono awake dhewe misa dhisik ya" (Kalau begitu kita misa lebih dahulu). Rama Bambang mengingatkan kalau ibadat akan dimulai jam 06.00 sore. Ini adalah saat Komunitas Rama Domus Pacis biasa merayakan misa bersama. "Piye nek misane sesuk esuk?" (Bagaimana kalau misa kita adakan besok pagi?) Rama Bambang mengajukan usul. Ternyata Rama Hantoro, Rama Harto dan Rama Tri Hartono menyetujui. Rama Yadi pada Sabtu sore sudah melayani misa Minggu di luar. Maka untuk misa Domus ada kesepakatan dilaksanakan pada hari Minggu jam 06.30 pagi.

Pada hari Minggu biasanya tidak ada misa Minggu di Domus Pacis. Untuk misa Minggu biasa diadakan pada Sabtu sore. Tetapi pada Sabtu 29 Agustus 2015 para rama Domus mendapat undangan dari keluarga Bapak Winantono, warga Puren, untuk ikut menghadiri Ibadat Midodareni anaknya yang bernama Banon. Mbak Banon akan menikah dengan Mas Herman, putra keluarga Bapak Rachman dari Semarang. Ibadat Midodareni dilaksanakan di Ruang Barnabas, ruang serba guna Domus Pacis. Sore itu Mas Handoko sudah mempersiapkan sound system yang dipinjam dari Paroki Pringwulung. Koor Lingkungan Fransiskus Asisi Puren duduk di sebelah kiri imam dan keluarga calon penganten perempuan dan laki-laki di sebelah kanan. Umat Lingkungan Asisi dan Lingkungan Clara beserta tamu-tamu lain memenuhi kursi menghadap meja imam. Rama Bambang diminta oleh keluarga Pak Win untuk memimpin ibadat. Ruang pertemuan besar Domus Pacis memang terbuka bagi umat dan tetangga yang ingin meminjamnya.

Sabda Hidup



Sabtu, 05 September 2015
Beata Teresa dr Kalkuta
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5. BcO Am. 5:18-6:14

Lukas 6:1-5:
1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" 3 Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" 5 Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Renungan:
Suatu kali ada berita seorang bapak tertangkap mencuri penanak nasi. Orang-orang pun menghakiminya. Namun setelah ditanya ternyata bapak itu hanya menginginkan nasinya karena anaknya kelaparan dan dia tidak mempunyai uang untuk membeli.
Rasa lapar bisa mendera siapa saja. Ada orang yang kemudian uring-uringan kala lapar. Ada yang pusing. Umumnya perut sakit kala lapar. Mereka yang sudah beberapa hari tidak makan bisa saja nekad melakukan tindakan yang menyalahi aturan seperti bapak tadi. Para murid Yesus pun lapar dan memetik gandum walau hari itu hari Sabat di mana orang tidak boleh melakukan itu.
Banyak orang yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makannya. Kadang mereka pun terpaksa mengais di tempat yang gak layak. Mungkin di antara kita sangat tercukupi kebutuhan tersebut. Maka mari kita berpeduli pada mereka yang membutuhkan. Kita tidak segera menghakimi mereka yang kadang terpaksa melanggar aturan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kontemplasi:
Pejamkan sejenak matamu. Bayangkan dirimu sedang lapar dan di tempatmu tidak ada makanan yang bisa dimakan.

Refleksi:
Bagaimana anda memperlakukan makanan?

Doa:
Tuhan berkatilah dan berilah rejeki saudara-saudariku yang hari ini masih kesulitan memenuhi kebutuhan makannya. Amin.

Perutusan:
Aku akan menghargai makanan yang tersedia bagiku dan ingat pada mereka yang kekurangan.  -nasp-

Lamunan Pekan Biasa XXII

Sabtu, 5 September 2015

Lukas 6:1-5

6:1. Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"
6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"
6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada pandangan umum bahwa orang yang sungguh ber-Tuhan akan sungguh beragama. Agama adalah patokan atau pegangan untuk ber-Tuhan.
  • Tampaknya, ada pandangan umum bahwa orang yang sungguh ber-Tuhan akan sungguh taat pada agama. Apapun yang diatur oleh agama harus ditaati oleh orang yang ber-Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa sebaik apapun rumusan peraturan dan seindah apapun tata upacaranya, apabila tidak menjadi tanda kehadiran yang bersemayam di kedalaman batin, agama tidak akan punya signifikansi dan relevansi bagi manusia karena sejatinya agama itu untuk kebutuhan orang dalam ber-Tuhan dan ber-manusia. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dalam beragama akan menjalani sebagai tanda dan sarana untuk intim dengan Tuhan dan terbuka dengan siapapun sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budayanya..
Awas, hanya orang sesat yang mengotak-atik agamanya.

Thursday, September 3, 2015

Rama Tri Hartono Ngandika (4)


Empan papan, Angon wektu

Injil hari ini menegaskan bahwa anggur baru perlu disimpan dikantong yang baru, kalau tidak kantong lama akan koyak. Dalam bahasa Jawa bisa dikatakan perlu empan papan dan Angon wektu. Artinya kebenaran memang harus dikatakan sebagai kebenaran, tapi cara dan waktu atau saat menyampaikan perlu menyesuaikan. Sekedar contoh: orang ke gereja perlu pakaian yang rapi dan sopan beda dengan kalau mau olah raga. Dalam bahasa sekarang sering dikatakan melihat sikon (situasi dan kondisi).
Demikian juga masa dan bertempat di Domus Pacis Puren, juga perlu menyesuaikan diri. Menyadari kalau sudah tidak seperti waktu masih aktif berkarya. Kalau semua diterima dan dijalani dengan baik tentu akan memberikan kegembiraan tersendiri meskipun sudah di Domus Pacis.

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Biasa XXIII/B 6 September 2015 (Mrk 7:31-37)

diambil dari http://www.mirifica.net by on Jendela Alkitab, Mingguan




EFATA! – TERBUKALAH!

Rekan-rekan yang budiman!

KALI ini Injil Markus menampilkan kisah unik: penyembuhan orang tuli. Hanya dalam Injil Markus sajalah peristiwa ini disampaikan. Dalam petikan Mrk 7:31-37 (hari Minggu Biasa XXIII tahun B) ada beberapa hal menarik yang kurang begitu saya mengerti. Karena kurang ada waktu untuk mempelajari lebih jauh, saya bujuk Mark menulis. Ia biasanya pendiam dan tak banyak kata, tapi kali ini ia rada suka cerita dan ia tidak keberatan jawabannya saya teruskan kepada kalian.

Teriring salam,
A. Gianto.
====================

Gus yang baik!

Memang benar Yesus banyak melakukan penyembuhan, tetapi memang baru di sinilah kusampaikan peristiwa penyembuhan orang tuli. Dan hanya akulah yang menyampaikan kisah penyembuhan dari ketulian. Memang Matt menyebut mengenai penyembuhan pelbagai orang sakit, termasuk orang bisu (Mat 15:29-31 tidak eksplisit disebut tuli, tapi orang bisu biasanya karena tuli). Oleh karena itu, para ahli zaman modern biasa menduga aku hanya membuat-buat kisah itu. Kuharap kau tidak beranggapan demikian kan? Aku mendengar dari sumber-sumber tepercaya yang menyaksikan kejadian itu sendiri dan mengisahkannya berkali-kali.

Mereka juga ingat kejadian itu bertempat di dekat danau Galilea. Demi gampangnya maka kujelaskan pada awal bahwa Yesus sedang dalam perjalanan balik dari Tirus di pesisir Lebanon selatan sekarang ke kota-kota sekitar danau Galilea tempat ia banyak dikenal. Tapi memang dari Tirus ia ke utara dulu, ke Sidon, juga pesisir, dan dari sana kembali lewat daerah sepuluh kota, yaitu Dekapolis, dan sampai di tempat orang bisu itu dibawa ke hadapannya. Kalau sukar dibayangkan, gini saja, barusan kulihat peta Pulau Jawa di Internet. Bayangkan Yesus itu dulunya giat di sekitar Ambarawa-Salatiga, tuh di sekitar Rawa Pening (anggap saja ini wilayah Galilea), tapi ia kan pernah diminta pergi dari Galilea (Mrk 5:1-20, terutama ay. 17) ke Tirus, (Mrk 5:24) bayangkan saja Semarang, maksudnya incognito, tapi di situ seorang ibu-ibu Yunani keturunan Siro-Fenisia malah minta dia menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan (Mrk 7:24-30). Tentu Yesus tidak berniat berlama-lama di Tirus/Semarang, dan memutuskan kembali ke Galilea/sekitar Rawa Pening. Tapi kebetulan ada yang mengajaknya ke Sidon yang tak jauh dari sana, kayak ke Weleri, beli rambak petis buat oleh-oleh, dan dari sana di balik ke wilayah Ambarawa-Salatiga/Galilea, tapi tidak lewat jalan biasa, melainkan memutar lewat sebuah Gua Maria, Sukorejo, Parakan Candi Umbul dst. (anggap saja seperti Dekapolis). Sebelum sampai kembali di Ambarawa ia dihentikan orang-orang yang membawa seorang pasien tuli. Rada jelas?

Kurasa penting kisah perjalanan ini diceritakan karena menggambarkan bagaimana perjalanan Yesus itu sebuah ziarah yang semakin membentuk sikap batinnya yang khas: memberi isi nyata pada kata “kehendak Allah”. Pengabdiannya pada kemanusiaan, tak peduli apa haluan kepercayaannya seperti ibu-ibu tadi, ialah untaian manikam kenyataan apa itu kehendak Bapanya. Inilah yang membuatku terkesan dan merasa perlu menyampaikannya kepada kalian orang sekarang. Lagipula, kota Tirus dan Sidon itu letaknya di wilayah amat pinggiran lingkup masyarakat Yahudi. Di sana orang dianggap tak menghiraukan sisi-sisi rohani dan hanya mementingkan materi. Maklum keduanya kota perdagangan yang tua, kayak Semarang dan Weleri kalian itu. Tapi wilayah seperti itu tidak dilupakan Tuhan, malah ia semakin menemukan diri di sana. Ini termasuk Mysterium Christi yang bikin orang mau tahu lebih tentang sang Mesias. Sarjana-sarjana kan beranggapan bahwa tulisanku menitikberatkan perkenalan pada misteri ini.

Sekarang ada yang lebih menarik dari pelajaran geografi tadi. Terus terang kisah mengenai penyembuhan orang tuli ini mesti dibaca atau paling tidak dibayangkan bersama dengan kisah penyembuhan orang buta (sering dikenal dengan nama Bartimeus) di Betsaida (Mrk 8:22-26). Kau sendiri pernah menulis tentang si buta itu kan? Kesembuhan si tuli dan si buta ini ada makna simboliknya. Mereka jadi sembuh dalam perjumpaan dengan Yesus yang tak terduga-duga di tengah perjalanannya, di tengah ziarahnya menemukan kehendak Bapanya. Kesembuhan mereka itu ialah kesembuhan dari ketulian dan kebutaan mengenai siapa sebetulnya Yesus ini. Kisah ini kumaksudkan bagi orang banyak, yang ada di situ dan yang ada di mana saja Injil ini terbaca. Hendaknya mereka mengerti bahwa perjumpaan dengan Yesus sang pejalan ini membuka gerbang telinga dan pintu mata. Ketulian sesenyap apapun dan kebutaan segelap apapun tak bisa menahan suara dan terang yang keluar dari diri Yesus.

Dalam kisah penyembuhan orang tuli ini ada orang banyak yang membantu si tuli untuk bertemu dengan Yesus dan meminta agar ia menumpangkan tangan menyembuhkannya. Nanti dalam kisah orang buta, orang banyak agak menghalangi, tapi si buta itu terus bertekad mau mendekat. Seperti di mana saja dan kapan saja, orang banyak sering tak jelas mau apa dan ke mana. Maka dari itu, mereka juga diajak mendengar dan melihat. Kita ini kadang-kadang mirip orang banyak juga. Tapi untung ada orang tuli dan orang buta tadi. Kita bisa melihat yang terjadi pada diri mereka dan belajar dari mereka.

Sekarang perhatikan sikap dan tindakan Yesus dalam penyembuhan orang tuli itu. Ia memisahkannya dari kerumunan orang banyak sehingga hanya mereka berdua sendirian saja. Di situ terjadi penyembuhannya. Ia mau agar yang pertama-tama didengar orang tuli itu nanti ialah suara yang dibawakannya, bukan kasak kusuk orang banyak yang untuk sementara dijauhkannya. Kita tak tahu semua seluk beluk yang terjadi ketika mereka sendirian. Tentu si tuli tadi kemudian bercerita dan dari sana kita agak tahu bahwa Yesus memasukkan jarinya ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah orang tadi. Kayak penyembuh paranormal ya? Tapi lebih penting lagi, kemudian sambil menengadah ke langit, ia mendesah dan berkata, dalam bahasa Aram, “Efata!” artinya “Terbukalah!” Dari bentuk Aramnya, Gus kau tahu Aram lebih baik dari padaku, perintah itu ditujukan kepada dua telinga yang dimasuki jarinya. Perintah kepada telinga yang menutup diri kuat-kuat. Perhatikan, Yesus mendesah. ya, mendesah, mengerang kayak orang yang sedang kena kesakitan. Aku tak tahu banyak mengenai dunia itu, tapi sumber yang kupakai jelas-jelas memaksudkan Yesus seperti sedang menahan sakit. Bukankah kedua jarinya ada di telinga orang itu. Ada pergulatan antara kekuatan yang menolak sang Sabda dengan Sabda yang mendatanginya. Dan disertai kesakitan dari Sabda itu. Juga ia menyentuh lidah orang tadi. Bayangkan saja, ibu jarinya menyentuh lidah orang tadi. Juga ada pergulatan antara lidah yang dikuasai kekuatan yang membisukan melawan dia yang membuat orang berani bersaksi. Yesus juga meludah. Kekuatan jahat dari telinga yang diambilnya itu masuk ke dalam badannya, badan Yesus sendiri, dan kini diludahkannya dan dibuangnya keluar.

Gus jangan mulai tersenyum membaca uraian ini, aku sendiri juga heran. Memang Yesus bertindak seperti penyembuh paranormal zaman itu. Tapi satu hal tak bisa kulewatkan: Yesus menengadah (Mrk 7:34). Ia mengarahkan diri ke langit. Dulu ketika ia dibaptis ia melihat langit terbuka dan saat itulah ia mendengar suara dari sana (Mrk 1:9-10): “Engkaulah AnakKu yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan.” Pengalaman ini tak pernah lepas dari dirinya. Kini ia menengadah menghadirkan kembali kekuatan perkenan dari atas dan menyalurkannya ke dalam telinga dan lidah orang bisu tuli tadi. Adakah kekuatan lain yang dapat menahan suara dan perkenan dari langit yang terbuka tadi? Yesus bukan penyembuh biasa, ia meneruskan perkenan yang meraja di dalam dirinya kepada siapa saja yang mendekat padanya. Ia juga sanggup ikut merasakan penderitaan batin dan fisik orang yang sakit.

Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa Yesus menyuruh orang banyak merahasiakan kejadian tadi. Tapi makin dilarang, mereka malah makin memberitakannya. Aneh, di sini yang dilarang ialah orang banyak, jadi berbeda dengan yang terjadi dalam penyembuhan orang kusta (Mrk 1:44). Larangan itu sebenarnya untuk menghimbau agar orang tidak mengobral cerita sehingga maknanya jadi buyar, jadi kisah penyembuhan dan penumpangan tangan semata-mata. Banyak orang akan berbondong-bondong minta ditumpangi tangan. Tidak enak! Kesembuhan itu hasil sampingan dari kejadian yang lebih dalam yang aku sendiri tidak tahu tapi percaya ada. Orang-orang diminta mengendapkan pengalaman melihat peristiwa itu dan menemukan artinya. Baru bisa omong. Sayang mereka tak sabar, maka Yesus ketika itu makin dikenal sebagai penyembuh saja, bukan terutama sebagai Anak terkasih Dia yang ada di surga dan mendapat perkenan-Nya. Ini baru kusadari ketika menuliskan semuanya. Gus coba terangkan kepada rekan-rekan perkara ini. Juga ada hubungannya dengan kebangkitan Yesus nanti. Orang boleh mulai cerita banyak mengenai tindakan, pengajaran, penyembuhan yang dilakukan Yesus setelah ia nanti ditinggikan di salib. Setelah diakui bahkan oleh kepala pasukan di Golgota dengan kata-kata ini: “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:39). Dan itulah yang diwartakan tentang Yesus Kristus, dan itulah yang memberi arti lebih kepada semua tindakannya, penyembuhannya, dan pengajarannya. Dan itulah realitas kebangkitannya: ia sungguh Anak Allah.

Salam buat rekan-rekan yang tahun ini mencoba mengerti yang ingin kusampaikan dalam kisah-kisah tentang Yesus sang Mesias.

Salam hangat,
Mark

Lamunan Pekan Biasa XXII

Jumat, 4 September 2015

Lukas 5:33-39

5:33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."
5:34 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
5:35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
5:36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
5:37 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.
5:38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
5:39 Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, puasa adalah hal yang biasa terjadi dalam hidup beragama dan olah rohani. Pada umumnya puasa dikaitkan dengan kegiatan tidak makan dan tidak minum atau paling tidak menguranginya.
  • Tampaknya, dalam kegiatan puasa setiap agama mempunyai kebiasaan pelaksanaan dalam bentuk-bentuk tertentu dan dalam masa atau hari-hari tertentu. Bila orang tidak menjalani puasa dalam bentuk dan saat tertentu, orang dapat dicap tidak setia pada Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa sesetia apapun dalam menjalani bentuk-bentuk dan saat-saat puasa dalam hidup beragama, apabila tidak membuat jiwa ceria karena akrab dengan kedalaman hati yang menghadirkan kegembiraan berelasi dengan siapapun, orang belum mengalami kesejatian puasa. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menjalani puasa sebagai jalan latihan pengembangan baru menjadi ceria dalam hati dan dalam pergaulan dengan siapapun sesuai dengan kenyataan sehari-hari.
Ah, puasa itu ya harus sesuai dengan warisan kebiasaan pendiri agama.