Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"
2:1.
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes,
datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2
dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru
dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk
menyembah Dia."
2:3
Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4
Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu
dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5
Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah
ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6
Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di
antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit
seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
2:7
Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti
bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
2:8
Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah
dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia,
kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
2:9.
Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah,
bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan
berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria,
ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan
mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan
dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke
negerinya melalui jalan lain.
Butir-butir
Permenungan
Tampaknya,
tak sedikit orang beranggapan bahwa agama adalah jalan untuk hidup luhur. Agama
menjadi sarana untuk berhubungan mesra dengan Tuhan dan terbuka pada siapapun.
Tampaknya,
dengan memperhatikan hidup beragama orang akan menjadi salah satu penentang
kejahatan. Dengan beragama orang akan terbebas dari nafsu yang hanya
mementingkan diri sendiri.
Tetapi BISIK
LUHUR berkata bahwa bagi yang biasa bergaul dengan kedalaman hati orang akan
menyadari bahwa bagaimanapun dalam agama pun ada unsur-unsur duniawi dan bahkan
pemahaman akan hal-hal kudusnya dapat menjadi alat untuk kepentingan duniawi
termasuk motivasi politik dan ekonomi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya
dengan gema relung hati orang akan selalu mendialogkan semua pengalaman duniawi
termasuk dalam hal keagamaan dengan kedalaman batinnya.
Ah,
bagaimanapun juga yang aktif beragama pasti akan selalu terjaga kehidupannya.
diambil dari http://www.mirifica.net by
A. Giantoon Jendela Alkitab, Mingguan
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (Mat 2:1-12)
Rekan-rekan yang baik!
PADA Hari Raya Penampakan Tuhan ini dibacakan Mat 2:1-12. Dikisahkan
kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan
mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Di wilayah
Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara, ada
orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya
juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka
sebagai “orang-orang majus”. Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang
bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di
Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para
majus ini membawa mereka ke sana. Para ulama Yahudi sendiri sebenarnya
juga mengetahuinya lewat nubuat Nabi Mikha (Mat 2:6, kutipan dari Mikha
5:1).
ORANG-ORANG BIJAK
TANYA: Cerita mengenai orang majus ini menarik. Dapatkah dikatakan
bahwa Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya lewat wahyu
Alkitab saja? Seperti di sini, lewat kebijaksanaan manusiawi juga?
JAWAB: Ya! Memang itulah yang diungkapkan Matius dengan kisah ini. Ia
menunjukkan bagaimana kebijaksanaan dapat juga menuntun orang mengenali
kehadiran Tuhan.
TANYA: Bila begitu, luas benar pandangan Matius.
JAWAB: Malah dengan kisah ini Matius juga bermaksud mengatakan bahwa
Tuhan justru berbicara kepada umat-Nya lewat orang-orang bukan dari
kalangan itu sendiri! Orang-orang di Yerusalem mendengar tentang
kelahiran Yesus dari orang-orang bijak itu. Setelah itu barulah mereka
mulai sibuk mencari dalam khazanah teks keramat mereka sendiri. Matius
mau membangunkan orang sekaumnya yang kurang mendalami tradisi keramat
mereka sendiri.
TANYA: Wah, keberanian berpikir seperti Matius itu langka, juga pada
zaman ini. Orang biasanya merasa aman dengan apa-apa yang sudah biasa,
yang dapat diperhitungkan. Akan tetapi jalan Tuhan tidak terbatas.
Apakah Matius juga bermaksud agar orang-orang Yahudi sadar bahwa mereka
bukan satu-satunya umat yang diperhatikan Tuhan?
JAWAB: Beberapa bagian dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengatakan
hal ini walaupun caranya agak berbeda. Misalnya, Yes 60:1-6 (bacaan
pertama pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini) menegaskan bahwa
bangsa-bangsa bukan Yahudi akan berduyun-duyun ke Sion, yakni tempat
Tuhan bertakhta, tempat Ia menyinarkan terang-Nya (terutama ay. 3).
Maksudnya, kini Tuhan bukan hanya bagi orang Yahudi.
TANYA: Jadi juga cocok dengan yang diutarakan dalam bacaan kedua (Ef
3:6), yaitu berkat “Injil” orang-orang bukan Yahudi dapat turut
menikmati janji Tuhan yang kini diberikan dalam ujud manusia, yaitu
Yesus.
JAWAB: Benar. Dalam surat Efesus itu “Injil” ialah Kabar Gembira yang
sama bagi semua orang, berarti juga bagi orang bukan Yahudi dan
orang-orang yang bukan termasuk umat Perjanjian Lama.
MEMBAWA PERSEMBAHAN
TANYA: Sering kita dengar mengenai “Tiga Raja”, Gaspar, Baltasar,
dan Melkhior. Tapi dalam Injil Matius ini jumlah serta nama-nama mereka
kok juga tidak disebutkan? Juga tidak dikatakan mereka itu raja.
JAWAB: Memang Matius hanya menyebut “orang-orang majus dari Timur” dan
tiga macam persembahan, yakni “emas, dupa, dan mur”. Tiga persembahan
itu kemudian menumbuhkan gagasan adanya tiga orang. Bahwasanya mereka
kemudian dianggap raja boleh jadi didasarkan pada tradisi umat Yahudi
sendiri seperti ada dalam Mzm 72:10 (“Kiranya raja-raja dari Tarsis dan
pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba
membawa upeti”). Nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di
wilayah kekaisaran Romawi sebelah Barat. Di wilayah lain nama mereka
berlainan, juga jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas
orang.
TANYA: Bisakah diterangkan sedikit mengenai persembahan yang dibawa para majus itu?
JAWAB: Matius boleh jadi teringat akan Yes 60:6 (“… mereka semua akan
datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan
perbuatan masyhur Tuhan”). Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan
dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, dupa dengan martabat
ilahinya, dan mur dengan wafatnya sebagai manusia nanti. (Mur dipakai
dalam merawat jenazah sebelum dikuburkan).
TANYA: Apa ada makna yang lebih dalam?
JAWAB: Persembahan itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang
yang bukan dari kalangan Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru
lahir ini. Iman dan berkatnya mengatasi ikatan-ikatan bangsa dan
kedaerahan.
BERSUKA CITA
TANYA: Dapatkah dijelaskan perihal bintang yang dilihat para majus (Mat 2:2) dan yang berhenti di tempat Yesus lahir (Mat 2:9)?
JAWAB: Pembaca akan teringat pada bintang yang disebutkan dalam Bil
24:17. Balaam, seorang ahli nujum bangsa Aram, menubuatkan bahwa sebuah
bintang akan muncul dari keturunan Yakub. Selain itu, di kalangan Yahudi
ada juga nubuat mengenai kelahiran seorang pemimpin di Betlehem,
seperti terdengar dalam Mikha 5:1 dst. yang bahkan dikutip dalam Mat
2:6. Matius menerapkan kedua nubuat tadi pada kelahiran Yesus.
TANYA: Masih mengenai bintang. Setelah mereka berangkat dari tempat
Herodes, para majus tadi melihat kembali bintang yang mereka lihat di
Timur. Dan dikatakan bahwa mereka “sangat bersuka cita” (Mat 2:10).
Bagaimana penjelasannya?
JAWAB: Mereka mengikuti petunjuk yang diungkapkan para ulama Yerusalem
kepada Herodes mengenai raja yang baru lahir itu. Herodes kemudian
meminta para majus agar mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang
mereka lihat di Timur cocok dengan pemahaman para ulama di negeri yang
mereka datangi. Mereka bersuka cita karena mendapatkan jalan yang
benar-benar akan membawa mereka kepada dia yang mereka cari.
CARA TUHAN BERBICARA
Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari makna peristiwa
kelahiran Yesus ialah para gembala (Injil Misa Fajar hari Natal.)
Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan orang-orang majus tadi.
Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan langsung
dari langit tetapi dengan “bahasa” yang sesuai dengan cara berpikir
masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara lewat penampakan
malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama yang ahli ilmu
pengetahuan itu, Ia berbicara lewat isyarat bintang dan pemikiran. Ia
bahkan dapat berbicara kepada mereka lewat orang yang memiliki niat yang
kurang lurus seperti Herodes yang meminta mereka agar ke Betlehem.
Baik para gembala maupun orang-orang majus itu sama-sama mencari dia
yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak
dapat tinggal diam. Menurut Luk 2:18, orang-orang pada “keheranan”
ketika mendengar para gembala bercerita mengenai kata-kata malaikat
mengenai anak yang baru lahir itu. Dalam Mat 2:3, dikisahkan bahwa
Herodes dan seluruh isi Yerusalem “terkejut” ketika mendengar kata-kata
para majus. Ironisnya, mereka yang heran dan yang terkejut itu adalah
orang-orang yang sebenarnya sudah berada di dekat dengan dia yang baru
lahir. Dalam Injil Lukas, mereka itu sudah ada di tempat Maria baru saja
melahirkan. Ahli-ahli Taurat di Yerusalem dan Herodes yang disebut
Matius sudah dekat dengan kelahiran Yesus lewat kitab-kitab keramat
mereka. Namun mereka tidak menginsafi apa yang sedang terjadi di dekat
mereka.
Seperti jelas dari Mat 2:5, para ulama di Yerusalem itu sebenarnya
juga dapat mengetahui peristiwa itu. Tetapi mereka tidak memahami
maknanya. Juga di antara orang-orang yang mendengar kata-kata para
gembala, hanyalah Maria sajalah yang berusaha mengerti. Disebutkan dalam
Luk 2:18 bahwa Maria “menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan
memikir-mikirkannya.” Artinya, ia bersikap mau memahami misteri yang ada
dalam kehidupannya. Orang-orang lain tetap terheran-heran saja.
Nanti para majus diperingatkan “dalam mimpi” supaya jangan kembali ke
Herodes. Para majus kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas.
Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu
mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana
persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu.
Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka
pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang
lain. Bagaimana dengan mereka yang ada di Yerusalem, yaitu Herodes dan
orang-orang seperti dia? Mereka akan tetap “terkejut” dan tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi. Mereka kehilangan kepekaan akan cara-cara
Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman!
IKUT BERGEMBIRA
Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat
Dia membiarkan diri terlihat oleh orang-orang yang tidak atau belum
melihat-Nya. Dalam Mat 2:11, dikatakan bahwa para majus melihat Yesus
bersama Maria dan baru setelah itu mereka menyembahnya. Dia yang ilahi
itu membiarkan diri dipandangi oleh orang yang tidak biasa melihatnya.
Dan bukan hanya dalam panganan belaka melainkan ada bersama dengan
manusia lain, bersama dengan dia yang melahirkannya. Para majus bersuka
cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia.
Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami.
Santo Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup
dan Pujangga Gereja
Sabtu, 2 Januari 2016
Yohanes
1:19-28
1:19.
Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia:
"Siapakah engkau?"
1:20
Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21
Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau?
Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan
datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22
Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi
jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu
sendiri?"
1:23
Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun:
Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24
Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25
Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau
engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26
Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di
tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27
yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku
tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania
yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.
Butir-butir
Permenungan
Katanya,
untuk sukses orang, kelompok, dan organisasi banyak yang menggunakan prinsip
keberhasilan perusahaan. Di situ ada alat untuk menemukan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang atau kesempatan (opportunity), dan tantangan atau ancaman
(threat) yang biasa dengan singkatan
SWOT.
Katanya,
untuk diterima oleh massa umum orang harus sungguh-sungguh peka akan adanya
peluang atau kesempatan. Sekalipun memiliki kekuatan hebat dan dapat menutup
segala kelemahan dan ancaman, kalau tidak mampu memanfaatkan kesempatan atau
peluang orang akan gagal dalam hidup.
Tetapi BISIK
LUHUR berkata bahwa sehebat apapun seseorang dan sebesar apapun dukungan banyak
orang, bagi yang biasa bergaul dengan kedalaman batin orang akan yakin bahwa
semua itu tak bermakna apapun kalau tidak memiliki kejujuran yang membuatnya
sadar diri akan kelayakan tempatnya di tengah kepentingan umum. Dalam yang
ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar tempat dalam
hidup bersama sehingga akan sungguh menghargai posisi kunci orang lain.
Ah, kalau ada
peluang untuk meraih jabatan ya harus dimanfaatkan.
Sabtu, 02 Januari 2016 Peringatan Wajib St. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze warna liturgi Putih Bacaan 1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28. BcO Kid. 4:1-5:1
Yohanes 1:19-28: 1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" 1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." 1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" 1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" 1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." 1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. 1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" 1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." 1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis. Renungan: Karya
dan kata Yohanes Pembaptis menggerakkan banyak orang. Ada yang percaya
dan memberikan dirinya dibaptis. Ada pula yang bertanya-tanya siapa
sebenarnya Yohanes itu. Ketika hal itu ditanyakan, Yohanes pun menjawab,
"Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah
jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya" (Yoh 1:23). Jawaban
Yohanes itu bisa menimbulkan tafsir. Mereka yang bertanya pun mesti
tahu apa yang dimaksud dengan nubuat nabi Yesaya tersebut. Yohanes tidak
memberikan jawaban yang pasti siapa dirinya. Orang-orang pun rasanya
tetap bertanya-tanya siapa dia setelah mendapat jawaban seperti itu. Ada
banyak perkara yang memerlukan tafsir dalam hidup ini. Sering kita
menemui ketidakjelasan atas pertanyaan-pertanyaan kita. Tidak jarang hal
tersebut menimbulkan kebimbangan. Namun rasanya ketika kita berada
dalam situasi seperti itu kita bisa mengambil sikap dengan melihat
jawaban yang meneguhkan iman kepercayaan kita. Sebagaimana orang yang
mengikuti Yohanes, memberikan diri dibaptis dan bertobat meneguhkan iman
mereka.
Kontemplasi: Duduklah dalam keheningan. Hadirkan pertanyaan-pertanyaan dirimu yang belum terjawab. Ambillah satu jawaban yang menguatkanmu.
Refleksi: Bagaimana menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dengan jelas?
Doa: Tuhan, semoga aku tetap yakin akan karyamu walau aku masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. Amin.
Perutusan: Aku akan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. -nasp-
Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. Di
masa tua dan sakit kadang banyak perkara atau peristiwa yang terjadi dan
menimbulkan tanda tanya mengapa terjadi seperti ini? Perkara tersebut
sering tidak tahu jawabannya secara jelas. Maka perkara atau peristiwa
tersebut hanya bisa disimpan dalam hati dan direnungkan sambil "neges
kersa Dalem Gusti". Karena Tuhan pasti punya rencana dengan dan dalam
serta melalui peristiwa tersebut. Menemukan makna atas peristiwa atau
perkara itu adalah suatu mutiara hidup.
diambil dari http://www.melsa.link/2015/12 lewat FB Gayatri Septirini 31 Desember 2015
ILMU MANDI YANG BENAR, Saran dari seorang dokter dan juga sebagai praktisi chi kungBagaimana mandi yang benar? Mandi yg benar adalah:
�� Bermula dari menyiramkan telapak kaki.
�� Shower/siram betis.
�� Shower/siram paha.
�� Shower/siram perut.
�� Shower/siram pundak.
�� BERHENTILAH sejenak 1-2 menit.
Kita akan merasakan seperti uap/angin yg keluar dari ubun2.. Bahkan merinding.
�� Setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.
Hikmahnya adalah.. Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita
isi dg air dingin. Suhu tubuh kita cenderung panas, dan air itu dingin
maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau
bahkan kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap. Atau yang
paling fatal adalah pecahnya pembuluh darah.
�� Maka kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tau tau stroke.
�� Bisa jadi kita sering masuk angin krn pola mandi kita yg keliru.
�� Bisa jadi kita sering migrain krn pola mandi yg salah.
�� Pola mandi ini baik bagi semua umur terutama yg punya penyakit diabetes, hypertensi, kolestrol dan migrain.
16 Lalu mereka
cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang
berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka
memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan
semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala
itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya
dan merenungkannya. 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan
memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat,
semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. 21 Dan ketika
genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama
yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Renungan:
Selamat tahun
baru. Di hari dan tahun baru ini kita merayakan St Maria Bunda Allah. Ibu Maria
mendapat tugas perutusan yang tidak mudah. Ada banyak hal yang mungkin masih
kurang dimengerti. Kedatangan para gembala dan wartanya ia simpan di dalam
hatinya. "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan
merenungkannya" (Luk 2:19).
Dalam kehidupan
harian pun kita sering mengalami sesuatu yang di luar dugaan kita. Kadang kita
tidak mengerti arti dari kata dan peristiwa yang kita alami. Bila mengalami hal
tersebut mungkin ada yang kebingungan, ada yang mencari jawaban, ada pula yang
diam dan merenungkannya. Maria memilih menyimpan dalam hatinya dan
merenungkannya.
Kita memasuki
tahun baru. Banyak orang pun membangun impian yang mau dicapai dalam tahun ini.
Kiranya kesempatan ini baik kalau kita gunakan untuk diam bersama Allah,
mendengarkan sapaan sesama sepanjang tahun kemarin, merenungkannya dan dalam
hati membangun niat dalam kesatuan dengan rencana Allah. Kehadiran Allah dalam
niat kita akan meneguhkan perwujudannya.
Kontemplasi:
Pejamkan matamu.
Renungkanlah perjalanan tahun kemarin. Dengarkanlah aneka kesaksian tentang
dirimu. Buatlah niat untuk tahun ini.
Refleksi:
Tulislah
kontemplasimu.
Doa:
Tuhan, terima
kasih atas teladan ibu Maria. Walau banyak hal yang mengagetkannya namun ia
selalu percaya pada penyelenggaraanMu. Semoga aku pun mempunyai iman
kepercayaan sekuat ibu Maria. Amin.
Perutusan:
Aku akan
membatinkan pengalamanku dan membangun niat hidupku. -nasp-