Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, January 2, 2016

Lamunan Hari Raya

Penampakan Tuhan
Minggu, 3 Januari 2016

Matius 2:1-12

2:1. Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tak sedikit orang beranggapan bahwa agama adalah jalan untuk hidup luhur. Agama menjadi sarana untuk berhubungan mesra dengan Tuhan dan terbuka pada siapapun.
  • Tampaknya, dengan memperhatikan hidup beragama orang akan menjadi salah satu penentang kejahatan. Dengan beragama orang akan terbebas dari nafsu yang hanya mementingkan diri sendiri.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa bagi yang biasa bergaul dengan kedalaman hati orang akan menyadari bahwa bagaimanapun dalam agama pun ada unsur-unsur duniawi dan bahkan pemahaman akan hal-hal kudusnya dapat menjadi alat untuk kepentingan duniawi termasuk motivasi politik dan ekonomi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu mendialogkan semua pengalaman duniawi termasuk dalam hal keagamaan dengan kedalaman batinnya.
Ah, bagaimanapun juga yang aktif beragama pasti akan selalu terjaga kehidupannya.

Friday, January 1, 2016

Hari Raya Penampakan Tuhan│ 3 Januari 2016│Mat 2:1-12│

diambil dari http://www.mirifica.net by on Jendela Alkitab, Mingguan


Rekan-rekan yang baik!

PADA Hari Raya Penampakan Tuhan ini dibacakan Mat 2:1-12. Dikisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara, ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka sebagai “orang-orang majus”. Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para majus ini membawa mereka ke sana. Para ulama Yahudi sendiri sebenarnya juga mengetahuinya lewat nubuat Nabi Mikha (Mat 2:6, kutipan dari Mikha 5:1).

ORANG-ORANG BIJAK

TANYA: Cerita mengenai orang majus ini menarik. Dapatkah dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya lewat wahyu Alkitab saja? Seperti di sini, lewat kebijaksanaan manusiawi juga?
JAWAB: Ya! Memang itulah yang diungkapkan Matius dengan kisah ini. Ia menunjukkan bagaimana kebijaksanaan dapat juga menuntun orang mengenali kehadiran Tuhan.
TANYA: Bila begitu, luas benar pandangan Matius.
JAWAB: Malah dengan kisah ini Matius juga bermaksud mengatakan bahwa Tuhan justru berbicara kepada umat-Nya lewat orang-orang bukan dari kalangan itu sendiri! Orang-orang di Yerusalem mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang-orang bijak itu. Setelah itu barulah mereka mulai sibuk mencari dalam khazanah teks keramat mereka sendiri. Matius mau membangunkan orang sekaumnya yang kurang mendalami tradisi keramat mereka sendiri.
TANYA: Wah, keberanian berpikir seperti Matius itu langka, juga pada zaman ini. Orang biasanya merasa aman dengan apa-apa yang sudah biasa, yang dapat diperhitungkan. Akan tetapi jalan Tuhan tidak terbatas. Apakah Matius juga bermaksud agar orang-orang Yahudi sadar bahwa mereka bukan satu-satunya umat yang diperhatikan Tuhan?
JAWAB: Beberapa bagian dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengatakan hal ini walaupun caranya agak berbeda. Misalnya, Yes 60:1-6 (bacaan pertama pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini) menegaskan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan berduyun-duyun ke Sion, yakni tempat Tuhan bertakhta, tempat Ia menyinarkan terang-Nya (terutama ay. 3). Maksudnya, kini Tuhan bukan hanya bagi orang Yahudi.
TANYA: Jadi juga cocok dengan yang diutarakan dalam bacaan kedua (Ef 3:6), yaitu berkat “Injil” orang-orang bukan Yahudi dapat turut menikmati janji Tuhan yang kini diberikan dalam ujud manusia, yaitu Yesus.
JAWAB: Benar. Dalam surat Efesus itu “Injil” ialah Kabar Gembira yang sama bagi semua orang, berarti juga bagi orang bukan Yahudi dan orang-orang yang bukan termasuk umat Perjanjian Lama.

MEMBAWA PERSEMBAHAN

TANYA: Sering kita dengar  mengenai “Tiga Raja”, Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Tapi dalam Injil Matius ini jumlah serta nama-nama mereka kok juga tidak disebutkan? Juga tidak dikatakan mereka itu raja.
JAWAB: Memang Matius hanya menyebut “orang-orang majus dari Timur” dan tiga macam persembahan, yakni “emas, dupa, dan mur”. Tiga persembahan itu kemudian menumbuhkan gagasan adanya tiga orang. Bahwasanya mereka kemudian dianggap raja boleh jadi didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri seperti ada dalam Mzm 72:10 (“Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba membawa upeti”). Nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di wilayah kekaisaran Romawi sebelah Barat. Di wilayah lain nama mereka berlainan, juga jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas orang.
TANYA: Bisakah diterangkan sedikit mengenai persembahan yang dibawa para majus itu?
JAWAB: Matius boleh jadi teringat akan Yes 60:6 (“… mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan”). Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, dupa dengan martabat ilahinya, dan mur dengan wafatnya sebagai manusia nanti. (Mur dipakai dalam merawat jenazah sebelum dikuburkan).
TANYA: Apa ada makna yang lebih dalam?
JAWAB: Persembahan itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman dan berkatnya mengatasi ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan.

BERSUKA CITA

TANYA: Dapatkah dijelaskan perihal bintang yang dilihat para majus (Mat 2:2) dan yang berhenti di tempat Yesus lahir (Mat 2:9)?
JAWAB: Pembaca akan teringat pada bintang yang disebutkan dalam Bil 24:17. Balaam, seorang ahli nujum bangsa Aram, menubuatkan bahwa sebuah bintang akan muncul dari keturunan Yakub. Selain itu, di kalangan Yahudi ada juga nubuat mengenai kelahiran seorang pemimpin di Betlehem, seperti terdengar dalam Mikha 5:1 dst. yang bahkan dikutip dalam Mat 2:6. Matius menerapkan kedua nubuat tadi pada kelahiran Yesus.
TANYA: Masih mengenai bintang. Setelah mereka berangkat dari tempat Herodes, para majus tadi melihat kembali bintang yang mereka lihat di Timur. Dan dikatakan bahwa mereka “sangat bersuka cita” (Mat 2:10). Bagaimana penjelasannya?
JAWAB: Mereka mengikuti petunjuk yang diungkapkan para ulama Yerusalem kepada Herodes mengenai raja yang baru lahir itu. Herodes kemudian meminta para majus agar mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang mereka lihat di Timur cocok dengan pemahaman para ulama di negeri yang mereka datangi. Mereka bersuka cita karena mendapatkan jalan yang benar-benar akan membawa mereka kepada dia yang mereka cari.

CARA TUHAN BERBICARA

Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari makna peristiwa kelahiran Yesus ialah para gembala (Injil Misa Fajar hari Natal.)  Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan orang-orang majus tadi. Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan langsung dari langit tetapi dengan “bahasa” yang sesuai dengan cara berpikir masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara lewat penampakan malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama yang ahli ilmu pengetahuan itu, Ia berbicara lewat isyarat bintang dan pemikiran. Ia bahkan dapat berbicara kepada mereka lewat orang yang memiliki niat yang kurang lurus seperti Herodes yang meminta mereka agar ke Betlehem.

Baik para gembala maupun orang-orang majus itu sama-sama mencari dia yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak dapat tinggal diam. Menurut Luk 2:18, orang-orang pada “keheranan” ketika mendengar para gembala bercerita mengenai kata-kata malaikat mengenai anak yang baru lahir itu. Dalam Mat 2:3, dikisahkan bahwa Herodes dan seluruh isi Yerusalem “terkejut” ketika mendengar kata-kata para majus. Ironisnya, mereka yang heran dan yang terkejut itu adalah orang-orang yang sebenarnya sudah berada di dekat dengan dia yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, mereka itu sudah ada di tempat Maria baru saja melahirkan. Ahli-ahli Taurat di Yerusalem dan Herodes yang disebut Matius sudah dekat dengan kelahiran Yesus lewat kitab-kitab keramat mereka. Namun mereka tidak menginsafi apa yang sedang terjadi di dekat mereka.

Seperti jelas dari Mat 2:5, para ulama di Yerusalem itu sebenarnya juga dapat mengetahui peristiwa itu. Tetapi mereka tidak memahami maknanya. Juga di antara orang-orang yang mendengar kata-kata para gembala, hanyalah Maria sajalah yang berusaha mengerti. Disebutkan dalam Luk 2:18 bahwa Maria “menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan memikir-mikirkannya.” Artinya, ia bersikap mau memahami misteri yang ada dalam kehidupannya. Orang-orang lain tetap terheran-heran saja.

Nanti para majus diperingatkan “dalam mimpi” supaya jangan kembali ke Herodes. Para majus kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas. Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain. Bagaimana dengan mereka yang ada di Yerusalem, yaitu Herodes dan orang-orang seperti dia? Mereka akan tetap “terkejut” dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka kehilangan kepekaan akan cara-cara Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman!

IKUT BERGEMBIRA

Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat Dia membiarkan diri terlihat oleh orang-orang yang tidak atau belum melihat-Nya. Dalam Mat 2:11, dikatakan bahwa para majus melihat Yesus bersama Maria dan baru setelah itu mereka menyembahnya. Dia yang ilahi itu membiarkan diri dipandangi oleh orang yang tidak biasa melihatnya. Dan bukan hanya dalam panganan belaka melainkan ada bersama dengan manusia lain, bersama dengan dia yang melahirkannya. Para majus bersuka cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja
Sabtu, 2 Januari 2016

Yohanes 1:19-28

1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, untuk sukses orang, kelompok, dan organisasi banyak yang menggunakan prinsip keberhasilan perusahaan. Di situ ada alat untuk menemukan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang atau kesempatan (opportunity), dan tantangan atau ancaman (threat) yang biasa dengan singkatan SWOT.
  • Katanya, untuk diterima oleh massa umum orang harus sungguh-sungguh peka akan adanya peluang atau kesempatan. Sekalipun memiliki kekuatan hebat dan dapat menutup segala kelemahan dan ancaman, kalau tidak mampu memanfaatkan kesempatan atau peluang orang akan gagal dalam hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa sehebat apapun seseorang dan sebesar apapun dukungan banyak orang, bagi yang biasa bergaul dengan kedalaman batin orang akan yakin bahwa semua itu tak bermakna apapun kalau tidak memiliki kejujuran yang membuatnya sadar diri akan kelayakan tempatnya di tengah kepentingan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar tempat dalam hidup bersama sehingga akan sungguh menghargai posisi kunci orang lain.
Ah, kalau ada peluang untuk meraih jabatan ya harus dimanfaatkan.

Sabda Hidup

Sabtu, 02 Januari 2016
Peringatan Wajib St. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze
warna liturgi Putih
Bacaan
1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28. BcO Kid. 4:1-5:1

Yohanes 1:19-28: 
1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis. 

 
Renungan:
Karya dan kata Yohanes Pembaptis menggerakkan banyak orang. Ada yang percaya dan memberikan dirinya dibaptis. Ada pula yang bertanya-tanya siapa sebenarnya Yohanes itu. Ketika hal itu ditanyakan, Yohanes pun menjawab, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya" (Yoh 1:23).
Jawaban Yohanes itu bisa menimbulkan tafsir. Mereka yang bertanya pun mesti tahu apa yang dimaksud dengan nubuat nabi Yesaya tersebut. Yohanes tidak memberikan jawaban yang pasti siapa dirinya. Orang-orang pun rasanya tetap bertanya-tanya siapa dia setelah mendapat jawaban seperti itu.
Ada banyak perkara yang memerlukan tafsir dalam hidup ini. Sering kita menemui ketidakjelasan atas pertanyaan-pertanyaan kita. Tidak jarang hal tersebut menimbulkan kebimbangan. Namun rasanya ketika kita berada dalam situasi seperti itu kita bisa mengambil sikap dengan melihat jawaban yang meneguhkan iman kepercayaan kita. Sebagaimana orang yang mengikuti Yohanes, memberikan diri dibaptis dan bertobat meneguhkan iman mereka.

Kontemplasi:
Duduklah dalam keheningan. Hadirkan pertanyaan-pertanyaan dirimu yang belum terjawab. Ambillah satu jawaban yang menguatkanmu.

Refleksi:
Bagaimana menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dengan jelas?

Doa:
Tuhan, semoga aku tetap yakin akan karyamu walau aku masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. Amin.

Perutusan:
Aku akan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. -nasp-

Thursday, December 31, 2015

RM. TRI HARTONO MANEGES


Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. Di masa tua dan sakit kadang banyak perkara atau peristiwa yang terjadi dan menimbulkan tanda tanya mengapa terjadi seperti ini? Perkara tersebut sering tidak tahu jawabannya secara jelas. Maka perkara atau peristiwa tersebut hanya bisa disimpan dalam hati dan direnungkan sambil "neges kersa Dalem Gusti". Karena Tuhan pasti punya rencana dengan dan dalam serta melalui peristiwa tersebut. Menemukan makna atas peristiwa atau perkara itu adalah suatu mutiara hidup.

Jika Sering Migrain Atau Masuk Angin, Ternyata Cara Mandi Kita Selama Ini Salah dan Berbahaya

diambil dari http://www.melsa.link/2015/12 lewat FB Gayatri Septirini 31 Desember 2015


ILMU MANDI YANG BENAR, Saran dari seorang dokter dan juga sebagai praktisi chi kungBagaimana mandi yang benar? Mandi yg benar adalah:

�� Bermula dari menyiramkan telapak kaki.
�� Shower/siram betis.
�� Shower/siram paha.
�� Shower/siram perut.
�� Shower/siram pundak.
�� BERHENTILAH sejenak 1-2 menit.
Kita akan merasakan seperti uap/angin yg keluar dari ubun2.. Bahkan merinding.
�� Setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Hikmahnya adalah.. Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dg air dingin. Suhu tubuh kita cenderung panas, dan air itu dingin maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau bahkan kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap. Atau yang paling fatal adalah pecahnya pembuluh darah.

�� Maka kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tau tau stroke.
�� Bisa jadi kita sering masuk angin krn pola mandi kita yg keliru.
�� Bisa jadi kita sering migrain krn pola mandi yg salah.
�� Pola mandi ini baik bagi semua umur terutama yg punya penyakit diabetes, hypertensi, kolestrol dan migrain.

Sabda Hidup



Sabda Hidup
Jumat, 01 Januari 2016
HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH,
Hari Perdamaian Sedunia
warna liturgi Putih 
Bacaan
Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21. BcO Ibr. 2:9-17

Lukas 2:16-21  
16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. 21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Renungan:
Selamat tahun baru. Di hari dan tahun baru ini kita merayakan St Maria Bunda Allah. Ibu Maria mendapat tugas perutusan yang tidak mudah. Ada banyak hal yang mungkin masih kurang dimengerti. Kedatangan para gembala dan wartanya ia simpan di dalam hatinya. "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19).
Dalam kehidupan harian pun kita sering mengalami sesuatu yang di luar dugaan kita. Kadang kita tidak mengerti arti dari kata dan peristiwa yang kita alami. Bila mengalami hal tersebut mungkin ada yang kebingungan, ada yang mencari jawaban, ada pula yang diam dan merenungkannya. Maria memilih menyimpan dalam hatinya dan merenungkannya.
Kita memasuki tahun baru. Banyak orang pun membangun impian yang mau dicapai dalam tahun ini. Kiranya kesempatan ini baik kalau kita gunakan untuk diam bersama Allah, mendengarkan sapaan sesama sepanjang tahun kemarin, merenungkannya dan dalam hati membangun niat dalam kesatuan dengan rencana Allah. Kehadiran Allah dalam niat kita akan meneguhkan perwujudannya.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu. Renungkanlah perjalanan tahun kemarin. Dengarkanlah aneka kesaksian tentang dirimu. Buatlah niat untuk tahun ini.

Refleksi:
Tulislah kontemplasimu.

Doa:
Tuhan, terima kasih atas teladan ibu Maria. Walau banyak hal yang mengagetkannya namun ia selalu percaya pada penyelenggaraanMu. Semoga aku pun mempunyai iman kepercayaan sekuat ibu Maria. Amin.

Perutusan:
Aku akan membatinkan pengalamanku dan membangun niat hidupku. -nasp-