Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, August 5, 2017

Lamunan Pekan Biasa XVIII

Minggu,6 Agustus 2017

Matius 17:1-9

17:1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
17:4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!”
17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kemampuan hidup bersama membuat orang mudah menemukan kegembiraan bahkan kebahagiaan. Manusia pada hakikatnya memang makhluk sosial.
  • Tampaknya, kemampuan hidup bersama membuat orang mudah diterima oleh banyak orang. Dia mudah menjadi penghadir sukacita bagi banyak orang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehebat dan semenyenangkan apapun seseorang mampu hadir di dalam hidup bersama dengan siapapun dan kapanpun, hal itu tak akan menebarkan sukacita sejati kalau dia tidak mampu menghayati kebahagiaan dalam kesendirian bercengkerama dengan relung kalbunya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mampu membahagiakan banyak orang lain karena landasan kemampuan bahagia dalam kesendirian.
Ah, sendiri itu sepi dong.

Mendengarkan Yesus Kristus

diambil dari email group Unio-kas 6 Agustus 2017

Minggu, 06 Agustus 2017
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mateus 17:1-9

Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, mengalami penampakan kemuliaan IlahiMu merupakan saat istimewa bagi Petrus hingga ia berkata penuh yakin, "Tuhan, alangkah bahagianya kami berada di sini." Lalu terdengarlah suara Allah Bapa dari balik awan, "Dengarkanlah Dia!" Suara itu merupakan pesan penting tertuju kepada para murid dan juga padaku.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, hati yang mendengarkan adalah hati yang hangat karena kasih Allah dan diajar oleh SabdaNya. Seseorang yang kudengarkan adalah Dikau, Putra Allah yang terkasih yang menampakkan kemuliaan dalam kemanusiaanMu.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Adorasi Ekaristi Abadi adalah saat istimewa bagiku untuk mendengarkan Dikau. Lebih Adorasi digambarkan sebagai saat mendengarkan daripada berbicara. Di sana aku menghabiskan waktuku menggemakan sabdaMu atau hanya mendengarkan desiran cinta dan damai dalam doa. Bantulah aku mendengarkan Dikau dengan penuh cinta kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 5/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Friday, August 4, 2017

Penampakan Kemuliaan Yesus

diambil dari http://www.mirifica.net by A. Gianto on Jendela Alkitab, Mingguan
Penampakan Kemuliaan Yesus

SECARA khusus disebutkan pada Injil Minggu kali ini (Mat 17:1-9) bahwa “enam hari kemudian” Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah gunung. Yang dimaksud ialah enam hari setelah peristiwa pernyataan Petrus bahwa Yesus itu Mesias serta pemberitahuan Yesus akan. Di atas gunung ketiga murid tadi melihat Yesus wajah Yesus bercahaya bagaikan matahari dan jubahnya kini putih berkilauan. Juga tampak Musa dan Elia yang berbicara dengan Yesus. Melihat ini semua, Petrus ingin memasang tiga kemah bagi ketiga tokoh tadi. Tidak disebutkan bagaimana tanggapan Yesus. Sementara itu ada awan datang menaungi ketiga tokoh tadi dan terdengar suara dari sana, “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku berkenan, dengarkanlah dia!” Mendengar suara itu pun murid-murid tersungkur ketakutan, tetapi Yesus mendekat dan menyentuh mereka sambil berkata “Berdirilah, jangan takut!” Ketika mereka memandangi sekeliling, hanya tampak Yesus seorang diri. Kemudian mereka turun gunung dan Yesus melarang mereka menceritakan yang mereka lihat sebelum anak manusia bangkit dari mati”. Inilah yang membuat mereka bertanya-tanya.

Enam Hari

Matius (seperti halnya Markus dalam Mrk 9:29) mencatat, peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung ini terjadi “enam hari kemudian”. Maksudnya, enam hari penuh setelah Petrus menyatakan bahwa Yesus itu Mesias dan Yesus memberitahukan prospek salib dan kematian serta kebangkitan. Dengan kata lain, penampakan kemuliaan di gunung itu sendiri terjadi pada hari ketujuh. Pembaca akan ingat, pada hari ketujuh sang Pencipta beristirahat setelah menyelesaikan enam hari penciptaan (Kej 1:31-2:2). Juga pembaca akan ingat bahwa Musa menunggu di puncak Sinai enam hari sebelum melihat kemuliaan ilahi pada hari ketujuh. (Kel 24:16).

Enam hari penuh tadi mematangkan isi pernyataan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. Begitu pula enam hari tadi mematangkan penegasan Yesus akan penderitaannya nanti. Memang para murid belum menangkap arti penegasan itu. Tetapi bagi Yesus, arah itu kini sudah matang dan ia menerimanya dengan tulus. Ia sadar, penderitaannya itu titian menuju ke kemuliaannya, penderitaannya itu jalan menjadi orang yang amat dekat dengan Yang Maha Kuasa dan menjadi orang yang pantas didengarkan. Dan inilah yang diingat ketiga murid tadi dan dikisahkan ke generasi selanjutnya, juga kepada kita hari ini. Tenggang waktu enam hari penuh itu cara mengungkapkan persiapan yang sungguh-sungguh bagi sebuah kejadian penting. (Luk 9:28 menyebut “kira-kira delapan hari” karena hari sebelum dan sesudah tenggang waktu enam hari yang ditulis Markus tadi ikut dihitung.)

Wajahnya Bagaikan Matahari Dan Jubahnya Putih Berkilauan

Matius menyebutkan dalam peristiwa di gunung in wajah Yesus berubah menjadi bercahaya bagaikan matahari dan jubahnya menjadi putih berkilauan. Matahari sifatnya cerah, bahkan menyilaukan. Tetapi sinarnya memancar bagi siapa saja yang mau menerimanya. Kiranya hendak dikatakan bahwa pada saat-saat itu ketiga murid yang diajak naik ke gunung sempat mengalami kebesaran Yesus yang memang menyilaukan pandangan, tetapi kebesarannya dapat dirasakan semua orang. Dapat diterima tapi juga dapat dijauhi. Juga pakaian putih yang berkilauan ada artinya. Pakaian menampakkan sosok orang yang mengenakannya. Begitulah Yesus kini tampak memancarkan cahaya. Tak ada kegelapan dalam sosoknya. Siapa yang mengikuti akan menemukan terang.

Musa dan Elia

Dalam penampakan kemuliaan tadi  tampil pula Musa dan Elia. Bagi orang Yahudi kedua-duanya ialah tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama yang juga pernah mengalami penampakan kebesaran ilahi secara khusus. Musa mengalaminya di puncak gunung Sinai ketika menerima Taurat (Kel 19:16-19). Kejadian itu diiringi awan tebal, guruh, dan halilintar yang menakutkan. Amat berbeda penampakan kepada Elia di gunung Horeb (1Raj 19:11-13). Di situ Allah justru menampakkan diri dalam suasana tenang, disertai hembusan angin sepoi-sepoi. yang Maha Kuasa dapat menampakkan kemuliaan-Nya dalam cara yang menggentarkan, tapi juga bisa dengan cara yang lembut. Kini kedua tokoh itu mengalami penampakan dengan cara lain lagi. Tetapi mereka tak merasa asing dengan kehadiran ilahi yang baru ini. Disebutkan bahwa mereka “berbicara” dengan Yesus yang menampakkan kemuliaannya. Penampakan ilahi yang sejati bisa diakrabi, diwacanakan, bukan hanya mengejutkan, bukan kejadian yang menggugah sensasi dan keingintahuan belaka.

Peristiwa di gunung ini disampaikan sesudah pernyataan Yesus yang pertama kalinya bahwa anak manusia, yakni dirinya, akan dimusuhi orang-orang di Yerusalem, menderita, dibunuh, tapi akan dibangkitkan pada hari ketiga. Pernyataan itu sendiri langsung mengikuti penegasan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. Urutan yang sama terlihat dalam Injil Markus, Matius dan Lukas: pengakuan Petrus – pemberitaan pertama sengsara – penampakan kemuliaan. Pembaca boleh menyimpulkan bahwa Yesus didukung oleh Musa dan Elia, dua orang terpercaya yang sungguh mengenal kehadiran ilahi di dunia ini.

Lukas mengolah lebih jauh kehadiran kedua tokoh Perjanjian Lama tadi dengan mengatakan bahwa mereka berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanannya” (Luk 9:31). Memang Yesus ketika itu sedang berjalan menuju ke Yerusalem, tempat kemuliaan-Nya nanti terwujud sepenuhnya. Kata yang dipakai bagi “tujuan perjalanan” itu ialah “exodos”, sama dengan yang dipakai untuk mengatakan keluaran dari perbudakan di Mesir dulu. Tujuan perjalanan yang berakhir di Yerusalem nanti itulah yang bakal menjadi “keluaran” baru bagi kemanusiaan. Inilah jalan yang sedang ditempuh Yesus untuk membawa keluar kemanusiaan dari perbudakan yang mengurangi martabatnya.

“KepadaNya Aku Berkenan”

Suara dari surga yang terdengar ketiga murid tadi diutarakan kembali oleh Matius sebagai “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku berkenan, dengarkanlah dia!” (Mat 17:5). Baiklah sekedar ditengok perspektif dari kedua Injil lain, yakni Markus dan Lukas. Markus mengutarakan peristiwa yang sama sebagai “Inilah anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah dia!” (Mrk 9:7). Markus memang menjadi bahan dasar Matius (juga bagi Lukas). Matius mengolah bahan ini dengan menambahkan “kepadanya Aku berkenan” sehingga jelas bahwa Yesus sungguh mendapat restu serta kuasa dari Yang Maha Kuasa untuk menghadirkan-Nya. Jadi Yesus bukan hanya sekadar orang suruhan. Dalam dirinya kini tampil Sang Maha Kuasa sendiri. Alih-alih “Inilah anak-Ku yang terkasih” dari Markus (yang juga ada dalam Matius), pada Injil Lukas didapati “Inilah anak-Ku yang Kupilih…” (Luk 9:35). Lukas kiranya menegaskan bahwa Yesus inilah orang yang dipilih untuk membawakan wajah sang ilahi sendiri. Memang dalam pandangan orang Yahudi waktu itu, “Anak yang terkasih” menghadirkan Bapa-Nya. Begitulah menjadi jelas Injil Matius dan Lukas menyoroti dan meluaskan warta Markus. Bagaimanapun juga ketiga-tiganya memuat “dengarkanlah dia!” (Mrk 9:7). Ada ajakan untuk mendengarkan dia yang menurut Matius telah mendapat perkenan Yang Mahakuasa dan menurut Lukas adalah orang pilihan-Nya sendiri.

Dari pembicaraan di atas jelas bahwa yang disampaikan dalam Injil bukanlah semata-mata suara yang dapat direkam dan diputar kembali begitu saja. Kata-kata itu mengungkapkan pengalaman batin yang terolah, baik oleh para murid yang diajak Yesus tadi maupun oleh komunitas (bukan orang perorangan) yang mendalaminya seperti komunitas Markus, komunitas Matius, dan juga komunitas Lukas. Inilah kenyataan betapa sabda ilahi itu hidup. Tidak berhenti sebagai suara belaka, melainkan mengikutsertakan pengertian serta pengalaman orang-orang yang mendengarnya.

“…Jangan Takut!”

Baiklah kini disimak kekhususan Matius. Menurut Matius murid-murid tersungkur ketakutan ketika mendengar suara itu (Mat 17:6). Tetapi Yesus kemudian menyentuh mereka sambil menyuruh mereka berdiri dan jangan takut. Kata-kata menyuruh agar jangan takut biasanya hanya diucapkan oleh tokoh yang amat besar kuasanya, sedemikian besarnya sehingga dapat dikatakan bahwa Allah sendiri ada padanya. Inilah cara Matius menyampaikan kepada pembacanya bahwa Yesus ialah orang yang disertai Allah sepenuhnya, yang mendapat perkenan-Nya. Para pembaca dapat pula memanfaatkan pendalaman Matius ini.

Sebuah amatan lagi. Ketika tersungkur, posisi badan para murid tentunya menelungkup dengan muka mereka di tanah. Tetapi kemudian mereka disuruh berdiri. Nah, gerakan dari menelungkup ke arah posisi berdiri itu mau tak mau membuat mereka bertopang pada kedua hasta dan lutut. Bila dibayangkan, inilah sikap tubuh bersujud menurut kebiasaan orang Yahudi di hadapan tokoh yang amat dihormati. (Bandingkan dengan gambaran serupa dalam Dan 10:9-10.) Matius kiranya hendak mengatakan, Yesus sendiri kini mengajar para murid agar mengubah rasa tergetar menjadi sikap bersujud tanpa takut-takut! Sekali lagi, pembaca Injil Markus dapat pula mengambil manfaat dari olahan Matius tadi.

Penglihatan di gunung ini hanyalah dialami oleh tiga orang murid saja, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka dipesan oleh Yesus agar jangan menceritakan kepada siapapun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati (Mat 9:10). Akan tetapi sekarang kita semua mendengarnya. Memang ini terjadi setelah Yesus telah dibangkitkan dari mati. Setelah Paskah.

Memang tadinya para murid yang terdekat pun – Petrus, Yakobus, dan Yohanes – belum seutuhnya menyadari pengalaman mereka sendiri. Mereka butuh waktu untuk menggarapnya dan mengendapkannya. Karena itulah dipesan agar tidak mengobral pengalaman yang belum utuh terolah. Perkara yang dipersaksikan perlu terjadi lebih dahulu. Yesus masih harus menanggung salib sampai wafat dan mencapai kebangkitan. Baru setelah itu mereka boleh membicarakan kepada orang banyak bahwa memang dia itu patut didengarkan. Inilah maksud larangan membicarakan yang mereka lihat tadi. Para pembaca Injil boleh merasa beruntung dapat menikmati buah pengalaman yang telah matang tadi.

Salam hangat,
Kredit Foto: https://www.google.com/url?

Latihan Kesadaran untuk Bertobat

diambil dari email group Unio-kas 4 Agustus 2017

Sabtu, 05 Agustus 2017
Pekan Biasa XVII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 14:1-12

Sekali peristiwa sampailah berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Maka ia berkata kepada pegawai-pegawainya, "Inilah Yohanes Pembaptis. Ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Yohanes Pembaptis diutus untuk mempersiapkan jalan bagiMu. Ia adalah saksi kekudusan Allah. Ia mencoba menyadarkan kepekaan akan dosa dan kebutuhan untuk bertobat.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, suara Yohanes kepada Herodes sesungguhnya merupakan peringatan yang jelas tentang yang benar dan salah yang merupakan karya kerahiman Allah. Terima kasih telah mengingatkan kesadaranku untuk mengubah hidupku.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku belajar mencari dan melatih pertobatan hati. Terima kasih telah menyinari kesadaranku dengan InjilMu. Bantulah aku melatih kesadaranku untuk selalu berbuat baik, kini dan selamanya. Amin.

Campus Ministry_SCU, 4/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan Biasa XVII

Sabtu, 5 Agustus 2017

Matius 14:1-12

14:1. Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.
14:2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.”
14:3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.
14:4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!”
14:5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.
14:6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,
14:7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.
14:8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.”
14:9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya ocialena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.
14:10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara
14:11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.
14:12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat mengadakan pesta pada saat hari khusus untuknya seperti ulang tahun atau perkawinan. Di situ dia sungguh dapat menjadi pusat perhatian yang dielukan oleh tamu undangan dan orang-orang dekat.
  • Tampaknya, karena menjadi orang terpenting dalam pesta untuknya banyak orang dapat memberikan sumbangan baik harta maupun hiburan. Karena begitu menjadi pusat perhatian orang dapat melayani permintaan yang menyenangkannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, segembira apapun dan semurah hati apapun seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian sehingga segala ungkapan omongan akan tidak menyenangkan pun akan ditolerir oleh orang lain, dia akan akan tetap menjaga diri dalam berbicara karena dalam suasana yang amat menyenangkan orang dapat kehilangan kewaspaan sehingga dapat terperosok dalam jerat kepentingan jahat orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati terhadap orang yang paling dikasihi dan selalu menggembirakan pun orang akan tetap tegas menolak permintaan yang amat bertentangan dengan kebaikan dan kebenaran serta kemaslahatan umum.
Ah, bagaimanapun juga orang harus mengutamakan orang yang selalu menyenangkannya.

Thursday, August 3, 2017

Mengapa Lansia Sering Merasa Kedinginan

diambil dari http://byou28soenarsana.blogspot.co.id/2009/12

WASPADA Online
http://www.waspada.co.id/Ragam/Kesehatan/Mengapa-Lansia-Sering-Merasa-Kedinginan.html

Rasa kedinginan yang terjadi pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama pada lansia. Rasa kedinginan ini dapat disebabkan karena temperatur tubuh yang mencapai atau kurang dari 35 derajat (0) C dan keadaan ini disebut sebagai hipotermia, sedangkan temperatur tubuh yang normal pada lansia berkisar antara 36,5 sampai 37,2 0 C.

Keadaan ini dapat diketahui dengan meraba tubuh penderita dan terasa dingin atau yang lebih tepat lagi dengan memakai alat termometer berskala rendah. Cara lain untuk mengetahui adanya hipotermia ini yaitu dengan mengukur suhu air seni yang baru saja dikeluarkan.

Bahaya dari hipotermia ini yaitu menyebabkan meningkatnya risiko untuk mendapat penyakit dan kematian pada lansia, khususnya pada mereka yang berusia 75 tahun ke atas, yang disebut sebagai golongan lansia tua.

Dari penelitian menunjukkan bahwa lansia yang mengalami kekurangan gizi seringkali menderita hipotermia, sedangkan lansia dengan gizi yang baik menunjukkan temperatur tubuh yang normal. Oleh karena itu, dianggap bahwa kekurangan gizi menyebabkan gangguan pada pembentukan dan penahanan panas dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya hipotermia.

Selain daripada itu, penyakit-penyakit tertentu seperti penyakit kencing manis (diabetes melitus) mempunyai risiko enam kali lebih tinggi untuk mengalami hipotermia, juga yang dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme pengaturan suhu pada hipotalamus di otak.

Pengaturan Suhu Tubuh
Pada pengaturan suhu tubuh, hipotalamus di otak bekerja sebagai suatu termostat, yaitu mengatur suhu tertentu dari tubuh, yang kemudian terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Pada suhu tubuh yang rendah, untuk mengatasi agar suhu tidak turun lebih rendah lagi maka terjadi mekanisme pengaturan suhu tubuh berupa tegaknya rambut-rambut pada kulit, mengecilnya pembuluh-pembuluh darah pada kulit, menggigil atau perasaan dingin yang menyebabkan orang tersebut mengenakan baju lebih tebal dengan akibat meningkatnya suhu tubuh.

Sebaliknya, pada suhu tubuh yang tinggi, maka untuk mengeluarkan sebahagian panas dari tubuh sehingga suhu tubuh menurun kembali maka pembuluh darah kulit melebar, berkeringat dan membuka baju.

Penyebab

Gangguan pengaturan suhu pada lansia berupa keterbatasan fungsi mekanisme pengaturan suhu dari hipotalamus sehubungan dengan proses menua, mengakibatkan lansia kurang mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungannya. Hal inilah yang menyebabkan lansia dapat mengalami kepanasan (hipertermia) maupun kedinginan.

Secara umum, beberapa faktor yang berperan untuk terjadinya hipotermia adalah lingkungan yang dingin, gangguan pada hipotalamus yang berkaitan dengan bertambahnya usia, obat-obatan, dan penyakit-penyakit yang menyebabkan berkurangnya pembentukan panas atau meningkatnya pembuangan panas, ataupun yang mengganggu fungsi hipotalamus.

Sejumlah penyakit dan obat-obatan dapat mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh, seperti pada keadaan berkurangnya kadar gula darah dibandingkan normal (hipoglikemia), penyakit-penyakit yang menyebabkan lansia tidak mampu atau sangat terbatas aktivitas fisiknya, seperti penyakit Parkinson, kelumpuhan, penyakit sendi, demensia dapat menyebabkan berkurangnya pembentukan panas yang meningkatkan risiko terjadinya hipotermia.

Meningkatnya pembuangan panas tubuh dapat terjadi pada infeksi kulit, minum alkohol, berkurangnya lapisan lemak di bawah kulit yang berfungsi sebagai penahan keluarnya panas dari tubuh.

Gejala-gejala 

Gejala-gejala awal biasanya ringan dan tidak jelas, dapat berupa rasa lelah, lemah, langkah yang melambat, bicara pelo, tidak peduli lingkungan sekitarnya (apatis), kacau pikiran, menggigil, kulit yang dingin dan merasa dingin. Pada keadaan yang berat didapati infeksi paru (pneumonia) serta menurunnya tekanan darah, yang dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan Dan Pengobatan

Pencegahan terhadap keadaan hipotermia ini lebih penting daripada pengobatannya. Lansia dengan adanya risiko untuk mengalami hipotermia hendaknya menjaga agar suhu di ruangan melebihi 20 0C dan mempunyai termometer untuk menentukan suhu ruangan tempat ia berada, yang mana mereka dapat memeriksanya setiap saat diperlukan, terutama di saat cuaca yang sangat dingin. Selain daripada itu, penderita memakai selimut tebal.

Latihan fisik yang berkala (teratur) dapat meningkatkan pembentukan panas, dan jumlah kalori dari makanan/minuman yang masuk ke dalam tubuh yang memadai harus diperhatikan. Obat-obatan yang dapat mengganggu fungsi hipotalamus di dalam tubuh harus dihindari agar pengaturan suhu tubuh dapat berjalan dengan baik.

Jika keadaan hipotermia sedang terjadi, hendaknya ini harus dianggap sebagai keadaan yang serius, dan sebaiknya lansia tersebut dirawat di rumah sakit DI ruangan intensif. Pengobatan untuk hipotermia dapat berupa pengobatan primer yaitu menghangatkan kembali tubuh dan pengobatan sekunder untuk mengatasi komplikasi yang terjadi akibat hipotermia, misalnya pneumonia dengan pemberian antibiotika dan obat-obat lainnya.

Lansia dengan hipotermia jika tubuhnya dihangatkan dengan aktif dan cepat seringkali menyebabkan keadaan lansia tersebut bertambah buruk kesehatannya, karena dapat berakibat menurunnya tekanan darah dan berkurangnya aliran darah ke otot-otot jantung. Oleh karena itu, dianjurkan pada lansia yang mengalami hipotermia penghangatan tubuhnya secara lambat.

Semua upaya harus dilaksanakan untuk mendeteksi dan mengobati setiap kelainan organ tubuh yang didapati, misalnya adanya infeksi, kadar gula darah yang rendah, berkurangnya fungsi kelenjar gondok/hipotiroidisme

Untuk lebih jelasnya, sebaiknya para lansia yang sering merasa kedinginan dapat berkonsultasi kepada kami.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Yohanes Maria Vianney, Imam
Jumat, 4 Agustus 2017

Matius 13:54-58

13:54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
13:55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
13:56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”
13:57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”
13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat mendapatkan penghargaan karena titel kelulusan dan jabatan. Dia dapat dipanggil di banyak tempat untuk didengarkan kata-kata pengajarannya.
  • Tampaknya, orang juga bisa mendapatkan penghargaan karena menjadi anak keturunan orang terpandang. Dia dapat diangkat untuk menduduki jabatan terhormat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebanyak dan setinggi apapun title kelulusan perguruan tinggi dan seterhormat apapun kedudukan sosial orang tua atau yang menurunkan, itu semua tidak menjamin seseorang memiliki harga sejati yang sesungguhnya tergantung pada ketaatan pada aura nurani yang terungkap dalam kata-katanya dan terwujud dalam tindakannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tidak akan menyesal mengalami penolakan dari orang lain karena kesetiaannya pada kedalaman nurani. 
Ah, baik apapun kalau ditolak banyak orang ya celaka dong.