Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"
17:1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus
dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung
yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka;
wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar
seperti terang.
17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang
berbicara dengan Dia.
17:4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa
bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di
sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah
awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang
berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah
Dia.”
17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan
mereka sangat ketakutan.
17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh
mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!”
17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak
melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
17:9 Pada waktu
mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu
ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan
dari antara orang mati.”
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, kemampuan hidup
bersama membuat orang mudah menemukan kegembiraan bahkan kebahagiaan. Manusia
pada hakikatnya memang makhluk sosial.
Tampaknya, kemampuan hidup
bersama membuat orang mudah diterima oleh banyak orang. Dia mudah menjadi
penghadir sukacita bagi banyak orang.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sehebat dan
semenyenangkan apapun seseorang mampu hadir di dalam hidup bersama dengan
siapapun dan kapanpun, hal itu tak akan menebarkan sukacita sejati kalau dia
tidak mampu menghayati kebahagiaan dalam kesendirian bercengkerama dengan
relung kalbunya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati
orang akan mampu membahagiakan banyak orang lain karena landasan kemampuan
bahagia dalam kesendirian.
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mateus 17:1-9
Sekali
peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan
bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Lalu Yesus
berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari,
dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak
kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus
kepada Yesus, "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, mengalami penampakan kemuliaan IlahiMu
merupakan saat istimewa bagi Petrus hingga ia berkata penuh yakin,
"Tuhan, alangkah bahagianya kami berada di sini." Lalu terdengarlah
suara Allah Bapa dari balik awan, "Dengarkanlah Dia!" Suara itu
merupakan pesan penting tertuju kepada para murid dan juga padaku.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, hati yang mendengarkan adalah hati yang hangat karena kasih Allah dan diajar oleh SabdaNya. Seseorang yang kudengarkan
adalah Dikau, Putra Allah yang terkasih yang menampakkan kemuliaan dalam
kemanusiaanMu.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, Adorasi Ekaristi Abadi adalah saat istimewa
bagiku untuk mendengarkan Dikau. Lebih Adorasi digambarkan sebagai saat
mendengarkan daripada berbicara. Di sana aku menghabiskan waktuku
menggemakan sabdaMu atau hanya mendengarkan desiran cinta dan damai
dalam doa. Bantulah aku mendengarkan Dikau dengan penuh cinta kini dan
selamanya. Amin.
Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.
diambil dari http://www.mirifica.net by
A. Giantoon Jendela Alkitab, Mingguan
Penampakan Kemuliaan Yesus
SECARA khusus disebutkan pada Injil Minggu kali ini
(Mat 17:1-9) bahwa “enam hari kemudian” Yesus mengajak Petrus, Yakobus
dan Yohanes naik ke sebuah gunung. Yang dimaksud ialah enam hari setelah
peristiwa pernyataan Petrus bahwa Yesus itu Mesias serta pemberitahuan
Yesus akan. Di atas gunung ketiga murid tadi melihat Yesus wajah Yesus
bercahaya bagaikan matahari dan jubahnya kini putih berkilauan. Juga
tampak Musa dan Elia yang berbicara dengan Yesus. Melihat ini semua,
Petrus ingin memasang tiga kemah bagi ketiga tokoh tadi. Tidak
disebutkan bagaimana tanggapan Yesus. Sementara itu ada awan datang
menaungi ketiga tokoh tadi dan terdengar suara dari sana, “Inilah
anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku berkenan, dengarkanlah dia!”
Mendengar suara itu pun murid-murid tersungkur ketakutan, tetapi Yesus
mendekat dan menyentuh mereka sambil berkata “Berdirilah, jangan takut!”
Ketika mereka memandangi sekeliling, hanya tampak Yesus seorang diri.
Kemudian mereka turun gunung dan Yesus melarang mereka menceritakan yang
mereka lihat sebelum anak manusia bangkit dari mati”. Inilah yang
membuat mereka bertanya-tanya.
Enam Hari
Matius (seperti halnya Markus dalam Mrk 9:29) mencatat, peristiwa
penampakan kemuliaan Yesus di gunung ini terjadi “enam hari kemudian”.
Maksudnya, enam hari penuh setelah Petrus menyatakan bahwa Yesus itu
Mesias dan Yesus memberitahukan prospek salib dan kematian serta
kebangkitan. Dengan kata lain, penampakan kemuliaan di gunung itu
sendiri terjadi pada hari ketujuh. Pembaca akan ingat, pada hari ketujuh
sang Pencipta beristirahat setelah menyelesaikan enam hari penciptaan
(Kej 1:31-2:2). Juga pembaca akan ingat bahwa Musa menunggu di puncak
Sinai enam hari sebelum melihat kemuliaan ilahi pada hari ketujuh. (Kel
24:16).
Enam hari penuh tadi mematangkan isi pernyataan Petrus bahwa Yesus
itu Mesias. Begitu pula enam hari tadi mematangkan penegasan Yesus akan
penderitaannya nanti. Memang para murid belum menangkap arti penegasan
itu. Tetapi bagi Yesus, arah itu kini sudah matang dan ia menerimanya
dengan tulus. Ia sadar, penderitaannya itu titian menuju ke
kemuliaannya, penderitaannya itu jalan menjadi orang yang amat dekat
dengan Yang Maha Kuasa dan menjadi orang yang pantas didengarkan. Dan
inilah yang diingat ketiga murid tadi dan dikisahkan ke generasi
selanjutnya, juga kepada kita hari ini. Tenggang waktu enam hari penuh
itu cara mengungkapkan persiapan yang sungguh-sungguh bagi sebuah
kejadian penting. (Luk 9:28 menyebut “kira-kira delapan hari” karena
hari sebelum dan sesudah tenggang waktu enam hari yang ditulis Markus
tadi ikut dihitung.)
Wajahnya Bagaikan Matahari Dan Jubahnya Putih Berkilauan
Matius menyebutkan dalam peristiwa di gunung in wajah Yesus berubah
menjadi bercahaya bagaikan matahari dan jubahnya menjadi putih
berkilauan. Matahari sifatnya cerah, bahkan menyilaukan. Tetapi sinarnya
memancar bagi siapa saja yang mau menerimanya. Kiranya hendak dikatakan
bahwa pada saat-saat itu ketiga murid yang diajak naik ke gunung sempat
mengalami kebesaran Yesus yang memang menyilaukan pandangan, tetapi
kebesarannya dapat dirasakan semua orang. Dapat diterima tapi juga dapat
dijauhi. Juga pakaian putih yang berkilauan ada artinya. Pakaian
menampakkan sosok orang yang mengenakannya. Begitulah Yesus kini tampak
memancarkan cahaya. Tak ada kegelapan dalam sosoknya. Siapa yang
mengikuti akan menemukan terang.
Musa dan Elia
Dalam penampakan kemuliaan tadi tampil pula Musa dan Elia. Bagi orang
Yahudi kedua-duanya ialah tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama yang juga
pernah mengalami penampakan kebesaran ilahi secara khusus. Musa
mengalaminya di puncak gunung Sinai ketika menerima Taurat (Kel
19:16-19). Kejadian itu diiringi awan tebal, guruh, dan halilintar yang
menakutkan. Amat berbeda penampakan kepada Elia di gunung Horeb (1Raj
19:11-13). Di situ Allah justru menampakkan diri dalam suasana tenang,
disertai hembusan angin sepoi-sepoi. yang Maha Kuasa dapat menampakkan
kemuliaan-Nya dalam cara yang menggentarkan, tapi juga bisa dengan cara
yang lembut. Kini kedua tokoh itu mengalami penampakan dengan cara lain
lagi. Tetapi mereka tak merasa asing dengan kehadiran ilahi yang baru
ini. Disebutkan bahwa mereka “berbicara” dengan Yesus yang menampakkan
kemuliaannya. Penampakan ilahi yang sejati bisa diakrabi, diwacanakan,
bukan hanya mengejutkan, bukan kejadian yang menggugah sensasi dan
keingintahuan belaka.
Peristiwa di gunung ini disampaikan sesudah pernyataan Yesus yang
pertama kalinya bahwa anak manusia, yakni dirinya, akan dimusuhi
orang-orang di Yerusalem, menderita, dibunuh, tapi akan dibangkitkan
pada hari ketiga. Pernyataan itu sendiri langsung mengikuti penegasan
Petrus bahwa Yesus itu Mesias. Urutan yang sama terlihat dalam Injil
Markus, Matius dan Lukas: pengakuan Petrus – pemberitaan pertama
sengsara – penampakan kemuliaan. Pembaca boleh menyimpulkan bahwa Yesus
didukung oleh Musa dan Elia, dua orang terpercaya yang sungguh mengenal
kehadiran ilahi di dunia ini.
Lukas mengolah lebih jauh kehadiran kedua tokoh Perjanjian Lama tadi
dengan mengatakan bahwa mereka berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan
perjalanannya” (Luk 9:31). Memang Yesus ketika itu sedang berjalan
menuju ke Yerusalem, tempat kemuliaan-Nya nanti terwujud sepenuhnya.
Kata yang dipakai bagi “tujuan perjalanan” itu ialah “exodos”, sama
dengan yang dipakai untuk mengatakan keluaran dari perbudakan di Mesir
dulu. Tujuan perjalanan yang berakhir di Yerusalem nanti itulah yang
bakal menjadi “keluaran” baru bagi kemanusiaan. Inilah jalan yang sedang
ditempuh Yesus untuk membawa keluar kemanusiaan dari perbudakan yang
mengurangi martabatnya.
“KepadaNya Aku Berkenan”
Suara dari surga yang terdengar ketiga murid tadi diutarakan kembali
oleh Matius sebagai “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku
berkenan, dengarkanlah dia!” (Mat 17:5). Baiklah sekedar ditengok
perspektif dari kedua Injil lain, yakni Markus dan Lukas. Markus
mengutarakan peristiwa yang sama sebagai “Inilah anak-Ku yang terkasih,
dengarkanlah dia!” (Mrk 9:7). Markus memang
menjadi bahan dasar Matius (juga bagi Lukas). Matius mengolah bahan ini
dengan menambahkan “kepadanya Aku berkenan” sehingga jelas bahwa Yesus
sungguh mendapat restu serta kuasa dari Yang Maha Kuasa untuk
menghadirkan-Nya. Jadi Yesus bukan hanya sekadar orang suruhan. Dalam
dirinya kini tampil Sang Maha Kuasa sendiri. Alih-alih “Inilah anak-Ku
yang terkasih” dari Markus (yang juga ada dalam Matius), pada Injil
Lukas didapati “Inilah anak-Ku yang Kupilih…” (Luk 9:35). Lukas kiranya
menegaskan bahwa Yesus inilah orang yang dipilih untuk membawakan wajah
sang ilahi sendiri. Memang dalam pandangan orang Yahudi waktu itu, “Anak
yang terkasih” menghadirkan Bapa-Nya. Begitulah menjadi jelas Injil
Matius dan Lukas menyoroti dan meluaskan warta Markus. Bagaimanapun juga
ketiga-tiganya memuat “dengarkanlah dia!” (Mrk 9:7). Ada ajakan untuk
mendengarkan dia yang menurut Matius telah mendapat perkenan Yang
Mahakuasa dan menurut Lukas adalah orang pilihan-Nya sendiri.
Dari pembicaraan di atas jelas bahwa yang disampaikan dalam Injil
bukanlah semata-mata suara yang dapat direkam dan diputar kembali begitu
saja. Kata-kata itu mengungkapkan pengalaman batin yang terolah, baik
oleh para murid yang diajak Yesus tadi maupun oleh komunitas (bukan
orang perorangan) yang mendalaminya seperti komunitas Markus, komunitas
Matius, dan juga komunitas Lukas. Inilah kenyataan betapa sabda ilahi
itu hidup. Tidak berhenti sebagai suara belaka, melainkan
mengikutsertakan pengertian serta pengalaman orang-orang yang
mendengarnya.
“…Jangan Takut!”
Baiklah kini disimak kekhususan Matius. Menurut Matius murid-murid
tersungkur ketakutan ketika mendengar suara itu (Mat 17:6). Tetapi Yesus
kemudian menyentuh mereka sambil menyuruh mereka berdiri dan jangan
takut. Kata-kata menyuruh agar jangan takut biasanya hanya diucapkan
oleh tokoh yang amat besar kuasanya, sedemikian besarnya sehingga dapat
dikatakan bahwa Allah sendiri ada padanya. Inilah cara Matius
menyampaikan kepada pembacanya bahwa Yesus ialah orang yang disertai
Allah sepenuhnya, yang mendapat perkenan-Nya. Para pembaca dapat pula
memanfaatkan pendalaman Matius ini.
Sebuah amatan lagi. Ketika tersungkur, posisi badan para murid
tentunya menelungkup dengan muka mereka di tanah. Tetapi kemudian mereka
disuruh berdiri. Nah, gerakan dari menelungkup ke arah posisi berdiri
itu mau tak mau membuat mereka bertopang pada kedua hasta dan lutut.
Bila dibayangkan, inilah sikap tubuh bersujud menurut kebiasaan orang
Yahudi di hadapan tokoh yang amat dihormati. (Bandingkan dengan gambaran
serupa dalam Dan 10:9-10.) Matius kiranya hendak mengatakan, Yesus
sendiri kini mengajar para murid agar mengubah rasa tergetar menjadi
sikap bersujud tanpa takut-takut! Sekali lagi, pembaca Injil Markus
dapat pula mengambil manfaat dari olahan Matius tadi.
Penglihatan di gunung ini hanyalah dialami oleh tiga orang murid
saja, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka dipesan oleh Yesus agar
jangan menceritakan kepada siapapun sebelum Anak Manusia dibangkitkan
dari antara orang mati (Mat 9:10). Akan tetapi sekarang kita semua
mendengarnya. Memang ini terjadi setelah Yesus telah dibangkitkan dari
mati. Setelah Paskah.
Memang tadinya para murid yang terdekat pun – Petrus, Yakobus, dan
Yohanes – belum seutuhnya menyadari pengalaman mereka sendiri. Mereka
butuh waktu untuk menggarapnya dan mengendapkannya. Karena itulah
dipesan agar tidak mengobral pengalaman yang belum utuh terolah. Perkara
yang dipersaksikan perlu terjadi lebih dahulu. Yesus masih harus
menanggung salib sampai wafat dan mencapai kebangkitan. Baru setelah itu
mereka boleh membicarakan kepada orang banyak bahwa memang dia itu
patut didengarkan. Inilah maksud larangan membicarakan yang mereka lihat
tadi. Para pembaca Injil boleh merasa beruntung dapat menikmati buah
pengalaman yang telah matang tadi.
Salam hangat, Kredit Foto: https://www.google.com/url?
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 14:1-12
Sekali
peristiwa sampailah berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.
Maka ia berkata kepada pegawai-pegawainya, "Inilah Yohanes Pembaptis. Ia
sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa
itu bekerja di dalam-Nya."
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, Yohanes Pembaptis diutus untuk mempersiapkan
jalan bagiMu. Ia adalah saksi kekudusan Allah. Ia mencoba menyadarkan
kepekaan akan dosa dan kebutuhan untuk bertobat.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, suara Yohanes kepada Herodes sesungguhnya
merupakan peringatan yang jelas tentang yang benar dan salah yang
merupakan karya kerahiman Allah. Terima kasih telah mengingatkan
kesadaranku untuk mengubah hidupku.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku belajar
mencari dan melatih pertobatan hati. Terima kasih telah menyinari
kesadaranku dengan InjilMu. Bantulah aku melatih kesadaranku untuk
selalu berbuat baik, kini dan selamanya. Amin.
Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.
14:1. Pada masa itu sampailah berita-berita tentang
Yesus kepada Herodes, raja wilayah.
14:2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah
Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya
kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.”
14:3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap
Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa
Herodias, isteri Filipus saudaranya.
14:4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak
halal engkau mengambil Herodias!”
14:5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan
orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.
14:6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah
anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,
14:7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan
kepadanya apa saja yang dimintanya.
14:8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan
itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.”
14:9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya ocialena
tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.
14:10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara
14:11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah
talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.
14:12 Kemudian
datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya.
Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, orang dapat
mengadakan pesta pada saat hari khusus untuknya seperti ulang tahun atau
perkawinan. Di situ dia sungguh dapat menjadi pusat perhatian yang dielukan
oleh tamu undangan dan orang-orang dekat.
Tampaknya, karena menjadi
orang terpenting dalam pesta untuknya banyak orang dapat memberikan sumbangan
baik harta maupun hiburan. Karena begitu menjadi pusat perhatian orang dapat
melayani permintaan yang menyenangkannya.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, segembira apapun
dan semurah hati apapun seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian sehingga
segala ungkapan omongan akan tidak menyenangkan pun akan ditolerir oleh orang
lain, dia akan akan tetap menjaga diri dalam berbicara karena dalam suasana
yang amat menyenangkan orang dapat kehilangan kewaspaan sehingga dapat
terperosok dalam jerat kepentingan jahat orang lain. Dalam yang ilahi karena
kemesraannya dengan gema relung hati terhadap orang yang paling dikasihi dan
selalu menggembirakan pun orang akan tetap tegas menolak permintaan yang amat
bertentangan dengan kebaikan dan kebenaran serta kemaslahatan umum.
Ah, bagaimanapun juga orang
harus mengutamakan orang yang selalu menyenangkannya.
Rasa
kedinginan yang terjadi pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu
masalah kesehatan yang utama pada lansia. Rasa kedinginan ini dapat
disebabkan karena temperatur tubuh yang mencapai atau kurang dari 35
derajat (0) C dan keadaan ini disebut sebagai hipotermia, sedangkan
temperatur tubuh yang normal pada lansia berkisar antara 36,5 sampai
37,2 0 C.
Keadaan ini dapat diketahui dengan meraba tubuh
penderita dan terasa dingin atau yang lebih tepat lagi dengan memakai
alat termometer berskala rendah. Cara lain untuk mengetahui adanya
hipotermia ini yaitu dengan mengukur suhu air seni yang baru saja
dikeluarkan.
Bahaya dari hipotermia ini yaitu menyebabkan
meningkatnya risiko untuk mendapat penyakit dan kematian pada lansia,
khususnya pada mereka yang berusia 75 tahun ke atas, yang disebut
sebagai golongan lansia tua.
Dari penelitian menunjukkan bahwa
lansia yang mengalami kekurangan gizi seringkali menderita hipotermia,
sedangkan lansia dengan gizi yang baik menunjukkan temperatur tubuh yang
normal. Oleh karena itu, dianggap bahwa kekurangan gizi menyebabkan
gangguan pada pembentukan dan penahanan panas dalam tubuh yang
menyebabkan terjadinya hipotermia.
Selain daripada itu,
penyakit-penyakit tertentu seperti penyakit kencing manis (diabetes
melitus) mempunyai risiko enam kali lebih tinggi untuk mengalami
hipotermia, juga yang dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme
pengaturan suhu pada hipotalamus di otak.
Pengaturan Suhu Tubuh
Pada
pengaturan suhu tubuh, hipotalamus di otak bekerja sebagai suatu
termostat, yaitu mengatur suhu tertentu dari tubuh, yang kemudian
terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Pada suhu tubuh
yang rendah, untuk mengatasi agar suhu tidak turun lebih rendah lagi
maka terjadi mekanisme pengaturan suhu tubuh berupa tegaknya
rambut-rambut pada kulit, mengecilnya pembuluh-pembuluh darah pada
kulit, menggigil atau perasaan dingin yang menyebabkan orang tersebut
mengenakan baju lebih tebal dengan akibat meningkatnya suhu tubuh.
Sebaliknya,
pada suhu tubuh yang tinggi, maka untuk mengeluarkan sebahagian panas
dari tubuh sehingga suhu tubuh menurun kembali maka pembuluh darah kulit
melebar, berkeringat dan membuka baju.
Penyebab
Gangguan
pengaturan suhu pada lansia berupa keterbatasan fungsi mekanisme
pengaturan suhu dari hipotalamus sehubungan dengan proses menua,
mengakibatkan lansia kurang mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan
suhu lingkungannya. Hal inilah yang menyebabkan lansia dapat mengalami
kepanasan (hipertermia) maupun kedinginan.
Secara umum, beberapa
faktor yang berperan untuk terjadinya hipotermia adalah lingkungan yang
dingin, gangguan pada hipotalamus yang berkaitan dengan bertambahnya
usia, obat-obatan, dan penyakit-penyakit yang menyebabkan berkurangnya
pembentukan panas atau meningkatnya pembuangan panas, ataupun yang
mengganggu fungsi hipotalamus.
Sejumlah penyakit dan obat-obatan
dapat mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh, seperti pada keadaan
berkurangnya kadar gula darah dibandingkan normal (hipoglikemia),
penyakit-penyakit yang menyebabkan lansia tidak mampu atau sangat
terbatas aktivitas fisiknya, seperti penyakit Parkinson, kelumpuhan,
penyakit sendi, demensia dapat menyebabkan berkurangnya pembentukan
panas yang meningkatkan risiko terjadinya hipotermia.
Meningkatnya
pembuangan panas tubuh dapat terjadi pada infeksi kulit, minum alkohol,
berkurangnya lapisan lemak di bawah kulit yang berfungsi sebagai
penahan keluarnya panas dari tubuh.
Gejala-gejala
Gejala-gejala
awal biasanya ringan dan tidak jelas, dapat berupa rasa lelah, lemah,
langkah yang melambat, bicara pelo, tidak peduli lingkungan sekitarnya
(apatis), kacau pikiran, menggigil, kulit yang dingin dan merasa dingin.
Pada keadaan yang berat didapati infeksi paru (pneumonia) serta
menurunnya tekanan darah, yang dapat menyebabkan kematian.
Pencegahan Dan Pengobatan
Pencegahan
terhadap keadaan hipotermia ini lebih penting daripada pengobatannya.
Lansia dengan adanya risiko untuk mengalami hipotermia hendaknya menjaga
agar suhu di ruangan melebihi 20 0C dan mempunyai termometer untuk
menentukan suhu ruangan tempat ia berada, yang mana mereka dapat
memeriksanya setiap saat diperlukan, terutama di saat cuaca yang sangat
dingin. Selain daripada itu, penderita memakai selimut tebal.
Latihan
fisik yang berkala (teratur) dapat meningkatkan pembentukan panas, dan
jumlah kalori dari makanan/minuman yang masuk ke dalam tubuh yang
memadai harus diperhatikan. Obat-obatan yang dapat mengganggu fungsi
hipotalamus di dalam tubuh harus dihindari agar pengaturan suhu tubuh
dapat berjalan dengan baik.
Jika keadaan hipotermia sedang
terjadi, hendaknya ini harus dianggap sebagai keadaan yang serius, dan
sebaiknya lansia tersebut dirawat di rumah sakit DI ruangan intensif.
Pengobatan untuk hipotermia dapat berupa pengobatan primer yaitu
menghangatkan kembali tubuh dan pengobatan sekunder untuk mengatasi
komplikasi yang terjadi akibat hipotermia, misalnya pneumonia dengan
pemberian antibiotika dan obat-obat lainnya.
Lansia dengan
hipotermia jika tubuhnya dihangatkan dengan aktif dan cepat seringkali
menyebabkan keadaan lansia tersebut bertambah buruk kesehatannya, karena
dapat berakibat menurunnya tekanan darah dan berkurangnya aliran darah
ke otot-otot jantung. Oleh karena itu, dianjurkan pada lansia yang
mengalami hipotermia penghangatan tubuhnya secara lambat.
Semua
upaya harus dilaksanakan untuk mendeteksi dan mengobati setiap kelainan
organ tubuh yang didapati, misalnya adanya infeksi, kadar gula darah
yang rendah, berkurangnya fungsi kelenjar gondok/hipotiroidisme
Untuk lebih jelasnya, sebaiknya para lansia yang sering merasa kedinginan dapat berkonsultasi kepada kami.
13:54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar
orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari
mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
13:55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah
ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
13:56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan
semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”
13:57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus
berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat
asalnya sendiri dan di rumahnya.”
13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak
mujizat diadakan-Nya di situ.
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, orang dapat
mendapatkan penghargaan karena titel kelulusan dan jabatan. Dia dapat dipanggil
di banyak tempat untuk didengarkan kata-kata pengajarannya.
Tampaknya, orang juga bisa
mendapatkan penghargaan karena menjadi anak keturunan orang terpandang. Dia
dapat diangkat untuk menduduki jabatan terhormat.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sebanyak dan
setinggi apapun title kelulusan perguruan tinggi dan seterhormat apapun
kedudukan sosial orang tua atau yang menurunkan, itu semua tidak menjamin
seseorang memiliki harga sejati yang sesungguhnya tergantung pada ketaatan pada
aura nurani yang terungkap dalam kata-katanya dan terwujud dalam tindakannya.
Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tidak akan
menyesal mengalami penolakan dari orang lain karena kesetiaannya pada kedalaman
nurani.
Ah, baik apapun kalau ditolak
banyak orang ya celaka dong.