Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, August 7, 2017

Menikmati Kehadiran Allah

diambil dari email group Unio-kas 7 Agustus 2017

Selasa, 08 Agustus 2017
Pekan Biasa XVIII
PW S. Dominikus, Imam
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 14:22-36

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:22-23)

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau menyuruh orang banyak pulang dan Engkai sendiri naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Engkau meninggalkan kenyamanan bersama orang lain dan bersatu hanya bersama Allah.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, berada dalam keheningan tanpa sesama bisa membuat orang mengalami kesendirian dan kekosongan. Semoga adorasiku membawaku melangkah dari zona nyaman.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, derita karena keheningan dapat berubah menjadi sukacita dan damai. Bantulah aku tinggal bersamaMu dan Allah dan belajar menikmati kehadiranMu dalam Adorasi Ekaristi Abadi kini dan selamanya. Amin.

Kerkof Muntilan, 7/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Dominikus, Imam
Selasa, 8 Agustus 2017

Matius 14:22-36

14:22. Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
14:23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.
14:24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
14:25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.
14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.
14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
14:34. Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.
14:35 Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.
14:36 Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, untuk menjadi benar, baik, dan luhur orang biasa mengkaitkannya dengan kehidupan beragama. Kalau tertib menjalani tata aturan keagamaan orang dapat memandang diri sudah benar, baik, dan luhur.
  • Tampaknya, dengan tertib beragama seperti itu orang dapat yakin akan selalu mendapatkan kebahagiaan. Dia akan selalu mudah terhindar dari segala mara bahaya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang menyandarkan hidup pada kedalaman batin, untuk mengalami damai sejahtera sejati sebenarnya orang tidak hanya selalu bergelut dengan hidup keagamaan bahkan tekun menjalani laku tapa dan matiraga, karena dengan memiliki kebiasaan bersentuhan saja dengan yang bertahta dalam nurani orang terjamin menemukan ketenangan hidup yang menghadirkan kesegaran jiwa dan raga. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan yakin bahwa sentuhan kecil saja dengan Tuhan dalam hati hal ini sudah menjamin kesegaran jiwa raga.
Ah, yang namanya bahaya memang selalu akan menakutkan.

Sunday, August 6, 2017

Domus Juga Kena AYD7


Sebetulnya sudah sejak Sabtu 5 Agustus 2017 Rm. Rio tampak resah karena ingin ikut Misa Penutup Asian Youth Day ke 7 (AYD7) di Pangkalan AURI Adisucipta pada Minggu 6 Agustus 2017. Untung saja, katanya, Rm. Mulyatno dari Baciro mengajak Rm. Rio dengan didampingi oleh Mas Winarto, salah satu pramurukti di Domus Pacis. Lain halnya dengan Rm. Agoeng. Rm. Agoeng sebenarnya memiliki tugas sebagai ketua Komsos KAS yang menjadi petugas utama meliput kegiatan-kegiatan AYD7 sejak tanggal 30 juli 2017 hingga Minggu 6 Agustus 2017. Akan tetapi karena sudah bersedia mengisi Novena Domus pada Minggu itu, beliau hadir menjadi pembicara untuk Novena Domus sebagai program untuk kaum tua dan lansia. Ketika pada hari itu ada 69 orang pendaftar berpamitan karena ikut Misa di Adisucipta, Rm. Agoeng berkata di hadapan 320an peserta "Sebenarnya Rm. Bambang juga sudah datang di AYD7 sebagai pembicara di hadapan lebih dari 2500 orang kaum peserta dari 22 negara. Sebenarnya yang secara resmi jadi pembicara adalah seorang uskup. Pada waktu itu pembicara resmi adalah Mgr. Pius Riana Prapdi. Tetapi secara praktis yang banyak tampil berbicara adalah Rm. Bambang yang hadir sebagai tim kerja uskup".

Pada hari Kamis 3 Agustus 2017 Rm. Bambang memang diminta oleh Panitia AYD7 dan Mgr. Riana untuk berbicara tentang Barnabas Sarikrama. Ketika berada di panggung, Mgr. Riana duduk di tengah dan Rm. Graha di kiri beliau untuk membantu Rm. Bambang dalam pembicaraan dalam bahasa Inggris. Kehadiran Rm. Bambang didampingi oleh Mas Handoko dan Bu Rini, dua relawan Domus Pacis. Mas Handoko menyopiri mobil dan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Rm. Bambang. Sedang Bu Rini membawa perlengkapan dan kebutuhan Rm. Bambang yang lain. "Kalau wau wonten ingkang taken menapa wonten teks ingkang dipun omongaken. Menika dados pratandha menawi pembicaraan kala wau menarik" (Tadi ada yang bertanya apa tersedia naskah yang dibicarakan. Bukankah ini jadi tanda bahwa pembicara tadi menarik) kata Rm. Banu yang menjadi salah satu anggota panitia. "Kalau wau nggih onten sing taken?" (Apakah tadi ada yang bertanya?) tanya Rm. Harto pada waktu makan malam hari itu yang langsung dijawab oleh Rm. Bambang "Kathah. Yen mboten dipedhot tesih sawetawis ingkang antri" (Ada banyak. Kalau tidak dihentikan masih ada beberapa yang antri untuk bertanya).

Rm. Tri Hartono Ngandika (7-8-2017)


Tuhan Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan kepada orang banyak lalu menyembuhkan mereka dari segala macam penyakit dan memberi makan mereka dengan menggandakan lima roti dan dua ikan.

Kamu kaum tua dan atau sakit-sakitan adalah kelompok tidak berdaya. Meskipun demikian berkat belas kasihan Tuhan dan kebijakan sesama, kami tidak kurang sesuatunya. Puji syukur Tuhan Yesus dan terima kasih sahabat. Berkah Dalem.

Mengandalkan Yesus, Berkat Berlimpah

diambil dari email group Unio-kas 6 Agustus 2017

Senin, 07 Agustus 2017
Pekan Biasa XVIII
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mat 14:13-21

Sambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat; dibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid. Lalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan sampai dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu orang pria, tidak termasuk wanita dan anak-anak.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, Engkau menyuruh para rasul memberi makan ribuan orang. Bagaimana mungkin mereka dapat memberi makan 5000 orang pria belum termasuk para wanita dan anak-anak sementara mereka hanya punya lima roti dan dua ikan?

Tuhan Yesus Kristus terkasih, begitu sering aku terlalu berpusat pada cara kecil yang dapat kubuat. Aku tak melihat di balik kelemahanku bahwa Engkau selalu bersamaku. Hal yang mustahil bagiku sangatlah mungkin bagiMu.

Tuhan Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku bersembah sujud padaMu yang mampu melakukan hal-hal besar bagiku juga jika aku membiarkan Dikau melakukan yang terbaik dalam hidupku. Aku mengasihiMu. Perkembangkanlah imanku kini dan selamanya. Amin.

Girlan Ungaran, 6/8/2017

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan Biasa XVIII

Senin,7 Agustus 2017

Matius 14:13-21

14:13. Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.
14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”
14:16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”
14:17 Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.”
14:18 Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”
14:19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
14:20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
14:21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, untuk membantu kehidupan yang berkekurangan orang memang membutuhkan donator. Apalagi untuk para penggerak sosial yang memperjuangkan kaum lemah, hadirnya donator-donator sangat diharapkan.
  • Tampaknya, gambaran umum tentang donator bagi yang lemah dan berkekurangan adalah yang kaya syukur berkelimpahan. Dalam hal ini memang ada gambaran bahwa yang miskin tak dapat diandalkan untuk membantu mereka yang berkekurangan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kaya dan berkelimpahan dengan harta benda, itu tidak menjamin seseorang menjadi donator sejati yang datang karena sikap ikhlas berbagi sehingga orang dengan kekurangannya tak perlu menunggu menjadi kaya untuk dapat ikut menjadi andalan sumber terpenuhinya kebutuhan umum kaum berkekurangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa kebutuhan umum kaum berkekurangan akan terpenuhi sendiri karena adanya semangat berbagi satu sama lain.
Ah, mana bisa orang miskin jadi donator?

Saturday, August 5, 2017

Ketuaan Adalah Kesiagaan Jadi Sendiri



"Saya juga mempunyai ibu yang sudah tua. Dia ada bersama dengan adik saya. Hati saya sering merasa bahwa saya belum membalas jasa ibu saya yang membesarkan saya. Saya kerap merasa inggiiiiin sekali berbuat sesuatu untuk ibu" kata seorang ibu muda mensharingkan pengalamannya. Rm. Bambang bertanya "Apakah tidak terpikir mengajak ibu menjadi serumah dengan Anda?" yang dijawab "Sudah, rama. Tetapi baru beberapa hari beliu sudah minta kembali ke keluarga adik". Ketika Rm. Bambang kembali bertanya "Lho, kok mung sedhelet?" (Kena apa hanya sebentar), ibu itu menjawab "Ribut terus dengan saya karena selalu membuat jengkel" dan banyak orang yang berkunjung di Domus Pacis hari Minggu 30 Juli 2017 itu tertawa. Ini adalah acara wawan hati umat Wilayah 3 dan 4 Paroki Medari dengan para rama Domus Pacis.

Wawan hati itu dibuka oleh Rm. Bambang dengan pertanyaan "Bagaimana sebaiknya: Orang sudah sudah masuk dalam usia lanjut berada bersama anak/cucu atau masuk di rumah tua?" Sebelum pertanyaan dilontarkan, Rm. Bambang mengetengahkan kisah suami-istri yang mengkhawatirkan dirinya kelak bila sudah usia lanjut. Anaknya sudah meninggalkan rumah hidup bekerja dan bersama keluarganya. Suami istri itu  sungguh amat khawatir akan masa depannya karena tampaknya sang menantu tak dapat cocok dengan mertua. "Apakah kami harus masuk panti wreda? Kan memalukan?" Sharing ibu muda pada permulaan tulisan ini ternyata menjadi hal senada yang dialami oleh beberapa peserta lain yang menyampaikan sharing. Bahkan seorang ibu yang sudah masuk lansia juga berceritera tentang anak-anaknya yang selalu melarang ini dan itu. Seorang bapak tua berkata "Untuk saya, masuk rumah tua adalah pilihan terakhir" dan diamini oleh kebanyakan peserta.

Sesudah itu Rm. Bambang meminta para rama Domus menyampaikan sharingnya. Yang memberikan sharing adalah Rm. Tri Hartono, Rm. Harto, Rm. Gito, Rm. Yadi, dan Rm. Rio. Rm. Tri Hartono dan Rm. Harto menyampaikan rasa senang berada di Domus Pacis. Rm. Yadi berbicara tentang "Ada senang dan tak senangnya". Pengalaman Rm. Yadi terutama dikaitkan dengan urusan makan sehari-hari sebelum dan sesudah ada relawan-relawati yang menopang konsumsi Domus. Rm. Gito dalam kisahnya lebih diwarnai oleh kondisi yang sudah tak dapat berfungsi seperti sebelum di Domus. Sedang Rm. Rio mengatakan bahwa di Domus beliau hanya sementara. Rm. Rio ingin bekerja di tengah umt seperti sebelum berada di Domus. Di tahap akhir Rm. Bambang memberikan input bahwa seseorang semakin tua bagaimanapun juga harus semakin siap untuk BERADA DALAM KESENDIRIAN. Baik berada di tengah anak-cucu maupun di rumah tua, orang akan banyak ada dalam kesendirian. Sekalipun berada bersama anak-cucu, bagaimanapun mereka amat diwarnai oleh keadaan zaman yang menuntut mereka berada dalam kesibukan-kesibukannya. Kalau berada di rumah tua, kebersamaan dengan penghuni dan karyawan hanya terjadi pada saat-saat tertentu seperti dalam makan bersama. Kemudian Rm. Bambang mensharingkan pengalamannya dalam kesendirian. Dia belajar untuk menyenangi acara televisi dan radio. Menulis pun menjadi hal yang menjadi perjuangan untuk menjadi acara harian.