Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, February 3, 2019

Mulai Ada Pendaftar


Jadual Novena Domus 2019 untuk pertemuan pertama sudah diinformasikan. Untuk FB, WA, dan email serta blog, informasi bisa dilihat secara utuh termasuk jadual dari Maret hingga November dalam www.domuspacispuren.blogspot.com. Terhadap para koordinator kelompok Rm. Bambang mengirim SMS "Tema umum Novena Domus 2019 "JADI RASUL LANSIA DI KALANGAN LANSIA". Temu pertama Minggu 3 Maret dengan Rm. Edi, Vikjen KAS. Yok, mulai daftar." Semua informasi ini terjadi pada Jumat tanggal 1 Februari 2019. Terhadap informasi ini Bu Immaculata dari Kidul Loji bertanya lewat SMS "3 maret apa 3 februari?" Tentu saja Rm. Bambang menjawa "Maret". Banyak yang menanggapi dengan kata-kata yang hampir sama "Terima kasih infonya". Tetapi Bu Indah dari Sendowo, Paroki Kotabaru, menulis "Maaf Romo, blum bisa gabung, mau jagong manten". Tetapi dua hari kemudian Bu Indah menulis "Ralat Romo Bambang maaf slh baca. Kalo 3 Maret bisa ikut, kirain 3 Februari..hehehh,, dafr 4 njih Romo". Yang jelas untuk tiga hari ada 11 asal paroki yang mendaftar. Jumlah terdaftar hingga kini ada 119 orang. Matriks berikut memberikan data kelompok-kelompok paroki yang kerap ikut dan yang kini sudah ada pendaftarnya.
ASAL PESERTA
JUMLAH
RAYON KOTA KEVIKEPAN DIY
   68 ORANG
01.  Paroki Pringwulung
6 orang
02.  Paroki Kotabaru, Lingkungan Sendowo
4 orang
03.  Paroki Pringgolayan
26 orang
04.  Paroki Pugeran
10 orang
05.  Paroki Bintaran, Lingkungan Nicolas
21 orang
06.  Paroki Kidul Loji
1 orang
07.  Paroki Baciro`
 orang
RAYON SLEMAN KEVIKEPAN DIY
  10 ORANG
08.  Paroki Minomartani
 orang
09.  Paroki Banteng
 orang
10.  Paroki Babadan
4 orang
11.  Paroki Babarsari
 orang
12.  Paroki Medari
 orang
13.  Paroki Kalasan
 orang
14.  Paroki Mlati
4 orang
15.  Paroki Gamping
2 orang
RAYON BANTUL KEVIKEPAN DIY
     ORANG
16.  Paroki Bantul
  orang
17.  Paroki Ganjuran
 orang
KEVIKEPAN SURAKARTA
  41 ORANG
18.  Paroki Klaten
21 orang
19.  Paroki Gondang
20 orang
20.  Paroki Kebonarum
 orang
KEVIKEPAN KEDU
   ORANG
21.  Paroki Ignatius Magelang
 orang
22.  Paroki Muntilan
 orang
JUMLAH
119 orang

Santo Yohanes de Britto

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5461 Diterbitkan: 04 November 2014 Diperbaharui: 19 Agustus 2017

  • Perayaan
    4 Februari
  • Lahir
    1 Maret 1647
  • Kota asal
    Lisbon Portugal
  • Wilayah karya
    Tamil Nadu - India
  • Wafat
    Martir - Dipenggal pada tanggal 4 February 1693 di Oreiour, India
  • Venerasi
    29 September 1851 oleh Paus Pius IX (decree of martyrdom)
  • Beatifikasi
    21 Agustus 1853 oleh Paus Pius IX
  • Kanonisasi
    22 Juni 1947 oleh Paus Pius XII Sumber : Katakombe.Org

Santo Yohanes de Britto (João de Britto) lahir  di Lisbon Portugal pada tanggal 1 Maret 1647 dalam sebuah keluarga bangsawan Portugal yang sangat berpengaruh. Ayahnya, Salvador de Britto Pereira, meninggal saat menjabat sebagai Viceroy (Gubernur) Portugis di Brasil.
De Britto bergabung dengan biara Yesuit pada 1662, dan melanjutkan studinya di Universitas Coimbra. Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, ia diutus ke daerah misi di Madurai, India Selatan, (kini Tamil Nadu), pada tahun 1673 untuk berkotbah dan menyebarkan agama Kristen di wilayah tersebut. Misi ini biasa disebut dengan The Madurai Misision (Misi Madurai).
Misi Madurai adalah upaya yang cukup berani dari para Jesuit untuk mendirikan sebuah Gereja Katolik India yang bebas dari kultur budaya Eropa. Karena itu de Britto lalu belajar bahasa setempat, sedapat mungkin hidup sebagai Brahmana dan menyesuaikan penginjilannya dengan cara berpikir orang India. Hasilnya sangat menggembirakan; Rakyat berbondong-bondong minta dibaptis.
Semula penguasa setempat bersikap acuh terhadap karya missionaris para Jesuit. Sampai saat timbulnya keluhan dari keluarga kerajaan.  Ada seorang pangeran dari Marava yang mempunyai beberapa orang istri, minta dibaptis.  Yohanes de Britto meluluskan permintaan itu, namun memberi syarat agar sang pangeran bersedia hidup dengan hanya satu orang istri saja dan melepaskan isteri-isterinya yang lain. Pangeran itu bersedia. Tetapi salah seorang istrinya tidak menerima perceraiannya. Sang mantan istri, yang adalah kemenakan dari raja Sethupathi Marava, mengadukan perceraiannya kepada raja dan menunjuk pater de Britto sebagai biang keladinya.  Perceraiaan kemenakannya membuat raja menjadi sangat marah, bukan saja kepada Pater de Britto, melainkan juga kepada semua orang yang bertobat menjadi Kristen.
Maka mulailah pengejaran dan penganiayaan. De Britto ditangkap dan dijatuhi hukuman pancung di Oriur (India Selatan) atas tuduhan berusaha mengubah agama negara. Yohanes sempat menulis surat yang amat mengharukan bagi teman-teman misionaris pada malam menjelang wafatnya.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Biasa IV

Senin, 4 Februari 2019

Markus 5:1-20

5:1. Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.
5:2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.
5:3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,
5:4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.
5:5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.
5:6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,
5:7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!"
5:8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"
5:9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak."
5:10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.
5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,
5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"
5:13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.
5:14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.
5:15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.
5:16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.
5:17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.
5:18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.
5:19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
5:20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, orang Kristiani harus menjadi pewarta Injil. Semua mendapat perintah untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.
  • Katanya, orang Katolik harus menjadi misionaris. Setiap habis misa selalu diingatkan dengan kata-kata “Marilah kita pergi, kita diutus”.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ada kata-kata agama jadi misionaris ke seluruh dunia, itu bukan gerakan mengagamakan orang namun menghadirkan rasa bahagia karna pengalaman akan kasih ilahi di dunia yang kongkret kita pijak kini dan di sini. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu mengalami keceriaan batin yang terungkap dan terwujud dalam perilaku hariannya.
Ah, yang namanya misionaris itu yang tukang mengajar agama.

Percikan Nas Minggu, 03 Februari 2019

Hari Minggu Biasa IV
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yer. 1:4-5,17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; 1Kor. 12:31-13:13 (1Kor. 13:4-13); Luk. 4:21-30. BcO Rm. 11:25-36.

Nas Injil: 
21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." 22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" 23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" 24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Percikan Nas:
Selamat malam. Pasti semua sudah mengikuti ekaristi hari minggu ini. Apa kotbah Rama di misa tadi? Mari diingat-ingat dulu..... Mungkin banyak yang kotbah tentang ditolak. Ya memang ini tema yang paling aktual dari Injil hari ini. Saya tadi juga omong itu.
Saya ingin coba melihat ini. Elia, Elisa adalah utusan Tuhan. Mereka adalah nabi yang mesti memberitakan karya keselamatan Tuhan. Warta dan karya mereka akan berbuah kala orang mau menerimanya. Walau banyak janda di Israel namun yang dibantu Elia hanya janda dari Sarfat di Sidon. Walau banyak orang kusta di Israel yang ditahirkan hanya Naaman orang Siria. Allah bekerja pada mereka yang percaya dan menyambut-Nya.
Percaya memang menjadi kunci untuk bisa mendapatkan yang dimau, bahkan sering melebihi yang dimau. Menyambut Tuhan kiranya menjadi kunci mendapatkan rahmat juga. Ketika seseorang menyambut Tuhan ia akan mendapatkan kehangatan kasih Tuhan melebihi yang ia berikan. Semakin kita terbuka dan sering menyambut Tuhan semakin banyak rahmat yang kita terima.
Janda dari Sarfat dan Naaman dari Siria adalah orang-orang yang terberkati. Mereka tulus percaya pada rahmat kasih Tuhan. Maka marilah dengan penuh kepercayaan kita selalu hangat menyambut Tuhan dalam hidup kita.

Doa:
Ya Tuhan kami sangat berterima kasih atas kehadiran-Mu dalam hidup kami. Semoga sambutan kami hangat dan penuh kasih. Kami percaya Engkau pun bermurah hati pada kami. Amin.

Menyambut dengan percaya
(goeng).

Saturday, February 2, 2019

Godaan Menyingkirkan Orang Baik


Minggu, 3 Februari 2019
Refleksi berdasarkan Lukas 4:21-30

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Menghormati sesama, apalagi yang berkharisma dan dipilih sebagai "utusanNya" itu ternyata tidak mudah. Hal itu sudah terjadi sejak ribuan tahun silam!

Inilah contohnya sebagaimana dialami dan disebut oleh sosok bernama Yesus. Sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 4:21-30, sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak di rumah ibadat di kota asalnya. Mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. Namun lalu mereka bersikap negatif dan menolak Dia.

Maka berkatalah Yesus kepada mereka, "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: 
Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri! Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!" 

Yesus berkata lagi, "Aku berkata kepadamu: Sungguh, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel, ketika langit tertutup selama tiga tahun enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu." 

Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. 

Nah, Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Itulah yang terjadi ketika kita tidak bisa menghormati sesama yang dianugerahi kharisma tertentu sebagai utusanNya. Karena rasa iri, benci, dan prasangka buruk, kita lalu menutup hati terhadap kehadirannya.

Hal yang sama bisa juga terjadi di antara kita. Kita menolak dan mudah menyingkirkan bahkan menghina orang-orang baik dan berkharisma di masyarakat kita. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang demikian.

Mengapa tidak memilih orang baik dengan segala kharisma yang ada? Inilah salah satu inspirasi yang bisa kita timba dari kisah ini.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Wisma Nazareth Semarang, 3/2/2019 
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Lukas 4:21-30.

Santo Simeon

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3351 Diterbitkan: 12 Agustus 2013 Diperbaharui: 15 Desember 2016

  • Perayaan
    3 Februari - 15 Februari (Gereja Orthodox)
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  • Kota asal
    Yerusalem
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Simeon yang kudus hidup pada abad pertama. Dalam Injil Lukas dikisahkan bahwa Yosef dan Maria membawa Bayi Yesus ke Bait Allah di Yerusalem. Di sanalah mereka bertemu dengan Simeon. Orang kudus tersebut telah lama menunggu dengan sabar jawab atas permohonannya kepada Tuhan: ia ingin tetap hidup hingga melihat Sang Mesias, Juru Selamat dunia. Tetapi, ia tidak tahu seperti apakah Sang Mesias itu, atau bilakah dan apakah doanya akan dikabulkan.
Pasangan muda dari Nazaret itu menghampirinya bersama dengan bayi mereka. Simeon memandang mata Sang Bayi dan merasakan suatu gejolak sukacita memenuhi hatinya. Matanya bersinar-sinar. Ia menggendong Yesus dalam pelukannya sambil berdoa :
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa.”
Maria dan Yosef saling berpandang-pandangan. Mereka berdua amat takjub. Kemudian nabi tua itu berpaling kepada Maria. Sinar matanya menjadi sedih sementara ia berkata dengan lembut, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Maria tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, dan ia berdoa kepada Tuhan untuk memohon kekuatan. Simeon yang kudus telah dikabulkan doanya oleh Tuhan. Ia tetap dalam keadaan penuh syukur dan sukacita sementara pasangan muda serta Bayi mereka meninggalkannya.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Biasa IV

Minggu, 3 Februari 2019

Lukas 4:21-30

4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang selalu mencari selamat. Dia akan berhati-hati kalau ada kemungkinan yang mengancam.
  • Tampaknya, bila berhadapan dengan ancaman orang dapat ketakutan. Apalagi kalau ancaman itu membahayakan hidup, orang akan menghindarinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tidak memiliki kekuatan lebih untuk melawan para pengancam, orang bisa menunjukkan kewibawaan sejati justru dengan masuk ke tengah-tengah para pengancam dan pergi melewatinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu berani berhadapan dengan tantangan dan ancaman tanpa rasa dendam.
Ah, kalau punya kekuatan orang harus melawan orang lain yang mengancam.