Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, October 1, 2019

Lamunan Peringatan Wajib

Para Malaikat Pelindung
Rabu, 2 Oktober 2019

Matius 18:1-5.10

18:1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." 
18:10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, jaminan hidup biasa dikaitkan dengan harta dan kekayaan. Dengan harta dan kekayaan orang merasa aman terjamin.
  • Tampaknya, harta dan kekayaan dapat dianggap sebagai kekuatan untuk menjamin kebutuhan hidup kini dan masa depan. Sebagai orang kaya kedudukan sosial terhormat pun dapat diraih.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun merasa terjamin karena memiliki amat banyak harta dan kekayaan, orang belum tentu merasa aman dan terjamin dalam hidupnya kalau tidak menyadari bahwa memiliki pelindung ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang memiliki keyakinan bahwa dalam situasi dan kondisi apapun orang selalu ada dalam daya penjagaan surgawi.
Ah, jaman sekarang tak ada artinya omong tentang malaikat.

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 20303 Diterbitkan: 10 Agustus 2013 Diperbaharui: 28 November 2014
ilustrasi darikoleksi Blog Domus

  • Perayaan
    01 Oktober
  •  
  • Lahir
    02 Januari 1873
  •  
  • Kota asal
    Lisieux - Perancis
  •  
  • Wafat
    30 September 1897 | Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    9 April 1923 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
    17 Mei 1925 oleh Paus Pius XI Sumber : Katakombe.Org

Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon, Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Dia memiliki empat saudara perempuan yang lebih tua dan orang tuanya adalah Beato Louis Martin dan Beata Zelie Martin. Theresa seorang gadis yang sangat ceria, ia sangat dicintai ayahnya yang memanggilnya dengan sebutan "Ratu kecil."
Ketika Theresia masih kanak-kanak, ibunya meninggal dunia. Ayah Theresia lalu memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana kerabat mereka tinggal.  Disana terdapat sebuah biara Karmel di mana para suster berdoa secara khusus untuk kepentingan seluruh dunia.
Ketika Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya, Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi "ibunya yang kedua", merawatnya dan mengajarinya, serta melakukan semua hal seperti yang dilakukan ibumu untuk kamu. Theresia sangat kehilangan Pauline hingga ia sakit parah. Meskipun sudah satu bulan Theresia sakit, tak satu pun dokter yang dapat menemukan penyakitnya. Ayah Theresia dan keempat saudarinya berdoa memohon bantuan Tuhan. Hingga, suatu hari ia melihat patung Bunda Maria di kamarnya tersenyum padanya dan seketika ia sembuh  dari penyakitnya!
Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia ingin masuk biara Karmel agar ia dapat menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Tuhan. Tetapi saat itu ia terlalu muda. Jadi, ia berdoa dan menunggu. Ia bahkan berani meminta ijin langsung kepada Paus. Hingga akhirnya, ketika umurnya lima belas tahun, atas ijin khusus dari Paus Leo XIII, ia diijinkan masuk biara Karmelit di Liseux.
Dalam biara Theresia menjalani kehidupan sebagaimana layaknya seorang Rubiah Karmelit. Tidak ada yang terlalu istimewa. Tetapi, ia mempunyai suatu rahasia: CINTA. Suatu ketika Theresia mengatakan, "Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya." Jadi, Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, walaupun itu bukan hal yang selalu mudah.
Para suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan tangan. Suatu saat seorang suster tanpa sengaja selalu mencipratkan air kotor ke wajah Theresia. Tetapi Theresia tidak pernah menegur atau pun marah kepadanya. Theresia juga menawarkan diri untuk melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut dan banyak kali mengeluh karena sakitnya. Theresia berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai adalah pekerjaan yang membuat Theresia sangat bahagia.
Hanya sembilan tahun lamanya Theresia menjadi biarawati. Ia terserang penyakit tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit TBC.  Ketika ajal menjelang, Theresia memandang salib dan berbisik, "O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!" Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggal dunia ketika usianya masih duapuluh empat tahun. Sebelum wafat, Theresia berjanji  untuk tetap mencintai dan menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal Thresesia mengatakan, "Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia." Dan ia menepati janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang memohon bantuan St. Theresia untuk mendoakan mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban atas doa-doa mereka.
Setelah wafat, Theresia menjadi terkenal setelah buku catatan yang ditulisnya diterbitkan menjadi sebuah buku  "Kisah Suatu Jiwa,"  satu tahun setelah kematiannya (di Indonesia diterjemahkan dengan judul: 'Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah').
Theresia dikanonisasi pada tahun 1925 oleh Paus Pius X. Ia dikenal dengan sebutan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia si Bunga Kecil.
Tanggal 19 Oktober 1997, Theresia  menjadi wanita ke-3 yang diberi gelar Doktor Gereja.
 Sumber : Katakombe.Org

Monday, September 30, 2019

Lamunan Pesta

Santa Teresia dari Kanak-kanan Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja serta Pelindung Misi
Selasa, 1 Oktober 2019

Matius 18:1-5

18:1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, menjadi orang besar adalah dambaan pada umumnya orang. Bahkan dalam gambaran tradisional Jawa orang sungguh sudah jadi uwong (orang) kalau sudah punya kedudukan sosial.
  • Tampaknya, menjadi orang besar biasa dikaitkan dengan jabatan yang dimiliki. Orang besar adalah orang yang memiliki kedudukan bisa memerintah banyak bawahan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki kedudukan sosial tinggi bahkan dengan kekayaan melimpah, orang belum tentu sungguh menjadi orang besar kalau tidak memiliki sikap merendah siaga menyambut siapapun tanpa pandang bulu. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati hanya orang yang bisa menjadi kecil yang akan sungguh menghayati kebesaran sejati.
Ah, orang besar itu ya yang bisa memerintah banyak orang.

Sunday, September 29, 2019

Santo Fransiskus Borgia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6922 Diterbitkan: 17 Agustus 2014 Diperbaharui: 20 Maret 2015
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    10 Oktober - 30 September (General Roman Calendar 1688-1969)
  •  
  • Lahir
    28 Oktober 1510
  •  
  • Kota asal
    Gandia, Valencia, Spanyol
  •  
  • Wafat
    30 September 1572 di Ferrara, Italia - Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    23 November 1624 oleh Paus Gregorius XV
  •  
  • Kanonisasi
    20 Juni 1670 oleh Paus Klemens X Sumber : Katakombe.Org

Fransiskus Borgia (Francesco Borgia de Candia d'Aragon) adalah seorang bangsawan Spanyol dan Raja muda Catalonia yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani kehidupan religius dalam biara Serikat Jesus.  Ia lahir di Spanyol pada tanggal 28 Oktober 1510. Ia adalah putera sulung dari pasangan Juan de Borgia, Raja muda Gandia, dan Juanna de Aragón. Seorang saudaranya, Tomas Borgia, kelak juga menjadi seorang imam lalu diangkat menjadi uskup Malaga dan Uskup Agung Zaragoza.
Sejak kecil ia sudah kelihatan sebagai seorang anak yang saleh dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang biarawan. Namun keluarganya mengirimnya ke istana Raja Charles V, dari kekkaisaran Romawi Suci (yang juga disebut Raja Charles I dari Spanyol), di mana ia disambut  dengan hangat sebagai keluarga kerajaan dan sering menemani Kaisar pada beberapa kesempatan.
Pada bulan September 1526, Fransiskus menikah dengan seorang wanita bangsawan Portugis bernama Leonor de Castro Mello y Meneses. Dari pernikahan ini mereka memiliki delapan orang anak. Pada tahun 1539 ia dinobatkan sebagai Raja Muda Catalonia. Sebagai penguasa yang beragama Kristen, ia tampil bijaksana dan saleh. Ia menunjukkan teladan hidup yang baik kepada rakyatnya sesuai keutamaan Kristiani. Ia bersikap tegas terhadap semua bangsawan yang korup. Oleh karena itu banyak orang tidak menyukai dia.
Ketika Ratu Isabela meninggal dunia, jenazahnya harus dibawa ke Granada. Raja Muda Fransiskus Borgia ditugaskan untuk mengawal jenazah itu. Sebelum dimasukkan ke pemakaman, peti jenazah harus dibuka untuk membuktikan bahwa jenazah ratulah yang akan dimakamkan. Ketika peti jenazah dibuka, Fransiskus hampir pingsan oleh bau busuk yang sangat menusuk hidung. Ia menyaksikan kehancuran mayat ratu yang dulu begitu cantik, bahkan dipujanya. Sejak itu ia berjanji untuk tidak lagi mengabdi pada seorang raja duniawi, yang dapat mati dan hancur tubuhnya. Ia bertekad menyerahkan dirinya kepada Tuhan sambil berjanji akan merubah cara hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tatkala isterinya meninggal dunia pada tahun 1546, ia memutuskan masuk Serikat Yesus. Segala hartanya diwariskan kepada anaknya yang sulung. Di dalam Serikat Yesus, Fransiskus ditahbiskan menjadi imam pada usia 41 tahun. Cara hidupnya sederhana dan lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh banyak orang. Imam Fransiskus dikenal saleh. Kotbah-kotbahnya sangat menyentuh hati umat sehingga dapat membawa kembali banyak orang kepada pertobatan.
Fransiskus sangat berjasa pada saat pembentukan apa yang saat ini dikenal sebagai Universitas Gregoriana di Roma. Kesuksesannya itu membuat Paus Julius III menyatakan keinginannya untuk mengangkat Fransiskus menjadi seorang kardinal. Namun Fransiskus merasa tidak layak dan berat hati untuk menerima jabatan mulia tersebut. Ia lebih senang untuk berkarya bersama umat atau menjadi seorang misionaris. Namun ia juga tidak mungkin membantah keputusan Paus. Karena itu sebelum keputusan paus diterbitkan, Fransiskus Borgia, dengan sepengetahuan atasannya Santo Ignatius de Loyola, meninggalkan kota Roma secara diam-diam dan kembali ke Spanyol, ke kota Basque.
Disana ia merasa senang dapat menghabiskan waktunya dalam keheningan dan doa. Namun  teman-teman Jesuitnya membujuknya untuk menerima peran kepemimpinan yang kata mereka: telah ditakdirkan baginya. Pada tahun 1554,   ia ditunjuk oleh Santo Ignasius untuk menjadi komisaris jenderal Jesuit di Spanyol. Setelah itu, dua tahun kemudian, St. Fransiskus juga diberi tanggung jawab untuk misi Serikat Jesus di Hindia Timur dan Hindia Barat.  Pada tahun 1565, Fransiskus terpilih menjadi Superior Jendral Serikat Jesus yang ketiga, setelah kematian superior Jendral Serikat Jesus yang kedua, Diego Laynez SJ, pada bulan Januari 1565.
Cita-citanya sebagai pemimpin Serikat Yesus ialah menjiwai ordonya dengan semangat hidup Santo Ignasius, serta memperluas wilayah apostolatnya ke seluruh dunia. Banyak imam Yesuit dikirimnya ke luar negeri seperti ke Polandia, Mexico, Peru dan Brasilia. Jumlah kolese diperbanyak untuk mendidik kader-kader yang dapat melanjutkan karya Gereja.  Ketika ia berusia 61 tahun, ia mendapat tugas dari Paus Pius V untuk mempersatukan para raja Kristen guna menghadapi ancaman bangsa Turki atas wilayah-wilayah Kristen. Bersama dengan Paus Pius V dan Santo Karolus Borromeus, ia juga bekerja keras mereformasi Gereja Katolik.
Fransiskus Borgia tutup usia karena sakit pada tanggal 30 September 1572. Jenazahnya dimakamkan di Madrid, Spanyol. Pada 23 November 1624 ia dibeatifikasi oleh Paus Gregorius XV dan pada 20 Juni 1670 ia dikanonisasi oleh Paus Klemens X.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Senin, 30 September 2019

Lukas 9:46-50

9:46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.
9:47 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya,
9:48 dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."
9:49 Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
9:50 Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, sudah wajar kalau dalam hidup bersama ada status-status sesuai dengan fungsinya. Apalagi dalam hidup bernegara dan bermasyarakat, orang dapat menyaksikan adanya jabatan-jabatan dalam jenjang-jenjang struktural.
  • Tampaknya, wajar pula kalau ada sosok-sosok potensial yang ingin menduduki jabatan-jabatan tertentu. Untuk jabatan-jabatan tinggi kenegaraan orang dapat mengalaminya dalam pemilihan umum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun wajar muncul banyak orang menginginkan kedudukan tinggi dalam kehidupan bersama, kalau masing-masing dikuasai oleh nafsu berkuasa itu justru berada di luar kewajaran karena dapat muncul permusuhan yang justru merusak kebersamaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa kedudukan dalam hidup bersama adalah kesempatan khusus untuk ambilbagian membangun dan mengembangkan hidup bersama.
Ah, bagaimanapun juga dengan kedudukannya orang mendapatkan kekuasaan.

Santa Theodota

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4047 Diterbitkan: 28 Juli 2014 Diperbaharui: 22 September 2016
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    29 September
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Philippopolis - Thrace (sekarang Plovdiv – Bulgaria)
  •  
  • Wafat
    Martir - di sekitar tahun 318.
    Dihukum cambuk, dicabut giginya satu demi satu, tubuhnya dicabik-cabik dengan sisir besi dan lukanya di siram dengan cuka dan garam, lalu akhirnya dirajam sampai mati
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Menjelang akhir masa pemerintahan Kaisar Licinius, di sekitar bulan September tahun 318, terjadi penganiayaan pada orang Kristen di kota Philippopolis di Thrace (sekarang kota ini disebut Plovdiv – kota terbesar kedua di Bulgaria). Penganiayaan ini bermula ketika Prefek (walikota) Philippopolis yang bernama Agripa memerintahkan agar seluruh kota harus mempersembahkan korban bagi Dewa Apollo. Perintah ini tentu saja tidak dapat dilaksanakan oleh para pengikut Yesus.
Santa Theodota adalah seorang bekas pelacur yang telah bertobat dan telah dibabtis menjadi seorang kristen. Ia dengan berani menolak untuk bergabung dengan orang-orang yang hendak mempersembahkan korban bagi dewa kafir tersebut.  Orang-orang yang mengenal masa lalunya mengejek dan menertawakannya. Kepada mereka Theodata berkata bahwa dia memang telah berdosa dengan begitu menjijikan, tapi ia kini ia telah bertobat. Ia tidak mau menambah lagi dosa-dosanya dan menajiskan dirinya dengan memberikan persembahan bagi dewa Apollo. Melihat keberaniannya; sebanyak tujuh ratus lima puluh orang, termasuk diantaranya beberapa anggota tentara Romawi, ikut menolak memberi persembahan bagi dewa Apollo dan mengakui diri mereka sebagai orang Kristen.
Banyak dari mereka yang kemudian ditangkap dan dibunuh. Theodota juga ikut ditangkap dan  dilemparkan ke dalam penjara. Dalam penjara bawah tanah yang pengap tersebut, Theodata terus menerus berdoa sepanjang waktu. Dalam doa-doanya ia kerap menangis; bukan karena takut akan hukuman mati yang menantinya, tapi karena merasa dirinya tidak layak untuk ikut menderita seperti Kristus.
Saat dibawa ke pengadilan Theodota menangis dengan suara keras, dan berdoa dengan sungguh-sungguh memohon agar Kristus bersedia mengampuni dosa-dosa masa lalunya, dan memohon kekuatan untuk ia dapat menanggung semua siksaan kejam yang akan ia terima.  Dalam jawabannya kepada hakim dia mengaku bahwa dia pernah menjadi seorang pelacur, tapi ia kini telah menjadi seorang Kristen, dan meskipun merasa dirinya tidak layak, namun ia akan tetap setia pada imannya.
Jawabannya membuat Hakim dan Prefek Agripa marah. Mereka memerintahkan agar Theodota dihukum cambuk.  Para prajurit kafir yang berdiri di dekatnya, menasihatinya agar ia membebaskan diri dari hukuman ini dengan berpura-pura menyangkal iman Kristianinya dan mempersembahkan korban kepada Dewa Apolo. Tapi Theodota tetap teguh pada imannya. Ia malah berkata dengan lantang :   "Saya tidak akan pernah meninggalkan Allah yang benar, dan tidak pernah mempersembahkan korban kepada patung yang tak bernyawa."  
Theodota lalu dicambuki dan terus dicambuki sampai ia tidak sadarkan diri. Setelah itu ia diikat pada sebuah tiang lalu tubuhnya dicabik-cabik dan dirobek sedikit demi sedikit dengan sisir besi. Dalam siksaan yang mengerikan ini, Theodatta dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Kristus, dan berkata : "Aku memuja-Mu, ya Kristus, dan terima kasih, karena Engkau telah membuatku layak untuk menderita demi nama-MU."
Keteguhan Theodota membuat Agripa bertambah murka.  Ia meminta algojo untuk terus merobek tubuhnya dengan sisir besi, sedikit demi sedikit; dan menuangkan cuka dan garam ke luka-lukanya. Sungguh mengerikan siksaan ini, namun Theodota tetap kokoh dengan imannya.  Kepada Agripa ia berkata :
“Saya tidak takut sedikitpun pada siksaan yang anda berikan. Saya memohon agar anda terus meningkatkan siksaan ini. Supaya saya bisa memperoleh pengampunan atas semua dosa masa lalu dan memperoleh mahkota yang lebih mulia."
Dan siksaan terus berlanjut.  Agripa memerintahkan untuk mencabut gigi Theodota satu demi satu agar ia mengalami penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Hakim kemudian memerintahkan  agar ia dirajam sampai mati.  Theodota lalu diseret keluar kota dan dilempari dengan batu sampai ia mati. Saat meregang nyawa, Theodota berdoa:
"Ya Kristus, sebagaimana Engkau telah menunjukkan kemurahan hati-MU kepada Rahab, perempuan sundal itu; dan menerima penyamun yang bertobat di sisi salib-MU; kini janganlah Engkau memalingkan belas-Kasih-MU dariku”
Santa Theodota menerima mahkota kemartirannya sekitar tahun 318 di Philippopolis – Thrace.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

 Sumber : Katakombe.Org

Saturday, September 28, 2019

Rm. Harto Mulai


Kalau Rm. Tri Hartono dalam memimpin Misa Komunitas Rama Domus Pacis Puren adalah atas permintaan sendiri. Ini terjadi pada Rabu 28 Agustus 2019. Sehari sebelumnya beliau meminta kepada Rm. Bambang untuk memimpin misa pada hari Rabu. Pada hari itu Rm. Tri Hartono memang secara khusus mau memperingati pesta pelindungnya, yaitu Santo Agustinus. Tetapi sejak itu pada setiap hari Rabu beliau memimpin Misa Komunitas. Tentu saja untuk Rm. Tri Hartono soundsystem Kapel St. Barnabas, yang ada dalam gedung induk Domus, harus dihidupkan. Maklumlah, volume suara Rm. Tri Hartono amat lemah sehingga tanpa pengeras suara sulit terdengar oleh orang lain.

Dalam hal bersuara Rm. Harto juga mengalami penderitaan yang sama dengan Rm. Tri Hartono. Memang, kadang-kadang Rm. Harto dapat bersuara agak keras. Tetapi suara juga dapat hilang sama sekali sehingga tak dapat berbicara. Karena Rm. Tri Hartono sudah mendapat giliran memimpin misa, Rm. Bambang juga menawari Rm. Harto. Tetapi jawabannya adalah "Mangke pripun yen macet" (Nanti bagaimana kalau suara saya macet). Sebenarnya Rm. Bambang memang tidak akan mendesak. Tetapi ketika makan pagi Kamis 26 September 2019 Rm. Bambang berkata kepada Rm. Harto "Rama, mangke sonten mimpin misa nggih. Kula dhampingi. Yen macet kula sing muni neruske" (Rama, nanti sore memimpin misa, ya. Saya akan mendampingi. Kalau macet saya yang akan bersuara untuk meneruskan). Maka pada Kamis 26 September 2019 sore Rm. Bambang menyiapkan buku-buku di altar dan menghidupkan soundsystem. Tujuh menit sebelum misa mulai Rm. Harto masuk dan dengan kursi rodanya didudukkan pada posisi pemimpin misa. Rm. Bambang dengan kursi rodanya berada di kanannya. Pada tanda salib pembuka sampai "Saya mengaku" artikulasi Rm. Harto amat tidak jelas. Tetapi mulai "Tuhan kasihanilah kami" mulai jelas. Rm. Bambang melayani bagian-bagian yang harus dibaca. Ketika akan Injil terjadi kemacetan suara dan Rm. Bambang langsung membaca Injil. Tetapi mulai homili sampai berkat penutup sungguh jelas. Pada awal-awal tremor dari tangannya bergetar hebat. Tapi lama-lama menghilang. Ketika berada di kamar makan Rm. Bambang berseru kepada Rm. Yadi "Rama Yadi, pripun wau Rama Harto" (Rama Yadi, bagaimana tadi Rama Harto) yang mendapat jawaban dari Rm. Yadi "Cethaaa" (Jelaaas). Dan Rm. Bambang meneruskan "Yen ngaten pendhak Kemis sing mimpin Rama Harto" (Kalau begitu setiap Kamis Rm. Harto memimpin misa).