Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, March 29, 2020

CATATAN PENDEK 300320


Berinspirasi dari: Yoh. 8:1-11

  1. Semua orang mungkin dan mudah menuduh orang lain bersalah dan berdosa.
  2. Mereka yang sadar akan dosa dan kesalahannya akan mudah memberi ampun pada mereka yang bersalah dan berdosa.
Selamat merenung
MoGoeng

Lamunan Pekan Prapaskah V

Senin, 30 Maret 2020

Yohanes 8:1-11

8:1. tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tokoh-tokoh dapat amat peduli membangun lingkungan masyarakat yang jauh dari tindak kejahatan dan penodaan hidup. Untuk itu mereka akan menegakkan hidup dengan ketaatan pada tata aturan bersama.
  • Tampaknya, tata aturan dipakai untuk menilai perilaku masyarakat. Kalau ada yang bertindak bertentangan dengan tata aturan orang wajib diberi sanksi atau hukuman.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, berhadapan dengan orang yang bertindak keliru karena melanggar norma hidup, kalau orang membenci dan mau menindak, dia harus melihat dulu sedalam apa kebersihan dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, berhadapan dengan yang bersalah bahkan berdosa dan layak untuk mendapatkan hukuman, orang akan menempatkan pengampunan sebagai nilai tertinggi.
Ah, setiap kesalahan ya harus ada sanksinya.

Santo Jonas Hubaham

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3730 Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    29 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Beth-Asa, Persia
  •  
  • Wilayah karya
    Persia (sekarang Iran)
  •  
  • Wafat
    24 Desember 327 | Martir
    dipukuli dengan pentungan, lalu dilemparkan dalam kolam es agar membeku dan mati. Ketika setelah sehari ia belum mati juga; dia lalu diremukkan sampai mati dalam mesin pemeras anggur
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation



Raja Sapor dari Persia berkuasa pada abad keempat. Ia adalah seorang kafir yang sangat membenci umat Kristiani. Ia menganiaya dan menghukum mati mereka dengan keji serta menghancurkan gereja-gereja dan biara-biara. Dua orang bersaudara bernama Santo Jonas dan Santo Barachisius mendengar kabar mengenai penganiayaan ini dan memutuskan untuk pergi menolong dan menyemangati umat Kristen yang teraniaya itu untuk tetap setia pada Kristus. Jonas dan Barachisius sadar benar bahwa mereka juga dapat tertangkap. Namun hal itu tak menghalangi mereka. Hati mereka terlalu dipenuhi kasih bagi sesama sehingga nyaris tak ada ruang untuk memikirkan diri sendiri.

Setelah berkarya beberapa lama; akhirnya kedua bersaudara itu pun tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Kepada mereka dikatakan bahwa jika mereka tidak menyembah matahari, bulan, api dan air, mereka akan dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Tentu saja, mereka menolak menyembah suatupun atau siapapun terkecuali Allah yang benar dan Esa. Mereka harus banyak menderita, tetapi mereka berdoa.
Mereka terus memikirkan bagaimana Tuhan kita telah menderita sengsara bagi mereka. Kedua bersaudara itu menanggung siksa aniaya yang ngeri, namun tak hendak menyangkal iman. Pada akhirnya, mereka dijatuhi hukuman mati dan dengan sukacita menyerahkan nyawa bagi Yesus. Jonas dan Barachisius wafat sebagai martir pada tahun 327.

Saturday, March 28, 2020

CATATAN PENDEK 290320


Berinspirasi dari: Yoh. 11:1-45 atau Yoh. 11:3-7,17,20-27,33b-45

  1. Sakit dan kematian sering menantang kepercayaan kita akan kasih Tuhan.
  2. Dalam situasi seperti itu Tuhan akan menunjukkan kuasa kasih-Nya kepada umat manusia dan seluruh ciptaan.
Selamat merenung
MoGoeng

Lamunan Pekan Prapaskah V

Minggu, 29 Maret 2020

Yohanes 11:1-45

11:1. Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;
11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea."
11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.
11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."
11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya."
11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh."
11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;
11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."
11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."
11:17. Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.
11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.
11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
11:23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."
11:24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
11:27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau."
11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.
11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
11:33. Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"
11:35 Maka menangislah Yesus.
11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"
11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.
11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."
11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"
11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."
11:45. Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. 

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa tangis adalah wajar bagi manusia. Dalam keadaan sedih atau amat gembira orang dapat menangis.
  • Tampaknya, dalam kehidupan tradisional orang Jawa ada gambaran bahwa tangis harus disingkirkan dari kehidupan orang lelaki. Orang yang tegar dan penuh juang tidak akan cengeng.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bagi pejuang harus ada ketegaran sikap sehingga tidak mudah menangis mengalami kesedihan apapun, tangis dapat terjadi sebagai ungkapan alami dari keluhuran hati penuh kasih. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari tangis yang muncul dari keprihatinan hati penuh kasih bukanlah kecengengan tetapi keluhuran sikap.
Ah, bagaimanapun juga tangis adalah bentuk kelemahan sikap.

Santo Tutilo

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3309 Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 201

  • Perayaan
    28 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-9
  •  
  • Kota asal
    Swiss
  •  
  • Wafat
    Tahun 915 di Biara Saint Gall Switzerland | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Tutilo hidup di akhir abad kesembilan dan awal abad kesepuluh. Ia mendapatkan pendidikan di Biara Benediktine Saint-Gall. Dua teman sekelasnya telah digeari “beato”. Ketiga orang ini menjadi biarawan di biara di mana mereka mengenyam pendidikan.

St. Tutilo adalah seorang dengan banyak bakat. Ia seorang penyair, pelukis potret, pematung, orator dan arsitek. Ia juga seorang ahli mesin. Bakatnya yang terutama adalah musik. Ia dapat memainkan semua alat musik yang dipergunakan para biarawan untuk liturgi mereka. Ia dan temannya, Beato Notker, menggubah lagu-lagu tanggapan liturgi. Hanya tiga puisi dan satu nyanyian tersisa dari seluruh karya Tutilo. Tetapi lukisan dan patung-patungnya masih dapat ditemukan sekarang di beberapa kota di Eropa. Lukisan-lukisan dan patung-patungnya diidentifikasikan sebagai karyanya karena ia senantiasa menandai karyanya dengan sebuah motto.

Akan tetapi, Tutilo tidak dimaklumkan sebagai seorang kudus karena bakat-bakatnya yang banyak itu. Ia seorang rendah hati yang ingin hidup hanya untuk Tuhan. Ia memuliakan Tuhan dengan cara-cara yang ia tahu: dengan melukis, membuat patung dan menggubah musik.
Tutilo dimaklumkan sebagai seorang kudus sebab ia melewatkan hidupnya dengan memuji dan mengasihi Allah. St Tutilo wafat pada tahun 915.

Friday, March 27, 2020

Minggu Prapaskah V/A tgl. 29 Maret 2020 (Yoh 11:1-45; Yeh 37:12-14)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/03/24; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


LAZARUS – “YANG MAHAKUASA MENOLONG!”
Rekan-rekan yang baik![Salam dari Roma di tengah krisis wabah COVID-19. Kami masih ada dan takkan menyerah! Salam juga dari Oom Hans kita!]
Kisah pembangkitan Lazarus (Yoh 11:1-45, Injil Minggu Prapaskah V tahun A) membantu kita mengenali siapa Yesus yang akan dirayakan pada hari Paskah nanti. Kisah ini sederhana tapi sarat dengan makna. Ketika itu ia sedang di seberang sungai Yordan, di luar wilayah Yudea, menyingkiri orang-orang yang mau merajamnya di wilayah Bait Allah (lihat Yoh 10:31). Dari Betania dekat Yerusalem terdengar kabar mengenai Lazarus yang sedang sakit. Orang ini saudara Maria dan Marta, kenalan baik dan murid Yesus dari kalangan yang lebih luas. Dua hari kemudian Yesus mengajak murid-muridnya ke Yudea – dalam pengertian mereka – untuk melayat Lazarus. Kembali ke Yudea? Risiko! Tapi Yesus tetap mau ke sana. Tapi dia itu kan terang yang dibutuhkan agar orang tetap lurus berjalan, tanpa dia orang akan tersandung jatuh di kegelapan (ay. 9-10).
Iman kepercayaan tumbuh perlahan-lahan dan bersandar pada macam-macam hal yang tak terduga. Dalam kisah pembangkitan Lazarus ini kita akan belajar banyak dari orang-orang yang berperan dalam peristiwa itu: Marta, Maria, Lazarus, orang-orang Yahudi yang ada di situ, dan dari Yesus sendiri juga.
Dalam bacaan pertama (Yeh 37:12-14) disampaikan akhir dari pengalaman batin Nabi Yehezkiel (lihat pula ayat 1-8) dibawa Roh Tuhan ke sebuah lembah yang dipenuhi tulang-tulang kering. Di sana ia ditanyai apakah tulang-tulang itu dapat hidup kembali. Nabi menjawab hanya Tuhan-lah yang tahu. Tuhan pun menegaskan Dia-lah yang memberi nafas – roh – hidup sehingga tulang-tulang itu hidup kembali. Maka Nabi disuruhNya bernubuat demikian. Yehezkiel pun melakukan perintah itu. Tulang-tulang itu melambangkan hidup umat yang mengering binasa. Tetapi kini Tuhan sendiri mendatangi dan memberi mereka RohNya sehingga mereka hidup kembali dan tinggal di negeri mereka. Ini terjadi agar diketahui benar-benar bahwa sabda dari Yang Mahakuasa mengujud dalam kenyataan. Dalam pengalaman batin sang nabi, jelas Tuhan sendirilah yang kini mendatangi umat yang binasa, mengering, menjadi tulang-tulang yang terserak-serak. RohNya akan memberi mereka urat, daging, kulit, dan nafas hidup. Hidup mereka akan seirama dengan Tuhan. Ini penglihatan batin sang nabi yang mengajak orang mengerti betapa Yang Mahakuasa tetap dapat dan bersedia berbagi nafas kehidupan dengan umatNya. Namun ada satu hal yang amat penting. Ini semua dinubuatkan atas perintahNya sendiri. Dan baru sungguh terjadi bila diterima dengan tulus. Itulah iman. Penglihatan batin ini berisi ajakan ke sana.
Dalam kisah Lazarus yang disampaikan Yohanes kali ini akan dapat diikuti bagaimana ketulusan iman seperti itu bertumbuh.
SAATNYA KE YUDEA
Ketika mendengar bahwa Yesus tiba di Betania, Marta pergi menyongsongnya di luar. Terjadilah pembicaraan yang menyentuh perasaan (ay. 21-27). Marta percaya, bila Yesus ada di situ ketika Lazarus sedang sakit, pasti ia tidak akan mati. Tapi sayang ia ada di tempat lain. Memang Yesus masih menunggu dua hari di seberang Yordan setelah mendengar berita mengenai sakitnya Lazarus (ay. 6). Terlambat!
Mengapa Yesus sengaja berlama-lama di seberang Yordan? Hendak membiarkan Lazarus mati dulu agar ia bisa bermukjizat? Penjelasan seperti ini tidak klop dengan akal sehat, juga tidak cocok dengan cara Yohanes menggambarkan Yesus. Di Kana dulu, kita ingat, ketika ibunya mengatakan persediaan anggur habis, Yesus malah menenangkannya (Yoh 2:4) dan mengatakan bahwa saatnya belum tiba. Kini ketika mendengar berita mengenai sakitnya Lazarus, Yesus menunggu saat yang tepat baginya. Kita boleh sedikit menengok ke depan: di kayu salib pada saat terakhir (Yoh 19:30) ia berseru: “Sudah tercapai!” harfiahnya “Sudah selesai!” dan ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawanya. Jelas, tinggal dua hari lebih lanjut di seberang Yordan itu untuk menanti saat yang tepat mengajak murid-murid ke Yudea. Terbayang pribadi orang bertindak sesuai dengan saat Yang Ilahi sendiri bertindak dan dengan demikian dapat menjadi tanda kehadiranNya di dunia ini. Penting disadari juga bahwa tujuan utama perjalanannya ialah “ke Yudea”, bukan pertama-tama untuk mendatangi Lazarus yang akrab dengannya sekalipun. Dan arti ke Yudea jelas: menyongsong hari-hari ia ditolak, ditangkap, disalibkan, tapi juga dibangkitkan oleh Bapanya. Dalam rangka itulah Yesus pergi mendapati sahabatnya yang telah meninggal.
MARTA DAN MARIA
Baik Marta maupun Maria berkata bahwa seandainya Yesus ada di situ pastilah saudara mereka tidak mati (ay. 21 dan 32). Ini ungkapan kepercayaan yang tebal tanpa meremehkan perasaan menyesalkan kenapa kok dia tak ada di situ di saat-saat orang membutuhkannya.
Pendengar Injil kini boleh merasa siap ikut di dalam pembicaraan mereka. Tak ada yang meragukan bahwa Lazarus itu orang yang berjalan bersama dengan Yesus – sang terang sendiri. Lazarus orang yang dikasihi Yesus. Artinya, bukan sahabat akrab semata-mata. Bukan sisi itulah yang ditekankan. Orang yang dikasihi artinya dia yang rela menerima janji Yesus dan dengan demikian Yesus bertanggung jawab mengenai dia di hadapan Yang Mahakuasa, yakni Bapanya. Karena itu, Yesus mengatakan kepada Marta bahwa Lazarus akan bangkit (ay. 23). Yesus sendiri akan membawa hal ini ke hadapan BapaNya seperti dilakukannya nanti (ay. 41-42). Marta tidak segera menangkap. Yesus kembali menegaskan bahwa dia sendirilah kebangkitan (ay. 25). Baru dengan demikian Marta berani mempercayainya. Ia menegaskan (ay. 27) bahwa Yesus itu “Mesias, Anak Allah, dan dia yang akan datang ke dalam dunia.” Maksudnya, dia itu orang yang diberi kuasa ilahi dan amat dekat dengan Allah sendiri, dan akan selalu hadir di antara manusia dengan segala suka dukanya. Tiga gelar itu mengungkapkan kesadaran akan siapa Yesus yang masih ada dalam ingatan orang beriman awal.
Arti nyata dari kata-kata Marta itu ditunjukkan kepada kita oleh Maria. Dalam ay. 32, Maria yang bertemu Yesus langsung bersujud di depan kakinya. Tindakan ini membadankan pernyataan Marta. Sujudnya Maria itu pengakuan bahwa Yesus itu dia yang diberi kuasa datang di tengah-tengah manusia di dunia ini dan menyertainya mendekat kepada Bapanya seperti Yesus sendiri dekat kepadaNya. Sekali lagi, pembaca diajak Yohanes memandangi kedua perempuan itu dan belajar dari mereka.
LAZARUS
Sudah empat hari Lazarus mati. Marta berkata, ia sudah membusuk (ay. 39). Terlambat untuk bangkit kembali! Tapi Yesus membuat Marta dan kita-kita ini ingat, bila kita percaya maka kita akan melihat kemuliaan Allah (ay. 40). Maksudnya, bila Marta atau siapa saja mau memasrahkan urusan yang toh tidak dapat kita tangani sendiri kepada dia yang diberi kuasa ilahi, kebesaran ilahi akan bisa dialami, entah apa bentuknya. Akhir peristiwa ini dapat diikuti dari Injil sendiri. Lazarus dipanggil keluar. Bahkan orang yang sudah mati empat hari dan membusuk itu masih taat kepada dia yang mendapat kuasa ilahi (Mesias) untuk membawa ke dekat kehadiran ilahi, yakni dirinya sendiri (Anak Allah) dan mendatangi dunia yang gelap di dalam kubur tadi. Maklum, dalam Injil Yohanes pengertian “dunia” dipakai dalam arti tempat gelap yang butuh diterangi kehadiran ilahi.
Orang yang sudah mati pun menaati kata-katanya! Peristiwa ini hebat. Tetapi makin didalami makin tak perlu membuat heran. Lazarus kan orang yang dikasihi, artinya, orang yang telah berjanji mau pasrah kepadanya dan menerima janji akan dilindungi. Orang seperti itu selalu dan tetap mendengarkan dia yang bersabda, tidak akan terhalang apapun, juga tidak oleh kematian. Inilah kenyataan yang tak kasat mata jasmani dan tak tecerna pikiran tapi bisa dicerap indra batin dan kepekaan iman. Yohanes juga mengajak kita belajar dari Lazarus si orang mati itu. Kematian tidak menutup pendengarannya bagi sabda ilahi.
Seperti Marta dan Maria, Lazarus pun mengungkapkan kepercayaan kepada Yesus dengan caranya sendiri: ia berjalan keluar dari kubur, menembus tabir maut, mendekat kepada dia yang memanggilnya. Dan ia pun kembali berada di tengah-tengah orang hidup.
YESUS
Ketika melihat Maria menangis dan ratapan orang-orang yang ada di situ, Yesus jadi sedih hatinya dan sangat terharu (ay. 33). Ungkapan-ungkapan ini amat manusiawi. Termasuk juga rasa frustrasi, marah, karena merasa tak bisa langsung berbuat sesuatu. Yohanes menyelami yang dirasakan Yesus dan mengungkapkannya kembali bagi kita. Yesus bukan manusia yang di atas perasaan dan bisa membuat mukjizat begitu saja. Waktu itu ia betul-betul merasa tak berdaya menolong orang-orang yang mempercayainya. Karena itu ia pilu, geram, apa sajalah yang keluar dari lubuk hati ketika melihat orang menderita tanpa bisa berbuat banyak. Hanya bisa ikut merasakan kepedihan. Bahkan pada ay. 35 Yohanes menyebut Yesus menangis. Orang-orang Yahudi melihat dan bersimpati (ay 36-37) tapi juga menyangsikan apakah ia yang beberapa waktu sebelumnya bisa membuka mata orang buta kini akan dapat berbuat sesuatu. Memang Yesus merasa tidak dapat berbuat banyak. Dengan perasaan campur aduk ia cuma mau mendekat melihat sahabat yang sudah mendahului itu.
Di depan kubur orang yang telah menaruh kepercayaan kepadanya itu ia berseru kepada Bapa yang mengutusnya ke dunia. Ia memandang ke atas (ay. 41) dan mengucap doa syukur kepada Bapanya bahwa ada orang masih mau percaya bahwa ia sungguh utusanNya (ay. 41b-42). Kemudian ia berseru keras-keras memanggil keluar Lazarus – memanggil “Allah menolong” – itulah arti harfiah nama Lazarus. Seruan itu dua arahnya: pertama, seruan kepada Lazarus agar keluar dari tempat orang mati dan kedua, seruan kepada Allah sendiri yang menolong itu. Diseru oleh orang yang diberiNya sendiri kuasa, maka Allah tidak tinggal diam. Pembaca boleh bolak balik mendalami dua arah seruan ini dan merasa-rasakan daya yang menggumpal di dalam kata-kata Injil itu. Pada akhir petikan hari ini disebutkan, banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi percaya. Itulah hikmat Injil.
Salam hangat,
A. Gianto