Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, July 7, 2020

Beata Maria Romero Meneses

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2474 Diterbitkan: 09 Juli 2017 Diperbaharui: 03 Februari 2019

  • Perayaan
    7 Juli
  •  
  • Lahir
    13 Januari 1902
  •  
  • Kota asal
    Granada, Nicaragua
  •  
  • Wilayah karya
    Kosta Rika
  •  
  • Wafat
    7 Juli 1977 di Rumah Sakit Salesian Las Peñitas, León, Nicaragua.
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    18 Desember 2000 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Beatifikasi
    14 April 2002 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi
    -

Beata María Romero Meneses lahir di Granada Nikaragua pada tanggal 13 Januari 1902 sebagai seorang dari delapan bersaudara putera-puteri pasangan Félix Romero Arana dan Ana Meneses Blandon. Ayahnya, Felix Romero, adalah seorang Menteri dan Pejabat Tinggi dalam Pemerintahan Presiden José Santos Zelaya (Presiden Nikaragua tahun 1893-1909).

María menerima pendidikan di Sekolah Katolik yang dikelola oleh para Suster Salesian. Ia sangat berbakat dalam bidang seni dan musik sehingga orangtuanya mendatangkan guru-guru privat untuk membimbingnya berlatih piano dan biola.  Di usia dua belas tahun, Maria menderita sakit demam rematik. Ia menjadi lumpuh selama enam bulan dan jantungnya rusak permanen akibat efek samping pengobatan medis yang dijalaninya. Ia baru sembuh setelah setahun penuh mendaraskan doa novena kepada Bunda Maria. Bunda Maria Penolong Umat Kristiani kemudian menampakkan diri dan menyembuh penyakitnya. Penglihatan dan Penyembuhan Ilahi yang dialaminya mengilhami Maria untuk membaktikan dirinya menjadi seorang biarawati.

Pada tahun 1920 Maria Romero masuk Biara Puteri-puteri Maria Penolong Umat Kristiani (Figlie di Maria Ausiliatrice atau Daughters of Mary Help of Christians), biara Susteran yang didirikan oleh Santo Yohanes Bosco dan Santa Maria Dominika Mazzarello. Ia lalu berangkat ke El Salvador untuk menjalani masa novisiat dan mengucapkan kaul pertamanya pada tanggal 19 Maret 1920. Kaul keduanya ia ucapkan pada tanggal 16 Januari 1921. Saat itu pembimbing spiritualnya, pater Emilio Bottari, SDB berpesan : "Meskipun masa sulit akan datang dan kamu akan merasa hancur berkeping-keping, setialah dan kuatlah dalam Panggilanmu". Pesan ini selalu diingat suster Maria sepanjang masa hidupnya. Pada tanggal 6 Januari 1929 Suster María Romero Meneses mengucapkan kaul kekal di Biara Suster Salesian Managua, Nikaragua.

Pada tahun 1931 Suster Maria pindah San José Kosta Rika untuk menjadi pendidik di Sekolah yayasan milik biaranya. Ia menjadi guru Seni Musik di Sekolah Puteri Salesian serta menjadi teladan kesalehan dan kesucian hidup bagi para muridnya. Sejumlah besar anak didiknya kelak mengikuti jejaknya menjadi biarawati.

Suster Maria berkerja keras mengembangkan karya sosial Salesian bagi masyarakat di sekitarnya. Ia berhasil mengajak keluarga-keluarga kaya di Kosta Rika untuk peduli dan turut aktif membantu para fakir miskin dan anak-anak terlantar disekitar mereka. Ia membangun pusat rekreasi di kota San Jose (Santo Yoseph) pada tahun 1945 dan Pusat Distribusi Makanan bagi para tunawisma pada tahun 1953. Ia mendirikan Sekolah Puteri bagi anak-anak terlantar pada tahun 1961 dan sebuah Klinik Kesehatan gratis pada tahun 1966. Pada tahun 1973 Suster Maria mengorganisir pembangunan tujuh rumah penampungan di desa Centro San Josè  untuk menampung para tunawisma.

Suster Maria dikenang sebagai seorang guru yang hebat, Manajer Yayasan dan penggalang dana yang cekatan, serta penginjil berbakat yang mampu membawa sukacita rohani bagi para pendengarnya. Pada awal tahun 1977, ia mengalami serangan jantung dan membuatnya harus dirawat intensif di Rumah Sakit Salesian Las Peñitas, León, Nicaragua. Ia tutup usia di rumah sakit tersebut pada tanggal 7 Juli 1977.  Jenazahnya dikirim kembali ke San José di Kosta Rika dan dimakamkan di kapel biara Salesian.

Suster Maria Romero Meneses, FMA dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 14 April 2002 dan pestanya dirayakan pada setiap tanggal 7 Juli.

Monday, July 6, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIV

Selasa, 7 Juli 2020 

Matius 9:32-38                              

32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." 34 Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." 35. Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang belajar untuk meraih ijazah sebagai bekal mencari kerja. Makin tinggi jenjang studi dan ijazahnya makin tinggi tingkat pekerjaannya.
  • Tampaknya, untuk bekerja orang biasa pergi kesana kemari mencari instansi yang membuka lowongan. Kalau tidak ada instansi yang menerima orang bisa menjadi penganggur.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau banyak yang bilang banyaknya instansi tidak dapat menampung banyaknya calon tenaga kerja sehingga banyak penganggur, sejatinya yang namanya pekerjaan terbuka luas asal tidak diidentikkan dengan status kekaryawaan atau buruh. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yakin, selama gambaran kerja berarti mengolah kehidupan berbekal kemampuan sekecil apapun, lapangan kerja selalu akan kekurangan pekerja.

Ah, bakaimanapun juga bekerja itu ya menduduki status dalam lembaga negara atau swasta.

Santa Maria Goretti

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 7451 Diterbitkan: 03 Oktober 2013 Diperbaharui: 03 Februari 2019

  • Perayaan
    6 Juli
  •  
  • Lahir
    16 Oktober 1890
  •  
  • Kota asal
    Corinaldo Ancona Italia
  •  
  • Wafat
    Tanggal 6 Juli 1902 di Ferriere Lazio Italia dalam usia 12 tahun - Martir.
    Dianiaya dan ditikam berkali-kali dengan pisau dapur karena menolak berbuat mesum dan berusaha mempertahankan kesuciannya.
  •  
  • Venerasi
    25 Maret 1945 oleh Paus Pius XII
  •  
  • Beatifikasi
    27 April 1947 oleh Paus Pius XII
  •  
  • Kanonisasi
    24 Juni 1950 oleh Paus Pius XII Upacara kanonisasi dihadiri oleh 250.000 orang, termasuk ibunya, Satu-satunya orang tua yang pernah mengikuti upacara kanonisasi anaknya.

“……Para remaja terkasih, yang dicintai secara istimewa oleh Yesus dan oleh kami semua, katakanlah, maukah kalian bertekad - dengan bantuan rahmat Ilahi - untuk dengan tegas menolak segala macam godaan yang dapat menodai kekudusan kalian…….? (Homili Paus Pius XII pada upacara Kanonisasi St. Maria Goretti, 24 Juni 1950)

Berbagai macam pikiran dan perasaan berkecamuk menjadi satu dalam diri Assunta Goretti, ibunda St. Maria Goretti, ketika ia mendengarkan homili yang disampaikan oleh Paus Pius XII pada upacara kanonisasi puterinya. Lamunannya membawa Assunta kembali ke masa-masa yang silam.

Santa Maria Goretti

Maria Goreti dilahirkan pada tanggal 16 Oktober 1890 di Corinaldo, Italia. Luigi Goretti, ayahnya, seorang petani miskin. Pada tahun 1899, pasangan Luigi dan Assunta Goretti beserta keempat anak mereka yang masih kecil: Angelo, Maria, Marino dan bayi Allesandro, meninggalkan Corinaldo dalam usahanya mencari penghidupan yang lebih baik.

Di tengah perjalanan mereka mendengar kabar tentang tanah pertanian milik Count Mazzoleni di Ferriere yang hendak disewakan. Mereka menuju ke sana dan Luigi Goretti diterima bekerja sebagai petani bagi hasil di pertanian. Tanah pertanian itu telah lama dibiarkan terbengkalai, maka Luigi harus bekerja keras untuk membangunnya kembali. Kerja keras tanpa henti menyebabkan Luigi akhirnya jatuh sakit dan tidak dapat bekerja sama sekali. Saat panen tiba dan Count Mazzoleni datang meninjau, tanahnya baru sebagian saja yang telah dikerjakan. Mazzoleni amat marah dan tanpa mau mendengarkan penjelasan apa pun, ia mengirim Giovanni Serenelli dan Alessandro, putera bungsunya yang berumur sembilan belas tahun, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Keluarga Serenelli tinggal bersama dalam rumah keluarga Goretti.

Giovanni ternyata seorang pemabuk. Ia cepat naik darah dan suka memaksakan kehendaknya. Alessandro berperangai buruk, suka bertengkar dan selalu cemberut. Ia biasa menghabiskan waktu di kamarnya yang terkunci dengan melihat-lihat majalah porno. Dinding kamarnya dipenuhi dengan gambar-gambar gadis berpakaian tidak sopan.

Sementara itu penyakit malaria yang diderita Luigi bertambah parah. Setiap malam isteri beserta anak-anaknya berlutut di sekeliling tempat tidurnya dan berdoa. Luigi menyesali kepindahannya ke Ferriere. Ia membisikkan pesannya yang terakhir kepada Assunta: “Kembalilah ke Corinaldo”  Akhir bulan April 1902 Luigi Goretti meninggal dunia. Sejak itu setiap malam Maria akan mendaraskan Rosario bagi keselamatan jiwa ayahnya.

Dengan meninggalnya Luigi Goretti, hak atas rumah berpindah kepada Giovanni Serenelli. Giovanni mengijinkan Assunta beserta anak-anaknya tetap tinggal dan bekerja untuknya. Assunta ingin segera kembali pulang ke Corinaldo. Tetapi tidak terbayangkan olehnya seorang wanita dengan tujuh anak yang masih kecil-kecil dan tanpa bekal uang menempuh perjalanan balik sepanjang 200 mil. Oleh karena itu mereka tetap tinggal. Giovanni memerintahkan Maria, yang sekarang berumur sebelas tahun untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sementara Assunta harus bekerja di ladang.

Beban berat yang ditanggung Maria menjadikannya lebih cepat dewasa dan matang dibandingkan dengan anak lain seusianya. Ia telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang beriman dan saleh, serta tekun berdoa. Devosinya kepada Yesus serta ketaatannya kepada ibunya sungguh luar biasa. Nasehat ibunya terpateri kuat di dalam hatinya. “Kamu tidak boleh berbuat dosa, apa pun alasannya”.

Meskipun tidak dapat membaca dan menulis, Maria ikut pelajaran Katekumen dan beberapa bulan sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Juni 1901, ia telah menerima Komuni Kudusnya yang Pertama. Saat-saat menerima Komuni Kudus di gereja terdekat yang jaraknya dua jam perjalanan kaki itu sungguh amat membahagiakan hatinya.

Bulan Juli 1902. Assunta memperhatikan adanya perubahan pada perilaku puterinya. Sifat kanak-kanaknya sudah tidak tersisa lagi. Sinar matanya memancarkan kesedihan. Waktu doanya semakin panjang. Tubuhnya yang kecil bergetar dan air matanya mengalir. Telah beberapa waktu Alessandro Serenelli mengamatinya, mengganggunya serta mengejarnya dengan niat buruk. Ancaman Alessandro masih terngiang-ngiang di telinganya, “Jika kamu memberitahu ibumu, aku akan membunuh kalian berdua!”  Hanya dari doalah Maria memperoleh kekuatan dan kelegaan.

Hari Sabtu, tanggal 5 Juli 1902 kira-kira pukul setengah empat sore. Alessandro memanggilnya, “Marietta  (demikian para tetangga memanggil Maria), kemejaku robek dan perlu dijahit. Aku mau memakainya untuk pergi ke gereja besok. Aku letakkan di tempat tidurku.”

Kemudian pemuda itu keluar untuk mengurus sapi-sapinya. Tidak berapa lama, Alessandro meminta Assunta untuk menggantikannya.

“Saputanganku ketinggalan,” katanya. “Aku akan segera kembali.”

Sementara itu Maria duduk di lantai atas menjaga adik bayinya, Teresa, sambil menjahit baju Alessandro. Dari dapur Alessandro berteriak,

“Marietta, datanglah kemari!”  Maria tidak mau. Maka Allesandro datang, mencengkeram lengan Maria, menyeretnya ke dapur, menekankan sebilah pisau belati ke lehernya dan mengunci pintu. Maria berteriak minta tolong, tetapi suaranya lenyap di telan mesin pengirik gandum.  

Alessandro mengancam Maria untuk menuruti kehendaknya. Maria meronta sekuat tenaga dan berteriak, “Tidak! Tidak Alessandro! Itu dosa. Tuhan melarangnya. Kamu akan masuk neraka, Alessandro. Kamu akan masuk neraka jika kamu melakukannya!”  Karena Maria berontak, Alessandro menjadi kalap. Ia menikamkan belatinya ke tubuh Maria, sekali, dua kali, tiga kali dan terus berulang kali tanpa ampun. Melihat tubuh kecil itu kemudian rebah dengan wajah pucat pasi, Alessandro sangat ketakutan. Ia melemparkan pisaunya, masuk ke kamarnya serta mengunci pintunya.

Assunta kemudian mendapati Maria terkapar di lantai dapur bermandikan darah. Jeritan pilu yang nyaring segera terdengar.  Dengan berurai air mata Assunta bertanya kepada putrinya,

“Siapa yang melakukan ini padamu?”  

“Alessandro, Mama”.

“Tetapi, mengapa nak?”, Assunta terisak.

“Sebab ia ingin aku melakukan dosa yang mengerikan dan aku tidak mau.”

Dengan kereta ambulans, Maria dilarikan ke rumah sakit di Nettuno. Para dokter mendapatkan empat belas luka tikaman serta banyak luka memar di tubuh yang kecil itu. Karena mereka mengoperasinya tanpa obat bius, Maria menderita kesakitan yang luar biasa hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Dalam keadaan tidak sadar ia berulang kali berteriak, “Alessandro, lepaskan! Tidak, tidak, kamu akan masuk ke neraka! Mama, tolong…!!!”

Keesokan harinya seorang imam datang untuk memberikan Sakramen Terakhir. Pastor mengingatkan Maria bagaimana Yesus telah mengampuni mereka yang menyalibkan Dia dan ia bertanya apakah Maria juga mau mengampuni Alessandro. Maria mengarahkan pandangannya pada Salib yang tergantung di dinding dan dengan tenang mengatakan, “Saya juga memaafkan dia. Saya juga berharap agar kelak ia datang dan menyusul saya di surga.”

Setelah mengakukan semua dosanya, Pastor memberinya Komuni Kudus, dan air mata kebahagiaan memenuhi pelupuk matanya. Maria memandang patung Bunda Maria yang diletakkan di kaki tempat tidurnya dan saat itulah Yesus datang menjemput gadis kecilnya untuk masuk dalam perlindungan-Nya yang abadi.  Maria Goretti meninggal dalam usia 11 tahun pada tanggal 6 Juli 1902, pada pesta Tubuh dan Darah Kristus.

Empat puluh lima tahun kemudian, pada tanggal 27 April 1947, Maria Goretti dibeatifikasi oleh Gereja Katolik. Selanjutnya, pada tanggal 24 Juni 1950 bertempat di Basilika St. Petrus, Bapa Suci Paus Pius XII memimpin upacara kanonisasi St. Maria Goretti dengan dihadiri lebih dari 250.000 umat.

Dalam homilinya Paus Pius XII menekankan bahwa keutamaan St. Maria Goretti bukan hanya pada kemurnian jiwa dan raga, tetapi juga keutamaan-keutamaannya dalam mengutamakan kepentingan rohani di atas kepentingan duniawi, kasih dan ketaatannya kepada orangtuanya, kerelaannya untuk berkorkan dalam kesulitan, pekerjaan sehari-hari, menerima kemiskinan, kecintaannya dan doanya yang mendalam kepada Yesus dalam Ekaristi, kemurahan hatinya dalam mengampuni (pembunuhnya). 

Segera setelah upacara kanonisasi berakhir, dengan segala kerendahan hati Assunta menyatakan:

“Ya Tuhan, aku tidak layak Engkau memberiku seorang kudus!....”Assunta, yang saat itu telah berumur 82 tahun, hadir dalam upacara kanonisasi dengan ditemani kedua anaknya serta pembunuh puterinya. Pesta St. Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli.

Alessandro & Mimpinya

Banyak mukjizat terjadi berkat bantuan doa St. Maria Goretti. Namun demikian, yang paling besar di antaranya adalah pertobatan Alessandro Serenelli, pembunuh Maria.

Segera setelah perbuatannya yang keji terhadap Maria Goretti, Alessandro ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan di Nettuno, kemudian ia dipindahkan ke penjara di Roma untuk diadili. Alessandro sama sekali tidak menyesali pebuatannya. Ia berusaha mati-matian mengingkari perbuatannya, tetapi karena tidak berhasil, akhirnya ia menyerah. Alessandro dijatuhi hukuman penjara selama tiga puluh tahun. Seorang imam datang untuk memberikan bimbingan kepadanya. Alessandro marah sejadi-jadinya lalu menangis seperti orang gila, dan kemudian menyerang imam.

“Sebentar lagi, Alessandro, kamu akan memerlukan aku.” kata imam. “Marietta akan memastikannya.”

“Tidak pernah..!!” teriak Alessandro. “Aku tidak akan pernah membutuhkan seorang imam…!!!”

Hari-hari selanjutnya terasa mengerikan bagi Alessandro. Selera makannya hilang dan ia merasa gelisah. Delapan tahun dalam penjara membuatnya putus harapan.  

Pada suatu hari di tahun 1910, Alessandro berjumpa dengan Maria dalam sebuah mimpi. Mimpinya itu demikian hidup sehingga sukar baginya untuk membedakannya dari kenyataan. Jeruji dan dinding penjara lenyap, Alessandro berada di sebuah taman yang hangat oleh sinar matahari dan penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran. Bau harum semerbak memenuhi sekitarnya. Kemudian datang kepadanya seorang gadis yang amat cantik bergaun putih bersih. Alessandro berkata kepada dirinya sendiri: “Bagaimana ini? Bukankah gadis-gadis petani biasa berpakaian warna gelap?” Tetapi dilihatnya bahwa yang datang itu Marietta. Ia berjalan di antara bunga-bunga dan tersenyum. Alessandro ingin melarikan diri darinya karena ia sangat ketakutan, tetapi tidak bisa. Maria memetik bunga-bunga bakung putih (bunga bakung putih lambang kemurnian), menyerahkannya kepada Alessandro seraya berkata, “Alessandro, terimalah ini!” Alessandro menerima bunga-bunga bakung itu satu per satu, semuanya berjumlah empat belas. Tetapi sesuatu yang ajaib terjadi. Begitu ia menerima bunga itu dari Maria, bunga-bunga bakung itu berubah menjadi api-api yang menyala. Satu bunga bakung berubah menjadi nyala api untuk menghapuskan satu tikaman yang dihujamkan Alessandro kepadanya di hari yang naas itu di Ferriere. Maria berkata sambil tersenyum, “Alessandro, seperti janjiku, jiwamu kelak akan menemuiku di surga.”

Rasa damai dan tenang segera memenuhi hati Alessandro. Penglihatan yang indah itu lenyap. Ketika Alessandro bangun dari tidurnya, ia merasa bahwa perasaan benci dan marah yang kuat dan dahsyat yang menguasainya selama ini telah hilang dari padanya.

“Aku melihatnya.” teriak Alessandro  “panggilkan pastor…!!!”

Penjaga penjara tertawa mengejeknya dan berkata dengan kasar;  “Jika kamu memang ingin bicara, tulis saja surat kepada pastor.”

Alessandro menuliskan pengakuannya dalam sebuah surat dan memohon ampun serta belas kasih Allah. Sejak saat itu ia terdorong untuk memperbaiki hidupnya.

Kelak di kemudian hari Alessandro menyadari bahwa harum semerbak bunga adalah suatu tanda baginya bahwa berkat doa-doa Maria ia beroleh rahmat untuk membuka pintu hatinya dan menerima terang serta Belas Kasih Ilahi dan dengan demikian menolak dosa yang membawanya pada kebinasaan abadi.

Setelah dipenjarakan selama 27 tahun, Alessandro dibebaskan. Ia mendapat keringanan 3 tahun karena sikapnya yang patut dijadikan teladan bagi para tahanan lain. Alessandro bekerja sebagai buruh tani selama beberapa waktu dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di Biara Capuchin di Macareta seumur hidupnya sebagai tukang kebun. Para biarawan Capuchin menyapanya sebagai “saudara” dan Alessandro diterima sebagai anggota ordo ketiga. Di kapel biara ia mengikuti perayaan Misa setiap hari guna menemukan kedamaian dan ketenangan batin.

Alssandro mengunjungi Assunta Goretti, yang terakhir kali dijumpainya 31 tahun silam dalam sidang pengadilan. Ia memohon pengampunan dari Assunta. Assunta menumpangkan tangannya di atas kepala Alessandro, mengusap wajahnya dan dengan lembut berkata;

“Alessandro, Marietta sudah memaafkanmu, Kristus sudah memaafkanmu, dan mengapa aku tidak memaafkanmu. Tentu saja aku memaafkanmu, anakku! Mengapa aku tidak bertemu denganmu lebih awal? Kejahatanmu adalah masa lalu, dan bagiku, engkau seorang anak yang telah lama menderita.”

Keesokan harinya masyarakat desa Corinaldo menyaksikan Assunta Goretti dengan kepala tegak dan air mata mengalir di pipinya, menggandeng tangan Alessandro Serenelli seperti seorang ibu menggandeng anaknya, serta membimbingnya ke perayaan Misa. Di depan altar Assunta dan pembunuh puterinya berdampingan menerima Tubuh dan Darah Kristus. Sejak saat itu Alessandro diterima dalam keluarga Goretti yang saleh sebagai “Paman Alessandro”.  

Dalam proses beatifikasi Maria Goretti, Alessandro menjadi satu-satunya saksi yang dapat menceritakan secara jelas apa yang sebenarnya telah terjadi dalam pembunuhan keji tersebut. 

Alessandro Serenelli meninggal pada tanggal 6 Mei 1969 di Biara Capuchin di Macerata dalam usia 87 tahun.

Surat Wasiat Alessandro

Sebelum meninggal, Alessandro Serenelli meninggalkan sepucuk surat: ia menasehatkan agar kita tidak membaca majalah-majalah yang tidak baik, melihat gambar-gambar atau pun menonton film-film yang tidak sopan.

Alessandro Serenelli

Tertanggal 5 Mei 1961

Usia saya hampir 80 tahun. Sebentar lagi saya akan pergi.

Menengok kembali ke masa lalu, saya dapat melihat bahwa di masa muda saya telah memilih jalan yang salah yang menghantar saya kepada kehancuran hidup saya.

Perilaku saya banyak dipengaruhi oleh bacaan, media cetak serta tingkah laku buruk yang dianut sebagian besar kaum muda tanpa pikir. Saya juga melakukannya dan saya tidak merasa khawatir.

Ada banyak orang yang saleh dan murah hati di sekeliling saya, tetapi saya tidak peduli kepada mereka karena kekuatan jahat telah membutakan saya dan mendorong saya masuk ke dalam cara hidup yang salah. 


Ketika umur saya 20 tahun, saya melakukan kejahatan karena nafsu. Sekarang kenangan akan hal itu mengingatkan saya akan sesuatu yang amat mengerikan bagi saya. Maria Goretti, sekarang seorang santa, adalah malaikatku yang baik. Karena kuasa Penyelenggaraan Ilahi, ia dikirim untuk membimbing dan menyelamatkan saya. Masih tetap tertanam kuat dalam lubuk hati saya kata-kata nasehat dan pengampunannya. Ia berdoa bagi saya, ia berdoa bagi pembunuhnya. Tiga puluh tahun masa penjara menyusul.

Jika saja saya dapat kembali ke masa lalu, saya akan memilih untuk tetap tinggal di penjara seumur hidup saya. Saya pantas dikutuk sebab semua yang terjadi memang salah saya.

Marietta adalah sungguh terang hidupku, pelindungku, dengan bantuannya saya bisa berperilaku baik selama masa 27 tahun di penjara dan berusaha hidup tulus ketika saya diterima kembali dalam anggota masyarakat. Imam-imam St. Fransiskus, Capuchin dari Marche menerima saya dengan kemurahan hati para kudus dalam biara mereka sebagai seorang saudara, bukan sebagai pelayan. Saya telah tinggal selama 24 tahun dalam komunitas mereka, dan sekarang saya dengan sabar menunggu saatnya untuk memandang Tuhan, untuk sekali lagi memeluk dia yang aku kasihi, dan berada di samping Malaikat Pelindungku dan ibunya yang terkasih, Assunta.

Saya berharap agar surat yang saya tulis ini dapat menjadi pelajaran yang berguna bagi orang lain untuk menjauhi yang jahat dan senantiasa berjalan di jalan yang benar, seperti seorang anak kecil. Saya merasakan bahwa agama dengan ajaran-ajarannya bukanlah sesuatu yang memungkinkan kita untuk hidup tanpanya, tetapi agama adalah sumber penghiburan yang sesungguhnya, sumber kekuatan hidup yang sesungguhnya dan satu-satunya jalan keselamatan dalam segala situasi, bahkan dalam situasi yang paling menyengsarakan sekalipun dalam kehidupan seseorang.


Tertanda, Alessandro Serenelli

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Sunday, July 5, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIV

Senin, 6 Juli 2020 

Matius 9:18-26                              

18. Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." 19 Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 21 Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 24 berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. 25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang menginginkan hidup bahagia tanpa aral melintang. Segala derita akan menjadi rintangan hadirnya kebahagiaan.
  • Tampaknya, kalau mengalami derita orang akan berjuang melepaskan diri. Orang akan memerangi segala derita apapun ujudnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun penderitaan selalu mengancam rasa enak, orang tetap akan mengalami kenikmatan dan kebahagiaan kalau memiliki keteguhan dan keyakinan berdampingan dengannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menemukan jalan damai dalam setiap derita karena segala derita selalu menghadirkan pola hidup baru.

Ah, bagaimanapun juga derita harus dimusnahkan.

Santo Antonius Maria Zaccaria

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4253 Diterbitkan: 03 September 2013 Diperbaharui 01 Juni 2014

  • Perayaan
    05 Juli
  •  
  • Lahir
    tahun 1502
  •  
  • Kota asal
    Cremona, Lombardy, Italia
  •  
  • Wafat
    5 Juli tahun 1539 di Cremona, Lombardy, Italia - Oleh sebab alamiah
    Dimakamkan di Saint Paul‘s Convent of the Angelics di Kota Milan, Italia, Tubuhnya ditemukan terawetkan pada tahun 1566
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1849 oleh Paus Pius IX
  •  
  • Kanonisasi
    tahun 1897 oleh Paus Leo XIII

Antonius dilahirkan di Italia pada tahun 1502. Ketika ia masih muda, ayahnya meninggal dunia. Ibunya mendukung Antonius dalam perhatian istimewa yang dimilikinya terhadap penderitaan orang-orang miskin. Ibu Zaccaria mengirim puteranya belajar di Universitas Padua agar kelak ia dapat menjadi seorang dokter. Antonius baru berusia dua puluh dua tahun ketika ia menamatkan pelajarannya.

Dokter yang masih belia itu amat berhasil dalam pekerjaannya. Namun demikian, ia tidak merasa puas. Ia tahu bahwa ia ingin menjadi seorang imam. Antonius mulai belajar teologi. Ia juga tetap merawat mereka yang sakit, menghibur serta memberikan semangat kepada mereka yang menjelang ajal. Antonius mempergunakan seluruh waktu luangnya untuk membaca serta merenungkan surat-surat St. Paulus dalam Kitab Suci. Ia membaca kisah rasul besar Paulus berulang kali dan banyak merenungkan keutamaan-keutamaannya. Sekarang, Antonius terbakar oleh semangat yang menyala-nyala untuk menjadi seorang kudus dan membawa semua orang kepada Yesus.

Setelah ditahbiskan sebagai imam, St. Antonius Maria pindah ke kota besar Milan. Di sana, ia akan dapat membantu lebih banyak orang. Ia juga membentuk suatu ordo para imam yang disebut Pekerja-pekerja Tetap St. Paulus. Orang menyebutnya “Barnabit”, oleh karena ordo mereka berpusat di Gereja St. Barnabas di Milan. Sesuai teladan rasul Paulus, St. Antonius dan para imamnya berkhotbah ke mana-mana.

Mereka menyerukan kembali kata-kata dan nasehat-nasehat Paulus. Mereka menerangkan pesan-pesan Paulus dengan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti. Umat menghargainya; mereka merasa senang. St. Antonius juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Ia memulai Devosi Empat Puluh Jam.

St. Antonius Maria baru berusia tiga puluh tujuh tahun ketika ia wafat pada tanggal 5 Juli tahun 1539. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1897.

Saturday, July 4, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIV

Minggu, 5 Juli 2020 

Matius 11:25-30                            

25. Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. 28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang menginginkan yang enak dan memuaskan hidup. Orang menyingkiri yang tidak mengenakkan.
  • Tampaknya, beban dan derita dipandang sebagai penghalang terjadinya kenyamanan hidup. Segala beban dan derita adalah lawan dari rasa nyaman.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun beban dan derita membuat hidup tidak nyaman, kenikmatan sejati dalam kehidupan sungguh ada kalau orang bisa berdamai dengan beban derita karena membawa segalanya jadi omongan dengan kalbu. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa walau beban itu berat kalau ikhlas memikul justru jadi ringan.

Ah, yang enak itu ya yang santai-santai tetapi segalanya terpenuhi.

Santa Elizabeth dari Portugal

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 7205 Diterbitkan: 02 September 2013 Diperbaharui: 05 Februari 2019

  • Perayaan
    04 Juli
  •  
  • Lahir
    tahun 1271
  •  
  • Kota asal
    Madrid - Spanyol
  •  
  • Wafat
    4 Juli 1336 di Estremoz, Portugal - Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Tahun 1626 oleh Paus Urbanus VIII

Elizabeth adalah puteri Raja Spanyol Pedro III dan Ratu Constantia. Ia dilahirkan pada tahun 1271 dan diberi nama Elizabeth sesuai dengan nama buyutnya : St. Elisabeth dari Hungaria. Pada usia muda Ia sudah dinikahkan dengan Raja Denis dari Portugal. Elizabeth seorang puteri yang cantik serta menyenangkan. Ia juga seorang yang taat beragama, ia ikut ambil bagian dalam Misa setiap hari. Elizabeth seorang isteri yang menawan pula.

Pada mulanya, suaminya sayang padanya, tetapi tak lama kemudian ia mulai menyebabkan penderitaan besar pada isterinya itu. Meskipun Raja Denis seorang pemimpin yang baik, ia tidak seperti isterinya yang suka berdoa dan melakukan kebajikan. Sesungguhnya, dosa-dosanya yang melanggar kemurnian menjadi skandal heboh di seluruh kerajaannya.

St. Elizabeth berusaha menjadi ibu yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya, Alphonso dan Constance. Ia juga murah hati serta penuh perhatian pada rakyat Portugal. Meskipun suaminya tidak setia, Elizabeth terus berdoa agar suatu hari nanti suaminya itu mengubah perangainya. Elizabeth tidak mau bersedih dan marah. Ia memperdalam kehidupan doanya dan ikut dalam spiritualitas Fransiskan. Lambat-laun, raja mulai tergerak hatinya oleh kesabaran serta teladan hidup isterinya. Ia mulai memperbaiki sikap hidupnya. Ia mohon maaf pada isterinya serta menaruh hormat pada isterinya itu.

Pada tahun 1323 puteranya Pangeran Alfonso memberontak terhadap suaminya Raja Denis, karena Raja ingin memberikan tahta kerajaan pada seorang anak haramnya.  Pasukan kerajaan dan pasukan pangeran Alfonso sedang berbaris menuju perang terbuka. Mendengar ini, Ratu Elizabeth berlari ke medan perang dan berdiri diantara dua balatentara yang sedang siap-siap bertempur. Ia lalu berbicara pada mereka  dengan penuh wibawa hingga pada akhirnya mampu mencegah pertumpahan darah antara ayah dan anak.

Di saat-saat terakhir ketika raja terbaring sakit, ratu tidak pernah beranjak dari sisinya kecuali untuk pergi Misa. Raja Denis meninggal pada tanggal 6 Januari 1325. Ia menunjukkan tobat mendalam atas dosa-dosanya dan wafat dalam damai.

Setelah kematian raja, Elisabeth membagi-bagikan hartanya kepada orang miskin, meninggalkan Istana dan menjadi anggota Ordo ketiga Fransiskan di biara yang ia dirikan di Coimbra.

Pada 1336 anaknya, yang kini sudah menjadi Raja Affonso IV, berbaris bersama tentaranya untuk berperang melawan menantunya, Raja Castile.  Alfonso hendak menghukum menantunya itu karena telah menjadi suami lalai dan kasar.  Meskipun sudah uzur dan kesehatannya memburuk, namun nenek Elizabeth bergegas ke medan perang di Estremoz, Portugal, dan sekali lagi ia berhasil mencegah pertumpahan darah dalam keluarganya.

Dalam sisa hidupnya Elizabeth terus melakukan perbuatan-perbuatan amal kasih dan laku tobat. Ia merupakan teladan mengagumkan dalam kebaikan hatinya terhadap orang-orang miskin.  Perempuan yang lemah lembut ini juga menjadi pendamai dalam perselisihan antar kerajaan di Eropa saat itu.

St. Elizabeth dari Portugal wafat pada tanggal 4 Juli 1336. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Urbanus VIII pada tahun 1626.