Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, September 28, 2020

Santo Chi Zhuse

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 Juli 2015 Diperbaharui: 28 Oktober 2019 Hits: 5735

  • Perayaan
    20 Juli dan 28 September (pesta Para Martir China)
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1882
  •  
  • Kota asal
    Dezhaoin, Shenzhou, Hebei, China
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Tubuhnya dicincang sampai hancur antara bulan Juni - Juli 1900 di Zhuketian, Dechao, Shenzhou, Hebei, China
  •  
  • Venerasi
    22 Februari 1955 oleh Paus Pius XII (Decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    17 April 1955 oleh Paus Pius XII
  •  
  • Kanonisasi
    1 Oktober 2000 oleh Santo Paus Yohanes Paulus II

Lahir pada sekitar tahun 1882 di Dezhaoin, Shenzhou, Hebei, China; Chi Zhuse menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya oleh pewartaan para misionaris Dominikan di Vikariat Apostolik Zhili Tenggara, Cina.

Pada tahun 1900, saat ia masih berusia 18 tahun, Chi Zhuse ikut kelas katekisasi agar bisa dibabtis menjadi anggota Gereja. Di tahun itu juga, meletus gerakan pemberontakan anti Barat atau “Pemberontakan Boxer” di China.

Pemberontakan Boxer dipicu oleh kebencian masyarakat China saat itu kepada para orang asing, akibat perubahan politik dan sosial pasca Perang Candu dan perjanjian-perjanjian tidak adil yang merugikan bangsa China dan menguntungkan bangsa barat. Para pemberontak diam-diam didukung oleh pejabat tinggi kekaisaran dan ibu suri Kwang-hsue. Pemberontakan berdarah ini menyebabkan terbunuhnya begitu banyak orang asing khususnya para Missionaris dan umat kristen pribumi China.

Motif yang melatari pembunuhan para missionaris dan umat Kristen pribumi China adalah motif keagamaan. Dokumen sejarah yang bisa dipercaya menunjukkan bukti adanya kebencian terhadap umat Kristen. Sebuah dekrit dikeluarkan pada tanggal 1 Juli 1900 yang menyatakan bahwa era hubungan baik dengan para misionaris Eropa dan umat kristen telah berakhir: bahwa para misionaris harus dipulangkan saat itu juga dan umat Katolik dipaksa untuk ingkar, atau akan dibunuh. Para Martir yang tewas pada masa ini terdiri dari: lima orang uskup, 28 imam praja dan biarawan, dua bruder, sembilan suster, dan 30.000 umat awam.

Karena imannya, Santo Chi Zushe ditangkap oleh para pemberontak Boxer. Ia diseret ke alun-alun kota, dianiaya dan dicincang sampai mati.

Sunday, September 27, 2020

Sederet Manfaat Kesehatan dari Buah Timbul

diambil dari https://cantik.tempo.co/read/800677

Oleh : 

Ilustrasi buah kluwih atau timbul. wikipedia.org

TEMPO.CO, Jakarta - Pernahkah Anda mendengar buah kluwih, atau ada juga yang meyebut timbul? Bentuknya seperti nangka, tapi lebih kecil dan bulat. Biasanya, buah ini dijadikan sayur lodeh atau hanya direbus.

Di Barat sana, buah ini diebut breadfruit. Tapi ada pula yang mengartikan breadfruit sebagai sukun. Yang jelas, breadfruit ini sangat baik dijadikan santapan sehari-hari karena mengandung banyak mineral dan vitamin yang bagus untuk kesehatan, seperti folat, niacin, riboflavin, thiamin, vitamin A, C, E, dan K.

Kluwih juga mengandung sodium, potasium, kalsium, tembaga, zat besi, magnesium, fosfor, selenium, dan seng. Lalu, apa saja manfaat buah tropis yang memiliki nama ilmiah Artocarpus camansi itu? Berikut di antaranya.

1. Menjaga kesehatan jantung
Kluwih mengandung potasium yang mampu menurunkan tekanan darah dan membuat detak jantung teratur dengan cara meminimalisir efek sodium. Buah ini juga mengandung serat yang mampu menyerap kolesterol sehingga mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL).

2. Melawan infeksi
Kandungan antioksidan pada kluwih membantu tubuh melawan infeksi dan bahaya radikal bebas.

3. Sumber energi
Satu mangkuk kluwih mengandung 60 karbohidrat, sumber energi utama tubuh.

4. Mencegah diabetes
Serat pada kluwih menyerap glukosa dari makanan sehingga membantu mencegah diabetes.

5. Melancarkan pencernaan
Serat pada kluwih akan membantu mengeluarkan racun-racun dari tubuh lewan saluran pencernaan, juga membantu usus bekerja dengan semestinya.

7. Baik buat otak
Kandungan omega 3 dan asam lemak omega 6 baik untuk kesehatan otak.

8. Menjaga kesehatan gigi
Memakan bunga kluwih yang dibakar bisa membantu meredakan sakit gigi. Daun kluwih yang ditumbuk juga mampu menyembuhkan sariawan.

HEALTHBECKON | PIPIT

Lamunan Pekan Biasa XXVI

Senin, 28 September 2020

Lukas 9:46-50

46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 47 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 48 dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." 49 Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 50 Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, di era global apalagi milenial persaingan menjadi realita hidup. Untuk menjaga eksistensi orang harus dapat mengungguli orang atau kelompok lain.
  • Tampaknya, untuk membangun kekuatan orang harus hidup dalam kelompok kebersamaan yang didasari oleh kesamaan visi dan misi. Yang berbeda adalah saingan yang dapat menjadi ancaman.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ada kelompok atau organisasi lain yang memiliki gerakan sama dengan kelompok  atau organisasinya, tetapi kalau dalam realita tidak memusuhi, sejatinya itu adalah sahabat dalam perjuangan hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati walau berbeda kelompok dan atau organisasi, asal hidup terbuka demi kebaikan umum, siapapun adalah saudara sejati.

Ah, bagaimanapun yang berbeda kelompok atau organisasi harus diwaspadai sebagai saingan.

Beata Delphina

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 September 2017 Diperbaharui: 27 September 2017 Hits: 3466

  • Perayaan
    27 September
  •  
  • Lahir
    Tahun 1284
  •  
  • Kota asal
    Provence, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 26 November 1360
    Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1694 oleh Paus Innocentius XII (cultus confirmation)
  •  
  • Kanonisasi
    -

Beata Delphina (Delphine of Glandèves) adalah puteri tunggal Pangeran William dari Glandeves di Perancis Selatan. Dia kehilangan kedua orang tuanya ketika baru berumur 7 tahun. Anak yatim piatu kecil ini kemudian dibesarkan dalam sebuah biara susteran Fransiskan.

Delphina telah mengucapkan kaul kemurnian dan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, ketika Raja Charles II memilihnya menjadi pasangan hidup Pangeran Elzearius dari Sabran. Dalam kebingungan ia mencari perlindungan pada Bunda Maria, tempat dia telah mempercayakan diri sepenuhnya. Bunda kita pun kemudian menampakkan diri dan menenangkannya dari ketakutan. Delphina lalu menyetujui perkawinan itu yang kemudian dirayakan dengan kemeriahan besar di hadapan sang raja dan Uskup Agung dari Aix. Kemurnian dan ketulusan suci dari sang isteri itu memenuhi Elzearius dengan cinta yang sedemikian besar sehingga dia membuat nazar untuk berlaku sebagai pelindung keperawanannya dan sepanjang hidupnya kaul ini dipenuhinya dengan setia. Pasangan suami isteri ini hidup kudus laksana sepasang malaikat; yang satu mendorong yang lain untuk semakin hidup dalam cinta mereka kepada Tuhan. Bersama-sama mereka menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan.

Seperti suaminya, Delphina juga sangat peduli kepada para orang miskin dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat. Para pelayannya, yang harus dia pertahankan karena status bangsawannya, diajarinya dalam kesalehan dan takut pada Allah. Ia memperhatikan dan mengasihi mereka seolah-olah mereka adalah anak-anaknya sendiri. Mereka pun lalu mencintai dan menghormati puteri Delphina bagaikan seorang ibu, kendati ia masih sangat muda.

Ketika mendengar kabar kematian suaminya di Paris, Delphina pun menangisinya dengan getir. Kendati demikian dalam kepasrahan ia pun berdoa: “ Ya Tuhanku dan Allahku, kehendak suci-Mulah yang hendaknya terjadi!” Didorong oleh roh Tuhan untuk bergerak ke kesempurnaan yang semakin agung, dengan segera dia melepaskan semua harta benda duniawinya dan menambahkan pada kaul keperawanannya sebuah kaul kemiskinan yang suci.

Kemasyhuran hidup suci dari Delphina mendorong Ratu Eleonora dari Sisilia mengangkatnya menjadi kepala urusan rumah tangga di istanya. Delphina segera mengubah istana itu dan menjadikannya bagaikan sebuah tempat peziarahan suci.

Beata Delphina tutup usia pada tahun 1358 dalam usia 74 tahun. Ia dimakamkan di samping makam suaminya di kota di Perancis Selatan.  Pada tahun 1694 ia dibeatifikasi oleh paus Innocentius XII.

Saturday, September 26, 2020

Lamunan Pekan Biasa XXVI

Minggu, 27 September 2020

Matius 21:28-32

28. "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. 29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. 30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. 31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. 32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tidak sedikit orang beranggapan bahwa untuk dekat Tuhan orang harus beragama. Ini berarti menjalani praktek-praktek keagamaan.
  • Tampaknya, dengan segala kebiasaan dan tata aturan yang ada dalam agama orang mendapatkan pintu berdekatan dengan Tuhan. Makin tekun dan disiplin menjalaninya makin mesra hubungannya dengan Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau banyak yang yakin agama adalah jalan berdekatan dengan  Tuhan, namun jalan utama adalah kepekaan orang akan cahaya relung hati sehingga orang yang abai agama dapat mengungguli agamawan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memandang hidup beriman bukan terutama dari kerajinan beragama tetapi dari sikap dan perbuatan yang cocok dengan petunjuk-petunjuk hidup mulia yang muncul dari nurani.

Ah, asal rajin beragama jelas punya tiket masuk surga.

Santo Damianus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 24 Agustus 2013 Diperbaharui: 01 Juni 2014 Hits: 6226

  • Perayaan
    26 September
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Suriah
  •  
  • Wafat
  •  
  • tahun 303 | Martir. Dianiaya dan dipenggal kepalanya
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Damianus adalah Saudara kembar dari Santo Kosmas. Mereka berdua merupakan siswa-siswa yang sangat terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan dan keduanya menjadi dokter yang hebat. Kosmas dan Damianus memandang setiap pasien sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.

Karena itu, mereka memberikan perhatian besar kepada mereka semua dan melakukan yang terbaik dengan segenap kemampuan mereka. Betapa pun banyaknya perhatian yang harus mereka curahkan terhadap seorang pasien, baik Kosmas maupun Damianus, tidak pernah menerima uang sebagai imbalan atas pelayanan mereka. Sebab itu, mereka diberi nama julukan dalam bahasa Yunani artinya “tanpa uang sepeser pun”.

Setiap ada kesempatan, kedua orang kudus ini akan bercerita kepada para pasiennya tentang Yesus Kristus, Putra Allah. Orang banyak menyukai kedua dokter kembar ini, karenanya dengan senang hati mereka mendengarkan. Kosmas dan Damianus seringkali memulihkan kesehatan, baik jiwa maupun raga, para pasien yang datang mohon bantuan mereka.

Ketika penganiayaan oleh Kaisar Diocletianus terhadap umat Kristiani dimulai di kota mereka, kedua dokter ini segera ditangkap. Tak pernah sekali pun mereka berusaha menyembunyikan cinta mereka yang begitu besar terhadap iman Kristiani. Mereka disiksa dan dianiaya, tetapi tak ada yang dapat memaksa mereka untuk mengingkari iman kepada Kristus. Mereka hidup bagi Dia dan menarik begitu banyak orang kepada cinta-Nya. Setelah disiksa mereka berdua akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal  pada tahun 303.

Friday, September 25, 2020

Minggu Biasa XXVI/A – 27 Sep 2020 (Mat 21:28-32)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/09/23; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


Rekan-rekan!

Injil kali ini (Mat 21:28-32) menampilkan perumpamaan mengenai seorang ayah yang bergilir meminta dua orang anaknya berangkat bekerja di kebun anggur. Yang kedua pada mulanya tidak bersedia, tapi kemudian menyesal dan akhirnya menjalankannya. Yang pertama sebaliknya berkata “ya” tapi tidak melakukannya. Siapa dari kedua anak itu yang sungguh mengikuti kehendak sang ayah? Tentunya orang berpikir tentang anak yang pertama. Apakah perumpamaan ini sekadar dimaksud mengajarkan bahwa tindakan nyata jauh lebih bernilai dari pada sekedar janji? Adakah hal-hal khusus yang dapat dipetik dari bacaan Injil pada hari Minggu Biasa XXVI tahun A ini?

SEKEDAR LATAR BELAKANG

Yesus biasa mengajar di Bait Allah, seperti para tokoh agama lainnya. Di situ banyak orang mendengarkannya. Dalam kesempatan itu datang juga imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi. Suatu ketika mereka mempertanyakan, dengan kuasa mana Yesus melakukan “hal-hal itu” (Mat 21:23). Mereka mau tahu apa dan siapa di belakang tindakan Yesus menyembuhkan, menerima murid, mengajar tentang Kerajaan Surga, mengusir roh jahat dari diri orang, menghibur orang yang kesusahan. Maklum, orang banyak makin melihat karya ilahi di dalam diri Yesus. Para pemimpin masyarakat Yahudi tadi menjadi waswas karena Yesus semakin populer. Bukan terutama karena mereka merasa tersaingi. Mereka khawatir jangan-jangan Yesus mengadakan gerakan politik dengan warna gerakan agama. Mereka curiga bahwa yang dilakukannya itu gerakan politik mengumpulkan massa dengan dalih keagamaan.

Dalam pembicaraan itu Yesus berkata, ia bersedia menjelaskan dari mana kuasanya asalkan mereka juga dapat menjawab satu pertanyaan darinya. Ia balik bertanya apakah pada hemat mereka Yohanes tokoh yang membaptis banyak orang itu mendapat perkenan dari Allah (“datang dari surga”, 21:25) atau tindakan mencari pengikut belaka (“dari manusia”). Para pemimpin tadi merasa terpojok. Bila mengakui adanya perkenan ilahi, berarti mereka mendukung Yohanes dan konsekuensinya akan ikut dicurigai penguasa Romawi. Tetapi bila menyatakan tindakan Yohanes hanya manusiawi belaka, maka mereka akan berhadapan dengan orang banyak yang percaya tokoh ini datang dari Allah.

Begitulah Yesus membuat para pemimpin itu menyadari sikap mendua dalam diri mereka sendiri mengenai Yohanes Pembaptis. Mereka tidak mau memberi jawaban jelas dan hanya berkata, “Kami tidak tahu!” Yesus pun menutup pembicaraan tadi dengan mengatakan karena mereka tak dapat memberi jawaban, maka ia pun tidak akan menjawab pertanyaan mereka pada awal, yaitu mengenai asal kekuasaan Yesus (Mat 21:27). Tapi jelas yang hendak dikemukakannya. Kalian tahu Yohanes menyuarakan seruan dari atas sana, tapi kalian tidak berani mengakuinya terang-terangan. Begitulah sikap kalian kepadaku!

Memang para pemimpin Yahudi itu diserahi tanggungjawab moral oleh pemerintah Romawi untuk menjaga ketenangan di masyarakat. Jangan sampai ada gejolak. Apalagi jangan sampai ada gerakan politik dengan warna agama. Bila terjadi, maka pemerintah Romawi akan bertindak dan akan makin membatasi kebebasan orang Yahudi. Inilah yang dikhawatirkan para pemimpin. Jika nanti Yesus dan pengikutnya dianggap mengadakan gerakan politik yang dibiarkan begitu saja oleh instansi agama, maka pemerintah Romawi tidak akan tingal diam.

SIKAP YANG COCOK?

Berlainan dengan para pemimpin tadi, Yesus tidak menyembunyikan pendapatnya mengenai Yohanes Pembaptis. Dalam ayat 32 ia berkata bahwa Yohanes “datang untuk menunjukkan jalan kebenaran”. Diakuinya penugasan yang datangnya dari Allah sendiri. Namun para pemimpin Yahudi tidak menanggapinya dengan semestinya, malah tidak berani mengakuinya karena takut. Maka mereka bersikap seperti anak yang berkata ya ya tapi tidak melakukan yang diharapkan. Orang-orang yang mereka anggap rendah, yakni para pemungut cukai dan pelacur, sebaliknya seperti anak yang pada mulanya menolak permintaan si ayah tapi kemudian menyesal dan menurut. Lawan bicara Yesus juga paham maksud perumpamaan ini. Mereka merasa kena teguran. Dan dasar teguran itu ialah prinsip yang mereka pakai mengadili orang lain, yakni ketaatan atau ketidaktaatan religius. 

Perumpamaan ini dipakai untuk menunjukkan sikap yang kurang serius dari pimpinan masyarakat Yahudi dalam perkara-perkara kerohanian. Oleh karenanya malah “pemungut cukai” dan “pelacur” bakal lebih beruntung daripada mereka karena orang-orang ini berani mengubah sikap mereka. Kedua golongan orang ini dianggap paling tidak taat pada ajaran agama. Pemungut pajak dijauhi karena mereka bekerja bagi sistem pajak asing yang memeras bangsa sendiri. Yang kedua dicap tidak punya kesetiaan. Tetapi mereka yang dianggap buruk itu percaya kepada warta pertobatan Yohanes Pembaptis sedangkan para pemimpin tidak. Mereka sebenarnya bahkan lebih memeras bangsa sendiri dan tidak setia pada inti ajaran agama.

MENYESAL DAN AKHIRNYA BERANGKAT

Gagasan dasar dalam perumpamaan ini terungkap dalam kata “menyesal” dalam ayat 29. Anak yang pada mulanya tegas-tegas tidak mau menuruti kemauan ayahnya itu kemudian menyesal. Gagasan “menyesal” di sini bukan terutama perasaan gegetun karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik dan kini merasa tak enak, ada ganjelan dalam hati, kenapa tadi berbuat begini atau begitu. Oleh karena itu kiranya tidak amat tepat bila kita bayangkan anak yang akhirnya menjalankan permintaan ayahnya itu sebagai orang yang punya hati, berperasaan, dan ingin memuaskan ayahnya. Semua ini memang amat berharga dan sering terjadi. Namun perumpamaan kali ini tidak membicarakan sikap hati seperti itu. Yang ditunjukkan ialah keberanian untuk meninjau kembali niatnya dan memikirkan apakah tidak lebih baik menjalankan yang diminta dari pada bersikeras.

Perkaranya menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan anak yang kedua. Sebetulnya dia tidak pernah berniat berangkat bekerja di kebun anggur ayahnya. Ia hanya berbasa-basi mengatakan “Baik pak!” tapi sebetulnya hanya ingin agar tidak diganggu lebih lanjut. Ia lebih berminat meneruskan yang sedang dikerjakannya. Tidak juga ia berminat mencari tahu mengapa ayahnya memintanya pergi bekerja di kebun anggurnya. Ia cuma mau membungkam ayahnya dengan sebuah janji. Ia tidak berpikir panjang mengenai tindakannya atau alasan permintaan ayahnya.

Begitulah pengertian “menyesal” dalam perumpamaan ini lebih cocok dipahami sebagai “memikirkan kembali”, “meninjau kembali keputusan yang telah dibuat” dan “urung menjalankan yang sudah diniatkan”. Ada usaha untuk tidak membiarkan diri terpancang pada satu pandangan mati. Itulah yang terjadi pada anak yang kedua. Meskipun sudah dengan jelas mengatakan tidak mau berangkat, ia akhirnya berangkat pergi juga. Boleh jadi ia mulai berpikir mengapa sang ayah memintanya bekerja. Apa tidak ada pekerja? Apa memang amat perlu? Tidak dijelaskan dalam perumpamaan alasan sang ayah. Tetapi anak yang ini jelas mengerti maksudnya. Dan ia yakin sebaiknya menuruti. Di bawah nanti akan diulas arti permintaan tadi.

PERMINTAAN SANG AYAH = REZEKI HARI INI?

Tidak ada buruknya kita coba ikut menimbang-nimbang bagaimana sang ayah mengungkapkan keinginannya. Ia berkata, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!” Kata-kata ini tidak berisi sebuah perintah keras, melainkan tawaran yang diungkapkan dengan halus. Terasa juga sapaan yang penuh kasih sayang. Isi permintaannya sendiri sebetulnya tidak amat berarti. Ada banyak orang yang menunggu dipekerjakan di kebun anggurnya. Sang ayah meminta anaknya bekerja di sana justru karena ia mau menawarkan kesempatan. Dan lebih khusus lagi, ia menawarkan kesempatan bekerja “hari ini”.

Tawaran bekerja di kebun anggur “hari ini” mengingatkan pada permintaan kepada Bapa dalam doa yang diajarkan Yesus: “Berilah kami rezeki pada hari ini”.Dalam perumpamaan ini ditunjukkan betapa sang ayah ingin memberi sesuatu yang dapat membuat anaknya mendapatkan sesuatu pada “hari ini”. Rezeki pada hari ini, itulah yang ditawarkannya dengan lembut. Tidak dipaksakannya. Berarti bisa ditolak, bisa tak dianggap penting, diremehkan, tapi tetap ditawarkan. Bagi yang tadinya tidak mau, tetapi kemudian berubah sikap, tawaran itu masih tetap berlaku.

Perumpamaan ini menggemakan tema kemurahan hati Allah yang ditawarkan kepada siapa saja tetapi yang tidak selalu diterima dengan serta merta. Dalam perumpamaan hari Minggu lalu (Mat 20:1-16) kemurahan hati ini dipersoalkan oleh mereka yang kurang memikirkan keadaan mereka yang kurang seberuntung mereka. Pekerja yang langsung menemukan pekerjaan dan masuk pagi kurang senang melihat yang datang kemudian mendapat upah sama. Tetapi mereka yang datang kemudian ini sebenarnya sudah lama menunggu. Kini dalam perumpamaan tentang dua anak, rezeki hari itu ditawarkan kepada dua orang yang sebetulnya tahu apa itu kemurahan hati dan kebaikan ilahi. Tetapi hanya satu saja yang akhirnya mau menerimanya. Yang lain merasa tidak membutuhkannya. Pembaca perumpamaan ini diajak berpikir di mana kedudukannya sekarang ini. Sekaligus ada imbauan untuk berubah bagi yang bersikap sebagai anak yang kedua.

Salam hangat,
A. Gianto