Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, December 6, 2020

Santo Nikolas dari Myra

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Agustus 2014 Diperbaharui: 01 November 2019 Hits: 16873

  • Perayaan
    6 Desember
  •  
  • Lahir
    15 Maret 270
  •  
  • Kota asal
    Patara, Lycia et Pamphylia, Asia Kecil (Sekarang wilayah Turki)
  •  
  • Wafat
  •  
  • 6 Desember 343 di Myra Lycia (Sekarang Wilayah Turki) - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Nicholas (Nikolas) adalah seorang kudus yang sangat terkenal karena kemurahan hatinya dan karena mujizat-mujizat yang dilakukannya. Tokoh Santa Claus (Sinterklass) yang membawa hadiah untuk anak-anak pada saat Natal sebenarnya merupakan sekularisasi dari Santo Nicholas, uskup dari Myra yang baik hati.

Awal Kehidupan

Nicholas lahir di Asia kecil pada abad ketiga di sebuah kota bernama Patara (Lycia dan Pamfilia), dan tinggal di Myra, Lycia (saat ini adalah wilayah Demre, Turki), yang pada saat itu adalah sebuah provinsi dari kekaisaran Romawi. Ia adalah anak tunggal dari seorang pedagang Yunani yang kaya-raya bernama Epifanius (Beberapa tradisi menyebut ayah santo Nicholas bernama Theophanes) dan isterinya Joan. Sejak usia muda Nicholas sudah tertarik dengan hal-hal religius dan memiliki keinginan yang besar untuk menjadi seorang imam. Menurut legenda, sejak berumur 5 tahun Nicholas sudah menjalankan puasa pada setiap hari Rabu dan Jumat. Setelah kedua orang tuanya yang kaya-raya meninggal karena wabah penyakit; Nicholas menggunakan seluruh harta warisannya untuk karya amal, terutama untuk menolong para fakir miskin. Ia sendiri kemudian tinggal bersama seorang pamannya, yang juga bernama Nicholas, yang adalah seorang uskup kota Patara. Pamannya inilah yang mendidiknya, lalu mentahbiskannya sebagai seorang imam.

Setelah menjadi imam, Nicholas sempat berziarah ke Tanah Suci Yerusalem. Sekembalinya dari perziarahannya, ia terpilih menjadi uskup kota Myra, ibu kota provinsi Lycia. Uskup Nicholas merupakan seorang uskup yang sangat saleh, lugu dan penuh semangat. Ia terkenal gigih membela orang-orang miskin dan orang-orang yang tertindas. Selain itu, Ia juga menjadi terkenal oleh karena mukjizat-mujizat yang dilakukan Tuhan melalui perantaraannya.

Kisah-Kisah Mujizat Santo Nicholas

Menyelamatkan tiga orang gadis.

Konon, ada seorang penduduk kota Patara telah kehilangan seluruh hartanya dan terlilit hutang yang cukup besar. Karena itu, bapak ini tidak mampu untuk membiayai pernikahan ketiga orang anak gadisnya dan hendak menjual mereka ke tempat pelacuran. Mendengar hal ini, pada suatu malam secara diam-diam uskup Nicholas melemparkan tiga kantong emas ke dalam kamar bapak tersebut. Ketiga kantong emas tersebut lalu digunakan oleh ayah ketiga gadis itu untuk membayar hutang-hutangnya. Dengan demikian, selamatlah ketiga gadis itu dari dosa pelacuran dan perzinahan. Mereka pun kemudian menikah secara terhormat.  Lucunya, di kemudian hari, di dalam sebuah lukisan, ketiga kantong emas yang diberikan Nicholas kepada bapak tersebut salah digambarkan sebagai kepala ketiga orang anak gadis tersebut. Hal ini lalu menyebabkan munculnya legenda yang aneh mengenai Santo Nicholas yang dikatakan membangkitkan tiga orang anak yang telah mati dibunuh oleh seorang penjaga penginapan di mana jenazah mereka disimpan dalam larutan air garam.

Menaklukan Roh Jahat

Ketika bencana kelaparan melanda keuskupannya dan seluruh wilayah Asia Kecil; Uskup Nicholas segera pergi dari satu daerah ke daerah yang lain untuk minta bantuan bagi umatnya yang sedang kelaparan.  Bapa Uskup berhasil kembali dengan sebuah kapal yang penuh dengan persediaan gandum, anggur, buah-buahan, dan berbagai macam kebutuhan umat lainnya. Menurut tradisi, tanpa sepengetahuannya, ada beberapa setan hitam bersembunyi di dalam kantong-kantong gandum tersebut. Bapa uskup kemudian membuat tanda salib atas kantong-kantong gandum itu, dan seketika itu juga setan-setan hitam itu berubah menjadi pelayannya yang setia.

Mengancam Kaisar Konstantinus dalam mimpi.

Dikisahkan pada suatu saat ada tiga orang pejabat kekaisaran Romawi yang sedang dalam perjalanan ke Phrygia untuk melaksanakan tugas kenegaraan. Ketika mereka bertiga kembali ke Konstantinople, mereka ditangkap dan dimasukkan ke penjara atas tuduhan palsu dari Ablavius, ketua pejabat kekaisaran pada waktu itu. Ketiga orang pejabat ini kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Kaisar Konstantinus.

Mendengar bahwa mereka akan dihukum mati, ketiga pejabat itu pun menjadi putus asa. Namun di tengah keputusasaan itu, mereka tiba-tiba teringat akan Uskup Nicholas dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukannya. Mereka pun berdoa kepada Tuhan untuk membebaskan mereka melalui perantaraan Uskup Nicholas. Dan menurut legenda; setiap malam, pada saat mereka sedang berdoa, saat itu pula Uskup Nicholas muncul dalam mimpi Kaisar Konstantinus dan Ablavius, meminta serta mengancam mereka untuk segera membebaskan ketiga pejabat yang tak bersalah itu. Setelah tiga hari berturut-turut mengalami mimpi dan ancaman yang sama, akhirnya ketiga pejabat yang tidak bersalah itu pun dibawa ke hadapan kaisar untuk ditanyai. Ketika Kaisar Konstantinus mendengar bahwa ketiga orang pejabat itu berdoa dan mohon pertolongan dari Tuhan melalui perantaraan Uskup Nicholas, ia segera membebaskan ketiga pejabat itu dan mengirim mereka kepada Uskup Nicholas beserta surat permohonan agar Bapa Uskup tidak lagi mengancam Kaisar melainkan berdoa bagi kaisar dan kerajaan.

Gigih memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran Iman

Ketika terjadi penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, umat di Keuskupan Myra pun tanpa terkecuali ikut dikejar-kejar dan dianiaya. Sebagai seorang uskup, Nicholas juga ikut ditangkap, disiksa, dan dimasukkan ke dalam penjara bersama dengan banyak orang Kristen lainnya. Ia baru dibebaskan ketika Kaisar Konstantinus yang agung dan saleh menduduki tahta kekaisaran.

Bapa Uskup Nicholas juga gigih mempertahankan kemurnian ajaran gereja terhadap serangan bidaah arianisme. Ia hadir di dalam Konsili Nicea pada tahun 325, dan menjadi salah satu uskup yang merumuskan dan menandatangani “Kredo Nicea” atau “Syahadat Nicea”.  Berkat kerja keras Uskup Nicholas, Keuskupan Myra tidak terpengaruh sama sekali oleh ajaran sesat arianisme ini.

Akhir Kehidupan

Menurut tradisi, Santo Nicholas dari Myra tutup usia dengan tenang pada tanggal 6 Desember 343 dalam usia 73 tahun di keuskupannya, Myra, dan dimakamkan di katedral kota itu.  

Pada musim semi tahun 1087, karena kekhawatiran akan adanya invasi dari bangsa muslim Turki, para pelaut dari Bari – Italia di Apulia membawa sebagian Relikwi Santo Nicholas dari makamnya di Khatedral Myra, ke Bari – Italia.  Sebagian relikwinya diambil oleh orang–orang Venesia pada masa perang salib pertama dan dibawa ke kota Venesia.

Di Bari, Paus Urbanus II kemudian membangun sebuah Basilika yang megah yang kini disebut: Basilica di San Nicola (Basilika Santo Nikolaus) Sebagai tempat penyimpanan relikwi Santo Nicholas. Paus sendiri yang kemudian memimpin upacara pemberkatan Basilika ini dan pada waktu upacara penyimpanan relikwi Santo Nikolaus.

Sebuah gereja juga dibangun di kota Venesia sebagai tempat penyimpanan sebagian relikwi santo Nikolaus. Gereja tersebut dikenal dengan nama: Gereja  San Nicolò al Lido. Gereja ini sekarang dikelola oleh para biarawan Fransiskan.

Tradisi Santa Claus

Kemurahan hati Santo Nikolaus dan kisah bagaimana ia menolong tiga orang anak gadis di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Santo Nicholas sebagai penyayang anak-anak.  Hal ini pun membuat munculnya berbagai tradisi baik sekuler maupun Gerejani yang berhubungan dengan hal itu, misalnya di Jerman, Swiss, dan Belanda, terdapat tradisi dimana pada waktu Natal; seseorang akan menyamar sebagai laki-laki tua yang berpakaian sebagai uskup dan memberi hadiah kepada anak-anak atas nama Santo Nicholas. Di Inggris, kebiasaan ini selalu dijumpai pada setiap perayaan Natal dan orang-orang mengenalnya sebagai salah satu tradisi umat Kristiani. Sedangkan di wilayah Amerika, tradisi ini diperkenalkan oleh orang-orang Belanda Protestan yang merubah figur Santo Nicholas, Santo Katolik ini, menjadi seorang tokoh kakek tua dari kutub utara yang bernama “Santa Klaus” atau “Sinterklass”.  

Dewasa ini, banyak orang tua di Amerika yang menyamar sebagai “Sinterklas” dan memberikan hadiah kepada anaknya pada saat pesta Natal. Istilah “Sinterklas” sendiri pada akhirnya mempunyai arti seseorang dengan pakaian seperti uskup yang membagikan hadiah kepada anak-anak dan menguji pengetahuan agama mereka. Selain itu, “Sinterklas” juga membawa serta beberapa pelayan berkulit hitam atau yang lebih terkenal dengan istilah “Piet Hitam” yang bertugas untuk menghukum anak-anak nakal. Tradisi Piet hitam ini pun juga diambil berdasarkan kisah Santo Nicholas mengubah beberapa setan hitam menjadi pelayannya dengan tanda salib, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Saturday, December 5, 2020

Lamunan Pekan Adven II

Minggu, 6 Desember 2020

Markus 1:1-8

1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. 2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; 3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya", 4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." 5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. 6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. 7 Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. 8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat yakin bahwa kalau memiliki komitmen hidup akan mendapatkan kesuksesan sesuai bidangnya. Orang meraih kegemilangan hidup karena mampu mengembangkan bekal talenta yang ada padanya.
  • Tampaknya, dengan kemampuan mengembangkan talenta orang dapat ikut berperan dalam hidup bersama. Dia juga dapat menjadi salah satu tokoh bila hidupnya didedikasikan demi kebaikan umum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sehebat apapun prestasi sehingga menjadi tokoh masyarakat, apapun yang dijalankan akan menempatkan orang sebagai perintis jalan hadirnya tokoh ke depan yang jauh lebih hebat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa, sehebat apapun ketokohannya karena prestasi kerja, sosok yang hadir dalam jalur hidup yang sama akan tampil jauh di atas dirinya.

Ah, bagaimanapun juga seorang tokoh hebat akan memiliki keunggulan yang tiada tandingan.

Santo Sabas

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 30 Juli 2013 Diperbaharui: 29 Oktober 2019 Hits: 4373

  • Perayaan
    05 Desember
  •  
  • Lahir
    Tahun 439
  •  
  • Kota asal
    Motalala, Cappadocia - Turki
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 532 | Oleh Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Sabas, yang dilahirkan pada tahun 439, adalah salah seorang dari rahib Palestina yang termasyhur. Ayahnya seorang pejabat dalam dinas militer. Ketika ayahnya harus pergi ke Alexandria, Mesir, ia menitipkan puteranya yang masih kecil kepada saudara iparnya. Namun karena bibinya memperlakukannya dengan buruk, Sabas kecil melarikan diri ke rumah pamannya yang lain. Kemudian timbul pertengkaran di antara kedua pamannya itu karena memperebutkan hak asuh Sabas karena menginginkan uang kiriman dari ayah Sabas.  Sabas merasa tidak tenang. Ia lebih senang melihat semua orang hidup dalam damai. Jadi, ia melarikan diri lagi dan tinggal di sebuah biara.

Kedua pamannya merasa malu atas perbuatan mereka. Mereka meminta Sabas untuk kembali dan mereka berjanji akan memberikan kepadanya semua hak warisannya. Tetapi, Sabas merasa berbahagia tinggal di biara. Ia tidak mau meninggalkannya. Meskipun di biara ia menjadi rahib yang paling muda, tetapi dialah yang paling tekun berdoa.

Ketika usianya delapanbelas tahun, Sabas pergi ke Yerusalem. Ia ingin mencoba hidup bertapa sendirian bersama Tuhan saja. Namun ia dinasehati agar tinggal di biara untuk sementara waktu oleh sebab ia masih amat muda untuk menjadi seorang pertapa. Sabas taat dan dengan sukacita mengerjakan semua pekerjaan berat dalam biara. Ia membelah kayu untuk perapian dan memikul ember air yang berat. Suatu hari, St. Sabas diutus ke Alexandria untuk menemani seorang rahib. Di sana, ia berjumpa dengan ayah ibunya! Orangtuanya berupaya dengan segala cara agar Sabas mau meninggalkan kehidupan asketisnya dan tinggal bersama mereka. Mereka ingin agar Sabas menikmati kehormatan duniawi yang sama seperti yang telah diperoleh ayahnya.  Namun tidak demikian dengan Sabas!  Ia bahkan tidak mau menerima uang yang mereka coba berikan kepadanya. Akhrinya, Sabas menerima juga tiga keping emas. Ketika ia tiba kembali di biaranya, diserahkannya kepingan-kepingan emas itu kepada kepala biara.

Pada akhirnya, selama empat tahun Sabas dapat juga menikmati hidup sendirian bersama Tuhan saja, seperti yang didambakannya. Tetapi, sesudah itu ia harus memulai sebuah biara baru. Banyak murid datang kepadanya untuk menjadi rahib. Tak lama kemudian, St. Sabas diserahi tanggungjawab atas semua rahib di Palestina.

Sekali waktu Sabas diutus kepada kaisar untuk masalah-masalah Gereja yang penting. Meskipun demikian, Sabas tetap mengenakan jubah sederhananya dan tetap setia pada jam-jam doanya. Banyak mukjizat terjadi melalui doa St. Sabbas; saat masa kekeringan di biara; mata air menggenang, selama waktu kekeringan, ada hujan berlimpah, dan Doa Santo Sabas juga menyembuhkan banyak orang sakit dan kerasukan.

St. Sabas wafat dengan penuh kedamaian pada tahun 532. Ia dimakamkan di halaman biara yang didirikannya;  yang masih berdiri hingga saat ini dan dikenal dengan nama Biara Mar Saba (Biara Santo Sabas). 

Pada abad ke-12 para Crusaders (Tentara Salib) mengambil Relikwi Santo Sabbas lalu membawanya ke Roma. Relikwi orang suci ini tersimpan di Roma selama delapan ratus tahun sampai pada tahun 1965 Paus Paulus VI mengembalikannya ke biara Mar Saba di Yerusalem sebagai wujud nyata dari niat baik dan semangat persaudaraan Gereja Katolik Roma pada saudaranya Gereja Katolik Ortodoks.

Friday, December 4, 2020

Minggu Adven I/B – 6 Des 2020 (Mrk 1:1-8 dan 2Ptr 3:8-14)

diambil dari  https://unio-indonesia.org/2020/12/01; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


MERINTIS JALAN BAGINYA

Rekan-rekan yang baik!

Injil Minggu Adven II Tahun B – Mrk 1:1-8 – hampir seluruhnya membicarakan Yohanes Pembaptis. Dia ini tokoh yang sudah sejak lama dinubuatkan sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem mendatanginya di padang gurun minta dibaptis olehnya sebagai tanda bertobat demi pengampunan dosa. Ia juga tampil di mata orang sebagai seorang nabi. Semua uraian mengenai Yohanes Pembaptis kiranya dimaksud untuk semakin menyoroti siapa yang akan datang nanti, yakni Yesus. Dia ini tokoh yang jauh lebih besar yang diumumkan oleh Yohanes sendiri. Marilah kita lihat cara Markus mengutarakan hal ini. Di bawah ditambahkan pula ulasan mengenai bacaan kedua yakni 2Ptr 3:8-14.

INJIL “DARI” DAN “TENTANG” YESUS KRISTUS

Dalam Mrk 1:1, kata “Injil” sebenarnya dipakai dengan makna ganda. Makna biasa kata itu ialah berita yang melegakan, berita yang menggembirakan, kebalikan dari berita yang membuat orang sedih, tegang dan kusut pikirannya. Markus kiranya bermaksud menunjukkan bagaimana Yesus membuat pikiran dan hati banyak orang serasa “plong”, lepas dari ganjalan-ganjalan. Akan diceritakannya bagaimana Yesus ini menyembuhkan orang sakit, mengusir kekuatan jahat, mengajar siapa Allah itu, memilih murid, dan oleh karena semua itu diikuti banyak orang. Itulah cara Markus memperkenalkan Yesus. Tindakan serta ajarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan serta keinginan dasar yang ada dalam diri orang pada waktu itu tapi juga pada zaman dan tempat lain.

Namun kata “Injil” bagi para pengikut Yesus pada zaman Markus sudah juga dipakai juga dalam arti “kabar baik” mengenai diri Yesus. Diberitakan di kalangan para pengikut Yesus bahwa ia yang tadinya disalibkan, wafat, dan dimakamkan itu kini sudah bangkit dari kematian dan kini hidup dan akan datang lagi dalam kemuliaannya pada akhir zaman. Kabar baik inilah yang membuat para murid pertama dapat terus menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya kepada banyak orang lain yang mau bergabung dengan mereka. Jadi kalimat pertama Injil Markus itu menunjuk pada dua hal sekaligus, yakni bagaimana asal mulanya “berita yang melegakan” yang dibawakan Yesus serta “berita yang menggembirakan” mengenai dirinya. Pembaca diajak mendalami kedua-duanya.

Yesus ditampilkan dengan gelar Kristus dan Anak Allah. Yang pertama berarti Yang Diurapi, yakni Mesias, tokoh yang resmi diangkat Yang Maha Kuasa sendiri untuk mengerjakan urusan-Nya di dunia ini. Orang Yahudi pada masa itu amat mengharapkan datangnya tokoh ini. Ia juga disebut sebagai yang amat dekat dan akrab dengan keilahian sendiri, dalam bahasa Kitab Suci, “Anak Allah”. Maksudnya, ia mengerti yang dikehendaki oleh Allah dan patuh menjalankannya. Kini tokoh ini membawakan kabar yang melegakan orang banyak. Berita mengenai kedatangan tokoh ini sendiri juga menjadi kabar yang membuat lega orang pula. Jadi yang disampaikan dalam kalimat pertama Injil Markus itu ialah Berita Baik mengenai dia (Injil dalam kedua makna tadi) yang resmi mendapat tugas membawa kembali kemanusiaan kepada Yang Ilahi (Kristus) sebagai orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri (Anak Allah).”

Tentu saja orang akan bertanya-tanya bagaimana Yesus bisa sehebat itu. Ayat-ayat berikutnya, yakni ay. 2-8, memberi penjelasan dengan menampilkan seorang tokoh lain yang waktu itu sudah amat dikenal, yakni Yohanes Pembaptis.

MEMPERSIAPKAN JALAN

Yohanes Pembaptis bukan sebarang tokoh. Pertama-tama, dalam ingatan orang zaman itu, dia ialah tokoh suci yang mempesona orang banyak. Mereka datang meminta nasihat, mencari kejernihan batin di tempat ia tinggal, yakni di padang gurun. Mereka datang kepadanya minta dibaptis (ay. 4-5) dan dengan tindakan itu orang mengungkapkan diri bertobat dan siap mendapat pengampunan dosa. Kedua, dalam bayangan orang pada masa itu, Yohanes juga tampil seperti seorang nabi (ay. 6). Dan ketiga dan yang terutama, Yohanes itu diutus oleh Tuhan sendiri untuk “mendahului” serta “mempersiapkan jalan” (ay. 2b; hasil paduan Kel 23:20 dan Mal 3:1). Seolah-olah belum cukup, maka menyusul kutipan dari Yes 40:3 yang mempertegas siapa utusan ini. Dia adalah orang yang berseru-seru di padang gurun meminta agar yang mendengar mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskannya bagi-Nya. Apa yang dimaksud akan dikupas lebih lanjut di bawah.

Tokoh yang sedemikian mengesan ini ternyata malah memberitakan kedatangan orang yang lebih berkuasa (ay. 7). Tentu orang-orang bertanya-tanya siapa itu. Pembaca dulu pun sudah tahu, yang dimaksud ialah Yesus sendiri. Tetapi dalam kisah ini orang-orang yang mendengarkan kata-kata itu belum menggagas siapa yang sedang dibicarakan sang Pembaptis. Rasa ingin tahu orang banyak makin besar. Yohanes pun menambahkan bahwa membungkuk untuk melepaskan tali sandal orang yang sedang diwartakannya itu saja ia merasa kurang pantas (ay. 8). Siapa gerangan tokoh yang lebih besar daripadanya?

Ungkapan membungkuk melepaskan tali sepatu tidak hanya berarti penghormatan kepada orang yang dihadapi. Ada pula arti yuridisnya. Marilah kita tengok Rut 4:7 yang menjelaskan kebiasaan di masa lampau: “Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sebuah perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mengesahkan perkara di Israel.” Di dalam kitab Rut, tanah milik keluarga Naomi dan menantunya, Rut hanya bisa dijual kepada sanak dekat yang menurut hukum adat berhak membelinya. Namun orang ini resmi melepaskan haknya sehingga Boas bebas membeli tanah janda dan menantu itu dan mengurus mereka. Sanak dekat tadi melepas kasutnya (Rut 4:8) sebagai tanda pelepasan haknya. Kembali ke kata-kata Yohanes. Dengan latar belakang kebiasaan tadi, maka kata-katanya bukan sekedar basa-basi melainkan pengakuan bahwa dirinya tidak layak menindakkan hal yang membuat Yesus melepaskan haknya. Apa yang dimaksud dengan hak Yesus? Tak lain tak bukan ialah membawakan baptisan dalam Roh Kudus dan mendekatkan kembali keilahian kepada manusia. Yohanes Pembaptis hendak mengatakan dalam bahwa yang dijalankannya ialah membaptis dengan air – itulah yang bisa dilakukannya untuk menyadarkan orang banyak. Namun untuk sungguh membawakan yang di atas sana kepada manusia? Ah itu hak dia yang lebih berkuasa yang bakal datang, yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Orang banyak yang mendengar pernyataan itu dengan segera akan semakin bertanya-tanya siapakah dia yang dibicarakan ini? Perhatian pembaca Injil akan beralih dari Yohanes Pembaptis kepada dia yang diwartakannya.

SUARA DI PADANG GURUN

Kutipan dari Yes 40:3 dalam Mrk 1:3 menjadi makin besar artinya bila ikut disimak konteksnya dalam tulisan Yesaya sendiri, yaitu Yes 40:1-2 yang ikut diperdengarkan dalam bacaan pertama hari ini: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allah-mu….” Begitulah sang nabi menyampaikan perintah yang difirmankan Allah kepada kekuatan-kekuatan surgawi menghibur umat Israel yang waktu itu berada dalam pembuangan di Babilonia. Umat tak perlu berkecil hati, yang terburuk sudah lewat. Yang perlu kini ialah melihat ke depan, kembali pulang ke negeri sendiri, melewati padang gurun. Seperti ketika Allah menuntun nenek moyang mereka keluar dari Mesir lewat padang gurun dulu, kini Allah yang sama akan memimpin umat-Nya kembali.

Dalam Yes 40:3 sang nabi menyebut diri sebagai suara yang berseru-seru menyampaikan kepada kekuatan-kekuatan tadi agar mereka juga mempersiapkan jalan, meluruskan lorong-lorongnya, meratakannya bagi perjalanan-Nya bersama umat. Itulah gagasan dasar dalam bacaan pertama sebagaimana ada dalam Kitab Yesaya. Bagi Markus, suara yang berseru-seru itu ialah Yohanes Pembaptis. Dengan demikian Yohanes ditampilkan Markus sebagai nabi yang mengenali suara ilahi dan kehendak-Nya dan berani menyerukannya kepada balatentara surgawi tadi. Orang-orang berdatangan kepadanya di padang gurun mencari petunjuknya. Yohanes berseru, sekali lagi dalam pemikiran Markus, kepada kekuatan-kekuatan surgawi untuk menyiapkan jalan bagi mereka ini agar nanti dapat kembali lewat jalan yang lebar, lurus, rata bersama dengan dia yang kini akan menuntun mereka kembali….yaitu yang diumumkan kedatangannya. Dia yang jauh lebih besar.

Markus memperkenalkan Yesus lewat tokoh yang dalam anggapan umum dapat mengenali gerak gerik ilahi dan tetap membiarkannya bertindak menurut kehendak-Nya. Dia itulah Yohanes Pembaptis. Kisah ini kisah bagi hidup batin, bukan cerita tentang seorang yang membaptis di padang gurun. Bila ditangkap dalam arti itu maka kesaksiannya membantu orang pada zaman lain. Yohanes Pembaptis ada dalam diri tiap orang yang dengan tulus menantikan Yang Ilahi datang membimbing hidup orang beriman.

DARI SURAT PETRUS (2Ptr 3:8-14)

Salah satu hal yang paling menarik dalam Perjanjian Baru ialah rujukan ke tulisan lain yang ada dalam kumpulan ini. Namun rujukan seperti itu walau jelas bagi penerima dulu sering susah dilacak oleh pembaca zaman ini. Begitu pula dalam 2 Ptr 3:15 Petrus merujuk kepada surat Paulus bagi kalangan umat yang sama. Tapi surat Paulus yang mana tidak bisa dipastikan. Yang bisa diketahui ialah kesulitan memahami Paulus sehingga ada  orang yang menyalahtafsirkannya karena kebebalan atau karena iman yang kurang teguh dan terperosok sendiri. Paulus memang mengajarkan kemerdekaan iman yang intinya terbebas dari “hukum” lama sehingga dapat menjadi pewaris surga karena memang orang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Inilah salah satu dari bagian inti pewartaan Paulus. Namun, di kalangan tertentu boleh jadi disalahmengerti sebagai ajaran untuk berbebas merdeka dari semua aturan agama yang turun temurun dijalani. Ini malah menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Ada yang beranggapan bahwa hukum-hukum lama tetap berlaku untuk menjamin hidup abadi, ada yang mengatakan bongkar semua karena sekarang pokoknya cintakasih. Ada yang menumbuhkan gaya hidup menurut roh dan mau meyakinkan orang lain bahwa inilah yang terpenting. Begitu seterusnya

Dalam kaitan inilah surat Petrus mengajak umat agar tetap berupaya menjaga diri agar nanti pada akhir zaman dapat tampil di hadapan Tuhan dengan “tak bercacat, tanpa noda”. Inilah yang membuat orang cocok untuk hidup di tempat-Nya. Tak usah hitung menghitung kapan akhir zaman itu datang, karena Tuhan tak bisa dibatasi dengan perhitungan manusia. Justru karena belum jelas akhir zaman tiba, maka masa ini sebaiknya disadari sebagai kesempatan menikmati kesabaran-Nya yang memungkinkan orang dapat bersiap-siap akan menerima kedatangan-Nya nanti, sekali lagi dengan “tanpa cacat dan tanpa noda”. Inilah bahasa upacara persembahan kepada-Nya. Umat diajak agar melihat diri sebagai persembahan yang layak, tak bercacat, artinya utuh, dan tanpa noda, artinya bersih sehingga cocok baginya. Persembahan yang tidak demikian malah bakal menyinggung dan tidak terterima.

Dikenakan pada zaman kini. Bacaan kedua kali ini dapat membantu umat untuk melihat ke mana arah yang sesungguhnya yang sebaiknya dituju. Membawa diri sehingga semakin layak mendekat ke kehadiran ilahi sendiri. Sebuah ajakan untuk membuat wajah manusia semakin sesuai dengan kebesarannya. Sekaligus ajakan agar peka akan apa-apa yang menjadi “cacat” dan “noda” kemanusiaan: kemelaratan, ketakadilan, perbedaan yang tak kurang memberi keleluasaan untuk berkembang, serta mekanisme yang melanggengkan ketimpangan termasuk sikap-sikap beragama yang mengurung diri dalam kesalehan semu atau kutub lainnya, aktivisme lapangan yang makin lama makin menciutkan ruang batin. Masa Adven dapat menjadi masa meninjau mana arah-arah yang mesti diluruskan, mana jalan-jalan yang bisa dirintis untuk membuat kemanusiaan makin layak.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Adven I

Sabtu, 5 Desember 2020

Matius 9:35-10:1.6-8

35. Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." 1. Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.  6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. 7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. 8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang Kristiani sadar akan tugas misioner sebagai salah satu dari identitas imannya. Dengan tugas misioner setiap orang Kristiani harus menjadi pewarta Injil.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang menggambarkan pewartaan Injil sebagai usaha menumbuhkembangkan kehidupan Gereja. Dengan mewartakan Injil orang membina dan mempromosikan agama Kristiani untuk menambah jumlah anggota Gereja.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, walau pintar dan trampil mengajar agama, orang baru menjadi pewarta Injil sejati kalau punya kepekaan akan kehendak ilahi yang terwujud dalam perjuangan kongkret meringankan orang dari penderitaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa pewartaan Injil bukan pertama-tama merupakan kegiatan agama tetapi pengembangan batin yang membuahkan kehidupan kongkret yang menghadirkan keceriaan di antara orang yang mengalami ketidakceriaan.

Ah, mewartakan Injil itu ya mengajar agama.

Santo Osmundus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 Desember 2014 Diperbaharui: 30 November 2019 Hits: 3448

  • Perayaan
    4 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup pada awal abad ke-11 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Seez, Normandy Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Inggris
  •  
  • Wafat
  •  
  • tanggal 3 atau 4 Desember 1099 di Salisbury Inggris - sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 1 January 1457 oleh Paus Kalistus III

Santo Osmundus lahir dalam keluarga bangsawan di Seez, Normandy Perancis. Ayahnya adalah Henry, Raja muda Normandy Perancis. Ketika ayahnya meninggal dunia, ia pun menggantikannya sebagai Raja muda Normandy.

Ketika pamannya, Raja William, mengalahkan Raja Harold II dari Inggris dalam pertempuran di Hastings pada tahun 1066, Osmundus dan pasukannya ikut serta mendampingi raja. Atas jasanya dalam peperangan tersebut, ia pun diangkat menjadi Kanselir Inggris.

Kanselir Osmundus dikenal sebagai seorang yang jujur dan berjiwa pemimpin. Namun ia tidak lama menduduki jabatan tersebut. Jabatan terhormat itu tidak membuatnya nyaman karena ia lebih menyukai suasana hidup dalam biara yang penuh kedamaian. Ia merasakan sebuah panggilan yang kuat untuk menjalani hidup yang lebih religius. Selain itu, Osmundus juga sangat prihatin dengan kehidupan rohani umat di Inggris saat itu yang sangat merosot akibat peperangan yang terus-menerus terjadi.

Pada tahun 1078, Osmundus ditahbiskan menjadi Uskup Salisbury, Inggris. Ia berusaha keras memperbaharui kehidupan rohani umatnya dan membaharui liturgi Gereja. Untuk menjamin kesatuan liturgis, ia mengeluarkan peraturan-peraturan tentang perayaan ekaristi, ofisi ilahi dan pemberian sakramen-sakramen. Peraturan-peraturan yang disebutnya Ritus Sarum ini berlaku selama lima abad.

Selama menjabat sebagai uskup, ia menulis banyak buku dan mendirikan banyak gereja di seluruh keuskupannya. Osmundus memimpin keuskupan Salisbury selama 20 tahun sampai saat ia tutup usia pada tahun 1099.

Awalnya Santo Osmundus dimakamkan di Old Sarum. Setelah kanonisasinya pada tanggal 1 January 1457, jasadnya dipindahkan ke kota Salisbury dan disemayamkan di Kathedral Salisbury. Saat Reformasi Anglikan meletus, makam dan jasadnya dihancurkan atas perintah dari raja Henry VIII.

Thursday, December 3, 2020

Lamunan Pekan Adven I

Jumat, 4 Desember 2020

Matius 9:27-31


27. Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." 28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." 29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." 30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini." 31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, sebagai salah satu ciptaan manusia memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak. Dengan tiga hal ini orang dapat memiliki keinginan bahkan harapan.
  • Tampaknya, orang dapat rindu menjadi seperti yang dipikirkan, dirasakan, dan dikehendaki. Orang tidak menginginkan hidup terhalang karena kekurangan yang ada pada dirinya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mampu berbuat sesuai dengan cipta rasa dan karsanya, orang akan mengalami harapan yang sungguh membahagiakan kalau biasa melandaskan hidup pada yang bertahta dalam relung kalbu. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan biasa mempercayakan segala yang dipikir, dirasakan, dan dihendaki pada daya yang berada di kedalaman batin.

Ah, asal punya banyak uang orang dapat meraih apapun yang diinginkan.