Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, January 3, 2021

Santa Genoveva

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 22 Juli 2013 Diperbaharui: 22 Juni 2020 Hits: 16673

  • Perayaan
    03 Januari
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 422
  •  
  • Kota asal
    Nanterre - Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 500 di Paris, Perancis | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Genoveva dilahirkan sekitar tahun 422 di Nanterre, sebuah desa kecil, empat mil jauhnya dari Paris. Ketika masih sangat muda, ia rindu untuk membaktikan hidupnya kepada Yesus.

Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Genoveva tinggal bersama neneknya. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa setiap hari. Ia menjadi sangat akrab dengan Yesus dan ingin membagikan kebaikan-Nya kepada orang-orang lain juga. Genoveva adalah seorang gadis yang lemah lembut dan murah hati. Dengan caranya sendiri, ia melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Penduduk Paris bersiap-siap hendak melarikan diri dari suatu balatentara ganas yang datang untuk menyerang mereka. Genoveva tampil. Ia membangkitkan semangat warga kota agar mengandalkan Tuhan. Ia mengatakan bahwa jika mereka melakukan matiraga, maka mereka akan dibebaskan. Orang-orang percaya dan melakukan apa yang dikatakannya, dan balatentara Hun yang ganas sekonyong-konyong berbalik kembali. Mereka tidak menyerang kota sama sekali.

St. Genoveva mengamalkan belas kasihan dan ketaatan pada kehendak Allah setiap hari sepanjang hidupnya, bukan hanya pada waktu kesesakan. Tak pernah ia menyerah dalam melakukan sebanyak mungkin kebajikan. Kesetiaan kepada Yesus dan keberanian adalah karunia-karunia istimewa yang menjadi kesaksian hidup yang ditinggalkan Genoveva bagi kita.

Salah satu cara terbaik yang dapat kita lakukan bagi negara kita adalah berdoa bagi para pemimpin negara. Kita mohon pada Tuhan untuk membimbing mereka demi kebaikan kita semua.

St. Genoveva memberikan teladan kesetiaan dan keberanian dalam mengandalkan Tuhan, teristimewa dalam masa-masa sulit di negaranya. Berdoa bagi para pemimpin negara merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan bagi negara kita, memohon Tuhan agar membimbing mereka dalam membuat keputusan-keputusan yang tepat bagi kebaikan semua orang.

Saturday, January 2, 2021

Minggu – 3 Jan 2021 – HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (Mat 2:1-12)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/12/28; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


Rekan-rekan yang baik!

Injil bagi Hari Raya Penampakan Tuhan – Epifania – ini (Mat 2:1-12) mengisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara, ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka sebagai “orang-orang majus”. Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para majus ini membawa mereka ke sana. Para ulama Yahudi sendiri sebenarnya juga mengetahuinya lewat nubuat Nabi Mikha (Mat 2:6, kutipan dari Mikha 5:1).

KAUM BIJAK  – KEMANUSIAAN YANG UNIVERSAL

TANYA: Cerita mengenai orang majus ini menarik. Bisakah dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya lewat wahyu Alkitab saja? Seperti di sini, lewat kebijaksanaan manusiawi juga?

JAWAB: Ya! Memang itulah yang diungkapkan Matius dengan kisah ini. Ia menunjukkan bagaimana kebijaksanaan dapat juga menuntun orang mengenali kehadiran Tuhan.

TANYA: Bila luas pandangan Matius!

JAWAB: Itu yang mesti kita cari bila menyimak Injil. Warta Gembira kan ditawarkan bagi semua orang.

TANYA: Lho bukan hanya bagi Umat Terpilih dulu?

JAWAB: Ehm, malah sebaiknya dikatakan bahwa dengan kisah ini Matius bermaksud menunjukkan bahwa Tuhan berbicara kepada umat-Nya lewat orang-orang bukan dari kalangan itu sendiri!  

TANYA. Bagaimana penjelasannya? Tak biasa dikatakan begitu, bagaimana penjelasannya?

JAWAB. Coba simak, orang-orang di Yerusalem mendengar tentang kelahiran Yesus justru dari orang-orang bijak itu. Setelah itu barulah mereka mulai sibuk mencari dalam khazanah teks keramat mereka sendiri. Matius mau membangunkan orang sekaumnya yang kurang mendalami tradisi keramat mereka sendiri.

BACAAN PERTAMA DAN KEDUA: Yes 60:1-6; Ef. 3:2-3a.5-6

TANYA: Wah, keberanian berpikir seperti Matius itu langka, juga pada zaman ini. Orang biasanya merasa aman dengan apa-apa yang sudah biasa, yang dapat diperhitungkan. Akan tetapi jalan Tuhan tidak terbatas. Apakah Matius juga bermaksud agar orang-orang Yahudi sadar bahwa mereka bukan satu-satunya umat yang diperhatikan Tuhan?

JAWAB: Beberapa bagian dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengatakan hal ini walaupun caranya agak berbeda. Misalnya, Yes 60:1-6 (bacaan pertama pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini) menegaskan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan berduyun-duyun ke Sion, yakni tempat Tuhan bertakhta, tempat Ia menyinarkan terang-Nya (terutama ay. 3). Maksudnya, kini Tuhan bukan hanya bagi orang Yahudi.

TANYA: Jadi juga cocok dengan yang diutarakan dalam bacaan kedua (Ef 3:6), yaitu berkat “Injil” orang-orang bukan Yahudi dapat turut menikmati janji Tuhan yang kini diberikan dalam ujud manusia, yaitu Yesus.

JAWAB: Benar. Dalam surat Efesus itu “Injil” ialah Kabar Gembira yang sama bagi semua orang, berarti juga bagi orang bukan Yahudi dan orang-orang yang bukan termasuk umat Perjanjian Lama.

PERSEMBAHAN

TANYA: Sering kita dengar mengenai “Tiga Raja”, Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Tapi dalam Injil Matius ini jumlah serta nama-nama mereka kok juga tidak disebutkan? Juga tidak dikatakan mereka itu raja.

JAWAB: Memang Matius hanya menyebut “orang-orang majus dari Timur” dan tiga macam persembahan, yakni “emas, dupa, dan mur”. Tiga persembahan itu kemudian menumbuhkan gagasan adanya tiga orang. Bahwasanya mereka kemudian dianggap raja boleh jadi didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri seperti ada dalam Mzm 72:10 (“Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba membawa upeti”). Nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di wilayah kekaisaran Romawi sebelah Barat. Di wilayah lain nama mereka berlainan, juga jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas orang.

TANYA: Bisakah diterangkan sedikit mengenai persembahan yang dibawa para majus itu?

JAWAB: Matius boleh jadi teringat akan Yes 60:6 (“… mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan”). Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, dupa dengan martabat ilahinya, dan mur dengan wafatnya sebagai manusia nanti. (Mur dipakai dalam merawat jenazah sebelum dikuburkan).

TANYA: Apa ada makna yang lebih dalam?

JAWAB: Persembahan itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman dan berkatnya mengatasi ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan.

BERSUKA CITA

TANYA: Dapatkah dijelaskan perihal bintang yang dilihat para majus (Mat 2:2) dan yang berhenti di tempat Yesus lahir (Mat 2:9)?

JAWAB: Pembaca akan teringat pada bintang yang disebutkan dalam Bil 24:17. Balaam, seorang ahli nujum bangsa Aram, menubuatkan bahwa sebuah bintang akan muncul dari keturunan Yakub. Selain itu, di kalangan Yahudi ada juga nubuat mengenai kelahiran seorang pemimpin di Betlehem, seperti terdengar dalam Mikha 5:1 dst. yang bahkan dikutip dalam Mat 2:6. Matius menerapkan kedua nubuat tadi pada kelahiran Yesus.

TANYA: Masih mengenai bintang. Setelah mereka berangkat dari tempat Herodes, para majus tadi melihat kembali bintang yang mereka lihat di Timur. Dan dikatakan bahwa mereka “sangat bersuka cita” (Mat 2:10). Bagaimana penjelasannya?

JAWAB: Mereka mengikuti petunjuk yang diungkapkan para ulama Yerusalem kepada Herodes mengenai raja yang baru lahir itu. Herodes kemudian meminta para majus agar mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang mereka lihat di Timur cocok dengan pemahaman para ulama di negeri yang mereka datangi. Mereka bersuka cita karena mendapatkan jalan yang benar-benar akan membawa mereka kepada dia yang mereka cari.

CARA TUHAN BERBICARA

Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari makna peristiwa kelahiran Yesus ialah para gembala (Injil Misa Fajar hari Natal.) Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan orang-orang majus tadi. Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan langsung dari langit tetapi dengan “bahasa” yang sesuai dengan cara berpikir masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara lewat penampakan malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama yang ahli ilmu pengetahuan itu, Ia berbicara lewat isyarat bintang dan pemikiran. Ia bahkan dapat berbicara kepada mereka lewat orang yang memiliki niat yang kurang lurus seperti Herodes yang meminta mereka agar ke Betlehem.

Baik para gembala maupun orang-orang majus itu sama-sama mencari dia yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak dapat tinggal diam. Menurut Luk 2:18, orang-orang pada “keheranan” ketika mendengar para gembala bercerita mengenai kata-kata malaikat mengenai anak yang baru lahir itu. Dalam Mat 2:3, dikisahkan bahwa Herodes dan seluruh isi Yerusalem “terkejut” ketika mendengar kata-kata para majus. Ironisnya, mereka yang heran dan yang terkejut itu adalah orang-orang yang sebenarnya sudah berada di dekat dengan dia yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, mereka itu sudah ada di tempat Maria baru saja melahirkan. Ahli-ahli Taurat di Yerusalem dan Herodes yang disebut Matius sudah dekat dengan kelahiran Yesus lewat kitab-kitab keramat mereka. Namun mereka tidak menginsafi apa yang sedang terjadi di dekat mereka.

Seperti jelas dari Mat 2:5, para ulama di Yerusalem itu sebenarnya juga dapat mengetahui peristiwa itu. Tetapi mereka tidak memahami maknanya. Juga di antara orang-orang yang mendengar kata-kata para gembala, hanyalah Maria sajalah yang berusaha mengerti. Disebutkan dalam Luk 2:18 bahwa Maria “menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan memikir-mikirkannya.” Artinya, ia bersikap mau memahami misteri yang ada dalam kehidupannya. Orang-orang lain tetap terheran-heran saja.

Nanti para majus diperingatkan “dalam mimpi” supaya jangan kembali ke Herodes. Para majus ini kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas. Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain. Bagaimana dengan mereka yang ada di Yerusalem, yaitu Herodes dan orang-orang seperti dia? Mereka akan tetap “terkejut” dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka kehilangan kepekaan akan cara-cara Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman!

IKUT MENIKMATI

Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat Dia membiarkan diri terlihat oleh orang-orang yang tidak atau belum melihat-Nya. Dalam Mat 2:11, dikatakan bahwa para majus melihat Yesus bersama Maria dan baru setelah itu mereka menyembahnya. Dia yang ilahi itu membiarkan diri dipandangi oleh orang yang tidak biasa melihatnya. Dan bukan hanya dalam panganan belaka melainkan ada bersama dengan manusia lain, bersama dengan dia yang melahirkannya. Para majus bersuka cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Hari Raya

Penampakan Tuhan

Minggu, 3 Januari 2021

Matius 2:1-12

1. Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." 3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. 5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: 6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." 7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. 8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." 9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. 10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. 11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. 12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada kaum agamawan yang yakin menemukan amanat ilahi dalam Kitab Suci. Di dalam liturgi agama Katolik sesudah pembacaan dari Kitab Suci biasa terdengar rumusan kata penutup “Demikianlah Sabda Tuhan”.
  • Tampaknya, orang juga dapat yakin bahwa untuk mengetahui apapun yang dikehendaki Tuhan dia akan membuka Kitab Suci. Makin rajin bahkan menghafal ayat-ayat Kitab Suci orang makin selalu berada dalam lingkup naungan-Nya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun mampu merujuk segalanya ke ayat-ayat di dalamnya, orang baru sungguh dapat menangkap suara Tuhan lewat suara nurani yang dapat datang dengan aneka cara dan sarana. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, sekalipun dalam agama ada penyadaran akan hadirat Tuhan, orang akan sadar bahwa sapaan Tuhan akan datang kepada orang-orang sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budayanya.

Ah, makin rajin baca Kitab Suci orang akan biasa mendengarkan amanat Tuhan.

Santo Basilius Agung

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 8689

  • Perayaan
    02 januari
  •  
  • Lahir
    Tahun 330
  •  
  • Kota asal
    Konstantinopel (Sekarang Istambul - Turki)
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 379. Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Basilius adalah salah seorang pujangga besar Gereja. Ia lahir di Asia Kecil pada sekitar tahun 330 (sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama Turki). Keluarga Santo Basilius Agung: nenek, ayah, ibu, dua saudara serta seorang saudarinya semuanya adalah orang kudus. Basilius bertemu dengan Gregorius dari Nazianzen dan menjadi sahabat karib di sekolah di Athena, Yunani. Disana, Basilius lalu dikenal sebagai seorang guru besar yang tersohor.

“Berikanlah makanan terakhirmu kepada pengemis yang mengetuk pintumu, dan percayalah akan belas kasihan Tuhan.”
 

---St.Basilius Agung

Suatu hari, saudarinya yaitu St. Makrina, menyarankan agar ia menjadi seorang biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik saudarinya, lalu pergi ke tempat yang sunyi dan mendirikan biaranya yang pertama. Regula (=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja Timur masih menerapkannya hingga saat ini.

Santo Basilius bersama santo Gregorius, menjadi imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Ajaran sesat ini membingungkan banyak orang.

Basilius selalu bersikap lembut dan murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong orang-orang miskin itu untuk menolong mereka yang lebih miskin dari mereka sendiri. “Berikanlah makanan terakhirmu kepada pengemis yang mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah akan belas kasihan Tuhan.”

Basilius menyumbangkan segala miliknya dan membuka sebuah dapur umum. Di sana orang sering melihatnya mengenakan celemek dan melayani mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 dalam usia empatpuluh sembilan tahun. Sementara Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia enampuluh tahun. Ia dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.

Friday, January 1, 2021

Rahmat Imamat Rahmat Domus Pacis

 

Pada tanggal 26 Desember 2020 Rm. Bambang menayangkan dalam status WAnya sebuah gambar berikut:


Kemudian pada tanggal 28 Desember 2020 gambar itu ditayangkan dalam FB disertai narasi:

"Sebelum pandemi Covid-19 Domus Pacis banyak dikunjungi kelompok-kelompok umat dan menerima sumbangan yang sungguh bermakna untuk menutup kekurangan kebutuhan hidup para rama tua penghuninya. Tetapi pandemi membuat rumah sepi pengunjung. Maka, saya memberanikan diri untuk menjadikan momen ulang tahun ke 40 imamat saya untuk mencari dana demi mendukung tanggungjawab tugas Rm. Fl. Hartanta, Direktur Domus Pacis.
(Sithik ora ditampik, okeh saya pikoleh he he he .....)"

Ternyata ada para pembaca yang tersentuh untuk menyumbang Domus Pacis Puren. Hingga tanggal 1 Januari 2021 Rm. Bambang mencatat ada 30 orang yang menyumbang. Dari 30 orang itu hanya 2 orang yang menyerahkan langsung tunai di kamar Rm. Bambang. Duapuluh delapan orang lainnya mengirimkan lewat rekening bank. Besaran sumbangan sungguh bermacam-macam dari yang puluhan ribu sampai yang nol enam. Terhadap para penyumbang yang memberikan alamat lengkap Rm. Bambang mengirimkan buku kecil yang berisi sharing beberapa pengalaman lampaunya. Buku kecil ini dikirim sebagai tanda terima kasih.

Bagi Rm. Bambang berapapun besaran sumbangan, semua adalah rahmat kasih dari Tuhan yang memberi perhatian pada kehidupan komunitas rama tua di Domus Pacis. Bagaimanapun juga komunitas ini sudah tidak berada di tengah umat seperti paroki yang biasa secara langsung memantau ramanya. Bagaimanapun juga, paling tidak hingga saat ini, jatah dari keuskupan masih membutuhkan tambahan tidak sedikit yang harus dipikirkan oleh pengurus. Rm. Bambang, yang ikut terlibat di Domus Pacis sejak tahun 2010, memahami tidak ringannya beban tanggungjawab Rm. Fl. Hartanta, direktur Domus Pacis yang berusia 40 tahun dan kini tinggal bersama para rama tua sejak 1 September 2020. Maka Rm. Bambang memanfaatkan momen ulang tahun ke 40 imamatnya untuk mengumpulkan sumbangan. Sumbangan bisa diberikan secara langsung kepada Rm. Bambang untuk dicatat. Sedang yang akan mengirimkan lewat bank dapat melalui: TAHAPAN BCA, KCP GEJAYAN, No. 4565146662, a.n. PETRUS NOEGROHO AGOENG SW. Ini adalah rekening bank Domus Pacis.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja

Sabtu, 2 Januari 2021

Yohanes 1:19-28


19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" 
20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" 22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" 23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." 24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. 25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" 26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." 28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang baik akan jujur. Dalam omogan dia tak akan berdusta.
  • Tampaknya, kalau berhadapan dengan perkara di pengadilan sebagai saksi, orang baik akan berbicara sesuai dengan yang dilihat dan didengar. Dia akan berbicara sesuai dengan fakta dan bukan opini.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, ketika berbicara selalu tidak dusta karena berdasarkan kenyataan, orang yang berbicara tidak hanya menjadi orang baik tetapi dengan apapun yang diomongkan menjadi jalan tol hadirat ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi tanda dan sarana Tuhan bersuara lewat suaranya.

Ah, orang baik kalau omong akan mendatangkan penghasilan finansial.

Santo Telemakus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 23 Oktober 2014 Diperbaharui: 27 Desember 2019 Hits: 4595

  • Perayaan
    1 Januari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-4 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Yang tertulis : Datang dari Timur ke Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Dilempari batu sampai mati dalam arena Gladiator di Roma - Italia pada tanggal 1 Januari 391 atau 404 (sumber berbeda)
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Kisah tentang Santo Telemakus ditemukan dalam tulisan Theodoret, Uskup Cyrrhus, Suriah. Telemakus disebutkan sebagai seorang pertapa (sumber lain menyebutkan : biarawan)  yang datang ke Roma dari Timur. Ia mencoba untuk menghentikan perkelahian gladiator di amphitheater Romawi, hingga ia dilempari batu sampai mati oleh orang banyak. Kaisar Kristen Honorius, bagaimanapun, sangat terkesan dengan kemartiran biarawan itu dan mendorongnya untuk mengeluarkan larangan yang sangat bersejarah, yaitu melarang pertunjukan pertarungan gladiator.

Pertarungan gladiator yang terakhir diketahui berlangsung di Roma adalah pada tanggal 1 Januari 404 M, jadi tanggal ini dijadikan sebagai tanggal kemartiran Santo Telemakus.

Sebuah tradisi lain mengisahkan bahwa kemartiran santo Telemakus terjadi setelah ia berdiri di ampiteater dan mengatakan kepada majelis untuk berhenti menyembah berhala dan mempersembahkan korban kepada para dewa. Mendengar pernyataan ini, prefek kota lalu memerintahkan para gladiator untuk membunuh Telemachus.