Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, March 29, 2016

Sabda Hidup


Rabu, 30 Maret 2016
HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Luk. 24:13-35. BcO Kis. 2:22-41

Lukas 24:13-35:
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" 33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." 35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Renungan:
Saya tertarik dengan ayat ini, "Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem" (Luk 24:13). Tujuh mil. Rasanya perjalanan sepanjang itu cukup buat dua orang murid ini bercakap-cakap. Mereka pun memanfaatkan waktu itu untuk mempercakapkan keadaan yang baru mereka alami. Suasana pedih masih meliputi hati mereka.
Saya teringat pengalaman kala kecil dulu. Kami sering jalan kaki ke gua Maria sendang Sriningsih. Kami berangkat pada sore hari, sampai di sendang sudah malam. Lalu menginap di sendang dan paginya baru pulang. Dalam perjalanan pun kami sering memperbincangkan banyak hal, dari yang sekedar guyon maupun yang serius.
Sekarang kesempatan berjalan bersama seperti itu sudah mulai langka. Kebanyakan orang bertemu di suatu tempat lalu duduk bersama dan ngobrol. Lumayan ada waktu untuk ngobrol. Kadang kita pun perlu mengambil waktu untuk ngobrol. Di kesempatan itu kita bisa berbagi banyak hal. Maka rasa saya, seperti dua orang murid ke Emaus itu, kita pun perlu mengambil waktu kita untuk ngobrol tentang pengalaman-pengalaman hidup kita. Dari sana kita akan menemukan banyak hal yang berguna bagi hidup kita.

Kontemplasi:
Bayangkan perjalanan dua orang murid ke Emaus. Mereka bertemu Yesus. Bandingkan dengan pengalamanmu sendiri.

Refleksi:
Apakah anda mempunyai waktu untuk mengobrolkan pengalaman hidup anda?


Doa:
Tuhan, sudilah Engkau hadir dalam percakapan persaudaraan kami. Semoga dengan kehadiranMu kami pun menemukan buah-buah dari percakapan kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan mengambil waktu untuk bercakap-cakap tentang pengalamanku. -nasp-

Monday, March 28, 2016

Sabda Hidup


Selasa, 29 Maret 2016
HARI SELASA
DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 2:36-41; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Yoh. 20:11-18. BcO Kis. 2:1-21

Yohanes 20:11-18:
11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, 12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. 13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." 14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. 17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." 18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Renungan:
Sebuah keluarga akan sedih kala melihat makam keluarganya ambles. Mereka akan segera mencari cara dan mengambil langkah agar makam itu tertata kembali. Setelah tanahnya tertata dengan baik, hati mereka merasa lega. Kesedihan yang sebelumnya menggelayut diubah dengan senyuman syukur.
Maria begitu sedih kala mendapati makam Yesus kosong. Ia hanya bisa duduk dan menangis. Namun tangisan Maria itu sirna karena Yesus mendatanginya. Perjumpaan dengan Yesus mengubah kepedihannya dan menjadikannya pewarta kebangkitan Kristus.
Ada banyak hal yang bisa membuat kita jatuh sedih. Kadang kita pun sulit bangkit dari kesedihan tersebut. Kesedihan itu tidak akan segera pergi kalau kita tidak mau mencari cara dan mengambil langkah untuk meninggalkannya. Tuhan selalu memberi arti pada pengalaman-pengalaman kita. Maka mari kita bangkit bersama Dia. Kita jangan terkungkung oleh kesedihan.

Kontemplasi:
Bayangkan Maria yang sedih tidak menemukan jenasah Yesus. Bayangkan pula keceriaannya kala berjumpa dengan Yesus. Bandingkan dengan pengalamanmu yang serupa.

Refleksi:
Bagaimana bangkit dari kesedihan?

Doa:
Tuhan aku percaya Engkau selalu ada di sekitarku. Semoga aku tidak larut dalam kesedihan karena merasa kehilangan diriMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan bangkit dari suasana sedihku. -nasp-

Lamunan Pekan Paskah I

HARI OKTAF PASKAH
Selasa, 29 Maret 2016

Yohanes 20:11-18

20:11. Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."
20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."
20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, yang namanya perpisahan dapat membuat orang mengalami kehilangan. Perpisahan antar orang yang memiliki hubungan dekat dapat membuat orang dapat mengalami goncangan batin.
  • Katanya, ada ucapan Perancis yang berbunyi partir c’est mourir en peau (perpisahan merupakan kematian kecil). Maka tidak mengherankan kalau kematian jauh dapat membuat susah karena menjadi perpisahan amat besar.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa bagi orang yang biasa bergaul dengan kedalaman batin segala yang segar dan selalu baru justru datang dari setiap berhentinya yang biasa terjadi sehingga segala perpisahan bahkan kematian adalah saat mengalami kesejatian kebaruan dan kesegaran hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu siap mengalami segala selesainya yang biasa terjadi sehari-hari sebagai datangnya kebaruan yang menyegarkan jiwa.
Ah, kalau yang biasa terjadi sudah baik harus dipertahankan.

Sunday, March 27, 2016

KUNJUNGAN REKTOR


Rm. Purwatma dari Seminari Tinggi Kentungan p ada Jumat 18 Maret 2016 datang di Domus Pacis pada sekitar jam 10.00. Di Domus beliau menjadi rektor. Rm. Bambang yang sedang berada di kebun belakang menyambutnya. Rm. Purwatma melihat kesibukan kerja bangunan dan kemudian menyempatkan diri turun di tebing Sungai Gajah Wong untuk melihat talud Domus diantar oleh Pak Joko yang menjadi pemborongan pembangunan. Rm. Bambang hanya menunggu duduk di kursi rodanya. "Talud sisih kidul wis dikerjakke durung?" (Talud bagian selatan sudah mulai dikerjakan belum?) tanya Rm. Purwatma kepada Rm. Bambang sesudah kembali ke atas. "Wis rampung kabeh" (Semua sudah selesai) jawab Rm. Bambang yang disaut oleh Rm. Pur "Wah, nek ngono aku wis suwe ora rene. Nganti ra ngerti perkembangan" (Wah kalau begitu aku sudah lama tak berkunjung sehingga tidak tahu perkembangan). Rm. Bambang berkomentar "Ora kok wis suwe ora rene. Nanging pengerjaane cepet" (Bukan karena sudah lama tak ke sini. Tetapi karena pengerjaannya cepat). Rm. Purwatmo tertawa dan kemudian masuk rumah induk Domus masuk kamar Rm. Harto. Rm. Bambang pun kembali ke kamarnya.

Seusai bertemu Rm. Harto, Rm. Purwatma masuk kamar Rm.Bambang. Dalam omong-omong di kamarnya Rm. Bambang memberi informasi "Saiki kerpus ya wis proses diganti" (Kini proses penggantian kerpus sudah jalan). Kerpus yang sudah banyak pecah telah membuat Domus Pacis mengalami banyak kebocoran selama musim hujan sejah tahun 2014. Rm. Bambang juga berbicara tentang permintaan ke pramurukti khusus untuk Rm. Tri Wahyono agar di Hari Raya Paskah tidak libur. Kebetulan mereka tidak beragama Katolik dan bukan orang Kristiani. Mereka sudah menyanggupi. Kondisi rama-rama juga menjadi pembicaraan. Rm. Bambang juga melaporkan sisa keuangan talud dari sumbangan para donator. Sebelum diserahkan ke keuskupan dengan persetujuan Rm. Purwatma sebagian sisa uang akan dibelanjakan untuk membeli genset yang bagi Domus Pacis dibutuhkan. Sebelum pulang Rm. Purwatma juga mengunjungi Rm. Tri Hartono dan Rm. Tri Wahyono.

Lamunan Pekan Paskah I

HARI OKTAF PASKAH
Senin, 28 Maret 2016

Mateus 28:8-15

28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
28:9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."
28:11. Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.
28:12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
28:13 dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.
28:14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."
28:15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, yang namanya fitnah amat berkaitan dengan usaha memutar balikkan kebenaran. Dengan demikian fitnah selalu ditujukan ke orang atau kelompok orang benar agar mendapatkan penilaian salah di kalangan banyak orang.
  • Tampaknya, berhadapan dengan fitnah yang digerakkan oleh orang-orang kuat dalam masyarakat orang atau kelompok orang dapat tidak memiliki kepercayaan di hadapan masyarakat luas. Bahkan orang karena kekuatan fitnah dapat menjadi musuh masyarakat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa asal demi kebenaran yang memberikan harapan demi kebaikan umum orang yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin tidak akan takut terhadap fitnah sebesar dan sekuat apapun karena segala tantangan dan ancaman justru akan berubah menjadi kekuatan dan peluang lancarnya perjuangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu diberanikan menjadi pewarta dan pelaku kebenaran.
Ah, bagaimanapun juga kalau sudah baik kok masih difitnah ya sia-sia saja kalau terus berjuang.

Sabda Hidup



Senin, 28 Maret 2016
HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih 
Bacaan
Kis. 2:14,22-32; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Mat. 28:8-15. BcO Kis. 1:1-26

Matius 28:8-15:
8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. 9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. 10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." 11 Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. 12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu 13 dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. 14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." 15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Renungan:
Sebuah kebenaran diubah menjadi kesalahan karena uang. Sebuah fakta ditutupi oleh persekongkolan kuasa dan uang. Imam-imam kepala dan para tua-tua ingin mengubah fakta kebangkitan Yesus dengan menyogok para serdadu. Mereka meminta para serdadu untuk memberikan kesaksian palsu (bc. Mat 28:11-15).
Permainan seperti itu nampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang. Banyak penguasa rela mengucurkan banyak uang untuk menutupi kejahatan yang dilakukan. Bahkan tidak sedikit yang membuat suatu sistem yang bisa menjaga dirinya dari ancaman bersalah.
Namun demikian jiwa para perempuan layak untuk kita teladani. Walau ada arus membelokkan fakta Yesus telah bangkit, mereka tetap mebawa kabar kebangkitan tersebut (bc Mat 28: 8-10). Kita tetap perlu terus menyuarakan kebenaran walau ada gerakan kuat untuk mengalihkan berita tersebut. Yesus akan mendampingi kita. "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku" (Mat 28:10).

Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Ingatlah satu dua peristiwa yang kauketahui kebenarannya namun kisah yang dikembangkan berbeda.

Refleksi:
Bagaimana bertahan dalam warta kebenaran?

Doa:
Tuhan, semoga aku mampu menjaga pesan kebenaran. Amin.

Perutusan:
Aku tidak takut mewartakan kebangkitan Kristus. -nasp-

Saturday, March 26, 2016

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Paskah Luk 24:13-35 (Misa Minggu Sore 27 Maret 2016)

diambil dari http://www.mirifica.net By on Jendela Alkitab, Mingguan



Tuhan Telah Bangkit

DALAM konteks kisah kebangkitan Lukas (Luk 24:1-12), ditekankan pengalaman para perempuan di makam yang kosong yang teringat akan perkataan Yesus dahulu. Juga digambarkan pengalaman Petrus menemukan makna peristiwa ini seperti disinggung di atas. Dua jalan itu membawa mereka sampai pada keyakinan bahwa Yesus telah bangkit.

Ada jalan lain, yakni penampakan, seperti yang dialami kedua murid yang menuju Emaus yang diceritakan di dalam Luk 24:13-35. Kedua murid itu tidak segera menyadari bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Bagi mereka, Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Jadi, sepanjang perjalanan itu kedua murid tadi “membaca kembali” warta Kitab Suci mengenai Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Akan tetapi, saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup. Kesadaran inilah yang membuat mereka bergegas mengabarkan kepada kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.

Satu hal lagi. Kedua murid yang berjalan ke Emaus itu disertai oleh dia yang telah bangkit dalam ujud yang tidak segera mereka kenali. Perjumpaan dengan orang yang tak dikenal, tapi dalam suasana dialog tadi menjadi jalan yang setapak demi setapak membuat mereka siap mengenali siapa dia itu sesungguhnya. Banyak perjumpaan yang memperkaya batin yang tak segera disadari. Biarkan dia sendiri yang ada dalam pengalaman itu menunjukkan diri. Dan saat itu juga mereka – kita juga – akan menyadari kenapa tadi “hati kita berkobar-kobar…!” (ay. 32).

Selamat Paskah!
A. Gianto
===============
Kredit Foto : Minggu Paskah Sore, Catholic Icon