Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, May 28, 2018

Lamunan Pekan Biasa VIII

Selasa, 29 Mei 2018

Markus 10:28-31

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tak sedikit orang berpandangan bahwa keluarga adalah landasan utama penghayatan hidup. Orang akan mengutamakan hubungan dengan keluarganya dibandingkan dengan yang lain.
  • Tampaknya, kemampuan orang memiliki hubungan baik dengan keluarga dan sanak-saudara akan menjadi bukti keluhuran budi seseorang. Orang dapat dicap amat buruk kalau tidak mampu menjalin kedekatan dengan mereka.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun harmonis dengan keluarga dan sanak-saudara, itu tidak menjamin keluhuran hidup kalau orang tidak melandaskan diri pada tuntunan nurani sehingga bila harus meninggalkan keluarga justru akan menemukan beratus keluarga lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi anggota dari amat banyak keluarga sekalipun tidak sedarah.
Ah, orang yang baik akan mengutamakan dan berjuang menghayati hidup bersama serumah dengan keluarganya.

Sunday, May 27, 2018

“Lansia Menulis”

diambil dari https://www.kompasiana.com 
24 Februari 2016   22:55 Diperbarui: 24 Februari 2016   23:22

Oleh: Budhi Hendro Prijono
Menulis sering dipahami hanya sebatas kegiatan membuat tulisan menjadi buku atau menulis artikel di koran dan majalah. Pemahaman yang kurang tepat ini sering menyebabkan seseorang urung ‘menulis’. Menulis tidak harus dilakukan oleh seorang ahli karena menulis itu gampang. Semua orang bisa menulis, tak terkecuali lansia.
Menulis merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran atau perasaan dalam wujud tulisan. Tulisan bisa berupa karangan, surat atau catatan. Banyak media dan alat tulis bisa digunakan untuk menulis seperti kertas dan pena atau pensil. Menulis juga bisa menggunakan komputer atau hand-phone. Dengan hand-phone, kita bisa menulis dimana saja dan kapan saja.
Menulis sebenarnya sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Kita biasa membuat catatan harian. Ibu-ibu biasa menulis daftar belanjaan. Kita juga terbiasa menulis ‘es-em-es’ atau menulis status media sosial dalam hand-phone. Dengan demikian bukan alasan bagi kita untuk tidak mulai menulis.
Membaca dan menulis
Membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang dipertemukan oleh benda bernama tulisan. Tulisan menjadi benda yang luar biasa dan terbukti mampu mengubah peradaban. Tanpa hidup di zaman nabi-nabi, kita bisa mengetahui cerita-cerita yang terjadi ribuan tahun yang lalu.
Membaca dan menulis merupakan sepasang kegiatan yang saling terkait. Membaca seperti halnya mata melihat sebuah obyek, merupakan kegiatan syaraf sensorik mata dan membawa informasi sensorik ke otak. Sedangkan menulis seperti halnya menggambar, merupakan kegiatan syaraf motorik tangan mengungkapkan memori otak dalam bentuk tulisan.
Proses menulis merupakan koordinasi beberapa fungsi tubuh sekaligus. Otak merencanakan topik yang akan ditulis kemudian memerintahkan tangan untuk menulis. Tangan menulis sesuai perintah otak. Mata membaca tulisan hasil kerja tangan dan mengirimkan hasil pengamatannya ke otak. Otak mengolah hasil pengamatan mata dan jika ada yang salah, memerintahkan tangan untuk memperbaikinya. Siklus berulang dalam proses membaca dan menulis ini menjadi rangkaian kerja otak yang sempurna.
Biasakan membaca untuk menambah wawasan sekaligus belajar cara menulis. Dengan membaca, kita bisa mengoleksi kosa kata baru, juga bisa belajar trik mengolah kalimat yang enak dibaca. Semakin sering kita membaca, semakin banyak materi menulis yang kita kumpulkan.
Menulis itu sederhana. Bahkan jika sudah terbiasa, menulis menjadi kegiatan refleks yang hampir tanpa berfikir. Begitu memegang pena atau bersiap di atas keyboard laptop atau hand phone, jari-jari tangan akan menari-nari menghasilkan tulisan dengan sendirinya.
Mengapa Lansia?
Membaca sejajar dengan mendengar, yakni memasukan memori ke dalam otak. Sedangkan menulis sejajar dengan berbicara, yakni mengeluarkan atau mewujudkan memori dalam bentuk konkrit sehingga bisa difahami fihak lain.
Otak lansia diyakini sarat memori pengalaman hidup. Banyak teori hidup yang sudah dipraktekan lansia. Jika ditulis, pengalaman seorang lansia bisa menghasilkan banyak buku.
Kebanyakan lansia lebih senang menuangkan simpanan memori otaknya dengan cara berbicara. Sayangnya, tanpa disadari, lansia sering berbicara topik yang sama berulang-ulang. Akibatnya, lawan bicara bosan mendengar. Jika lansia menyimpan memori dalam bentuk tulisan, akan banyak keuntungan yang diperoleh. Dengan menulis, lansia bisa menyimpan banyak data tanpa membebani otak untuk mengingat. Tulisan juga bisa menjadi jembatan komunikasi antara penulis dengan pembacanya tanpa batasan waktu dan ruang. Kesaksian, pengalaman, ide-ide, harapan dan semua isi hati penulis lansia bisa dibaca generasi keturunannya sepanjang waktu di berbagai tempat. Menulis akan merangsang otak berfikir aktif sehingga bisa menghambat datangnya kepikunan. Lebih baik lagi jika lansia menggunakan pena saat menulis karena gerakan jari-jari tangan bisa melatih syaraf motorik halus.
Memulai menulis
Memulai segala sesuatu yang baru, sering terasa berat. Namun semua akan terasa ringan jika dilakukan berulang-ulang. Demikian juga dengan menulis. Beberapa tips di bawah ini bisa membantu lansia yang ingin belajar menulis.
Pertama, tulis saja!
Perintahkan tangan kita untuk menulis apa saja. Gunakan alat tulis yang ada. Carilah topik sederhana yang bisa memacu terwujudnya sebuah tulisan. Menulis kejadian yang sudah kita alami, lebih mudah daripada mengarang. Menulis kejadian hari ini secara berurutan mulai bangun tidur, apa saja yang dilakukan, dimana dan dengan siapa kita berinteraksi serta apa topik pembicaraannya. Kita juga bisa menulis riwayat hidup kita dengan menggali ingatan yang sekian lama terpendam. Otak kita akan dilatih aktif kembali. Kepikunan akan dihambat datang.
Kedua, sempurnakan!
Simpan semua tulisan termasuk konsep tulisan yang kita nilai jelek sekalipun. Baca ulang. Ubah, kurangi, lengkapi tulisan kita sampai kita nilai sempurna. Tehnologi komputer sangat memanjakan penulis. Kita bisa mengubah tulisan semau kita. Ada baiknya tulisan-tulisan hasil kerja tangan kita, disimpan. Kita bisa menilai proses perkembangan tulisan dari waktu ke waktu.
Ketiga, minta orang lain membaca.
Tulisan yang tidak bersifat rahasia, sebaiknya tidak dibaca sendiri. Mintalah orang lain membacanya. Mintalah masukan, komentar atau kritik atas tulisan kita. Ajak beberapa teman membuat kelompok penulis lansia. Setiap anggota membuat tulisan, dibagikan antar anggotanya untuk dibaca dan diberi masukan. Kelompok hobby ini bisa memacu semangat masing-masing lebih produktif menulis.
Keempat, kirim tulisan ke media cetak.
Mengirim tulisan ke media cetak memang bukan tujuan utama penulis pemula tetapi tidak ada salahnya dicoba. Jika dimuat, artinya tulisan kita memenuhi syarat. Jika tidak dimuat, jangan patah semangat. Coba lagi dengan tema-tema lain yang relevan.
Ada beberapa catatan yang perlu diingat sebelum mengirim tulisan ke redaksi media cetak. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis sehingga jangan menulis tema yang kontroversial. Carilah informasi tentang visi dan misi media cetak yang sesuai dengan tema tulisan kita. Buatlah judul tulisan yang singkat dan menarik.

Percikan Nas Senin, 28 Mei 2018

Maria Ana dr Parades
warna liturgi Hijau

Senin, 28 Mei 2018


Bacaan-bacaan:
1Ptr. 1:3-9; Mzm. 111:1-2,5-6,9,10c; Mrk. 10:17-27. BcO 2Kor. 8:1-24.
Nas Injil:
17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 18 Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 27 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”
Percikan Nas
Kadang orang yang tampak selalu mantap akan mengalami keraguan kala akan memulai sesuatu. Hal baru selalu menantang keyakinan seseorang. Keraguan sering menguat di masa-masa tersebut.
Pemuda yang bertanya bagaimana memperoleh hidup kekal mengalami ciut hatinya mendengar tantangan yang disampaikan Yesus. Ia gelisah dan sedih kala mesti menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang miskin. Baginya tantangan Yesus ini berat karena hartanya banyak. Ia tidak ingin melepas miliknya tersebut. Sedangkan Tuhan menghendaki sikap lepas bebas.
Siapapun mungkin mempunyai rasa ragu dalam hidupnya. Namun jangan sampai keraguan tersebut mengalahkan kepastian-kepastian yang ada. Ada banyak hal telah bisa kita lewati. Kita semua mempunyai pengalaman dan data tentang hal tersebut. Ketika kita mesti memasuki hal baru dan sama sekali baru, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah memberkati kita sehingga kita mampu menjalani hidup kita sampai sekarang ini. Rahmat Tuhan selalu ada pada mereka yang hidup dalam jalan-Nya.
Doa:
Tuhan semoga aku selalu yakin Engkau besertaku. Walau haru berada dalam situasi sama sekali baru aku percaya akan rahmat-Mu yang tak pernah berhenti. Aku siap menjalani banyak hal dalam kuasa pendampingan-Mu. Amin.
Percaya di situasi baru.
(goeng).

Lamunan Pekan Biasa VIII

Senin, 28 Mei 2018

Markus 10:17-27

10:17. Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit yang mengaitkan kebaikan seseorang dengan perilakunya. Maka muncul adanya tindakan baik dan tindakan buruk.
  • Tampaknya, perilaku baik juga kerap dikaitkan dengan norma yang ada dalam masyarakat. Bahkan di dalam negara kebaikan juga diatur dengan tata perundangan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun sudah berperilaku sesuai dengan segala norma dan peraturan, orang belum tentu sungguh baik karena kebaikan sejati hanya berada dalam relung nurani sehingga perilaku adalah pancaran dari ketaatan pada nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang mendapatkan sumber utama dari segala macam kebaikan.
Ah, asal taat aturan orang sudah sungguh baik.

Saturday, May 26, 2018

Percikan Nas Minggu, 27 Mei 2018

Percikan Nas
Minggu, 27 Mei 2018

Minggu, 27 Mei 2018

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
warna liturgi Putih
Bacaan-bacaan:
Ul. 4:32-34,39-40; Mzm. 33:4-5,6,9,18-19,20,22; Rm. 8:14-17; Mat. 28:16-20. BcO Ef 1:1-14 atau 1Kor 2:1-16.
Nas Injil:
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Percikan Nas
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Sering kita mengalami kesulitan untuk memahami ini. Saya dalam kesempatan ini pun tidak akan omong diskursus tersebut dalam tulisan singkat ini. Aku hanya ingin berbagi penghayatan dan rasaku dalam mengimani Tritunggal Mahakudus.
Pertama hal yang sangat terasa dalam mengimani Tritunggal adalah rasa dicintai Allah yang tak berbatas waktu dan ruang. Allah mencipta kita. Allah menebus kita. Allah pula yang selalu menuntun kita untuk sampai pada kebenaran sejati. Allah terus berada bersama kita dalam sejarah hidup kita. Yesus pun mengatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20).
Tuhan kita Tritunggal Mahakudus adalah Tuhan yang sangat mencintai kita dan bertanggungjawab. Rasanya sungguh bersyukur selalu disertai Tuhan sepanjang sejarah hidup kita. Kala kita disertai orang tua pun hati ini begitu bergembira apalagi selalu disertai Tuhan. Maka di hari Tritunggal Mahakudus ini kita layak bersyukur karena Tuhan sangat mencintai kita. Mari kita rasakan cinta Tuhan tersebut. Kalau kita mampu merasakan cinta Tuhan hidup kita pun akan subur. Cinta itu akan menyuburkan hidup kita.
Doa:
Tuhan terima kasih cinta-Mu. Engkau tidak tidak pernah meninggalkan kami menjadi yatim piatu. Semoga kami pun mampu menangkap cinta-Mu dengan baik supaya hidup kami menjadi subur. Amin.

Tritunggal Mahakudus.
(goeng).

Lamunan Hari Raya

Tritunggal Mahakudus
Minggu, 27 Mei 2018

Matius 28:16-20

28:16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, setiap agama dan atau kepercayaan dapat menghadirkan pengajaran tentang yang ilahi. Bahkan dalam agama-agama besar ada rumusan-rumusan baku yang secara umum disebut dogma.
  • Tampaknya, sekalipun ada bermacam-macam agama dan atau kepercayaan, secara umum ada keyakinan bahwa Tuhan yang disembah oleh semua agama dan atau kepercayaan adalah Tuhan yang sama. Kemudian dalam Pancasila muncullah rumusan Ketuhanan yang Mahaesa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun sembahan semua agama dan atau kepercayaan sama, kesejatian Tuhan adalah misteri sehingga bila semua penghayat mau sungguh saling jumpa dalam sikap bersaudara orang akan mampu menerima adanya aneka isi penghayatan dan pemahaman akan keesaanTuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menyadari bahwa keesaan Tuhan bukanlah hitungan matematik tetapi jaringan persekutuan yang beraneka.
Ah, tidak tahu tentang Tuhan tidak masalah, karena yang pokok menjalani agama.

Friday, May 25, 2018

Minggu 27 Mei 2018:Tritunggal Mahakudus (Mat 28:16-20 & Rom 8:14-17)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org Ditulis oleh admin pada Sel, 22/05/2018 - 07:11


Rekan-rekan yang budiman!
Seperti diperintahkan sang Guru, para murid kini berkumpul di Galilea. Yesus sendiri telah mendahului mereka. Begitulah, seperti disampaikan Matius pada akhir Injil pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun ini (Mat 28:16-20), di Galilea, di sebuah bukit yang ditunjukkan sang Guru, mereka melihat Yesus dan mengenali kebesarannya, dan mereka sujud kepadanya. Kepada mereka ia menegaskan bahwa semua kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepadanya (ay. 18); sehingga tak perlu lagi ada keraguan (terungkap pada akhir ay. 17). Para murid diminta memperlakukan semua bangsa sebagai muridnya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (ay. 19-20a). Ia juga berjanji menyertai mereka hingga akhir zaman (ay. 20b).
Injil Matius menampilkan Yesus sebagai tokoh Musa yang membawakan hukum-hukum dari Allah sendiri kepada umat. Tetapi berbeda dengan Musa, Yesus mengajar di sebuah bukit yang dapat didekati orang banyak, tidak dari puncak gunung yang tak terjangkau, yang diliputi awan-awan tebal. Bukit tempat Yesus mengajar menampilkan suasana lega, tidak mencekam. Para murid dapat memandanginya, tidak seperti Musa dulu yang wajahnya sedemikian menyilaukan. Tempat pemberian hukum sudah bukan lagi di wilayah yang terpisah dari masyarakat luas dan kehidupan sehari-hari. Bukan lagi di padang gurun, bukan lagi di puncak Sinai, tak lagi terpusatkan di Yerusalem dan Bait Allah. Hukum baru ini tersedia bagi siapa saja. Injil mengutarakannya dengan “Galilea”, yakni wilayah persimpangan tempat macam-macam orang bisa bertemu. Yang disampaikan bukan lagi seperangkat aturan dan hukum, melainkan ajaran kehidupan, kesahajaan, serta keluguan batin, karena Kerajaan Allah berdiam dalam kesahajaan dan keluguan seperti itu. Kini pada akhir Injil Matius, para murid diminta agar membuat ajaran tadi lebih dikenal lebih banyak orang lagi. Akan kita dalami hal ini lebih lanjut nanti.
KUASA DI SURGA DAN DI BUMI
Gambaran ini bukan barang baru. Sudah dikenal dari kitab Daniel 7:14. Dalam penglihatan Daniel, tampillah sosok yang seperti manusia datang menghadap Yang Lanjut Usia untuk memperoleh kuasa daripada-Nya. Dan kekuasaan ini tak akan ada selesainya. Bagaimana menafsirkan gambaran ini? Sering sosok itu diterapkan kepada seorang Mesias yang akan datang. Pendapat ini tidak banyak berguna. Hanya membuai harapan. Juga sering dipandang sebagai kejayaan kaum beriman. Tetapi pemahaman ini juga tidak banyak membantu. Malah kurang cocok dengan kehidupan beragama yang sejati yang tidak mencari kejayaan, melainkan terarah pada sikap bersujud. Penglihatan Daniel tadi sebetulnya menggambarkan kemanusiaan yang baru. Yakni kemanusiaan yang selalu mengarah kepada Yang Ilahi. Kemanusiaan yang berkembang dalam hubungan dengan dia yang memberi kuasa atas jagat ini. Itulah yang telah diperoleh kembali oleh Yesus dengan salib dan kebangkitannya. Dan itulah yang kini dibagikan kepada umat manusia.
Yesus membuat kemanusiaan baru dalam penglihatan Daniel tadi menjadi kenyataan. Di dalam dirinya Yang Ilahi dapat tampil dengan leluasa, bukan hanya di surga, tapi juga di bumi. Juga tidak ada lagi tempat di surga atau di bumi yang menjadi terlarang bagi kemanusiaan karena semuanya diciptakan bagi kemanusiaan baru ini. Bukan berarti ruang leluasa itu dapat dipakai begitu saja. Keleluasaan membawa serta tanggung jawab menjaga kelestarian. Justru kemanusiaan yang terbuka ini ialah yang ikut mengembangkan jagat sehingga menjadi tempat Yang Ilahi dimuliakan.
SIAPA SAJA SEBAGAI SESAMA MURID
Kata-kata Yesus dalam ay. 19 itu tidak perlu ditafsirkan sebagai perintah untuk “mempertobatkan” semua bangsa menjadi muridnya. Dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, perintah itu dapat dirumuskan demikian: “Kalian akan pergi ke mana-mana dan menjumpai macam-macam orang; perlakukanlah mereka itu sebagai muridku!” Jadi tekanan bukan pada membuat bangsa-bangsa menjadi murid Yesus dengan menurunkan ilmu atau pengetahuan atau kebiasaan-kebiasaan. Yang diminta Yesus ialah agar para murid tadi menganggap siapa saja yang akan mereka jumpai nanti sebagai sesama murid. Pernyataan ini amat berani. Di situ terungkap kepercayaan yang amat besar akan kemanusiaan. Bagaimana penjelasannya?
Wafat dan kebangkitan Yesus telah mengubah jagat ini secara menyeluruh sehingga siapa saja, pernah ketemu atau tidak dengannya, pernah mendengar atau belum tentangnya, pada dasarnya sudah menjadi ciptaan baru, menjadi kemanusiaan baru. Dalam bahasa Injil – mereka sudah menjadi murid Yesus sendiri. Dan murid-murid yang mengikutinya dari tempat ke tempat dulu diminta menganggap semua orang yang mereka jumpai nanti sebagai sesama murid. Tak ada ruang lagi bagi mereka untuk berbangga-bangga. Mereka tidak lebih dekat, tidak lebih baik, tidak lebih memiliki ajaran benar. Semua orang ialah muridnya dan para murid pertama justru diminta memperlakukan mereka seperti diri mereka sendiri. Dan yang memang merasa dekat hendaknya memperlakukan orang lain yang belum pernah mendengar tentang Yesus sebagai yang sama-sama telah mendapat pengajaran batin dari Yesus sendiri! Tentu saja janganlah kita mengerti hal ini sebagai gagasan sama rata sama rasa yang akan membuat pengajaran ini sebuah karikatur belaka.
Apakah tafsiran ini tidak berseberangan dengan ciri misioner Gereja? Samasekali tidak. Pemahaman ini justru menunjukkan betapa luhurnya pengutusan para murid. Mereka diminta memperlakukan semua orang sebagai sesama, bahkan sesama murid. Mereka dapat saling belajar tentang kekayaan masing-masing. Baru demikian komunitas para pengikut Yesus akan memenuhi keinginannya. Inilah yang membuat iman tidak berlawanan dengan kebudayaan. Bahkan iman berkembang dengan kebudayaan. Bila begitu kemanusiaan dapat menjadi juga kemanusiaan yang dapat didiami keilahian seperti dalam kehidupan Yesus sendiri.
Pengutusan tidak perlu diartikan sebagai penugasan membagi-bagikan kebenaran kepada mereka yang dianggap berada dalam ketidaktahuan. Sebaliknyalah, para murid itu baru boleh disebut menjadi utusan yang sungguh bila membiarkan diri diperkaya oleh “para bangsa” – oleh orang-orang yang mereka datangi. Para murid diutus ke mana-mana dan di semua tempat itulah mereka akan menemukan orang-orang lain yang memiliki pelbagai pengalaman mengenai Yang Ilahi.
Dalam Injil hari ini hal itu dikatakan dengan “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus!” Artinya, mengajak orang mengenal adanya pengasal hidup (Bapa), dan yang menjalankannya sebaik-baiknya (Putra), serta yang melangsungkan dan menjaganya (Roh Kudus). Mengantar orang ke dalam hidup komunitas Gereja – membaptis – ialah sebuah cara untuk menandai niat untuk mendalami serta menghayati perintah tadi. Ada pelbagai cara lain dalam hidup bersama sebagai murid Yesus. Kehidupan Gereja pada abad-abad pertama justru menunjukkan kenyataan ini. Orang dari kalangan Yahudi diajak terbuka menerima orang dari kalangan Yunani. Inilah kekayaan pengutusan para murid.
RAGU-RAGU?
Dalam ay. 17b disebutkan ada beberapa orang yang ragu-ragu. Maksudnya, tidak begitu yakin bahwa yang mereka dapati dan mereka lihat di gunung di Galilea itu ialah Yesus yang sudah bangkit. Dalam hati kecil mereka bertanya, betulkah demikian? Kok sesederhana ini, kok tidak menggetarkan, kok tidak membuat orang takluk langsung. Dan juga, kok tidak memberi kemuliaan besar kepada mereka yang telah setia mengikutinya dari tempat ke tempat? Terhadap keraguan ini Yesus hanyalah memberi penegasan iman: yang dibawakannya ke dunia ini ialah kemanusiaan yang tertebus, kemanusiaan baru, yang terbuka bagi keilahian. Dan itulah kuasa atas surga dan bumi. Menjadi muridnya berarti ambil bagian dalam kemanusiaan yang tertebus ini. Bila demikian para murid boleh yakin akan tetap disertai guru mereka hingga akhir zaman, hingga saat kemanusiaan yang tertebus itu menjadi kenyataan di bumi dan di surga seutuhnya. Kata-kata ini menjadi bekal hidup bagi siapa saja yang mau mengikuti Yesus. Juga bagi kita sekarang.
DARI BACAAN KEDUA: PENGARAHAN PAULUS (Rom 8:14-17)
Paulus dalam petikan surat Roma yang dibacakan kali ini menegaskan bahwa siapa saja- semua orang – yang dipimpin Roh Allah ialah “anak Allah”, artinya, sudah amat dekat dengan-Nya. Inilah kekuatan Roh-Nya. Penegasan ini menggemakan iman akan karya ilahi dalam tiap orang seperti tertera dalam Mat 28:19 yang dikupas di atas, yakni menganggap siapa saja sebagai sesama murid. Bukan untuk ditobatkan, melainkan untuk diajak berbagi keyakinan akan karya ilahi dalam diri masing-masing.
Pandangan seperti ini bisa terasa terlalu optimis dan bisa jadi rada naif dalam dunia yang terbagi-bagi dalam agama. Tetapi yang diarah Paulus bukan sekadar keagamaan melainkan kerohanian mempercayai kehadiran ilahi di dalam diri siapa saja.
PAHAM TRITUNGGAL
Dalam menjelaskan iman akan Tritunggal, dapat membantu bila diperlihatkan juga pendapat mana yang tidak cocok dengan penghayatan iman yang nyata dalam Gereja. Yang bukan ajaran iman ialah gagasan “tri-teisme”, yakni adanya tiga sesembahan. Ada dua pendapat lain yang tidak amat kentara ketidaksesuaiannya dengan penghayatan iman yang benar. Yang pertama mengatakan bahwa Putra dan Roh Kudus itu diciptakan oleh Bapa, atau semacam perpanjangan dari Allah yang satu – pendapat ini biasanya disebut “subordinasionisme” karena mem-bawah-kan kedua pribadi pada salah satu. Ada pula penjelasan yang mengatakan bahwa Tritunggal hanyalah sekadar tiga cara ("modus") Allah tampil bagi manusia dan bukan sungguh pribadi ilahi. Pendapat lazim disebut “modalisme”. Termasuk di sini pendapat bahwa ketiganya hanya kiasan mengenai sifat-sifat ilahi belaka. Iman yang benar tidak berdasarkan gagasan-gagasan tadi.
Pengertian akanTritunggal yang sesuai dengan ajaran iman ialah yang menerima keilahian sebagai yang mengasalkan kehidupan. Inilah Sang Bapa. Kehidupan yang diberikan Bapa ini terlaksana sepenuhnya dalam Sang Putera. Oleh karena itu Dia menjadi jalan yang benar yang menghidupkan. Dan kekuatan yang membuat kehidupan ini betul-betul ada serta terpelihara ialah Roh Kudus.
Salam hangat,
A. Gianto