Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 25, 2019

Lamunan Pekan Biasa XXV

Kamis, 26 September 2019

Lukas 9:7-9

9:7 Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.
9:8 Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.
9:9 Tetapi Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat menjadi cemas karena berhadapan dengan ancaman. Dia takut terganggu keamanan dan keselamatannya.
  • Tampaknya, orang dapat cemas karena menghadapi masa depan. Dia takut dengan masa depan yang suram.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun berhadapan dengan ancaman dan atau masa depan suram, orang belum tentu merasa cemas karena kecemasan sejati terkait dengan kehidupan masa lalu yang dikuasai oleh keburukan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu mengolah pengalaman buruk di masa lampau sehingga terbebas dari perasaan takut atau cemas berhadapan dengan realita hidup.
Ah, mana ada orang tidak cemas kalau berhadapan dengan ancaman.

Rm. Suntoro Masuk Domus


Pada hari Selasa 17 September 2019 sepulang dari Jagongan Iman kelompok lansia Pringgolayan, Rm. Bambang menemukan pesan WA dari Rm. Sapto Nugroho yang ditulis pada jam 18.18 "Siang kala wau kula dipun wa bp Uskup. Dipun dhawuhi nyawisaken kamar kagem rm Suntoro. Rm Suntoro kondur saking rumah sakit lajeng lenggah ing Domus. Sonten kala wau kula sampun nyuwun tulung mas falah lan mas ardi kangge nyawisaken. Anggenipun kondur saking rmh sakit dereng wonten kepastian" (Tadi siang saya mendapatkan WA dari Bapak Uskup. Beliau meminta menyiapkan kamar untuk Rm. Suntoro. Rm. Suntoro sepulang dari rumah sakit akan tinggal di Domus Pacis. Tadi sore saya sudah minta tolong Mas Falah dan Mas Ardi untuk menyiapkan. Kapan pulang dari rumah sakit, belum ada kepastian).

Pada Senin 23 September 2019 memang ada berita bahwa Rm. Suntara akan masuk Domus Pacis pada Selasa berikutnya di pagi hari. Kamar pun langsung dibersihkan secara khusus, karena beliau membutuhkan tempat yang sungguh bersih. Beberapa alat akan menyertai. Ternyata pada Selasa pagi Mas Falah dipanggil oleh Sr. Lusi dari RS Panti Rapih untuk dilatih menyedot dahak dengan alat khusus. Tabung besar berisi oxigen pun sudah datang dari Panti Rapih. Tetapi hari itu Rm. Suntara masih ditahan di Panti Rapih. Pemindahan ke Domus Pacis menanti Mas Falah sungguh trampil dalam menyedot dahak. Di Domus kasur yang disiapkan untuk Rm. Suntara adalah kasur air karena beliau ternyata juga mengalami luka besar di bagian belakang tubuh akibat terus berbaring. Ketika para rama sedang makan pagi pada Rabu 25 September 2019, Mas Falah berpamitan kepada Rm. Bambang untuk ke Panti Rapih. "Isih latihan , ya?" (Masih harus berlatih, ya?) tanya Rm. Bambang yang dijawab oleh Mas Falah dengan anggukan disertai kata "Inggih" (Ya). Ternyata pagi ini, Rabu 25 September 2019, sekitar jam 10.30 Rm. Suntara sudah diantar oleh perawat RS Panti Rapih, Rm. Ariawan (Pastor Paroki Pringgolayan), dan beberapa tokoh Paroki Pringgolayan.

Tuesday, September 24, 2019

Santo Vinsensius Maria Strambi

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3809 Diterbitkan: 22 September 2015 Diperbaharui: 28 September 2015
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    25 September
  •  
  • Lahir
    1 Januari 1745
  •  
  • Kota asal
    Civitavecchia, Italia
  •  
  • Wafat
    1 Januari 1824 di Roma, Italia - Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    1 April 1894 oleh Paus Leo XIII (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    26 April 1925 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
    11 Juni 1950 oleh Paus Pius XII Sumber : Katakombe.Org

Santo Vinsensius Maria Strambi lahir pada tanggal 1 Januari 1745 dari pasangan Giuseppe (Yoseph) Strambi dan Elenora Strambi. Ia adalah anak bungsu dari empat orang bersaudara, namun tiga orang kakaknya meninggal saat masih kecil. Kedua orangtuanya adalah pasangan suami–istri Katolik yang taat dan saleh. Ayahnya adalah seorang apoteker yang dermawan dan ibunya dikenal karena kesucian hidupnya.
Sejak kecil Vinsensius sudah tertarik pada cara hidup religius sebagai biarawan. Karena itu kedua orangtuanya lalu menyekolahkan dia di Seminari keuskupan setempat. Di sana ia belajar Filsafat dan Teologi di bawah bimbingan imam-imam Fransiskan dan Dominikan. Namun karena fisiknya yang terlalu lemah, ia ditolak saat melamar ke biara Fransiskan dan biara Vincentian. Vinsensius tidak berputus-asa. Semangatnya untuk melayani Tuhan sebagai seorang imam tidaklah padam. Ia berangkat ke kota Roma untuk melanjutkan studi teologinya dan diterima masuk biara Dominikan di Viterbo.
Sebelum ditahbiskan menjadi seorang imam Dominikan, Vinsensius mengikuti retret di sebuah rumah biara Passionis di bawah bimbingan Santo Paulus dari Salib, pendiri Konggregasi Pasionis. Terpengaruh oleh kesalehan Santo Paulus dari Salib, Vinsensius segera memutuskan untuk menjadi anggota dari konggregasi yang baru didirikan itu.
Meskipun keluarganya sangat menentang, Vinsensius tidak goyah. Ia berdoa agar Tuhan dapat melembutkan hati ayahnya agar mau mengizinkan dia menjalani hidup imamatnya sebagai seorang biarawan Passionis. Kesabaran, ketulusan dan ketekunan doanya tidak sia-sia. Tuhan mengabulkan doanya dengan cara memanggil kembali ayahnya menghadap takhta Allah. Ayahnya meninggal dunia dalam damai, dan dengan itu Vinsensius dapat dengan leluasa mengikuti panggilan luhur Allah. Pada bulan September 1768, dan setahun kemudian ia mengucapkan kaulnya yang pertama sebagai biarawan Passionis.
Ternyata sebagai seorang imam, Vinsensius mempunyai bakat istimewa. Dengan mudah ia dapat bergaul dengan umatnya terutama kaum muda. Sifatnya yang sabar, lemah-lembut dan simpatik. Di dalam konggregasinya, ia diserahi beberapa tugas penting, antara lain menulis riwayat hidup Santo Paulus dari Salib, pendiri Konggregasi Passionis. Kotbah-kotbah dan tulisan-tulisan rohaninya bergema hingga ke Roma.
Dalam sidang para Kardinal pada tahun 1800, pencalonannya sebagai Uskup disetujui. Oleh karena itu Paus Pius VII (1800-1823) mengangkat dia menjadi Uskup Tolentino dan Macerata. Sebagai Uskup ia dengan giat membereskan administrasi dan organisasi keuskupan sambil menggalakkan pembinaan rohani umatnya. Tetapi kesetiaannya pada Paus menimbulkan pertentangan dengan Kaisar Napoleon I, yang menguasai sebagian besar Italia pada awal abad 19. Oleh karena itu, Vinsensius dikucilkan dari keuskupannya pada tahun 1808. Tahun 1813 ia baru dapat kembali ke keuskupan setelah kejatuhan Napoleon.
Sembilan tahun berikutnya, Paus Leo XII (1823-1829) mengizinkan Vinsensius untuk meletakkan jabatannya sebagai Uskup dan mengundang dia untuk tinggal bersamanya di istana kepausan sebagai penasehat Paus. Vinsensius melayani Paus dalam kedudukan sebagai penasehat sampai hari kematiannya tepat pada ulang tahunnya 1 Januari 1824.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Biasa XXV

Rabu, 25 September 2019

Lukas 9:1-6

9:1. Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
9:2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
9:3 kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
9:4 Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
9:5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."
9:6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, doa biasa dimengerti sebagai kegiatan berdialog dengan Tuhan. Itu adalah perjumpaan personal dengan Tuhan.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa makin banyak orang berdoa makin peka dia mendengarkan suara Tuhan. Dia akan makin mampu menangkap panggilan ilahi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun biasa meluangkan waktu khusus untuk berdoa dan beribadat, tetapi tidak membiasakan menguasai diri dari kecenderungan jahat, orang tidak akan sungguh mendengar panggilan ilahi yang membawa kedalam kebersamaan menghadirkan kesejahteraan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa panggilan Tuhan terungkap dalam penguasaan akan kecenderungan jahat dalam diri dan terwujud dalam partisipasi menghadirkan kesejahteraan umum.
Ah, panggilan Tuhan itu ya jadi imam, suster, atau bruder.

Santo Pasifikus


  • Perayaan
    24 September
  •  
  • Lahir
    1 Maret 1653
  •  
  • Kota asal
    San Severino - Italia
  •  
  • Wafat
    24 September 1721 |
  •  
  • Beatifikasi
    4 Agustus 1786 oleh Paus Pius VI
  •  
  • Kanonisasi
    26 Mei 1839 oleh Paus Gregorius IX Sumber : Katakombe.Org

Santo dari Italia ini  dilahirkan pada tahun 1653 dan diberi nama Charles Antonius. Ia belum berumur lima tahun ketika orangtuanya yang penuh kasih meninggal dunia. Ia kemudian dipelihara oleh pamannya. Pamannya ini merupakan salib bagi berat baginya, karena pamannya adalah seorang yang kejam. Ia memperlakukan Charles lebih buruk dari pelayan.
Namun demikian, Charles kecil menerima perlakuan keras ini dengan diam dan sabar. Ketika usianya tujuh belas tahun, Charles masuk biara Fransiskan. Ia memilih nama Pasifikus yang berarti “damai”. Setelah ditahbiskan sebagai imam, ia menjadi guru; namun demikian besar kerinduannya untuk menjadi seorang misionaris. Betapa bahagia ia ketika superior mengutusnya dalam suatu misi khotbah ke banyak kota kecil dan dusun-dusun.
Pastor Pasifikus amat populer di kalangan masyarakat desa sebab khotbah-khotbahnya sederhana dan lembut. Di samping itu, ia dikaruniai Tuhan  dengan kemampuan yang mengagumkan yaitu ia dapat membaca hati dan pikiran seseorang.
Suatu ketika, ia mengingatkan seorang laki-laki dalam Sakramen Tobat karena tidak bersikap baik kepada ibunya. Orang ini juga menyimpan pikiran-pikiran yang kotor dalam benaknya. Apa yang dikatakan Pasifikus benar adanya. Orang itu akhirnya sungguh menyesali dosa-dosanya. Ke manapun Pasifikus pergi untuk berkhotbah dan melayani pengakuan dosa, ia mendatangkan banyak kebajikan. Tetapi, ketika baru berkhotbah selama enam tahun, Pasifikus harus berhenti sebab kesehatannya yang buruk. Ia menjadi buta, tuli dan lumpuh.
Ia kemudian melewatkan waktunya dengan berdoa dan bermatiraga dalam biara. Ia menolong sesama dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Tuhan senantiasa amat dekat dengannya. Tuhan memberinya anugerah nubuat. St. Pasifikus menubuatkan kemenangan besar balatentara Kristen atas balatentara Turki di Belgrade. Ia juga mengatakan kepada seorang uskup, “Yang Mulia - surga! Surga! Dan aku akan menyusulmu segera!” Sekitar dua minggu kemudian, sang uskup wafat. Tak lama sesudahnya, seperti yang telah dikatakannya, St. Pasifikus wafat pula. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1721. Banyak mukjizat terjadi di makamnya. Pasifikus dimaklumkan sebagai seorang kudus oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1839.
St. Pasifikus mengalami masa kecil yang tidak mengenakkan. Ia bisa saja membiarkan diri tumbuh menjadi seorang dewasa yang dikuasai kemarahan dan frustrasi. Tetapi, ia berdoa kepada Yesus mohon hati yang mengampuni dan sabar. Masa-masa sulitnya berubah menjadi saat-saat bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Sebab ia telah banyak menderita, ia dapat bersimpati pada penderitaan orang-orang lain dan membantu mereka untuk menemukan Tuhan dalam hidup mereka.
 Sumber : Katakombe.Org

Monday, September 23, 2019

Percikan Nas Selasa,24 September 2019

Vinsensius Maria Strambi
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan: 
Ezr. 6:7-8,12b,14-20; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 8:19-21.
BcO Yes. 5:8-13,17-24.

Bacaan Injil: 
19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. 20 Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." 21 Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

Memetik Inspirasi:
Suatu kali ada beberapa orang tua murid ngomong dengan seseorang, “Anakmu tadi dimarahi guru lo. Kata-kata guru itu kasar sekali. Itu tidak baik bagi masa depan anakmu.” Sang ibu itu diam mendengarkan omongan mereka. Hatinya sempat agak tersulut, tapi ia berusaha tenang. Ketika bertemu anaknya ia bertanya, “Apa bener kamu tadi dimarahi Bu Guru?” Sang anak menjawab, “Bu Guru tidak marah, hanya suaranya keras.”
Para tetangga dan saudara Yesus resah karena Yesus dikira gila atau kerasukan setan. Mereka khawatir dan mendesak Maria untuk menemui Yesus. Maria pun menemui Yesus, namun Yesus sedang mengajar. Ketika ada orang yang menyampaikan keberadaan ibunya Yesus pun menjawab, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Perkataan Yesus itu bagi orang umum terasa kasar dan keras. Namun bagi Maria itu menegaskan dirinya untuk terus mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan.
Kadang kita pun menemui berita-berita heboh yang bisa membuat hati menjadi panas. Kalau kita menyikapi berita dengan reaksioner, maka berita miring dikit pun akan menyulut emosi kita. Kiranya kita perlu menyelami makna berita yang ada dan menyikapinya secara dewasa. Kedewasaan kita akan terlihat pada sikap kita atas berita yang kita terima.

Refleksi:
Bagaimana anda menyikapi berita dan kata?

Doa:
Bapa, bantulah aku agar mampu menangkap berita dengan baik. Jagalah hatiku agar tidak gampang tersulut emosi. Amin.

Menyikapi berita dan kata
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Biasa XXV

Selasa, 24 September 2019

Lukas 8:19-21

8:19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.
8:20 Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau."
8:21 Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang memahami yang namanya saudara adalah yang memiliki hubungan darah. Dari sini dapat muncul pohon silsilah.
  • Tampaknya, pada zaman kini persaudaraan juga dapat dijalin oleh orang-orang yang memiliki kesamaan kategorial. Dari sini muncul kelompok-kelompok bahkan organisasi-organisasi yang diikat misalnyaka rena adanya kesamaan minat, profesi, dan daerah asal.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bisa erat berhubungan secara harmonis dengan orang-orang sesama silsilah bahkan dengan yang sama minat, orang belum tentu mengalami persaudaraan yang sejatinya terjadi karena ikatan hati sesama pendengar suara nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan biasa mendengar suara kedalaman batin sehingga mampu terbuka bersaudara dengan siapapun.
Ah, pada jaman kini yang namanya saudara adalah kakak atau adik sesama orangtua.