
Di dalam seminar selama 2 jam, Pak Pratik hanya membacakan secara pelan-pelan. Para peserta yang berjumlah hampir 300 orang (30an datang tanpa mendaftar) dipersilahkan secara langsung menanggapi atau bertanya tanpa perlu menunggu pembicaraan selesai. Ternyata memang benar, setiap kali ada yang mengangkat tangan untuk menyela. Maka dari halaman 1 pembacaan melompat ke halaman 3 baris terakhir terus halaman 4. Ternyata banyak peserta tersentak ketika kata-kata Khalil Gibran dibacakan justru baru pada bait 1:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu
akan dirinya sendiri.
Mereka terlahir melalui engkau tetapi bukan
darimu.
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka
bukan milikmu.
Ternyata pernyataan anak bukan milik orang tua tetapi orang tua "hanyalah" jalan lewat hadirnya anak di dunia telah menyinggung perasaan. Beberapa ibu yang mengalami anak dan menantunya tidak mau "memahami" kemauan baik orang tua mengajukan protes. Hal ini menjadi diskusi hangat bahkan ada yang panas. Apalagi beberapa bapak tampak mengatakan "tidak usah dimasalahkan dan tenang saja". Oleh Pak Pratik dinyatakan justru di sinilah orang tua mendapatkan kesempatan belajar dari anak. Orang tua dapat belajar seperti anak tetapi anak jangan dibuat seperti orang tua. Anak lahir bagaikan anak panah membawa panggilan sendiri dari Sang Pemanah dan orang tua adalah busurnya. Kalau anak "tak mau memperhatikan atau mendengarkan" orang tua, orang tua harus sadar bahwa ANAK YANG BAIK SELALU INGIN JADI DIRINYA SENDIRI. Ini sehat sesuai panggilan. Yang harus diubah adalah sikap orang tua. Dalam situasi ekstrim, ORANG TUA HARUS TIDAK KEHILANGAN CINTA. Ketika novena hari itu selalu, sambil makan beberapa mengatakan bahwa pembicaraan kali itu sungguh-sungguh mengena. Secara operasional ada tips khusus yang disampaikan oleh Pak Pratik: 1) Kita mempunyai dunia kita sendiri dan "pensiun" adalah dunia baru; 2) Jangan terlalu banyak keinginan.
0 comments:
Post a Comment