Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"
Hari itu adalah Hari Natal 25 Desember 2016. Rm. Harto sudah sejak sekitar jam 10.00 pagi dijemput anak-anak muda anggota San Eugidio untuk Natalan bersama. Menurut Rm. Tri Hartono beliau pulang ke Domus sudah jam 15.00. "Rama Harto gak enak badan" kata Mbak Tari kepada Rm. Bambang pada jam 16.30. Rm. Bambang sudah siap keluar bersama. Beberapa hari sebelumnya di kamar makan telah terjadi kesepakatan antara Rm. Harto, Rm. Yadi, Rm. Tri Hartono dan Rm. Bambang. Mereka sepakat makan di luar. Selain karena yang bergiliran masak sudah pamit akan pergi ke luar Jawa, hal itu juga dapat menjadi kesempatan untuk merasakan nikmat jasmaniah di Hari Natal. Bu Rini siap untuk menyopiri granmax, mobil Domus Pacis. Rm. Bambang dalam pembicaraan kesepakatan mengatakan "Njing jajan nedha sareng teng restoran kulon kretek Gondolayu" (Besok kita makan bersama di restoran sebelah barat jembatan Gondolayu). Rm. Bambang menunjuk tempat itu, karena pada tahun 2015 Komunitas Rama Domus pernah keluar bersama untuk makan siang di luar. Pada waktu itu Rm. Harto mengajak ke restoran itu tetapi meski sudah jam 11.30 belum melayani pembeli.
"Rama Yadi pun kundur?" (Apakah Rm. Yadi sudah datang?) tanya Rm. Bambang kepada Mbak Tari yang mendapatkan jawaban "Sampun, nanging lajeng kancingan sare" (Sudah, tetapi kemudian tutup pintu dan dikunci untuk tidur). Rm. Bambang minta Mbak Tari untuk memberi tahu Rm. Yadi bahwa akan pergi makan di luar. Tetapi, sesudah kembali dari kamar Rm. Yadi, Mbak Tari berkata "Kula dhodhog mboten wungu" (Pintu sudah saya ketuk-ketuk, tetapi beliau tidak terbangun). Rm. Bambang yakin bahwa Rm. Yadi kecapekan baru pulang dari membantu Misa Natal di Wonosari. Ketika itu Rm. Tri Hartono sudah siap dan Bu Rini juga siaga dengan kunci mobil. "Rama Harto disuwuni pirsa. Melu ora?" (Rm. Harto ditanya akan ikut atau tidak) Rm. Bambang meminta Mbak Tari menanyai Rm. Harto. Mbak Tari kembali ke kamar Rm. Bambang dan kemudian ke Rm. Bambang lagi membawa jawaban sambil tersenyum "Tumuuuuut" (Akan ikuuuut). Maka Mbak Tari pun segera berbenah pakaian untuk melayani Rm. Harto dengan kursi roda serta membopongnya untuk naik dan turun mobil. Ketika menghadapi menu-menu yang dipesan, tampaknya Rm. Harto memang gembira dan amat ceria sekali.
16 Lalu mereka
cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang
berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka
memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan
semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala
itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam
hatinya dan merenungkannya. 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil
memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka
lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. 21 Dan
ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu
nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Renungan:
Mungkin kita
pernah mengalami peristiwa-peristiwa istimewa dan besar dalam hidup kita. Ada
di antara kita yang tertegun ketika mengalaminya. Ada juga yang bersorak
gembira menyambutnya. Apapun ekspresi yang muncul peristiwa tersebut
menggoreskan tinta yang tajam pada sejarah hidup manusia.
Maria mengalami
peristiwa besar dalam hidupnya. Ia mengandung dan melahirkan Putera Allah.
Kelahiran sang Putera pun terlaksana bukan dalam suatu cara yang biasa. Ia
dilahirkan kala sensus penduduk pertama di dunia dilangsungkan. Tempatnya pun
hanya kandang hewan. Walau tak mewartakan apa-apa, para gembala datang dan
memuji kelahiran sang Putera. Peristiwa-peristiwa tersebut menghadirkan sejuta
makna dalam hidup Maria. Menyikapi itu, "Maria menyimpan segala perkara
itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19).
Menyikapi
peristiwa besar dalam hidupnya Maria diam, menyimpan dalam hati dan
merenungkannya. Tidak ada sorak sorai dalam kata dan tingkah laku Maria.
Peristiwa besar yang dialami perlu didalami dalam batinnya dan direnungkannya.
Pembatinan Maria ini mengantarkannya sebagai ibu seperti ibu umumnya. Ia mendidik
anaknya dan mengantarkannya bertemu dengan aneka tradisi hidup, budaya dan
agama. Maria tetap Maria. Ia seorang ibu yang berhati dan beriman mendalam.
Kontemplasi:
Bayangkan sikap
ibu Maria menanggapi dan menghadapi rencana Tuhan.
Refleksi:
Bagaimana
menyikapi peristiwa-peristiwa besar dalam hidupmu?
Doa:
Tuhan Allah kami,
semoga kami pun mampu mengolah segala pengalaman hidup kami dengan baik. Semoga
kami menyediakan waktu untuk membatinkan dan merenungkannya. Amin.
Perutusan:
Aku akan
membatinkan dan merenungkan pengalaman hidupku. -nasp-
2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai
Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan
apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang
apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di
dalam hatinya dan merenungkannya.
2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji
dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat,
semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
2:21. Dan ketika
genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama
yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, orang akan amat
bangga kalau dia atau keluarganya menjadi kekaguman banyak orang. Apalagi kalau
dia atau keluarganya dipandang sebagai sosok yang menjadi calon tokoh masyhur,
orang akan amat bahagia.
Tampaknya, orang yang menjadi
sasaran kekaguman banyak orang biasanya tidak menyembunyikan rasa gembiranya.
Dia dapat bercerita kepada sanak saudara dan orang-orang dekat serta siapapun
yang dijumpainya.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa akrab dengan kedalaman batin, orang yang sungguh
mengagumkan dan bahkan mampu menghadirkan kemuliaan sejati akan memasukkan
segala peristiwa termasuk yang menggembirakan di dalam keheningan hati sehingga
tidak hanyut dalam berbagai sanjungan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya
dengan gema relung hati bila berhadapan dengan hal-hal khusus orang
pertama-tama akan menjadikan itu sebagai bahan omong-omong dengan kedalaman
batin.
Ah, segala kekaguman adalah
pasar yang dapat menghadirkan banyak financial.
Injil hari ini bersabda : "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di
antara kita". Firman atau Sang Sabda adalah Allah. Firman telah
menjadi manusia berarti Allah telah menjelma menjadi manusia. Dengan
misteri penjelmaan Allah menjadi manusia berarti manusia mempunyai
dimensi Illahi dan Allah mempunyai dimensi manusiawi. Dengan demikian
maka relasi dan komunikasi antara Allah dan manusia terbuka. Rahmat
Allah mengalir kepada manusia dan doa manusia mengalir kepada Allah.
Tidak terkecuali doa dari kaum tua dan atau sakit-sakitan, juga rahmat
Allah mengalir kepada semua termasuk kaum tua dan atau sakit-sakitan.
Semoga rahmat dari misteri penjelmaan semakin menguatkan kita semua dalam menjalani hidup ini.
diambil dari http://www.mirifica.net by
A. Giantoon Jendela Alkitab, Mingguan
SELAMAT TAHUN BARU! (Luk 2:16-21 & Bil 6:22-27)
Rekan-rekan yang baik!
Hari pertama tahun 2017 ini
dirayakan sebagai Hari Perdamaian Sedunia bertepatan dengan perayaan
Santa Perawan Maria Bunda Allah. Dalam umat awal sudah dikenal gelar
Maria sebagai sang “Theotokos”, artinya “yang membuat keilahian lahir”
– alih bahasa ini lebih menunjukkan makna ungkapan itu daripada “Bunda
Allah”, yang dalam bahasa biasa dapat menimbulkan kesan maksudnya ialah
“ibunya si Anu” dengan kelanjutan pada debat salah arah mengenai apa
benar Allah kok diperanakkan dan sebagainya. Pengakuan bahwa Maria ialah
manusia yang membuat keilahian lahir – menjadi nyata – di antara umat
manusia ini kemudian resmi diterima dalam Konsili Ekumenis di Efesus th.
431. Dengan demikian Maria memungkinkan umat manusia mengalami
keilahian sebagai berkat. Dan berkat ini sumber kekuatan bagi usaha
orang-orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan kedamaian. Bacaan
pertama pada perayaan ini, Bil 6:22-27, mengantar kita masuk ke dalam
tahun berkat, tahun wajah Tuhan bersinar memandangi kita, tahun damai!
Injilnya, Luk 2:16-21, sudah sebagian besar diulas bagi Injil Misa Fajar
Hari Natal yang lalu, yakni Luk 2:15-20.
MARIA DAN KITA
Manusia tidak dibiarkan sendirian. Ada Imanuel – “Tuhan beserta
kita”. Dan Maria sang Theotokos “yang membuat keilahian lahir” itu
menjadi saksi bahwa memang benar demikian. Kepada seorang gadis di
Nazaret dulu disampaikan ajakan untuk ikut serta mewujudkan berkat bagi
umat manusia. Ajakan yang sama kini masih ditawarkan bagi semua orang
yang berkemauan baik. Dulu Maria serta-merta menyahut “terjadilah
perkataan-Mu” kepada Gabriel. Untung tawaran bukannya datang kepada
kita dibawakan oleh malaikat yang menuntut jawaban saat itu juga. Ada
dua belas bulan ke depan untuk mengemasnya. Waktu yang biasanya di pihak
lawan kita kini bisa menjadi berkat.
Dalam Luk 2:21 yang ikut dibacakan dalam Injil bagi hari ini
disebutkan bahwa setelah genap 8 hari, bayi itu akan disunatkan dan
demikian ditandai secara resmi sebagai anggota umat Tuhan. Juga hari itu
hari menyatakan secara resmi namanya, yakni Yesus. Nama ini sendiri
menandaskan bahwa Tuhan itu pemberi keselamatan. Ayat ini juga sekali
lagi mengingatkan pembaca bahwa nama itu telah disampaikan malaikat
ketika mengunjungi Maria (Luk 1:31) sebelum ia mengandung. Demikian
pembaca yang mendalami makna bacaan ini akan mulai menyadari bahwa Tuhan
Penyelamat membiarkan diri dibesarkan oleh manusia agar makin dikenali.
Merayakan keibuan Maria dalam pengertian itu sebenarnya bukan hanya
menghormati pribadinya belaka, melainkan merayakan keberanian Tuhan
membiarkan diri dikenal oleh manusia, semampu kita. Itulah berkat yang
tersedia bagi kemanusiaan.
TIGA PASANG BERKAT
Petikan dari Kitab Bilangan ini menampilkan rumus berkat yang
difirmankan Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada para imam
keturunan Harun. (Menurut Kel 28:1-43; terutama ay. 41, Harun dan
keturunannya diresmikan sebagai pemegang jabatan imam.) Kata-kata berkat
itu sendiri termaktub dalam Bil 6:24-26. Seperti dijanjikan Tuhan, bila
kata-kata itu diucapkan, Dia sendirilah yang akan memberkati.
Masing-masing ayat 22-26 itu terdiri dari dua bagian yang saling
menjelaskan (ay. 24: memberkati – menjagai; ay. 25: menyinarkan wajah –
menyayangi; ay. 26: memandangi – menaruh kedamaian). Selain itu, seluruh
rumus berkat diungkapkan dalam tiga ucapan berkat. Pengulangan tiga
kali, entah dari segi bunyi (“kudus, kudus, kuduslah Tuhan” [Yes 6:3]),
entah dari segi makna (seperti di sini) mengundang sikap hormat dan
khidmat akan kehadiran Yang Ilahi dalam keagungannya (Bandingkan dengan
ulasan mengenai silsilah Yesus [Mat 1:1-17] yang terdiri dari 3 kali 2
kali 7 keturunan dalam uraian bagi Injil Misa Vespertina Natal).
“SEMOGA TUHAN MEMBERKATIMU DAN MENJAGAIMU”
“Memberkati” dan “menjagai”. Ungkapan kedua menegaskan yang pertama.
Jadi memberkati berarti menjagai, melindungi dari kekuatan-kekuatan
jahat. Lawan memberkati ialah mengutuk dan kutukan terbesar ialah
membiarkan orang menjadi mangsa daya-daya maut. Dalam kesadaran orang
dulu, kekuatan-kekuatan jahat tak perlu didatangkan atau diguna-gunakan.
Daya-daya hitam itu sudah ada di sekeliling dan selalu mengancam. Namun
demikian, mereka tak bisa menembus garis lingkaran berkat yang ditoreh
oleh Tuhan dengan sabda-Nya. Dalam arti ini, kawasan berkat ialah ruang
hidup bagi ciptaan, bagi kita. Tak mungkin ada yang bisa hidup di luar
ruang itu. Ada cerita menarik. Seorang ahli tenung digdaya dari Aram,
Balaam namanya, didatangkan oleh Balak, raja Moab, untuk menyihir
kalang-kabut orang-orang Israel yang berjalan lewat di situ (lihat Bil
22-24). Namun demikian, Balaam menyadari bahwa ilmu tenungnya tak
berguna karena Tuhan tidak membiarkan orang Israel berjalan di luar
berkat-Nya (Bil 23:8-9). Tuhan memberkati mereka dan Balaam mengakui
tidak mampu membalikkannya (Bil 23:20). Malahan Balaam akhirnya ikut
memberkati (Bil 24:1-9) dan bahkan sampai tiga kali (Bil 24:10)!
Kita merayakan Tahun Baru dan mengharapkan berkat Tuhan. Apa yang
bisa kita harapkan? Kita mohon agar Ia melindungi kita dari
kekuatan-kekuatan jahat yang akan kita jumpai dalam perjalanan 12 bulan
mendatang ini. Kita minta ruang hidup yang leluasa. Yang biasa
menjalankan kekuatan-kekuatan jahat akan menjadi seperti dukun tenung
Balaam: tidak lagi berbahaya. Malah kekuatannya akan beralih menjadi
berkat. Ini kehebatan Tuhan yang menjagai orang-orang-Nya. Ia tak perlu
memusnahkan lawan-lawan. Akan ada rekonsiliasi – rujuk kembali – dan
mereka malah akan mengiringi perjalanan dalam waktu.
“SEMOGA TUHAN MENYINARKAN WAJAHNYA KEPADAMU DAN MENYAYANGIMU”
Dalam ayat 25 ini, “menyinarkan wajah” dijelaskan sebagai
“menyayangi”. Orang Perjanjian Lama yang memikirkan wajah Tuhan yang
bersinar kepadanya juga ingat lawan katanya, yakni wajah yang garang.
Namun demikian, wajah garang tidak dipakai untuk menggambarkan Tuhan,
sekalipun Ia sedang marah. Ungkapan ber-“wajah garang” biasa dikenakan
kepada penguasa yang lalim, kepada para musuh, kepada sisi gelap
kemanusiaan. Wajah garang membuat orang jeri tapi sebenarnya tidak
bersimaharajalela terus-menerus. Waktunya sudah bisa dihitung. Ini jelas
misalnya dalam penglihatan yang diperoleh Daniel, lihat Dan 8:23 dst.
Satu hal lagi dapat dicamkan. Manusia bisa juga bersinar wajahnya,
mirip Tuhan, namun ia juga bisa berwajah garang. Hidup manusia itu
kancah perbenturan antara terangnya wajah Tuhan dengan garangnya
daya-daya jahat. Ini perkara teologis yang siang malam mengusik benak
orang-orang pandai dalam Perjanjian Lama. Kohelet, sang Pengkhotbah,
memecahkannya dengan pertolongan hikmat. Dalam Pkh 8:1, dikatakannya
bahwa hikmat kebijaksanaan membuat wajah orang menjadi bersinar dan
mengubah kegarangan wajahnya. Teologi kebijaksanaan ini menjelaskan
berkat dalam Bil 6:25 tadi. Dengan hikmat kebijaksanaan, orang dapat
mencerminkan Tuhan, menghadirkan Dia yang sayang akan orang-orang-Nya.
Juga dalam merayakan Tahun Baru kita boleh minta agar Tuhan menyinarkan
wajah-Nya kepada kita semua. Saat ini juga kita dapat memohon hikmat
kebijaksanaan yang membuat kita dapat menghadirkan terang wajahnya di
muka bumi, di dalam kurun waktu, di dalam kehidupan kita, agar yang
garang-garang itu berubah menjadi terang. Dunia ini telah menerima
terang kehadiran Tuhan, jangan kita pikir kegarangan bisa
mengelabukannya.
“SEMOGA TUHANMEMANDANGIMU DAN MENARUH KEDAMAIAN PADAMU”
Dalam ayat 26, “mengangkat wajah bagimu” yang artinya memperlakukan
secara istimewa karena berharga ditegaskan lebih lanjut dalam bagian
kedua sebagai “menaruh kedamaian”. Dalam alam pikiran Perjanjian Lama,
tiadanya syalom, kedamaian, dialami sebagai kegelisahan yang menyesakkan
dan yang akhirnya bisa mematikan. Memang tak bisa begitu saja kedamaian
diiming-imingkan (Menurut Nabi Yeremia, orang yang latah bernubuat
tentang damai tanpa isi sebetulnya nabi palsu; Yer 6:14; 8:11; 28:9).
Perjanjian Lama melihat kedamaian sebagai buah dari tsedaqah, yakni
kesetimpalan antara kenyataan dan yang disabdakan Tuhan. Wujudnya ada
macam-macam, yang terutama ialah “adil” (tsadiq), “benar/lurus”
(yasyar), “tak bercela” (tam), “bijaksana” (khakam). Tiap wujud itu tak
terbatas pada urusan orang-perorangan, tetapi menyangkut hidup bersama
juga. Keadaan yang paling mencekik kehidupan bukanlah peperangan atau
paceklik, melainkan tiadanya “kesetimpalan” dalam pelbagai wujudnya
tadi. Keselamatan terjadi bukan dengan meneriakkan syalom syalom seperti
nabi palsu, melainkan dengan menjadikan tsedaqah sebuah kenyataan
sehingga manusia dan jagat semakin setimpal kembali dengan yang
dikehendaki Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, terutama Paulus, gagasan
tsedaqah (Yunaninya “dikaiosyne”) muncul kembali untuk menerangkan
keselamatan sebagai karya penebusan Kristus yang “meluruskan kembali”
(Yunaninya “dikaioun”, Latinnya “iustificare”) manusia dan jagat
sehingga rujuk kembali dengan Tuhan. Maksudnya, dalam Kristus manusia
dan jagat memperoleh kembali keadaannya semula yang tidak perot, yang
tidak mengerikan, yang tidak menggelar kekerasan. Bila ini terlaksana,
barulah orang bisa berbicara mengenai syalom, kedamaian. Ucapan berkat
dalam Bil 6:26 “menaruh kedamaian” mengandaikan manusia bisa apik
kembali, bisa lurus dan tak bercela, setimpal dengan yang dimaksud
Tuhan. Bagaimana? Bila manusia dan jagat dipandangi terus-menerus oleh
Tuhan seperti terungkap dalam bagian pertama ayat itu. Inilah yang bisa
kita minta untuk tahun mendatang ini. Wajah kemanusiaan dan jagat ini
akhir-akhir ini penyok sana sini, perot, timpang. Kita minta agar Tuhan
memandangi itu semua. Kita tanya Dia, tahankah Kau memandang ini semua?
Katanya sayang manusia. Sekarang pandangilah! Angkat wajah-Mu, jangan
sembunyikan! Luruskan kembali keapikan ciptaanmu! Tak usah sungkan
bilang begitu kepada-Nya.
1 Pada mulanya
adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah
Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 3 Segala sesuatu dijadikan
oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang
telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang
itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 6 Datanglah
seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; 7 ia datang sebagai saksi untuk
memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi
percaya. 8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang
terang itu. 9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang
datang ke dalam dunia. 10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan
oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya,
tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 12 Tetapi semua orang
yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka
yang percaya dalam nama-Nya; 13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah
atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,
melainkan dari Allah. 14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara
kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan
kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. 15 Yohanes
memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang
kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah
mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." 16 Karena dari
kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; 17 sebab
hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang
oleh Yesus Kristus. 18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak
Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Renungan:
Baru saja kita
merayakan Natal, hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Pesta kegembiraan dialami
semua orang yang merayakan. Bahkan mereka yang tidak merayakan pun ikut
bergembira bersama. Namun demikian ada pula sepercik sikap yang membuat suasana
sedikit kurang nyaman. Orang-orang pun resah dan mungkin juga gelisah.
Rasa saya Natal
adalah suatu peringatan akan kehadiran Tuhan dalam kesederhanaan. Tuhan hadir
bukan membawa kado-kado yang indah, tapi Tuhan menghadirkan kado yang sangat
istimewa yaitu sang Putera Yesus Kristus dalam rupa manusia. Ia hadir dalam
kesederhanaan dengan seluruh diri tanpa ada yang tertinggal. Ia hadir secara
utuh dalam budaya dan cara hidup manusia.
Kehadiran Kristus
dalam natal tidak dipengaruhi oleh adanya pohon natal, sinterklas maupun
kado-kadonya. Walau tak ada itu Kristus tetap hadir ke dunia. Malah sebaliknya
kita pun perlu kembali menghayati bahwa kehadiran-Nya adalah pemberian diri
yang utuh. Maka kalau kita merayakan Natal kita pun merayakan pemberian diri
Tuhan sekaligus menghidupkan pemberian diri kita kepada dunia ini.
Kontemplasi:
Pejamkan matamu
sejenak. Lihatlah kembali bagaiman anda mesti merayakan Natal.
Refleksi:
Bagaimana
merayakan kehadiran Sang Putera Tuhan Yesus?
Doa:
Tuhan semoga aku
bisa menghadirkan dirimu sedemikian rupa sebagaimana Engkau hadir mendatangi
kami. Amin.
Perutusan:
Aku akan
merayakan Natal dengan penghadiran diri yang utuh. -nasp-
1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia
tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang
manusia.
1:5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan
kegelapan itu tidak menguasainya.
1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya
Yohanes;
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian
tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi
kesaksian tentang terang itu.
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap
orang, sedang datang ke dalam dunia.
1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan
oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi
orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya
kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah
atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,
melainkan dari Allah.
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di
antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang
diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan
kebenaran.
1:15. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan
berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata:
Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah
ada sebelum aku."
1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah
menerima kasih karunia demi kasih karunia;
1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi
kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
1:18 Tidak
seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di
pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, di dalam hidup
keagamaan ada orang-orang yang dipandang memiliki kekuatan khusus. Mereka dipercaya
memiliki daya yang melampaui kodrat manusia umum.
Tampaknya, di tengah kehidupan
umum juga ada orang-orang yang dipandang memiliki kekuatan spiritual unggul.
Sebagai tokoh-tokoh spiritual banyak orang datang kepadanya untuk mendapatkan
terang dan kelapangan hidup.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun
dipandang bahkan dipercaya memiliki daya spiritual hebat untuk membantu orang
lain, seorang tokoh spiritual sejati akan menyadari bahkan berterus terang pada
siapapun bahwa dia bukanlah sumber kekuatan dan terang ilahi dan kehadirannya
adalah sebagai rambu-rambu petunjuk sumber yang benar. Dalam yang ilahi karena
kemesraannya dengan gema relung hati orang adalah bagian dari tanda dan sarana
penunjuk sumber kehidupan sejati.
Ah, kalau banyak yang percaya,
itu artinya rejeki mudah datang berlimpah.
Senin tanggal 19 Desember 2016 merupakan hari istimewa bagi para rama Domus Pacis. Ternyata mobil besar yang dijanjikan oleh Bu Ninik siap di Domus jam 05.30 sore sudah datang sebelumnya. Ketika Rm. Bambang keluar menuju kanopi depan ruang tamu, ayahnya Bu Ninik ikut mobil itu. Bu Madi, Bu Mardanu, Bu Sri Handoko dan Bu Rini juga sudah siap. Mereka adalah bagian dari para relawan Domus yang bersama Mas Handoko yang akan menyopiri granmax, mobil Domus. Sebenarnya juga ada relawan lain (Bu Tatik, Bu Sri dan Bu Wardi) yang ikut dalam mobil Bu Titik yang dikendarai oleh Pak Untung, suami Bu Titik. Adapun mobil yang disediakan oleh Bu Ninik dimaksudkan untuk semua rama untuk menghadiri undangan ke Klaten. Pak Naryo, yang bersama Bu Ninik istrinya juga menjadi relawan dan pemerhati Domus Pacis, mendapatkan amanat dari ibunya agar semua rama Domus dihadirkan dalam peringatan 1000 hari almarhum Bapak YB Bejo Partosiswoyo, suaminya. Tetapi dari ketujuh rama Domus ada 2 orang yang tak hadir, yaitu Rm. Joko dan Rm. Tri Wahyono yang kondisinya sudah harus ada di rumah. Pak Tukiran, karyawan Domus, diikutsertakan untuk mendampingi Rm. Harto, sementara Rm. Tri Hartono didampingi oleh Bu Rini. Semua inilah yang menyebabkan pada sore itu jam 05.30 ada dua mobil yang keluar dari Domus Pacis. Rm. Bambang ikut granmax yang dalam perjalanan menjemput Bu Mumun.
Sesampai di kota Klaten rombongan Domus menuju Gedung Ekakapti, gedung pertemuan milik Paroki Santa Maria Assumpta Klaten. Para rama Domus dan grup relawannya, termasuk rombongan Pak Untung, didudukkan di bagian depan berhadapan langsung dengan altar, karena acara satu-satunya adalah Misa Kudus. Memang Rm. Yadi duduk di bagian belakang, karena tidak berani merasakan dingin langsung dari AC. Tampaknya hal ini juga dialami oleh Rm. Subi, pastor sepuh dari Paroki Pringwulung, yang tadinya duduk bersama deretan Rm. Bambang dan kemudian menyingkir ke bagian belakang. Dalam misa ini Rm. Agoeng menjadi salah satu selebran dalam misa bersama Rm. Boni, imam mantan pastor pembantu Pringwulung asal Klaten, dan Rm. Supriyanto selebran utama yang jadi Pastor Kepala Klaten. Kebetulan Rm. Agoeng juga berasal dari Paroki Klaten. Barangkali kehadiran para rama Domus yang sudah tua dan atau difabel menarik beberapa umat sehingga sesudah misa selesai, pada waktu acara konsumsi, tak sedikit yang menghampirinya. Bagi Rm. Bambang momen ini juga menjadi kesempatan berjumpa dengan umat yang pernah dilayani pada tahun 1981-1982. Apalagi untuk saat ini paling tidak sepertiga peserta Novena Domus adalah umat Paroki Klaten.
Ketika perjalanan pulang ternyata Rm. Yadi dan Rm. Trihartono, tentu saja juga termasuk Bu Rini, ikut mobil granmax. Para ibu relawan yang ketika berangkat berada satu mobil dengan Rm. Bambang berpindah di mobil yang disediakan oleh Bu Ninik. "Teng mobil ageng wau asrep sanget" (Tadi di mobil besar terasa amat dingin) kata Rm. Yadi memberi alasan mengapa pindah di granmax. Meskipun demikian, peristiwa menghadiri undangan di Klaten hari ini, bagi para rama Domus tampaknya amat mengesan seperti piknik. Hal ini terbukti ketika makan pagi, Selasa 20 Desember 2016, pembicaraan tentang Misa Seribu Hari Pak Bejo menjadi pembicaraan hangat.
2:13. Setelah orang-orang majus itu berangkat,
nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah,
ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai
Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh
Dia."
2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu
serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu
terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir
Kupanggil Anak-Ku."
2:19. Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan
kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:
2:20 "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya
dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu,
sudah mati."
2:21 Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu
serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
2:22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus
menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena
dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.
2:23 Setibanya
di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi
supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut:
Orang Nazaret.
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, ada gambaran bahwa
sebuah keluarga disebut baik dan luhur diukur dari keharmonisan antar
anggotanya. Satu sama lain rukun dan amat jarang mengalami konflik.
Tampaknya, ada anggapan bahwa
sebuah keluarga disebut baik dan luhur diukur dari ketenangan rasa. Semua
anggota mengalami rasa tenang dan amat jarang menghadapi permasalahan.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, kebaikan dan
keluhuran sejati sebuah keluarga ditentukan oleh kebiasaan hidup masing-masing
anggotanya yang diwarnai oleh keterbukaan relung hati mendengarkan
bisikan-bisikan tuntunan nurani sehingga konflik dan masalah sebesar apapun
justru membawa semua warga makin mengandalkan daya ilahi. Dalam yang ilahi
karena kemesraannya dengan gema relung hati di dalam kehidupan rumah tangga
orang sungguh mendapatkan landasan mengembangkan kebaikan dan keluhuran hidup.
Ah, keluarga baik itu ya yang
punya tabungan besar sehingga terjamin masa depan semua warganya.