Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 9, 2015

Lamunan Pekan Biasa XXIII

Kamis, 10 September 2015

Lukas 6:27-38

6:27. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
6:37. "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, terhadap yang merugikan orang akan berhati-hati. Orang akan berusaha untuk tidak menjadi korban dari orang lain yang memusuhinya.
  • Tampaknya, pada umumnya musuh dipandang sebagai pengancam diri. Orang akan membatasi hubungan dengan orang-orang yang berseberangan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa sebaik dan semurah hati apapun seseorang, kalau yang dilakukan terbatas pada orang-orang yang berdekatan atau cocok dengannya, sejatinya dia tidak memiliki kemesraan dengan kedalaman batinnya sendiri yang menghadirkan pola kebaikan sebagai kemampuan dirugikan oleh musuh dan kaum jahat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan membiarkan kebaikannya juga mengalir ke mereka yang berseberangan.
Ah, jaman kini orang harus mengurus dirinya sendiri.

Sabda Hidup



Kamis, 10 September 2015
St. Nikolaus Tolentino, Oglerius, Fransiskus Garate
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Kol. 3:12-17; Mzm. 150:1-2,3-4,5-6; Luk. 6:27- 38. BcO Hos. 2:2-23

Lukas 6:27- 38:
27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. 29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. 30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. 31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. 34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." 37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Renungan: 
Yesus mengajak kita, "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (Luk 6: 27-28). Ajakan ini bukanlah hal mudah. Sering rasa jengkel, marah dan mungkin benci meliputi diri kita kala berhadapan dengan orang yang memusuhi dan membenci kita. Kadang ada rasa ingin membalas perlakuan mereka.
Kalau kita mengikuti rasa ingin membalas maka permusuhan tidak akan pernah ada ujungnya. Malah makin hari akan makin parah. Namun sebaliknya kalau kita mengikuti ajakan Yesus kita akan mampu menghentikan permusuhan tersebut.
Ada kisah tentang ibu A dan ibu B. Ibu A membenci ibu B. Setiap kali ketemu ibu A selalu bersikap acuh bahkan dengan tajam mengata-katai ibu B. Namun ibu B tetap tenang. Ia selalu ramah menyapa walau sering tanpa balasan yang mengenakkan. Sampai akhirnya ibu A mengalami malapetaka. Ibu B adalah orang pertama yang menolongnya. Pasca kejadian itu ibu A berubah baik kepada ibu B. Ketahanan ibu B untuk berbuat baik meluluhkan sikap benci dari ibu A.

Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Bayangkan sikapmu berhadapan dengan orang yang membencimu.

Refleksi:
Bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan?

Doa:
Tuhan sentuhlah hati orang-orang yang lagi bermusuhan. Perdamaikanlah mereka.  Amin.

Perutusan:
Aku akan membalas kejahatan dengan kebaikan. -nasp-

Tuesday, September 8, 2015

PUISI MENYENTUH HATI


Novena Ekaristi Seminar di Domus Pacis dimulai pada tahun 2013. Ini berarti sudah ada seminar ketuaan 25 kali terhitung sampai dengan Minggu Pertama 6 September 2015. Kalau dihitung dengan adanya 2 kali seminar ketuaan pada tahun 2012, maka sudah ada 27 kali pelaksanaan. Banyak pembicara yang hadir dengan naskah tertulis. Power Point dan video juga berkali-kali hadir. Tetapi baru sekali terjadi pembicara datang tanpa tayangan power point dan atau tulisan pokok-pokok teoritis konseptual. Ini terjadi dalam pelaksanaan tanggal 6 September 2016 ketika Bapak Prof. Dr. Agustinus Supratiknya hadir dalam tema DITINGGAL ANAK PUTU. Seperti biasa hadir setahun sekali sejak tahun 2012, Pak Pratik selalu menulis teks. Yang khusus untuk kali ini adalah bentuk tulisan yang disampaikan. Beliau menulis dalam bentuk puisi sebanyak 5 lembar kertas kuarto 1 spasi. Pak Pratik, yang jadi dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, mendasarkan tulisannya bersumber pada: 1) Percakapan lewat WA Waras 74, alumni Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada angkatan masuk 1974; dan 2) Buku Menumbuhkan sikap religius anak-anak tulisan Rama Y,B. Mangunwijaya yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1986. Dalam puisinya Pak Pratik berbicara tentang sikap anak terhadap ibu, mertua, ayah, sikap orang tua pada anak, belajar dari pujangga Khalil Gibran dan Y.B. Mangunwijaya, Pr.

Di dalam seminar selama 2 jam, Pak Pratik hanya membacakan secara pelan-pelan. Para peserta yang berjumlah hampir 300 orang (30an datang tanpa mendaftar) dipersilahkan secara langsung menanggapi atau bertanya tanpa perlu menunggu pembicaraan selesai. Ternyata memang benar, setiap kali ada yang mengangkat tangan untuk menyela. Maka dari halaman 1 pembacaan melompat ke halaman 3 baris terakhir terus halaman 4. Ternyata banyak peserta tersentak ketika kata-kata Khalil Gibran dibacakan justru baru pada bait 1:


                               Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
                               Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
                               Mereka terlahir melalui engkau tetapi bukan darimu.
                               Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.

Ternyata pernyataan anak bukan milik orang tua tetapi orang tua "hanyalah" jalan lewat hadirnya anak di dunia telah menyinggung perasaan. Beberapa ibu yang mengalami anak dan menantunya tidak mau "memahami" kemauan baik orang tua mengajukan protes. Hal ini menjadi diskusi hangat bahkan ada yang panas. Apalagi beberapa bapak tampak mengatakan "tidak usah dimasalahkan dan tenang saja". Oleh Pak Pratik dinyatakan justru di sinilah orang tua mendapatkan kesempatan belajar dari anak. Orang tua dapat belajar seperti anak tetapi anak jangan dibuat seperti orang tua. Anak lahir bagaikan anak panah membawa panggilan sendiri dari Sang Pemanah dan orang tua adalah busurnya. Kalau anak "tak mau memperhatikan atau mendengarkan" orang tua, orang tua harus sadar bahwa ANAK YANG BAIK SELALU INGIN JADI DIRINYA SENDIRI. Ini sehat sesuai panggilan. Yang harus diubah adalah sikap orang tua. Dalam situasi ekstrim, ORANG TUA HARUS TIDAK KEHILANGAN CINTA. Ketika novena hari itu selalu, sambil makan beberapa mengatakan bahwa pembicaraan kali itu sungguh-sungguh mengena. Secara operasional ada tips khusus yang disampaikan oleh Pak Pratik: 1) Kita mempunyai dunia kita sendiri dan "pensiun" adalah dunia baru; 2) Jangan terlalu banyak keinginan.

Sabda Hidup



Rabu, 09 September 2015
St. Petrus Claver, Frederik Ozanam
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Kol. 3:1-11; Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab; Luk. 6:20-26. BcO Hos. 1:1-9; 3:1-5

Lukas 6:20-26:
20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. 21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. 22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. 23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. 24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. 25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. 26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Renungan:
Sabda bahagia disampaikan Yesus bebarengan dengan sabda celaka. Kesanku, kebahagiaan akan dialami kala orang berjuang dalam hidupnya dan celaka akan dialami oleh mereka yang hanya bersenang-senang dengan kemewahan yang dimilikinya sekarang.
Rasanya memang daya juang manusia akan menjadi salah satu tanda menuju keberhasilan. Banyak orang sukses berangkat dari situasi tidak punya apa-apa. Mereka dengan tangis dan peluh keringat berjuang sampai akhirnya menemukan keberhasilan. Sebaliknya mereka yang bangga dengan harta orang tua dan warisannya pada saatnya habis dan mengalami kesengsaraan.
Siapapun dari kita rasanya tidak boleh terlena dengan kenyamanan yang sekarang kita dapatkan. Kita tetap harus rela berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan kita. Setiap pagi kita mesti bangkit dari tidur dan semangat menyambut kedatangan hari walau harus mengalami peluh keringat dan air mata.


Kontemplasi:
Bayangkan bacaan Injil Luk. 6:20-26. Resapkanlah sabdaNya.

Refleksi:
Bahagia atau celaka hidupmu?

Doa:
Tuhan teguhkanlah semangatku untuk selalu berjuang dan berkarya. Kuatkan hatiku walau mesti melalui tetesan keringat dan air mata. Amin.

Perutusan:
Aku tidak akan berdiam dalam kenyamanan hidup. -nasp-

Lamunan Pekan Biasa XXIII

Rabu, 9 September 2015

Lukas 6:20-26

6:20. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
6:24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
6:25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang akan menemukan kebahagiaan bila kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi. Orang akan makin sejahtera kalau makin kaya.
  • Tampaknya, pada umumnya orang akan berjuang lepas dari kemiskinan dan segala penderitaan yang pasti mencelakakan hidup. Segala susah karena hilangnya harta dan kesegaran badan adalah bencanakehidupan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa sekaya apapun atau semiskin apapun kondisi seseorang, apabila dia biasa akrab dengan kedalaman batin akan menyadari bahwa semua kondisi duniawi bukanlah tolok ukur kebahagiaan dan kesengsaraan sehingga orang akan menemukan ketenangan hati sekalipun menderita kondisi duniawi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tetap ceria ketika ada dalam kondisi buruk dan waspada ketika ada dalam kondisi baik.
Ah, kepenuhan kebutuhan duniawi adalah landasan hidup bahagia.

Monday, September 7, 2015

REKREASI PENDEK


"Awake dhewe pun dangu mboten piknik, nggih?" (Sudah lama kita tidak mengadakan piknik, ya?) kata Rama Agoeng ketika makan pagi Senin 31 Agustus 2015. Dulu Komunitas Rama Domus Pacis memang pernah memiliki kebiasaan pergi bersama sebulan sekali. Tetapi sejak tahun 2013 kebiasaan itu hilang. Pergi bersama terjadi pada bulan September 2014 ketika diundang oleh Majalah Inspirasi ke Semarang untuk sharing kehidupan di rumah tua. Pada waktu itu Rama Tri Wahyono masih dapat melihat dan berbicara dengan lancar. Pada waktu itu Rama Harto juga masih dapat berjalan walau harus dituntun. Kini Rama Tri Wahyono dan Rama Harto harus dilayani dalam segalanya. "Wah, nek kudu dolan-dolan terus teng pundi, nggih? Nek kudu sedina kaya biyen, ketoke rekasa, je" (Wah, kalau harus bepergian terus ke mana, ya? Kalau harus sehari seperti dulu, tampaknya amat berat). Hal ini kemudian jadi pembicaraan antara Rama Yadi, Rama Hantoro, Rama Tri Hartono, Rama Agoeng dan Rama Bambang. Rama Harto dan Rama Tri Wahyono terus makan disuapi oleh Mas Abas dan Pak Heru.

Tiba-tiba Rama Bambang berkata "Pripun nek jajan mawon metu bareng?" (Bagaimana kalau kita pergi bersama makan di restoran). Ternyata hal ini disetujui dan Rama Agoeng memutuskan "Teng restoran West Lake cedhak ring road. Kursi rodha gampang mlebet" (Kita ke restoran West Lake dekat ring road. Kursi roda mudah untuk masuk). Dari pembicaraan bersama muncul kesepakatan pergi dengan 3 mobil: grandmax milik Domus Pacis, mobil Rama Agoeng dan mobil Komsos KAS. Kebetulan untuk sore hari itu yang mendapatkan giliran memberi masakan adalah Bu Rini. Maka selain Rama Agoeng dan Mas Ega (karyawan Komsos KAS), Bu Rini juga akan diminta untuk menyopiri mobil Domus.

Itulah mengapa pada Senin 31 Agustus 2015 jam 16.30 ada 3 mobil meluncur dari Domus Pacis. Rama Harto, Rama Tri Wahyono, Rama Hantoro dan Rama Bambang membawa kursi roda masing-masing. Rama Yadi membawa krug untuk berjalan. Sementara itu Rama Tri Hartono dan Rama Agoeng dapat berjalan tanpa alat bantu. Pak Heru, Mas Abas dan Bu Rini menjadi pendamping untuk membantu rama-rama yang kondisinya memang membutuhkan pertolongan. Ternyata Restoran West Lake ada di kampung Bedog sebelah Barat jalan layang Jombor dan Utara ring road. Para rama tampak amat bergembira dengan rekreasi ini. Ini adalah suasana istimewa karena menjadi lain dari keseharian bersama yang hanya terjadi di dalam Domus Pacis. Peristiwanya memang hanya sebentar. Pada jam 18.40 sudah berada kembali di Domus Pacis yang tampak gelap karena lampu listrik yang belum dihidupkan. Sampai dengan hari Jumat 4 September 2015 Rama Hantoro masih kerap menyinggung peristiwa ini terutama mengomentari Rama Harto yang menikmati cukup banyak nasi padahal di Domus biasa tanpa nasi.