Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"
13:44. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta
yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh
sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama
seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat
berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu
seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis
ikan.
13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke
pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan
ikan yang tidak baik mereka buang.
13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat
akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur
api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka
menjawab: "Ya, kami mengerti."
13:52 Maka
berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang
menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang
mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, ada gambaran bahwa
orang yang sungguh hidup secara nyata akan hidup sesuai dengan perkembangan
situasi hidup dan budaya. Dia akan terbuka pada segala perubahan.
Tampaknya, orang yang sungguh
hidup secara kongkret akan selalu siap baru dan diperbarui. Dia siap
meninggalkan yang lama dan menjalani hidup secara baru.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, semodern dan
setrendi apapun seseorang menjalani hidup, dia akan sungguh menghayati
kehidupan sejati kalau membuka hati baik terhadap pola lama maupun pola baru
karena yang paling pokok adalah kesediaan menomor satukan patokan yang berasal
dari relung nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung
hati orang berani kehilangan apapun demi tidak lepas dari suara nurani.
Ah, yang menjamin hidup adalah
tambungan uang sebanyak-banyaknya.
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mateus 13:44-52
Sekali
peristiwa Yesus mengajar orang banyak, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama
harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya
lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu
membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama
seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya
mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya,
lalu membeli mutiara itu."
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, Engkau membandingkan KerajaanMu yang Kau
wartakan dan dirikan dengan mutiara. Engkau menantangku untuk mencari
Kerajaan ini dan Engkau akan memberi daku sukacita dan pengharapan.
Anugerahilah aku sukacita, kebijaksanaan dan kemerdekaan itu untuk
mencari KerajaanMu di atas semua yang lain.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, kini aku renungkan dan pikirkan tentang harta
berharga tersembunyi ini. Itu memberi aku inspirasi, menghidupkan dan
membuka cakrawala rencana dan mimpi baru hidupku. Terima kasih atas yang
memberi makna bagi hidupku..
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, Adorasi Ekaristi Abadi adalah harta berharga
yang tersembunyi dalam hidupku. Itulah mutiara berharga juga iman,
pengharapan dan kasihku. Bantulah aku selalu mencari Engkau di atas
segalanya sebab Engkaulah mutiara dan harta paling berhargaku kini dan
selamanya. Amin.
Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.
diambil dari http://www.mirifica.net Injil Minggu Biasa XVII thn A; 27 Juli 2014 (Mat 13:44-52) by
A.Gianto
on Mingguan
Rekan-rekan yang budiman!
Kerajaan Surga menjadi pokok pengajaran dalam serangkaian
perumpamaan yang disampaikan dalam Mat 13. Ada perumpamaan mengenai
penabur beserta penjelasan khusus bagi para murid; perumpamaan mengenai
lalang dan gandum dan penjelasannya yang mengapit perumpamaan biji
sesawi dan ragi yang sudah dikupas dalam rubrik ini. Sesudah itu masih
ada tiga perumpamaan lagi, yakni yang dibacakan sebagai Injil Minggu
Biasa XVII A (Mat 13:44-52). Dua yang pertama mengumpamakan Kerajaan
Surga sebagai harta yang ditemukan di sebuah ladang (Mat 13:44) dan
sebagai mutiara yang dicari saudagar (13:46). Yang menemukannya menjual
seluruh miliknya agar dapat membeli ladang atau mutiara yang diinginkan
itu. Dalam perumpamaan yang ketiga (13:47-52), Kerajaan Surga
diumpamakan sebagai jala besar yang menangkap macam-macam ikan. Nanti
ikan yang baik dimasukkan dalam tempayan dan yang tak baik dibuang.
Begitu pula, dikatakan di situ, orang jahat nanti akan dipisahkan para
malaikat dari kumpulan orang baik. Tujuh perumpamaan ini dimaksud untuk
memberi gambaran yang penuh mengenai Kerajaan Surga. Bagaimana tafsir
keseluruhannya?
HARTA DAN MUTIARA
Beberapa waktu lalu disarankan untuk membaca perumpamaan mengenai
sesawi dan ragi begini: lha biji yang sekecil sesawi saja atau ragi
sedikit saja sudah bisa mengembang besar, apalagi Kerajaan Surga! Dapat
juga cara ini diterapkan pada perumpamaan mengenai harta yang ditemukan
di ladang dan mutiara indah yang sejak lama diinginkan seorang saudagar.
Namun demikian, bila dalam kedua perumpamaan sebelumnya tadi pusat
perhatian terletak pada kekuatan yang ada dalam Kerajaan Surga, kini
pusat perhatian beralih kepada orang yang mencari kehadiran ilahi. Baik
orang yang kaya seperti sang saudagar maupun orang yang boleh jadi hanya
buruh tani saja menjual semua yang ada pada mereka agar dapat membeli
barang yang diinginkannya. Bila harta di ladang dan mutiara indah dapat
membuat orang sedia mempertaruhkan semua yang mereka miliki, apalagi
Kerajaan Surga! Wajar bila orang merelakan apa saja yang dipegang hingga
kini agar bisa masuk ke dalam Kerajaan itu.
Sebuah khotbah untuk merelakan segala milik kita demi yang lebih
luhur? Sisi ini kadang-kadang terlalu digarisbawahi. Tetapi rasa-rasanya
bukan itulah yang hendak disampaikan kedua perumpamaan tadi. Pendengar
yang menikmati kedua perumpamaan tadi sudah rela dan sudah “menjual
seluruh milik” mereka! Mereka yang menceritakan kembali perumpamaan tadi
juga tidak bermaksud meyakin-yakinkan orang banyak agar menjadi seperti
kedua orang tadi. Bukan ajaran muluk-muluk yang cepat gembos bila
menghadapi kenyataan-kenyataan di dunia ini. Tak banyak artinya bila
perumpamaan itu dianggap cuma menyerukan komitmen tunggal pada Kerajaan
Surga. Ini sudah diandaikan. Lalu, apa warta yang dapat diperdengarkan
bagi orang-orang pada zaman ini?
MERAIH YANG DINGINKAN
Apa inti kedua perumpamaan kali ini? Orang yang menemukan harta di
ladang dan kemudian memendamnya lagi di situ boleh jadi hanya buruh
harian yang menggarap ladang yang bukan miliknya. Ia tidak memiliki
tanah. Ia memang memiliki beberapa barang, tak banyak, tapi kiranya
cukup untuk “menebus” ladang yang ada hartanya tadi. Tak perlu kita
lanjutkan ke soal yuridik – ini kan perumpamaan untuk mengajak pendengar
berpikir. Apa yang membuat orang tadi bersukacita? Bukan semata-mata
karena menemukan harta, melainkan karena melihat sebentar lagi ia bisa
menjadi pemilik ladang yang ada harta karunnya! Dari sewaan menjadi
milik, dari hidup kais pagi makan pagi menjadi orang yang terpandang.
Ini cita-cita orang pada umumnya. Nah, menemukan Kerajaan Surga itu akan
membuat orang menjadi pribadi yang terpandang jadi orang yang mampu
melaksanakan keinginan dan hasrat-hasrat.
Bagaimana dengan saudagar yang tentunya sudah jadi orang terpandang?
Jangkauannya lain. Ia mencari yang terindah. Di situlah sumber
kepuasannya. Begitulah nanti ia akan dikenal sebagai dia yang punya
mutiara langka! Saudagar mana yang tidak ingin demikian? Orang yang
sebetulnya sudah tidak butuh apa pun dalam hidup ini masih dapat juga
menginginkan sesuatu yang langka. Begitulah daya tarik Kerajaan Surga
digambarkan. Masih patut dicita-citakan, juga oleh orang yang serba
berkecukupan.
Dalam tafsiran di atas Kerajaan Surga tidak lagi tampil sebagai
tempat yang nun ada “di sana”, tak bergerak, sudah jadi. Yang tampil
dalam perumpamaan itu ialah diri orang yang mencarinya dengan sungguh.
Dan dalam menjalani ia mendapatkannya. Bila demikian maka Kerajaan Surga
bisa menjadi bagian kehidupan. Juga keanekaan akan ikut termasuk di
dalamnya. Jadi apa saja boleh, apa saja bisa? Wah ini perkara yang baru
terjawab dengan perumpamaan mengenai jala yang besar. Marilah kita tanya
Matt sendiri. Hanya dialah di antara para penulis Injil yang
menceritakannya.
MACAM-MACAM TAPI…
GUS: Matt, mau tanya. Ini satu-satunya perumpamaan yang diangkat dari
kehidupan nelayan. Mark dan Luc tak menyebutnya. Oom Hans juga tidak
mencatatnya. Dapat dari mana?
MATT: Dari murid-murid Yesus yang mendengarnya dari dia sendiri. Kan juga begitu kata ilmu tafsir kalian.
GUS: Gini nih, apa bisa dikatakan perumpamaan jala ini gema perumpamaan lalang dan gandum?
MATT: Memang! Yang baik pada mulanya ada bersama dengan yang tak
baik, semuanya diambil dan dipisahkan pada akhir. Dan
malaikat-malaikatlah yang nanti mengerjakannya.
GUS: Jadi kekuatan dari atas sana sendiri. Dan kita diam saja?
MATT: Persis! Tapi diam itu bukan tak peduli lho.
GUS: Kalau begitu sebaiknya membiarkan diri dikenali sebagai yang baik oleh kekuatan-kekuatan ilahi tadi. Ya kan?
MATT: Kalau tidak terburu-buru, perumpamaan itu jadi jelas dengan sendirinya.
GUS: Masih penasaran. Jadi ikan yang tak baik itu mereka yang tidak mau
dikenali Tuhan sebagai orang baik-baik? Boleh dibaca begitu?
MATT: Tentu saja perumpamaan baru berguna bila makin dipikirkan maknanya.
GUS: Kalau begitu, tak ada hitam putih begitu saja di jagad ini?
MATT: Lha iya, mana ada hidup yang hitam putih, kayak berselancar ikut insting rohani. Nggak asyik.
GUS: Kembali nih, bagaimana sikap tidak bersedia dikenali sebagai yang baik itu bisa digambarkan lebih jelas?
MATT: Kawan, ini soal pilihan. Orang kan bisa memilih begini atau
begitu dan menjalaninya. Yang mau memilih Kerajaan Surga selamat. Yang
tidak mau, ya tahu sendiri nanti, getun meratap sambil kertak gigi
GUS: Kok serem amat. Boleh pula kan dikatakan, Kerajaan Surga itu
dapat dimasuki oleh orang meluangkan diri bagi Yang Ilahi – menjadi
orang baik – dikenali sebagai yang baik.
MATT: Lha mau penjelasan apa lagi. Kalau orang menjadi tempat
hadirnya Tuhan, apa malaikat-malaikat tidak bakal mengenalinya sebagai
orang yang baik?
BELAJAR DARI MATT
Terhenyak saya oleh penegasan Matt tadi. Tak nyana perumpamaan itu
memuat ajaran kebatinan yang amat dalam, tapi juga yang tetap berpijak
di bumi. Baik buruk ditampilkan dalam kaitan kesediaan manusia
membiarkan diri didiami Yang Ilahi sendiri. Kita kadang-kadang lebih
biasa berbicara mengenai kekuatan jahat merasuki orang. Kok tidak
mengenai kekuatan ilahi yang mendiami batin ya? Berpikir ke situ maka
pertanyaan yang diucapkan Yesus dalam ayat 51, “Mengertikah kamu
semuanya itu?” tentu juga dimaksud bagi kita. Dan pembicaraan dengan
Matt tadi boleh membuat kita ikut berani menjawab, “Ya kami mengerti.”
Bila demikian maka kita bakal siap menerima ajaran yang termuat dalam
ayat 52. “Setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan
Surga akan mengeluarkan itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta
yang baru dan yang lama.”
GUS: Matt, kau bicara mengenai ahli Taurat yang “menerima pelajaran”
mengenai Kerajaan Surga. Di situ kaupakai kata Yunani “matheeteutheis”.
Tentunya belajar dari guru yang hadir dalam batin dan bukan hanya
mendengar dari orang-orang lain kan?
MATT: Ehm!
GUS: Kepegang nih. Kata “matheeteutheis” itu bunyinya membuat orang
ingat akan namamu “Maththaios”. Kayak tanda tangan. Kau mengaku sebagai
ahli Taurat yang telah banyak berguru tentang Kerajaan Surga dan mau
mengundang siapa saja datang mendengarkan. Kepada tamu-tamu itu akan
kauceritakan yang kauketahui sejak dulu dan yang baru saja kaupahami
kini. Begitu kan maksudnya harta yang lama dan yang baru?
MATT: You’re the exegete!
Matt mau memberikan semua yang diketahuinya tentang Kerajaan Surga,
baik dari khazanah Taurat maupun dari pengetahuan yang diperolehnya dari
pergaulan dengan para murid Yesus sendiri. Dan tentu saja dari
pengalaman rohani yang makin tumbuh. Ia sendiri bersedia diajari dan
telah menerima pelajaran mengenai kehadiran Yang Ilahi dalam diri Yesus
dan mau meneruskan semuanya kepada kita yang membaca Injilnya. Ini harta
yang kedapatan terpendam di ladang. Ini mutiara indah yang menunggu.
Keterangan foto: Ilustrasi dari angyliguori.blogspot.com
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Yohanes 11:19-27
Kata
Marta kepada Yesus, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku
pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan
memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata
Yesus kepada Marta, Akulah kebangkitan dan hidup!" Jawab Marta, "Ya,
Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan
datang ke dalam dunia."
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, sabdaMu kepada Marta, "Apakah Engkau percaya
ini, bahwa Akulah kebangkitan dan hidup?" merupakan pertanyaan mendasar
dalam hidup imanku juga. Aku percaya semua itu juga. Aku percaya bahwa
Engkau wafat dan bangkit dari maut menaklukkan dosa, dan kini hidup
menarik semua orang pada DiriMu sebagai Penebus.
Tuhan Yesus Kristus terkasih, aku yakin bahwa baik maut,
maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah,
baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik
yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak
akan dapat memisahkan aku dari kasih Allah, yang ada dalam Dikau (bdk.
Rom 8:38-39). Berilah aku kekuatan untuk memikul beban yang membawa
sesama lebih dekat padaMu. Biarkan aku merasakan bersama St. Paulus
semangat bahwa "Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil!"
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, aku bersembah
sujud di hadiratMu, ambillah pikiran, kehendak, dan hatiku; ambillah
persembahan dan kemampuanku. Aku letakkan semua di kakiMu melalui
adorasi ini. Perbuatlah padaku hari ini seturut rencanaMu yang kudus dan
penuh kasih. Perdalamlah imanku akan kebangkitanMu. Engkaulah
kebangkitan dan hidupku kini dan selamanya. Amin.
Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.
13:24. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi
kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang
menaburkan benih yang baik di ladangnya.
13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah
musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir,
nampak jugalah lalang itu.
13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu
kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang
tuan? Dari manakah lalang itu?
13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya.
Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi
mencabut lalang itu?
13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum
itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
13:30 Biarkanlah
keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata
kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas
untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
Butir-butir Permenungan
Tampaknya, ada gambaran bahwa
untuk menjadi baik orang harus menjaga diri dalam pergaulan. Orang harus tidak
berdekatan dengan kaum buruk apalagi jahat.
Tampaknya, ada gambaran bahwa
untuk menjadi baik orang harus menjaga diri dalam bersikap dan bertindak. Dia
harus membersihkan diri dari segala pikiran, perasaan, dan kehendak buruk.
Tetapi BISIK LUHUR berkata
bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, seserius apapun
seseorang berjuang untuk hidup baik dan mulia, dia tidak perlu meributkan diri
untuk selalu menyingkirkan keburukan dan menyingkiri adanya yang buruk di
dekatnya karena penghayatan kesejatian hidup justru akan menjauhkan orang dari sikap
muak terhadap orang lain yang dipandang jahat. Dalam yang ilahi karena
kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa kebaikan sejati di
dalam hidup kongkret tidak membuat yang tidak baik tersingkir.
Ah, kalau sungguh baik orang
tak akan berdekatan dengan yang buruk.
Pagi itu, Selasa 25 Juli 2017, Rm. Hadi, Minister Domus Pacis, ikut makan pagi bersama para rama Domus. Kecuali Rm. Agoeng yang sedang pergi dan Rm. Tri Wahyono yang ada di kamarnya, semua rama ada. "Para rama, siapa nanti yang ikut ke Kentungan? Ada dua mobil" Rm. Hadi memberi pengumuman. Ternyata Rm. Harta dan Rm. Tri Hartono menyatakan tidak ikut. Bahkan Rm. Harto berkata "Mangke onten tamu" (Nanti saya akan mendapatkan tamu). Karena Pak Tukiran sudah diminta oleh Rm. Hadi untuk ikut mendapingi para rama, Rm. Bambang berkata dalam nada kelakar "Engko Pak Tukiran sing nyurung aku" (Nanti Pak Tukiran mendampingi dengan mendorong kursi rodaku). Rm. Hadi memutuskan untuk mengajak Rm. Tri Wahyono. Mbak Tri dan Mas Winarto, para pramurukti, mulai berkemas-kemas menyiapkan diri. Mbak Tri khusus mendampingi Rm. Tri Wahyono, dan Mas Winarto untuk Rm. Rio.
Rm. Hadi berkata kepada Rm. Bambang "Aku mau ngandhani le mangkat jam setengah sanga" (Aku tadi bilang berangkat jam 08.30). Rm. Bambang menanggapi dengan berkata "Acarane jam sepuluh, ta?" (Bukankah acara mulai pada jam 10.00?) yang langsung disahut oleh Rm. Hadi "Le ungkak-ungkek marani lan mlebu mobil rak setengah jam dhewe, ta" (Tetapi urusan menuju dan masuk mobil kan membutuhkan waktu setengah jam). Maka, Rm. Bambang sudah mulai bersiap-siap pada jam 08.30. Tiba-tiba Mas Abas datang di kamar Rm. Bambang "Rama, Rm. Tri Hartono kalih Rm. Harto sidane ajeng tumut" (Rama, ternyata Rm. Tri Hartono dan Rm. Harto akan ikut). "Nek ngono ngandhani Pak Heru dikon tunggu omah" (Kalau begitu Pak Heru diberi tahu agar menunggu rumah) kata Rm. Bambang yang dijawab "Nggih" (Ya) oleh Mas Abas.
Karena sebelum makan pagi Rm. Hadi di kamar Rm. Bambang berkata "Engko nek kabeh melu, kowe nggawa mobil dhewe, ya" (Nanti kalau semua ikut, kamu bawa mobil sendiri, ya), maka Rm. Bambang berangkat sendiri ke Seminari Tinggi Kentungan. Ketika sampai di Kentungan pada sekitar jam 09.20, banyak orang sudah datang di kompleks Seminari Tinggi. Amat banyak mobil sudah terparkir. Maklum, pada hari itu ada 8 orang Diakon dari Keuskupan Agung Semarang ditahbiskan menjadi imam. Ketika rombongan penghuni Domus Pacis masuk, bangku-bangku gedung kapel dan kursi-kursi yang ditata di luar sekitar kapel sudah amat banyak yang menduduki. Para rama pun banyak yang hadir. Para rama Domus kemudian ditempatkan di deretan pinggir tembok sisi barat dan sisi timur. Yang ada di sisi barat adalah Rm. Yadi, Rm. Tri Hartono, dan Rm. Gito bersama para rama tua yang tinggal di rumah tua Wisma Petrus Kentungan (Rm. Jono dan Rm. Jaya). Sedang Rm. Rio, Rm. Bambang, Rm. Harto, dan Rm. Tri Wahyono ada di sisi timur.
Bagi para rama Domus Pacis yang sudah masuk golongan lanjut usia dan difabel, barangkali ada hal dalam peristiwa pentahbisan itu yang sungguh mengesan. Pertama, pada saat penumpangan tangan para rama yang ditahbiskan mendatangi para rama Domus untuk ditumpangi tangan. Hal ini baru terjadi pada hari itu. Sebetulnya Rm. Bambang sudah berketetapan tidak akan maju untuk menumpangi tangan. Tetapi dengan cara itu, dia juga bersemangat menumpangi tangan di kepala kedelapan rama baru. Kedua, pada bagian penutup Mgr. Rubi memberkati batu penjuru untuk pembangunan rumah baru bagi para rama praja Keuskupan Agung Semarang yang masuk usia lanjut dan juga yang kondisi tubuhnya membutuhkan pendampingan khusus. Uskup juga menunjukkan pada semua yang hadir akan adanya para rama sepuh yang walaupun masih dapat berjalan untuk penumpangan tangan tetapi sudah harus dituntun dan dijaga oleh rama-rama lain.
Khusus untuk Rm. Bambang sesudah Misa selesai dan kala berada di aula ruang konsumsi, ada hal yang mengesan. Bu Dety, salah satu relawati masak Domus Pacis yang menjadi guru BK di SMA Kolese de Britto, mengajak murid-murid yang dibawa untuk mendekat ke Rm. Bambang. Mereka terdiri dari siswa-siswa kelas 11 dan 12. Mereka bertanya macam-macam ke Rm. Bambang. Ketika tahu Rm. Bambang lulusan angkatan 1969, ada yang berseru "Aduh, aku belum lahir". Sebenarnya Rm. Bambang berkata dalam hati "Barangkali orang tuamu juga belum kawin". Mereka bilang bahwa ada kesempatan-kesempatan acara berkenalan dengan rumah-rumah biara dan seminari. Omongan dengan Rm. Bambang tampaknya amat asyik sehingga mereka tertawa ketika ada yang bertanya "Rama dulu juga pernah nakal?" dan Rm. Bambang menjawab "Tidak pernah nakal, tetapi pernah baik". Tampaknya Bu Dety juga amat terkesan sehingga dia memposting gambar-gambar pertemuan itu dalam FB Selasa 25 Juli 2017 dengan kata-kata "Foto bersama kakak angkatan dlm acr tabisan."
Refleksi harianku dalam doa berdasarkan Mateus 13:18-23
Sekali
peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Setiap orang yang
mendengar sabda tentang Kerajaan Surga dan tidak mengerti, akan
didatangi si jahat, yang akan merampas apa yang ditaburkan dalam
hatinya. Itulah benih yang jatuh di pinggir jalan."
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, dalam Injil hari ini Engkau bicara tentang
muauh Allah, yakni setan, sebagai yang nyata ada, yang nyata pula
memiliki pengaruh dalam hidupku. Saat aku mendengarkan sabdaMu, kehendak
baik bertumbuh dalam diriku. Namun setan mencoba merampas semua maksud
baik itu dari hatiku. Aku harus membuat komitmen yang kuat untuk
membiarkan sabdaMu berakar dan bertumbuh dalam hidupku.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, satu-satunya jalan untuk menaklukkan daya
kekuatan setan adalah membuat niat kuat untuk bersamaMu dan Allah. Aku
harus mengambil keputusan proaktif untuk masuk dalam saat-saat bersamaMu
setiap hari. Doa, Sakramen Ekaristi dan Tobat, bacaan rohani dan
Rosario adalah contoh-ontoh cara yang bisa dilakukan untuk melawan
setan.
Tuhan
Yesus Kristus terkasih, dalam Adorasi Ekaristi Abadi aku bersembah
sujud di hadiratMu sebab Engkaulah prioritas pertama hidupku. Kuatkanlah
upayaku untuk menjadikanMu Raja Sejati hatiku dalam pilihan-pilihan dan
keputusan-keputusan konkretku. Semoga aku berbuah berlimpah dalam
hidupku karena sabdaMu kini dan selamanya. Amin.
Sent from my heart of abudhenkpr "abdi Dalem palawija" Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang; Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.