Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, March 4, 2018

Menyambut Yesus Kristus dengan penuh kasih


Senin 5 Maret 2018
Minggu Ketiga Masa Prapaskah
Refleksi dan doa harian saya berdasarkan Lukas 4: 24-30

Sahabatku yang terkasih. Kita bisa membuat kesalahan dengan berpikir bahwa entah bagaimana Tuhan harus memberi kita lebih banyak perhatian dan hak istimewa. Kita kecewa saat tidak menerima perlakuan istimewa. Kita berpikir bahwa kita layak mendapat lebih banyak lagi.

Dari pada menuntut, kita harus mencari berkat Tuhan. Tuhan akan memberkati kita saat kita mencariNya. Tuhan memberikan anugerahNya kepada mereka yang menyambutNya dengan penuh kasih.

Mari berdoa: Ya Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami agar gagasan kami tentang bagaimana segala sesuatu seharusnya tidak mengaburkan visi kami tentang Dikau. Bantu kami untuk menyucikan diri dari semua egoisme, kesia-siaan, dan kebanggaan sehingga kami dapat menerima cintaMu dengan hati yang terbuka. Bantu kami selalu mencari dan menyambutMu dengan penuh cinta sekarang dan selamanya. Amin.

Johar Wurlirang, 5/3/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Lamunan Pekan III Prapaskah

Senin, 5 Maret 2018

Lukas 4:24-30

4:24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, salah satu ciri orang baik akan dipandang sebagai sosok integral yang memiliki kepaduan antara kata-kata dan tindakannya. Dia akan bersikap “kalau ya dikatakan ya, dan kalau tidak dikatakan tidak”.
  • Tampaknya, orang baik akan disukai banyak orang kalau dalam omongan lugas dan dalam tindakan tegas. Dia adalah sosok blak-blakan dan tak takut terhadap risiko dari tindakannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun menjadi andalan dari lingkungan tempat tinggal dan kelompoknya karena perjuangan baik yang didasari oleh integritas diri dan sikap blak-blakan dalam omongan dan tegas dalam bertindak sehingga amat banyak orang mengagumi dan menerimanya, orang sadar akan bahaya penolakan yang muncul pertama-tama dan mendasari berbagai penentangan justru dari kalangan sendiri. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam segala perjuangan baik orang akan siap menghadapi musuh utama yang datang dari lingkungan dekat dalam hidupnya.
Ah, kalau nyatanya baik, semua orang dalam kelompoknya pasti akan mendukung.

Percikan Nas Senin, 05 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah
warna liturgi Ungu

Senin, 05 Maret 2018

Bacaan-bacaan:
2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30. BcO Kel. 24:1-18.
Nas Injil:
24 Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Percikan Nas
Membicarakan sesuatu yang benar seringkali terasa menyakitkan. Maka ada banyak orang sering berusaha tidak mengatakan kebenaran karena takut menyakiti. Atau kalau pemerintah atau politikus sering takut omong kebenaran karena dirasa bisa membahayakan kehidupan bangsa. Ketakutan itu sering menghidupkan persekongkolan untuk menutupi kebenaran yang semestinya diungkap.
Yesus dengan berani mengungkap fakta yang membuat orang Israel malu (lih. Luk 4:25,27). Para pendengar Yesus yang notabene orang Israel pun marah setelah mendengar perkataan Yesus. Mereka pun ingin melempar Yesus dari atas tebing. Yesus pun lolos.
Memang selalu ada resiko untuk mengatakan suatu kebenaran. Apalagi kalau kebenaran itu bisa mempermalukan suatu bangsa. Namung kadang kita perlu menyampaikannya demi terjadinya perubahan sikap dan pertobatan. Bagaimana menurut anda?
Doa:
Tuhan semoga duniaku diisi oleh kebenaran. Semoga aku selalu menemukan pula cara untuk melepaskan diri dari kesulitan dan bahaya mati karena kebenaran. Limpahkanlah rahmat kebenaran kepada kami semua. Amin.
(goeng)

Saturday, March 3, 2018

Yesus Kristus Menyucikan Hidup Kita


Minggu, 4 Maret 2018
Hari Minggu Ketiga Masa Prapaskah
Refleksi dan doa harianku berdasarkan Yohanes 2: 13-25

Sahabatku terkasih. Seperti yang diwartakan dalam Injil, Yesus Kristus menyucikan kita masing-masing. Dia mengajarkan kepada kita bahwa iman kita harus murni dari semua dosa egois. Kita harus dimurnikan untuk tumbuh dalam persahabatan kita dengannya. AjaranNya tentang Bait Suci juga menunjukkan jalan menuju pemurnian interior. Hanya melalui penyucian, kita bisa mendengar suara Roh Kudus.


Kita percaya kepada Yesus Kristus bahwa Dia telah datang untuk mengajar kita, menderita untuk kita dan menunjukkan jalan pulang ke surga. Kita percaya pada kebaikan dan belas kasihanNya dan yakin bahwa Dia selalu memimpin kita.

Mari berdoa: Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau tahu bagaimana kami terbebani dengan masalah manusiawi; namun Engkau menginginkan lebih banyak lagi untuk kami. Bantu kami untuk mengikuti teladanMu dan menjadi radikal dalam kehidupan batin kami. Beri kami kekuatan untuk menempatkan Dikau di atas semua kekhawatiran dan kekhawatiran lainnya sekarang dan selamanya. Amin.

Surabaya Aglonz, 4/3/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊ ·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Percikan Nas Sabtu, 03 Maret 2018

Hari Biasa Pekan II Prapaskah
warna liturgi Ungu

Sabtu, 03 Maret 2018

Bacaan-bacaan:
Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk. 15:1-3,11-32. BcO Kel. 20:1-17.
Nas Injil:
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Percikan Nas
Kasih seorang ayah tidak pernah ada habisnya. Umumnya seorang ayah akan menerima kembali anaknya yang telah pergi meninggalkannya, bahkan mengkhianatinya. Hatinya akan selalu terbuka bagi kehadiran anaknya. Walau secuek apa pun sikap seorang ayah, namun hatinya tidak pernah bisa cuek pada anaknya.
Perumpamaan yang disampaikan Yesus memberi gambaran yang jelas bagaimana hati seorang ayah. Ia selalu menantikan anaknya kembali kepadanya dan saat sang anak kembali ia pun bersukacita.
Kita juga anak-anak Allah. Masa ini adalah masa bagi kita untuk kembali kepada Bapa. Ia selalu menantikan kedatangan kita. Apa yang membuat kita sering sulit kembali pada Bapa? Apa kita malu mengakui kesalahan kita? Allah tidak akan mempermalukan kita.
Doa:
Tuhan terima kasih atas cinta-Mu. Engkau selalu memberi kelegaan kepadaku. Kuatkan hatiku untuk selalu kembali kepada-Mu. Amin.
(goeng)

Lamunan Pekan III Prapaskah

Minggu, 4 Maret 2018

Yohanes 2:13-25

2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.
2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."
2:17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."
2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"
2:19 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"
2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.
2:23. Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.
2:24 Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua,
2:25 dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, paling tidak di kalangan kaum Kristiani ada sebutan rumah Allah untuk gedung gereja. Pada hari-hari yang dikuduskan umat Kristiani kerap mengatakan pergi menghadap Allah ketika ikut ibadat di gedung gereja.
  • Tampaknya, gedung gereja memang dipandang sebagai tempat khusus untuk berjumpa dengan Allah. Di situ orang dapat meninggalkan kepentingan dan kesibukan harian untuk tinggal bersama Allah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bangunan gedung untuk beribadat memiliki berbagai perlengkapan yang menciptakan suasana teduh sehingga orang-orang di dalamnya terdorong untuk kerasan berdoa dan menimbang-nimbang hidup rohani, sesungguhnya orang tak akan menghayati kebersamaan dengan yang ilahi kalau secara pribadi tidak menyadari tubuhnya adalah bangunan hidup tempat bersemayam-Nya di relung kalbu. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang biasa bergaul dengan Tuhan sehingga di rumah ibadat dapat merasakan kebersamaan keluarga Allah.
Ah, bagaimanapun juga sesudah diberkati gedung gereja adalah sungguh rumah Allah.

Friday, March 2, 2018

Minggu Prapaskah III/B 4 Feb 2018 (Yoh 2:13-22 & 1Kor 1:22-25)

diambil dari http://www.unio-indonesia.org/content ditulis oleh admin pada Sel, 27/02/2018 - 16:47

Membersihkan Bait Allah. Bagaimana?

Rekan-rekan yang baik!
Kerap tindakan Yesus menjelang hari raya Paskah sebagaimana dikisahkan Yoh 2:13-22 dimengerti sebagai pembersihan Bait Allah dari kegiatan menukar uang dan berdagang. Betulkah demikian? Apa yang sebenarnya dilakukan Yesus bersama murid-muridnya di sana? Kesadaran macam apa yang hendak digugahnya? Marilah kita simak Injil Minggu Prapaskah III tahun B ini.
PASAR HEWAN DAN BISNIS VALAS DI BAIT ALLAH
Seperti diceritakan Yohanes, peristiwa di Bait Allah itu terjadi menjelang hari raya terbesar orang Yahudi, yakni Paskah – bukan Paskah Kristen yang belum ada waktu itu. Menjelang hari raya itu orang-orang berdatangan ke Yerusalem menunaikan kewajiban mempersembahkan kurban di Bait Allah. Karena alasan praktis, tidak banyak yang membawa sendiri hewan persembahan. Maklum syarat-syarat bagi hewan yang pantas dipersembahkan tidak sebarangan. Karena itu, ada layanan penjualan hewan yang memenuhi syarat. Pada zaman itu, dipakai uang Romawi yang memuat gambar Kaisar. Akan tetapi, larangan agama mengenai gambar manusia membuat uang Romawi haram dipakai membeli hewan yang bakal dipersembahkan sebagai kurban. Karena itu, ada jasa penukaran ke mata uang Yahudi yang hanya bisa dipakai di tempat suci. Para pedagang dan penukar uang bertempat di serambi Bait Allah yang juga boleh dimasuki orang bukan Yahudi atau orang yang tidak bermaksud mempersembahkan kurban. Sebelum mendalami lebih jauh, marilah berkonsultasi dengan seorang pakar ilmu tafsir.
YESUS KALAP?
TANYA: Yesus yang biasanya berpenampilan tenang berwibawa kok sekarang kalap mengobrak-abrik dagangan orang. Bagaimana kelakuan ini bisa dijelaskan?
PAKAR: Anda ini ingin cepat-cepat jadi kayak murid-murid Yesus yang dikatakan dalam ay. 17 ingat akan Mzm 69:9(10). Tapi peristiwa itu perlu kita amati dengan lebih teliti.
TANYA: Apa tak boleh?
PAKAR: Masih ingat beberapa tahun silam orang-orang turun ke jalan, demo, mengusung “mayat reformasi”? Bayi reformasi yang dikandung dengan susah payah dan dilahirkan dengan penderitaan itu ternyata mati sebelum sempat dewasa. Yesus sebenarnya sedang menggelar “unjuk rasa” dengan gaya seperti itu.
TANYA: Wah, penjelasan ini belum pernah saya dengar. Orisinil! Bagaimana, bagaimana kelanjutannya?
PAKAR: Ada baiknya eksegese makin peka akan dunia Kitab Suci sendiri. Yesus tampil seperti nabi yang melakukan “tindakan simbolik” untuk membuka mata orang. Anda ingat Yeremia (Yer 13:1-11) yang memperagakan tindakan menyembunyikan ikat pinggang di celah batu di pinggir sungai Efrat. Setelah beberapa waktu diambilnya kembali ikat pinggang itu, tapi sudah lapuk. Lalu ia bernubuat bahwa orang Israel kini lapuk seperti ikat pinggang itu. Tak lagi layak dikenakan. Dalam gaya busana orang sana dulu, ikat pinggang menunjukkan sosok orang yang memakainya. Umat yang tidak pas dengan Tuhan tidak bisa mem­buat-Nya dikenal orang lagi.
TANYA: Kembali ke Injil Yohanes. Jadi, Yesus bukan bermaksud menghantam praktek dagang dan tukar uang?
PAKAR: Yesus bukannya kalap mengobrak-abrik usaha orang lain. Unjuk rasa itu kejadiannya begini. Dengan disaksikan banyak orang, Yesus bersama murid-muridnya sengaja datang ke serambi Bait Allah membawa dagangan dan meja penukar uang. Orang-orang yang melihat itu bertanya-tanya dalam hati apa sang Guru tenar ini mau bersaing dagang sapi, merpati, dan buka bisnis valas. Aneh, ia juga menjalin cemeti. Dan ketika rasa ingin tahu mereka memuncak, Yesus tiba-tiba mulai menjungkirbalikkan meja dagangan, mencambuki hewan yang dibawanya sendiri sambil menghardik murid-murid yang memainkan peran sebagai pedagang dan penukar uang: “Enyahlah, jangan bikin rumah Bapaku ini jadi pasar!” (ay. 16). Dan pada saat itu juga, masih termasuk pementasan ini, murid-murid berkomentar samping – gaya “aside” – dengan mengutip Mzm 69:9(10), “Kalap sungguh aku oleh kobaran cintaku pada Bait-Mu!” Drama yang mementaskan tindakan simbolik selesai di sini. Akan tetapi, serambi yang morat-marit masih terlihat. Dan warta yang hendak disampaikan tertangkap: Bait Allah kini morat marit, jadi sarang tindakan yang bukan-bukan.
TANYA: Wah, penjelasannya ini lebih klop! Tapi apa orang-orang waktu itu paham bahwa Yesus memperagakan tindakan simbolik seperti nabi-nabi dulu?
PAKAR: Mereka mengenal Perjanjian Lama dengan baik. Mereka ingat tindakan simbolik para nabi. Drama ikat pinggang Yeremia itu tak asing; ini bacaan mereka sejak kecil. Akan terbayang pula Yesaya yang menanggalkan alas kaki dan pakaian tanda berkabung (Yes 20:1 dst.), lalu juga Yeremia yang memanggil orang agar menonton bagaimana ia memecahkan buli-buli kurban jahanam (Yer 19:1.13). Juga Yehezkiel menggelar lakon pengepungan Yerusalem seperti dalang wayang klitik (Yeh 4:1-5:17) sambil bernubuat akan adanya kelaparan di kota itu. Bahkan kehidupan pribadi pernah ditayangkan para nabi sebagai tindakan simbolik. Yehezkiel menunggui mayat istri terkasihnya tanpa meneteskan air mata atau berkabung dan bernubuat bahwa kehancuran Yerusalem nanti sedemikian tak dinyana sampai orang tak sempat menangisinya (Yeh 24:15); Hosea mentalak istrinya yang serong dan menerangkannya sebagai pertanda Tuhan mentalak Israel yang tak setia ke­padaNya (Hos 1-3).
TANYA: Tentunya hanya tokoh publik yang berwibawa bisa melakukan tindakan simbolik seperti itu?
PAKAR: Betul. Karena itu, menurut Yoh 2:18 orang-orang menantang apa Yesus bisa menunjukkan ia mempunyai hak menjalankan tindakan simbolik tadi. Lihat, mereka bukannya bereaksi melawan tindak­an Yesus mengobrak-abrik pasar hewan dan bisnis valas karena ia memang tidak merusak perdagangan yang sungguhan di situ.
TANYA: Lalu ringkasnya apa yang hendak disampaikan Yesus?
PAKAR: Orang-orang tercengkam oleh keadaan morat-marit yang dipertontonkan Yesus di serambi Bait Allah (Seperti dalam layat “mayat reformasi” tadi: yang dicerap orang bukan tindakan menggotong mayat, melainkan suasana pedih dan kecewa). Yesus mengajak orang menyadari bahwa mereka menerima begitu saja terjungkirbaliknya kehidupan Bait Allah. Bait Allah kini hanya dapat menjadi ibadat luar belaka dan orang bahkan lebih sibuk dengan mana hewan kurban yang mulus dan mana mata uang yang cocok. Yesus mengajak orang mencari Bait yang membuat batin plong, yang membuat orang menikmati hadirnya Tuhan, Bait yang bisa memberi kehidupan. Dan itu ialah dirinya.
YOHANES DAN INJIL-INJIL LAIN
Peristiwa “pembersihan” Bait Allah diceritakan oleh keempat Injil dengan sudut pandang masing-masing.
– Yohanes menaruh episode itu pada awal karya Yesus untuk menekankan bahwa sejak awal Yesus mau mengajak orang mengarahkan diri ke Bait yang didirikan Yang Maha Kuasa sendiri, yakni dirinya yang dibangkit­kan-Nya.
– Ketiga Injil lain (Mrk 11:15-17; Mat 21:12-13; Luk 19:45-46) menaruhnya pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus untuk menekankan kontras antara Bait Allah yang morat-marit itu dengan Bait yang akan dibangunnya kembali dalam tiga hari.
– Berbeda dengan Yohanes, ketiga Injil Sinoptik, yakni Injil Markus, Matius, dan Lukas, tidak menghubungkan pernyataan Yesus akan membangun kembali Bait yang hancur dalam waktu tiga hari dengan tindakannya di Bait Allah.
– Di lain pihak, Markus dan Matius melaporkan bahwa pernyataan itu menjadi salah satu tuduhan terhadap Yesus di Mahkamah Agama (Mrk 14:58; Mat 26:61). Pernyataan itu juga disitir dengan sinis oleh orang-orang yang lewat di muka salib (Mrk 15:29; Mat 27:40). Yohanes tidak menghubungkan kata-kata itu dengan tuduhan maupun olok-olok itu. Lukas tidak menyebutnya sama sekali, tetapi ia menggarap bahan ini dengan caranya sendiri: seluruh Kisah Para Rasul memuat cerita bagaimana Gereja yang tumbuh pesat itu adalah karya Roh Yesus yang membangun kembali Bait yang baru.
Bagaimanapun juga, kata-kata tentang membangun kembali Bait yang runtuh dalam tiga hari ini memang menjadi hal yang dipersoalkan oleh mereka yang menyaksikan tindakan simbolik pembersihan Bait, oleh mereka yang menuduh Yesus di Mahkamah Agung, dan oleh mereka yang mengolok-oloknya waktu ia disalib. Dalam ketiga hal itu, Yesus menghadapi ketakpercayaan orang. Pembaca Injil dapat memeriksa diri di mana sedang berdiri.
Ada “relung-relung keramat” bagi Tuhan dalam hidup kita. Semua itu dibangun dengan iktikad baik. Tapi tindakan simbolik Yesus tetap menyapa. Bukan hanya dalam arti agar batin makin dibersihkan. Wartanya jauh lebih tajam. Yesus mengajak melepaskan bangunan itu. Mengapa? Bait yang kita akrabi dan pelihara itu sebenarnya tak banyak artinya karena akan runtuh. Yang bakal terus ada ialah Bait yang dibangunnya kembali dengan kebangkitannya. Kita diimbau untuk merelakan relung-relung suci dan bangunan keramat dalam diri kita. Leburkan dalam satu Bait yang hidup, yakni dia yang bangkit itu (Ahli-ahli tenung di Efesus merelakan ilmu hitam mereka, termasuk kitab-kitab wasiat ketika mereka menyatakan diri percaya kepada Yesus, lihat Kis 19:18-19). Ini hidup rohani yang mengarahkan diri ke Sana, ke Dia, ke Bait Allah yang hidup, ke Bait yang sungguh. Simpanan keramat memang tumbuh dari kebutuhan manusia untuk mendekati Yang Ilahi, tapi Yang Ilahi malah bisa dijadikan semacam barang koleksi yang dirumat, diberi sajian kurban khusus yang dibeli dengan uang yang khusus, dan banyak juga yang mengembangkannya menjadi ilmu sakti. Tapi, ya, berhenti di situ. Yesus sang Utusan Allah itu, menunjukkan betapa morat-maritnya dasar keyakinan rohani yang begitu itu.
Romo-romo Yesuit akan teringat Latihan Rohani yang mulai dengan upaya menyadari betapa aktivitas kita-kita ini sebenarnya sering kacau-balau. Melepas bangunan-bangunan keramat itu memang askese yang menggentarkan. Mungkin satu-satunya jalan untuk terus ialah berbagi tanggung jawab dengan sesama orang percaya dalam membangun Bait yang baru. Latihan Rohani juga berakhir dengan beberapa pegangan bagaimana bersepaham dengan Gereja.
DARI BACAAN KEDUA (1Kor 1:22-25)
Bagi orang Yahudi, kehadiran ilahi ada tandanya. Dan orang boleh mengharap mendapatkan tanda yang menyatakan Allah betul hadir. Maka mukjizat, kejayaan atas lawan, bahkan juga pengalaman pahit. Apa saja yang membuat orang ingat bahwa kehadiran ilahi tidak tinggal diam. Alam pikiran Yunani juga mengakui kehadiran ilahi. Namun kebenarannya bukan didasarkan pada tanda-tandanya, melainkan pada kemungkinan mengenali kehadiran-Nya lewat penalaran. Dan inilah hikmat yang disebut Paulus. Di kalangan orang Korintus waktu itu kedua alam pikiran ini amat hidup. Bagaimana menempatkan kepercayaan akan Kristus di hadapan kedua alam pikiran seperti ini.
Di kalangan orang Yahudi, tokoh Yesus dianggap menghujat Allah oleh para pemimpin Yahudi sendiri dan akhirnya mati disalib. Tapi kematiannya di salib ini justru diwartakan sebagai penyelamatan! Ini sandungan bagi orang Yahudi. Bagi orang Yunani, pewartaan salib dalam konteks penyelamatan semacam ini tak masuk akal. Mana bisa gagasan penyelamatan lewat salib mungkin – menyelamatkan diri sendiri saja tak terjadi! Mempercayainya sama dengan berlaku bodoh, begitulah menurut alam pikiran orang Yunani ketika itu.
Pemikiran Paulus sebetulnya sebuah upaya untuk membuat iman kepercayaan dapat dibicarakan dengan budaya yang berbeda-beda arahnya. Ia mengajak orang yang berpikir seperti orang Yunani untuk bertumpu pada kenyataan bahwa ada orang percaya akan salib sebagai pokok penyelamatan. Mengapa seperti ini? Dan bila yang aneh ini sungguh maka pasti ada hal yang bisa ditarik sebagai kesimpulan, yakni masuk akalnya peristiwa salib itu sendiri. Bagaimana? Tentu karena tak berhenti di situ. Ada kelanjutannya, yakni kebangkitan sendiri! Dan kebangkitan selepas pengalaman salib inilah Hikmat yang sesungguhnya. Penalaran ini dapat dicapai mereka yang mau menalarkan mengapa percaya akan Kristus itu masuk akal. Ini penalaran yang lurus.
Titik tolak yang sama dipakai dalam berbicara dengan orang Yahudi. Bila salib yang kelihatannya seperti bukti Allah meninggalkan Yesus sendirian dalam kelemahannya itu nyata-nyata dipercaya sebagai jalan keselamatan, maka pasti ada yang mengubah kelemahan ini menjadi kekuatan yang amat besar, yang bahkan mengatasi kekuatan maut. Apa itu? Tak lain tak bukan tentunya kebangkitan! Inilah kekuatan ilahi. Kristus yang bangkit ini kekuatan ilahi sendiri. Patut diterima!
Dihubungkan dengan bacaan Injil, tanda mana yang diberikan untuk menunjukkan bahwa Yesus itu berhak bertindak membersihkan rumah Bapanya – mengaku diri Anak Allah sendiri. Tanda yang bakal diberikan ialah terbangunnya kembali bait dalam tiga hari setelah diruntuhkan (Yoh 2:18-19). Maksudnya, seperti dijelaskan dalam Yoh 2:21-25, yakni diri Yesus yang mengalami salib (runtuhnya bait) dan kebangkitan (terbangun kembali utuh dalam tiga hari).
Salam hangat,
A. Gianto