Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, May 30, 2018

Percikan Nas Kamis, 31 Mei 2018

Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet
warna liturgi Putih

Kamis, 31 Mei 2018

Bacaan-bacaan:
Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:39-56. BcO Kid. 2:8-14; 8:6-7.
Nas Injil:
39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” 46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Percikan Nas
Dalam imaginasi saya di film musikal “Di Mataku” saya membayangkan kegundahan hati Maria setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Sahabat-sahabatnya meninggalkan Maria karena apa yang diiyakan Maria terasa berat dan mereka tidak bisa membantu. Dalam kegelisahannya ia pun pergi menemui Elisabet saudarinya.
Berjumpa dengan Elisabet Maria merasa dikuatkan. Mereka pun yakin (dalam syair lagu yang kutulis) dengan mengatakan, “Jalan ini berat, banyak tanya di hati. Namun kami percaya Engkau slalu mendampingi.” Mereka sama-sama merasakan bahwa menjalani rencana Tuhan itu berat. Ada banyak pertanyaan yang mungkin belum bisa segera dijawab. Walau demikian mereka percaya Tuhan selalu mendampingi.
Perjumpaan persahabatan dengan Elisabet sungguh menguatkan Maria menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Dalam hidup kita pun mungkin masih tersimpan banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kadang hal itu bisa membuat kita ragu bahkan berhenti melangkah. Belajar dari Maria dan Elisabet kita mesti percaya Tuhan selalu mendampingi. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mereka yang menjalankan kehendak-Nya. Ia akan selalu memberikan jalan walau kesulitan hebat menghadang.
Doa:
Tuhan, jalan ini berat. Banyak tanya di hati. Namun kami percaya Engkau slalu mendampingi. Engkau tidak akan pernah meninggalkan kami dalam kesulitan yang tidak mudah kami atasi. Pada-Mu selalu ada jalan. Amin.
Perjumpaan Sahabat.
(goeng).

SAKSI IMAN DERITA KRISTUS

KETIKA LANSIA MENERIMA SAKRAMEN URAPAN ORANG SAKIT

Menakutkan?

Di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) salah satu dari tujuh Sakramen yang berkaitan dengan kondisi sakit di sebut Sakramen Urapan Orang Sakit. Tetapi banyak umat Katolik menyebutnya Sakramen Perminyakan. Dibandingkan dengan enam sakramen lainnya, Sakramen ini kerap diterima dengan rasa kurang menggembirakan. Orang dapat mengadakan pesta karena menerima Sakramen Permandian, Sakramen Penguatan, Komuni Pertama, apalagi untuk Sakramen Perkawinan dan Sakramen Pentahbisan. Menjelang Paskah dan Natal orang juga dapat berbondong-bondong untuk menerima Sakramen Pengakuan. Namun demikian Sakramen Perminyakan dapat menimbulkan rasa takut. Orang Katolik dapat ketakutan untuk menerimanya karena kekuatiran untuk meninggal dunia. Hal ini dilandasi oleh kebiasaan penerimaan Sakramen ini berkaitan dengan kondisi sakit berat yang menempatkan penderita berada dalam bahaya kematian. Ketakutan ini makin diperparah kalau di dalamnya terselip kepercayaan bahwa dengan menerima Sakramen Perminyakan, di samping kemungkinan orang dapat cepat sembuh dari penyakitnya, orang juga dapat cepat meninggal dunia kalau memang harus wafat.

Yang jelas dalam KGK  1514 dinyatakan bahwa Sakramen Urapan Orang sakit “bukanlah Sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja.”  Selain orang yang sakit berat dan yang menghadapi operasi besar, kaum lanjut usia juga termasuk yang dapat menerima. Hal ini didasari oleh alasan bahwa kaum lanjut usia dapat memiliki kondisi kekuatan badan yang mulai melemah (KGK 1515). Tentang kaum lansia bila menerima Sakramen Urapan Orang Sakit inilah yang akan kita bicarakan di sini.

Kan Masih Bisa Aktif?

Barangkali orang lanjut usia memang sudah terjangkit satu atau lebih penyakit bahkan penyakit yang membutuhkan perhatian hingga wafat. Barangkali karena penyakitnya lansia harus menyantap obat atau obat-obat seumur hidup. Hal ini memang membuat kondisi badan melemah tak sekuat sebelum punya penyakit apalagi seperti jaman masih punya kebugaran badan. Tetapi dibandingkan dengan yang boleh menerima Sakramen Urapan Orang Sakit lainnya, yaitu yang menderita sakit berat dan menghadapi operasi besar sehingga tak dapat ke mana-mana, kaum lansia yang diomongkan di sini relatif masih dapat mengalami mobilitas aktif.

Karena masih bisa aktif bahkan untuk kepentingan banyak orang, penghayatan iman lansia yang menerima Sakramen Urapan Orang Sakit selayaknya dicari kekhasannya. Dengan tulisan ini saya akan mencoba menyampaikan yang barangkali dapat menjadi kekhasan. Tentu saja ini adalah renungan saya berdasarkan pengalaman pribadi sebagai sosok yang boleh ikut dalam jajaran kelompok lansia. Lebih dari ini saya juga mengalami beberapa penyakit: hipertensi, kolesterol, trigiserit, asam urat, dan diabetes. Ada obat-obat yang harus saya santap setiap hari yang katanya sampai akhir hayat. Hipertensi saya derita mulai tahun 1972 ketika saya berumur 21 tahun. Kolesterol, trigiserit, dan asam urat sudah menyangkiti saya pada usia 40an hingga 50an tahun. Sedang diabetes diketahui hadir pada Januari 2012 ketika saya hampir 61 tahun. Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang berkomentar bahwa saya kelihatan segar. Dan benar, saya memang banyak merasa badan segar dan memang masih bisa ikut melayani umat dengan berbagai keterbatasan saya.

Saksi Iman dalam Kelemahan dan Derita

Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa sampai tulisan ini saya buat saya belum pernah menerima Sakramen Urapan Orang Sakit. Tetapi dari merenungkan KGK  1499-1525 dan omong-omong dalam Jagongan Iman dengan kelompok lansia di Pringgolayan dan Gondang, saya memberanikan diri untuk menyampaikan pertimbangan  tentang kekhasan penghayatan lansia kalau menderima Sakramen ini. Apalagi sebagai salah satu imam Gereja Katolik saya merasa ikut mendapatkan amanat Gereja yang berbunyi “Para pastor mempunyai kewajiban untuk mengajarkan umat beriman mengenai daya guna yang menyelamatkan dari Sakramen ini.” (KGK 1516) Dari daya guna inilah saya mau mengetengahkan pertimbangan saya. Daya guna Sakramen ini saya ambil dari buah-buah Perayaan Urapan Orang Sakit (KGK 1520-1523): anugerah khusus Roh Kudus, persatuan dengan sengsara Kristua, rahmat Gerejani, dan persiapan perjalanan terakhir.
  1.  Sadar kurnia. Buah pertama dari Perayaan Urapan Orang sakit dinyatakan sebagai berikut: “Rahmat pertama Sakramen ini ialah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan satu penyakit berat atau dengan kelemahan karena usia lanjut.” (KGK 1520). Ini semua adalah kekuatan Roh Allah yang membawa orang menuju kesehatan jiwa, dan kalau Allah menghendaki juga menuju pada kesembuhan badan. Dengan pelayanan imam dalam Sakramen ini orang akan mengalami kesehatan jiwa. Hal ini terjadi sebagaimana dikatakan oleh Santo Yakobus “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yak 5:15b) Dengan menerima urapan yang dilandasi doa yang sungguh beriman orang akan mengalami keselamatan dan kebangkitan batin. Dan bila berdosa, dia mengalami pengampunan. Suasana jiwa ceria sungguh dapat membawa suasana badan segar. Ada yang bilang bahwa kesegaran batin adalah obat yang berkekuatan 80% untuk kesehatan badan. Layaklah bila ada ungkapan mens sana in corpore sano (dalam jiwa sehat terdapat badan sehat). Dari buah pertama ini lansia perlu menyadari kurnia atau kurnia-kurnia apa yang sebetulnya ada dalam diri. Ini perlu digali dan atau dikembangkan. Karena itu adalah karunia atau rahmat (yang dalam bahasa Latin gratia yang berarti pemberian cuma-cuma), maka lansia akan memanfaatkannya sebagai ambil bagian demi kebaikan umum karena “tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1 Kor 12:7)
  2.  Ahli menderita. Dengan menerima Sakramen Urapan Orang Sakit orang “menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat dengan sengsara Tuhan” (KGK 1521). Di sini Katekismus juga mengatakan bahwa dengan menerimanya orang beriman seakan-akan “ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menebus.” (idem) Dengan ini lansia penerima dapat menjalani apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23) Orang ikut menghadirkan makna baru kesengsaraan sebagai keikutsertaan karya penyelamatan Yesus. Bagi orang beriman salib, sebagai tanda kesengsaraan yang menyelamatkan, adalah kebanggaan utama. Dengan demikian kita dapat berkata seperti Santo Paulus “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14) Dengan kenyataan iman itu lansia penerima Sakramen Urapan Orang sakit sewajarnya akan mampu menghayati keceriaan sebagai semangat hidup sekalipun mengalami derita karena kelemahan badan dan mungkin juga penyakit seumur hidup.
  3.  Rasul sesama penderita. Dengan merujuk ke KGK 1522, di dalam penerimaan Sakramen ini Gereja mendoakan kaum lansia di dalam persekutuan. Tetapi yang juga harus diingat adalah bahwa penerimaan Sakramen Urapan Orang Sakit menjadikan kaum lansia ikut menjadi rasul khusus dalam Gereja. Secara praktis lansia penerima menjadi bagian gerakan Gerejani yang bertugas “menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus” demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang. Tugas itu menjadi amanat bagi lansia penerima Sakramen Urapan Orang Sakit dalam menghayati kelemahan dan derita sakitnya sebagai daya motivasi untuk menjadi pewarta dan saksi karya Kristus bagi orang-orang lain sesama penderita.
  4.  Penghayat keabadian dalam kefanaan. Sakramen Urapan Orang Sakit bagi orang yang mendekati ajal menjadi kekuatan jiwani untuk berhadapan dengan saat akhir hidup di dunia. Hal ini dilandasi bahwa wafat dan kebangkitan Kristus adalah jalan keselamatan yang diyakini sejak penerimaanm Sakramen Pembaptisan. Bagi orang Kristiani  kematian adalah “sebagai pertemuan dengan Kristus dan sebagai langkah masuk ke dalam kehidupan abadi.” (KGK 1020). Bagi para lansia, penerimaan ini membuat kekuatan hati untuk siap sedia kapanpun Allah memanggil. Yang harus dicatat adalah keyakinan bahwa dalam pangkuan Bapa yang ada adalah kebahagiaan kekal. Kesediaan itu dapat dihayati di dalam kehidupan harian yang menampakkan kegembaraan batin sekalipun memiliki penyakit yang bagi banyak orang mengakibatkan kematian.

Puren, 25 Mei 2018

D BAMBANG SUTRISNO, PR.

Catatan:
Tulisan ini dibuat sebagai sajian dalam peristiwa Perayaan Sakramen Urapan Orang Sakit yang diterimakan bagi para lanjut usia di Paroki Pringgolayan, Yogyakarta, pada hari Selasa 29 Mei 2018.

Tuesday, May 29, 2018

Singkirkan Iri dan Dengki, Pikullah Salibmu Bersama Kristus


Rabu, 30 Mei 2018
Pekan Biasa VIII
Refleksi harian dan doaku berdasarkan Markus 10: 32-45
Sahabatku terkasih. Yesus berjalan di depan murid-muridNya, tegar dan teguh. Beberapa dari mereka yang mengikutiNya mulai gelisah, tetapi Yakobus dan Yohanes tampaknya tidak memahami keadaan yang serius itu. Tampaknya Yesus ditemani, namun dalam arti tertentu, Dia sendirian. Mereka tidak memahami yang dikatakan Yesus. Berulang kali Yesus mencoba menjelaskan kepada pengikutNya bahwa Ia akan ditolak dan diejek dan menderita kematian yang paling kejam. Tetapi mereka tampaknya tidak mampu menangkap pesan itu. Semua dianggap tidak masuk akal. 

Kadang-kadang kita juga mendengar dan membaca Sabda Kristus tentang salib yang harus kita pikul setiap hari dan bahwa kita harus kehilangan hidup kita demi Dia. Namun kita tidak paham. Bahkan ingin membuang salib itu. Yesus terus mengundang kita untuk mengikuti jejakNya dan memikul salib kita sehari-hari bersama Kristus.

Tuhan, sering kami lebih suka memerintah daripada taat. Sikap iri dan dengki menyebabkan persaingan dan perasaan pahit. Tolonglah daku untuk bersemangat taat dan setia memikul salibku. Ajarilah daku bersikap lemah lembut dan rendah hati kini dan selamanya. Amin.

 JoharT Wurlirang, 29/5/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Percikan Nas Rabu, 30 Mei 2018

Marta Wiecka, Baptista Varani, Yakobus Filipus Bertonius
warna liturgi Hijau

Rabu, 30 Mei 2018

Bacaan-bacaan:
1Ptr. 1:18-25; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mrk. 10:32-45. BcO 2Kor. 10:1-11:6.
Nas Injil:
32 Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, 33 kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” 35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” 36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” 37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” 38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” 39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” 41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Percikan Nas
Pada masa sekarang uang mendatangkan kuasa dan kekuasaan mendatangkan uang. Maka mereka yang beruang akan bertaruh mengejar kekuasaan atau minimal mendukung orang yang menguntungkannya untuk meraih kekuasaan. Dan mereka yang berkuasa cenderung mengumpulkan uang demi kepentingan sendiri dan kelompoknya. Maka banyak catatan tentang mahar politik maupun korupsi.
Yakobus dan Yohanes pun ingin mendapatkan kedudukan dalam kemuliaan Tuhan. Namun Tuhan mengingatkan bahwa kekuasaan dan kemuliaan yang dimiliki adalah untuk melayani bukan untuk menguasai. Pelayanan yang diberikan ini untuk kesejahteraan dan kedamaian bersama.
Rasanya sikap Tuhan itu bukan hanya menjadi tantangan pada jaman-Nya tapi juga jaman sekarang. Pemimpin masa kini mesti mengedepankan usaha menjalankan kekuasaan demi pelayanan warganya agar makin sejahtera dan damai. Maka kita pun sebagai warga negara mesti cerdas dalam menentukan siapa yang dipilih. Jangan sampai hanya karena kelompoknya atau karena uang 100rb kita mengorbankan idealisme kita dan memilih pemimpin yang mementingkan diri sendiri.
Doa:
Tuhan semoga para pemimpin kami mempunyai jiwa melayani demi kesejahteraan dan kedamaian bersama. Semoga para warga pun cerdas dan berani memilih pemimpin yang sungguh akan mensejahterakan mereka. Amin.
Pemimpin melayani.
(goeng).

Lamunan Pekan Biasa VIII

Rabu, 30 Mei 2018

Markus 10:32-45

10:32. Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya,
10:33 kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,
10:34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit."
10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"
10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"
10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."
10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"
10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.
10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."
10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.
10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran feodalistik yang menganggap martabat orang ditentukan oleh status sosialnya. Orang akan menjadi tokoh terpandang kalau memiliki jabatan tinggi.
  • Tampaknya, di era demokratis pun kedudukan sosial juga masih banyak yang mengejar. Melalui pemilihan umum banyak orang berlomba-lomba untuk berebut kursi jabatan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun rakyat masih mudah disogok dan ditipu untuk meraih jabatan kepemimpinan, bagaimanapun juga perolehan kedudukan adalah ketentuan ilahi lewat pemilihan umum seburuk apapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menerima hasil pemilihan umum sekalipun di situ terjadi aneka rekayasa kejahatan.
Ah, kalau proses pemilihan umum buruk yang hasilnya harus ditolak.

Berkah Penyangkalan Diri Demi Kristus


Selasa, 29 Mei 2018
PW Santo Filipus Neri, Imam
Refleksi harian dan doaku berdasarkan Markus 10: 28-31

Sahabat terkaaih. Sekilas, kata-kata Petrus kepada Yesus tampak egois.
"Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau." Kalimat itu tampaknya belum selesai dan bisa saja dilanjutkan dengan pertanyaan, "Apa manfaatnya bagi kami?" Namun, pertanyaan itu sesungguhnya tidak didorong oleh keegoisan, sebab merupakan tanggapan terhadap pernyataan Yesus sebelumnya bahwa sangat sulit bagi orang kaya untuk masuk surga. Dalam konteks itulah, Petrus ingin tahu apa kemungkinan masuk kerajaan Allah bagi seseorang yang telah menyerahkan segalanya untuk mengikuti Kristus. 

Inilah jawaban Yesus. Yesus bersabda Petrus dan kepada kita bahwa mereka yang telah menyerahkan segalanya tidak hanya akan menerima pahala kehidupan kekal di masa yang akan datang tetapi juga banyak pahala dalam hidup di dunia ini. Berkah tidak hanya diberikan kepada mereka yang hanya memberikan segalanya, tetapi lebih kepada mereka yang memberikan segalanya demi Kristus dan cinta Injil. Pengorbanan hanya bernilai bila dilakukan demi Kristus dan Injilnya, demi cinta. Niat kita dalam penyangkalan diri harus untuk memuliakan Kristus atau untuk mewartakan pesan Injil. 

Tuhan, Engkau menjanjikan berkah untuk penyangkalan diri yang dimulai dalam kehidupan ini dan memiliki puncaknya di kehidupan yang abadi. Hidup di dunia ini adalah pemurnian. Bantulah aku untuk melepaskan apa yang harus kulepaskan demi cinta padaMu dan InjilMu, bukan karena cinta untuk diri sendiri atau apa yang mungkin saya dapatkan dari itu. Ajarilah aku untuk tidak takut menyangkal diri sendiri demi mengasihiMu dan sesama kini dan selamanya. Amin.

Tinjomoyo, 29/5/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Aloys budi purnomo Pr

Sent from my heart of abudhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan;
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang;
Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang.

Monday, May 28, 2018

Percikan Nas Selasa, 29 Mei 2018

Yoseph Gerard
warna liturgi Hijau

Selasa, 29 Mei 2018

Bacaan-bacaan:
1Ptr. 1:10-16; Mzm. 98:1,2-3ab,3c-4; Mrk. 10:28-31. BcO 2Kor. 9:1-15.
Nas Injil:
28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” 29 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
Percikan Nas
Dalam banyak kesempatan melayat orang tua temen Rama, di pandangan mata selalu banyak orang yang datang melayat. Apalagi kala rama tersebut telah berkarya di banyak paroki atau tempat. Tampak selalu ada perwakilan dari paroki-paroki tempat rama tersebut pernah berkarya.
Tuhan mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat” (Mrk 10:29-30). Tuhan meyakinkan Petrus bahwa mereka yang mengikuti Dia akan mendapat anugerah tersebut.
Rasanya kita tidak perlu khawatir kalau anak kita mengikuti panggilan Tuhan menjadi imam, bruder dan suster. Kita tidak pernah akan kehilangan mereka. Banyak hal yang akan kita temukan dengan keikhlasan kita menyerahkan mereka kepada Tuhan. Tuhan tidak akan meninggalkan mereka yang berserah kepada-Nya. Tuhan akan melipatgandakan rahmat-Nya.
Doa:
Tuhan semoga panggilan menjadi imam, bruder dan suster bertumbuh di lingkungan sekitar kami. Semoga banyak orang tua ikhlas dan mensupport anaknya yang mau mengikuti panggilan-Mu. Berkatilah keluarga-keluarga yang telah merelakan anggotanya menjadi abdi-Mu. Amin.
Mendukung panggilan.
(goeng).