Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, May 5, 2019

Santo Hilarius dari Arles

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4090 Diterbitkan: 06 Mei 2014 Diperbaharui: 14 Maret 2017

  • Perayaan
    5 mei
  • Lahir
    sekitar tahun 401
  • Kota asal
    Lorraine, Perancis
  • Wafat
    Tahun 449 - Sebab alamiah
  • Venerasi
    -
  • Beatifikasi
    -
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Hilarius lahir sekitar tahun 401 dalam keluarga pagan. Ketika menginjak masa remajanya,  Hilarius diundang oleh Santo Honoratus ke biaranya di Lerin yang baru selesai dibangun. Hilarius segera jatuh cinta pada kehidupan membiara yang penuh kedamaian di pulau itu. Ia lalu memberikan dirinya untuk dibabtis dan tetap tinggal didalam biara sebagai seorang biarawan.  
Pada usia 29 tahun Hilarius ditabhiskan menjadi Uskup Agung Arles (sekarang Perancis).  Ia juga diangkat oleh Santo Paus Leo Agung sebagai Uskup Metropolitan di Propinsi Gerejawi itu.  Dalam jabatannya itu, Hilarius tetap menjalani pola hidup  sederhana sebagaimana seorang rahib, dan rajin melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan demi kesejahteraan para fakir miskin. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang tinggi disiplin hidupnya dan aktif dalam karya-karya pastoral.
Ia memecat Uskup Chelidonius dan Proyektus dari jabatan mereka karena kurang aktif dalam tugas dan kurang berdisiplin diri.  Karena tindakan ini bukan merupakan wewenangnya, maka ia diberi peringatan tegas oleh Paus.
Hilarius, seorang uskup yang sederhana, miskin, rajin, tegas dan mahir menafsirkan Kitab Suci. Ketegasannya membuat banyak orang menentangnya, namun tidak ada seorangpun yang meragukan kesucian hidup dari uskup Hilarius. Ia menjalankan tugasnya sebagai  Uskup Arles, dan terus berkarya hingga tutup usia pada tahun 449.
 Sumber : Katakombe.Org

Saturday, May 4, 2019

Percikan Nas Minggu, 05 Mei 2019

HARI MINGGU PASKAH III
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 5:27b-32,40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11,12a,13b; Why. 5:11-14; Yoh. 21:1-19 (Yoh. 21:1-14). BcO Why. 6:1-17.

Bacaan Injil: 
1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. 2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. 3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. 4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. 8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. 9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. 10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." 11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. 12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. 13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. 14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Memetik Inspirasi:
Pernahkah anda merasa kecewa? Karena apa? Berapa lama rasa kecewa itu bertahan?  Siapa pun dari kita pasti pernah kecewa. Kecewa karena harapan tak terkabulkan. Kecewa karena perjuangan tidak mencapai hasil yang baik. Kecewa karena tuntutannya tak terpenuhi dll. Lamanya kekecewaan itu bisa bermacam-macam. Pada saat kecewa kita sulit melihat kebaikan dari sesuatu atau seseorang yang membuat kita kecewa.
Para murid pun mengalami kecewa. Yesus yang diharapkan menjadi penyelamat malah mati di salib. Jenasah-Nya pun hilang. Dalam kekecewaan itu mereka pun tidak mampu menerima warta baik dari Maria Magdalena dan dua murid Emaus bahwa Yesus telah bangkit. Namun ketika mereka mulai bangkit dan mau bekerja menangkap ikan lagi, mereka gampang melihat kehadiran Tuhan.
Semakin lama kita tenggelam dalam kekecewaan semakin sulit bagi kita untuk melihat kebaikan. Semua yang ada tampak buruk dan buruk. Pikiran pun jadi selalu buruk. Maka mari seperti para murid. Kita bangkit dan melepaskan rasa kecewa kita dengan memulai hidup harian kita. Kala kita mampu melakukan itu kita akan menemukan kembali kebaikan-kebaikan yang ada. Jangan biarkan dirimu dikuasai kekecewaan. Hidupilah dirimu dengan kebangkitan dan kebangkitan.

Refleksi:
Bagaimana Anda mengatasi rasa kecewa?

Doa:
Tuhan banyak hal yang kami ingini seringkali tidak kami dapat. Kami pun sering kecewa karenanya. Namun kami percaya banyak kebaikan yang Kauberikan dalam peristiwa hidupku. Semoga aku selalu mampu melihat kebaikan-Mu. Amin.

Kecewa
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Paskah III

Minggu, 5 Mei 2019

Yohanes 21:1-19

21:1. Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
21:5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa makin tua orang akan makin mandiri. Hidupnya makin matang dan makin mampu memutuskan sendiri segalanya yang menyangkut hidup.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa makin tua orang makin berpengalaman sehingga makin mampu memastikan banyak hal. Dia makin mampu menjadi penuntun bagi orang lain terutama generasi yang lebih muda.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau makin banyak menghadapi masalah dan ancaman sehingga amat berpengalaman, orang makin tua akan sungguh menghayati kesejatian ketuaan kalau makin sadar bahwa makin harus belajar dan belajar. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati ketuaan bukan pertama-tama sebagai penuntun tetapi sebagai kerelaan dituntun karena makin mampu tidak hidup hanya mengejar kehendak diri.
Ah, orang makin tua justru makin menjadi guru dan petunjuk bagi anak-anak dan kaum muda.

Percikan Nas Sabtu, 04 Mei 2019

Peregrinus Laziozi, Yosef Maria Rubio
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; Yoh. 6:16-21. BcO Why. 5:1-14.

Bacaan Injil: 
16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu 17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, 18 sedang laut bergelora karena angin kencang. 19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. 20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" 21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju.

Memetik Inspirasi:
Berada dalam sebuah perahu di tengah laut dengan ombak yang tinggi memang membawa sensasi tersendiri. Rasanya seperti naik mobil bannya kotak. Selain itu keberadaan di tengah laut tanpa tahu orientasi sama sekali soal arah dan tujuan semakin menambah tinggi denyut jantung. Hal yang paling membuat yakin adalah kepercayaan pada kemampuan nahkoda.
Para murid pun berada dalam situasi seperti itu. Mereka berada di tengah gelombang. Sekalipun mereka nelayan profesional rasa was-was tetap ada dalam diri mereka. Yesus hadir. Mereka sempat takut. Namun ketika tahu bahwa itu Tuhan maka mereka tenang. Tuhan meneguhkan hati mereka. Bersama Tuhan mereka aman.
Kiranya Tuhan mesti selalu menjadi sandaran kita, apalagi kala kita lagi dalam situasi sulit. Ia akan selalu memberikan pertolongan kepada mereka yang lagi kesulitan. Keyakinan ini besar dan layak dijaga karena Tuhan tidak ingin satu pun umat-Nya hilang atau tercecer. Mari kita sandarkan hidup kita kepada Tuhan.

Refleksi:
Adakah pengalamanmu ditolong Tuhan?

Doa:
Tuhan kami selalu membutuhkan pertolongan-Mu. Jangan biarkan kami berada dalam kesulitan. Kami pun percaya Engkau tidak akan membiarkan kami dalam situasi yang tidak mampu kami atasi. Amin.

Tuhan menjaga.
MoGoeng
Wates

Friday, May 3, 2019

Santo Florianus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4041 Diterbitkan: 18 Oktober 2014 Diperbaharui: 03 Mei 2016

  • Perayaan
    4 Mei
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-2 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  • Kota asal
    Italia
  • Wilayah karya
    Austria
  • Wafat
    Martir - diikat dengan batu lalu ditenggelamkan ke sungai pada tahun 304
    Jenazahnya diselamatkan oleh orang-orang Kristen lalu dimakamkan dalam sebuah biara agustinian di dekat kota Lorch (sekarang Enns – Austria). 
    Tahun 1138 makamnya di pindahkan ke Roma dan sebagian relikwinya di berikan kepada Raja Kasimirus dari Polandia oleh Paus Lucius III
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Santo Florianus hidup di akhir abad ketiga. Ia adalah seorang perwira tentara Romawi dari Italia yang ditugaskan di wilayah Noricum (sekarang Austria). Disana ia menjadi seorang kristen dan dibabtis secara sembunyi-sembunyi. Masa itu, adalah masa penganiayaan orang kristen oleh kaisar Diokletianus. Kristen adalah agama terlarang, dan orang-orang Kristen dikejar-kejar, ditangkap dan dihukum mati.
Suatu saat di sekitar tahun 304, Florianus mendapat perintah untuk mengeksekusi sekelompok orang Kristen. Dengan berani Florianus menolak menjalankan perintah tersebut. Kepada atasannya ia kemudian mengaku sebagai seorang Kristen. Karena itu ia lalu ditangkap dan disiksa dengan amat mengerikan, lalu dihukum mati dengan cara ditenggelamkan ke sungai.
Tubuh martir Kristus ini kemudian diselamatkan oleh orang-orang Kristen lalu dimakamkan dalam sebuah biara agustinian di dekat kota Lorch (sekarang Enns – Austria).
Santo Florianus sering digambarkan sebagai seorang perwira tentara romawi yang sedang menyiram sebuah kota dengan se-ember air. Legenda tentang santo Florianus mengisahkan, Konon Florianus pernah menyelamatkan sebuah kota dari kebakaran dengan berdoa dan menyiramkan hanya se-ember air pada api yang berkobar. Secara ajaib api tersebut padam. Karena itulah Florianus dihormati sebagai santo pelindung dari bahaya kebakaran dan pelindung para pemadam kebakaran.
Pada tahun 1138 makam santo Florianus di pindahkan ke Roma, sebagian dari relikwinya di berikan kepada Raja Kasimirus dari Polandia oleh Paus Lucius III menyusul pemakluman Santo Florianus sebagai pelindung Negara Polandia dan Austria.
 Sumber : Katakombe.Org

Minggu Paskah III/C 5 Mei 2019 (Yoh 21:1-19)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/05/01; ilustrasi dari album Blog Domus


KEMBALI KE HIDUP SEHARI-HARI
Baru saja kita rayakan Paskah Kebangkitan Kristus dan penebusan umat manusia. Juga kita dengar Yesus meniupkan Roh Kudus kepada murid-muridnya. Hikmatnya juga ikut menyegarkan batin. Tetapi sekarang kita kembali ke hidup sehari-hari: mencari nafkah, memikirkan keluarga, masa depan, karier, pergaulan dengan sejawat. Rasa-rasanya kok kita kembali seperti dulu, sama saja. Apa arti kebangkitan dan kata-kata indah sebangsanya? Jawaban bagi serangkaian pertanyaan ini sebetulnya digarap dalam Yoh 21:1-19 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah III tahun C.
KEMBALI KE RUTIN
Demikian juga yang dipikirkan para murid Yesus. Memang mereka berbesar hati. Namun orang tidak bisa terus-menerus berbesar hati. Yesus sudah bangkit dan tidak diragukan lagi. Semua percaya. Lalu? Iman bukan dapur ajaib yang asapnya bisa berkepul terus. Iman tidak menggebah pergi begitu saja kesulitan rumah tangga, tidak menjawab semua soal di kantor. Memang seminggu sekali kita biasa ziarah ke oasis rohani sejam, pulang dibekali kata-kata dan gagasan indah mengenai iman yang mestinya membikin orang ulet dan tahan banting. Tapi kalau sungguh dibanting beneran apa betul-betul bertahan? Dan berapa lama?
Itulah sebabnya setelah beberapa waktu Petrus mengambil keputusan, “Aku mau pergi menangkap ikan.” (Yoh 21:3). Dan maksudnya menangkap ikan sungguhan, bukan ikan kiasan, bukan manusia-manusia yang akan dikumpulkan dan diajarinya tentang Yesus. Ia mau kembali bekerja seperti dulu. Kan masih punya kepiawaian sebagai pebisnis ikan danau. Dan pengalaman mengikuti Yesus dan menyaksikan hal-hal hebat dulu itu rasa-rasanya sudah jadi lembaran hidup yang mesti ditutup. Bisa diceritakan kepada orang banyak, tapi sudah selesai. Keadaan sudah berubah. Juga murid-murid lain yang disebut dalam ayat 2 berpikiran sama. Bertujuh mereka kembali ke pekerjaan mereka. Mumpung masih punya relasi. Paling tidak kan bisa kembali bekerja pada Firma Zebedeus & Sons di utara. Dan Yerusalem? Hanya kenangan manis yang makin lirih kedengarannya.
Catatan eksegese. Mengapa dipakai sebutan “kedua anak Zebedeus”, dan bukan Yakobus dan Yohanes begitu saja? Tentunya untuk mengingatkan pembaca, kedua murid ini dulu mulai ikut Yesus ketika masih bekerja dalam perusahaan ikan milik ayah mereka itu (Mat 4:21 dan Mrk 1:19-20). Petrus dan Andreas katakan saja mitra usaha Zebedeus & Sons ini (Mrk 1:16-20; Luk 5:10). Tuan Zebedeus memiliki pekerja-pekerja upahan (Mrk 1:20). Istrinya, Salome, dulu mengurus kebutuhan sehari-hari Yesus (Mrk 15:40-41). Jelas keluarga itu cukup berada. Tak heran, sebagai ibu dari kalangan terhormat, Ny. Zebedeus pernah memintakan kedudukan khusus bagi kedua anaknya di kanan kiri Yesus (Mat 20:20-21) dan mereka berdua sendiri memang menyatakan keinginan seperti itu (Mrk 10:37). Bagaimanapun juga perusahaan itu sambungan nafkah mereka sekarang. Dan bertujuh mereka membangun bisnis perikanan lagi, syukur dengan mitra-mitra baru.
YESUS DALAM HIDUP SEHARI-HARI
Penampakan yang dikisahkan dalam Yoh 21 lain dari yang lain justru karena terjadi ketika murid-murid sudah kembali ke kehidupan biasa, mencari nafkah, meniti hari demi hari. Mereka sudah tidak lagi sempat memikirkan lagi apa itu kebangkitan atau mengingat-ingat yang diajarkan guru mereka dulu.
Kali ini Yesus memperlihatkan diri kepada murid-murid dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seandainya para murid itu pemilik lahan pertanian, Yesus datang berdiskusi mengenai masalah agrobisnis, seandainya mereka itu pengajar, Yesus akan hadir dalam pembicaraan soal teologi, seandainya mereka pemilik bengkel, bisa jadi malah Yesus datang minta dicek mobilnya kok gasnya sudah tidak galak lagi. Ini kedengaran seperti khotbah yang melulu mau membumi-bumikan Injil. Tidak! Ini menampilkan kembali yang mau dikatakan penulis Yoh 21 sendiri. Penjelasannya? Yesus mendatangi murid-muridnya dalam kehidupan mereka yang nyata. Ia masuk dalam urusan mereka. Murid-murid semalaman bekerja dan sedikit hasilnya, malah kata penulis Injil “tidak menangkap apa-apa”. Dan hari mulai siang. Murid-murid melihat ada orang berdiri di pantai. Seperti seorang pemantau keadaan danau. Dan begitulah perkiraan para murid. Orang itu menunjukkan tempat yang ada ikannya. Maklum, tempat seperti itu lebih kelihatan bila diamati dari jauh. Ada tanda-tandanya: burung, air beriak, tanya saja kepada mereka yang ahli. Dan orang itu memberi aba-aba supaya jala ditebar di tempat yang ada ikannya. Yesus yang menampakkan diri kepada para penangkap ikan itu berlaku sebagai orang dari perusahaan perikanan mereka. Ia memberi tahu mereka agar menebar jala ke arah kanan (Yoh 21:6). Yesus masuk ke dalam urusan dan kehidupan mereka sebelum mereka mengenalinya. Hanya satu dari mereka yang menyebut diri “murid yang dikasihi Yesus” melihat siapa sebenarnya orang itu. Memang sejak melihat kafan dan penutup muka di makam yang kosong (Yoh 20:8), pikirannya tak lepas lagi dari gurunya itu. Ia melihatnya ada di mana-mana dan ingin mempersaksikannya kepada orang-orang di dekatnya. Kali ini ia memberi tahu Petrus yang juga langsung mengerti. Petrus pun mengenakan kembali pakaian luar yang tadi dilepaskan (Yoh 21:7) dan datang kepada Yesus. Bukan maksudnya seperti abdi dalem sowan kraton pakai jas beskap menyandang keris segala. Di sini pakaian membuat sosok orang dikenali. Agak idiomatik cara bicaranya. Maksudnya, Petrus datang kepada Yesus untuk memperkenalkan diri. Bukan Petrus yang dulu, tetapi yang sudah kembali ke hidup sehari-hari itu. Ia mau tahu apa Tuhan mau menerimanya kembali dalam keadaannya yang sekarang ini.
Di pantai Yesus sudah menyiapkan ikan dan roti. Mereka hanya diminta menambah lauk dari tangkapan mereka yang melimpah itu. Maklum “ikan” (ayat 10, Yunaninya “opsarion”) di situ juga berarti makanan yang dipakai lauk, dalam hal ini kebetulan ikan. Pembaca kisah ini akan teringat episode Yesus memberi makan lima ribu orang dengan roti dan lauk ikan dalam Yoh 6:1-15. (Dalam Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44 dan Luk 9:10-17 dipakai kata “ikan” yang biasa, “ikhtus”, tapi jelas memang untuk lauk.) Waktu itu murid-murid ini ikut membagikan makanan tadi. Kini mereka ikut berbagi makanan di tengah-tengah kegiatan mereka sehari-hari.
Penulis Injil menyebut tak ada yang berani bertanya siapakah dia itu karena tahu bahwa ia itu Tuhan (Yoh 21:12). Ada suasana keramat. Mereka sadar Tuhan di situ. Tak perlu macam-macam. Bila diakui kehadirannya, yang keramat akan memberi ketenangan. Kalau bertanya-tanya bisa jadi ia akan melejit pergi. Murid-murid diam. Paham. Yesus mendatangi mereka membagi makanan, memberikan dirinya yang keramat ke dalam hidup sehari-hari, dan murid-murid membawakan tambahan ikan sebagai lauk, sebagian hasil jerih payah keringat mereka. Dan ini membuat hidup berlanjut terus. Ini ujud hubungan dengan Yesus dalam dunia sehari-hari.
PENUGASAN PETRUS
Bagian kedua bacaan ini memuat kisah Yesus menugasi Petrus untuk mengurusi domba-domba miliknya (Yoh 21:15-19). Bila dibaca dengan saksama, dalam ayat 15 dan 17 Petrus diminta Yesus agar terus memberi makan domba-dombanya (bentuk kata kerja Yunaninya menyarankan tindakan memberi makan yang terus menerus dijalankan, “…tetaplah memberi makan domba-dombaku!”) dan dalam ayat 16 ia diminta agar memelihara terus domba-domba itu (Yunaninya “…teruskan menggiring domba-dombaku!). Bukan wewenang menjadi gembala, melainkan permintaan agar menjamin domba-domba itu tetap terpelihara, tidak terlantar dan selalu terlindung dari bahaya. Gembala domba-domba itu Yesus sendiri, sang “gembala baik” (Yoh 10:11,14). Lawan gembala baik bukan gembala jahat melainkan “orang upahan” yang akan lari bila ada bahaya (Yoh 10:12). Gembala yang baik itu kini mencarikan orang yang mengurusi domba-dombanya karena ia sendiri berhalangan, antara lain karena pergi kepada Bapa untuk menyiapkan tempat di atas sana bagi semua. Orang yang diminta mengurus ini ditanya apa betul-betul “mengasihiku lebih dari orang-orang itu” (Yoh 21:15-17; mengasihi di sini maksudnya setia, loyal). Tiga kali, berarti amat resmi, dan bersinggungan dengan tugas keramat. Menilik konteksnya, yang dimaksud “orang-orang itu” tentunya orang-orang yang tak berloyalitas seperti halnya orang upahan, bukan para murid lain. Petrus dan orang-orang seperti dia diminta mengurusi domba-domba Yesus, bukan dijadikan pemilik baru. Seandainya Yesus mengalihkan kepemilikan, pembicaraannya mengenai dirinya sebagai gembala baik akan kehilangan integritas. Siapa Petrus itu sekarang bukan pokok yang disorot. Yang sebaiknya diresapi ialah kegembiraan batin karena sadar Yesus tidak membiarkan domba-dombanya terlantar, tak terurus, terancam.
KEDUDUKAN YOH 21 DALAM INJIL YOHANES?
Umumnya para ahli berpendapat bahwa Injil Yohanes berakhir dengan Yoh 20:30-31 yang memang berperan sebagai kata penutup. Tetapi masih ada kelanjutannya, yakni Yoh 21, yang barusan dibicarakan, dan yang juga berpenutup, yaitu Yoh 21:24-25. Bagaimana penjelasannya? Yoh 21 ditambahkan oleh muridnya? Pembicaraan ini takkan ada habisnya. Tidak ada petunjuk pasti bahwa ditulis bukan oleh pengarang yang sama atau berbeda. Bagi kita sekarang, lebih bermanfaat mendalami kekayaan yang termuat dalam Yoh 21. Yesus yang telah bangkit itu tidak hanya tinggal di atas sana, melainkan mendatangi orang-orangnya dalam urusan masing-masing. Ia memasuki kehidupan kita. Dan oleh karenanya orang-orangnya menerima hidup baru. Satu hal lagi. Murid-murid membawakan tambahan bagi kebersamaan ini, ikan untuk lauk, dari tangkapan yang banyaknya 153 ekor ikan besar itu. Tak perlu kita telusuri panjangnya sejarah tafsir angka-angka itu. Paling membantu boleh jadi keterangan St. Hironimus. Angka itu mewakili semua jenis ikan yang dikenal para nelayan waktu itu. Dapat kita lanjutkan gagasan ini. Tangkapan yang menyeluruh yang dibawakan kepada Yesus itu menambah kebersamaan dan membawa orang mengakui keramatnya kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Paskah II

Sabtu, 4 Mei 2019

Yohanes 6:16-21

6:16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu
6:17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka,
6:18 sedang laut bergelora karena angin kencang.
6:19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.
6:20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!"
6:21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam hidup setiap orang mengalami yang namanya persoalan. Orang dapat merasa bingung dan dikuasai oleh rasa kuatir.
  • Tampaknya, di dalam hidup setiap orang mengalami yang namanya ancaman. Orang dapat merasa ngeri dan dikuasai oleh rasa takut.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, kalau menghadapi soal dan atau ancaman kemudian dikuasai oleh rasa kuatir dan atau ketakutan, hal itu pertanda orang tidak berada dalam topangan suara relung kalbu yang sejatinya selalu menghadirkan ketenangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu memiliki ketenangan batin berhadapan dengan berbagai soal bahkan ancaman.
Ah, berhadapan dengan ancaman jelas pasti bingung dan ketakutan.