Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, May 7, 2019

Lamunan Pekan Paskah III

Rabu, 8 Mei 2019

Yohanes 6:35-40

6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
6:36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.
6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang dapat merasa mendapatkan kebahagiaan kalau biasa olah kejiwaan. Kekuatan jiwani akan membuat orang mendapatkan pengakuan sosial amat luas.
  • Tampaknya, kekuatan jiwani akan membuat orang bagaikan magnit sosial. Banyak orang akan datang kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan atau pertimbangan-pertimbangan menghadapi kehidupan harian.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun punya kekuatan jiwani sehingga memiliki kebanggaan sosial, orang sadar bahwa kebanggaan sejati adalah kerelaan menjadi kado ilahi yang selalu dihadirkan pada aura nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjadi milik aura nurani yang tak mentelantarkannya berhadapan dengan bahaya hidup apapun.
Ah, orang yang kokoh jiwanya pasti berhasil mengalahkan berbagai macam persaingan.

Santa Rosa Venerini

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3808 Diterbitkan: 15 Agustus 2013 Diperbaharui: 12 Oktober 2015

  • Perayaan
    07 Mei
  • Lahir
    09 Februari 1656
  • Kota asal
    Viterbo, Italia
  • Wafat
    07 Mei 1728 di Roma, Itali | Oleh sebab alamiah
  • Venerasi
    06 Maret 1949 oleh Paus Pius XII
  • Beatifikasi
    4 Mei 1952 oleh Paus Pius XII
  • Kanonisasi
    15 Oktober 2006 oleh Paus Benediktus XVI Sumber : Katakombe.Org

Santa Rosa Venerini dilahirkan di Viterbo, Italia, pada tahun 1656. Setelah dewasa ia masuk biara; tetapi beberapa bulan kemudian ia terpaksa pulang ke rumah karena ayahnya yang adalah seorang dokter, meninggal dunia. Ia merasa bertanggung jawab untuk merawat ibunya yang janda.
Walau sudah hidup diluar biara, Rose tetap memilih untuk menjalani hidup selibat. Karena memiliki kemampuan dalam memimpin yang sangat luar biasa, Rosa mampu mengumpulkan perempuan-perempuan muda di sekitarnya tempat tinggalnya. Mereka berdoa rosario bersama di sore hari. Sementara mereka saling mengenal satu sama lain, Rosa menjadi sadar akan betapa sedikitnya yang diketahui kaum muda mengenai iman mereka.
Pada tahun 1685, Rosa dengan dibantu dua orang teman membuka sebuah sekolah gratis untuk para gadis. Para orangtua yang mengirimkan puteri mereka ke sana amat puas dengan mutu dan lingkungan pendidikan. Rosa adalah seorang pendidik yang berbakat. Lebih dari itu, ia dapat mendidik yang lain untuk mengajar.
Pada tahun 1692, Kardinal Barbarigo mengundang Rosa ke keuskupannya. Beliau menghendaki Rosa mengorganisir sekolah-sekolah dan melatih para guru. Dalam keuskupan inilah Rosa menjadi guru dan sahabat dari seorang yang kelak juga menjadi seorang kudus. Dia adalah St. Lucia Filippini (St. Lucia Filippini dimaklumkan kudus pada tahun 1930).

Rosa mengorganisir sekolah-sekolah di berbagai tempat. Sebagian orang tidak suka akan apa yang dilakukannya dan mengganggu Rosa dan para gurunya. Tetapi para guru yakin teguh pada keyakinan mereka akan nilai pendidikan. Rosa bahkan membuka sebuah sekolah di Roma pada tahun 1713. Paus Klemens XI mengucapkan selamat kepada Rosa sebab telah mendirikan sekolah yang begitu mengagumkan.

Guru yang berdedikasi tinggi ini wafat di Roma pada tanggal 7 Mei 1728 dalam usia tujuhpuluh dua tahun. Setelah ia wafat, para guru awamnya menjadi biarawati religius. Para biarawati Venerini melanjutkan karya pelayanan mereka dalam mengajar sebagaimana dilakukan Rosa. Rosa Venerini dimaklumkan “beata” oleh Paus Pius XII pada tahun 1952.
 Sumber : Katakombe.Org

Monday, May 6, 2019

Percikan Nas Selasa, 07 Mei 2019

Maria dari St Yusuf, Marie-Louise dari Yesus Trichet
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 7:51 - 8:1a; Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35. BcO Why. 8:1-13.

Bacaan Injil: 
30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? 31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." 32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. 33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." 34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." 35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Memetik Inspirasi:
Ada orang yang mengandalkan sabda Yesus sebagai pegangan dalam hidup dan usahanya. Mengandalkan sabda Tuhan ia pun memberikan banyak perhatian kepada karyawannya, baik dari sisi makanan, kesehatan, pakaian maupun tempat tinggal. Kebutuhan karyawan tentang hal tersebut ia cukupi. Pengaruhnya luar biasa. Turn over karyawan kecil. Para karyawan siap diajak kerja over time. Mereka yang sempat meninggalkan perusahaannya kecewa dan pingin balik lagi.
Orang tersebut awalnya sangat terkesan dengan sabda Yesus, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Ia percaya pada sabda tersebut. Ia pun mengikuti sabda-sabda Yesus yang lain untuk hidup dan usahanya.
Kiranya kita pun layak belajar padanya dan menemukan sabda-sabda emas Tuhan Yesus bagi hidup kita. Kita hidupi sabda emas itu dan sabda itu akan menghidupi kita. Kata-kata Tuhan menuntun hidup kita pada damai sejahtera. Kalau kita mengikutinya kita pun akan sampai pada damai sejahtera, karena Ia adalah roti hidup kita.

Refleksi:
Apa sabda Tuhan yang berkesan bagimu?

Doa:
Tuhan, Engkau banyak memberi jalan melalui sabda-Mu. Sabda-sabda-Mu pelita penuntun langkahku. Semoga aku cermat menangkap sabda-Mu dan menghidupinya dalam hidup keseharianku. Amin.

Sabda Emas
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Paskah III

Selasa, 7 Mei 2019

Yohanes 6:30-35

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, makan dan minum adalah kebutuhan dasar manusia. Sekaya apapun dan setinggi apapun jabatannya, orang akan menderita sengsara kalau ada halangan sulit untuk menyantap makanan dan minuman.
  • Tampaknya, makanan dan minuman memang dapat menjadi pertanda derajat tinggi seseorang. Orang dapat pergi tamasya kuliner tingkat elit atau pesta besar-besar untuk menunjukkan luas cakrawala pergaulannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mampu menikmati segala macam makanan dan minuman bahkan bersama kaum selebritis, orang belum tentu mengalami kepuasan sejati kalau tidak terbiasa mengkonsumsi santapan yang ada dalam nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang biasa menghampiri aura kedalaman batin untuk mohon santapan jiwani jadi daya untuk bertahan hidup.
Ah, orang akan sungguh puas dan bangga kalau mampu makan minum bersama para pejabat tinggi.

Santo Francis de Montmorency Laval

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2925 Diterbitkan: 13 Agustus 2013 Diperbaharui: 03 Mei 2016

  • Perayaan
    06 Mei
  • Lahir
    30 April 1623
  • Kota asal
    Montigny-sur-Avre, Normandy, France
  • Wafat
    6 May 1708 di Quebec, Canada | Sebab alamiah
  • Venerasi
    28 February 1960 oleh Beato Paus Yohannes XXIII
  • Beatifikasi
    22 Juni 1980 oleh Beato Paus Yohanes Paulus II
  • Kanonisasi
    3 April 2014 oleh Paus Fransiskus Sumber : Katakombe.Org

François de Montmorency Laval adalah anak ketiga dari  Hughes de Laval,  seorang Aristokrat Militer Perancis, dan Michelle de Pericard.  Sejak masih kecil Francis telah merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam. Ia kemudian masuk seminari Jesuit di La Fleche.  Banyak rintangan menghalangi  panggilannya untuk menjadi imam. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia tiga belas tahun, dan masih belajar di seminari.  Pada usia sembilan belas tahun kedua saudaranya yang lebih tua meninggal dunia.  François kemudian dipaksa untuk mengelola usaha keluarganya yang terbengkelai hingga ia sempat mengundurkan diri dari seminari untuk sementara waktu.  Keteguhan hatinya untuk mempertahankan panggilan imamatnya akhirnya membuahkan hasil yang indah.  François kembali masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 1 Mei 1647.
Imam muda François kemudian bergabung sebagai Anggota Paris Foreign Mission Society dan dikirim untuk berkarya di Indochina (sekarang Vietnam). Ia kembali ke Perancis pada tahun 1654. Selama empat tahun kemudian ia menghabiskan waktunya di sebuah pertapaan di Caen.
Tanggal 8 Desember 1658 François terpilih dan ditahbiskan menjadi uskup untuk Quebec City - New French (Canada). Ia segera meninggalkan Perancis dan tiba di Canada tahun 165.
Uskup Laval memiliki semangat misioner yang tinggi. Terlebih lagi, ia memiliki keberanian untuk memikul tugas tanggung jawab yang berat. Ia dipercaya untuk mengorganisir Gereja di Canada yang masih merupakan daerah misi. Uskup Laval meminta para misionaris Yesuit untuk melayani penduduk setempat. Ia membentuk paroki-paroki baru bagi umat Katolik yang berbahasa Perancis.
Pada tahun 1663, ia mendirikan seminari di Quebec. Ini merupakan langkah yang amat penting mengingat seminari yang baik diperlukan untuk mendidik calon-calon imam bagi umat Allah.

Uskup Laval mengasihi umatnya di wilayahnya yang amat luas. Ia seorang uskup yang penuh perhatian dan hidup dalam doa. Salibnya yang teristimewa adalah campur-tangan terus-menerus dari otoritas sipil. Ia khususnya berbicara lantang mengenai pengaruh buruk perdagangan minuman keras.

Pada tahun 1688, ia pensiun dan digantikan oleh Uskup de Saint-Vallier. Uskup Laval membaktikan duapuluh tahun terakhir hidupnya dalam karya-karya belas kasih dan pelayanan rohani. Ia wafat pada tahun 1708. Para peziarah datang berdoa di makamnya dan banyak mukjizat dilaporkan terjadi.
Uskup Laval di beatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 22 Juni 1980 dan dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 3 April 2014.
 Sumber : Katakombe.Org

Sunday, May 5, 2019

Percikan Nas Senin, 06 Mei 2019

Dominikus Savio, Ana Rosa Gattorno
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29. BcO Why. 7:1-17.

Bacaan Injil: 
22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. 24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. 25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Memetik Inspirasi:
Dalam banyak kesempatan saya ketemu banyak orang yang aktif dan banyak menyumbang Gereja. Dari kesaksian mereka terekam bahwa mereka terlibat karena ingin membaktikan diri pada Tuhan melalui Gereja. Mereka tidak punya pikiran apalagi tindakan untuk mengambil rejeki dari Gereja. Rejeki didapat dari aktivitas kerjanya di luar Gereja.
Orang-orang setelah mendapat pengalaman penggandaan roti berusaha mencari Yesus. Yesus tahu mereka mencari-Nya bukan karena melihat tanda-tanda tapi karena telah diberi makan roti dan kenyang (Lih. Yoh 6:26). Yesus pun mengingatkan mereka untuk mengutamakan Kerajaan Allah dan percaya kepada-Nya (Lih. Yoh 6:27.29).
Mengikuti Tuhan bukan jalan untuk mencari makan/rejeki. Namun ketika kita percaya pada Tuhan dan mengikuti jalan-Nya, rejeki itu akan mengalir pada kita. Kemurnian hati kita dalam mengabdi kepada-Nya menggerakkan hati Tuhan untuk mencukupi hidup kita. Tuhan mencukupi. Ia tidak akan membiarkan anak-Nya dalam kesulitan yang tak tertanggung.

Refleksi:
Kisahkan pengalamanmu dicukupi oleh Tuhan.

Doa:
Puji syukur kuhaturkan kepada-Mu Tuhan. Engkau selalu mencukupiku kala aku tulus mengabdi-Mu. Semoga aku pun tetap ada dalam keikhlasan melayani-Mu dalam pengabdianku. Amin.

Tuhan mencukupi.
MoGoeng
Wates

Lamunan Pekan Paskah III

Senin, 6 Mei 2019

Yohanes 6:22-29

6:22. Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.
6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"
6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
6:28. Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"
6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Katanya, untuk hidup orang harus bekerja. Dia bukan binatang yang hidupnya hanya tergantung pada hal yang disediakan alam begitu saja.
  • Katanya, dengan bekerja orang harus mengolah alam sesuai dengan perkembangan tekhnologi dan budaya setempat. Dengan bekerja orang menjalani tanggungjawabnya untuk mencari nafkah demi mempertahankan dan mengembangkan kehidupan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan bekerja mampu memperoleh hasil berlimpah untuk menopang kebutuhan-kebutuhan orang serumah bahkan dengan berbagai sedekah, orang baru menjalani kesejatian kerja bila itu dilakukan adalah penghayatan amanat nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang baru sungguh bekerja kalau apapun yang dilakukan adalah wujud ketaatan pada apapun yang diperintahkan oleh suara kedalaman kalbu.
Ah, yang pokok dalam kerja itu ya cari uang.