Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, April 4, 2020

CATATAN PENDEK 050420


Berinspirasi dari: HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN
Bacaan Perarakan : Mat. 26:14-27:66 atau Mat. 27:11-54

  1. Minggu Palma kali ini kita mengundang Tuhan untuk melawat ke rumah kita masing-masing. Kita serukan “Hosana, hosana” dalam hati kita.
  2. Walau tidak bisa hadir dalam Ekaristi di Gereja, Tuhan tetap bisa kita rasakan kehadiran-Nya dalam keluarga kita. Ia mendatangi setiap anak yang menantikan-Nya.
Selamat merenung
Selamat menjalani Pekan Suci
MoGoeng

Lamunan Pekan Suci

Hari Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan
Minggu, 5 April 2020

Matius 21:1-11

21:1. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya
21:2 dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.
21:3 Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."
21:4 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi:
21:5 "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."
21:6 Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka.
21:7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.
21:8 Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.
21:9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"
21:10 Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?"
21:11 Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, sehebat apapun seorang pejuang rakyat tetap akan memperhitungkan yang namanya ancaman. Dia dapat menyingkir kalau harus berhadapan dengan lingkungan yang bersikap negatif.
  • Tampaknya, seberani apapun orang dapat mencari tempat aman. Kalau menjadi sasaran pencarian untuk ditangkap, orang akan bersembunyi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun berhadapan dengan tantangan yang mengancam hidup, seorang pejuang sejati akan tetap berani tampil menghadapi dengan tetap menjaga sikap anti kekerasan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, sekalipun mendapat dukungan banyak orang untuk menghadapi golongan tamak dan ganas, seorang pemimpin tetap menjaga suasana agar tidak terjadi tindak kekerasan.
Ah, terhadap kaum busuk orang harus bertindak galak.

Santo Sosimus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2482 Diterbitkan: 16 Februari 2017 Diperbaharui: 03 Juli 2017

  • Perayaan
    04 April
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Tidak ada catatan
  •  
  • Wafat
    Menurut legenda; berumur panjang dan wafat dalam usia lebih dari 100 tahun
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santo Sosimus adalah seorang biarawan yang hidup pada abad ke-4. Ia tinggal di sebuah biara di tepi sungai Yordan di wilayah Israel. Santo Sosimus dikenal karena pertemuannya dengan Santa Maria Aegyptica (Maria dari Mesir) di padang gurun Yordania.
Adalah tradisi dari para biarawan disitu untuk menyepi ke padang gurun selama empat puluh hari selama masa Prapaskah. Mereka akan tinggal dalam keheningan di padang gurun berdoa dan menjalani puasa.  Mereka baru kembali ke biara sehari sebelum hari Minggu Palma. Ketika saatnya menyepi di padang gurun, Sosimus secara tidak sengaja menemukan pertapaan Santa Maria Aegyptica.  
Maria Aegyptica menceritakan kisah hidupnya dan meminta Sosimus untuk membawakannya Sakramen Ekaristi pada hari Paskah di tepi sungai Yordan.  Saat Sosimus melakukannya, Santa Maria Aegytica menemuinya di seberang dengan berjalan diatas air sungai Yordan demi menyambut Tubuh Kristus. Setelah mengucapkan syukur dan terimakasih, Maria meminta Sosimus untuk kembali membawakannya Sakramen Ekaristi  pada paskah tahun berikutnya.
Setahun kemudian Sosimus kembali tapi ia menemukan tubuh Maria Aegyptica yang sudah tidak bernyawa lagi. Tubuh pertapa wanita itu telah beberapa lama meninggal dunia, namun tetap utuh dan memancarkan bau yang harum semerbak.  Sosimus lalu memakamkannya dengan bantuan seekor singa yang lewat, lalu kembali ke Biara.
Santo Sosimus juga terkenal panjang umur, ia hidup selama hampir 100 tahun.(qq)

Friday, April 3, 2020

Minggu Palma 5 April 2020 (Mat 21:1-11; 26:14-27:66, Yes 50:4-7)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/04/01; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


Bila diadakan, perarakan liturgi Minggu Palma memperingati peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem (Mat 21:1-11). Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota tempat kebesarannya terwujud, yakni kebangkitannya. Injil Minggu Palma tahun ini menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius mulai dengan pengkhianatan Yudas pada hari Rabu (Mat 26:14-16) yang berkelanjutan Kamis petang (26:17-75 perjamuan malam, penangkapan dan persidangan di Sanhedrin, penyangkalan Petrus), diikuti dengan kejadian hari Jumat (27:1-61 penetapan hukuman bagi Yesus, penyaliban, dan wafatnya, penguburan) dan Sabtu (27:62-66 penjagaan kubur).
Mengapa dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambutnya di sana? Dari bacaan pertama dari Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin tokoh ini. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena ia memang mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupannya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendak-Nya. Terlalu capai dengan macam-macam urusan. Sang hamba juga mengakui tiap hari Yang Maha Kuasa sendiri menajamkan pendengarannya sehingga baginya jelas apa kehendak-Nya. Oleh karena itu ia dapat membawakan kehadiran ilahi ke tengah-tengah umat manusia. Ia tidak melawan bila dimusuhi. Ia membawakan kehadiran yang tidak menggetarkan. Inilah yang masih dikenali orang-orang yang menyambutnya di Yerusalem ketika mereka mendengar kedatangannya. Tetapi segera pendengaran dan penglihatan batin mereka digelapkan oleh sikap penolakan. Namun ia sendiri tetap pada jalannya: membawakan kehadiran ilahi di dalam keadaan apapun.
KEARIFAN – KUASA YANG LEMBUT
Menurut Mat 21:5, kedatangan Yesus di Yerusalem itu peristiwa yang sudah dinubuatkan nabi Zakharia 9:9, “Katakanlah kepada putri Sion (= Yerusalem beserta penghuninya): Lihat Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda.” Kemudian dalam ay. 7 disebutkan, setelah orang-orang mengalasi punggung keledai betina dan anaknya, Yesus pun “menaiki kedua-duanya”. Memang menaiki dua keledai itu sama anehnya bagi orang sekarang dan orang dulu. Tapi ini cara Matius mengatakan bahwa nubuat tadi kini sedang dipenuhi. Yang tak bisa dibayangkan secara biasa itu kini terjadi.
Dalam pemahaman Matius dan orang-orang yang penuh harapan pada zaman itu, Mesias yang mendatangi mereka ialah dia yang memiliki wibawa seorang raja (dalam teks Ibrani Zakharia ada penjelasan “ia adil dan jaya” – yang tidak ikut ditampilkan Matius karena sudah jelas) dan sekaligus tokoh yang “lemah lembut”, maksudnya, yang dapat memahami kerapuhan manusia. Memang seolah-olah ada dua tokoh: satu sisi kebesaran, sisi lain kelemahlembutan. Kedua-duanya mendatangi Yerusalem bersama. Inilah gagasan yang hendak diutarakan oleh Matius secara surrealistik dengan mengatakan Yesus menaiki keledai betina dan anaknya. Matius mempertajam Markus yang menceritakan Yesus mendatangi Yerusalem menunggang seekor keledai yang belum pernah dinaiki orang (Mrk 11:1-10). Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang lemah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu.
Lebih sukar mengendarai keledai daripada tunggangan lain karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Oleh karenanya, sering keledai hanya dipakai untuk mengangkut beban; pemilik berjalan di muka mengarahkannya, tidak menaikinya. Hanya orang yang “pintar” sajalah yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di muka. Apalagi keledai yang belum pernah ditunggangi orang! Ingat kisah mengenai Balaam, seorang ahli ilmu gaib yang diminta raja Balak menenung kocar kacir umat Tuhan, tapi akhirnya Balaam yang menunggang keledai betina itu memahami apa dan siapa yang sedang dihadapinya dan tidak jadi menuruti permintaan raja angkara murka itu (Bil 22-24. khususnya 22:21-35). Kini Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Maka jelas yang hendak dikatakan: ia orang yang penuh kearifan. Ia dapat menyatukan kejayaan dan kelemahlembutan, dua kenampakan yang sulit dibayangkan ada bersama pada diri orang yang sama.
Orang-orang menghamparkan pakaian di jalan ketika Yesus lewat. Apa maksud tindakan ini? Pertama-tama, dia yang lewat itu pasti tidak akan menjejak tanah yang kerap dipakai untuk menggambarkan kerapuhan serta kelemahan manusiawi. Yang mendatangi Yerusalem ini raja yang mengatasi kelemahan dengan kebijaksanaan yang lembut tapi berwibawa. Sekaligus tindakan menghamparkan pakaian itu juga menggambarkan kesediaan orang-orang untuk tunduk kepada dia yang sedang mendatangi dengan kebijaksanaannya itu. Pakaian membuat orang yang memakainya menjadi jelas. Bila dihamparkan berarti yang memakainya sedia menghamparkan diri di muka dia yang sedang lewat. Memang saat-saat ini kekuatan yang mengancam Yesus belum bertindak. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan yang mau menyingkirkan kebijaksanaan ini akan tampil. Orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus dan menyatakan diri tunduk kepadanya itu nanti juga akan ikut meneriakkan kematian baginya. Terlihat nanti betapa besar dan mengerikannya kekuatan yang melawan kebijaksaan itu. Sedemikian kuat hingga dapat menembus sampai ke lingkungan yang paling dekat dengan Yesus sendiri: Yudas.
KISAH SENGSARA
Kisah sengsara menurut Matius terdiri dari dua bagian. Bagian pertama ialah Mat 26:14 -27:10; bagian ini berawal dan berakhir dengan episode Yudas, yakni Mat 26:14-16 (Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala) dan 27:3-10 (Yudas mengembalikan 30 perak yang diterimanya dari mereka, lalu menggantung diri). Bagian kedua Kisah Sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus dan melepaskan Barabas atas desakan imam-imam kepala, Mat 27:11-26) dan berakhir dengan tindakan Pilatus juga (atas permintaan imam-imam kepala ia mengirim penjaga ke kubur agar jenazahnya tidak diambil murid-muridnya pada hari ketiga, Mat 27:65-66). Kehidupan Yesus pada hari-hari terakhir itu memang dijungkir-balikkan oleh Yudas dan Pilatus. Tetapi pembaca yang jeli akan melihat bahwa kedua tokoh ini sebenarnya juga cuma sekadar menjadi tangan kotor “para imam kepala, orang Farisi, tetua-tetua Yahudi”, yakni pihak yang membadankan kekuatan-kekuatan yang hendak membatasi gerak utusan ilahi yang datang ke Yerusalem itu.
Kisah tragis Yudas sering kurang didalami maknanya, atau paling-paling ia menjadi sasaran cercaan. Namun dapat lebih membuat kita memahami misteri tindakan ilahi bila dilihat bagaimana Yesus menanggapinya. Ketika mengumumkan dalam perjamuan malam bahwa di antara yang hadir ada yang bakal menyerahkannya, Yesus tidak menuduh siapapun. Bahkan ketika Yudas ikut bertanya apakah dia itu orangnya, jawab Yesus hanyalah “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:25). Kata-kata ini maksudnya sama dengan “Coba pikirkan apa sebenarnya yang sedang kaulakukan ini!” (Bandingan dengan ungkapan sama yang dikatakan dalam interogasi di depan imam agung Mat 26:64 dan di hadapan Pilatus 27:11.) Yudas sebenarnya orang yang terlalu naif. Keinginannya sesungguhnya ialah mendapatkan relasi dengan kaum berkuasa, bukan untuk mencelakakan Yesus. Dalam hati kecil kiranya ia berangan-angan, toh Yesus akan dapat menghindari penangkapan dan konsekuensi lebih jauh. Ia kan orang yang luar biasa.
Yudas mempunyai persepsi sendiri mengenai siapa Yesus itu. Inilah yang membuat Yudas celaka. Dia salah satu orang yang terdekat dengan Yesus tetapi tak bisa melihat siapa dia dan semakin menutup hati dan pikiran sendiri. Yesus telah tiga kali mewartakan bahwa ia akan mengalami sengsara dan mati dan bangkit. Itu jalannya. Murid-murid tidak memahami. Juga Yudas. Tetapi Yudas bukan hanya tak memahami melainkan bertindak gegabah menolak untuk memahami bahwa dia begitu. Ia mau mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sendiri. Dengan demikian ia menyepelekan kebijaksanaan ilahi. Menurut Mat 26:24 Yesus berkata bahwa yang terjadi pada Anak Manusia, yakni dirinya, sesuai dengan yang dituliskan tentang dia, tapi celakalah orang yang olehnya dia diserahkan. Maksudnya Yudas. Lebih baik baginya sekiranya ia tidak dilahirkan. Artinya, tindakan orang itu sebetulnya tak bakal mengubah jalan yang sedang ditempuh Yesus. Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sedang ditindakkan Yang Mahakuasa! Tragisnya, Yudas tidak menyadari hal ini. Ia baru terbangun ketika sudah terlambat. Dan sekali lagi ia masih mengira dapat mengurungkan yang terjadi dengan mengembalikan 30 perak yang diperolehnya. Ia makin terkurung dalam dirinya sendiri. Orang bisa memungkiri Yesus seperti yang dilakukan Petrus atau meninggalkannya seperti murid-murid lain, tetapi mereka tidak mendahului tindakan ilahi. Mereka itu bisa ditolong dan kembali. Tetapi dia yang mendahului tindakan ilahi atau mau mengurungkannya tidak bakal tertolong.
Disebutkan dalam bagian kedua Kisah Sengsara, istri Pilatus semalaman gelisah bermimpi dan keesokan harinya mengirim pesan kepada suaminya agar jangan mencampuri perkara “orang yang benar” itu (27:19). Ini isyarat dari Matius bagi pembaca Injilnya agar menengok kembali ke belakang, ke nasib tragis Yudas. Dengan menyerahkan Yesus sebetulnya Yudas “mencampuri perkara orang yang benar” dan mendapat celaka. Sekaligus pembaca diajak memeriksa dari dekat apakah Pilatus betul-betul mencampuri perkara ini dan sejauh mana. Sekalipun ia ikut campur, semua yang terjadi pada Yesus sebetulnya terjadi bukan karena Pilatus. Malah dalam seluruh bagian kedua kisah sengsara itu Matius memperlihatkan betapa konyolnya sang penguasa itu. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh pemuka-pemuka Yahudi.
Yesus tetap setia pada jalannya. Baginya tetap berlaku gambaran yang bertumpang-tindih antara raja yang jaya dan kelembutan yang membuatnya rapuh di hadapan kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha menjungkir-balikkan kebijaksanaan dengan mempergunakan baik Yudas maupun Pilatus. Tapi Yesus tetap berada di dalam garis kebijaksanaan hingga akhir. Inilah kebesaran utusan ilahi yang dirayakan selama Minggu Paskah ini.
Salam hangat,
A. Gianto

CATATAN PENDEK 040420


Berinspirasi dari: Yoh. 11:45-56

  1. Dalam perjalanan hidup manusia selalu ada masa untuk melakukan pengorbanan.
  2. Ketika pengorbanan tersebut dijalankan, langkah hidup malah lebih lancar dan berdaya.
Selamat merenung
MoGoeng

Lamunan Pekan Prapaskah V

Sabtu, 4 April 2020

Yohanes 11:45-56

11:45. Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.
11:46 Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.
11:47 Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.
11:48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."
11:49 Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa,
11:50 dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."
11:51 Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,
11:52 dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.
11:53 Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
11:54 Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.
11:55 Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu.
11:56 Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa beragama adalah upaya hidup untuk pengembangan sikap religius. Dengan beragama orang mengelola kehidupan agar dekat Tuhan dan memiliki rasa kemanusiaan.
  • Tampaknya, segala kewajiban dalam hidup beragama menjadi penyadar orang akan indahnya hidup mengikuti kehendak Tuhan di dalam penghayatan hidup sehari-hari. Agama menjadi tanda dan sarana hubungan mesra dengan Tuhan dan keterbukaan dan siapapun dan apapun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, walau tekun dan menjadi tokoh agama, tetapi kalau hidupnya amat menjaga identitas agama dengan segala simbol dan warisan praktek keagamaan, orang dapat menggunakan agama demi politik kekuasaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa hidup keagamaan yang dihayati demi politik kekuasaan akan membuat orang tidak mengutamakan hubungan batin dengan Tuhan dan hampa rasa kemanusiaan.
Ah, asal ikut berjuang menjaga agama orang akan suci.

CATATAN PENDEK 030420


Berinspirasi dari: Yoh. 10:31-42
  1. Di antara kita pasti kita menemukan orang-orang baik yang melakukan pekerjaan baik.
  2. Mungkin juga kita tidak mudah percaya pada perkataannya, namun baik kita mengakui dan mengikuti pekerjaan-pekerjaannya.
Selamat merenung
MoGoeng