Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, May 3, 2020

Lamunan Pekan Paskah IV

Senin, 4 Mei 2020

Yohanes 10:11-18

10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
10:13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.
10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku
10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pemimpin yang baik akan disayangi oleh banyak orang. Orang akan menghormati dan mendukung segala sepak terjangnya.
  • Tampaknya, di dalam hidup kenegaraan orang yang ada dalam jajaran kepemimpinan akan memiliki pengawal. Hidupnya akan terjaga dan selalu ada dalam pengamanan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mendapatkan penjagaan kuat untuk keamanan dirinya, seorang pemimpin sejati akan menghayati semua itu untuk kebaikan umum karena kesejatian nyawanya adalah kehidupan banyak orang sehingga tak menghalanginya untuk bergaul biasa dengan siapapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang pemimpin akan sungguh menyatu dengan yang dipimpin sehingga menghayati kesejatian kebersamaan.
Ah, pemimpin yang baik itu ya yang kariernya melebihi siapapun.

Beata Marie Leonie Paradis

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3481 Diterbitkan: 13 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    03 Mei
  •  
  • Lahir
    12 Mei 1840
  •  
  • Kota asal
    L’Acadie, Quebec, Kanada
  •  
  • Wafat
    3 Mei 1912 di Sherbrooke, Quebec, Kanada | Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    31 January 1981 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Beatifikasi
    11 September 1984 oleh Paus Yohanes Paulus II di Montreal, Kanada

Elodie Paradis dilahirkan di desa L'Acadie di Quebec, Canada pada tanggal 12 Mei 1840. Orangtuanya miskin, namun mereka adalah orang-orang Katolik yang saleh. Mereka mencintai gadis kecil mereka.
Ketika Elodie berusia sembilan tahun, orangtuanya memutuskan untuk mengirimkannya ke sebuah sekolah asrama. Mereka menginginkan puteri mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Suster-suster Notre Dame dengan hangat menyambut murid baru mereka. Elodi senang tinggal di asrama, meski ia dan keluarganya sungguh saling merindukan satu sama lain.

Bapak Paradis bekerja keras mengusahakan penggilingan. Tetapi masa-masa itu sungguh sulit dan penggilingan tidak memberikan hasil yang cukup untuk menopang hidup isteri dan anak-anaknya. Ia mendengar kabar-kabar yang menjanjikan mengenai penambangan emas di California. Pak Paradis begitu putus asa dengan usahanya hingga ia memutuskan untuk pergi mengadu nasib kesana.
Di California, ia tidak mendapatkan kekayaan seperti yang ia harapkan. Sebab itu ia kembali ke L'Acadie, dan sungguh tergoncang hatinya mendapati puterinya telah masuk biara. Elodie menggabungkan diri dalam Kongregasi Salib Suci pada tanggal 21 Februari 1854. Ayahnya segera menyusul ke biara. Ia memohon dengan sangat kepada puterinya untuk pulang ke rumah, tetapi puterinya memilih untuk tinggal. Pada akhirnya, ayahnya dapat menerima. Elodie mengucapkan kaulnya pada tahun 1857.

Elodie yang mengambil nama biara Marie-Leonie mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kota. Ia berdoa dan melewatkan hari-harinya dengan penuh sukacita. Sementara hari-hari berlalu, Sr Marie-Leonie dibimbing oleh Yesus untuk memulai sebuah ordo religius baru dalam Gereja. Suster-suster Kecil dari Keluarga Kudus dimulai pada tahun 1880. Para suster yang penuh kasih ini membaktikan diri pada pelayanan bagi para klerus. Suster-suster Kecil dari Keluarga Kudus sekarang telah memiliki enampuluh tujuh biara yang tersebar di Canada, Amerika Serikat, Roma dan Honduras.

Moeder Marie-Leonie terus berkarya hingga jam-jam terakhir hidupnya. Ia senantiasa rapuh dan kerap jatuh sakit. Namun demikian ia tidak pernah berhenti melayani umat Allah. Ia menuliskan koreksi-koreksi terakhir pada halaman-halaman buku peraturan hidup membiara untuk konggregasi yang didirikannya. Ia telah mengirimkannya ke percetakan. Buku tersebut akan memberikan bimbingan yang diperlukan para susternya.
Hari itu hari Jumat, 3 Mei 1912, ketika Moeder Marie-Leonie mengatakan bahwa ia amat lelah. Ia berbaring untuk beristirahat lalu pergi untuk selama-lamanya.

Saturday, May 2, 2020

Minggu Paskah IV tahun A tgl 3 Mei 2020 (Yoh 10:1-10)

diambail dari https://unio-indonesia.org/2020/04/27; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


TENTANG PINTU, GEMBALA YANG BAIK, DAN PEMIMPIN UMAT
Dua perumpamaan saling terjalin erat di dalam Yoh 10:1-10 (Injil  Minggu Paskah IV tahun A). Pertama, Yesus mengumpamakan diri sebagai pintu bagi kawanan domba. Kedua, ia mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan domba. Gambaran pintu dapat membuat orang berpikir mengenai jalan masuk yang dipakai pemilik domba-domba. Mereka yang masuk tanpa melewati pintu itu berniat mencuri, merampok. Mereka membuat kawanan ketakutan menjauh. Tapi gembala mereka datang melewati pintu dan memanggil kawanan satu persatu dan membawa mereka menuju ke padang rumput, ia dapat dipercaya. Bagaimana menafsirkan “pintu dan gembala” di situ dan mengembangkannya lebih lanjut? Bagaimana menghubungkannya dengan keadaan sekarang?
TENTANG PINTU, GEMBALA, DAN PENCURI
Gagasan sesederhana seperti “pintu” bisa mengecoh. Langsung bayangan kita terarah pada jalan masuk, penyekat, penutup, pemisah antara yang di luar dan yang di dalam. Dan memang semuanya benar. Semakin disimak, akan semakin terasa ada hal lain yang hendak dikatakan. Dalam bagian awal petikan dikatakan bahwa yang memasuki tempat kawanan tidak lewat pintu adalah pencuri dan perampok yang membuat kawanan ketakutan. Jadi gembala diperlawankan dengan pencuri dan perampok justru dalam hal masuk melewati pintu atau tidak. Dalam ay. 7 Yesus mengatakan dirinya itulah pintu bagi gembala. Ditegaskannya pula bahwa yang datang sebelum dia adalah pencuri dan perampok. Dapat disimpulkan, sebelum ia datang, kawanan itu tinggal di tempat yang tidak berpintu. Mereka ada di lapangan terbuka dan bisa dimangsa pencuri dan pembunuh. Kawanan itu tak terlindung. Kedatangan Yesus menjamin kehidupan mereka. Yang melalui “pintu” ini akan menemukan padang rumput. Pintu dan gembala seolah-olah menyatu. Dan memang itulah yang dimaksud dalam petikan ini. Tetapi mengapa justru gambaran pintu seperti ini dipakai?
Pintu dipakai untuk menutup jalan atau membiarkan orang melewatinya. Yang ditutup ialah jalan masuk bagi orang yang tak berwenang untuk mengambil begitu saja hak milik orang lain. Hanya gembala yang bisa melewati pintu dengan baik-baik justru karena kawanan itu miliknya. Yang dibuka ialah jalan keluar ke padang rumput tempat kawanan dipimpin oleh sang empunya, bukan oleh orang sewaan. Pemimpin ini membawa kawanan itu ke tempat mereka bisa menikmati kesejahteraan.
Dengan menggambarkan diri sebagai pintu yang tadinya belum ada itu Yesus hendak mengajarkan bahwa kini telah mulai zaman baru. Dia yang datang ke dunia itulah yang menjadi pintu. Ia bakal membawa orang ke padang rumput, ke tempat sejahtera. Sudah selesai zaman ancaman yang tak dapat ditanggulangi. Kini ada pembatas jelas, yakni dirinya, sang pintu itu. Memang masih akan ada ancaman dari mereka datang tanpa lewat pintu itu. Tetapi kawanan sudah tahu bahwa mereka itu tidak bermaksud baik. Dan mereka itu tidak mengenal kawanan satu persatu. Mereka hanya akan merampas dan membawa mereka ke pembantaian, bukan ke padang rumput.
KIASAN DAN MAKNA GANDA
Memang dalam teks Yohanes dipakai kata Yunani “thura” untuk mengungkapkan pintu jalan masuk dan keluar kebun, rumah, kandang. Dalam gambaran orang dulu, pintu berasosiasi dengan gerbang kota tempat orang berkumpul guna membicarakan urusan penting, untuk membawa perkara kepada penguasa setempat agar mendapat keadilan. Untuk ini memang ada kata Yunani lain, yakni “pulee”. Tetapi di sini kedua gagasan itu kiranya sengaja ditumpang-tindihkan agar tampil bayangan mengenai gembala yang memperlakukan kawanan dengan baik dan menjadi tempat keadilan dijalankan. Boleh dicatat, dalam bahasa Aram (“bahasa Yesus”) kedua gagasan itu biasanya terungkap dengan satu kata saja, tidak seperti Yunani atau juga Ibrani. Namun tak usah kita membebani pembicaraan dengan amatan dari segi bahasa-bahasa itu. Kita anggap saja, bagi para pembaca Injil Yohanes, “pintu” dapat menimbulkan dua gagasan tadi. Yang satu ialah jalan keluar/masuk yang resmi, dan yang kedua, tempat orang dapat berkumpul membicarakan masalah karena di situ para tetua kota berkumpul (Ul 21:19 25:7 Ams 31:23), jadi semacam pengadilan (Mzm 69:13 127:5 Ayub 31:21 Amos 5:10) atau tempat orang mengadakan kontrak dan perjanjian dengan saksi yang sah (Kej 23:10 Rut 4:1). Di tempat seperti itulah orang boleh berharap memperoleh keadilan serta perlindungan.
Dalam gagasan Kitab Suci, tiap pemimpin, entah itu raja atau Tuhan sendiri, bisa dibayangkan sebagai gembala. Dalam Yeh 34 Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik yang melawan gembala-gembala jahat, yakni pemimpin yang bertindak tak adil. Demikianlah dalam petikan dari Yoh 10 itu dimunculkan gambaran seorang pemimpin baik yang datang membawakan keadilan serta perlindungan kepada umat yang berkumpul menantikan dan mengharap-harapkannya. Ini semua dimungkinkan dengan ibarat “pintu” dan “gembala” yang datang lewat pintu itu. Pemimpin atau raja wajib memberi keadilan bila orang datang kepadanya. Sekali lagi gambaran ini sudah menjadi klasik dan termasuk dalam dunia alam pikiran orang waktu itu. Kenyataan sehari-hari tentu sudah berbeda karena kelembagaannya sudah berbeda. Namun demikian, “pintu” yang memiliki asosiasi dengan gerbang kota tadi dapat membuat orang berpikir mengenai tempat berkumpul menantikan tindakan seorang pemimpin yang mereka percayai.
MENGIKUT  SANG GEMBALA
Setelah kekayaan ibarat pintu serta gembala disadari, dapatlah didalami kelanjutannya. Dikatakan gembala memanggil kawanan satu persatu. Maksudnya, masing-masing domba dikenal gembala yang empunya kawanan itu tadi. Kawanan itu tidak diperlakukan secara anonim. Mereka tidak dianggap sebagai barang, melainkan sebagai pribadi. Hubungan antara pemilik dan kawanan itu hubungan pribadi. Bahkan bisa dikatakan tidak akan ada hubungan antara pemilik atau gembala dengan kawanan tadi bila tidak terjalin hubungan saling mengenal yang memberi rasa aman, rasa percaya.
Ketika disapa Yesus “Bu, kenapa menangis? Siapa yang kaucari?”, Maria Magdalena malah mengira sedang berhadapan dengan penjaga taman pekuburan Namun ketika Yesus memanggilnya dengan namanya, “Maria!” (Yoh 20:16), maka Maria Magdalena langsung mengenalinya. Begitulah sapaan pribadi membuatnya melihat siapa yang mendatanginya. Kembali ke ibarat gembala yang memanggil satu persatu kawanan yang akan dipimpinnya ke padang rumput tadi. Sapaan perorangan yang dialami dalam batin juga akan membuat orang mengenali kehadiran ilahi. Ia bukan orang yang tak dikenal yang membuat waswas. Begitulah pengalaman Maria Magdalena. Begitulah juga pengalaman para pengikut Yesus sepanjang zaman.
Disebutkan dalam Yoh 10:3, domba-domba itu mengikuti sang gembala. Mengikuti bukan berarti mencontoh, melainkan meniti jalan yang dibuka oleh yang berjalan di muka menuju ke padang rumput. Di dalam kesadaran para pengikut Yesus, pemimpin bukanlah dia yang meniru gembala sang empunya kawanan tadi, apalagi mengambil alih kedudukannya sebagai pemilik kawanan. Yang diberi kedudukan memimpin juga mengikuti dia yang menyapa satu persatu tadi. Mereka ini membantu agar kawanan bisa lebih melihat siapa yang berjalan di muka. Siapa saja yang merasa diajak memimpin juga akan memberi tahu sang empunya kawanan bila ada dari antara kawanan yang tertinggal dan tak menemukan jalan. Dalam Injil lain gembala yang empunya kawanan itu dikatakan akan mencarinya sampai ketemu (Luk 15:1-7 Mat 18:12-14).
Menurut adat kebiasaan, Paus di Roma menyebut diri “servus servorum”, harfiahnya ‘abdinya para abdi’. Maksudnya ialah yang sungguh-sungguh   “abdi”. Bandingkan ungkapan “servus servorum” dengan “King of Kings”, Raja Besar, Sang Raja; juga bandingkan dengan “Song of Songs”, artinya Kidung Agung. Jadi ia sendiri juga mengikuti Yesus sang Gembala, sang Empunya kawanan. Bukan dialah pemilik umat. Ia membantu agar umat dapat mengarahkan diri kepada sang Gembala. Kini dapatlah kita semakin menghargai siapa saja yang diserahi kedudukan ikut membawa umat lebih jauh ke depan. Mereka itu memungkinkan orang dapat mengalami kehadiran Gembala yang baik, sang Empunya kawanan dengan lebih nyata. Bila mereka menjalankan tugas mereka dengan sepenuh hati dan jujur, mereka tidak akan mengukuhi kawanan itu bagi mereka sendiri. Di situlah integritas pemimpin umat.
DARI BACAAN PERTAMA
Kis 2:14a.36-41 menyampaikan awal dan penutupan kotbah Petrus kepada orang-orang yang menyaksikan peristiwa datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Di situ Petrus menandaskan bahwa “Allah telah membuat Yesus yang kalian salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus”. Ternyatalah bahwa dia yang disalibkan itu – Yesus orang Nazaret – kini diangkat oleh Yang Maha Kuasa menjadi Tuhan dan utusan resmi dariNya sendiri. Salib yang dilaluinya kini menjadi jalan keselamatan bagi semua orang. Tetapi yang diwartakan Petrus lebih dalam. Pelaku penyaliban bertanggung jawab atas tindakan mereka, tetapi pertanggungjawaban ini bukan berupa hukuman melainkan hak untuk diselamatkan! Inilah teologi salib yang amat berani. Sekaligus ini penalaran yang menunjukkan betapa besarnya kemurahan ilahi.
Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Paskah IV

Minggu, 3 Mei 2020

Yohanes 10:1-10

10:1. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
10:6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
10:7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.
10:8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.
10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kedamaian dan kesejahteraan adalah dambaan semua orang. Di dalam khasanah budaya Jawa ini disebut keadaan tata titi tentrem karta raharja.
  • Tampaknya, orang juga biasa mencari rasa segar dan kebanggaan diri. Dia dapat memperolehnya dari makanan enak dan bahkan status terhormat di tengah masyarakat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun punya kepenuhan santapan lezat dan status terhormat, orang belum tentu mengalami kesejatian hidup sejahtera penuh kenikmatan kalau tidak biasa masuk ke dan keluar dari aura relung nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menemukan sumber yang tidak pernah kering dan lumbung yang tak pernah kosong.
Ah, yang menjamin rasa nikmat dan sejahtera adalah kalau punya banyak uang untuk beaya apapun yang diinginkan.

Santo Atanasius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 10215 Diterbitkan: 12 Agustus 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019

  • Perayaan
    02 mei
  •  
  • Lahir
    Tahun 297
  •  
  • Kota asal
    Alexandria - Mesir
  •  
  • Wafat
    2 Mei 373
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santo Atanasius adalah salah seorang santo terbesar dan tergagah sepanjang masa. Ia disebut sebagai Pilar Gereja, bapa Gereja dan pembela iman kristiani yang paling gigih yang pernah ada. Atanasius dilahirkan sekitar tahun 297 di Alexandria, Mesir. Ia membaktikan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Hal ini amat penting, karena dimasa itu ada sekelompok orang yang disebut Arian menyangkalnya.
Sebelum ia menjadi seorang imam, Atanasius telah banyak membaca buku tentang iman. Oleh sebab itulah dengan mudah ia dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan ajaran bidaah Arian. Athanasius ditahbiskan sebagai Uskup Agung (Uskup dalam Gereja Timur disebut Patriark) Alexandria ketika usianya masih belum tiga puluh tahun. Selama empat puluh enam tahun, ia menjadi seorang gembala yang menggembalakan umatnya dengan gagah berani.
Pada masa itu Gereja sedang berada dalam perpecahan akibat munculnya ajaran bidaah Aranisme yang mengingkari ke-Allahan Kristus. Aranisme bahkan telah merebak sampai kedalam istana kekaisaran Romawi dan beberapa kaisar juga sempat menjadi pengikut Arian.
Uskup Athanasius berjuang sekuat tenaga untuk melawan ajaran sesat dari kaum arian ini. Bahkan Kaisar Romawi yang juga pengikut Arian tidak dapat memaksanya berhenti menuliskan penjelasan-penjelasannya yang terang dan jelas mengenai iman kita yang kudus. Para musuhnya menganiayanya dengan berbagai cara. Lima kali ia diusir dari keuskupannya sendiri. Pengasingannya yang pertama berlangsung dua tahun lamanya. Ia dibuang ke kota Trier pada tahun 336.
Seorang uskup yang baik, St. Maximinus, menyambutnya dengan hangat. Pengasingan-pengasingan lainnya berlangsung lebih lama. Atanasius dikejar-kejar oleh para pengikut Aranisme yang hendak membunuh dia. Di salah satu pengasingannya, para rahib menyembunyikannya di padang gurun selama tujuh tahun.
Para musuhnya tidak dapat menemukannya. Suatu ketika, para prajurit kaisar mengejar Atanasius hingga ke Sungai Nil. “Mereka berhasil mengejar kita!” teriak para sahabat uskup. Tetapi, Atanasius sama sekali tidak khawatir. “Putar balik perahu kita,” katanya tenang, “mari menyongsong mereka.”  Para prajurit di perahu yang lain berteriak, “Apakah kalian melihat Atanasius?” Jawab mereka: “Kalian tidak jauh darinya!” Perahu musuh melaju sekencang-kencangnya dan Atanasius pun selamatlah.
Umat di Alexandria mengasihi uskup agung mereka yang baik hati itu. Ia seperti seorang bapa bagi mereka. Sementara tahun-tahun berlalu, mereka menghargainya lebih dan lebih lagi, betapa banyak ia telah menderita bagi Yesus dan Gereja.
Umatlah yang mengatur serta mengusahakan agar ia dapat hidup dengan tenang. Ia menghabiskan tujuh tahun terakhir hidupnya dengan tenang bersama mereka. Para musuhnya; kaum arian yang didukung oleh kaisar  tetap mengejarnya, namun tak pernah dapat menemukanya.
Selama masa itu, St. Atanasius menulis tentang Riwayat Hidup St. Antonius Pertapa. Antonius telah menjadi sahabat dekatnya sejak Atanasius masih muda. St. Atanasius wafat dalam damai pada tanggal 2 Mei 373. Ia tetap menjadi salah seorang santo terbesar dan tergagah sepanjang masa dan pembela iman kristiani yang paling gigih yang pernah ada.
Perjuangan Atanasius dalam menjaga kemurnian iman kristiani akhirnya berhasil dengan gemilang beberapa tahun setelah kematiannya yaitu pada tahun 381 saat diselenggarakannya Konsili Konstantinopel. Hasil Konsili penting ini menyatakan bahwa Aranisme adalah sesat dan terlarang.

Friday, May 1, 2020

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Athanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Sabtu, 2 Mei 2020

Yohanes 6:60-69

6:60. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, tidak sedikit orang mengaitkan kehidupan dengan kondisi fisik. Orang disebut hidup kalau jantung masih berdenyut.
  • Tampaknya, untuk menjamin kehidupan orang harus menjaga kesegaran tubuh. Kalau memiliki penyakit dia harus berani membiasakan diri dengan menu yang tidak membahayakan tubuhnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tak ada penyakit menjangkiti tubuhnya, orang belum tentu menghayati kesejatian hidup kalau tidak terbuka pada dan bergaul dengan nurani dan dengung suaranya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan memiliki kesegaran hidup sekalipun berhadapan dengan berbagai macam tantangan lahir batin.
Ah, yang namanya hidup segar itu ya yang biasa makan apapun karena badan sehat.

Santa Walburga

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4776 Diterbitkan: 27 Maret 2017 Diperbaharui: 01 Februari 2020

  • Perayaan
    25 Februari
    1 Mei
  •  
  • Lahir
    Tahun 710
  •  
  • Kota asal
    Devonshire, Inggris
  •  
  • Wilayah karya
    Bavaria Jerman
  •  
  • Wafat
    25 Februari 779 di Heidenheim Jerman
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santa Walburga lahir pada tahun 710 di Devonshire, Inggris dalam keluarga aristokrat. Ia adalah putri Santo Richard (Santo Richard Peziarah), raja Kerajaan Saxons di Wessex Inggris. Dua orang saudaranya juga menjadi orang kudus; yaitu Santo Winebald dan Santo Willibaldus. Seorang pamannya, yaitu adik dari ibunya, adalah Santo Bonifasius, Uskup dan rasul bangsa Jerman yang terkenal itu.
Ketika ia berumur 11 tahun, Ayahnya Richard bersama kedua saudaranya berangkat ziarah ke tanah suci Yerusalem. Walburga dititipkan di biara susteran Benediktin di Wimborne Dorsetshire Inggris. Ia dididik oleh para biarawati dan ditahbiskan menjadi seorang suster. Ia tinggal di biara ini selama 26 tahun sampai keberangkatannya ke Jerman pada tahun 748.
Walburga tiba di Jerman sesudah dua saudaranya, Willibald dan Winebald, untuk membantu Santo Bonifasius, dalam karya penginjilan diantara bangsa Jerman yang masih kafir. Bersama santo Bonifasius, mereka mendirikan biara-biara di beberapa wilayah Jerman yang baru menerima iman Kristiani. Selanjutnya Walburga diutus ke biara Benediktin di Heidenheim untuk membantu Winebald yang telah ditunjuk sebagai pimpinan biara tersebut.
Sesudah santo Winebald meninggal dunia pada tahun 761, Walburga ditunjuk untuk menggantikannya. Dibawah kepemimpinan suster Walburga, biara Heidenheim menjadi terkenal ke seluruh Jerman.  Bukan hanya terkenal karena mempraktekkan disiplin hidup membiara yang ketat, namun juga karena suster Walburga, sang pemimpin biara, diberkati Tuhan dengan karunia penyembuhan. Ia memiliki kuasa atas berbagai macam penyakit dan mampu menyembuhkan orang sakit dengan doa dan minyak pengurapan.
Santa Walburga tutup usia dengan tenang pada tanggal 25 Februari 779 dan di makamkan di biara tersebut. Pada tahun 870 relikwi-nya dipindahkan ke Gereja Salib Suci Eichstatt, Jerman.(qq)