Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, July 3, 2020

Minggu Biasa XIV/A – 5 Jul 2020 (Mat 11:25-30)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/07/03; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


SIAPAKAH DIA ITU?


Rekan-rekan yang baik!

Karena kesibukan saya di sini, saya minta Matt mengupas Injil yang dibacakan Minggu Biasa XIV A ini (Mat 11:25-30) yang  memuat pernyataan Yesus mengenai siapa dirinya di hadapan Allah (ay. 25-27), dan siapa dia bagi orang-orang yang bersedia menerimanya (27-30). Ia mau menulis. Berikut ini saya teruskan ke kalian jawabannya. Ia malah menambah amatan mengenai Za 9:9-10 yang diperdengarkan Minggu itu juga. Selamat membaca!

A. Gianto.
=====================================

Rekan-rekan di ruang Alkitab!

Banyak orang ingin tahu mengenai siapa tokoh Yesus yang katanya mengerjakan hal-hal yang hebat. Mereka bertanya-tanya bagaimana dia dapat mengajarkan tentang Yang Maha Kuasa dengan caranya sendiri, dari mana dia peroleh kepandaian menyembuhkan dan kekuatan mengeluarkan roh jahat dari diri penderita, mengapa dia memilih dan mengutus rasul untuk menjalankan hal-hal yang hingga kini dilakukannya sendiri. Itulah pertanyaan yang mengusik batin orang.

SIAPAKAH YESUS ITU?

Apakah dia itu benar-benar tokoh dinantikan orang banyak (Mat 11:2-6)? Juga Yohanes Pembaptis bertanya demikian. Ada yang berpikir, bila ya, mengapa ada yang berani menganggap sepi wartanya mengenai kedatangan Kerajaan Surga dan malah mengira ia berbicara yang bukan-bukan (Mat 11:7-19)? Bahkan di beberapa tempat seperti Khorazim, Betsaida, Kapernaum, orang-orang tak percaya kepadanya meskipun ia mengerjakan hal-hal yang ajaib (Mat 11:20-23). Apa yang dipikirkan Yesus sendiri tentang semua ini?

Tentunya kalian yang hidup pada zaman dan keadaan yang berbeda mempunyai pertanyaan lain, misalnya, apa arti mengikuti dia dalam masyarakat yang tidak lagi terbatas pada dunia orang Yahudi dulu, bahkan di tempat kalian yang tidak ada hubungannya dengan dunia itu. Bagaimana tetap bisa menerimanya dan meyakini ajarannya di tengah-tengah pelbagai tawaran ajaran keselamatan yang ada pada zaman kalian ini. Semua ini pertanyaan besar yang pasti mengusik batin kaum cerdik pandai. Tentu saja takkan saya terjuni gelanggang ini. Kali ini saya hanya akan menjelaskan pokok-pokok yang ada dalam petikan itu serta menunjukkan kaitannya dengan kehidupan orang yang memang sudah menerima dia. Saya kira begitu juga sikap kalian.

YESUS DAN BAPANYA

Dari pernyataan Yesus dalam Mat 11:25 dapat disimpulkan betapa ia sungguh mengenal Dia yang diwartakannya kepada orang banyak dengan pelbagai tindakannya: menyembuhkan orang, mengeluarkan roh jahat, mengajar, mengutus para murid. Semua kegiatan itu dilakukannya agar orang semakin mengenal kehadiran Allah di dunia, khususnya agar orang dapat melihat bahwa Allah itu Allah yang peduli, bahkan Dia bisa dipanggil dan diseru sebagai Bapa. Semua yang dikerjakan Yesus itu demi Dia yang mengutusnya. Dan ia tidak ragu-ragu mengakui hal ini. Dalam saat-saat yang kurang menyenangkan, seperti ketika dimusuhi, ditolak, Yesus justru menimba kekuatan dari kesadaran batinnya itu.

Rekan saya Luc juga menyampaikan hal tadi. Malah menurut Luk 10:21 Yesus penuh kegembiraan dalam Roh. Di situ Luc sebenarnya mau menggambarkan kegembiraan Yesus ketika mendengar hasil kerja ke-70 muridnya. Mereka berhasil membuat kekuatan-kekuatan jahat takluk ketika mendengar mereka mewartakan nama Yesus. Bagi Yesus, jelas Bapanya sendiri bertindak. Ia merasakan kesatuan dirinya dengan Dia yang mengutusnya. Karena itulah upayanya berhasil. Mereka yang ikut serta memperoleh keberhasilan pula.

Ingin saya tambahkan satu hal. Keberhasilan jangan diukur semata-mata dari besarnya penerimaan orang lho! Ini bisa menjurus ke demam panggung. Luc juga tahu itu. Yesus menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilannya itu bergantung pada kesanggupannya serta kesanggupan para murid mewartakan kebaikan ilahi. Perkara diterima atau malah dicurigai itu bukan hal pokok. Para pendengar masih tetap memiliki kemerdekaan. Sisi ini tidak boleh diabaikan. Kalau mereka menjadi sedemikian terpesona dan tak bisa lain kecuali menerima begitu saja maka sulit dikatakan mereka merdeka. Cara seperti ini bukan cara Yesus, bukan juga cara Bapanya. Bukan cara para penerus karya Yesus. Itu cara kekuatan jahat yang biasa menyudutkan dengan macam-macam kebaikan yang mengikat. Bila begitu tak ada kemungkinan memilih, orang hanya akan tanda tangan dan habis perkara. Tapi batin mereka tidak diperkaya. Mereka malah jadi kerdil dan makin terbelenggu.

ROMANTIK  “ORANG SEDERHANA”?

Kalian mungkin bertanya. Bukankah dalam ay. 25 Yesus bersyukur bahwa Bapanya menyembunyikan yang hendak disampaikannya terhadap pikiran orang-orang bijak dan orang pandai, tetapi Ia menyatakannya kepada orang kecil. Tapi jangan salah tangkap. Tak ada romantisme “orang kecil”. Kita-kita ini sering mengidealkan orang sederhana, kaum kecil. Kita bilang kita mau omong kepada orang di jalanan. Kalau hanya ragam bicara, okay deh, tetapi tak usah kita terbuai retorika kita sendiri. Juga orang kecil jangan kita jadikan komoditi yang bisa diperdagangkan entah oleh Gereja entah oleh LSM entah oleh orang kecil sendiri. Nanti malah berakhir dengan memaksa-maksakan kebaikan kepada mereka dan tidak menjalankan hal yang diinginkan dia yang mengutus kita.

Yang dimaksud Yesus dengan orang bijak dan orang pandai di sini ialah orang yang merasa sudah tahu bahwa Allah bertindak begini dan bukan begitu. Tentu saja mereka itu tidak sebarangan. Memang mereka punya kitab-kitab keramat, dan tradisi. Tetapi mereka lama kelamaan membatasi ruang gerak Allah sendiri. Mereka sulit menerima bahwa Yang Mahakuasa itu dapat memakai cara-cara yang tidak biasa, yang belum jadi rutin. Dengan mengutus Yesus ia memakai cara yang tak lumrah. Yang Mahakuasa memusatkan diri pada manusia Yesus itu. Dia itu satu-satunya yang mendapat perkenan untuk menampilkan wajahNya kepada umat manusia. Karena itu Yesus dapat memanggilNya Bapa dan dapat mengajak kita berani ikut memanggilNya demikian. Jelas hanya Putra sajalah yang mengenal Bapa. Ini kesimpulan iman kami. Dan hanya orang-orang yang diajak dan mau menerima Putra dapat mengenali Bapa seperti Yesus sendiri. Itulah yang diungkapkan dalam ay. 26-27.

Untuk menerima kenyataan iman ini, jalan orang bijak dan jalan orang pandai saja tak dapat menjamin. Memang mereka dapat sampai pada serangkai amatan mengenai kenyataan iman itu. Tapi belum berarti mereka hidup di dalamnya. Di sini perlu mereka menjadi orang kecil, menjadi orang yang mau menerima tanpa pamrih. Semacam komitmen dan keberanian melangkahi ambang. Sering sukar dijalani karena orang waswas, karena semua yang dipegang hingga kini tidak lagi kukuh. Yang menjamin ialah yang ada di seberang ambang itu, yang belum terpegang. Penyerahan, ya pasrah pada yang di sebelah sana, itulah sikap orang kecil. Mempertahankan pemikiran, mencari keamanan itu sikap orang bijak dan orang pandai yang tetap ada di sebelah sini. Mereka mandek di tengah jalan.

AJAKAN BAGI YANG PATAH SEMANGAT

Yesus sebetulnya tidak mengecam orang-orang yang dengan upaya sendiri mau mengerti siapa dia dan mau tahu apa hubungannya dengan Allah. Memang dikatakan sikap mau mengenalinya dengan upaya kebijaksanaan sendiri tidak membawa banyak hasil. Mereka nanti akan lelah. Bisa pula kecewa. Mereka akan kehilangan arah dan hilang semangat. Tetapi mereka tidak ditinggalkannya. Mereka telah melihat sejauh mana kebijaksanaan dan kepandaian mereka bisa menolong. Kini ditawarkannya satu hal yang dapat mengubah kehidupan mereka. Yang dapat membawa mereka ke tataran lain.

Bagi orang pada zaman itu jelas yang diarah ialah mereka yang dengan cermat dan saleh mengikuti perintah-perintah Taurat yang jumlahnya sampai 613 – enam ratus tigabelas! Perintah dan larangan ini bisa menjadi beban yang memberatkan dan tak menjamin kebahagiaan yang sejati dan belum tentu bisa menjadi ungkapan iman yang hidup. Nanti dalam Mat 23:4 Yesus memberi tahu orang banyak bahwa para ahli Taurat dan kaum Farisi memonopoli ajaran Musa dan memberatkan umat dengan perintah-perintah yang tidak mereka hayati sendiri. Tak mendatangkan hasil. Dan toh cara-cara itu dianggap cara beragama yang baik! Mereka menjadikan agama beban, bukan jalan memerdekakan batin agar dapat menerima kehadiran ilahi – dan menerima sesama seperti apa adanya.

Ada ajakan untuk ikut mengangkat beban yang dipanggul Yesus, ikut memikul yang dipikulnya. Menerima ajakan seperti ini melegakan. Kenapa? Bila mau pakai pikiran orang biasa, ya mestinya karena yang berat-berat sudah dipikulnya sendiri. Kita ini akan ikut memanggul beban bukan pertama-tama untuk ikut berkorban, ikut menderita, dst., melainkan sebagai tanda terima kasih bahwa dia sudah mau menjalankan tugas yang diberikan Bapanya itu. Kita sudah menikmati hasil jerih payahnya. Dan ungkapan terima kasih inilah yang mendasari keselamatan kita. Bukankah berterima kasih itu sama dengan mengakui kebaikan? Itulah yang dilakukan Yesus ketika ia bersyukur kepada Bapanya seperti terungkap pada awal bacaan hari ini. Orang yang mampu mengucap syukur akan menemukan jalan lapang. Mereka ini juga bisa mengajak orang lain maju terus. Itulah keleluasaan batin orang beriman.

Salam,
Matt

TAMBAHAN:  Dengar-dengar Za 9:9-10 akan kalian bacakan juga dalam kesempatan kali ini. Petikan itu menyoroti satu sisi baru dari sang “raja” Mesias  yang bakal dimuliakan di bukit Sion di Yerusalem. Dalam alam pikiran orang Yahudi dulu, juga pada zaman Yesus, tokoh Mesias turun temurun menjadi tumpuan harapan akan masa depan yang gemilang, yang jaya, yang adil dan makmur. Kalian tentu tahu bahwa harapan-harapan seperti ini terasa bila keadaan hidup di masyarakat sedang kurang baik. Keadilan serasa dilupakan para pemimpin. Kekerasan merajalela. Susahnya, tak begitu terlihat jalan ke perbaikan. Maka banyak orang mulai menginginkan dan mengangankan keadaan yang sempurna yang bakal datang yang dibawakan oleh seorang utusan resmi dari Yang Maha Kuasa sendiri. Cara ini juga dulu dipakai untuk memahami siapa Yesus tokoh yang semakin tenar di masyarakat dan memikat perhatian orang banyak.

Pada zaman kalian prinsipnya bisa jadi masih sama, cuma tentunya ujudnya agak lain. Gus barusan memberitahu tentang keadaan di negeri kalian. Katanya ada pelbagai agama dan macam-macam aliran kepercayaan. Sebetulnya mirip zaman dulu juga. Dalam keadaan ini kerap kali agama berlomba-lomba cari pengaruh dengan macam-macam cara yang sering membuat orang rada kurang merasa enak. Kok gitu ya, batin orang. Memang umat agama juga masih tetap kumpulan manusia yang hidup dalam kaidah-kaidah hidup kemasyarakatan. Dalam hubungan ini bisa jadi agama jadi penghalal apa-apa saja yang melestarikan serta membesarkan kelompok sendiri.

Dalam petikan dari Zakharia itu disarankan agar orang tidak membiarkan diri dikuasai cara berpikir dan bertindak yang begitu. Nabi itu dengan berani mengatakan bahwa sang Terurapi yang betul-betul ini ialah tokoh yang “lemah lembut”, dus tidak menakutkan dan tidak membuat orang mulai kehilangan kebebasan di hadapannya.. Ini gambaran yang berbeda dengan yang kerap ditawarkan pada zaman itu. Biasanya mereka berkampanye bagi Mesias yang hebat yang kuat, yang bakal menghantam mampus musuh. Dengan demikian barang siapa yang ikut dia akan dapat bagian dalam kebanggaan ini. Bukan itu, demikian Nabi Zakharia mau mengatakan. Mesias yang benar ialah yang membuat orang bisa bersimpati padanya dan di sinilah mulai ada rasa saling percaya, di sinilah mulai tumbuh iman dan kebenaran. Dan ini juga yang saya olah dalam pelbagai tulisan.

Lamunan Pekan Biasa XIII

Sabtu, 4 Juli 2020

Matius 9:14-17                              

14. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 16 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. 17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tidak sedikit orang memandang bahwa beriman berarti hidup beragama. Tuhan diketemukan dalam agama.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yakin kalau mau sungguh ikut Tuhan harus sungguh taat pada tatanan keagamaan. Orang akan berpegang teguh pada ajaran agama dan menjalani tradisi yang sudah jadi turun temurun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin beragama, orang baru sungguh beriman kalau hatinya lekat dengan Tuhan dalam terang nurani yang terwujud dalam praktek keagamaan sesuai dengan keadaan kongkret. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjaga diri untuk semakin ikut Tuhan dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.

Ah, beriman itu ya taat menjalani tradisi agama.

Santo Thomas Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 18300 Diterbitkan: 02 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019

  • Perayaan
    03 Juli
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Siria, Armenia, Persia, India
  •  
  • Wafat
    21 Desember 72 di Mylapore, India - Martir
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Sebelum mengikuti Yesus, Thomas adalah seorang nelayan. Tapi tidak seperti Petrus atau Andreas yang memiliki perahu sendiri; Thomas hanyalah seorang nelayan kuli yang tidak memiliki perahu. Hidupnya hampir selalu serba kekurangan. Inilah yang membuat ia sangat hati-hati, pesimistik, cepat menyangka akan terjadi hal-hal buruk.

Ketika Yesus ditangkap, Thomas kehilangan keberaniannya. Ia melarikan diri bersama para rasul yang lain. Hatinya hancur oleh rasa duka atas wafatnya Kristus yang dikasihinya. Kemudian, pada hari Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri kepada para rasul-Nya setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Waktu itu Thomas tidak bersama mereka. Begitu ia datang, para rasul yang lain menceritakan padanya dengan penuh sukacita, “Kami telah melihat Tuhan!” Mereka pikir Thomas akan ikut bergembira bersama mereka. Tetapi, Thomas tidak percaya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya,” demikian katanya, “dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian, Yesus kembali menampakkan diri kepada para rasul. Kali ini, Thomas juga ada bersama mereka. Yesus memanggilnya dan memintanya untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan luka di lambung-Nya. St. Thomas yang malang! Ia jatuh tersungkur di kaki Sang Guru dan mengucapkan ungkapan imannya yang indah.., yang terus kita ulangi sampai hari ini dalam doa-doa kita;  “Ya Tuhanku dan Allahku!”.  Kemudian kata Yesus, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:28-29)

Sesudah hari raya Pentakosta, para rasul dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Mereka menjadi kuat serta teguh dalam iman dan kepercayaan pada Yesus.  Thomas diyakini berlayar ke India pada tahun 52 M untuk mengabarkan Injil kepada orang Yahudi diaspora di Kerala. Ia mendarat di pelabuhan kuno Muziris (Kota ini punah pada tahun 1341 akibat banjir besar) dekat Kodungalloor. Kemudian ia ke Palayoor (sekarang dekat Guruvayoor) dan pada tahun 52 itu pula sampai ke bagian selatan yang sekarang menjadi negara bagian Kerala, di mana ia mendirikan Ezharappallikal atau "Tujuh Setengah Gereja". Gereja-gereja tersebut adalah di Kodungallur, Kollam, Niranam (Niranam St. Marys Orthodox Church), Nilackal (Chayal), Kokkamangalam, Kottakkayal (Paravoor), Palayoor (Chattukulangara) dan Thiruvithancode Arappally – gereja yang setengah.

Menurut tradisi, St.Thomas mati syahid di St. Thomas Mount di Chennai dan dimakamkan di dalam San Thome Cathedral Basilica.  Tradisi ini diperkuat dengan tulisan St. Efrem dalam karyanya "Carmina Nisibina"  bahwa Thomas dibunuh di India disekitar tahun 72, dan jasadnya kemudian dikuburkan di Edessa, dibawa ke sana oleh seorang saudagar yang tidak disebut namanya.  Sebuah kalender gereja Suriah kuno mendukung tulisan St. Efrem di atas dan menyebutkan nama saudagar itu, dimana ditulis: "3 Juli, St. Tomas ditusuk dengan lembing di India. Badannya ada di Urhai (nama kuno untuk Edessa)  setelah dibawa ke sana oleh saudagar Khabin dalam suatu perayaan agung.

Pada tahun 232 sebagian besar relikwi Rasul Thomas diserahkan oleh seorang raja India untuk dibawa ke kota Edessa, Mesopotamia. Sedikit relikwi tetap disimpan di makam St. Thomas dalam gereja di Mylapore, Tamil Nadu, India, sampai hari ini.

Thursday, July 2, 2020

Lamunan Pesta

Santo Tomas, Rasul

Jumat, 3 Juli 2020 

Yohanes 20:24-29                         

24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang beragama dapat merasa memiliki iman kuat karena memiliki pengalaman di luar nalar. Dalam kondisi tak berpengharapan dan sudah menyerah tak mampu apa-apa tiba-tiba terjadilah yang diinginkan.
  • Tampaknya, orang juga dapat merasa memiliki kekuatan batin hebat karena mampu mengalami penglihatan-penglihatan gaib. Dia mempunyai kekuatan supranatural sehingga mampu menyaksikan yang tak dapat ditangkap oleh mata orang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun mampu menangkap hal-hal gaib atau memiliki pengetahuan yang canggih, orang belum tentu meraih kebahagiaan yang sejatinya dapat dihayati oleh orang-orang biasa yang biasa mengandalkan hidup pada kata-kata nurani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dapat menghayati kebahagiaan sekalipun hidupnya biasa-biasa saja tanpa prestasi besar.

Ah, bagaimanapun juga orang akan sangat bahagia karena hidupnya penuh prestasi.

Santo Otto dari Bamberg

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits:3318 Diterbitkan: 02 September 2013 Diperbaharui: 01 Juni 2014

  • Perayaan
    02 Juli
  •  
  • Lahir
    Tahun 1062
  •  
  • Kota asal
    Bavaria
  •  
  • Wafat
    30 Juni 1130 di Pomerania (Sekarang wilayah Polandia)
  •  
  • Kanonisasi
    tahun 1189 oleh Paus Klemens III


Otto hidup pada abad keduabelas. Ia dilahirkan di Swabia, sekarang Bavaria. Ia menjadi seorang imam dan ditugaskan melayani Kaisar Henry IV. Lambat laun, Pater Otto mendapatkan jabatan tinggi dalam pemerintahan. Ia menjadi penasehat Kaisar Henry.

Otto berusaha mempengaruhi kaisar untuk bertindak adil dan bijaksana dalam keputusan-keputusannya. Tetapi, Henry melakukan kejahatan-kejahatan dan berusaha menimbulkan perpecahan dalam Gereja. Ia bahkan menunjuk pausnya sendiri. Otto merasa sangat sedih dan berupaya agar Henry berubah. Henry IV sendiri menetapkan Otto sebagai seorang uskup. Otto menolak ditahbiskan hingga ia dapat pergi ke Roma dan menerima persetujuan dari paus yang sebenarnya, Paus Paskalis II. Paus mentahbiskannya.

Uskup Otto memberikan banyak sumbangan bagi masyarakat Swabia, teristimewa di bawah Kaisar Henry V. Kaisar ini mengikuti cara ayahnya, Henry IV. Tetapi, meski ia keras dan bengis, ia menghormati Otto dan kerap mendengarkan nasehatnya.

Ketika Raja Boleslaus III dari Polandia menaklukkan bagian wilayah Pomerania, ia meminta Otto ke sana. Pomerania adalah sebuah propinsi dari Prussia di wilayah Baltik. Penduduknya kafir. Uskup Otto menyambut kesempatan untuk menyampaikan Kabar Gembira kepada mereka. Pada tahun 1124, uskup memimpin sekelompok imam dan katekis ke Pomerania.

Banyak orang menerima pengajaran dan dibaptis. Konon jumlah mereka yang menjadi percaya mencapai lebih dari duapuluh ribu orang. Uskup Otto mengutus imam-imam untuk melayani umat Kristiani yang baru itu. Ia sendiri kembali ke negerinya.

Tak lama berselang, sebagian penduduk Pomerania mulai kembali ke cara hidup kafir mereka. Uskup Otto kembali ke Pomerania pada tahun 1128. Ia membantu penduduk untuk kembali menjadi umat Kristiani yang saleh. Uskup Otto wafat pada tanggal 30 Juni 1139 dan dimaklumkan sebagai santo oleh Paus Klemens III pada tahun 1189.

Wednesday, July 1, 2020

Lamunan Pekan Biasa XIII

Kamis, 2 Juli 2020 

Matius 9:1-8                                  

1. Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. 2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." 3 Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." 4 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? 5 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? 6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"  7 Dan orang itupun bangun lalu pulang. 8 Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang yang beriman memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan itu dibuktikan dengan hidup memeluk agama.
  • Tampaknya, ada gambaran orang yang beriman akan menjalani tatanan yang ada dalam agama. Omongan dan perilakunya dilandaskan pada rumusan ajaran dan aturan yang sudah dibakukan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin menjalani ketentuan-ketentuan keagamaan, orang belum tentu sungguh beriman kalau hatinya tidak yakin akan Hati Tuhan yang menerima dirinya apa adanya termasuk dosa dan kekurangannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan hidup dalam aura kebersyukuran karena ada topangan kasih pengampunan.

Ah, beriman itu ya menjalani wajib-wajib agama dengan tertib.

Beato Antonio Rosmini

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits 841 Diterbitkan: 21 Januari 2019 Diperbaharui: 22 Januari 2019

  • Perayaan
    23 Desember
  •  
  • Lahir
    24 Maret 1797
  •  
  • Kota asal
    Rovereto, Trentino, Italia
  •  
  • Wafat
    1 Juli 1855 di Stresa, Viterbo, Italia | Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    26 Juni 2006 oleh Paus Benediktus XVI (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    18 November 2007 oleh Paus Benediktus XVI

Antonio Rosmini lahir pada 24 Maret 1797 dari pasangan Pier Modesto dan Giovanna dei Conti Formenti di kota Rovereto, Trentino Italia. Ia menjalani pendidikan dasar di Trento lalu melanjutkan ke Universitas Padua di mana ia meraih gelar doktor di bidang Teologi dan Hukum Gereja.

Pada bulan Februari 1820 Antonio menemani saudara perempuannya, Margherita, pergi ke Verona dimana mereka bertemu dengan Beata Maddalena di Canossa pendiri Konggregasi Suster Puteri Kasih atau Konggregasi suster Canossian. Beata Maddalena mengajak Antonio bergabung untuk ikut mendirikan Konggregassi imam Canossian yang saat itu tengah dirintis, namun dengan sopan pemuda bergelar Doktor ini menolak.

Pada tanggal 21 April 1821 Antonio ditahbiskan menjadi imam di Chioggia, Italia. Pada tahun 1823 ia diketahui melakukan perjalanan ke Roma bersama Uskup Agung Venesia, untuk sebuah audiensi pribadi dengan Paus Pius VII. Dalam audiensi itu, Paus mendorong mereka untuk melakukan reformasi di bidang filsafat.

Di tahun 1826 Antonio pergi ke Milan untuk melanjutkan penelitian dan menerbitkan hasil studi filsafatnya. Dia adalah seorang penulis produktif yang menulis tentang banyak hal, termasuk tentang Sifat Jiwa Manusia, Etika, Hubungan Antara Gereja dan Negara, Filsafat Hukum, Metafisika, Rahmat, Dosa asal, Sakramen dan Pendidikan. Dua bukunya kelak diterbitkan pada tahun 1829 ("Maxims of Christian Perfection" dan "Origin of Ideas") dan mendapat banyak pujian dari para sarjana dimasa itu.

Pada tahun 1827 Antonio Rosmini yang masih berada di Milan bertemu dengan Abbé Loewenbruck yang mengajaknya untuk mendirikan sebuah Institusi Religius yang akan mempromosikan Pendidikan dan Spiritualitas yang lebih baik bagi para imam. Pater Antonio dapat merasakan tuntunan Roh Kudus untuk melalui permintaan ini. Ia pun memutuskan untuk bergabung. Namun, karena percaya penuh bahwa Tuhan akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan, Antonio tidak pernah mengajak siapa pun untuk bergabung dengan Komunitas Religius yang akan didirikan. Ada dua atau tiga orang yang telah mengenalnya dengan baik yang kemudian bergabung atas keinginan mereka sendiri. Tiga orang anggota perdana Institute of Charity (atau dalam bahasa Latin : Societas a charitate nuncupata, disingkat : I.C.) ini mulai menjalani hidup sesuai Aturan Dasar yang ditulis oleh Antonio Rosmini.

Paus Pius VIII, yang terpilih pada bulan Maret 1829, memanggilnya ke Roma untuk sebuah audiensi. "Anakku Antonio," kata Sri Paus, "Jika kamu berpikir untuk mulai dengan sesuatu yang kecil, dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan, kami dengan senang hati menyetujuinya; namun tidak demikian jika kamu berpikir untuk memulai dalam skala besar." Dengan menundukkan muka Antonio menjawab bahwa ia berupaya untuk mengawali karyanya dengan kerendahan hati. Ketika kembali ke Milan, Antonio mulai bekerja keras mengembangkan Institusi yang didirikannya.

Pada tahun 1832, para Rosminian mulai menyebar ke Italia Utara dan pada tahun 1835 biara Rosminian pertama di Inggris didirikan. Masyarakat Inggris menyambut baik para Rosminian karena pola hidup mereka yang kudus. Mereka mempromosikan dan mempraktekkan “Quarantore” (Devosi 40 Jam tanpa jeda di hadapan Sakramen Maha Kudus) dengan penuh disiplin, mempromosikan penggunaan Skapulir, Novena, Prosesi publik dan merayakan bulan Mei sabagai bulan Devosi pada Bunda Maria.

Institute of Charity mendapat pengukuhan resmi dari Paus Gregorius XVI pada tanggal 20 Desember 1838. Pada tanggal 20 September 1839 Antonio Rosmini diangkat menjadi Superior Jenderal Rosminian seumur hidup.

Antonio Rosmini tutup usia pada tanggal 1 Juli 1855 dalam usia 85 tahun. Institusi yang didirikannya saat ini telah menyebar dan berkarya di berbagai negara seperti di New zealand, Irlandia, Amerika Serikat, Africa Timur, Venezuela dan India.  (qq)