Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Sunday, July 12, 2020

Lamunan Pekan Biasa XV

Senin, 13 Juli 2020

Matius 10:34-11:1                         

34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." 1. Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tidak sedikit orang mencari kedamaian dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Dalam Tuhan orang dapat merasa ada ketentraman.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang yakin hidup dalam Tuhan akan bebas dari marabahaya. Dalam yang ilahi orang akan mengalami segalanya serba mudah dan berlangsung lancar.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ada buah-buah kebahagiaan, keterbukaan orang untuk dekat dengan Tuhan justru menempatkannya dalam bagian perjuangan hidup berhadapan dengan berbagai kekuatan yang mengancam kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan ikut memperjuangkan kebaikan sehingga selalu siap susah dan menderita berhadapan dengan daya perusak.

Ah, asal dekat dengan Tuhan tak ada kekuatan busuk yang berani mendekat.

Santa Marie-Azélie Guérin Martin

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4371 Diterbitkan: 09 Oktober 2014 Diperbaharui: 24 Januari 2016

  • Perayaan
    12 Juli
  •  
  • Lahir
    23 Desember 1831
  •  
  • Kota asal
    Saint-Denis-sur-Sarthon, Alençon, Perancis
  •  
  • Wafat
    28 Agustus 1877 di Alençon, Perancis - karena sakit kanker payudara
  •  
  • Venerasi
    26 Maret 1994 oleh Paus Yohanes Paulus II (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    19 Oktober 2008 oleh Paus Benediktus XVI di Kathedral Lisieux, Perancis
  •  
  • Kanonisasi
    18 Oktober 2015 oleh Paus Fransiskus

Santa Zélie Martin dan Santo Louis Martin adalah pasangan suami-istri yang dinyatakan kudus oleh gereja dan di kanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 18 Oktober 2015. Mereka tidak dinyatakan kudus karena St. Theresia dari kanak-kanak Yesus, puteri bungsu mereka.  Justru St. Theresia bisa menjadi orang kudus karena  Louis dan Zélie telah menciptakan suatu lingkungan keluarga yang mampu membawa anak-anaknya kepada kekudusan.

MASA KECIL DAN REMAJA

Azélie-Marie Guérin dilahirkan di Saint-Denis-sur-Sarthon, dekat Alençon, Perancis pada tanggal 23 Desember 1831 dari pasangan suami isteri Isidore Guérin dan Louise-Jeanne Macé, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ibunya seorang yang saleh namun sangat keras dalam mendidik kedua puterinya. Dalam sepucuk surat kepada saudaranya, Isidore Guérin, Zélie sendiri menyatakan masa kecil dan masa mudanya “menyedihkan bagai kafan, sebab, jika ibu memanjakanmu, denganku, kau tahu, ia amat keras; ia yang begitu baik tidak mendapati yang benar dalam diriku, sehingga aku menderita sakit hati yang hebat.” Ayahnya seorang yang tegas, namun menunjukkan terlebih banyak kasih dan kelembutan bagi anak-anaknya; ia bahkan rela menjual rumah dan tanah demi pendidikan anak-anaknya.

Ketika Zélie berusia tigabelas tahun, keluarganya pindah ke Alençon. Zélie seorang gadis yang cerdas sekaligus religius; ia menempati peringkat pertama dalam sastra Perancis. Di kemudian hari, surat-surat yang ditulisnya membantu kita mengenal karakternya yang kompleks, pandangannya yang tajam terarah ke surga, energi dan kapasitasnya yang luar biasa dalam menunaikan perannya sebagai seorang isteri, ibu dan wanita karir yang berhasil.

Zélie senantiasa merindukan kehidupan religius seperti kakaknya - Marie Louise yang pada tahun 1858 menggabungkan diri di Biara Visitasi di Le Mans dan menjadi Suster Marie-Dosithée. Tetapi ketika mengajukan permohonan ke Biara Suster-suster Puteri Kasih St. Vincentius de Paul, Moeder Superior tanpa ragu mengatakan kepadanya bahwa hidup membiara bukanlah kehendak Allah baginya. Zélie bersedih hati atas penolakan ini, namun dengan optimisme yang mengagumkan ia berseru, “Allah-ku, aku akan masuk dalam hidup perkawinan demi memenuhi kehendak-Mu yang kudus. Sebab itu aku mohon berilah aku anak-anak yang banyak agar mereka dapat dikonsekrasikan bagi-Mu.”  

Guna mempersiapkan maharnya, Zélie berpaling kepada Bunda Maria dan bertanya bagaimana ia bisa mendapatkan uang. Pada tanggal 8 Desember 1851, ia menerima jawaban dalam bentuk suara batin yang mengatakan, “Buatlah renda Point d'Alençon.” Zélie mengambil kursus; dengan cepat ia menguasai pembuatan renda dan segera memulai usahanya sendiri. Tokonya terkenal dengan kualitas rendanya.

BERUMAH-TANGGA

Suatu hari, Zélie melihat seorang pemuda berwajah tenang menyeberangi Jembatan Saint Léonard. Zélie memperhatikan pemuda yang lewat ini, yang amat mengesankan hatinya. Lagi, terdengar suara batin yang mengatakan, “Dialah yang telah Aku persiapkan bagimu.” Segera ia mendapat tahu bahwa nama pemuda itu adalah Louis Martin. Keduanya kemudian saling berkenalan dan saling jatuh cinta. Tiga bulan kemudian, pada tanggal 12 Juli 1858 pukul 22.00 mereka melangsungkan perkawinan sipil dan dua jam kemudian, pada tanggal 13 Juli, mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Santa Perawan Maria dengan dipimpin Pastor Hurel. Cinta kasih suami isteri dapat kita baca dalam surat-surat mereka. Dalam salah satu surat-suratnya, yang praktis merupakan suatu sintesa dari kasih perkawinan, Louis menandatangani suratnya sebagai berikut: “Suamimu dan sahabatmu yang sejati, yang mengasihimu seumur hidup.” Zélie menanggapinya dengan: “Aku menyertaimu dalam roh sepanjang hari; aku katakan kepada diriku sendiri: Ia sedang melakukan ini dan ini pada saat ini. Aku tak dapat sabar untuk segera bersamamu, Louisku terkasih; aku mengasihimu dengan segenap hatiku, dan aku dapat merasakan betapa kasihku berlipat ganda dengan ketidakhadiranmu; mustahil bagiku untuk hidup jauh darimu.”   

Pasangan baru ini tinggal di belakang toko Louis yang besar. Zélie meminta Louis untuk membawa patung Santa Perawan dari taman Pavilion ke rumah mereka. Patung ini menjadi pusat devosi keluarga. Patung ini jugalah yang di kemudian hari tersenyum kepada St. Theresia sementara ia sakit parah, sehingga sesudahnya dikenal sebagai “Santa Perawan Tersenyum”.

Walau sudah menikah namun Louis dan Zélie tetap merindukan kehidupan religius. Mereka saling berjanji untuk hidup sebagai saudara dan saudari, seturut teladan St. Yosef dan Santa Perawan Maria. Sepuluh bulan lamanya mereka berdua hidup selibat dalam pantang total.  Melalui campur tangan yang bijak dari bapa pengakuan dan didorong kerinduan untuk mempersembahkan anak-anak kepada Tuhan, pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri pantangan mereka.

“Kedua orangtua kami menaruh perhatian yang sangat besar pada keselamatan jiwa-jiwa… tetapi karya apostolik yang terbaik yang kami tahu adalah Propaganda Iman yang untuknya, setiap tahun, orangtua kami memberikan sumbangan yang besar. Adalah semangat yang sama bagi jiwa-jiwa ini yang membuat mereka begitu sangat merindukan seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi seorang misionaris dan anak perempuan yang akan menjadi biarawati” (Positio, Vol.II, h.972).

Louis amat bahagia ketika anaknya yang sulung - Marie Louise - dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1860. Louis dan Zélie telah memutuskan untuk memberikan nama Marie pada semua anak mereka demi menghormati Santa Perawan Maria. Anak sulung mereka dikenal dengan nama ini sepanjang hidupnya.

Pada tanggal 8 Desember, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa,  tahun yang sama, Zélie memohon anugerah anak yang kedua kepada Santa Perawan. Doanya dikabulkan dan pada tanggal 7 September 1861 Marie Pauline dilahirkan. Selanjutnya, pada tanggal 3 Juni 1863, lahir Marie Léonie dan pada tanggal 13 Oktober 1864 lahir Marie Hélène.

Secara istimewa Louis dan Zélie bersukacita atas kelahiran putera sulung, Marie Joseph Louis, pada tanggal 20 September 1866. Sayang, usianya belum genap lima bulan ketika bayi Joseph meninggal dunia, meninggalkan orangtuanya dalam keadaan amat berduka. Zélie menggencarkan doa memohon seorang putera melalui novena kepada St. Yosef; novena ini berakhir pada Hari Raya St. Yosef. Tepat sembilan bulan kemudian, 19 Desember 1867, Marie Joseph John Baptiste dilahirkan. Bayi ini lemah, sehingga Zélie tak kunjung henti berdoa agar puteranya diijinkan tinggal di dunia. Namun Tuhan berkehendak lain, delapan bulan kemudian harus Zélie berserah pada kenyataan bahwa Tuhan menghendaki John bagi Diri-Nya.

Pada tanggal 28 April 1869, lahir bagi mereka Marie Céline. Sementara itu, Hélène seorang gadis kecil yang manis dan memikat hati, sekonyong-konyong jatuh sakit parah dan meninggal dunia dalam usia lima tahun. Zélie mengenang peristiwa duka itu, “Aku merasa amat kehilangan atas kematian dua putera kecilku, tetapi aku terlebih lagi menderita kehilangan anak ini.”

Meski Zélie tak putus harapan untuk melahirkan seorang putera, tetapi anaknya yang kedelapan adalah seorang puteri, Marie Mélanie Thérèse, yang hanya bertahan hidup dua bulan. Pada tanggal 2 Januari 1873, lahirlah si bungsu Marie Francoise Thérèse yang sekarang kita kenal sebagai St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus.

Zélie amat bahagia atas kelahiran anak-anaknya dan berduka atas kepergian mereka saat masih bayi. Ia menulis, “Ketika aku menutup mata anak-anakku terkasih dan menguburkan mereka, aku merasakan dukacita yang mendalam, namun selalu duka dalam penyerahan diri. Aku tidak menyesali sakit dan kasihku bagi mereka. Sebagian orang mengatakan kepadaku, `Adalah lebih baik jika anak-anak itu tidak pernah dilahirkan,' tetapi aku tak dapat tahan akan perkataan macam ini. Aku pikir bahwa penderitaan dan dukacita tak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan abadi anak-anakku. Mereka tidak hilang untuk selamanya; hidup ini singkat dan penuh penderitaan, dan kita akan bertemu kembali dengan mereka kelak di sana.”

Setiap pagi Louis dan Zélie ikut ambil bagian dalam Misa. Mereka berdua menyambut Komuni Kudus beberapa kali dalam seminggu; sesuatu yang tak lazim pada masa itu. Sepulang gereja, Luois pergi bekerja mengurus bisnis jam dan perhiasan sementara Zélie mulai bekerja mengurus bisnis renda di rumah dengan limabelas pekerja. Ia juga berkecimpung dalam penanaman modal dan meluangkan waktu membaca bulletin bursa efek. Sejalan dengan mengurus bisnis, Zélie mengurus rumah tangga, merawat anak-anak, menulis surat secara rutin kepada kedua puterinya yang tinggal di asrama sekolah mengenai apa-apa yang terjadi di rumah. Ia membuat kue, mengadakan permainan, mengatur pesta dan tamasya bagi keluarga. Ia selalu mempunyai waktu untuk masing-masing anak sebanyak yang mereka butuhkan. Mendidik puteri-puterinya sungguh menguras energi, sebab ia menginginkan hanya yang terbaik bagi mereka masing-masing … menjadi jiwa-jiwa yang kudus!

Anak-anak belajar berdoa sejak usia dini. Zélie selalu memberikan perhatian pada pakaian yang mereka kenakan dan meski sangat mengasihi mereka, ia tidak pernah mau mentolerir tingkah laku yang tidak pantas, kata-kata yang sembarang diucapkan, rewel dalam menyantap makanan yang disajikan atau kesombongan apapun bentuknya. Ia menanamkan kemurahan hati dan semangat kurban bagi yang lain, mengalah agar supaya mendapatkan mutiara-mutiara bagi mahkota mereka. Anak-anak yang telah meninggal dunia dianggap bagian yang tak terpisahkan dari keluarga dan seturut kesaksian hidup orangtuanya, anak-anak diajar untuk memandang surga sebagai rumah mereka yang sesungguhnya.

WAFAT

Pada bulan April 1865, Zélie menulis kepada saudaranya, Isidore Guérin, “Kau tahu bahwa ketika aku masih kecil, dadaku tertumbuk pojok meja. Masalah itu tidak diperhatikan, tetapi sekarang aku mengalami pembengkakan kelenjar di dada, yang membuatku khawatir, teristimewa sejak mulai terasa sakit.” Kendati demikian, masalah sakit ini kemudian tidak disebut-sebut lagi hingga sebelas tahun kemudian, di mana keadaannya sudah fatal.

Pada bulan Oktober 1876, dokter menjatuhkan vonis tumor fibrous kepada Zélie. Tak ada operasi maupun obat-obatan yang dapat memberinya harapan sembuh. Malam hari sakit terasa paling hebat dan tubuhnya mati rasa sebelah, membuatnya sulit memejamkan mata. Tetapi, iman Zélie tak tergoyahkan, “Hanya sedikit saja alasan bagiku untuk bergembira menyambut waktu mendatang, tetapi aku seperti kanak-kanak yang tak khawatir akan hari esok; aku selalu berharap akan kebahagiaan!” Louis amat berduka ketika mengetahui isterinya sakit parah tak tersembuhkan. Ia tak lagi pergi memancing, melainkan senantiasa setia mendampingi isterinya. Dalam sakitnya, Zélie tetap setia ikut ambil bagian dalam Misa meski ia nyaris sepanjang waktu harus mengerahkan tenaga menahan sakit agar tak berteriak kesakitan. “Jika Tuhan berkehendak menyembuhkanku, aku akan sangat senang, sebab jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin hidup; sungguh menyedihkan hatiku meninggalkan suami dan anak-anakku. Tetapi sebagian yang lain dari diriku berkata: jika aku tidak disembuhkan, itu karena mungkin lebih baik jika aku pergi.”

Setelah kunjungan ke Lourdes mohon kesembuhan yang tampaknya sia-sia, Zélie menulis, “Jika Santa Perawan Maria tak menyembuhkanku, berarti waktuku telah tiba dan bahwa Allah menghendakiku mendapatkan istirahatku di tempat selain dunia.” Sepuluh hari kemudian Zélie kehilangan suaranya, kedua kakinya membengkak dan kondisinya melemah. Sakramen Pengurapan orang sakit diterimakan kepadanya dan dua hari kemudian, pada tanggal 28 Agustus 1877, Zélie Martin pulang ke rumah Bapa.

BEATIFIKASI

Pada tahun 1957 proses beatifikasi Louis dan Zélie Martin diajukan bersama. Pada tanggal 26 Maret 1994 Louis dan Zélie Martin dimaklumkan sebagai Venerabilis oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada tanggal 19 Oktober 2008, Hari Minggu Misi Sedunia, Louis dan Zélie Martin dibeatifikasi di Basilika St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Lisieux, Perancis.

Pesta pasangan suami isteri ini dirayakan setiap tanggal 12 Juli, tanggal ulang tahun perkawinan mereka.

Saturday, July 11, 2020

Masker Komuni

Kadir, “Sir, sekarang kalau misa kudu pakai masker ya?”
Kasir, “Ya pastinya, di mana pun dalam perjumpaan dengan orang mesti pakai masker.”
Kadir, “Ehmmm gitu ya?”
Kasir, “La iya, namanya juga habitus baru dalam peribadatan. Kita mesti membiasakan diri.”
Kadir terdiam. Raut dahinya masih menampakkan tanda kebingungan.
“Kok kayak orang bingung ta?” tanya Kasir
“Yen komuni trus piye? Maskere dibuka?” tanya Kadir.
“Ya dibuka pas menyantap, yen ora mlebune mulut piye jal?” jawab Kasir sambil ngekek.
“Mbukake kapan? Pas nerima?” tanya Kadir.
“Apa gunane kalau pas itu?” jawab Kasir.
“Terus piye?” tanya Kadir.
“Saat kamu antre nrima komuni sampai jawab amin masker masih rapat nutup hidung dan mulutmu. Lalu geser ke kiri atau kanan, berhenti, buka masker, santap sakramen, tutup lagi hidung dan mulut lalu balik,” jawab Kasir tegas.
“Oooo gitu, jadi pas jawab amin tetap tertutup ya?”
“Ya betul……, kalau terbuka gak ada artinya dan berisiko bagi Ramane. Begitulah Masker Komuni”
Kadir, “Oke mudeng aku sekarang.”

Masa sekarang memerlukan adaptasi habitus baru dalam beribadat. Kesetiaan kita mengikuti protokol yang benar akan menyelamatkan sesama kita. Gunakan masker kala beribadat dan berjumpa sesama. (MoGoeng 120620)

Lamunan Pekan Biasa XV

Minggu, 12 Juli 2020

Matius 13:1-23                              

1. Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" 10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" 11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. 12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. 13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. 16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. 18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. 22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang disebut baik karena rajin membaca dan atau mendengarkan ayat-ayat Kitab Suci. Dia yakin bahwa di situ diungkap kehendak ilahi.
  • Tampaknya, di dalam hidup beragama orang disebut baik kalau juga mau mempelajari dan memperdalam Kitab Suci. Dia bisa membaca buku-buku tafsir atau ikut mendengarkan ceramah-ceramah tentang Kitab Suci.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hanya tahu sedikit bahkan dangkal tentang Kitab Suci, orang sudah dapat disebut baik kalau pengetahuan sekelumit membuahkan banyak perbuatan baik bagi orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati sekecil apapun ayat Kitab Suci yang menyentuh diri akan menjadi daya dorong tindakan-tindakan yang ikut mengembangkan kebaikan umum.

Ah, asal banyak hafal ayat Kitab Suci orang jadi baik karena makin lekat dengan Tuhan.

Santa Olga

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5905 Diterbitkan: 12 Juni 2014 Diperbaharui: 17 Mei 2017

  • Perayaan
    11 Juli
  •  
  • Lahir
    Tahun 879
  •  
  • Kota asal
    Pskov, Russia
  •  
  • Wafat
    11 July 969 di Kiev, Ukraine - Oleh sebab alamiah
    Tubuhnya ditemukan tetap utuh; karena itu makamnya lalu dipindahkan ke Gereja Tithes di Kiev.
    Pada awal abad ke-18 relikwinya dinyatakan hilang.
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santa Olga adalah Ratu Kristen pertama dari Kerajaan Kievan Rus, nenek dari Santo Vladimir dan leluhur dari Santo Boris dan Santo Gleb.

Santa Olga lahir di Pskov, Rusia pada tahun 879.  Keluarganya masih kafir tetapi ia sendiri sudah sering mendengar tentang Yesus Kristus dan ajaran-ajaranNya, terutama ajaran cinta kasih kepada Allah dan kepada sesama.

Pada tahun 903 Olga menikah dengan Igor I, Raja Kievan Rus.  Pada tahun 945, dalam sebuah pertempuran di Konstantinopel, suaminya yang saat itu sedang memimpin pasukan, terbunuh. Olga amat marah mendengar berita kematian suaminya itu. Ia lalu menghimpun tentaranya yang sudah tercerai-berai dan maju berperang sebagai panglima melawan pasukan yang setia kepada kaisar. Dengan gagah berani ia berhasil menumpas pasukan kaisar. Untuk melampiaskan amarahnya, ia memerintahkan supaya pembunuh suaminya disirami air panas hingga mati dan tentara-tentara tawanan dibunuh. Tetapi niatnya ini tidak terlaksana karena belas-kasihannya kepada para tawanan itu. Ia lalu memperlakukan mereka secara baik dan ramah. Harta kekayaan mereka juga tidak dijarah dan kota mereka tidak dibumi-hanguskan. Ia membawa kedamaian di seluruh kerajaan dan memerintah mereka dengan ramah bagaikan seorang ibu melindungi anak-anaknya.

Setelah memerintah kerajaan selama 3 tahun (945-947), ia menyerahkan kekuasaannya kepada puteranya Pangeran Szyastoslav.  Olga lalu berangkat ke Konstantinopel untuk belajar agama dan kemudian dipermandikan. Sejak saat itu ia mulai menyesuaikan cara hidupnya dengan cara hidup Kristen. Ia kemudian pulang ke Kievan Rus dan bekerja keras menyebarkan agama Kristen di sana.

Agar iman Kristen lebih cepat berkembang di Kievan Rus, Olga meminta bantuan kepada Raja Otto I dari Kekaisaran Romawi Suci agar mengirimkan para missionaris.  Raja Otto Kemudian mengirimkan Santo Adelbertus bersama beberapa orang imam kesana.  Namun sayang, karya Santo Adelbertus kurang membawa hasil  karena ditentang oleh Raja Svyastoslav,  putera Santa Olga yang kafir dan sangat membenci Kekristenan.  Bersama pasukannya, Svyastoslav  lalu menyerang dan membunuh rombongan misionaris yang dipimpin oleh Santo Adelbertus. Beruntung  Santo  Adelbertus berhasil lolos dari penyerangan tersebut.

Meskipun dihadang oleh berbagai tantangan namun benih-benih Kekristenan di Kiven Rus sudah mulai berkembang. Santa Olga dan cucunya Santo Vladimir dianggap sebagai orang Kristen pertama di Kievan Rus.

Friday, July 10, 2020

Minggu Biasa XV/A – 12 Jul 2020 (Mt 13:1-23)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2020/07/1; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


TANAH SUBUR – TANAH KERSANG

Rekan-rekan sekalian!

Dalam petikan Injil Minggu Biasa XV tahun A ini, Yesus menerangkan kepada murid-muridnya arti perumpamaan mengenai seorang penabur yang pernah disampaikannya kepada orang banyak dalam Mat 13:1-9. Menurut ay. 18-23 perumpamaan ini dimaksud menjelaskan bahwa sabda Tuhan datang kepada siapa saja. Tetapi belum tentu pada semua orang sabda itu akan tumbuh dan membawa hasil berlimpah. Benih sabda yang tertabur di pinggir jalan tak sempat tumbuh karena dimakan burung. Ada yang sempat tumbuh tapi tidak berakar seperti yang jatuh ke tanah berbatu-batu atau segera mati terhimpit semak duri. Hanya yang jatuh ke tanah subur bisa bertumbuh dan berbuah berlipat ganda. Apa warta perumpamaan itu? Dan apa maksud penjelasan yang khusus ditujukan kepada para murid?

DARI KEHIDUPAN BERCOCOK TANAM

Cara bercocok tanam pada zaman itu tidak selalu sama dengan yang dikenal sekarang. Dulu biasanya biji disemai sebelum tanah digarap. Bukan sebaliknya. Jadi tanahnya memang belum dibajak atau dicangkul atau dialiri air. Baru kemudian tanah yang sudah ada bijinya itu akan digemburkan. Praktek ini berkebalikan dengan yang biasa dibayangkan orang sekarang. Apa relevansinya bagi tafsir?

Biji yang disebut jatuh di pinggir jalanan itu bukan karena penaburnya menyemai secara acak atau tanpa rencana. Rekannya atau dia sendiri nanti akan menggemburkan tanah di pinggir jalanan yang baru saja ditaburinya tadi. Tetapi apa lacur, seperti diceritakan dalam perumpamaan itu, sebelum tanah sempat digarap, benih yang ditabur di situ keburu dimakan burung.

Yang jatuh ke tanah yang berbatu-batu? Yang dimaksud ialah tanah yang keras, berkapur dan kersang, seperti yang ada di wilayah Gunung Kidul. Penabur tidaklah kebetulan menabur di tanah berbatu-batu. Di situ sengaja ditaburkan benih. Lahan itu nanti akan dibajak, dicangkul, digemburkan sebisanya. Pendengar pada zaman dulu tentu tersenyum mendengar cerita ini. Mereka tahu bahwa tanah berbatu-batu seperti itu akan tetap kurang baik bagi pertumbuhan biji tak peduli usaha perbaikan macam apapun. Juga bila diairi, dengan cepat akan kering karena airnya terserap ke kedalaman dan kecambah tidak akan mendapat air tanah. Mengapa si penabur tetap menyemai di situ? Karena termasuk ladangnya? Karena ia masih berharap ada yang luar biasa? Pendengar akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan ini dan akan belajar satu dua hal mengenai tekad sang penabur.

Begitu pula dengan biji yang jatuh di antara semak duri. Semak seperti itu bisa tumbuh di tanah kersang dan berbatu-batu sekalipun. Meski tanah yang akan digarap itu dibersihkan dari onak duri, sebentar lagi tentu akan tumbuh kembali. Dan benih yang disemai di tanah yang beronak itu tidak bakal tumbuh baik. Akan terhimpit. Kok dibiarkan saja? Kenapa penabur tetap menabur di situ? Sekali lagi pendengar diajak ikut memikirkan dan membaca kehidupan yang sering seperti hidup di tengah onak duri. Apa yang bisa terjadi?

Lalu apa itu tanah yang baik? Dari semula tentu tanah ini sudah baik. Benih yang ditabur di situ nanti akan tumbuh baik, tentunya setelah tanah digemburkan. Bagaimanapun juga perlu penggarapan agar benih bertumbuh baik dan berbuah melimpah. Tetapi apa bedanya dengan tanah di pinggir jalan? Biji yang jatuh ke tanah baik sebetulnya juga menghadapi risiko dimakan burung. Tetapi tidak begitu kejadiannya. Mengapa? Mungkin karena biji ditaburkan pada waktu tak ada burung mengincar. Boleh jadi juga tanahnya segera digarap sehingga benihnya tertutup tanah dan mulai tumbuh dan burung-burung tak sempat memakannya. Siapakah yang menggarap tanah ini? Begitulah perumpamaan ini mengajak berpikir.

PERUMPAMAAN DAN KONTEKSNYA

Sampai di sini kita boleh bertanya, apakah yang hendak diajarkan Yesus? Pokok yang hendak disampaikan kiranya bukan terutama menyangkut perihal menabur, bukan pula terpusat pada sang penabur, baik dengan huruf p kecil maupun dengan huruf P besar, melainkan perihal tanah yang bakal digarap dan sudah ditaburi itu. Perumpamaan ini diceritakan untuk menggugah kebijaksanaan batin. Bila melihat benih yang jatuh di tanah yang begini atau yang begitu, bagaimana reaksi kita?

Pendengar diajak melihat bahwa pada dasarnya ada dua macam tanah. Ada tanah yang dapat memberi hasil dan ada tanah yang akan tetap mandul. Penyebab tanah mandul macam-macam: kehilangan benih, memang kersang, atau ditumbuhi semak berduri. Dalam konteks Injil Matius, tanah yang mandul ini ialah orang-orang yang tidak bersedia menerima Yesus dan pewartaannya. Mereka itu disebut kaum Farisi. Bersama kaum Saduki, mereka sebenarnya pernah dihimbau Yohanes Pembaptis agar menghasilkan buah sesuai dengan perubahan sikap (“pertobatan”) yang mereka niatkan ketika minta dibaptis olehnya (Mat 3:8). Yang diwartakan Yohanes Pembaptis kan kedatangan Yesus. Namun mereka menolak Yesus. Mereka itu tanah yang sudah disemai benih tetapi tidak bisa menikmati pertumbuhannya karena sudah kehilangan benih itu sendiri. Mereka itu juga tanah kersang, bahkan tanah yang hanya bisa ditumbuhi onak. Lalu siapa tanah yang subur? Dalam Mat 12:50 Yesus berkata, “Siapa saja yang melakukan kehendak Bapaku di surga, dialah saudaraku laki-laki, saudaraku perempuan dan ibuku.” Mereka yang menjalankan kehendak Bapanya menjadi tanah yang memberi hasil. Arti “menjalankan kehendak” itu ialah menuruti, mendengarkan. Jelas mendengarkan Bapa berarti menerima yang disampaikan oleh-Nya kepada manusia, yakni Yesus sendiri. Orang Farisi menolaknya, karena itu mereka jadi tanah mandul. Para murid menerimanya dan mereka menjadi tanah subur bagi benih sabda.

PENERAPAN PERUMPAMAAN

Perumpamaan itu berakhir dengan seruan “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (ay. 9). Dalam alam pikiran orang Semit, telinga itu jalan untuk memperoleh pengertian dan kebijaksanaan. Karena itu, mendengar pertama-tama berarti mengerti dan bertindak sesuai dengan kesadaran ini. Ayat itu mengajak orang menyadari bahwa memang ada tanah yang subur dan ada tanah yang tak menghasilkan apapun. Lahan buruk tidak bisa diperbaiki? Tentu saja kesimpulan ini mengusik batin. Usaha perbaikan sia-sia? Lalu apa yang bisa diperbuat? Kalau begitu, tentunya tindakan yang paling cocok bila melihat ada benih jatuh ke tanah yang tak bakal menguntungkan ya memindah benih itu ke tanah yang subur supaya bisa tumbuh dan berbuah. Kita juga dihimbau agar mengenali tanah yang baik supaya bisa menolong dengan sungguh. Itulah warta perumpamaan tadi.

Dalam ay. 18-23 perumpamaan tadi diterapkan pada kehidupan iman para pengikut Yesus:
–       Orang dihimbau agar menjadi tanah yang subur yang memungkinkan benih tumbuh dan berbuah berlipat ganda. Juga diajarkan bagaimana menjaga agar sabda yang telah ditaburkan tidak hilang atau terhimpit.
–       Bila disadari bahwa benih sabda terancam si jahat (ay. 19), maka orang perlu berjaga-jaga agar benih itu tidak gampang terampas. Secara tak langsung diajarkan agar siapa saja yang mau menjadi murid berani mengusahakan agar semakin banyak benih menemukan tanah yang baik dan tidak membiarkannya tinggal di tanah kersang atau lahan yang beronak duri dan berkeras kepala mengharapkan tanah seperti itu akan bisa membaiki.
–       Tanah kersang dijelaskan sebagai penganiayaan dan intimidasi yang sering dialami kaum beriman. Apa yang bisa diperbuat? Pendengar diminta berpikir. Bisa jadi sikap paling bijaksana ialah secara proaktif mencegah terjadinya keadaan itu. Bila toh terjadi, keadaan sulit tak selalu perlu dihadapi secara frontal. Ada kalanya lebih baik menghindarinya. Beriman tidak identik dengan jadi pahlawan atau martir. Kita dihimbau agar menemukan kebijaksanaan dalam beriman. Dengan demikian kita akan pandai-pandai menghadapi “kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan” yang menghimpit benih sabda (ay. 22).

Penjelasan Yesus berakhir dengan pernyataan bahwa tanah yang baik itu ialah orang yang “mendengar sabda dan mengerti” dan karena itu dapat berbuah berlipat ganda (ay. 23). Bagi mereka yang mengusahakan diri menjadi murid dan pengikutnya, ikhtiar yang sesuai kiranya terletak dalam usaha membuat tanah yang telah ditaburi benih betul-betul menjadi lahan subur. Bila perlu mencari tanah yang lebih baik. Mengerti juga berarti mengusahakan agar tokoh yang mereka ikuti, yakni benih yang tersemai dalam diri mereka, semakin menjadi bagian dalam kehidupan.

AGAR DIMENGERTI BANYAK ORANG

Perumpamaan dalam Injil kali ini disampaikan kepada banyak orang. Mereka diajak mendengarkan dan menarik kebijaksanaan daripadanya. Tetapi hanya kepada murid-murid Yesus sajalah arti perumpamaan yang khusus dijelaskan. Mereka ini, seperti dikatakan ay. 11, mendapat karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga. Ayat yang sama juga menegaskan, pada orang banyak karunia itu tidak diberikan. Apa maksudnya? Tentunya untuk membuat para murid semakin merasa bertanggung jawab mengusahakan agar orang banyak menjadi “tanah yang subur” bagi Kerajaan Surga. Mereka diajak agar ikut menjadikan Sabda Ilahi benar-benar terlaksana dan benar-benar menampilkan kekuatannya.

Dalam bacaan pertama (Yes 55:10-11) Sabda Ilahi digambarkan sebagai air yang turun dari langit tidak kembali ke atas, melainkan mengairi bumi, menyuburkannya, menumbuhkan tetumbuhan sampai memberi benih kepada penabur dan akhirnya bahan makanan (ay. 10). Sabda membawakan kehidupan dan tidak tinggal sebagai perkataan suci belaka  – inilah yang dimaksud dengan “sabdaKu…tidak akan kembali kepadaku dengan sia-sia, melainkan akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan berhasil…” (ay. 11).  Petikan dari Kitab Yesaya ini mengajak orang melihat daya Sabda Ilahi yang sesungguhnya: Sabda yang terlaksana, yang menjadi kenyataan. Rekan-rekan pewarta Sabda dapat banyak menarik manfaat dari penegasan ini dengan membantu orang banyak dapat melihat dan merasakan kenyataan itu.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Benediktus, Abas

Sabtu, 11 Juli 2020

Matius 10:24-33                            

24 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. 25 Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. 26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. 28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. 29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. 31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, rasa takut sering dikatakan wajar ada dalam diri orang. Orang dapat merasa takut kalau menghadapi tantangan apalagi ancaman.
  • Tampaknya, karena rasa takut orang dapat menyembunyikan diri. Perbuatan baik pun dapat dibatalkan kalau ada yang mengancam pelaksanaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun pada umumnya dapat dipandang wajar kalau membatalkan kebaikan karena takut pada ancaman yang muncul, sejatinya dengan ketakutan itu orang menempatkan diri di bawah martabat hewan kecil penuh kelemahan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan yakin bahwa keberanian menghadapi berbagai tantangan dan ancaman untuk berbuat baik adalah kesejatian kemanusiaan.

Ah, yang pokok hidup itu ikut saja arus umum agar tetap selamat.