Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, December 3, 2020

Santo Cassianus

  • diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan:
  • 13 Agustus 2014
  •  
  • -
  •  
  • Diperbaharui:
  • 29 November 2019
  •  
  • -
  •  
  • Hits:
  • 4539
  • Perayaan
    3 Desenber
  •  
  • Lahir
    Akhir abad ke-3
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Dipenggal pada tahun 298 di Tangiers, Morocco
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Cassianus adalah seorang Martir kristen dari kota Tangier - Maroko yang hidup pada abad ke 3. Ia bekerja sebagai seorang juru tulis steno pada kantor pengadilan kota. Suatu hari ia ditugaskan pada sidang santo Marcellus, seorang perwira Romawi yang diancam hukuman mati karena menolak untuk memberikan persembahan bagi dewa-dewi Romawi.

Saat sidang berlangsung, Cassianus menyaksikan keteguhan iman Santo Marcellus yang dengan gagah berani memaklumkan dirinya sebagai seorang Kristen. Hal ini membuat Cassianus merasa malu pada dirinya sendiri. Ia juga adalah seorang Kristen, namun selama ini ia menyembunyikan imannya tersebut karena takut. 

Saat Santo Marcellus dijatuhi hukuman mati,  Cassianus membuang semua alat tulisnya, lalu dengan lantang ia menyatakan dirinya juga adalah seorang Kristen. 

Santo Marcellus dan Santo Cassianus kemudian dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Wednesday, December 2, 2020

Melayat


Misa Harian di Domus Pacis Puren biasa dijadual pada jam 18.00 sari Senin sampai Sabtu. Minggu tak ada jadual Misa Komunitas karena misa Sabtu sore selalu dijadikan Misa Minggu. Namun kini misa biasa dimulai sebelum jam 18.00, antara jam 17.50-17.55, karena para rama biasa sudah siap di kapel padajam 17.45. Tetapi pada Rabu 2 Desember 2020 jam 13.45 Rm. Bambang meminta karyawan untuk memberi informasi ke para rama bahwa misa hari itu dilaksanakan padajam 16.00.  Perubahan jam misa pada hari itu berkaitan dengan kesepakatan yang dibuat oleh Mas Handoko dan Bu Rini yang akan pergi ke Semagung di tempat dekat lokasi Sendang Sono. Bu Titik Waluyanti juga ikut terlibat dalam kontak itu. Mereka adalah bagian dari para relawan Domus Pacis Puren. Mengetahui hal itu Rm. Bambang juga bersedia untuk menyertai. Sebenarnya masih ada relawan lain dan karyawan Domus yang ingin ikut. Mengingat Bu Sri Handoko juga sudah termasuk ikut, agar tak ada kondisi berdesakan dalam satu mobil yang harus diingat karena adanya pandemi Covid-19, Rm. Bambang terpaksa menolak. 

Semua ini berkaitan dengan peristiwa wafat Bapak Tarcicius Subakir Praptawidarma, ayah Rm. Hartanta. Almarhum, menurut Rm. Hartanta yang absen dari Domus sejak Senin 30 November 2020 jam 06.00 menuju rumah di Semagung, mendapatkan Sakramen Urapan Orang sakit pada hari Senin itu jam 02.00. Rm. Hartanta menitipkan pengawasan Domus kepada Rm. Bambang dan untuk sementara berada di rumahnya. Ternyata pada Rabu 2 Desember 2020 jam 12.17 Bapak Subakir dipanggil Tuhan. Rm. Bambang menerima informasi dari telepon Rm. Hartanta pada sekitar jam 12.25 sesudah makan siang. Kemudian ada berita bahwa pada hari itu pula Misa Pemberkatan jenasah dilaksanakan pada jam 18.00 dan pemakaman pada jam 20.00. Rm. Hartanta adalah direktur Domus Pacis. Karena kondisi para rama pada umumnya akan amat kesulitan untuk sampai di rumah Rm. Hartanta, maka yang berangkat hanya Rm. Bambang yang hanya menjadi simbol pewakilan para rama Domus. Tetapi karena jalan amat menanjak dan kondisi hujan lebat, Rm. Bambang, sekalipun sudah membawa kursi roda, hanya menunggu di mobil yang diparkir di tempat yang lumayan jauh. Komunitas Rama Domus mendukung doa lewat Misa pada jam 16.00 di Domus. Sementara itu para karyawan mengirim tanda ikut belasungkawa dengan menitipkan amplop pada Bu Rini. 

Lamunan Pesta

Santo Fransiskus Xaverius, Imam

Kamis, 3 Desember 2020

Markus 16:15-20

15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." 19. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang Kristiani tahu harus jadi pewarta Injil. Ini adalah salah satu identitas pengikut Kristus.
  • Tampaknya, tidak sedikit orang Kristiani menggambarkan pewartaan Injil adalah aktivitas membina umat dan mempromosikan agama. Kemampuan membuat umat makin aktif dalam kegiatan Gereja dan membuat banyak baptisan baru kerap dipandang sebagai bukti kepiawaian menjadi pewarta Injil yang handal.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, walau hebat menjalani kegiatan Gereja dan pintar mengajar agama, orang belum tentu sudah menjadi pewarta Injil yang sejatinya adalah sikap hati mudah ceria sehingga mampu menghayati keceriaan berhadapan dengan siapapun dan apapun dimanapun dia berpijak. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sudah menjadi pewarta Injil karena hidup hariannya selalu mengungkapkan dan mewujudkan keceriaan yang menguasai batinnya.

Ah, yang namanya pewarta Injil itu ya pengajar agama Kristiani.

Santa Bibiana

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 30 Juli 2013 Diperbaharui: 29 November 2019 Hits: 6711

  • Perayaan
    02 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 361 | Martir
    Dicambuk sampai mati. Tubuhnya dibuang agar dimakan anjing-anjing liar; tapi tidak ada seekorpun yang berani mendekati tubuh martir ini. Ia lalu dikuburkan 2 hari kemudian.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Bibiana dan keluarganya adalah martir-martir Kristus pada Jemaat Kristen Perdana di abad keempat. Kedua orang tuanya dan saudarinya adalah juga orang kudus. Ayah Bibiana, Santo Flavian, adalah seorang pejabat di kota Roma yang kemudian menjadi seorang Kristen yang taat.  Ketika kaisar Yulianus murtad dari imannya dan mulai menganiaya orang Kristen; Flavianus ditangkap, dianiaya dan dijebloskan kedalam penjara.  Kaisar kemudian memerintahkan agar dahinya diberi cap dengan besi panas yang bertuliskan kata: BUDAK.  Flavianus kemudian dibuang ketempat pengasingan di Acquapendente, Tuscany, Itali, dimana ia kemudian wafat sebagai martir Kristus.

Ibu dari Santa Bibiana adalah Santa Dafrosa. Saat suaminya Flavian ditangkap,  Dafrosa dijadikan tahanan di rumahnya sendiri. Hukuman itu dijatuhkan kepadanya karena menolak meninggalkan kehidupan Kristianinya yang saleh.  Di kemudian hari,  Santa Dafrosa dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya.  Saat eksekusi berlangsung martir yang gagah berani ini menghadapi para algojo dengan senyum kemenangan di wajahnya.

Santa Bibiana, yang ditinggal sendirian bersama saudarinya – Santa Demetria - dengan segenap hati memasrahkan diri mereka kepada Tuhan dalam doa. Segala milik mereka dirampas. Lalu, kedua gadis tersebut diajukan ke pengadilan. Santa Demetria yang malang begitu ketakutan sehingga ia tewas seketika bahkan sebelum masuk kedalam tahanan.

Santa Bibiana diserahkan kepada seorang pelacur bernama Rufina yang ditugaskan untuk memurtadkan Bibiana dan membuat Bibiana menjadi sejahat dirinya. Perempuan sundal itu membujuk dengan kata-kata manis dan dengan banyak akal licik supaya Bibiana jatuh dalam dosa. Tetapi Bibiana tidak dapat dibujuk.  Ia dengan tegas menolak dan dengan  teguh mempertahankan kesuciannya.  Rufina menyerah. Ia lalu membawa Bibiana ke rumah penampungan orang-orang gila dengan harapan agar Bibiana juga menjadi gila.   Namun sekali lagi Rufina kecewa karena disana tidak ada satu orang gila pun yang berani dekat-dekat dengan Bibiana.

Karena itu Santa Bibiana dibawa kembali ke pengadilan dan didera. Keteguhan Imannya akhirnya membawanya menjadi seorang martir seperti ayah, ibu dan saudarinya.  St. Bibiana didera dengan cambuk timah sampai ia mati.  Seorang imam secara diam-diam menguburkan jenasahnya pada malam hari di samping makam ibu dan saudarinya.

Sekitar tahun 467 pada masa Paus Simplisius sebuah gereja dibangun di atas makam para martir wanita ini.  Gereja kecil kemudian direnovasi tahun 1224 oleh Paus Honorius III dan masih berdiri hingga saat ini dan disebut Gereja Santa Bibiana yang berada di  154 via Giovanni Giolitti in Rome, Itali.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Tuesday, December 1, 2020

Parade Gua Natal

Kehadiran Rm. Hartanta, yang masih muda, sebagai direktur dan tinggal bersama para rama tua di Domus Pacis Puren sungguh membawa hawa baru yang amat dinamis. Perhatiannya ke para rama tua satu per satu amat besar dan mendalam. Para rama yang sudah sulit untuk pergi-pergi mendapatkan kesempatan satu per satu diajak bepergian dengan menyertakan salah satu karyawan untuk mendampingi. Suasana makan bersama di kamar makan juga menjadi semarak karena ada hal-hal yang diomongkan dan diinformasikan. Terhadap para karyawanpun Rm. Hartanta juga sungguh perhatian dan amat akrab. Tidak sedikit hal baru mulai tampak.

Hal terakhir dalam hal dinamika terjadi dalam misa komunitas. Biasanya yang tampil dalam misa akan bergantian antara Rm. Yadi (Senin dan Kamis), Rm. Bambang (Selasa dan Jumat), dan Rm. Hartanta (Rabu dan Sabtu). Semua misa biasa terjadi pada sore hari. Tentu saja selain ada giliran rama yang tampil memimpin, ada lektor yang biasa juga dilakukan oleh ketiga rama itu secara bergantian. Dalam hal ini sudah beberapa hari terakhir Rm. Ria juga diaktifkan sebagai lektor. Dan perkembangan yang tampaknya amat bermakna terjadi ketika terjadi Misa Adven I pada Sabtu sore 28 November 2020. Selain ada 4 buah lilin khusus (3 ungu dan 1 merah), beberapa rama diberi bagian peran tugas. Rm. Hartanta yang memimpin misa minta Rm. Bambang dan Rm. Ria membaca untuk bacaan pertama dan kedua termasuk menyanyikan masmur tanggapan dan aleluia. Rm. Bambang memimpin nyanyian pembuka dan penutup. Satu hal yang amat istimewa adalah ditampilkannya Rm. Suntara untuk menyampaikan homili. Ternyata Rm. Suntara tampil dengan semangat bahkan dengan kata-kata yang membuat tertawa para rama, 2 orang karyawan, dan 2 orang ibu relawati yang ikut misa. Beliau mensharingkan peristiwa 60 tahun lalu ketika masih remaja dimana parokinya mengadakan kegiatan baru, yaitu lomba guwa natal keluarga. Bagi keluarga-keluarga parokinya di Promasan itu menjadi hal yang tidak mudah tetapi menggairahkan. Dari sini Rm. Suntara mengambil hikmahnya dengan mengajak semua yang ikut misa membangun gua natal di dalam diri masing-masing. Setiap pribadi menjadi gua natal dengan membangun sikap-sikap sebagaimana pesan bacaan-bacaan Kitab Suci: tobat (Bacaan I), syukur (Bacaan II), dan berjaga-jaga (Injil).

Lamunan Pekan Adven I

Rabu, 2 Desember 2020

Matius 15:29-37

29. Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. 30 Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. 31 Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. 32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." 33 Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil." 35 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. 36 Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. 37 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang memang membutuhkan makan dan minum untuk kelangsungan hidup. Memang, kalau makin berkecukupan makin tambah pula kebutuhannya.
  • Tampaknya, kalau untuk makan dan minum keseharian saja tak ada beaya, orang masuk dalam golongan miskin. Persediaan dibawah ukuran pas-pasan membuat orang terancam kelangsungan hidupnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, walau persediaan untuk hidup amat minim, tetapi ada landasan jiwa bersyukur, itu menjadi modal kelimpahan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu memiliki keceriaan hati mudah menyaksikan segi-segi baik sehingga dengan apapun yang amat terbatas bisa menghasilkan hal-hal yang melebihi kebutuhannya.

Ah, kalau amat berkekurangan orang tak akan tahan hidup.

Santa Natalia dari Nikomedia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 04 Oktober 2014 Diperbaharui: 26 November 2019 Hits: 11565

  • Perayaan
    1 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-3 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Nikomedia (Sekarang wilayah Turki)
  •  
  • Wafat
  •  
  • 1 Desember 311 di Argypolis (Sekarang wilayah Turki) - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Natalia adalah isteri dari Santo Adrianus, seorang perwira tentara romawi yang menjadi martir Kristus pada masa penganiayaan orang kristen oleh kaisar Maximian (286-305). Pada masa itu tentara Romawi sering diperintahkan mengejar dan menangkapi orang Kristen. Tak sampai disitu saja, tidak jarang nyawa orang Kristen juga dirampas. Saat itu Natalia sudah dibabtis, namun Adrianus masih seorang katekumen. Suatu ketika Adrianus harus memimpin anak buahnya melakukan penangkapan dan penganiayaan terhadap umat Kristen. Walau masih seorang katekumen, namun dengan berani Adrianus menolak perintah tersebut. Karena itu ia segera ditangkap dan digiring ke dalam penjara.

Santa Natalia menjenguk suaminya dan mengatur, supaya ia tetap mendapat pelajaran agama dan dibaptis dalam penjara. Saat Adrianus dijatuhi hukuman mati, ia sudah tidak boleh lagi dikunjungi oleh isterinya. Natalia tak kehabisan akal, ia menyamar sebagai seorang pemuda dan berhasil menemui suaminya. Natalia minta, agar bila nanti telah di surga Adrianus berdoa untuknya.

Natalia menyaksikan pelaksanaan hukuman mati suaminya, melihat bagaimana anggota tubuh suaminya dicincang. Dan ia hampir tak dapat dibendung keinginannya untuk ikut terjun ke dalam bara api, ketika tubuh Adrianus dilempar ketengah gulungan api bersama martir-martir lain. Api kemudian padam, karena sekonyong-konyong turun hujan lebat.

Orang Kristen mengumpulkan sisa jenasah dan menguburkannya dekat Argypolis, di pantai Bosporus (Sekarang Turki). Natalia menyimpan relikwi berupa sepotong tangan suaminya. Dan sejak itu ia memutuskan untuk hidup tidak jauh dari makam suaminya. Ketika Natalia tutup usia, ia dikuburkan di samping suaminya Adrianus dan diantara para martir Kristus.