Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, April 9, 2013


MUKJIZAT NENG

Tulisan ini saya ketengahkan dalam Blog Domus sebagai sharing pengalaman saya sesudah tidak memiliki tugas resmi dan banyak mengalami hidup sendiri dalam kamar. *Rama Bambang

Pembicaraan berikut sebenarnya berkaitan dengan tema “Mukjizat” Domus Voice[1] dalam Bulan Kitab Suci September 2012. Biasanya saya mengikuti kegiatan Bulan Kitab Suci seminggu sekali di Lingkungan Santo Fransiscus Assisi Puren, Paroki Pringwulung. Tetapi pada tanggal 18 September 2012 saya jatuh di kamar mandi dan harus opname 31 hari di Rumah Sakit Panti Rapih. Saya hanya bisa berbaring dan duduk di tempat tidur selama 30 hari karena kaki harus ditarik dengan alat pemberat 3 kg. Di sinilah saya berpikir-pikir tentang mukjizat apa yang saya alami sebagai warga Domus Pacis.
  
Ora Krasa Sepi?[2]

Pada Minggu 16 September 2012 seorang teman bertanya “Kowé ora krasa sepi nèng omah kaya ngana?”[3] Yang dimaksud apa saya tidak kesepian di rumah tua Domus Pacis. Selanjutnya dia berkata “Aku ki nèk ora ana acara rasané dadi nglangut. Padahal kowé acarané mesthi di bawah 50%.”[4] Saya hanya tersenyum pada sharing teman tersebut. Dalam benak saya memang muncul pelayanan-pelayanan misa (terutama ujub) yang paling banyak hanya 14 kali sebulan. Biasanya antara 5-8 kali. Bahkan ada bulan tanpa permintaan. Kalau dihitung, rata-rata 14 kali waktu pelaksanaan misa dan pergi-pulangnya, paling-paling ini hanya menyita 56 jam. Padahal sebulan rata-rata ada 720 jam. Dengan hitungan ini 92,2222% hidup saya tidak berada di tengah-tengah kerumunan umat. Saya juga membayangkan bahwa saya terutama berada di kamar. Memang, mulai akhir Agustus 2011 para rama Domus selalu makan bersama. Seandainya kumpul di kamar makan tiga kali sehari dihitung 6 jam (karena pada saat tertentu dapat lama berndobosria[5] ha ha ha ....), maka kumpul bareng serumah bisa 180 jam. Dengan demikian suasana kesendirian ada 67,2222% dalam hidup saya.

Saya jadi teringat dua bulan pertama menjadi penghuni Domus Pacis sejak 1 Juli 2010. Saya membuka file Domus Voice edisi pertama. Di situ saya menulis “Jujur saja, pada dua bulan pertama ada rasa “kosong batin” melanda diri saya. Saya dapat gembira bersama Rama Agung untuk omong-omong, dengan rama Joko untuk gojegan[6], bersama rama Harta dengan mengejeknya. Tetapi mengapa ada “kelengangan batin”? Eeeee, hal ini akhirnya kusadari pada 18 Juli 2010 kira-kira jam 6 sore. Ketika itu hujan lebat sehingga hari rasanya sudah gelap gulita. Saya mengendarai Honda Supra X 125D roda 3 dengan mantol menuju Gedung Gereja Wirobrajan. Dalam suasana hati terasa berat karena harus menyibak tebalnya tirai kelebatan hujan, tiba-tiba saya menyadari mengapa hati biasa terlela oleh kekosongan dan kelengangan. Saya “sekarang” tidak memiliki fasilitas mobil dan menjalani pelayanan sendiri tanpa teman-teman tim sebagaimana ketika masih berada di Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Situasi dan kondisi perutusan sudah berubah.”

Rama kok Seperti Ini Sejak Saya Kecil

Pada Rabu 12 September 2012 saya ikut menghadiri peresmian Kantor Majalah Salam Damai milik Keuskupan Agung Semarang. Seseorang yang berasal dari Kalasan mendekati saya. Ternyata dia adalah salah satu anak yang dulu ikut kor kanak-kanak ketika saya ikut aktif di Paroki Kalasan pada tahun 1978-1980. Saat itu dia masih SD kelas 5 dan ketika saya tahbisan Januari 1981 dia SMP kelas 1. Dalam omongannya dia amat menekankan kata-kata “Rama kok masih seperti ketika saya kecil, ta?” Dia kini sudah beranak tiga. Saya menyahut “Ah, kamu baru umur 40an tahun kok sudah katarak.” Dia membantah “Sungguh, rama. Rama tampak tetap segar dan gembira.”

Sebenarnya komentar bernada “masih seperti dulu, segar, gembira” kerap saya dengar bila berjumpa dengan orang-orang tempo dulu. Kalau dengan orang-orang gaulan masa kini yang kerap muncul adalah nada komentar “rama itu selalu ceria”. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa kehadiran saya di Domus Pacis juga membawa suasana gembira sehingga Domus tidak seperti panti jompo tempat menanti kematian atau juga tidak seperti tempat tahanan yang menghadirkan suasana frustrasi. Di Domus Pacis saya memang mengalami dinamika yang membuat saya rasa-rasanya makin bergairah dalam hidup sebagai imam bersama para imam lain. Bersama teman imam yang kondisi sebenarnya cukup “menjijikkan”, ternyata saya juga dapat menemukan kegembiraan karena yang buruk itu di mata saya jadi hal lucu yang membuat hati dan mulut tertawa riang. Terhadap watak yang amat saya benci, ternyata hati saya berkembang menjadi pabrik roh yang mendaur ulang berbagai kebencian menjadi rasa toleran bercampur bumbu rasa kasihan. Maka kalau saya berkisah pada orang lain, semua yang buruk dan tak menyenangkan menjadi ceritera yang lucu dan menimbulkan gelak tawa yang menebar aura kegembiraan.

Ternyata ada Rahmat MeNENG

Terhadap komentar-komentar seperti di atas sebenarnya saya selalu teringat pada sosok Rama Agoeng dan Rama Yadi yang secara duniawi menjadi topangan kekokohan hati menghadapi situasi dan kondisi Domus Pacis pada tahun pertama keberadaan saya. Bersama merekalah perjuangan pengembangan Komunitas Rama-rama Domus Pacis terjadi. Namun demikian saya memang harus juga melihat yang terjadi dalam diri saya. Di atas sudah saya katakan bahwa paling tidak 67,222% hidup saya ada dalam kesendirian dalam kamar. Ini belum ditambah dengan kenyataan bahwa perjalanan ke sana-sini juga biasa dalam kesendirian. Kehidupan saya di Domus Pacis memang amat berbeda dengan 27 tahun berada dalam kehidupan gerakan Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang. Meskipun demikian, hati riang gembira saya di Domus Pacis rasanya melampaui perjalanan imamat sebelumnya. Hal inilah yang barangkali membuat orang melihat saya masih seperti dulu. Bahkan beberapa kali saya berjumpa dengan orang-orang yang mengatakan bahwa saya “awet muda” (tentu saja saya selalu tertawa karena nyatanya saya sekarang sudah berjalan pakai krug bahkan juga menikmati kursi roda).

Terhadap kenyataan seperti itu saya juga teringat yang terjadi pada masa pertama sebagai penghuni Domus Pacis. Di dalam Domus Voice Agustus 2011 saya menulis “Situasi dan kondisi perutusan sudah berubah. Sejak saat itulah saya selalu mempersembahkan segala perubahan itu dalam setiap doa batin saya baik dalam doa khusus maupun dalam ucapan-ucapan spontan batin kepada Yesus. Eeeee ..... Pada hari ke 59 di Domus Pacis saya merasa sudah akrab dan enak dengan situasi dan kondisi saya.” Dalam kutipan itu saya menebalkan kata-kata yang saya anggap amat penting. Sebenarnya saya sudah terbiasa dengan doa batin. Saya sudah mulai mengembangkan secara serius sejak tahun 1982. Hal ini berkembang dengan pentingnya pengembangan kebiasaan hening sebagaimana selalu menjadi pokok pengembangan kerohanian dalam gerakan misioner Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Dengan merujuk ke Beata Theresa dari Calcuta Tim Edukasi selalu mendengungkan “Dengan hening aku berdoa, dengan doa aku beriman, dengan iman aku mengasih, dengan kasih aku melayani, dengan melayani dengan melayani kualami kedamaian”[7]. Keheningan adalah pusat dari segala derap pengembangan hidup dalam bimbingan Roh.

Dalam hal menjaga dan mengembangkan keheningan, ada hal yang amat mentakjubkan terjadi dalam diri saya justru dengan tinggal sebagai penghuni Domus Pacis. Dengan renungan dalam Domus Voice kali ini saya menyadari bahwa kesendirian yang amat mewarnai hidup saya telah menjadi jalan saya merasakan rahmat ilahi yang amat mentakjubkan. Kesendirian itu tidak membuat saya merasakan yang namanya kesepian. Kesendirian itu membuat saya mengalami diam yang frekuensinya amat besar sekali dalam hidup saya. Suasana diam dalam kamar membuat saya biasa merasa-rasakan dan memikir-mikir apa pun yang terlintas dan terbayang dalam benak saya. Saya juga makin tajam mencermati hati dan perasaan-perasaan yang menggembirakan, menggelisahkan dan menyusahkan. Bahkan tayangan telivisi yang saya lihat dan acara radio yang saya dengar juga mudah masuk dalam hati dan menjadi permenungan-permenungan bahkan kontemplasi spontan alamiah. Saya sering merasa diam-diam dapat merasakan aura pertapaan sebagaimana diciptakan di Pertapaan Trapis Rawaseneng. Keprajaan (keduniawian) imamat saya ternyata mendapatkan anugerah pola rohani seperti para pertapa. Mengapa? Karena saya merasa ada karya ilahi yang menjadikan suasana sendiri menjadi keadaan meNENG (diam)[8]. Sebagai orang yang dibesarkan dalam budaya dan religiositas Jawa, suasana diam (tentu saja dengan biasa menyebut “Gusti”[9] berkali-kali) membuat saya secara spontan mengalami weNING (hening, jernih). Ternyata dengan weNING saya mendapatkan daya batin menimbang apa pun yang masuk dalam hati sehingga saya jadi duNUNG (paham, memahami). Saya mendapatkan pemahaman untuk yakin punya weNANG (wibawa batin) atau meNANG (kemampuan) yang menjadi dorongan untuk bersikap atau bertindak sesuai dengan situasi kongkret demi kepentingan umum. Inilah sikap atau tindakan yang walau sedikit akan ikut memayu hayuning bawana (membawa keindahan atau kebaikan dalam hidup bersama di rumah, dalam kerja/kegiatan dan dalam pergaulan umum). Dalam hal ini, saya sungguh bersyukur karena dominasi kesendirian hidup di Domus Pacis telah diubah oleh Tuhan menjadi keindahan meNENG. Apakah ini bukan mukjizat seperti air menjadi anggur dalam peristiwa pesta perkawinan di Kana dalam Yoh 2:1-12?


[1] Buletin elektronik yang memuat tulisan apa adanya dari rama-rama Domus Pacis. Ini dimulai pada Agustus 2011 hingga Desember 2012. Domus Voive diedarkan lewat email kepada relasi para rama Domus Pacis sebagai sharing pengalaman.
[2] Tidak kesepian?
[3] Apa kamu tidak merasa kesepian berada di rumah seperti itu?
[4] Kalau tak punya acara aku selalu merasa lengang. Padahal acaramu dengan orang lain pasti tak ada separo hidupmu.
[5] Ngobrol sana-sini.
[6] Berkelakar.
[7] Tim Edukasi MMM PAM. Terlibat Biar Hebat Olah Lagu dan Dramatisasi Bahan Keterlibatan Anak dan Remaja untuk Pengembangan Umat. Kerjasama dengan Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2008 hlm. 14.
[8] Bdk. Jalu Suwangsa. Katak pun Ingin Memuliakan Penciptanya. Manunggaling Manungsa dengan Penciptanya. Yogyakarta, Penerbit Kepel, 2011 hal. 111-116.
[9] Kata “Gusti” berasal dari bahasa Jawa yang berarti Tuhan.

Lamunan Pekan II Paskah Rabu, 10 April 2013

Yohanes 3:16-21

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."


Butir-butir Permenungan
  • Katanya, dahulu hidup jujur dan baik itu membuat orang mengalami hidup bercahaya penuh kegembiraan. Sementara itu yang tak transparan dan suka main belakang bagaikan orang yang hidup dalam kegelapan.
  • Katanya, sekarang jahat apa pun asal tak ketahuan tak akan dapat membuat orang menderita. Bahkan koruptor kakap pun justru dapat membuat penegak hukum mengalami kegelapan dalam menemukan cara menunjuk perbuatan jahat sang koruptor yang tetap dapat tampil riang ceria penuh cahaya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa hidup bercahaya atau gelap berkaitan dengan hidup dalam aura kasih lewat pengorbanan atau tidak. Walau tampaknya ceria, kalau orang tak berkorban demi kebaikan umum tetapi justru mengorbankan umum demi kebaikan diri, orang sejatinya ada dalam hati gelap dan menghukum diri sendiri.
Peduli amat! Pokoknya untung, ta?

Monday, April 8, 2013

TAMPILKAN WAJAH GEREJA "TAK MATA DUITAN"

Kemarin, Senin 8 April 2013, Rama Bambang menyelesaikan tulisan "Galau di Masa Tua". Tulisan itu merupakan respon terhadap permintaan salah satu peserta Seminar 7 April 2013 di Domus Pacis. Dalam tanggapan dan tanya-jawab, Pak Darwis dari Sleman meminta Rama Bambang menulis yang disampaikan oleh narasumber dengan powerpoint. "Kami akan mengganti ongkos fotocopy" kata Pak Darwis.

Pada saat makan siang, Rama Bambang menyampaikan hasil tulisan 3 halaman kepada rama Yadi, Rama Harto dan Rama Tri Wahyono yang bersama-sama semeja makan. Rama Bambang mengajukan pertanyaan "Bagaimana dengan fotocopyan itu kalau besok Minggu Pertama Mei kalau disampaikan ke para peserta novena? Apakah mereka membayar seharga fotocopyan? Apakah cukup mereka bebas mau membantu beaya fotocopy sukarela
atau tidak?" Dari pembicaraan ternyata Rama Yadi berkata "Kalau uang kita masih ada sebaiknya dibagikan saja tanpa harus ada uang ganti. Bukankah uang kita adalah uang umat?" Rama Harto dan Rama Tri Wahyono menyetujui usul Rama Yadi. Rama Yadi kemudian masih menambahkan kata-kata "Pada zaman sekarang tampaknya di dalam Gereja apa-apa mudah menarik uang dari umat. Gereja tampaknya jadi lembaga yang segala-galanya selalu dikaitkan dengan uang. Banyak kegiatan tampaknya selalu berwajah cari uang. Padahal kolekte, amplopan dan dana sukarela sudah menghadirkan banyak uang. Kita pun selalu kecukupan dengan pemberian dana sukarela dan kolekte setiap ada acara. Sebaiknya kita sedikit-sedikit ikut menampakkan wajah Gereja yang tidak mata duitan." Para rama lain mengangguk-angguk. 
Sabda Hidup Selasa, 09 April 2013
Hari Biasa Pekan II Paskah
Warna Liturgi Putih

Bacaan
Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15

Bacaan Injil Yoh. 3:7-15
Yoh 3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
Yoh 3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
Yoh 3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
Yoh 3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
Yoh 3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
Yoh 3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
Yoh 3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
Yoh 3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
Yoh 3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Renungan
Nikodemus salah seorang dari pengajar bangsa Yahudi memilih mengenal Yesus dengan mendatangiNya dan berdialog denganNya. Sekalipun Nikodemus tidak mudah menangkap apa yang diajarkan Yesus, namun tindakannya mendatangi Yesus merupakan tindakan berani melawan arus umum. Umumnya para pengajar Yahudi mengambil posisi menentang dan andai bertemu Yesus mereka hanya ingin menjebak Yesus. Nikodemus bukan ingin menjebak Yesus. Ia ingin mendengar dan memahami ajaran Yesus.
Banyak hal di dunia ini berbeda dengan pikiran kita. Ketika menemui perbedaan kita sering terpancing untuk melawan atau menghindarinya. Kita sering ketakutan, atau minimal mengeluhkan perbedaan-perbedaan yang ada. Disposisi seperti itu akan semakin menjauhkan kita dengan yang berbeda itu. Kalau kita berkehendak membangun persaudaraan yang mendalam, mengerti mengapa ia berbeda dengan kita kita perlu belajar pada kerendahan hati Nikodemus. Nikodemus dengan rendah hati mendatangi Yesus, bahkan ia pun menerima ketika pengetahuannya dipertanyakan oleh Yesus. Sikap itulah yang membuat Nikodemus akhirnya mengerti siapa Yesus dan hal-hal yang dipikirkan dan dilakukan Yesus.

Kontemplasi
Pejamkan sejenak matamu. Bayangkan orang yang masih sulit kaupahami. Datangilah orang tersebut dan ajaklah ia bercakap-cakap. Dengarkan kata-katanya sekalipun kata-kata yang diucapkan terasa merendahkanmu. 

Refleksi
Tulislah pengalamanmu menyikapi orang yang berbeda denganmu dan bagaimana usahamu untuk tetap berelasi dengannya.

Doa
Tuhan, hapuskanlah keegoanku. Berikanlah Roh Kerendahan hati untuk mendatangi orang yang sering bermasalah denganku. Kuatkanlah aku menerima hal-hal yang mungkin tidak mengenakkan kala bertemu dengannya. Amin.

Perutusan
Aku rela belajar dari mereka yang berbeda denganku.
KIRIMAN MAJALAH UNIO KAS

Pada hari Jumat 5 April 2013 di kamar makan ada amplop besar dari UNIO KAS (persaudaraan para Rama Praja Keuskupan Agung Semarang) untuk Komunitas Rama Domus Pacis. Isinya adalah BERNIO (Berita UNIO). Ini adalah majalah berkala milik Rama Praja KAS. Orang dapat saja berpendapat bahwa hal itu biasa dan wajar saja bila para rama Domus Pacis mendapatkan kiriman dari lembaga Keuskupan. Akan tetapi bagi para rama Domus Pacis hal ini merupakan perubahan keadaan yang amat besar.

Ketika mulai tinggal menjadi menghuni tetap di Domus Pacis pada Juli 2010 Rama Bambang berusaha mendapatkan Katalog atau daftar rama, suster, bruder Keuskupan Agung Semarang beserta alamat tempat karyanya. Sesudah menelpon Sekretaris Keuskupan dan beberapa kali SMS barulah datang 2 eksemplar buku Katolog yang diinginkan. Ternyata dalam banyak hal para rama Domus Pacis tidak pernah mendapatkan berita-berita dan bahan-bahan yang biasa dikirim oleh lembaga-lembaga dan kumpulan kegiatan yang biasa diterima oleh para rama praja atau rama yang berkarya di Keuskupan Agung Semarang. Hal ini makin disadari oleh Rama Bambang ketika memasuki Masa Adven 2010. Domus Pacis tidak memiliki bahan yang biasa dikirim oleh Komisi Kateketik KAS untuk umat termasuk rama KAS. Rama Bambang meminta Rama Purwatma, Pr., yang pada waktu itu menjabat Ketua Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP KAS), agar kalau ada bahan-bahan dari Komisi-komisi KAS, para rama Domus Pacis ikut dikirimi. Rama Purwatma bilang sudah memberi tahu lewat rapat dan sidang DKP KAS. Namun hingga APP 2011 pun Rama Minarto, Pr., yang pada waktu itu tinggal sementara di Domus, memfotocopy bahan yang didapatnya dari luar Domus. Rasanya para rama yang berada di Domus Pacis sudah terputus hubungannya dari jamahan karya KAS. Hal ini diungkapkan oleh Rama Yadi yang paling lama menjadi penghuni Domus.

Akan tetapi kini keadaan sudah berubah. Para rama Domus Pacis selalu mendapatkan berbagai informasi dunia kehidupan karya para rama dan lembaga KAS lewat surat-surat, brosur-brosur serta bahan-bahan baik untuk para rama maupun untuk umat pada umumnya. Majalah-majalah seminari dan beberapa tarekat di KAS juga diterima. Bahkan pada hari Kamis Putih 2013 Domus Pacis juga mendapatkan kotak berisi tiga macam minyak untuk pelayanan Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Sakramen Baptis. Domus Pacis sungguh-sungguh menjadi bagian dari Keuskupan Agung Semarang. Barangkali hal ini tumbuh dan berkembang karena geliat para rama yang sekecil apa pun menunjukkan karyanya. Barangkali hal ini dimulai dengan berita-berita Domus lewat majalah elektronik Domus Voice yang sempat terbit 17 kali hingga bermetamorfose dalam webside www.domuspacispuren.blogspot.com. Barangkali hal ini menjadi subur karena relasi yang makin banyak antara para rama Domus dengan umat umum dan sementara rama yang ada di paroki-paroki lewat kunjungan-kunjungan. Bahkan karya PIKATU (Pendampingan Iman Kaum Tua) yang dirintis oleh para rama Domus tampaknya juga ikut mensosialisasikan bahwa di Puren depan gedung Gereja Pringwulung ada Komunitas Rama Domus Pacis.  *Rama Bambang


Sunday, April 7, 2013

NOVENA DAN KUNJUNGAN OKE

Hari Minggu ini, 7 April 2013, bagi Komunitas Rama Domus Pacis menjadi hari yang amat padat dalam menerima kehadiran umat. Ada dua acara, Novena Ekaristi Seminar tahap 2 dan Kunjungan Paskahan Panitia Paskah Paroki Medari.
  1. Novena. Acara dimulai persis pada jam 09.00. Rama Bambang memulai dengan mengajak para peserta belajar menyanyikan lagu "Tua Bercahaya". Nyanyian ini adalah olahan dari Mazmur 92:13-16. Sesudah ajar nyanyian, para peserta diajak membuka dengan menyanyikan lagu "Curahkan Rahmat" dari Madah Bakti 423. Setelah itu Bu Prapto dari Paroki Medari memimpin doa. Kemudian Prof Dr Thomas Dicky dan Ibu Aisah memberikan penjelasan tentang "Galau di Masa Tua" dari kacamata psikologi. Ibu Aisah adalah seorang muslimat. Beliau amat akrab dan menikmati perjumpaan dengan kaum tua. Duet Pak Dicky dan Bu Aisah sungguh memberikan banyak pencerahan sehingga menarik banyak peserta memberikan tanggapan dan mengajukan pertanyaan. Pada jam 11.25 Rama Yadi memimpin misa dan jam 12.00 acara selesai.
  2. Kunjungan Paskahan. Jam 14.50 rombongan Panitia Paskah Paroki Medari datang. Rama Triyanto (pastor pembantu) mendampingi rombongan. Dari Domus yang ikut menemui adalah Rama Yadi, Rama Harto, Rama Agoeng, Rama Tri Wahyono dan Rama Bambang. Acara dimulai dengan nyanyian bersama dipandu oleh Rama Yadi. Yang dinyanyikan adalah lagu "E Dayohe Teka". Sesudah itu Rama Yadi mengenalkan rama-rama Domus dengan urutan kamar dari Rama Harjaya. Beliau juga menjelaskan makna kata Domus Pacis. Kegiatan para rama dipaparkan pula. Rama Triyanto kemudian menyampaikan tujuan kunjungan, yaitu untuk mengenal suasana rumah tua para rama praja. Ketua panitia menyambung latar belakang imannya. Kemudian Rama Bambang diminta memberikan tanggapan. Selingan nyanyian "Dalam Yesus Kita Bersaudara" juga membuat segar. Sesudah istirahat dengan menyantap snak, rombongan minta diri pada jam 17.00.
Lamunan Hari Raya Kabar Sukacita
Senin, 8 April 2013

Lukas 1:26-38

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


Butir-butir Permenungan
  • Katanya, Tuhan itu sumber nikmat dari segala niknat. Bersama Tuhan orang menemukan kedamaian dan kesejahteraan sehingga orang akan selalu tentram dan bebas dari derita.
  • Katanya, dengan Tuhan orang akan mengalami ketenangan. Tuhan menjamin segala kebutuhan sehingga orang tak akan mengalami kebingungan dalam kehidupannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa orang yang amat dekat dengan yang ilahi justru dapat mengalami hal-hal yang membingungkan. Orang dapat merasakan dorongan batin menjalani hal-hal penuh risiko yang di luar keinginan dan minatnya.
Wah, kok tak ada janji enakan?