Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, April 26, 2019

Minggu Paskah II/C – 28 Apr 2019 (Yoh 20:19-31)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/04/25; ilustrasi dari album Blog Domus


“Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”
Rekan-rekan yang baik,
Beberapa pokok dalam Yoh 20:19-31 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah II kali ini saya bicarakan dengan Hannes. Ia tidak keberatan bila penjelasannya diteruskan kepada kalian. Malah sudah diketahuinya reaksi pembaca catatan pendek saya mengenai kebangkitan dari hari Minggu Paskah lalu. Ia juga menambahkan pendapatnya di akhir suratnya ini. Selamat membaca! A. Gianto
=======================================
Gus yang baik!
Bagian Injil yang kautanyakan itu (Yoh 20:19-31) kumaksud sebagai penjelasan bagi murid-muridku yang kerap bertanya bagaimana dulu kami bisa mulai percaya bahwa Yesus yang baru saja dimakamkan tapi tidak ada di situ lagi itu toh tetap terasa dekat bagi kami. Agak ada kesamaannya dengan ingatan akan orang-orang dekat yang sudah tak ada lagi tapi yang tetap menjadi bagian hidup kita. Tapi juga amat berbeda. Ia tidak ada lagi di antara orang mati. Makamnya kosong. Kita merasa betul-betul gembira, bukan hanya kangen seperti bila kita teringat orang lain. Bahkan menimang-nimang ingatan akan dia tidak penting lagi. Kami lebih merasa menjadi bagian dia daripada dia menjadi bagian kita. Aku ingin agar murid-muridku memahami pengalaman kami itu.
Yesus menampakkan diri kepada kami sewaktu kami sedang mengunci diri karena takut kepada para penguasa Yahudi yang memang bersikap memusuhi para pengikut Yesus. Penampakan itu tidak dialami banyak orang lain. Murid-muridku tidak ada yang melihat penampakan Yesus. Paulus pun tidak seperti kami yang melihat tangan Yesus yang ada bekas luka paku, pinggangnya yang ada bekas tusukan tombak. Kalau mau tahu seluk beluk yang dialami Paulus, simak pengakuannya (1 Kor 15:8) atau baca cerita Lukas (Kis 9:39).
Murid-muridku ingin melihat Yesus yang bangkit seperti kami dulu, ingin ikut mengalami yang kami alami. Dan kurasa keinginan itu tak bisa dianggap remeh. Tetapi Yesus juga tidak bisa kita minta menampakkan diri, bahkan harapan semacam itu tak baik. Lama kupikirkan bagaimana menerangkan bagaimana percaya tanpa melihat.
Ingat kan, Tomas yang kurang percaya laporan kami itu akhirnya percaya juga setelah melihat sendiri. Yesus menampakkan diri kepadanya dan meminta dia meraba supaya percaya. Tomas tidak sungguh meraba bekas luka-lukanya. Sudah cukup baginya melihat, lalu percaya dan berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Melihat Yesus itu berarti melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas menyerukan dua sebutan itu. Aku ingat, Yesus sendiri dulu mengatakan siapa mengenalnya akan mengenali Bapanya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11). Dan Bapanya itu Allah. Camkan perkataan Yesus kepada Tomas pada akhir peristiwa itu (Yoh 20:29), “Karena engkau melihat aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, tapi kami semua yang di ada di situ mendengarnya. Hal ini berulang kali kuteruskan kepada murid-muridku yang percaya kepada Yesus meski tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti kami dan Tomas dulu atau seperti Maria Magdalena sebelumnya.
Aku sendiri sebetulnya mulai percaya sebelum melihat sendiri. Sudah kuceritakan, setelah mendengar berita dari Maria Magdalena, Petrus dan aku berlari ke makam. Kudapati juga kafan yang ditemukan Petrus di tanah dan penutup muka yang terlipat rapi (Yoh 20:8). Saat itulah aku percaya ia sudah bangkit meski belum melihatnya sendiri. Kemudian ketika mendengar kata-kata kepada Tomas tadi aku merasa sungguh berbahagia.
Tetapi memang “melihat” itu penting. Aku mulai mengerti pentingnya hubungan antara melihat dan percaya dari pengalaman orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9) dengan cara yang khas. Ketika orang-orang pada menanyainya siapa yang membuatnya melek, jawabnya (ayat 11), “Orang yang bernama Yesus itu” mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya berendam di Siloam. Beberapa waktu kemudian ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, jawabnya makin tegas (ayat 18), “Ia itu nabi!” Tetapi orang-orang Farisi itu malah berusaha mengintimidasi orang tadi. Ia kemudian bertemu Yesus lagi dan Yesus bertanya apa ia percaya kepadanya (Yesus menyebut diri “anak manusia”). Dan orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya. Yesus menyahut, bukan saja engkau melihat tapi sedang berbicara dengannya. Dan saat itu orang tadi sujud dan berseru (ayat 38), “Aku percaya, Tuhan!” Jelas bagiku. Pertama-tama si buta itu mengenali Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya, kemudian menegaskannya sebagai nabi, dan akhirnya bersujud dan percaya kepadanya. Dan proses ini berlanjut juga ketika Yesus bangkit. Maria Magdalena, para murid, dan Tomas contohnya. Melihat bisa berkembang menjadi persepsi batin dan membuat orang mengenali kebenaran yang dilihat. Tapi bila melihat tidak berkembang, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun. Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tapi tak percaya. Kenapa? Karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya. Karena itu kita mesti berterimakasih kepada Yesus yang mengatakan berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya. Tak perlu orang menjalani langkah-langkah yang kalau keliru malah membuat orang makin jauh. Kalian itu sebetulnya lebih beruntung dari pada kebanyakan dari kami. Tak perlu dicobai dengan penglihatan. Kalian menemukan Yesus yang bangkit dengan kesadaran batin dan mengalami kehadirannya di tengah-tengah kalian.
Sore hari Paskah itu, ketika menampakkan diri, Yesus meniupkan Roh (Yoh 20:22). Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kami menerima nafas hidup baru. Roh Kudus datang kepada kita untuk membuat kita hidup dalam Yesus yang bangkit. Memang sebelumnya dalam perjamuan terakhir ia telah menyatakan diri mau berbagi “sangkan paran” dengan kami – itu istilahmu yang kusukai. Tidak heran bila ini semua juga bisa sungguh terjadi pada kalian. Tapi untuk itu kalian perlu belajar memakai penglihatan batin untuk melihat Tuhan dan Allah – mengenal Yesus yang mulai kalian dengar dari kami dan bila sampai ke situ, kalian akan sadar juga bahwa Allah itu boleh dipanggil Bapa, seperti diajarkan Yesus. Dulu Yesus tak jemu-jemunya mengatakan ini kepada kami. Kami kira dia melantur. Tetapi kini aku paham.
Kau juga bertanya soal kebangkitan buat zaman sekarang. Bisa kukatakan: percaya bahwa Yesus itu bangkit dan hidup itu sama bagi kami dulu dan bagi kalian sekarang. Mengenali dia juga akhirnya sama bagiku dan bagimu. Kami dulu diutus olehnya, setelah mendapat kekuatan Rohnya, untuk mengujudkan kepercayaannya kepada Bapanya. Hal ini diungkapkan dengan bahasa yang lebih kami pahami dalam situasi kami dulu, yaitu tentang mengampuni dosa atau menyatakan dosa tetap ada (Yoh 20:23). Dosa yang dimaksud ialah penolakan terhadap dia yang hadir di tengah-tengah manusia itu. Kami dulu ditugasi untuk hidup sesuai dengan semangat kebangkitan, menegakkan nilai-nilai yang sejalan dengan kemerdekaan hidup sebagai anak-anak Allah. Kalian menerima pengutusan yang sama. Kita tak bisa diam saja bila martabat anak-anak Allah memudar. Aku dengar di negeri kalian kemelaratan dan kebodohan menjadi penyakit menahun. Ada banyak yang kurang mempunyai sarana dan bekal memadai untuk jadi manusia yang pantas. Atau kalau mau pakai bahasa Injili, belum semua mendapat kesempatan lepas dari kuasa dosa agar menjadi anak-anak Allah. Kami diutus untuk membawakan kesempatan yang sama bagi semua orang. Kalian juga.
Ada orang yang mengirim tembusan catatanmu tempo hari mengenai perbedaan antara kebangkitan Yesus pada hari Paskah itu dengan penghidupan kembali orang mati. Memang amat berbeda dengan perihal kembali ke kehidupan seperti Lazarus dulu (Yoh 11), atau seperti anak janda di Nain (Luk 7:11-17) dan anak perempuan Yairus (Mrk 5:35-43; Luk 8: 49-56, juga Mat 9:23-26) yang dihidupkan kembali. Kebangkitan itu berjalan memasuki hidup baru dengan Yang Maha Kuasa sendiri, bukan berbalik ke dunia dan nanti toh bakal meninggal lagi. Badan juga dikatakan bangkit dan tidak lagi mengalami keterbatasan-keterbatasan jasad seperti orang yang lahir ke dunia. Rekan tadi juga menambahkan pendapatnya: “Jadi ini bisa menjelaskan mengapa Maria Magdalena tak mengenali Yesus yang sudah bangkit. Waktu di makam, Maria Magdalena memang tak serta merta mengenali-Nya. Sesudah Ia menyapanya, barulah Maria sadar dan berkata: Rabbuni. Begitu pun yang terjadi pada dua Rasul yang berjalan ke Emaus. Kedua murid itu tak mengetahui bahwa yang berjalan di sebelah mereka adalah Sang Guru. Mereka baru tahu ketika Ia memecahkan roti.” Tanggapan itu berasal dari kawan yang tidak banyak kenal ilmu teologi dan tafsir, tapi bisa berteologi dan mampu menangkap warta Injil. Dan memang itulah penjelasannya mengapa Yesus yang bangkit itu tak segera dikenali. Kita butuh waktu dan keberanian untuk menyadari apa yang terjadi. Kongkritnya: membiarkan kisah-kisah tentang Yesus berkembang maknanya, jangan dilihat sebagai cerita melulu; beranilah mendalami gagasan tentang Kristus yang bangkit, jangan puas dengan yang lumrah dan rutin. Memang kematangan ini baru bisa mulai bila menyertakan yang diimani. Tak bisa dicapai secara sepihak, sesaleh apapun, semulia apapun. Macam-macam jalannya. Ada yang merasa disapa batinnya ketika sedang gundah seperti Maria Magdalena, ada yang diimbau agar menemukan kehadirannya dalam “pemecahan roti”, seperti dua orang murid Emaus – ini ungkapan paling pokok dari kepercayaan para murid: berbagi kehidupan dengan dia yang sudah bangkit. Dan masih banyak cara lain yang akan kalian temukan bersama Yesus yang telah bangkit itu sendiri.
Salam, Hannes

Lamunan Pekan Paskah I

Sabtu Oktaf Paskah
Sabtu, 27 April 2019

Markus 16:9-15

16:9. Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
16:10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
16:11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
16:12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
16:13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya.
16:14. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang yang hidupnya hanya mengikuti nafsu jahat biasa dipandang sebagai penyakit masyarakat. Dia termasuk orang yang tak bernilai di mata kaum agamawan.
  • Tampaknya, orang yang hidupnya hanya mengikuti nafsu jahat dapat dikatakan sebagai sosok yang tuli nurani. Dia termasuk orang yang abai dari hidup ber-Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hidup bergelimang dengan aneka limpah kejahatan dan segala yang tak bermoral, kalau mampu berbalik melandaskan diri pada nurani, orang dapat menjadi golongan VVIP dalam memperoleh anugrah dinamika hidup ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dari golongan yang tak bernilai di mata umum dapat menjadi yang amat bernilai demi kebaikan umum.
Ah, kaum busuk kalau diberi peran keagamaan ya hanya akan menghancurkan agama itu.

Percikan Nas Jumat, 26 April 2019

HARI JUMAT dalam OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14. BcO 1Ptr. 3:18-4:11.

Bacaan Injil: 
1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. 2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. 3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. 4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. 8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. 9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. 10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." 11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. 12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. 13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. 14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Memetik Inspirasi:
Kadang kita mengalami suatu masalah yang belum selesai namun harus segera bangkit dan move on lagi. Walau dengan hati yang berat namun kita mesti mengambil pilihan tersebut. Move on ini yang akan membantu kita menemukan kembali semangat hidup.
Petrus dan teman-temannya masih berada dalam suasana sedih, bingung dan kehilangan Yesus. Petrus mencoba menghapusnya dengan berlayar lagi. Ketika berpamitan, teman-temanya pun ikut Petrus untuk berlayar. Ternyata hasil yang didapat sangat banyak. Hal tersebut membangkitkan semangat mereka.
Siapapun dari kita pasti pernah mengalami situasi sulit. Kadang ingin menghindarinya segera. Walau sering begitu kita patut mengerti bahwa kita harus mulai bergerak. Kita mesti percaya bahwa dengan bergerak kita bisa melangkah dan mengembangkan daya yang ada. Maka, walau terasa lelah,  kita perlu sungguh bergerak seperti Petrus.

Refleksi:
Langkah apa yang kaubuat ketika gagal?

Doa
Tuhan mampukanlah kami untuk segera bangkit. Daya-Mu menguatkanku untuk melangkah. Maka marilah kita sungguh siapkan diri untuk melangkah. Amin.

Tetap melangkah
Selamat pesta nama pelindung paroki wates
MoGoeng
Wates

Thursday, April 25, 2019

Heboh tentang Rm. Jaya di tengah Misa Nyewu


Pada Kamis 25 Maret 2019 Misa Domus Pacis Puren tetap dilaksanakan pada jam 18.00 atau 06.00 sore. Para rama yang biasa ikut misa harian juga hadir bahkan berdandan secara khusus. Rm. Harto, Rm. Tri Hartono, dan Rm. Ria dengan kursi rodanya berjejer di sebelah utara altar. Rm. Djono dan Rm. Jayasewaya juga duduk dengan kursi roda di sebelah selatan altar. Sedang Rm. Yadi berada di luar seperti biasa kalau ada banyak tamu ikut misa. Misa pada saat itu memang menjadi istimewa karena ada lebih dari 75 orang peserta. Sanak saudara Bu Rini yang beragama Katolik memang menjadi terbanyak. Para relawan dan beberapa tamu yang dekat dengan Bu Rini juga hadir. Ada juga kor yang secara mendadak bisa ikut menyemarakkan misa. Makan malam pun disediakan oleh catering. Ada pula dos-dos yang berisi beberapa macam snak yang dibagikan kepada semua satu persatu ketika semua selesai santap malam. Semua ini terjadi karena misa saat itu dilaksanakan untuk memperingati 1000 hari wafat Bapak Dayat, ayahanda Bu Rini. Bu Rini adalah salah satu relawan yang termasuk memberi perhatian khusus harian pada Domus Pacis.

Dalam peristiwa itu ternyata terselip kejadian yang untuk sementara peserta misa menjadi heboh. Rm. Bambang, yang memimpin misa, dalam homili mengetengahkan betapa sukarnya meyakinkan peristiwa kebangkitan Yesus sesuai dengan bacaan Kamis Oktaf Paskah. Akhirnya Tuhan Yesus datang sendiri menemui para rasul dan menunjukkan luka-luka dan minta makan. Para rasul pun masih bisa ragu-ragu. Memahami dan menerima peristiwa ilahi memang bisa amat sulit. Untuk itu Rm. Bambang mengatakan "Apa meneh bab ilahi. Nampa lan yakin kanyatan duniawi kongkret sing ana neng ngarepe wae ya isa angel" (Apalagi yang ilahi. Menerima dan yakin menerima realita duniawi kongkret yang ada di depannya saja juga bisa sulit). Kemudian Rm. Bambang berceritera pegalaman orang-orang Klaten pada Minggu Pertama Maret 2019 yang ikut Novena Domus. Mereka sudah tidak mengenal lagi Rm. Jayasewaya yang pernah berkarya cukup lama di Klaten. Ketidakyakinan terhadap Rm. Jaya masih terulang ketika ada orang Klaten mengunjungi Rm. Bambang dan kemudian mempertemukannya dengan Rm. Jaya. Foto Rm. Jaya kini disebar lewat WAnya dan kebanyakan meragukannya.

Dalam misa pada malam itu, tiba-tiba ada ibu yang duduk di deretan depan nyeletuk "Apa itu Rm. Jaya yang dulu jadi Vikep?" dan Rm. Bambang langsung menyahut "Ya, benar" sambil menunjuk Rm. Jaya yang duduk dengan kursi roda di sebelah kanan ibu itu. Tiba-tiba ibu itu terkejut sambil bilang "Ndak iya?" (Sungguhkah?). Maka dalam misa itu sebagian orang yang kerap ikut kumpulan dan misa di Paroki Kidul Loji (yang merangkap sebagai kevikepan) melongkok dan memperhatikan Rm. Jaya. Kemudian terjadi keributan sesaat karena muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengkungkapkan kekurangyakinan. Bahkan Bu Ninik, salah satu relawan Domus mengirim ke WA Rm. Bambang pada jam 22.47 malamitu gambar Rm. Jaya tempo sebelum masuk rumah tua di Kentungan disertai kata-kata "Ini foto mudanya rm Joyo? Kl betul, ya pasti pd pangling....beda bangeett." Rm. Bambang membuka dan mejawab pada jam 04.28 pagi berikut "La ya kuwi Rm. Jaya ketika belum gerah dan masih segar serta jadi Vikep. Ketika masuk rumah tua Kentungan, tadinya masih seperti itu. Biyen jaman Rm. Agoeng pernah melu rama-rama Domus pas dolan-dolan. Sesudah kuwi sok-sok ya rawuh yen pas ana peringatan imamat. Maka ketika masuk Domus, aku jan-jane ya kaget. Kok kuru banget. Muga-muga suasana gembira lan dhahare neng Domus isa sithik-sithik memulihkan kondisi beliau."

Santo Paschasius Radbertus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3075 Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014

  • Perayaan
    26 April
  • Lahir
    Tahun 790
  • Kota asal
    Soissons, Perancis
  • Wafat
    Tahun 860 | Sebab alamiah
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Tak seorang pun tahu siapa orangtua santo Paschasius. Sesaat setelah ia  dilahirkan, orang tuanya membuang bayi malang Paschasius di depan pintu Biara Notre Dame. Para biarawati mengasihi dan merawat sang bayi. Mereka menamainya Radbertus. Ketika sudah cukup besar untuk belajar, Radbertus dikirimkan kepada para biawaran Benediktin yang tak jauh dari sana untuk bersekolah.

Radbertus senang belajar dan teristimewa menaruh minat pada sastra Latin. Setelah dewasa, ia hidup tenang sebagai ilmuwan. Ia tetap seorang awam selama beberapa tahun. Kemudian ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang biarawan. Ia menggabungkan diri dalam suatu komunitas yang dipimpin oleh dua abbas yang penuh semangat, yakni St Adalhard dan saudaranya yang menggantikannya, Abbas Wala. Radbertus berupaya menjadi seorang biarawan yang kudus. Ia kerap menemani kedua abbas dalam perjalanan-perjalanan mereka. Ia menulis biografi kedua abbas setelah mereka wafat. Radbertus menjadi seorang ahli Kitab Suci. Ia menulis ulasan panjang mengenai Injil St Matius. Ia juga menulis ulasan mengenai bagian-bagian lain dari Injil. Tetapi karyanya yang paling tersohor berjudul “Tubuh dan Darah Kristus”.

Radbertus tidak merasakan panggilan untuk menjadi imam. Tetapi ia dibujuk untuk menerima penunjukkan sebagai abbas selama tujuh tahun lamanya. Kemudian ia mendesak untuk kembali ke cara hidup dalam doa, meditasi, belajar dan menulis. Masa jabatannya sebagai abbas sungguh amat sulit baginya meski ia berupaya melakukan yang terbaik seturut kemampuannya. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan berdoa, menulis dan melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Radbertus wafat pada tahun 860.
 Sumber : Katakombe.Org

Lamunan Pekan Paskah I

Jumat Oktaf Paskah
Jumat, 26 April 2019

Yohanes 21:1-14

21:1. Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
21:5 Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."
21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, pada umumnya orang mengakui bahwa segala yang duniawi selalu memiliki keterbatasan. Segalanya selalu dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu.
  • Tampaknya, sehebat apapun kualitasnya, fasilitas yang dimiliki oleh seseorang juga memiliki keterbatasan. Pemakaiannya tetap membutuhkan kehati-hatian agar tidak rusak.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun segala yang duniawi memiliki keterbatasan dalam penggunaan, kalau dipakai untuk sarana mentaati kehendak nurani yang terbatas akan mampu memuat yang tidak terbatas. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mudah mengalami hasil berlebih dari fasilitas terbatasnya.
Ah, dengan fasilitas terbatas ya jangan mengharapkan banyak hasil.

Santo Markus, Pengarang Injil

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 12647 Diterbitkan: 10 Agustus 2013 Diperbaharui: 14 September 2015

  • Perayaan
    25 April
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  • Kota asal
    Siprus
  • Wilayah karya
    Palestina, Asia kecil, Roma, Mesir
  • Wafat
    25 April 68 di Alexandria, Mesir | Martir
    Menurut tradisi Markus diikat tali dilehernya lalu diseret sepanjang jalan sampai ia mati
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation Sumber : Katakombe.Org

Markus hidup pada jaman Yesus. Ia bukan salah seorang dari kedua belas rasul Kristus, melainkan saudara sepupu St. Barnabas rasul (Kis 12:25).  Markus menjadi terkenal karena ia menulis satu dari keempat Injil. Sebab itu ia disebut pengarang Injil.
Injil Markus cukup singkat, tetapi memberi banyak keterangan terperinci yang tidak terdapat dalam Injil lainnya. Ketika masih muda, Markus pergi bersama dua rasul besar, Paulus dan Barnabas, dalam suatu perjalanan kerasulan untuk mewartakan ajaran Yesus pada bangsa-bangsa lain.
Namun sebelum perjalanan berakhir, tampaknya Markus berselisih dengan Paulus. Markus mendadak kembali ke Yerusalem meninggalkan Paulus dan Barnabas di Pamfilia. Hal ini menyebabkan Paulus dan Barnabas berselisih. (Kis 15:35-41). Paulus dan Markus akhirnya dapat mengatasi perselisihan mereka. Malahan, dari penjara di Roma, Paulus menulis : "... Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku". (2 Tim 4:11).
Markus juga menjadi murid kesayangan St. Petrus, paus pertama kita. Petrus menyebut St. Markus sebagai “anakku.” (1Ptr 5:13) Karena itu, sebagian orang beranggapan bahwa dengan ini Petrus hendak mengatakan bahwa dialah yang membaptis Markus.
Markus ditahbiskan sebagai uskup dan diutus ke Alexandria, Mesir. Di sana ia berkarya dengan gemilang dan mempertobatkan banyak orang. Markus dianggap sebagai pendiri Gereja Aleksandria, yang sekarang menjadi gereja Koptik (Markus disebut sebagai Paus Pertama Gereja Koptik). Bagian-bagian liturgi Gereja Koptik dapat ditelusuri kembali ke Santo Markus sendiri. Dia juga dihormati sebagai pendiri kekristenan di Afrika. Menurut tradisi Markus akhirnya harus mengalami penderitaan yang panjang serta menyakitkan sebelum ia wafat sebagai martir pada tahun 68 di Aleksandria.
Pada 828 Jenazah St. Mark dicuri dari Alexandria oleh seorang pedagang Venesia dan dibawa ke Kota Venesia. Seluruh rakyat Venisia menyambut kedatangan Relik tubuh Orang Suci ini dan segera menjadikannya sebagai Santo Pelindung bagi kota mereka. Sebuah Basilika yang indah kemudian dibangun di Kota Venisia sebagai tempat penghormatan bagi Santo Markus.
Pada bulan Juni tahun 1968, Paus Koptik Cyril VI dari Aleksandria mengirimkan delegasi resmi ke Vatican untuk menerima kembali Relik dari St. Markus dari Paus Paulus VI.  Delegasi ini terdiri dari sepuluh Metropolitan (Uskup Agung) dan uskup, tujuh di antaranya adalah uskup Koptik dan tiga Uskup Gereja Ethiopia, serta tiga pemimpin awam Gereja Koptik.
Delegasi dari Afrika menerima relik Santo Markus pada tanggal 22 Juni 1968. Keesokan harinya, mereka merayakan liturgi bersama Paus di Kapela Santo Athanasius di Roma. Para Metropolitan, uskup, dan imam delegasi semua berpartisipasi dalam liturgi tersebut (sebuah perayaan misa ekumenis yang mengharukan).
Relik kemudian dibawa kembali ke Aleksandria dan disemayamkan di Saint Mark's Coptic Orthodox Cathedral Aleksandria Mesir. Gereja Kathedral Koptik ini dibangun diatas sebuah gereja yang pernah dibangun oleh Santo Markus sendiri di tahun 60.
 Sumber : Katakombe.Org