dari http://tips-menghilangkan-stress.blogspot.com
Selama ini kita mengetahui bahwa depresi menjadi salah satu masalah
mental yang paling banyak didapati pada pada lansia dan hal ini pastinya
memerlukan penatalaksanaan holistik dan seimbang di aspek mental, fisik
serta sosial. Selain itu,
depresi pada lansia merupakan hal yang
harus diwaspadai dan juga dideteksi seawal mungkin sebab bisa
memberikan pengaruh pada perjalanan penyakit fisik dan juga kualitas
hidup si penderita.
Deteksi sedini mungkin harus dilakukan guna mewaspadai depresi,
khususnya pada lansia yang memiliki penyakit degeneratif, keluhan
somatic kronis, menjalani perawatan lama di rumah sakit, dan juga lansia
dengan isolasi sosial. Selain itu, perubahan pada sikap lansia saat
proses pengobatan juga merupakan sebuah tanda adanya depresi yang mereka
alami. Perubahan sikap yang dialami oleh para lansia yang mengalami
depresi pada umumnya berupa seringkali mengabaikan saran dari dokter,
meminum obat sembarangan, dll.
Pada faktanya,
depresi pada lansia kerap terdeteksi dengan lambat
sebab tak ada gambaran klinis yang jelas. Depresi yang dialami oleh
para lansia ini seringkali terlihat di dalam keluhan somatis, seperti
halnya gangguan susah tidur, kelelahan yang kronis, berat badan yang
turun dengan drastis, dan masih banyak lagi. Depresi ini juga bisa
terlihat sebagai bentuk perilakut yang agitatif, penurunan fungsi
kognitif atau ansietas.
Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan depresi kepada para lansia
adalah psikologis, faktor biologis, stress yang sudah kronis, pemakaian
obat-obatan, dll. Yang dimaksud dengan faktor biologis contohnya adalah
genetik, faktor resiko vaskular, perubahan struktur otak, dan juga
kelemahan pada fisiknya. Sementara itu faktor psikologis contohnya
adalah antara lain tipe kepribadian serta relasi interpersonal. Kejadian
dalam kehidupan mereka seperti halnya kehilangan orang yang dicintai,
berduka, keadaan ekonomi yang berat, dan juga perubahan situasi.
Terapi depresi pada lansia
Menurut salah satu pakar depresi, beberapa faktor yang mesti
diperhatikan dalam hal terapi depresi kepada para lansia yakni perubahan
faal oleh proses penuaan, komorbiditas penyakit fisik, interaksi antar
obat, status fungsional, efek samping obat-obatan dan juga dukungan
sosial yang mereka dapatkan. Terapi depresi yang diberikan kepada para
lansia bisa mencakup terapi biologis dan juga terapi psikologis.
Terapi biologis bisa dilakukan dengan cara memberikan obat
antidepressant, terapi sulih hormon, ECT alias terapi kejang listrik,
dan juga TMS alias
Transcranial Magnetic Stimulation. Sementara
itu terapi psikologis memiliki tujuan untuk mengatasi masalah
psikoedukatif, yakni untuk mengatasi distorsi pola pikir, kepribadian
maladaptif, mekanisme koping yang sama sekali tak efektif, dan juga
hambatan hubungan interpersonal. Terapi yang satu ini juga dilakukan
guna bisa mengatasi masalah sosiokultural, seperti halnya dukungan dari
keluarga yang tak begitu lancar, perubahan pada peran sosial, dan juga
masalah yang berkaitan dengan faktor kultural.