diambil dari https://renungan-kitabsuci.blogspot.co.id/2014/10 by A Gianto
ilustrasi dari koleksi Blog Domus
Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Minggu Biasa XXVII tahun A ini dibacakan Mat 21:33-43. Di
situ Yesus kembali mengutarakan perumpamaan yang berhubungan dengan
kebun anggur. Tapi kali ini yang disoroti ialah para penggarap kebun
anggur yang ingin merebut lahan yang dipercayakan kepada mereka oleh
pemilik yang sedang berada di negeri lain. Di kebun itu juga ada
tempat penggarapan anggur yang dibangun oleh sang empunya.
Para hamba yang diutus untuk memungut hasilnya diperlakukan dengan buruk
oleh para pekerja. Orang-orang suruhan yang pertama dipukuli, dibunuh,
dan dirajam. Yang kedua, meski jumlahnya lebih banyak, mendapat
perlakuan serupa. Akhirnya sang pemilik mengutus anaknya sendiri dengan
perhitungan bahwa para pekerja akan menerimanya. Tetapi mereka malah
membunuhnya dengan harapan kebun anggur itu nanti jatuh ke tangan mereka
karena sang ahli waris telah mati. Yesus kemudian bertanya kepada
imam-imam kepala dan orang Farisi (mereka baru saja mempertanyakan dari
manakah kuasa Yesus berasal; lihat Mat 21:23), apa yang bakal diperbuat
pemilik kebun anggur tadi terhadap penggarap-penggarap tadi. Spontan
jawab mereka, tentunya ia akan menghabisi orang-orang tadi dan
menyerahkan kebun itu kepada penggarap-penggarap lain. Apa maksud Yesus
dengan perumpamaan itu? Dan apa pula artinya bagi kita sekarang?
MOTIF "KEBUN ANGGUR"
Bagian pertama perumpamaan ini mengingatkan pembaca akan Yes 5:1-7. Di
situ sang nabi mengutarakan keluh kesah pemilik kebun anggur yang tidak
berhasil membuat kebunnya menghasilkan buah yang baik meskipun tanahnya
subur dan segala upaya telah dilakukannya. Ia juga telah mendirikan
tempat pengelolaan bagi hasil kebun yang tak kunjung datang itu. Dalam
perumpamaan yang diucapkan Yesus, pemilik kebun juga tidak mendapat
hasilnya sekalipun ia telah mendirikan tempat penggarapan. Lebih buruk
lagi, hasil yang tak kunjung datang ini akibat ulah para penggarap
sendiri, bukan karena pohon anggurnya buruk. Dalam teks Yesaya, pohon
anggur yang tak memberi hasil memuaskan itu melambangkan umat yang
hidupnya tidak mengusahakan yang adil dan benar, mereka malah
menjalankan kelaliman dan keonaran. Dalam perumpamaan yang diceritakan
Yesus, diutarakan bahwa para penggarap yang jahat itulah yang membuat
sang pemilik tidak mendapatkan hasil dari tanah miliknya. Mereka malah
berusaha merebut hak milik sang empunya. Perkaranya berkembang dari tak
ada hasil yang memuaskan menjadi hak milik yang direbut dengan
kekerasan.
Menurut alam pikiran Perjanjian Lama, hak atas tanah yang sah tak boleh
diganggu gugat. Merebut kebun anggur Nabot mendatangkan celaka bagi Ahab
dan Izebel, istrinya (1 Raj 21:1-29). Bagi orang seperti Nabot, kebun
anggur miliknya itu pusaka turun temurun yang tak boleh diganggu gugat.
Milik ini diberikan kepadanya secara sah. Tak dapat diperjualbelikan
dengan imbalan apa saja, apalagi direbut. Masalah utama dalam kisah
kebun anggur Nabot itu ialah kekerasan atau tindakan rudapaksa raja
merebut hak milik, bukan pertama-tama soal keadilan sosial atau
penindasan kaum kuat terhadap si lemah. Kekerasan terhadap hak milik
ditampilkan sebagai kejahatan yang melebihi batas apa pun. Demikian
dalam perumpamaan kali ini, hak sang empunya lahan dirudapaksa oleh
para penggarap. (Ia bukan pihak yang lemah. Tapi pembedaan kuat-lemah
tak dapat dipakai untuk menafsirkan perumpamaan ini.) Para penggarap itu
akhirnya membunuh ahliwarisnya. Ini pelanggaran yang paling keras
terhadap hak milik.
Ada dua hal yang terpikir oleh para pendengar perumpamaan tadi. Pertama,
pemilik dengan penuh perhatian membangun tempat pengelolaan kebun
anggurnya. Karena itulah ia amat mengharapkan hasilnya. Tetapi ia
dikecewakan dan malah direbut miliknya. Kedua, merebut hak milik kebun
anggur ini ditampilkan sebagai kejahatan yang melampaui batas.
SEBUAH ALEGORI
Perumpamaan ini sudah sejak awalnya dibaca sebagai alegori atau kisah
yang diterapkan pada orang atau keadaan tertentu. Dalam tafsiran
alegori, kebun anggur akan dipandang mewakili umat. Hanya Tuhan
Allah-lah yang memiliki umatNya. Ia memang mempercayakan pemeliharaannya
kepada para pemimpin umat (Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini
tampil sebagai para penggarap yang ingin menguasai milik tuan tadi.
Para hamba ialah para nabi yang mendapat perlakuan buruk dari para
pemimpin. Kemudian anak empunya kebun tadi ialah Yesus sendiri. Para
penggarap tadi merencanakan akan membunuhnya. Dan memang dalam
perumpamaan tadi rencana itu dijalankan.
Rupa-rupanya para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung
memahami perumpamaan tadi sebagai alegori seperti di atas. Dalam Mat
21:45 disebutkan bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar
perumpamaan-perumpamaan Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud
oleh Yesus. Mereka merasa diancam bakal mendapat hukuman dari Allah
sendiri. Oleh karena itu mereka semakin bersikap memusuhi Yesus.
Apakah Yesus sendiri bermaksud menggambarkan sikap para pemimpin tadi
sebagai para penggarap yang jahat dan bakal ditindak sang pemilik?
Rasa-rasanya memang demikian. Para pemimpin itu baru saja mempertanyakan
sah tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang
sebagai berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.). Mereka tidak berani dan
boleh jadi tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus itu. Mereka lebih
merisaukan konsekuensi politik di tanah Yudea dan khususnya bagi
kelestarian Bait Allah. Mereka waswas bila pengajar atau "nabi" hebat
tapi liar ini tidak ditertibkan, para penguasa Romawi mengira ada
gerakan untuk memberontak. Dan akan ada tindakan militer yang bakal
semakin mengekang kebebasan yang sudah amat terbatas hingga kini. Jadi
para pemimpin Yahudi tadi memang memikirkan kepentingan mereka dan tidak
dapat lagi mengikuti apa yang sedang terjadi di masyarakat waktu itu.
Ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi. Yakni bahwa
semuanya ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka
belum diadili oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum
sungguh-sungguh menyingkirkan anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih
ada waktu bagi mereka untuk berubah. Sayang kesempatan itu tidak
mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh rencana-rencana mereka sendiri
dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka tidak dapat memikirkan
perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat ajakan untuk
berubah. Mereka hanya mengira ada rencana lawan dari pihak Yesus untuk
balas menyingkirkan mereka.
BAGI ZAMAN INI
Tetapi kita tidak selalu perlu membaca perumpamaan Yesus kali ini
sebagai alegori belaka dengan menerapkannya kepada tokoh dan keadaan
zaman ini. Sebaiknya dihindari tafsiran alegori demi tujuan mengkritik
para pemimpin dalam masyarakat sekarang atau dalam Gereja! Kisah itu
perlu juga didalami sebagai perumpamaan, sebagai pembicaraan yang
mengajak orang mengamati diri dan bertanya apa yang dapat diperbuat
dalam keadaan itu.
Perumpamaan ini dapat amat berguna untuk memahami hidup rohani atau
hidup batin kita. Seperti dalam kehidupan pada umumnya, dalam hidup
batin ada unsur "rencana-rencana" dan ada pula unsur "kebetulan".
Kerap rencana tidak terlaksana, sering yang terjadi ialah yang kebetulan
yang bisa lebih baik daripada yang diperhitungkan. Hidup batin
diberikan kepada kita sebagai peluang agar kita semakin menyadari
sisi-sisi ilahi dalam hidup ini. Peluang agar kita membiarkan Tuhan
memasuki kehidupan kita. Bisa ditelateni dan dikembangkan, tetapi tidak
dapat diatur secara ketat menurut agenda sendiri. Hidup batin itu
dipercayakan untuk digarap, bukan untuk dimiliki, diklaim sebagai milik.
Namun demikian, jelas ada kecenderungan untuk merebut wilayah tadi. Kita
dengar ada macam-macam ulah batin yang tujuannya menghimpun
kekuatan-kekuatan luar biasa untuk memanipulasinya. Bila terjadi,
ibaratnya penggarap yang dipercaya mengolah hidup batin mau merebut
kekuatan-kekuatan batin tadi dari Dia yang memilikinya.
Catatan. Titik berat dalam perumpamaan ini bukanlah perlakuan buruk
terhadap para utusan pemilik kebun. Yang disoroti sebagai kejahatan
ialah upaya merebut kebun tadi. Jadi perumpamaan itu bukan untuk menuduh
para penggarap, bukan pula untuk menuduh diri kita sendiri yang
acapkali kurang peka akan isyarat ilahi. Perumpamaan itu dimaksud untuk
memurnikan hidup rohani dari unsur-unsur yang menjauhkannya dari
kehadiran ilahi sendiri.
Salam hangat