Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, November 2, 2019

Santo Hubertus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 4844 Diterbitkan: 06 October 2014 Diperbaharui: 09 October 2014
ilustrasi dari koleksi Blog Domus

  • Perayaan
    3 November
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 656
  •  
  • Kota asal
    Maastricht, Belanda
  •  
  • Wafat
    Tanggal 30 Mei 727 di Fura (sekarang Tervueren), Brabant, Belgia - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation
Santo Hubertus lahir sekitar tahun 656 atau 658 di Toulouse Perancis. Ia adalah cucu dari Charibert, raja Toulouse dan anak dari Bertrand, raja muda Aquitaine. Sejak kecil Hubert sudah dididik secara Kristiani oleh orangtuanya. Namun ia sendiri kurang memperhatikan perkembangan kehidupan rohaninya. Ia lebih sibuk dengan kegemarannya: berburu kijang di hutan. Banyak waktunya dihabiskan untuk berburu. Bila tiba hari Minggu, ia sibuk dengan anjing-anjing pemburunya, menyandang panah dan busur untuk pergi berburu, meskipun kawan-kawannya mengajaknya ke gereja.
Suatu hari, tepat pada hari Jumat Agung, saat umat kristiani sedang merenungkan sengsara dan wafat Kristus, Hubertus tak tergugah sedikit pun dengan hari raya besar itu. Ia malah menyiapkan perlengkapannya lalu pergi ke hutan untuk berburu. Tiba-tiba muncul seekor rusa jantan yang besar. Terdorong nafsu, Hubertus mengejar rusa itu makin jauh masuk ke dalam hutan. Tetapi, sekonyong-konyong rusa itu berdiri dengan tenang dan berpaling ke arahnya. Di antara tanduknya terpancang salib yang bersinar menyilaukan. Hubertus tertegun, kemudian rusa itu menghilang, lenyap entah kemana. Suatu suara bergema dalam hatinya: “Hubertus, mengapa kau mengejar kenikmatan belaka? Waktumu kau sia-siakan dan hidupmu tak akan bernilai.” Kata-kata itu begitu menyentuh hatinya, sehingga ia mulai mencari Kristus yang tersalib.
Kejadian istimewa didalam hutan tersebut membuat Hubertus bertobat. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohaninya dan menjalani hidup dengan banyak berdoa dan bermatiraga. Kemudian ia menjadi rohaniwan yang melayani Uskup Santo Lambertus di Maastricht, Belanda. Melihat cara hidupnya yang saleh, Uskup Lambertus mentahbiskan dia menjadi imam, dan mengangkatnya menjadi pembantu Uskup. Tak lama kemudian Uskup Lambertus, yang lantang menentang tindakan asusila para pejabat istana, dibunuh secara keji. Hubertlah yang dipilih menggantikannya.
Sebagai uskup, Hubertus sangat aktif dalam karyanya. Ia berhasil mempertobatkan banyak orang kafir yang masih menyembah berhala di pegunungan Ardenne. Sewaktu menyeberangi sungai dalam perjalanan pastoral ke desa-desa, ia mendapat kecelakaan sehingga jatuh sakit. Beberapa bulan kemudian uskup yang saleh ini tutup usia pada tanggal 30 Mei 727.

Latar belakangnya yang adalah seorang pemburu membuat ia diangkat menjadi pelindung para pemburu. Jenis anjing pelacak yang dulu sering menemaninya dalam berburu, sampai saat ini disebut sebagai saint hubert’s hound.

Lamunan Pekan Biasa XXXI

Minggu, 3 November 2019

Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang baik akan berhati-hati dalam pergaulan. Dia tidak akan sembarang memilih teman.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa orang baik akan menjauhi keburukan apalagi kejahatan. Dia akan tidak mudah untuk berdekatan orang berwatak buruk.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat aktif dengan kegiatan-kegiatan agama dan masuk dalam jajaran pengurus agama, orang belum tentu menjadi sosok baik kalau tidak mudah terbuka berhubungan enak dengan orang yang dicap buruk. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati makin baik seseorang makin terbukalah hatinya untuk berdekatan dengan orang dari golongan pendosa.
Ah, kalau sungguh baik pergaulannya juga akan dengan orang-orang baik.

Beato Pius dari Santo Aloysius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 2021 Diterbitkan: 15 January 2017 Diperbaharui 22 June 2017

  • Perayaan
    2 November
    3 November (Konggregasi Pasionis)
  •  
  • Lahir
    29 April 1868
  •  
  • Kota asal
    Trebbio, Rimini, Italia
  •  
  • Wafat
    2 November 1889 di San Vito di Romagna, Forlì, Italia
    Karena sakit Tubercolosis
  •  
  • Venerasi
    21 Maret 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Beatifikasi
    17 November 1985 oleh Paus Yohanes Paulus II
  •  
  • Kanonisasi
    -
Beato Pius dari santo Aloysius lahir dalam keluarga petani miskin di Trebbio, Rimini, Italia pada tanggal 29 April, 1868. Dia adalah anak keempat dari pasangan Giuseppe Campidelli dan Filomena Belpani  dan dibabtis dengan nama Luigi Campidelli.
Ayah Luigi terserang typus pada tahun 1874 dan meninggal dunia. Ia meninggalkan keluarganya yang miskin. Seorang pamannya kemudian datang membantu keluarga mereka, tetapi perilaku moral sang paman  yang bejat menjadi  ujian berat untuk keluarga yang saleh ini.
Sejak kecil Luigi telah dikenal sebagai seorang anak yang sangat kudus. Di sekolahnya ia adalah anak yang sangat cerdas dan rendah hati. Di usia remaja ia telah aktif dalam kehidupan paroki dan dengan tegas menyatakan kesetiaannya kepada gereja ketika masyarakat di provinsi asalnya Romagna terbelah akibat perang saudara antara umat Katolik yang setia kepada Gereja dan para atheis sekuler.  
Luigi bertemu dengan seorang imam Pasionis pada usia 12 dan ingin bergabung dengan biara mereka. Mulai saat itu, ia sering berkunjung ke Biara Pasionis di Casale. Ia kemudian masuk biara Pasionis di usia 14 tahun. Luigi terpikat pada Bunda Allah, misteri Ekaristi dan Yesus Tersalib. Jalan kekudusannya  adalah kesetiaan kepada hal-hal biasa dengan cinta yang luar biasa.
Ia memulai novisiat dan mengenakan jubah Pasionis pada tanggal 27 Mei 1883 dan menerima nama biara Pius dari Santo Aloysius.  Para novisiat ini untuk sementara dipindahkan ke kota Viterbo, kota kelahiran santa Rosa dan Beato Dominukus Barberi (seorang  biarawan Pasionis).  Pius melanjutkan studi teologi dan filosofi dan pada April 30, 1884 mengikrarkan kaul kekal.
Ia menerima tahbisan rendah tetapi terserang tuberculosis sebelum ia ditahbiskan menjadi imam. Dia meninggal pada usia 21 tahun pada 2 November 1889. Ia mempersembahkan dan membaktikan hidupnya untuk daerahnya Romagna yang mengalami masalah ‘perang’ saudara.
Pius dari Santo Aloysius dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus pada November 17, 1985. Konggregasi Pasionis merayakan liturgi untuk memperingatinya pada 3 November.

Percikan Nas Sabtu, 02 November 2019

PENGENANGAN ARWAH
SEMUA ORANG BERIMAN
warna liturgi Ungu/Hitam

Bacaan-bacaan:
2Mak. 12:43-46; Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,8; 1Kor. 15:12-34; Yoh. 6:37-40.
BcO Yer. 29:1-14.

Bacaan Injil:
37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Memetik Inspirasi:
Hari ini adalah hari peringatan arwah orang beriman. Hari ini disediakan secara khusus oleh Gereja untuk mendoakan saudara-saudari kita yang telah menghadap Tuhan. Kita berharap Tuhan memberikan kemurahan hati-Nya untuk mengampuni mereka sehingga layak bersatu dalam persekutuan para kudus-Nya.
Namun kiranya kasih Tuhan kepada umat-Nya tak terbatas. Ia pun mengutus Putera-Nya untuk membawa semua orang dalam kesatuan dengan-Nya. Ia tidak ingin satu pun dari anak-anak-Nya hilang. “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh 6:39).
Doa yang kita lambungkan untuk mereka yang sudah meninggal mengetuk hati Tuhan. Selain itu doa yang kita lambungkan itu pun menggembirakan mereka yang kita doakan. Kala kita doakan mereka pun akan menyatu dengan doa kita dan sangat berterima kasih. Maka jangan berlambat untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal.

Refleksi:
Apakah anda sudah mendoakan saudaramu yang telah meninggal?

Doa:
Tuhan anugerahkanlah kemurahan-Mu kepada saudara-saudari kami yang sudah Kaupanggil menghadap-Mu. Ampunilah dosa-dosanya. Satukanlah mereka dalam persekutuan para kudus-Mu. Amin.

Mendoakan yang sudah meninggal
MoGoeng
Wates

Friday, November 1, 2019

Minggu Biasa XXX/C tgl. 3 Nov 2019 (Luk 19:1-10)

diambil dari https://unio-indonesia.org/2019/10/30; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


KOK  KE SITU!
Rekan-rekan pemerhati kisah Zakheus!
Peristiwa yang dikisahkan dalam Luk 19:1-10 dan dibacakan pada hari Minggu Biasa XXI tahun C ini tidak asing lagi bagi kita. Dalam perjalanannya menuju ke Yerusalem, Yesus singgah di Yerikho dan menumpang di rumah kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus. Kejadian ini membuat orang banyak kurang senang. Mereka menggerutu (ayat 7), “Ia menumpang di rumah orang berdosa!” Namun Yesus berkata (ayat 9-10), “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia (= dirinya) datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Apa maksudnya? Dan apa tujuan Lukas menceritakan peristiwa ini?
YANG KEHILANGAN ARAH
Ungkapan “yang hilang” (ayat 10) itu maknanya “yang kehilangan arah dan mengalami bahaya maut”. Yesus menerapkan gagasan itu kepada Zakheus. Memang di mata orang banyak ia “kehilangan arah” dan sudah tak tertolong lagi. Bayangkan, seorang Yahudi yang bekerja memungut cukai dari bangsa sendiri bagi penguasa asing. Pekerjaan ini dianggap kotor. Memang tak sedikit dari mereka yang menjadi kaya dengan memeras orang lain. Zakheus bukan hanya seorang pemungut cukai, ia kepala pemungut cukai. Lukas juga menyebutnya sebagai orang kaya. Pembaca Injil ini dapat membayangkan bagaimana anggapan orang banyak mengenai Zakheus ini. Ia pendosa besar. Ia sudah terhukum di mata banyak orang.
Namun Lukas juga menyiapkan pembacanya agar mengerti apa yang sedang terjadi pada Zakheus. Dalam Luk 15:1-7 dicatatnya perumpamaan domba yang sesat. Dari tiga ayat pertama jelas bahwa perumpamaan itu disampaikan Yesus untuk menanggapi gerutuan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang melihatnya bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya. Kelompok yang dijauhi oleh orang-orang yang merasa diri saleh ini diumpamakan sebagai seekor domba yang tersesat – tak menemukan jalan yang ditempuh ke-99 ekor lainnya. Namun pemilik kawanan domba tadi merasa kepunyaannya tidak lagi utuh – tidak lagi bulat seratus – bila satu saja hilang. Maka ia pergi mencarinya sampai ketemu. Dan ia lega ketika menemukannya kembali. Ia bahkan mengajak handai taulannya ikut bersukacita. Kata yang dipakai untuk menyebut domba yang hilang dalam Luk 15:4 itu – “to apoloolos” – sama dengan yang digunakan untuk mengibaratkan Zakheus dalam Luk 19:10.
AJAKAN BERNALAR
Perumpamaan mengenai domba yang sesat itu menggambarkan kesungguhan Tuhan untuk membuat kawanannya utuh kembali. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang merasa diri saleh dan tahu kehendak Tuhan diminta agar berusaha melihat apa yang sungguh dilakukan Tuhan kepada manusia dan tidak hanya puas dengan praktek kesalehan dan rumusan doktrin mereka sendiri. Kini dalam kisah Zakheus, bukan hanya mereka yang dihimbau, melainkan juga orang banyak, termasuk orang-orang yang mengagumi Yesus dan mengiringkannya dari tempat ke tempat. Mereka ini mudah berubah sikap bila melihat tokoh yang mereka kagumi itu tidak menepati bayangan mereka! Tetapi Yesus tetap mengajak mereka berpikir. Zakheus ini ialah domba yang kehilangan arah – tidakkah kalian iba? Tidakkah kalian ingin agar kawanan menjadi utuh kembali, tanpa meninggalkan seorangpun mencari-cari arah dan menghadapi bahaya? Apakah kalian tidak ingin ikut bergembira dengan pemilik kawanan tadi, dengan perempuan yang menemukan dirham yang terselip (Luk 15:8-10), dengan sang ayah yang mendapati anaknya yang hilang yang kini telah kembali (Luk 15:11-32)?
PUTAR HALUAN?
Zakheus bergembira karena rumahnya didatangi Yesus. Tentu ia juga sadar bahwa dengan tindakannya ini Yesus mempertaruhkan gambaran tentang dirinya sendiri di hadapan banyak orang. Tapi Zakheus juga percaya bahwa public figure yang satu ini tidak membiarkan diri ditentukan oleh pandangan umum. Dari manakah integritas yang seperti itu? Pasti Zakheus bertanya-tanya dalam hati demikian. Ia tahu ada kekuatan yang mendampingi Yesus. Dengan mendatanginya, Yesus berbagi kekuatan dengannya. Ia sendiri kini juga mendapatkan kekuatan tadi. Zakheus kini berani “putar haluan”. Ia mau berbagi milik dengan orang miskin dan siap mengembalikan hasil pungutan liar empat kali lipat. Ini bukan hanya antusiasme sesaat belaka. Kesediaannya berbagi harta dan mengembalikan pungutan tak sah itu menjadi usahanya yang nyata untuk menelusuri kembali arah yang bakal membawanya pulang ke jalan yang benar.
Apakah peristiwa di Yerikho itu dimaksud sebagai imbauan bagi pembaca agar berputar haluan seperti Zakheus? Boleh jadi kita cenderung cepat-cepat menafsirkannya demikian. Tapi bila kita tempuh arah itu, warta petikan ini akan mudah terasa hambar karena tampil sebagai cerita contoh kelakuan baik belaka. Kita malah akan ikut-ikutan menggarisbawahi sikap orang banyak yang mengadili Zakheus dan akhirnya juga mengadili Yesus sendiri. Maklum, bagi orang-orang itu, satu-satunya jalan bagi Zakheus agar bisa menjadi lurus kembali ialah “bertobat”. Dan satu-satunya cara bagi Yesus untuk naik kembali dalam skala moral mereka ialah hanya bergaul dengan orang yang sudah bertobat, bukan pendosa lagi. Namun Injil mengajak kita melihat ke arah lain. Yang diharapkan putar haluan dan bertobat justru orang banyak tadi. Dapatkah mereka melihat apa yang sedang terjadi kini? Utusan Tuhan yang sedang berjalan ke Yerusalem singgah menumpang di rumah orang yang tak masuk hitungan mereka. Maukah mereka berusaha menangkap isyarat ilahi ini? Bagaimana bila kita juga termasuk orang banyak itu?
Kata-kata Yesus pada akhir petikan ini (ayat 10) mendorong agar orang berani memikirkan pandangan mereka mengenai siapa dia itu dan apa yang dilakukannya. Ia itu Anak Manusia, salah satu dari kemanusiaan yang diutus untuk mencari sampai ketemu dia yang kehilangan arah dan meluputkannya dari bahaya maut. Ia diutus untuk melepaskan orang dari ikatan-ikatan yang menyesatkan, kedatangannya bukan untuk dielu-elukan belaka.
MENYELAMATKAN “SEISI RUMAH”
Dikatakan penyelamatan terjadi “pada seisi rumah ini” (ayat 9). Ungkapan ini luas cakupannya. Yang dimaksud ialah siapa saja dan apa saja yang ada di situ: Zakheus, harta miliknya, dan….orang banyak juga! Yang terjadi pada Zakheus sudah jelas. Kini giliran harta miliknya diselamatkan karena mendapat arti yang baru. Kekayaan yang tadi menyendirikannya kini dapat membuatnya mendapat banyak rekan. Harta mati itu kini menghidupkan!
Juga orang-orang yang tadi tidak puas melihat Yesus kini mau tak mau akan mulai memikirkan kembali kembali perangkat ukuran kesalehan mereka. Penyelamatan pun terjadi pada mereka. Entah diterima atau tidak adalah tanggung jawab orang-perorangan. Itulah yang terjadi pada hari itu. Orang kini mau tak mau harus keluar dari persembunyian di balik pendapat umum, tidak lagi bisa jadi “orang banyak”.
Dalam teks aslinya, dipakai kata “sooteeria”, yang lebih baik diungkapkan kembali sebagai “penyelamatan”, dan bukan “keselamatan” karena yang ditekankan ialah kegiatan menyelamatkan bukan melulu hasilnya, yakni “keselamatan”. Ini lebih dari sekadar latihan tatabahasa atau perkara terjemahan belaka. Bila dipakai kata “keselamatan”, akan sulit dimengerti keselamatan terjadi pada orang banyak yang kurang suka menerima kelakuan Yesus tadi. Belum tentu mereka menerima keselamatan. Tetapi bila yang tampil itu gagasan “penyelamatan”, maka akan lebih terang maksudnya. Yesus berusaha menyelamatkan orang banyak tadi dari anggapan-anggapan mereka sendiri mengenai kaum pendosa dan mengenai Tuhan. Mereka menerima atau tidak adalah soal lain.
ABRAHAM, BAPAK SEMUA ORANG BERIMAN
Zakheus diselamatkan karena ia pun anak Abraham. Tak sukar memahami maksud Yesus. Ia mengajak orang-orang yang merasa diri pewaris iman Abraham agar juga mau berlaku seperti Abraham sendiri, yakni mau membiarkan Tuhan leluasa menuntun orang di jalan-Nya dan tidak menghalang-halangi-Nya dengan gagasan-gagasan mereka sendiri mengenai apa yang harus dikerjakan-Nya atau apa yang tak sepantasnya diperbuat-Nya.
Dapatkah Warta Gembira hari ini dibawa ke zaman kita? Abraham, yang juga diucapkan sebagai Ibrahim itu, adalah bapak iman dalam tiga agama yang mengakui keesaan Tuhan. Dia yang Mahaesa itu memperkenalkan diri dengan macam-macam cara kepada keturunan orang yang dikasihi-Nya itu. Boleh jadi lebih tepat dikatakan, Ia membiarkan diri dikenal dengan pelbagai cara untuk memperkaya manusia-manusia yang menghayati iman Abraham/Ibrahim. Kebesaran-Nya tak bakal selesai diwartakan dan tak bakal tuntas diajarkan.
Tiap anak Abraham atau Ibrahim berhak mendapatkan yang diinginkan Yang Mahakuasa sendiri. Bagaimana dengan kenyataan yang kita lihat? Ada keretakan, bahkan ada saling kebencian. Ironi. Namun tak perlu sisi suram kemanusiaan ini membuat orang mencari-cari wajah Tuhan yang mangkir. Dia masih ada dan masih sama, kerahiman-Nya masih ditawarkan bagi semua orang. Dan syukurlah masih ada orang yang percaya akan hal ini. Dan kekuatan iman mereka ini membuat wajah Tuhan makin terlihat. Pemeluk iman yang dipercontohkan Abraham-Ibrahim dapat membuat wajah-Nya makin tampak
Salam hangat
A. Gianto

Lamunan Hari Raya

Peringatan Mulia Semua Arwah Orang Beriman
Sabtu, 2 November 2019

Yohanes 6:51-58

6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Butir-butir Permenunga
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa makan minum adalah amat penting untuk hidup. Itu adalah kebutuhan paling dasar bagi manusia.
  • Tampaknya, karena begitu strategisnya kebutuhan makan minum, orang dapat membuatnya menjadi olahan yang amat menarik. Makan minum pun menjadi salah satu tujuan wisata, yaitu wisata kuliner.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu terpenuhi makan minum sesuai dengan selera, orang belum tentu menikmati makan minum sejati yang menghadirkan kehidupan menyeluruh fana dan pasca fana kalau yang disantap tidak menjadi ungkapan kehendak relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati makan minum sebagai tanda dan sarana hubungan mesra dengan Tuhan dan keterbukaan pada situasi kongkret kemanusiaan diri dan sesama.
Ah, makan minum yang baik itu ya yang sesuai dengan selera.

Beata Sibilina Biscossi

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3083 Diterbitkan: 10 May 2017 Diperbaharui: 10 May 2017

  • Perayaan
    19 March
    1 November

    20 Maret (di kota Pavia, Italia)
  •  
  • Lahir
    Tahun 1287
  •  
  • Kota asal
    Pavia, Lombardy, Italia
  •  
  • Wafat
    19 Maret 1367 di Pavia, Italia - Sebab Alamiah
    Tubuhnya ditemukan tetap utuh pada tahun 1854.
  •  
  • Venerasi
    Tahun 1853 oleh paus Pius IX (cultus confirmed)
  •  
  • Beatifikasi
    Tanggal 17 Agustus 1854 oleh paus Pius IX
  •  
  • Kanonisasi
    -

Beata Siblina Biscossi menjadi yatim piatu saat masih kanak-kanak. Ia tidak bersekolah dan telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga sejak berusia 10 tahun. Pada usia 12 tahun ia menjadi buta dan tidak bisa bekerja lagi. Ia lalu diadopsi oleh sebuah komunitas kecil biarawati Dominikan di Pavia, Italia.
Dalam biara Sibyllina mulai mengembangkan devosi kepada Santo Dominikus dan mengharapkan penyembuhan melalui perantaraannya. Ketika penglihatannya tidak kunjung membaik, Siblina mulai berpasrah diri dan tulus menerima kebutaannya. Kepasrahan dan ketulusan akan kebutaan mata fisiknya justru membuka mata rohaninya. Ia mulai menerima penglihatan dari Santo Dominikus yang memintanya untuk menjadi seorang biarawati Dominikan. Dan iapun menjadi seorang suster dalam usia yang masih sangat muda.
Pada usia 15 tahun suster Sibilina menjadi seorang SEKLUSE (pertapa yang tinggal dalam sebuah sel pertapaan yang dikunci selamanya) dan menghabiskan sepanjang waktunya dalam doa dan meditasi. Dalam keheningan sel pertapaannya, suster Sibiliana kerap menerima penampakkan dari Santo Dominikius dan para kudus lainnya. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta nasehat dan doa penyembuhan. Kata-kata sederhana dari biarawati Dominikan yang buta mata dan buta huruf ini, selalu menyejukkan hati setiap mereka yang mendengarnya. Doa-doanya polos dan sederhana, namun penuh dengan Kuasa Ilahi yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dalam waktu singkat, tempat pertapaannya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat kota Pavia dan seluruh wilayah Italia. Setiap hari ratusan orang akan mengantri didepan jendela sel pertapaannya.
Santa Sibiliana dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam Sakramen Ekaristi. Suatu ketika seorang imam melewati pertapaannya dalam perjalanan untuk memberi sakramen Ekaristi dan pengurapan orang sakit. Suster Sibilina memanggilnya dan mengatakan bahwa hosti yang dibawanya belum di konsekrasi. Sang imam memeriksa dan menemukan bahwa dia telah membawa hosti dari wadah yang salah.
Suster Sibiliana tutup usia dengan tenang dalam sel pertapannya pada tanggal 19 Maret 1367. Ia dimakamkan di Gereja biara Dominikan di Pavia Italia. Dalam proses beatifikasinya di tahun 1854, makamnya dibuka dan jasadnya ditemukan tetap utuh.