Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, November 4, 2019

Santo Zakharia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 6407 Diterbitkan: 27 October 2014 Diperbaharui: 13 Maret 2017

  • Perayaan
    5 November
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Yerusalem
  •  
  • Wafat
    Menurut tradisi wafat saat pembantaian anak-anak di Betlehem karena menyembunyikan anaknya; Santo Yohanes Pembabtis
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation
Zakharia adalah seorang imam yang bertugas di Bait Allah. Ia berasal dari golongan Abia dan aktif bertugas pada masa pemerintahan Raja Herodes Agung di Yudea. Ia dan istrinya, Santa Elisabet, merupakan keturunan Imam Harun dari suku Lewi. Elisabet masih merupakan kerabat dari santa Maria, ibu Yesus Kristus.
Dalam Injilnya Santo Lukas melukiskan bahwa Imam Zakharia dan Elisabet hidup dengan ketaatan penuh kepada Allah, tetapi mereka tidak memiliki anak sebab Elizabeth mandul dan mereka berdua telah berusia lanjut. Suatu hari saat sedang bertugas di Bait Allah, malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia.
Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. (Luk 1 : 11 – 18)
Namun, walaupun Tuhan sudah mengutus seorang malaikat untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya, Zakharia masih juga ragu-ragu dan kurang percaya;
... kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya. (Luk 1:18)
Dan atas keraguan dan kekurang-percayaannya, Zakharia memperoleh sebuah hukuman.
Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." (Luk 1:19 – 20)
Zakharia pun menjadi bisu, dan baru bisa berbicara kembali setelah anaknya itu lahir. Kitab suci menulis bahwa ketika itu Zakharia menjadi penuh dengan Roh Kudus, dan sambil memuji dan memuliakan Tuhan, ia bernubuat tentang masa depan anaknya Yohanes.
"Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus …..
Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka….   (Luk 1:68-70, 1:76-77)
Setelah kelahiran Yohanes Pembabtis, Injil cuma menyebutkan nama Zakharia sebanyak tiga kali. Yaitu pada Injil Lukas 3:2 tentang permulaan karya Yohanes Pembabtis, serta pada Matius 23:35 dan Lukas 11:51 saat Yesus mengecam para ahli taurat dan orang-orang Farisi. Menurut Origenes (seorang Teolog Kristen pada abad ketiga yang sangat berpengaruh), nama Zakharia yang disebut Yesus dalam Matius 23:35 dan Lukas 11:51 adalah Zakharia ayah Yohanes pembabtis, namun sebagian ahli kitab suci meragukannya.
Tradisi Gereja Orthodox mengatakan bahwa, pada saat pembantaian anak-anak di Betlehem, Zakharia menolak untuk memberitahukan keberadaan Yohanes kecil (yang sedang bersembunyi), oleh karena itu ia dibunuh oleh tentara Herodes. Kisah ini juga dicatat dalam sebuah injil apokrif dari abad ke-2 yang disebut Injil Yakobus.
Pada tahun 2003, ditemukan sebuah prasasti di Yad Avshalom Yerusalem. Tulisan pada prasasti yang berasal dari abad pertama di Yerusalem, ditafsirkan sebagai : "Ini adalah makam Zakaria, martir, imam yang kudus, ayah dari Yohanes." Hal ini meyakinkan para pakar bahwa ini adalah tempat pemakaman Zakharia ayah dari Yohanes Pembaptis.

Lamunan Pekan Biasa XXXI

Selasa, 5 November 2019

Lukas 14:15-24

14:15. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
14:16 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.
14:17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
14:18 Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.
14:19 Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
14:20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
14:21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
14:22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.
14:23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
14:24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, kaum agamawan adalah golongan yang secara nyata menyatakan diri menjadi golongan ber-Tuhan. Keadaan apapun dalam hidupnya selalu dikaitkan dengan Tuhan.
  • Tampaknya, kaum agamawan adalah golongan yang hidup dalam tatanan untuk selalu mengingat Tuhan. Mereka adalah golongan yang amat tertib menjalani berbagai macam ibadat dan doa serta mengkaji tentang ketuhanan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat tertib menjalani tata keagamaan dan fasih menjelaskan tentang Tuhan termasuk kenikmatan bersama-Nya, kalau hidup keagamaannya hanya menjadi praktek lahiriah tak membuat bersahat dengan nurani, orang agama dapat jauh dari kenikmatan ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati hidup keagamaan sebagai tanda dan sarana mengembangkan kemesraan hubungan dengan Tuhan dan ketebukaan dengan siapapun.
Ah, asal beragama ya jelas dekat dengan Tuhan.

Percikan Nas Senin, 04 November 2019

Peringatan wajib
St. Karolus Borromeus
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Rm. 11:29-36; Mzm. 69:30-31,33-34,36-37; Luk. 14:12-14;
BcO Yer. 37:21; 38:14-28.

Bacaan Injil:
12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Memetik Inspirasi: 
Ketika akan mengadakan hajatan orang akan duduk mendata siapa yang akan diundang. Biasanya kriterianya adalah kedekatan keluarga dan relasi, mereka yang dihormati, tetangga dst. Kadang harus sungguh memilih siapa yang diundang. Semakin sedikit undangan yang disebar semakin rumit untuk menentukan pilihan.
Yesus memberi kriteria siapa yang mesti diundang kala mau mengadakan perjamuan. Kita tidak mengundang mereka yang bisa membalas. Kita perlu mengundang mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka tidak akan membalas kita.
Kiranya Tuhan mengajak kita untuk lepas bebas. Bila kita mengundang orang adalah orang yang sungguh-sungguh mengutamakan yang tak terbiasa terundang. Merekalah yang layak mendapatkan berkat dari perjamuan yang kita buat. Kiranya ini layak menjadi permenungan kita: mencukupi yang berkekurangan.

Refleksi: 
Apakah anda peduli pada mereka yang berkekurangan?

Doa:
Tuhan semoga kami mempunyai hati pada mereka yang berkekurangan. Semoga mereka pun yang menjadi prioritas kami kala kami mengadakan perjamuan. Amin.

Prioritas undangan
MoGoeng
Wates

Sunday, November 3, 2019

Santo Karolus Borromeus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 5726 Diterbitkan: 08 August 2013 Diperbaharui:18 May 2015

  • Perayaan
    04 November
  •  
  • Lahir
    02 Oktober 1538
  •  
  • Kota asal
    Aron Novara, Italia
  •  
  • Wafat
    03 November 1584 di Milan, Italia | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1602 oleh Paus Klemens VIII
  •  
  • Kanonisasi
    01 November 1610 oleh Paus Paulus V
Karolus Borromeus (Italia: Carlo Borromeo) adalah seorang Kardinal dan Uskup Agung Milan pada 1564-1584. Dia adalah salah satu dari para reformis besar Gereja pada masa kekacauan di abad keenam belas.  Karolus Borromeus, bersama St. Ignatius Loyola, St. Filipus Neri, dan lain-lain, memimpin gerakan untuk membendung pengaruh  Reformasi Protestan. Dia adalah seorang tokoh terkemuka selama Kontra-Reformasi berlangsung dan ia bertanggung jawab untuk Reformasi internal Gereja yang signifikan dalam tubuh Gereja Katolik, termasuk pendirian seminari-seminari untuk meningkatkan mutu pendidikan para imam. 
Karolus lahir pada tanggal 2 Oktober 1538  dalam sebuah Kastil megah di Aron Novara, Italia. Ayahnya adalah Gilberto Borromeo, Count of Arona dan  ibunya bernama Margherita de' Medici. Sama seperti para pemuda ningrat Italia  lainnya, ia hidup serba berkecukupan. Tetapi, tidak seperti kebanyakan dari mereka, ia tidak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang mengundang dosa seperti pesta-pora yang sering dilangsungkan di Kastil para bangsawan pada masa itu.
Sejak kecil Carolus sudah bercita-cita untuk menjadi seorang biarawan. Karena itu pada usia yang sangat muda ia sudah masuk seminari. Di sekolah; awalnya Karolus terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi ketekunannya membuat ia memperoleh kemajuan yang menggembirakan.
Masa itu adalah masa yang amat kelam dalam Sejarah Gereja. Hidup keagamaan umat amat memprihatinkan. Banyak anak tidak mengenal Tuhan, bahkan mulai berdoa dengan membuat tanda salib saja tidak bisa. Gereja-gereja sepi dari kunjungan umat, bahkan ada gereja yang diubah menjadi toko atau bangsal pesta.  Kehidupan iman umat kristiani sudah sangat merosot. Berbagai perpecahan dalam tubuh Gereja semakin kuat. Gereja dihadapkan pada Reformasi Protestan. Gelombang protes terhadap kebijakan-kebijakan Gereja berkecamuk deras.
Carolus muda yang saat itu usianya baru dua puluh dua tahun dipanggil pamannya, Paus Pius IV, ke Roma dan diminta untuk melaksanakan banyak tugas penting. Pada tanggal 31 Januari 1560 Carolus  diangkat menjadi kardinal dan pada 7 Februari tahun yang sama ia ditunjuk menjadi Administrator Keuskupan Milan. Ia baru ditahbiskan menjadi diakon pada 21 Desember 1560, dan ditahbiskan imam 4 September 1563, dan ditahbiskan menjadi uskup pada 7 Desember 1563. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan dan menjadi anggota  Kuria Romana. Tugas utamanya adalah mengurus permasalahan Gereja yang paling penting.
Paus meminta Santo Carolus untuk mempersiapkan Konsili Trente dan sekaligus menjadi wakil  dari Tahta Suci pada saat konsili itu berlangsung. Carolus berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik.  Setelah Konsili Trente, Carolus menjadi tokoh yang sangat getol dalam usaha mengaplikasikan keputusan-keputusan konsili tersebut ke dalam kehidupan umat. Ia bahkan mengajukan surat pengunduran diri kepada paus agar ia dibebaskan dari tugasnya di Kuria Roma agar ia bisa lebih memiliki waktu untuk memperbaharui kehidupan iman umat di keuskupannya, Milano.
Di Milan;  Kardinal Carolus menjadi suri teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar uang kepada kaum miskin. Ia sendiri hanya memiliki sehelai jubah lusuh berwarna hitam. Tetapi, di hadapan umum, ia berpakaian seperti layaknya seorang kardinal. Ia ambil bagian dalam upacara-upacara Gereja dengan penuh hormat dan wibawa.
Dalam melaksanakan tugas pengembalaannya yang penuh kesibukan, Kardinal Carolus  senantiasa cemas kalau-kalau ia bisa semakin jauh dari Tuhan karena banyaknya godaan di sekelilingnya. Oleh sebab itulah, setiap memiliki waktu luang ia selalu berlatih menyangkal diri terhadap segala kesenangan dan senantiasa berusaha untuk rendah hati serta sabar. 
Penduduk kota Milan awalnya mempunyai banyak kebiasaan buruk dan percaya pada banyak takhayul. Namun dengan peraturan-peraturan yang bijaksana, dan dengan kelemah lembutan serta kasih sayang, dan dengan teladan hidupnya sendiri yang mengagumkan, St. Karolus menjadikan keuskupannya teladan bagi Reformasi Gereja seluruhnya. Sungguh mengagumkan mengingat Ia adalah seorang yang gagap dan tidak pernah dapat berbicara dengan lancar. Umat hampir-hampir tidak dapat mendengarkannya;  namun demikian setiap kata-kata yang diucapkannya sangat berwibawa dan membawa pengaruh yang sangat besar bagi setiap mereka yang mendengarnya.
Ketika suatu wabah ganas menyerang dan mengakibatkan banyak kematian di Milan, Kardinal Borromeus tidak memikirkan hal lain kecuali merawat umatnya. Ia berdoa dan bermatiraga dengan keras. Ia membentuk kelompok-kelompok umat yang membantunya membagikan makanan bagi mereka yang kelaparan. Ia bahkan mendirikan altar di jalan-jalan agar orang-orang yang sakit dan sekarat itu  dapat ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi lewat jendela rumah mereka.
Orang suci ini tidak pernah terlalu sibuk untuk menolong rakyat sederhana. Suatu ketika ia menghabiskan waktunya untuk menemani seorang bocah penggembala hingga bocah tersebut dapat berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Menjelang ajalnya, pada usia empat puluh enam tahun, St. Karolus dengan tenang dan damai berkata, “Lihat, aku datang!”. Dan ia pun  wafat pada tanggal 03 November 1584 dan dinyatakan kudus oleh Paus Paulus V pada tahun 1610.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Karolus Boromeus
Senin, 4 November 2019

Lukas 14:12-14

14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang mengadakan pesta karena mengalami kegembiraan. Dia mengalami hal yang memberi kenikmatan seperti lulus ujian, sembuh dari penyakit, pergi dan pulang dari tempat jauh dengan selamat.
  • Tampaknya, sebagai orang beragama hal itu dapat disebut mengalami rahmat dan pelindungan dari Tuhan. Kalau mengundang orang-orang dalam pesta, hal ini berarti orang-orang itu diminta untuk mendukung kegembiraannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki banyak saudara dan relasi, ketika mengalami kegembiraan khusus dan kemudian mengadakan pesta, sejatinya itu adalah saat khusus orang menjalani panggilan hidup untuk menggembirakan kaum papa dan terlantar. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati makin senang dan bahagia seseorang makin terpanggillah dia untuk menyenangkan dan membahagiakan kaum kecil.
Ah, yang namanya pesta itu yang senang-senang dan menyenangkan diri.

Percikan Nas Minggu, 03 November 2019

Hari Minggu Biasa XXXI
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Keb. 11:22-12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11-2:2; Luk. 19:1-10.
BcO 2Raj. 24:20b-25:13,18-21.

Bacaan Injil: 
1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." 8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." 9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Memetik Inspirasi:
Setiap hari kita menerima berkat dari Tuhan. Dari bangun pagi kita mendapat berkat kehidupan. Sepanjang hari kita mendapat kesempatan untuk hidup dan beraktivitas. Setiap hari kita bisa makan. Pada masa-masa tertentu ada berkat yang luar biasa besar dan membuat kita sujud bersyukur.
Zakheus yang ingin melihat Yesus mendapatkan berkat yang melebihi harapannya. Yesus pun menyapanya bahkan berkenan mampir ke rumahnya. Mendapat hal tersebut Zakheus pun bernadar, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19:8). Nadar Zakheus menggembirakan hati Yesus. Ia pun memberikan berkat yang lebih banyak, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham” (Luk 19:9).
Syukur atas berkat melimpahkan berkat yang  diterima. Zakheus yang bersyukur mendapat berkat lebih. Kiranya kita pun layak untuk selalu mensyukuri berkat yang kita terima. Semakin bisa bersyukur semakin banyak berkat Tuhan dicurahkan dalam hidup kita. Hindarilah sikap mengeluh. Keluhan hanya akan menghambat berkat tercurah.

Refleksi: 
Sudahkah anda bersyukur hari ini?

Doa:
Pujian dan syukur kami haturkan kepadamu ya Tuhan. Engkau telah melimpahkan berkat-Mu dalam hidup kami. Hanya pujian syukur yang bisa kuhaturkan kepadamu. Amin.

Mensyukuri Berkat
MoGoeng
Wates

Seperti Dulu


“Kanyata rama taksih kados tigang dasa wulu taun kapengker, nggih?” (Ternyata rama masih seperti 38 tahun yang lalu, ya?) demikian kalimat terakhir yang dikatakan oleh seorang pengacara mengomentari sambutan yang baru saja saya sampaikan. Itu terjadi pada Rabu malam 30 Oktober 2019 di Lingkungan Manjung, Paroki Maria Assumpta Klaten. Pada waktu itu saya ikut menghadiri misa yang dipimpin oleh Rm. Ipung, seorang pastor dari Paroki Gondang. Ini adalah Misa Peringatan 1 Tahun Bapak Paidi, ayah Bapak Rabimin yang biasa menjadi peserta program Novena Domus Pacis. Di tengah-tengah acara istirahat, ketika para hadirin menikmati sajian konsumsi, saya diminta memberikan sambutan sesudah sambutan dari seorang tokoh masyarakat yang bertindak sebagai wakil keluarga.

Pada Mulanya Terasa Biasa

Terhadap komentar bahwa saya masih seperti 38 tahun yang lalu, saya hanya tersenyum. Itu adalah macam komentar yang kerap saya dengar muncul dari orang yang sudah kenal saya dan lama tidak berjumpa. Saya memang pernah menjadi pastor Klaten pada tahun 1981-1982. Bahwa saya “masih seperti dulu” mudah saya dengar dari beberapa kalangan yang pernah mengalami kebersamaan kegiatan dengan saya. Yang bisa saya tunjuk adalah mantan anggota kor kanak-kanak Kalasan (1978-1980), muda-mudi Kring Ambarrukmo (1974), umat Paroki Salam (1983-1988), umat Paroki Ignatius Magelang (1990-1998), umat Paroki Muntilan (1990-2010), dan para relawan-relawati penggerak anak dan remaja (1994-2010).

Sejauh saya tangkap, komentar “masih seperti dulu” terjadi ketika mereka melihat penampilan saya. Itu dapat merupakan tampilan saya dalam berbicara di hadapan umum. Tetapi tampilan itu juga terjadi ketika berjumpa baik ketika mereka bertamu di Domus Pacis Puren maupun kala ada even tertentu seperti melayat. Komentar “masih seperti dulu” sering juga terungkap dalam kata-kata “rama tidak berubah”.

Padahal Sudah Amat Berubah

Tiba-tiba komentar yang muncul di Manjung pada Rabu malam 30 Oktober 2019 menyeruak renungan pagi saya pada Kamis 31 Oktober 2019. Bayangan-bayangan orang-orang yang memberi komentar senada juga menggerayangi rasa hati. Kemudian bergema pertanyaan “Benarkah aku masih seperti dulu?” Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Yang tampak dalam layar benak saya adalah seorang Bambang calon imam yang berjalan sana-sini masuk dalam kelompok-kelompok suara ketika ada latihan Kor Kanak-kanak Kalasan. Tampak juga seorang pemuda bersepeda mendatangi rumah-rumah penggerak Kring Ambarrukmo. Bahkan tampilan Rm. Bambang yang meloncat-loncat ketika melatih para penggerak anak dan remaja juga terlihat jelas. Itulah Rm.Bambang nun di masa dulu. Biar pincang tetapi lincah. Bahkan ketika berada di Manila, Filipina, selama dua tahun (1998-1990) dia biasa berjalan kaki ke tempat-tempat berjarak jauh. Sepeda biasa dan sepeda motor bukan barang sulit utuk dikendarai. Mobil manual bukan matic pun disopiri ketika berkelana antar paroki, antar keuskupan, bahkan antar pulau.

Tetapi kini? Hal-hal yang di atas sudah jauh dari realitas saya. Kaki sudah tidak dapat menopang untuk berjalan. Memang, kadang-kadang kalau terpaksa saya dapat berjalan tetapi dengan bantuan krug (tongkat penyangga). Tetapi sejak jatuh dua kali dan harus operasi dan opname, kini saya lebih diwarnai oleh mobilitas dengan kursi roda. Sepeda genjot langsung sudah di luar kemampuan. Badan sudah jauh lebih gembrot dibandingkan ketika dulu masih aktif. Kacamata sudah menebal dengan silinder. Bahkan mata kanan sudah tidak dapat diandalkan untuk melihat. Hal lain yang tampak jelas adalah rambut yang sudah didominasi dengan warna putih. Itu baru hal-hal yang tampak. Belum lagi kalau dilihat dari realitas penyakit yang ngendon dalam tubuh. Penyakit-penyakit ini telah mengubah kebiasaan menu makan saya. Nasi goreng, bakmi, dan gudeg yang dulu menjadi warna utama, kini diganti dengan sayuran dan buah yang dulu jauh dari selera saya.

Mengapa Saya “Seperti Dulu”?

Bagi orang yang sudah masuk ke dalam golongan kaum tua bahkan lanjut usia menjaga tampilan agar tampak “masih seperti dulu” barangkali memang banyak menjadi kerinduan. Di kalangan kaum perempuan tua dan lansia banyak yang menggunakan alat-alat kosmetik khusus untuk menyembunyikan tanda-tanda ketuaan dan kelansiaan. Menyemir rambut menjadi hal yang jamak terjadi tidak hanya di antara kaum perempuan. Laki-laki tua dan lansia juga tidak sedikit yang tampil dengan rambut mudanya sebagai hasil penyemiran. Pada pokoknya upaya menggarap tubuh dan organ-organnya agar tampak “masih seperti dulu” menjadi hal yang melanda banyak kaum tua dan lansia agar tak hanya tampak masih muda tetapi juga bisa tampil bersaing dengan kaum muda. Barangkali kebanggaan rambut putih sebagai tanda kebijaksanaan sudah tidak masuk paradigma kehidupan orang jaman now.

Mengingat saya ikhlas-ikhlas saja dengan kondisi saya dengan tiga bulan lagi berumur 69 tahun, saya terdorong untuk berpikir apa yang membuat saya mendapatkan kesan “masih seperti dulu” dari pada umumnya yang dulu pernah bergaul dan mengenal. Saya kemudian teringat kata orang-orang yang sempat memberikan penjelasan mengapa saya “masih seperti dulu”. Secara spontan saya kerap mengucapkan kata-kata “Kalau kamu bilang aku masih seperti dulu, itu artinya kamu katarak”. Mendengarkata-kata itu mereka malah tertawa terbahak-bahak. Saya kemudian bilang “Sekarang saya sudah expired”.  Kemudian saya menyebut hipertensi, asam urat, kolesterol, trigliserida, dan diabetes sebagai tim penyakit yang numpang di tubuh. Saya juga bicara tentang kursi roda yang menjadi sahabat mobilitas. Mata sudah tidak setajam dulu. Kesulitan menggunakan WC dan kamar mandi yang tidak seperti fasilitas Domus Pacis Puren juga saya ceriterakan. Dan masih ada beberapa untuk memperteguh kondisi tubuh saya yang tidak setegar dulu. Terhadap kata-kata itu, saya kerap menghadapi komentar langsung semacam “Tetapi rama tetap bersemangat seperti dulu” ..... “Tetapi rama tetap segar” ..... “Tetapi lucunya tidak hilang” ..... “Tetapi keceriaannya tidak hilang”.

Dari komentar-komentar semacam itu saya menangkap yang menghadirkan kesan “masih seperti dulu” dalam diri saya amat berkaitan dengan suasana relung hati. Saya memang merasa lebih bahagia dibandingkan dengan ketika masih menjalani dinas. Saya tidak merasa kehilangan kedudukan dengan pensiun dan tinggal di rumah tua. Makin masuk ke usia lanjut tidak membuat saya mengalami rasa sepi terpisah dengan sanak-saudara dan teman-teman yang dulu pernah bersama-sama aktif. Sekalipun 92,00% lebih banyak mengalami kesendirian di dalam kamar, sehingga amat sangat berlawanan dengan kebiasaan pergi sana-sini di kala masih dinas, saya tidak merasa menjadi orang terisolasi. Entah bagaimana, saya lebih bisa secara leluasa omong apapun dengan Tuhan dalam hati. Banyak hal yang masuk dalam pikiran, perasaan, dan keinginan justru menjadi bahan omongan dengan Tuhan dalam hati. Kebetulan saja saya mendapatkan pencerahan dari spiritualitas Santa Theresa dari Kalkuta yang menempatkan keheningan sebagai poros kehidupan beriman. Kebetulan saja saya diwarnai oleh proses kerohanian Jawa NENG (dari kata Jawa meneng yang berarti diam), NING (dari wening yang berarti hening), NUNG (dari dunung yang berarti paham), NANG (dari menang atau wenang yang berarti kemampuan bertindak). Dengan demikian suasana diam dalam kamar memungkinkan saya mengalami keheningan.

Tentu saja berkaitan dengan kesendirian diam dalam kamar yang berkembang menjadi keheningan, hal ini terjadi karena dalam banyak hal saya mengomongkannya dengan Tuhan. Di sini saya sangat diwarnai oleh kata-kata Tuhan Yesus “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:6) Berdoa secara tersembunyi bagi saya adalah omong-omong atau kontak dengan Tuhan dalam hati. Asal terbiasa membawa apapun dalam hati, saya yakin bahwa saya sudah berada dalam bimbingan Roh Kudus, karena pada dasarnya setiap orang adalah “bait Roh Kudus” (1Kor 6:19). Dengan sikap seperti ini saya juga merasa dapat meneladan Bunda Maria yang kalau berhadapan dengan peristiwa “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk 2:19) Dengan suasana hati seperti ini tampaknya saya dapat miliki iklim yang membuat saya berkiblat pada Tuhan dan menghayati Injil atau sukacita ilahi (band Mrk 1:15). Dalam keadaan apapun, enak dan tak enak serta baik dan buruk, saya mendapatkan hati ceria. Dan kalau hati dikuasai keceriaan, maka saya dimungkinkan menghayati amanat Tuhan "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15)

Mungkinkah keceriaan batin adalah landasan utama yang membuat orang memiliki tampilan “sama seperti dulu”?

Puren, 1 November 2019