Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Tuesday, December 3, 2019

Lamunan Pekan Adven I

Rabu, 4 Desember 2019

Matius 15:29-37

15:29. Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ.
15:30 Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
15:31 Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.
15:32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan."
15:33 Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?"
15:34 Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."
15:35 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.
15:36 Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.
15:37 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, yang namanya masalah tetap membuat orang gelisah. Agar mampu berhadapan dengan masalah dalam hidup ada latihan yang disebut problem solving.
  • Tampaknya, orang tetap mudah kebingungan kalau berhadapan dengan masalah besar. Apalagi kalau masalah itu berada di luar kemampuan nyata yang dimiliki.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berhadapan dengan masalah besar yang berada di luar kemampuan nyata untuk menanganinya, orang tak akan memfokuskan diri pada besarnya masalah tetapi pada kemampuan nyata sekecil apapun sehingga penanganan dari yang kecil-kecil akan mengalir yang besar dan berlimpah. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghargai realitas yang kecil dan sedikit karena kesejatian besar dan banyak datang dari yang kecil dan sederhana.
Ah, tanpa kemampuan besar bagaimana kebutuhan besar dapat terpenuhi.

Mengapa Ikut Terus?


Penghuni baru masuk dalam sebuah rumah tua. Ini adalah tempat tinggal orang-orang yang sudah lanjut usia atau lansia. Penghuni baru itu memang baru pertengahan usia 70an tahun. Tetapi dia menderita kepikunan tingkat berat disertai oleh pikiran yang amat diwarnai oleh irasionalitas. Dia beberapa kali bercerita bahwa rumah tua ini dulu adalah milik kakeknya. Padahal tak ada satupun leluhur dan pendahulunya yang tinggal di wilayah ini. Dia juga menjelaskan bahwa dulu ayahnya menjadi aparat di rumah ini. Padahal rumah ini baru duapuluh tahun berdiri sedang ayahnya mantan pejabat di provinsi lain dan sudah pensiun lebih dari tigapuluh delapan tahun lalu. Kepikunannya juga membuat dia mengalami disorientasi. Kalau sudah keluar dari kamar, dia tidak bisa menemukan kembali kamarnya. Dia dapat berjalan kemana-mana tanpa kemampuan untuk kembali.

Yang amat membuat repot orang serumah adalah  setiap kali minta diantar pulang untuk ketemu dan omong-omong dengan orangtuanya. “Kita semua sudah yatim piatu karena semua orang tua sudah wafat” salah satu teman lansia berkata. Tetapi dengan tegas dan keras dia berkata “Bapak-ibu saya belum mati”. Maka, beberapa kali dia diantar ke rumah asalnya yang sebenarnya sudah tak ada seorangpun yang menghuni. Pada suatu ketika dia diantar dan ditemani oleh dua orang ibu. Ketika sampai di rumah asalnya, dua ibu ini selalu mengikutinya sekalipun harus beberapa kali mengitari rumah yang cukup besar. Dua ibu ini khawatir kalau-kalau dia menuju arah tertentu dan tak tahu ke arah mana harus kembali. Demi kepedulian penuh kasih dua ibu ini terus berjalan sekalipun kaki sudah terasa kecapekan. Tiba-tiba sang lansia membalikkan badan dan berkata “Mengapa ikut terus? Saya akan kencing”.

Monday, December 2, 2019

Santo Fransiskus Xaverius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 28347 Diterbitkan: 30 Juli 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019

  • Perayaan
    03 Desember
  •  
  • Lahir
    7 April 1506
  •  
  • Wilayah karya
    India, Srilanka, Indonesia, Jepang, China
  •  
  • Kota asal
    Javier, Navarro Spanyol
  •  
  • Wafat
    02 Desember 1552 di Shangcuan, China | Karena demam yang berkepanjangan akibat kelelahan dalam perjalanan
  •  
  • Beatifikasi
    25 Oktober 1619 oleh Paus Paulus V
  •  
  • Kanonisasi
    12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV

Santo Fransiskus Xaverius adalah salah seorang pendiri Serikat Yesus dan seorang pionir misionaris Kristen di belahan dunia bagian timur. Misionaris besar ini adalah seorang yang telah mengkristenkan lebih banyak orang dibanding siapapun semenjak jaman Rasul Petrus dan Rasul Paulus.
Ia terlahir sebagai putera bangsawan Basque di Navarro dengan nama Francisco de Jaso y Azpilcueta di Kastil Xavier (Bahasa Spanyol modern : Javier, Basque : Xabier, Katalan : Xavier) pada tanggal 7 april 1506.   Pada usia 19 tahun, pemuda bangsawan yang cerdas ini masuk Universitas Paris, di mana dia lulus dengan licence ès arts pada tahun 1530. Dia kemudian melanjutkan studi dalam bidang teologi di kota itu, dan berkenalan dengan St. Petrus Faber dan  St. Ignatius de Loyola yang pada waktu itu sedang berusaha membentuk sebuah Serikat Religius. Melihat kecerdasan dan semangat Fransiskus; Ignatius berusaha mengajaknya untuk bergabung dengan Serikat Jesus yang hendak didirikannya.
Pada mulanya Fransiskus menolak.  Pemuda yang suka bersenang-senang ini tidak pernah memikirkan tawaran tersebut. Kemudian, St. Ignatius mengulangi kata-kata Yesus dalam Kitab Suci kepadanya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya..?” Akhirnya, Fransiskus memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya bukanlah untuk dunia ini melainkan untuk membaktikan dirinya kepada Tuhan. Bersama dengan Ignatius, Pierre Favre (Petrus Faber) dan empat orang lainnya, Fransiskus Xaverius mengikat janji di Montmartre dan mendirikan Serikat Yesus pada 15 Agustus 1534, dengan mengucapkan kaul kemiskinan dan kesucian.
Ketika Fransiskus berusia tigapuluh empat tahun, St. Ignatius mengutusnya sebagai misionaris ke Hindia Belanda. Raja Dom João III dari Portugal hendak memberinya hadiah-hadiah dan juga seorang pelayan untuk menyertainya. Tetapi, Fransiskus dengan halus menolak pemberian raja dengan mengatakan: “Cara terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.”
Ia berkarya dengan begitu gemilang di semua wilayah perutusannya. Mulai dari Goa, India, Srilanka, Indonesia, Jepang serta pulau-pulau lain di timur. St. Fransiskus mempertobatkan begitu banyak orang hingga Gereja menganggap bahwa belum pernah ada seorangpun yang menobatkan begitu banyak orang seperti Santo Fransiskus Xaverius sejak jaman Rasul Petrus dan Paulus.  Sesungguhnya, ia membaptis begitu banyak orang hingga ia menjadi terlalu lemah bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri.
Jejak karya kerasulannya dapat ditelusuri mulai dari pesisir Timur India Selatan, sampai ke Utara di tanjung Comorin. Ia berkarya di Srilanka lalu melanjutkan perjalanan misinya ke Hindia Portugis (Indonesia).  Pada tanggal 1 Januari 1546 Fransiskus Xaverius tiba di Ambon. Ia tinggal di pulau itu hingga pertengahan bulan Juni dan dalam masa yang singkat itu ia telah membabtis ribuan orang Ambon menjadi Kristen. Setelah itu ia mengunjungi pulau-pulau lainnya di Maluku, termasuk Ternate dan Moro. Misi di Ambon ini menjadi salah satu awal sejarah Gereja Katolik di Indonesia.
Fransiskus mencapai Jepang pada tanggal 27 Juli 1549, dan mulai berkarya di Kagoshima, pelabuhan utama provinsi Satsuma di Pulau Kyūshū dan di Yamaguchi.  Karyanya di Jepang dapat dianggap membuahkan hasil dengan dibentuknya jemaat-jemaat Kristiani di Hirado, Yamaguchi dan Bungo. Xaverius tinggal lebih dari dua tahun di Jepang dan menyaksikan lahirnya Yesuit-Yesuit penerusnya. Lalu Ia memutuskan untuk kembali ke Goa India.
Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya yang melelahkan, St. Fransiskus senantiasa dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia mendambakan untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah di mana tak seorang asing pun diijinkan masuk.  Setelah persiapan-persiapan dilakukan,  Fransiskus berangkat menuju cina. Di awal September 1552, Ia tiba di pulau Shangchuan di Tiongkok,  200 km ke arah Barat Daya dari tempat yang saat ini bernama Hong Kong.  Namun sebelum sempat berkarya di daratan besar Cina, Missionaris Besar ini jatuh sakit pada tanggal 21 November 1552. Ia meninggal dunia di pulau itu pada tanggal 2 Desember 1552, pada umur 46 tahun.
Awalnya ia dimakamkan di sebuah pantai di Shangchuan. Jenazahnya yang masih utuh dipindahkan dari pulau itu pada bulan Februari 1553 dan disemayamkan sementara waktu di gedung gereja Santo Paulus di Malaka pada tanggal 22 Maret 1553. Sebuah makam yang terbuka dalam gereja itu saat ini menandai tempat jenazah Xaverius pernah disemayamkan. 
Pada tanggal 11 Desember 1553, jenazah Xaverius kembali dibawa berlayar, diangkut dengan sebuah sampan berhias. Peti jenazah ditempatkan dalam sebuah kabin dikelilingi tirai sutera di tengah-tengah lilin-lilin bernyala dan wewangian yang dibakar, diiringi lambaian perpisahan dari seisi bandar Malaka. Ketika melewati selat antara Pulau Penang dan pantai, sampan itu sempat kandas pada gugus pasir namun tiba-tiba bertiup angin kencang yang mendorongnya kembali ke perairan dalam. Setelah singgah sebentar di Srilanka, kemudian Cochin, akhirnya jenazah Xaverius tiba di Goa pada tanggal 15 Maret 1554.
Keesokan harinya seluruh masyarakat mengiringi pengantaran jenazah orang kudus itu ke katedral. Peti jenazah dibuka dan setelah 16 bulan isinya masih saja segar. Selama tiga hari dan tiga malam berikutnya masyarakat diijinkan memberikan penghormatan terakhir. Ribuan pria dan wanita menciumi kaki jenazah Xaverius dan banyak mujizat dilaporkan terjadi. Jenazah yang tidak membusuk itu kini disemayamkan di Basilika Bom Jésus di Goa, dalam sebuah peti perak pada tanggal 2 Desember 1637. Peti perak itu diturunkan untuk dilihat oleh umum hanya dalam penyelenggaraan pameran umum yang berlangsung selama 6 minggu, tiap 10 tahun sekali, terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2004. 
Lengan depan (siku hingga pergelangan) sebelah kanan, yang digunakan Xaverius untuk memberkati dan membaptis orang, dipisahkan oleh Prefektur Jenderal Serikat Yesus Claudio Acquaviva pada tahun 1614 dan kini dipamerkan dalam sebuah relikuarium (Tempat penyimpanan Relikwi) perak dalam gereja Il Gesù, gereja utama Para Jesuit di Roma.
Fransiskus Xaverius dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia dikanonisasi bersama para kudus yang lainnya yaitu : Ignatius dari Loyola, Theresia dari Avila, Filipus Neri dan Isidorus si Petani.

Lamunan Pesta

Santo Fransiskus Xaverius
Selasa, 3 Desember 2019

Markus 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
16:19. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
16:20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, di dalam Gereja pewartaan iman atau penginjilan kerap dikaitkan dengan urusan keagamaan. Ajaran Gereja menjadi omongan utama.
  • Tampaknya, di dalam Gereja pewartaan iman atau penginjilan sering juga dikaitkan dengan promosi keagamaan. Itu adalah kegiatan mencari anggota baru.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hidup beriman menjadi omongan khusus agama, pewartaan iman atau penginjilan terutama adalah perjuangan pengembangan budaya menekankan kebaikan umum dan keterbukaan hati akan hadirat karya ilahi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan dikuasai oleh aura nurani sehingga kemanapun dan dimanapun menghadirkan sukacita bersama.
Ah, jaman kini yang pokok adalah mengurus diri sendiri.

Santo Paus Silverius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 3828 Diterbitkan: 18 November 2016 Diperbaharui: 29 November 2019

  • Perayaan
    20 Juni
    2 Desember (pada beberapa Kalender)
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 480
  •  
  • Kota asal
    Frosinone, Campania Italia
  •  
  • Wafat
    Meninggal di pengasingan pada tanggal 20 Juni 537 atau 11 November 537 (ada 2 versi berbeda)
    Sebagian catatan menyebutkan ia mati kelaparan dan catatan lain menyebutkan ia tewas dibunuh oleh kaki-tangan paus Vigilius
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santo Paus Silverius adalah paus kita yang ke-58.  Tak banyak informasi yang tersedia tentang masa awal kehidupan paus ini.  Dalam beberapa catatan yang tersedia, ia disebutkan lahir sekitar tahun 480 di Frosinone, Campania Italia. Ia adalah putra dari Paus Hormisdas (paus ke-52), yang sebelum menjalani hidup membiara dan terpilih sebagai Paus, adalah seorang awam yang menikah.  Sejak usia belia, Silverius sudah mengabdikan dirinya bagi Gereja. Pada masa Paus Agapitus I, Silverius sudah menjadi seorang Subdiakon untuk kota Roma.  Ia sebenarnya hanyalah seorang subdiakon yang saleh dan rendah hati,  yang terpilih menjadi paus akibat intrik politik dan perseteruan antara Kerajaan Bizantium dan Kerajaan Ostrogoth.
Pada tanggal 22 April 536, paus ke-57 Agapitus I wafat di Konstantinopel.  Sede vacante (takhta kepausan yang kosong) melahirkan banyak intrik dan kepentingan untuk mengusung calon pengganti paus.  Ratu Theodora berniat mengintervensi pemilihan Paus. Permaisuri  Kaisar Yustinianus Agung (482-565) ini adalah seorang pendukung bidaah Monofisitisme.   Sang Ratu berusaha mengorbitkan seorang Diakon Roma bernama Vigilius untuk menjadi paus. Vigilius adalah seorang pendukung Monofisitisme, dan pernah menjadi tamu kehormatan Ratu Theodora di Konstantinopel.  Ia telah berjanji kepada sang ratu untuk mendukung paham Monofisitisme jika ia terpilih menjadi Paus.
Monofisitisme adalah paham yang meyakini bahwa hanya ada satu kodrat dalam diri Yesus, yakni kodrat ilahi. Paham ini bertentangan dengan ajaran Konsili Efesus (431) dan dikutuk pada Konsili Khalsedon (451). Gereja Katolik mengimani, kodrat ilahi dan kodrat manusiawi Kristus tidak bercampur, sekaligus tak terpisahkan.
Di lain pihak, Raja bangsa Ostrogoth yang saat itu menguasai Italia,  Theodahad (480-536),  juga ingin ikut campur dalam pemilihan Paus. Raja Theodahad mengetahui peluang besar Diakon Vigilius untuk menjadi Paus. Vigilius adalah seorang Diakon dan ia mendapat dukungan penuh dari Kaisar dan Ratu Thedora di Konstantinopel.  Theodahad berusaha mencegah skenario ini  karena tidak ingin seorang kaki-tangan Konstantinopel terpilih menjadi Paus.  Berkat pengaruh Raja Theodahad, akhirnya Subdiakon Silverius dapat terpilih menjadi paus yang baru.
Terpilihnya seorang Subdiakon sebagai Uskup Roma mengalahkan seorang Diakon senior adalah hal yang tidak lazim.  Hal ini menuai penolakan dari sebagian besar kaum klerus di Roma.  Paus Silverius I kemudian difitnah telah menyuap Raja Theodahad untuk mendukungnya dalam pemilihan Paus. Tuduhan ini terbukti tidak benar setelah banyak klerus yang terkenal saleh memberikan kesaksian mereka  dan mendukung kepemimpinan paus Silverius I.  Terbukti bahwa kisah penyuapan itu hanyalah fitnah dan merupakan bentuk perlawanan terhadap Gereja dengan dilatarbelakangi kebencian kepada Paus Silverius dan Bangsa Goth.
Silverius menjadi Paus pada masa yang kacau-balau. Ia menjadi bulan-bulanan pihak Kekaisaran Bizantium karena menentang Monofisitisme. Banyak sekali fitnah dan intrik untuk melemahkan, bahkan melengserkannya sebagai uskup Roma. Tahun pertama pengembalaan Paus Silverius ditandai dengan memanasnya hubungan antara kerajaan Bizantium dan Kerajaan Ostrogoth.  Situasi dalam kota Roma juga carut-marut akibat perebutan kekuasaan antara Raja Theodahad dan Vitiges. Kekacauan ditengah keluarga kerajaan Ostrogoth dimanfaatkan oleh Kerajaan Bizantium.  Pada tahun 535 Kaisar Justinianus Agung yang ingin mengembalikan kekuasaan kekaisarannya di wilayah Barat,  mendeklarasikan perang terhadap Ostrogoth. Kaisar lalu mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Italia. Bala tentara Bizantium ini dipimpin oleh seorang jenderal berpengalaman bernama Flavius Belisarius.  Jendral Belisarius  saat  itu tengah berada di Kartago Afrika Utara dan baru saja mengusai wilayah tersebut setelah menaklukkan bangsa Vandal.  Dari Afrika Utara, Jenderal Belasarius bersiap menyerbu Italia bersama 7.500 orang pasukannya.
Sementara itu, kemelut dalam keluarga kerajaan Ostrogoth terus berlanjut. Raja Theodahad terbunuh oleh Vitiges, yang kemudian naik takhtah pada bulan Agustus 536. Raja Vitiges segera membuat huru-hara di Roma. Ia menjarah kota itu serta menghancurkan banyak gereja dan katakombe. Relikwi para kudus juga dinistakan dan dimusnahkan.  Saat Vitiges sibuk menjarah kota Roma,  Jenderal Belisarius dan pasukannya berhasil  mendarat di pulau Sisilia dan terus bergerak ke utara untuk merebut daratan utama Italia.  Belisarius tiba di kota Naples (Napoli) dan merebut kota itu tanpa perlawanan berarti dari tentara Ostrogoth. Pada tanggal 9 Desember 536,  kota Roma ditaklukkan oleh Belisarius.  Raja Vitiges dan isterinya Matasuntha ditangkap dan dibawa ke Konstantinopel sebagi tawanan.
Kemenangan ini membawa angin segar bagi Ratu Theodora.  Ia lalu memerintahkan agar Paus Silverius ditahan dengan tuduhan persekongkolan dengan bangsa Goth dan membangkang pada kaisar.  Pada bulan Maret 537  paus Silverius pun ditangkap.  Pakaian kepausannya dilucuti dan ia hanya diberikan pakaian pertapa. Ia kemudian diasingkan ke Patara, Lycia.  Saat itulah Diakon Vigilius ditunjuk sebagai paus yang baru dan dilantik sebagai paus Gereja Katolik ke-59  pada tanggal 29 Maret 537.
Pembuangan Paus Emeritus Silverius I ke Patara dimanfaatkan oleh Uskup Patara untuk menemuinya. Sang uskup menemukan bahwa Paus Silverius tidak bersalah dan telah difitnah. Ia berangkat ke Konstantinopel dan melaporkannya kepada kaisar. Sang kaisar lalu memerintahkan Jenderal Belisarius menyelidiki kasus ini dan berhasil membuktikan bahwa paus Silverius tak bersalah. Akhirnya kaisar memutuskan untuk mengembalikan takhta kepausan pada Silverius.  Paus Silverius segera dibawa kembali ke Italia dan muncul secara publik di Napoli.  
Melihat hal itu, Paus Vigilius geram. Ia tak mau Paus Silverius kembali ke Roma. Berkat bantuan Ratu Theodora, ia menculik dan mengasingkan  Silverius ke pulau Ponza (terletak di gugusan kepulauan Pontine di Laut Tyrrhenia, bagian dari Laut Mediterania) di Pantai Barat Italia.
Di tempat pembuangan, Paus Silverius di kurung secara tak manusiawi. Ia mengalami penderitaan lahir dan batin hingga wafat.  Konon, ia wafat tak lama pasca pengasingan keduanya.  Sebagian tradisi mengatakan bahwa ia wafat karena kelaparan, namun tradisi lain mengatakan bahwa ia tewas dibunuh oleh orang suruhan Paus Vigilius.  Diyakini Paus Silverius wafat pada 20 Juni 537 namun ada juga yang meyakini bahwa ia wafat pada tanggal 11 November 537.  
Paus Silverius dimakamkan di pulau Ponza dan tak pernah dipindahkan. Ia kemudian dinyatakan sebagai santo pelindung pulau Ponza dan pelindung para nelayan. Namanya telah tertera dalam daftar para Kudus sejak abad ke-11 dan pestanya dirayakan pada setiap tanggal 20 Juni.  Setiap tahun,  pada hari pesta santo Silverius, warga pulau Ponza menggelar tradisi yang mereka sebut : La Festa di San Silverio. Tradisi ini berlangsung meriah dan dimulai dengan misa dan perarakan patung santo Silverio diatas miniatur perahu (simbol Santo pelindung para nelayan pulau Ponza)  oleh seluruh penduduk pulau Ponza.

Sunday, December 1, 2019

Lamunan Pekan Adven I

Senin, 2 Desember 2019

Matius 8:5-11

8:5. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
8:6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
8:7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,

Butir-butir Permenungan
  • Tampaknya, orang beragama dapat yakin bahwa segala seluk beluk keagamaan amat berhimpitan dengan ketuhanan. Bahkan segala wajib agama diyakini berasal dari Yang Mahatinggi.
  • Tampaknya, orang beragama dapat yakin bahwa dengan tekun menjalani praktek-praktek keagamaan orang ada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Hidupnya selalu ada dalam naungan ilahi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hidup keagamaan membawa kesadaran tentang hubungan dengan Tuhan, kesejatian hubungan dengan-Nya ditentukan oleh keterbukaan terhadap tuntunan nurani sehingga yang jauh dari agama pun dapat menjadi bagian dekat dalam lingkungan wibawa Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang selalu membawa segala pengalaman hidupnya dalam dialog dengan kalbunya.
Ah, kalau tak beragama ya pasti mudah jadi musuh Tuhan.

Santa Natalia dari Nikomedia

diambil dari katakombe.org/para-kudus Hits: 8742 Diterbitkan: 04 Oktober 2014 Diperbaharui: 26 November 2019

  • Perayaan
    1 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-3 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Nikomedia (Sekarang wilayah Turki)
  •  
  • Wafat
    1 Desember 311 di Argypolis (Sekarang wilayah Turki) - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
    Pre-Congregation

Santa Natalia adalah isteri dari Santo Adrianus, seorang perwira tentara romawi yang menjadi martir Kristus pada masa penganiayaan orang kristen oleh kaisar Maximian (286-305). Pada masa itu tentara Romawi sering diperintahkan mengejar dan menangkapi orang Kristen. Tak sampai disitu saja, tidak jarang nyawa orang Kristen juga dirampas. Saat itu Natalia sudah dibabtis, namun Adrianus masih seorang katekumen. Suatu ketika Adrianus harus memimpin anak buahnya melakukan penangkapan dan penganiayaan terhadap umat Kristen. Walau masih seorang katekumen, namun dengan berani Adrianus menolak perintah tersebut. Karena itu ia segera ditangkap dan digiring ke dalam penjara.
Santa Natalia menjenguk suaminya dan mengatur, supaya ia tetap mendapat pelajaran agama dan dibaptis dalam penjara. Saat Adrianus dijatuhi hukuman mati, ia sudah tidak boleh lagi dikunjungi oleh isterinya. Natalia tak kehabisan akal, ia menyamar sebagai seorang pemuda dan berhasil menemui suaminya. Natalia minta, agar bila nanti telah di surga Adrianus berdoa untuknya.
Natalia menyaksikan pelaksanaan hukuman mati suaminya, melihat bagaimana anggota tubuh suaminya dicincang. Dan ia hampir tak dapat dibendung keinginannya untuk ikut terjun ke dalam bara api, ketika tubuh Adrianus dilempar ketengah gulungan api bersama martir-martir lain. Api kemudian padam, karena sekonyong-konyong turun hujan lebat.
Orang Kristen mengumpulkan sisa jenasah dan menguburkannya dekat Argypolis, di pantai Bosporus (Sekarang Turki). Natalia menyimpan relikwi berupa sepotong tangan suaminya. Dan sejak itu ia memutuskan untuk hidup tidak jauh dari makam suaminya. Ketika Natalia tutup usia, ia dikuburkan di samping suaminya Adrianus dan diantara para martir Kristus.